• “Mengapa Tan Malaka menolak jalan perundingan dan diplomasi dengan Belanda?
Mengapa ia tampak keras kepala?” tanya seorang teman. Saya tersenyum.
Keras kepala bukanlah kata yang tepat untuk menggambarkan Tan Malaka.
Sikapnya justru merupakan konsistensi logis seorang intelektual revolusioner Minangkabau yang menjadikan rasionalitas sebagai kompas, dan keadilan sebagai orientasi, tanpa melepaskan fondasi spiritual sebagai seorang muslim yang saleh. Bagi Read.

Berpikir dan bertindak

Jangan menyerah

Lanjut ke konten ↓