Berdamai dengan realita

Aku tiba di safehouse menjelang senja, ketika cahaya matahari tidak lagi memantul terang, tetapi turun perlahan, seperti dunia yang sedang menimbang dirinya sendiri. Ini Gedung berada disebelah Mall di Jantung Kota Jakarta Kelas premium. Depan lobi safe house tidak ada logo. Tidak ada nama. Tidak ada simbol kekuasaan. Ia tampil  sikap rendah hati yang mencurigakan—seolah sengaja ingin dilewatkan oleh mata yang mencari kemewahan.

Di dunia yang dipenuhi deklarasi visual, tempat seperti ini justru menandakan sesuatu yang lebih dalam. Kekuasaan sejati tidak perlu dikenali. Ia tidak membutuhkan pengakuan. Ia hanya membutuhkan fungsi. Dan fungsi selalu bekerja paling efektif dalam sunyi. Aku berhenti sejenak di ambang pintu. Bukan karena ragu, melainkan karena kesadaran yang pelan-pelan merayap. Aku bukan lagi perempuan Miles City of London dengan keyakinan bahwa hukum adalah kompas moral dunia. Aku telah melewati sesuatu yang tidak bisa diulang—kehilangan ilusi.

***

Di London, aku hidup dalam keteraturan. Dunia tampak bisa dijelaskan melalui pasal, preseden, dan struktur legal yang rapi. Aku percaya bahwa kontrak adalah janji suci. Bahwa disclosure adalah kebenaran. Bahwa hukum, pada akhirnya, adalah instrumen etika yang dilembagakan.

Sebagai associate partner termuda di firma hukum papan atas, aku menginternalisasi logika itu sebagai iman profesional. Klien adalah subjek hukum. Negara adalah penjamin keadilan. Pasar, betapapun kompleksnya, adalah mekanisme rasional yang akan menghargai kepatuhan.

Lalu ia datang.

Tidak membawa aura predator. Tidak menunjukkan ambisi kasar. Justru ketenangannya membuatku merasa unggul. Ia jarang bertanya. Ia tidak menawar fee yang firmaku tagih. Ia tidak mendesak soal time table. Dalam bahasa psikologi profesional muda, ia tampak manageable. Aku merasa sedang memegang kendali. Apalagi secara personal dia sangat ramah. Dan aku jatuh smpati dan merasa tersanjung ada disisinya. Tanpa kusadari bahwa ketenangan itu bukan kelemahan, melainkan indikator bahwa permainan sedang berlangsung di level lain.

Aku melihat dua akuisisi farmasi sebagai dua transaksi hukum yang terpisah. Aku menyusun SPV, due diligence, escrow, dan klausul proteksi dengan presisi. Namun aku hanya bekerja di lapisan permukaan. Di bawahnya, struktur keuangan sedang diuji: sentimen pasar, cost of capital, korelasi valuasi, dan titik-titik rapuh yang tidak pernah tercantum dalam kontrak.

Ketika transaksi itu selesai, aku baru memahami posisi yang tanpa kusadari telah kutempati. Secara formal, aku bertindak sebagai penasihat hukum independen. Tugasku memastikan kepatuhan, keterbukaan, dan keabsahan yuridis. Namun secara struktural, aku digiring untuk menjadi bagian dari mesin legitimasi—bukan untuk melindungi kepentingan satu pihak, melainkan untuk menormalkan sebuah transaksi yang pada hakikatnya bersifat hostile.

Dua perusahaan farmasi itu tidak sedang dipersiapkan untuk merger damai. Mereka dibenturkan secara sistematis. Satu perusahaan terdaftar di London, yang lain di New York. Ini bukan kebetulan.
Keduanya berada di dua yurisdiksi pasar modal paling berpengaruh di dunia, dengan karakter investor, media keuangan, dan regulator yang berbeda. Narasi dibangun secara paralel namun saling bertentangan.

Di London, perusahaan pertama diposisikan sebagai entitas riset yang undervalued, terhambat oleh keterbatasan ekspansi global. Di New York, perusahaan kedua diposisikan sebagai growth story yang agresif, tetapi dinilai overleveraged dan rentan terhadap koreksi sentimen.


Media, analis, dan investor institusional mulai membaca dua cerita yang saling menggerus.
Bukan melalui pernyataan langsung, melainkan lewat selective disclosure, timing rilis informasi, dan framing strategis atas risiko dan prospek.
 Akibatnya, valuasi keduanya bergerak ke arah yang diinginkan struktur, bukan ke arah yang “rasional” menurut fundamental murni.

Di bawah permukaan, struktur keuangan disusun agar keuntungan dari benturan itu dapat ditangkap. Instrumen yang digunakan bukan pembelian saham langsung, melainkan kombinasi opsi derivatif, exposure sintetis, pembiayaan jangka pendek berbasis collateral, dan SPV lintas yurisdiksi.
 Ketika satu perusahaan melemah akibat tekanan sentimen, posisi keuangan di sisi lain justru menghasilkan keuntungan.
Keuntungan ini tidak muncul sebagai laba operasional, tetapi sebagai capital gain struktural. Inilah poin kunci yang tidak pernah diajarkan di buku teks hukum atau keuangan korporasi konvensional. Bahwa uang untuk membeli perusahaan kedua tidak datang dari kas,
tetapi dari dislokasi yang diciptakan antara keduanya.

Di sinilah peranku menjadi jelas—dan menakutkan. Proses hukum yang kulakukan meliputi due diligence, fairness opinion, regulatory filing, compliance lintas yurisdiksi,
 semuanya sah secara yuridis. Tidak ada pasal yang dilanggar. Tidak ada pemalsuan. Tidak ada penipuan eksplisit. Namun fungsi sejatinya bukan hanya memastikan kepatuhan, melainkan memberi aura legalitas pada hasil dari konflik yang direkayasa, menenangkan regulator, dan menciptakan ilusi bahwa merger adalah solusi alami atas “ketegangan pasar”.
 Padahal ketegangan itu sendiri adalah produk desain.

Ketika kedua perusahaan akhirnya digabungkan, publik melihatnya sebagai konsolidasi strategis, efisiensi skala,
dan rasionalisasi industri.
 Namun secara struktural, merger itu adalah penutupan lingkaran.
Konflik yang diciptakan sejak awal diselesaikan oleh struktur yang sama yang menciptakannya. Dengan kata lain, struktur menciptakan masalah,
lalu menjual solusi atas masalah itu. Di titik itu aku menyadari sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar manipulasi transaksi.

Hukum tidak dilanggar.
Prosesnya sah.
Dokumennya lengkap. Namun hukum—sebagai sistem normatif—tidak lagi relevan dalam menentukan siapa yang berkuasa atas hasil akhir. Karena dalam keuangan global, kekuasaan tidak dipegang oleh mereka yang paling patuh pada aturan, melainkan oleh mereka yang mampu membentuk konteks di mana aturan itu bekerja,
 mampu mengatur timing, sentimen, dan likuiditas,
dan mampu menjadikan kepatuhan hukum sebagai lapisan legitimasi, bukan sumber kendali.
 Itulah kesadaran yang paling mengganggu. Hukum bisa sah,
tetapi tidak selalu menentukan arah. Dan di dunia keuangan global, relevansi—bukan legalitas—adalah bentuk kekuasaan tertinggi.

Aku menemuinya di Hong Kong setahun kemudian, bukan sebagai profesional, melainkan sebagai manusia yang terluka. Amarahku bukan semata karena merasa ditipu, tetapi karena kesadaranku tentang diriku sendiri runtuh. Aku menangis. Aku menyebutnya predator. Aku membutuhkan wajah untuk disalahkan. Ia tidak membantah.
Ia tidak menjelaskan.
Ia tidak memohon pengertian.

Dan di sanalah aku belajar pelajaran paling pahit bahwa kekuasaan sejati tidak pernah merasa perlu membela diri. Ia tidak hidup dari pengakuan moral, melainkan dari fakta bahwa sistem tetap bekerja setelah tuduhan dilontarkan. Aku mengundurkan diri dari firma hukum. Kupikir itu keberanian. Kupikir itu penebusan. Kupikir aku sedang memilih cahaya saat memilih kerja di Lembaga Kemanusiaan. Aku tidak sadar bahwa aku hanya berpindah peran dalam panggung yang sama.

Di yayasan kemanusiaan, bahasa yang digunakan adalah bahasa yang menenangkan jiwa tentang anak-anak, perdamaian, keadilan, pembangunan. Dunia di sana terasa bersih, seolah sejarah bisa disucikan dengan niat baik dan proposal yang tepat. Namun malam itu—di acara amal internasional—tirai jatuh. Aku melihat para donatur. Bukan sebagai individu, tetapi sebagai simpul struktur. Aku mengenali pola kepemilikan, aliran dana, dan jaringan lintas yurisdiksi. Aku menyadari bahwa filantropi bukan kebal terhadap sistem—ia adalah bagian dari mekanisme legitimasi sistem.

Politisi hadir sebagai simbol.
Presiden sebagai antarmuka publik. Yayasan sebagai jembatan reputasi. Tetapi keputusan sesungguhnya—tentang alokasi modal, tentang siapa bertahan dan siapa runtuh—dibuat di ruang yang tidak memiliki mikrofon. Aku tidak marah. Aku lelah.
Karena kelelahan itu lahir bukan dari kebencian, melainkan dari kejernihan yang datang terlambat.

Aku ahirnya menerima tawaran dia untuk bergabung di Ale Capital. Aku datang ke Swiss tanpa drama. Aku tidak menuntut penjelasan. Aku datang dengan satu niat: memahami. Di Ale Capital, aku tidak diajari cara menjadi kaya. Aku diajari cara membaca arsitektur. Tentang likuiditas global. Tentang bagaimana krisis bukan kegagalan, melainkan mekanisme redistribusi risiko. Tentang bagaimana mata uang cadangan bekerja sebagai final settlement asset, dan mengapa USD selalu menguat saat dunia goyah. Aku belajar bahwa ketika volatilitas naik, margin requirement meningkat. Collateral kehilangan nilai. Dan dunia berlari mencari likuiditas. Itu bukan kepanikan—itu refleks sistemik.

Aku berhenti menilai dunia dengan kategori baik dan jahat. Kategori itu terlalu kasar untuk sistem yang bekerja melalui harga, spread, dan probabilitas. Aku berhenti marah. Marah adalah kemewahan mereka yang masih percaya dunia bisa dipermalukan agar berubah. Aku memilih memahami. Dan memahami jauh lebih berat, karena ia menghilangkan kenyamanan moral.

***

Kini aku berdiri di depan pintu safehouse itu. Code akses membuka pintu baru dikirim saat aku ada depan pintu lewat jaringan safenet. Saat pintu tersibak. Dia berdiri dengan senyum yang sama 13 tahun lalu. Tapi penampilannya tidak seperti dulu yang plamboyan. Kini justru nampak sangat sederhana. Aku lirik di kamar kerjanya. Ada terminal menampilkan grafik yang terus bergerak. ETF mengalir. Berita geopolitik berganti cepat. Dunia tampak kacau bagi mereka yang membaca headline, tetapi sangat terstruktur bagi mereka yang membaca pola. Dari tempat inilah mesin Ale Capital dan entah entity apa lagi yang tidak kutahu, yang dia gunakan mengakses dan mengerakan sumber daya keuangan.

Tak ada cerita tentang masa lalu. Tak dan melankolis. Dia dengan tatapan keras layaknya Srigala berkata kepadaku. “ Kini saatnya kamu terjun ke lapangan. Menjadi bagian dari team untuk proyek di Venezuela. Ini proyek sangat sensitive dari issue geopolitik. Pastikan clean tanpa issue. “ katanya. Aku mengangguk. Butuh 10 tahun lebih di belakang meja sampai akhirnya dipercaya menjadi bagian dari team Srigala, yang langsung dibawah komandonya.

Aku akhirnya mengerti. Bahwa kekuasaan hari ini tidak memerintah. Ia membingkai kemungkinan. Ia tidak berkata “jangan”, tetapi membuat sesuatu menjadi mahal. Ia tidak menghukum, tetapi mengeringkan pembiayaan. Ia tidak membutuhkan legitimasi, karena ia bekerja melalui kepatuhan terhadap logika sistem. Inilah kekuasaan tanpa wajah. Ia tidak hadir di podium.
Ia hadir di harga risiko. Dan di hadapannya, idealisme tanpa pemahaman hanyalah bentuk lain dari kepolosan.

***

Aku tahu dunia akan menyebutku sinis. Aku tahu sebagian akan menyebutku serigala. Namun mereka keliru. Serigala adalah mereka yang memangsa tanpa memahami ekosistem. Aku memilih menjadi bagian dari arsitek, karena hanya dengan memahami struktur seseorang bisa memilih kapan harus bergerak—dan kapan harus menahan diri. Dalam dunia tanpa wajah, kesadaran adalah bentuk spiritualitas tertinggi. Bukan doa yang mengubah sistem, melainkan kejernihan dalam membaca kenyataan. Aku tidak kehilangan nurani.
Aku kehilangan ilusi. Dan kehilangan ilusi bukan kehancuran.
Ia adalah kelahiran kesadaran.

Aku sering ditanya—oleh orang-orang yang hanya melihat permukaannya—apa yang sebenarnya membuat B begitu berbahaya. Mereka mengira jawabannya adalah kecerdasan. Atau keberanian. Atau keberhasilannya menembus struktur yang tidak kasat mata. Mereka keliru. B bukan pria yang mencolok. Ia rendah hati, hampir terlalu tenang untuk dunia yang bergerak cepat. Tidak haus pengakuan. Tidak membutuhkan validasi. Ia hadir tanpa perlu mendominasi ruangan. Justru karena itu ia sulit ditebak. Dalam diamnya, ada perhitungan yang tidak terburu-buru, tetapi juga tidak ragu.

Kecepatannya bertindak sering disalahartikan sebagai spontanitas. Padahal itu adalah hasil dari penguasaan teknis yang sangat dalam. Ia bergerak cepat bukan karena ceroboh, melainkan karena tidak perlu berpikir ulang tentang hal-hal yang telah ia kuasai sepenuhnya. Nalurinya bekerja seiring dengan datanya. Keputusan yang tampak instan sesungguhnya adalah hasil dari disiplin panjang yang tidak terlihat.

Ia memahami struktur keuangan, ya. Tetapi yang membedakannya dari banyak pemain lain adalah arah pandangnya. Ia tidak terjebak pada permainan uang sebagai tujuan akhir. Uang baginya bukan trofi, melainkan energi—sesuatu yang harus diarahkan, bukan ditimbun. Aku melihatnya berkali-kali menolak godaan paling klasik di dunia keuangan. Yaitu menumpuk uang tunai, memperbesar leverage finansial semata, atau mengejar return jangka pendek yang memukau. Ia memilih jalan yang lebih sunyi dan jauh lebih beratmemperbesar portofolio industri dan manufaktur berteknologi tinggi.

Ia membelanjakan uang pada riset ketika yang lain sibuk mempercantik laporan keuangan. Ia menanam modal pada laboratorium, bukan hanya pada saham. Ia memahami bahwa nilai sejati tidak lahir dari transaksi, melainkan dari kapasitas produksi dan penguasaan teknologi. Yang lebih jarang dipahami orang,  obsesinya pada supply chain.

Ia tidak puas hanya memiliki produk. Ia ingin menguasai alur—dari bahan baku, proses manufaktur, hingga distribusi akhir. Jaringan logistik baginya bukan sekadar biaya operasional, melainkan sumber kekuasaan strategis. Siapa yang menguasai logistik, menguasai waktu. Dan siapa yang menguasai waktu, menguasai pasar.

Di dunia yang semakin rapuh oleh disrupsi, pandemi, dan konflik geopolitik, ia sudah lebih dulu membangun ketahanan. Bukan dengan slogan, tetapi dengan infrastruktur nyata. Pabrik. Gudang. Pelabuhan. Sistem distribusi. Rantai pasok yang tidak bergantung pada satu negara atau satu rezim. Namun yang paling membuatku kagum—dan ini sulit dijelaskan dalam bahasa bisnis—adalah disiplinnya. Ia hidup sederhana untuk ukuran kemampuannya. Ia bekerja tanpa teatrikal. Ia tidak mabuk oleh kekuasaan yang ia pahami lebih dalam daripada kebanyakan orang. Disiplin itu bukan asketisme palsu, melainkan kesadaran bahwa kekuasaan tanpa kendali diri akan selalu berumur pendek.

Aku menyadari satu hal penting tentang B, 
ia tidak membangun imperium untuk menaklukkan dunia,
tetapi untuk bertahan di dalamnya—dengan martabat, ketenangan, dan jarak yang sehat dari keserakahan. Dalam dunia yang dipenuhi orang cerdas, B menonjol bukan karena kepintarannya.
Ia menonjol karena ketertiban batinnya. Dan itulah kualitas yang paling langka.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca