Indonesia dan Iran: Antara ambisi dan kedaulatan.

Seorang teman pernah berkata kepada saya, dengan nada yang tidak menggurui, hanya seperti orang yang sedang membuka lembaran lama sejarahnya sendiri. Sejak era Soeharto, kita menyaksikan hasrat besar untuk “lepas landas”. Kita ingin meninggalkan citra bangsa agraris dan menjelma menjadi negara industri. Hutan-hutan ditebang tanpa hitung. Kayu-kayu raksasa tumbang satu demi satu, digantikan deru mesin dan ambisi pertumbuhan. Sumber daya migas dikuras seakan tak akan pernah habis, seakan bumi tak mengenal batas dan waktu tak mengenal penyesalan.

Kita ingin cepat.
Kita ingin besar.
Kita ingin sejajar dengan bangsa-bangsa industri. Kita patuh kepada Amerika dan Barat yang setia memberi modal dan teknologi. Kita merasa menjadi “golden boy” di hadapan mereka—murid yang rajin, mitra yang penurut, pasar yang menjanjikan. Namun sejarah jarang tunduk pada keinginan. Hutan menjadi sunyi. Ladang-ladang berubah fungsi. Cadangan migas yang dulu membuat kita bangga sebagai pengekspor, perlahan menjadikan kita pengimpor. Dari net exporter menjadi net importer—sebuah ironi pahit bagi negeri yang pernah berdiri di atas limpahan energi.

Dan rakyat? Sebagian besar tetap terjebak dalam lingkaran kemiskinan Yang berubah hanya segelintir orang yang semakin kaya dan makmur. Rasio Gini melebar, seperti jarak antara gedung-gedung tinggi dan kampung-kampung yang terhimpit di bawahnya. Pembangunan memang nyata. Gedung-gedung menjulang. Bendungan dan irigasi membelah sawah. Bandara dipercantik. Jalan raya membelah kota. Sekolah dan universitas tersebar hingga pelosok. Pusat-pusat belanja bercahaya di setiap kota. Namun utang negara membengkak, menggunung seperti bayang-bayang yang setia mengikuti setiap langkah kemajuan. Dan tak ada yang benar-benar gratis. Pendidikan berbayar. Kesehatan berbayar. Pelayanan publik pun sering kali memungut harga—formal maupun informal.

Lalu muncul pertanyaan yang lebih getir, apakah dunia maju memberi simpati? Apakah mereka memeluk kita sebagai mitra sejajar? Krisis 1997–1998 menjawabnya dengan keras. Modal yang datang dengan senyum pergi dalam kepanikan. Operasi hedge fund dan spekulasi pasar mengguncang fondasi ekonomi. Rezim yang tampak kokoh runtuh dalam waktu singkat. Di sana kita belajar bahwa dalam arsitektur keuangan global, negara berkembang kerap menjadi arena permainan kekuatan yang lebih besar. Ambisi tanpa kedaulatan ternyata rapuh. Pertumbuhan tanpa fondasi yang kuat mudah digoyang. Follower selalu jadi loser.

Barangkali persoalannya bukan pada cita-cita menjadi negara industri. Cita-cita itu sah dan mulia. Yang keliru adalah ketika keinginan berubah menjadi keserakahan; ketika eksploitasi lebih cepat daripada regenerasi; ketika pembangunan lebih mengejar simbol daripada ketahanan jangka panjang. Cakrawala tidak pernah salah.
Pertanyaannya, apakah kita mengejarnya dengan arah yang benar, atau sekadar berlari karena takut tertinggal?

Saya terhenyak mendengar paparan itu. Ia seperti cermin yang memantulkan wajah kita sendiri—antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan bersifat terbatas. Tubuh hanya memerlukan makan secukupnya. Rumah hanya butuh ruang untuk berteduh. Pakaian hanya perlu menutup tubuh dan menjaga martabat. Tetapi keinginan lahir dari persepsi. Dari perbandingan. Dari rasa “kurang” yang tumbuh ketika kita memandang hidup melalui mata orang lain. Karena itu ia menjadi tak berbatas.

Saya kemudian menyebut satu contoh dari belahan dunia lain: Iran. Selama lima dekade hidup di bawah embargo Barat dan Amerika Serikat, ruang geraknya dipersempit oleh sanksi dan isolasi. Kekayaan minyak dan gasnya tak sepenuhnya dapat ditukar menjadi likuiditas global. Akses ke sistem pembayaran internasional dibatasi. Impor teknologi dipersulit. Namun Iran tidak runtuh menjadi negara gagal. Dalam keterbatasan itu lahir kemandirian di sejumlah sektor strategis. Industri farmasi tumbuh untuk memenuhi kebutuhan domestik. Teknologi drone dan sistem pertahanan tanpa awak menjadikannya diperhitungkan. Keterbatasan memaksa inovasi. Isolasi melahirkan substitusi.

Inflasi memang tinggi. Nilai tukar rial terjun. Daya beli tergerus. Tetapi negara itu tidak terjerat utang luar negeri yang mencekik. Kebutuhan pokok tetap tersedia. Kehidupan sosial tetap berjalan. Ini bukan romantisasi atas sanksi. Embargo tetap melukai. Tetapi pengalaman itu menunjukkan satu hal, bahwa integrasi global tidak selalu identik dengan kekuatan, dan isolasi tidak selalu berarti kehancuran. Kadang justru ketahanan lahir ketika sebuah bangsa dipaksa berdiri tanpa penopang luar.

Indonesia bergerak dengan hasrat besar. Bangga menjadi bagian dari G20. Ingin dihitung dan diakui. Iran berjalan dalam lorong sempit sejarah, tetapi bertahan. Mengapa? Karena mereka memusatkan perhatian pada kebutuhan. Kebutuhan adalah tanah tempat kita berpijak.
Keinginan adalah bayangan yang selalu bergerak menjauh. Jika hidup dipandang sebagai kompetisi, ia menjadi perlombaan tanpa garis akhir. Selalu ada yang lebih kaya, lebih tinggi, lebih dipuji. Tetapi jika hidup dipandang sebagai kecukupan, sedikit pun terasa cukup. Kebutuhan berhenti ketika fungsi terpenuhi.
Keinginan berhenti hanya ketika kesadaran tumbuh.

Ketika keinginan berubah menjadi agama baru, ia menuntut korban. Ia meminta prinsip untuk dilunakkan, integritas untuk dikompromikan atas nama pertumbuhan dan ambisi kolektif. Negara pun tidak berbeda dengan individu. Pembangunan yang didorong kebutuhan—pangan, energi, kesehatan, pendidikan—melahirkan stabilitas. Tetapi pembangunan yang digerakkan oleh hasrat pengakuan mudah tergelincir pada pengorbanan yang tak disadari. Dan di sinilah persoalan kita menjadi lebih dalam. Karena bangsa pun memiliki jiwa. Jiwa bangsa Indonesia sejak awal tidak dibangun di atas ambisi material semata. Ia dibangun di atas nilai. Nilai itu bernama Pancasila.

Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan bahwa pembangunan adalah amanah moral. Bahwa manusia bukan pusat segalanya. Ada batas yang ditentukan oleh kesadaran spiritual. Kemanusiaan yang adil dan beradab menuntut agar pertumbuhan tidak mereduksi manusia menjadi sekadar angka statistik atau pasar konsumsi. Persatuan Indonesia mengingatkan bahwa kemajuan tidak boleh hanya dinikmati segelintir elite, sementara jurang ketimpangan melebar diam-diam. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan menegaskan bahwa keputusan tidak boleh lahir dari tergesa-gesa, melainkan dari kesadaran akan batas dan akibat. Dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bukanlah slogan, melainkan tujuan akhir dari seluruh ikhtiar bernegara.

Bangsa Iran bertahan demi dignity yang diajarkan agama. Sementara kita, yang memiliki Pancasila sejak awal negara berdiri terjebak hipokrit. Pada akhirnya, keinginan memang tidak pernah berkata “cukup”. Ia selalu meminta lebih—lebih besar, lebih cepat, lebih diakui. Hanya kesadaran kolektif yang mampu menghentikannya dan berkata: cukup.

Kesederhanaan dalam bernegara bukan berarti anti-mimpi. Ia adalah kemampuan membedakan mana yang benar-benar perlu bagi rakyat, dan mana yang sekadar ilusi prestise ambisi elite. Karena kekuatan sejati sebuah bangsa bukan terletak pada seberapa banyak ia memiliki, tetapi pada seberapa sedikit ia bergantung pada yang tidak esensial. Dan di situlah kedaulatan menemukan maknanya yang paling dalam.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca