Jangan pergi lagi, Sa…

2000 — Pesawat ke Hong Kong

Aku tidak menyangka akan melihatnya lagi. Aku duduk di kursi ekonomi, seperti biasa, tempat yang tidak pernah membuatku canggung.
Ketika penumpang business class mulai naik, aku tidak benar-benar memperhatikan… sampai aku melihat punggung itu. Beberapa orang berubah karena waktu.
Dia berubah karena dunia. Jasnya rapi. Jalannya tenang.
Tapi aku tahu itu dia, Ale-ku

Lebih 1 dekade berlalu setelah aku menjauh darinya. Aku menunduk ketika matanya mencariku.
Bukan karena tidak mengenalinya tetapi karena aku terlalu mengenalnya. Ada orang yang harus kita hindari bukan karena benci,
melainkan karena kita tahu hati kita tidak pernah benar-benar pergi darinya. Aku hanya tersenyum sedikit.
Dia mengangguk. Aku tidak berani lebih dari itu.

1983 — Glodok

Aku menjual kaset di trotoar.
Panas, debu, dan suara orang menawar menjadi napasku setiap hari. Ale datang hanya membeli satu kaset lagu lama.
Namun sejak kalimat pertamanya, aku tahu ia berbeda.
Ia tidak berbicara kepadaku seperti pedagang kaki lima,
tidak seperti perempuan yang harga dirinya bisa ditawar. Sejak hari itu aku mulai menunggunya.
Aku tahu ia pun sering datang bukan karena kasetnya.

Kami tidak pernah memberi nama apa pun pada kedekatan itu.
Tidak berpacaran, tidak berjanji.
Kami hanya berjalan berdampingan dalam hidup masing-masing.
Dan justru karena itulah… aku merasa aman. Ale gagah. Tubuhnya kekar.
Matanya tajam tapi tidak menyakitkan.
Ada lelah di sana, lelah orang yang berjuang, bukan mengeluh.

Suatu hari aku tak lagi punya tempat pulang.
Daganganku habis, tabunganku terkuras untuk berobat ibu di Kalimantan.
Langit Jakarta terasa terlalu luas bagi orang yang kehilangan atap. Aku datang ke kos Ale.
Bukan karena berani, melainkan karena hanya di dekatnya aku tidak merasa rendah. Dan benar… ia menerimaku dengan tangan terbuka.

Enam bulan kami hidup dalam satu kamar sempit.
Bukan kamar yang memberi kenyamanan,
 tetapi ruang yang memberiku martabat. Kami jarang bertemu lama.
Pagi buta Ale sudah berangkat bekerja sebagai salesman di perusahaan Jepang.
Aku pun pergi ke Glodok.
Malam hari kami hanya berpapasan.
Ia membaca, aku tertidur dalam lelah. Aku tidur di lantai di tikar tipis.
Ale di bale-bale kayu. Bukan karena Ale ingin berkuasa di kamar itu. Tetapi karena aku berkeras tidur dilantai. Aku tahu diri sebagai orang yang menumpang.

Ia tidak pernah mengatakan mencintaiku.
Tidak pernah memberi janji. Namun ia menjagaku… lebih dari kata cinta. Ia menundukkan pandangan saat aku berganti pakaian.
Ia memastikan pintu terkunci ketika aku mandi.
Ia berjalan di sisi luar trotoar saat kami jalan bersama. Seorang perempuan tahu, ada perasaan yang tidak diucapkan
karena terlalu dihormati untuk dilukai oleh kata.

Malam hari aku sering terbangun.
Aku melihat Ale tertidur dengan buku terbuka di dadanya. Aku senang melihatnya saat membaca. Serius sekali. Aku yakin Ale akan jadi orang besar dan sukses. Pelan aku mengambil buku itu, meletakkannya di meja,
lalu menyelimutinya. Tanpa pernah ia tahu,
aku menjaga tidurnya
seperti ia menjaga diriku. Di situlah benih cinta itu tumbuh. Diam, perlahan, tanpa pengakuan.
Aku mencintainya.

Dan justru karena itu… aku harus pergi. Aku tahu diri. Ia sedang bertarung dengan hidupnya sendiri.
Aku tak ingin menjadi beban di pundaknya. Aku bilang pindah ke Surabaya.
Aku berbohong. Aku tetap di Jakarta, bekerja apa saja selagi halal, hidup dari hari ke hari.
Diam-diam aku mengirim uang ke keluarganya saat ia kesulitan. Ia tidak boleh tahu. Karena jika ia tahu, ia akan mencariku.
Dan jika ia mencariku… aku pasti kembali. Dan aku tidak boleh kembali.

Aku pergi jauh darinya.
Namun setiap malam, dalam doa yang kupanjatkan pelan,
namanya selalu kusebut lebih dulu sebelum namaku sendiri. Aku menutup hatiku bagi lelaki lain.
Bukan karena mereka tak baik, tetapi karena hatiku telah menemukan rumahnya, dan rumah itu… bernama Ale.

***

Ketika pesawat mendarat, aku sudah tahu dia akan menungguku.

“Ada apa, Sa, ke Hong Kong?” tanyanya pelan.

“Aku jadi TKW, Ale,” jawabku lirih, hampir seperti pengakuan dosa yang terlalu lama kupendam. Aku bertanya tentang Papa dan Mamanya. Dia cerita papa nya sudah meninggal.
Aku tidak berani bertanya apakah dia sudah menikah. Kalau sudah, itu memang seharusnya. Ale pantas dapatkan wanita terbaik untuk mendampingi hidupnya. Aku memegang lengannya. Hangatnya masih sama.
Seperti waktu tidak pernah berjalan, hanya berputar dan kembali ke titik yang sama. Kenangan lebih dari satu dekade menyeruak sekaligus.
Aku menatap lurus ke depan, menahan air mata agar tidak jatuh di hadapannya.

Ia bertanya mengapa aku menghilang dulu. Aku tidak menjawab. Karena jawabannya terlalu sederhana untuk diucapkan. Ya karena aku mencintainya.
Dan justru karena itu aku harus pergi.
Ia bertanya apakah aku sudah menikah. Aku menggeleng. Bagiku jatuh cinta cukup sekali.
Setelah itu hati tidak lagi belajar mengulang.
Ale adalah satu-satunya nama yang memenuhi ruang hatiku. Aku tidak yakin aku mampu memberikan cinta kepada lelaki lain
setulus…
cintaku kepadanya.

Tahun 2003.

Malam itu telepon berbunyi jam dua pagi. Aku tahu suaranya bahkan sebelum dia menyebut namaku. Terdengar suaranya lemah. “ Sa, aku sakit SARS. Sekarat. “

“ Ya Ale. Aku  datang. Beri alamat kamu. “ kataku cepat.

Aku tahu risikonya bahwa SARS itu menular.
Aku akan tertular. Aku tidak peduli soal itu.  Aku tahu jika sesuatu terjadi padanya dan aku tidak datang, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku. Semalaman aku menjaganya.
Ale berkali kali kencing di celana. Aku bersihkan tubuhnya dan ganti spreinya. Aku beri penurun panas. Obat parasetamol.

Aku tidak pernah meminta Tuhan memberiku dia.
Aku hanya meminta Tuhan tidak mengambil dia hari itu. Ale sedang berjuang. Jauh dari keluarga. Aku terus bedoa untuk Ale. Pagi hari aku membawanya ke Shenzhen.
Selama di klinik aku selalu ada di sisi tempat tidurnya. Setelah panasnya turun. Dokter katakan bahwa Ale akan baik baik saja. Dia terlalu kuat untuk dikalahkan oleh SARS.  Ketika dia tertidur di klinik, aku pulang. Ia tidak perlu tahu aku menangis.

Tahun 2010.

Sebenarnya aku tidak pernah siap melihat dunia Ale yang sekarang.
Dunia yang jauh dari trotoar, jauh dari bau debu kaset, jauh dari hidup yang dulu kami pijak bersama.
 Karena kontrak kerjaku sebagai TKW sudah berakhir, sebelum pulang ke tanah air, aku ingin sekali saja melihatnya.
Bukan untuk kembali. Hanya untuk memastikan dia baik-baik saja.

Aku datang ke apartemennya hanya untuk berpamitan. Saat bertemu di lobi, ia memelukku.
Pelukan itu, sama seperti dulu. Hangat, tanpa ragu, tanpa jarak.
Tak ada sedikit pun kesan ia memandang rendah hidupku sebagai TKW.
Di pelukan itu aku menemukan Ale yang sama — Ale tahun 1983. Dan justru itu yang membuatku gentar. Sejak dulu aku selalu takut satu hal, aku akan menjadi beban hidupnya. Namun hari itu bukan lagi tahun 1983. Hari ini aku berusia 40. Bukan usia 20 tahun.


“Jangan pergi lagi, Sa…” katanya lirih.
“Tinggallah di Hong Kong. Temani aku.”

Ia menuntunku masuk ke apartemennya.
Begitu pintu terbuka, aku seakan melangkah ke dunia yang tak pernah kubayangkan menyentuh hidupku. Segalanya terlalu rapi, terlalu tenang, terlalu berkelas.
Dan ketika ia menempatkanku di kamar tamu, aku merasa… diratukan. Seakan aku punya hak atas semua pencapaiannya. Padahal aku tahu kenyataannya tidak begitu.
Aku justru meninggalkannya ketika ia paling membutuhkan seseorang untuk bertahan bersamanya.

Aku menatap ruangan itu lama.
Keheningan di dalamnya terasa berat, bukan karena kemewahan,
melainkan karena aku tahu semua ini tidak lahir dari kemudahan. Ia pasti telah melewati malam-malam panjang,
kegagalan yang tak diceritakan,
dan kesepian yang tak pernah dibagi. Dan aku…
tidak ada di sana ketika semua itu terjadi.

Malam itu ia memelukku lama.
Walau tanpa kata kata indah, namun pelukan itu sudah lebih dari kata kata.  Aku mendengar detak jantungnya. Tenang, pelan, pasti.
Seolah ia ingin mengatakan, di sini kamu aman. Untuk pertama kalinya aku tahu,
perasaanku padanya bukan sekadar sunyi yang kujaga sendiri.
Ia merasakan lukaku,
dan diam-diam ia pun menanggung luka dari kepergianku selama ini.

Yang menjauhkan kami sebenarnya bukan keadaan, bukan waktu, bahkan bukan perbedaan hidup.
Yang menjauhkan adalah caraku memandang diriku sendiri. Aku tidak pernah benar-benar merasa ditolak olehnya.
Aku hanya lebih dulu menolak kemungkinan bahwa aku pantas diterima. Di dalam diriku hidup rasa kecil yang lama berakar. Perasaan bahwa kasih sayang harus dibalas dengan kesetaraan,
bahwa hanya orang yang “cukup” yang boleh tinggal,
dan aku merasa tidak pernah cukup.

Ia tidak pernah meninggikan dirinya.
Ia memperlakukanku setara.
Namun justru itu menimbulkan kegelisahan. Karena ketika seseorang memperlakukan kita lebih baik dari cara kita memandang diri sendiri,
yang muncul bukan hanya bahagia, melainkan takut. Takut suatu hari kenyataan membuka tirai,
dan kita kembali melihat diri kita sebagaimana kita percaya selama ini, 
memang tidak layak untuk dicintai.

Maka setiap kali ia mendekat, aku mundur.
Bukan untuk menjauh darinya,
melainkan untuk melindungi gambaran rapuh tentang diriku. Secara psikologis, aku tidak lari dari dia.
Aku lari dari kemungkinan bahwa aku bisa dicintai tanpa syarat. Dan itulah paradoksnya. Kadang seseorang tidak menolak cinta karena tidak mencintai,
tetapi karena terlalu mencintai…
dan tidak sanggup mempercayai bahwa dirinya pantas dicintai.

Keesokan paginya, dia menyerahkanku pada Wenny salah satu mitranya.
Sejak hari itu aku mulai bekerja di Holding yang dia dirikan. Kemampuan bahasa mandarin dan bahasa inggris ku sangat menolong bekerja di Holding International. Apalagi aku sudah punya PR Hong Kong. Sejak hari itu pula aku hampir tidak pernah lagi bertemu Ale. Bukan karena ia menjauh.
Jarak antara kami terlalu jauh untuk diukur dengan langkah.
Dia CEO sementara aku hanya pegawai biasa. Aku melewati proses kerja bukan untuk mengejar sukses.
Aku belajar… agar suatu hari aku tidak lagi menjadi beban baginya. Aku bekerja keras bukan demi karier.
Aku bekerja… demi Aleku.

Tahun 2017

Suatu waktu, ketika aku sudah memimpin pabrik elektronik di Ho Chi Minh, bencana datang.
Buyer utama membatalkan kontrak. Enam puluh persen penjualan perusahaan bergantung pada mereka. Aku tidak takut kehilangan jabatan.
Aku takut Ale tahu. Aku takut mengecewakannya. Aku bahkan berniat menulis surat pengunduran diri.
Aku pikir lebih baik aku pergi sebelum ia harus membuangku.

Namun ia datang sendiri ke Ho Chi Minh. Aku berlutut di hadapannya meminta maaf.  Ia tersenyum meraih pundaku…
tapi ketika aku mengatakan ingin mundur dan pulang ke Pontianak, wajahnya berubah. “Sa,” katanya pelan,  terlalu pelan untuk disebut marah, terlalu dalam untuk disebut tenang.

“ Dulu tahun 1983, kamu dipukuli preman karena mempertahankan daganganmu.
Mereka bukan sekadar jahat, mereka hanya menjalankan hukum yang tak tertulis di jalanan. Yang kuat bertahan, yang lemah disingkirkan. Yang salah bukan keberanianmu, Sa…
yang salah adalah keadaanmu waktu itu.  Kamu lemah dan miskin. Begitulah realitas hidup.
Sering kali dunia tidak adil, hanya jujur pada kekuatan. Yang kuat memakan yang lemah.
Dan bila suatu hari si kuat jatuh, bukan karena ia dikalahkan…
melainkan karena ia menolak menjadi serigala. Dunia memang keras.
Ia tidak selalu kejam, tapi hampir tak pernah ramah.”

Ia menatapku tajam.

“Kamu pikir aku membangun semua ini dengan pesta dan kemudahan? Tidak, Sa.! Aku pernah bertahun-tahun makan roti seharga dua yuan.
Berkali-kali diseret ke perkara hukum karena orang mau mengambil bisnisku.
Aku tidak pernah lari.
Aku berdiri sampai titik terakhir.”

Ia diam sejenak, lalu membuka tangannya.

Aku tidak mampu berdiri lagi.
Aku jatuh ke pelukannya. “ Sa, aku tidak peduli kontrak itu hilang. Kita bisa cari pasar lain.
Tapi aku tidak bisa terima kalau kamu pergi lagi dari aku.
Jangan pergi lagi, Sa…”

Aku menangis. Hari itu aku termotivasi. Aku tidak lagi bekerja untuk bertahan hidup.
 Apapun akan aku hadapi demi Ale. Aku tidak akan pergi dari Ale. Akan selalu ada disisinya. Setelah itu,  aku mengejar buyer itu kembali.
 Sampai akhirnya kontrak diperpanjang tanpa tepukan. Sejak itu karierku melesat di Holding nya.

Tahun 2026

Enam belas tahun kemudian, aku menjadi Wakil Chairman Holdnig.
Dulu sebagai TKW gajiku hanya 400 dolar sebulan. Sekarang tiga juta dolar setahun.  Tetapi bagiku, yang berubah hanya angka.
Yang tetap sama… alasannya. Aku tidak pernah mengejar kekayaan. Aku hanya berusaha menjadi seseorang
yang tidak lagi harus pergi dari hidupnya karena merasa tidak pantas tinggal.

Kini usiaku mendekati 60 tahun dan Ale sudah diatas 60 tahun.  Kami tidak hidup bersama.
Tidak berjalan berdampingan setiap hari.
Tidak saling memiliki dalam arti yang biasa dipahami orang. Kami bahkan jarang bertemu. Namun setiap kali aku jatuh,
ia selalu ada. Bukan dengan janji.
Bukan dengan kata “aku mencintaimu”.
Tetapi dengan kehadiran,  tenang, pasti, dan tak pernah terlambat.

Aku pernah berpikir cinta harus dekat agar nyata.
Ternyata tidak.
Ada cinta yang justru bertahan karena tidak dipaksa menjadi milik. Kami tidak saling menuntut.
Ia hanya memohon kepadaku agar aku tidak lagi pergi tinggalkan dia.
Aku tidak pernah memintanya memilih. Kami hanya saling menjaga, dari jauh. Cinta kami bukan tentang memiliki,
melainkan memastikan yang lain tidak hancur.

Aku tidak hidup untuk berada di sampingnya.
Aku hidup agar ketika ia menoleh,
ia tahu aku masih ada disisinya. Dan mungkin itu arti cinta kami. Bukan berjalan dalam satu jalan,
tetapi tetap menjadi rumah
yang selalu bisa kembali…
meski tak pernah benar-benar ditempati.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tag:

Tanggal:

Up next:

Before:

Satu tanggapan untuk “Jangan pergi lagi, Sa…”

  1. Curahan hati yang sangat dalam, bermakna dan berguna dalam kehidupan

    Nilai tertinggi adalah dengan kehadiran,  tenang, pasti, dan tak pernah terlambat !

    Terima kasih B, Saya terharu, salut, segan, bangga dapat menyelami cerita ~ pengalaman yang indah ini..

    Suka

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca