
Pada suatu senja di Hong Kong, saya duduk bersama seorang sahabat dari Iran di Kantor. Jam menunjukkan pukul empat sore “ Saya mau ke Shenzhen.” Kata saya siap siap pergi
“Ada apa?” tanyanya.
“Ada tamu dari Arab. Ia menginap di Shenzhen,” jawab saya.
“Boleh ikut?” pintanya ringan. “Kebetulan akhir pekan saya kosong.”
Saya merangkul pundaknya. “Ayolah, kita jalan.”
Saat itu bulan Ramadhan.
Kami tiba di Shenzhen menjelang waktu berbuka. Di lounge hotel, kami bertiga—saya, sahabat dari Iran, dan tamu dari Arab—berbincang santai. Percakapan mengalir tanpa beban, seperti orang-orang yang tidak membawa sejarah panjang dunia di pundaknya.
Setelah azan magrib berkumandang, kami berbuka sederhana. Lalu saya mengajak mereka ke masjid yang berada di rooftop hotel. Shalat berjamaah telah usai, sehingga kami membentuk saf sendiri. Tamu dari Arab dan sahabat dari Iran mendorong saya ke depan. “Jadi imam,” kata mereka hampir bersamaan.
Saya hanya tersenyum.
Bayangkan, dua mazhab yang sering dipisahkan oleh tafsir dan sejarah—Sunni dan Syiah—berdiri di belakang saya dalam satu barisan. Tidak ada perdebatan. Tidak ada klaim. Hanya takbir yang sama.
Seusai shalat, kami duduk bersila, memandang langit malam Shenzhen yang jauh dari Teheran, Riyadh, Tel Aviv, dan Jakarta.
Sahabat saya dari Arab menatap saya lama. “Kamu berteman dengan orang Israel. Bahkan punya kantor di Tel Aviv. Padahal kamu berteman dengan kami. Bisnis satelitmu bermitra dengan Amerika dan China, sementara mereka bersaing dan kadang berseteru. Di Donbas kamu bermitra dengan China dan Taiwan, padahal keduanya tak pernah akur. Di Amerika kamu bekerja sama dengan Rusia dan AS, dua negara yang hampir selalu saling menegangkan.”
Ia berhenti sejenak.
“Lucunya,” lanjutnya, “di antara semua perbedaan itu, kamu bisa berdiri di tengah. Tidak ada yang merasa direndahkan. Tidak ada yang merasa diabaikan. Apa kuncinya?”
Saya menjawab pelan. “Itulah nilai Islam. Rahmatan lil ‘alamin.”
Saya menatap mereka berdua. “Islam mengajarkan bahwa perbedaan bukan ancaman. Tidak ada pemaksaan untuk bersatu karena agama atau ras. Kita berbeda, tetapi sebagai manusia kita dipersatukan oleh cinta. Cinta menembus batas. Ia tidak mengenal paspor. Tidak tunduk pada geopolitik. Karena cinta itu universal.”
Sahabat dari Arab mengangguk perlahan “ Cerahkan saya,” katanya.
Saya tersenyum. “Itulah Islam sebagai kesadaran nilai. “ kata saya. “ Boleh saya cerita sedikit. “ Kata saya. Mereka berdua mengangguk.
“ Tahun 1187. Debu peperangan masih menggantung di udara setelah Pertempuran Hattin. Pasukan Shalahuddin al-Ayyubi telah mematahkan kekuatan utama Tentara Salib. Jalan menuju Yerusalem terbuka. Kota itu bukan sekadar kota. Ia adalah simbol iman, harga diri, dan sejarah panjang pertumpahan darah. Namun ketika akhirnya Yerusalem jatuh ke tangan Saladin, dunia tidak menyaksikan pembalasan dendam.
Dunia menyaksikan sesuatu yang jauh lebih jarang dalam sejarah penaklukan: kebesaran jiwa. Tanpa Pembantaian. Padahal 88 tahun sebelumnya, ketika Tentara Salib merebut Yerusalem pada 1099, kronik-kronik Latin sendiri mencatat bahwa darah menggenang di jalan-jalan kota. Muslim dan Yahudi dibunuh tanpa ampun. Tetapi pada 1187, sejarah berjalan berbeda. Saladin tidak memerintahkan pembantaian. Ia tidak menebar balas dendam. Ia tidak merendahkan mereka yang kalah.
Balian dari Ibelin, yang memimpin pertahanan kota, menyerahkan Yerusalem setelah negosiasi. Saladin memberi jaminan keselamatan bagi warga Kristen. Tidak ada pembalasan atas masa lalu. Tidak ada pembunuhan massal. Yang lebih menarik lagi, Saladin tidak mempermalukan para bangsawan Kristen yang menyerah. Ia memperlakukan mereka sebagai manusia yang kalah dalam perang, bukan sebagai musuh yang harus dihina. Ia memahami sesuatu yang sering dilupakan para penakluk, bahwa kemenangan sejati bukanlah menghancurkan lawan, tetapi menundukkan ego sendiri.
Ketika Yerusalem kembali di bawah pemerintahan Muslim, Saladin justru mengundang kembali komunitas Yahudi untuk tinggal di kota itu. Selama hampir satu abad di bawah kekuasaan Tentara Salib, banyak Yahudi terusir. Di bawah Saladin, mereka diizinkan kembali, hidup dan beribadah. Ia tidak melihat mereka sebagai musuh agama. Ia melihat mereka sebagai bagian dari warisan kota suci itu.
Bagi Saladin, Yerusalem bukan sekadar simbol politik. Ia adalah amanah spiritual. Dalam tradisi Islam, kota itu adalah tanah para nabi. Ia bukan milik satu bangsa, tetapi bagian dari sejarah ketuhanan yang lebih luas. Maka menaklukkannya dengan kebencian akan mencederai makna kesuciannya sendiri. Ia memilih jalan yang lebih tinggi, rahmah—kasih sayang.
Rahmah bukan kelemahan. Ia adalah kekuatan yang lahir dari kesadaran bahwa kekuasaan hanyalah titipan. Saladin tahu bahwa ia bisa saja membalas 1099 dengan 1187. Ia bisa saja membenarkan kekerasan dengan dalih sejarah. Tetapi ia memilih tidak. Dan pilihan itulah yang membuat namanya dihormati bahkan oleh musuhnya. Banyak kronik Eropa mencatat kekaguman terhadap kesatriaannya. Bahkan Richard the Lionheart, musuhnya dalam Perang Salib Ketiga, menghormatinya sebagai pemimpin yang mulia.
Saladin tidak memerintah dengan kebencian terhadap Kristen atau Yahudi. Ia memerintah dengan prinsip bahwa kekuasaan harus tunduk pada nilai. Ia memahami bahwa Yerusalem terlalu suci untuk dipenuhi dendam. Ia mengajarkan bahwa peradaban tidak dibangun dengan pembalasan, tetapi dengan keadilan.
Apa yang membuat Saladin dikenang bukan hanya karena ia merebut Yerusalem, tetapi karena bagaimana ia merebutnya. Sejarah penuh penakluk. Namun hanya sedikit yang meninggalkan jejak kebesaran jiwa. Saladin menunjukkan bahwa kemenangan militer tidak harus melahirkan kehinaan bagi yang kalah. Ia membuktikan bahwa kekuatan dapat berjalan berdampingan dengan kasih sayang. Dan mungkin itulah pelajaran yang paling langka dalam sejarah geopolitik. Bahwa cinta dan keadilan bukanlah lawan dari kekuasaan—mereka adalah mahkotanya. “ kata saya. Mereka terpengkur.
“ Dalam tradisi tasawuf, cinta bukan sekadar emosi, “ Lanjut saya pelan “ ia adalah energi kosmis. Ibn Arabi menyebut cinta sebagai hakikat keberadaan. Tuhan memperkenalkan diri-Nya sebagai Yang Maha Pengasih sebelum Yang Maha Perkasa. Jika dunia digerakkan oleh kepentingan, ia akan terus terpecah. Tetapi jika ia digerakkan oleh cinta, perbedaan berubah menjadi kekayaan. Cinta bukan kelemahan. Ia adalah kekuatan tertinggi, karena ia tidak membutuhkan dominasi untuk diakui.
Dalam Islam ada konsep wasathiyah. Ya jalan tengah. Bukan netralitas pasif, tetapi keseimbangan aktif. Jalan tengah bukan kompromi terhadap kebenaran, melainkan kemampuan menempatkan segala sesuatu secara proporsional. Kesadaran nilai membuat seseorang tidak silau oleh harta dan kekuasaan. Tidak gentar oleh tekanan. Ia tahu bahwa apapun di dunia ini semua bersifat sementara, sedangkan nilai bersifat abadi. Dunia modern terbelah oleh blok, sanksi, dan propaganda. Tetapi spiritualitas sejati tidak mengenal batas geopolitik. Ia mengenal batas nurani.”
“ Paham sekali” kata teman dari Arab. Teman dari Iran memeluk saya dan dilanjutkan teman dari Arab juga memeluk saya.
***
Malam itu, angin Ramadhan berembus lembut di rooftop hotel. Di bawah langit yang asing bagi kami bertiga, kami berdiri dalam satu saf, menghadap satu kiblat. Tidak ada batas geopolitik. Tidak ada garis konflik. Hanya arah yang sama. Di situlah saya menyadari sesuatu yang sering dilupakan dunia. Bahwa perbedaan adalah fakta, tetapi persatuan adalah pilihan.
Pertanyaan sahabat saya bukan semata soal jaringan bisnis atau kecakapan diplomasi. Ia menyentuh dimensi yang lebih dalam, bagaimana seseorang berjalan di antara dunia yang saling bertentangan tanpa menjadi musuh bagi salah satunya? Jawabannya bukan strategi. Bukan kecerdikan politik. Bukan seni negosiasi. Jawabannya adalah kesadaran nilai.
Rahmatan lil ‘alamin bukan slogan. Ia adalah cara memandang realitas. Dalam Islam, manusia tidak ditentukan oleh kelompoknya, tetapi oleh kemanusiaannya. Al-Qur’an berbicara tentang insan sebelum berbicara tentang bangsa dan suku. Jika Tuhan menciptakan keberagaman, maka memusuhi keberagaman berarti menolak hikmah penciptaan itu sendiri.
Persatuan bukanlah penyeragaman. Ia bukan penghapusan identitas. Ia adalah pengakuan bahwa di balik mazhab, negara, bahkan ideologi, terdapat ruh yang sama—martabat manusia. Ketika dua mazhab berbeda mempercayakan saya menjadi imam, itu bukan tentang benar atau salah. Itu tentang kepercayaan bahwa nilai lebih tinggi daripada identitas.
Dalam bisnis, dalam geopolitik, dalam relasi lintas bangsa—orang dapat merasakan apakah kita datang membawa agenda atau membawa kejujuran. Nilai yang otentik tidak menindas. Ia tidak memaksa. Ia mengundang.
Sahabat saya melihat paradoks: Israel dan Iran, Amerika dan China, Rusia dan AS, Taiwan dan Beijing. Namun sesungguhnya itu bukan paradoks. Itu konsekuensi dari tidak menjadikan identitas politik sebagai pusat eksistensi. Jika pusat kita adalah nilai, maka kita tidak mudah ditarik oleh konflik pihak lain. Kita tidak berdiri di tengah untuk menghindar, tetapi untuk menjaga kemanusiaan tetap utuh.
Malam itu di Shenzhen, saya tidak melihat Iran, Arab, atau Indonesia. Saya tidak melihat Sunni atau Syiah. Saya tidak melihat konflik global. Saya melihat tiga manusia yang tunduk kepada Tuhan yang sama. Dan mungkin itulah jawaban terdalam dari pertanyaan sahabat saya. Bahwa dunia tidak disatukan oleh strategi, melainkan oleh kesadaran nilai. Ketika nilai menjadi pusat, perbedaan bukan lagi tembok. Ia menjadi jembatan. Politik bebas aktif yang menjadi konstitusi kita, berangkat dari islam nilai. Namun itu dipunggungi karena kepentingan pragmatis.

Tinggalkan komentar