Exit yang benar…

Tahun 2012 saya diundang seorang teman untuk bergabung dalam sebuah mailing list tertutup. Isinya bukan selebaran kampanye atau slogan moral. Lingkaran itu dihuni para profesional—insinyur, ekonom, perencana kebijakan, analis risiko—orang-orang yang terbiasa bekerja dengan data, bukan dengan teriakan. Mereka membicarakan lingkungan bukan sebagai ideologi, melainkan sebagai variabel keras dalam perhitungan ekonomi jangka panjang.

Saya tertarik karena sejak awal saya tahu bahwa dalam dunia keuangan global, kerusakan lingkungan jarang diperdebatkan sebagai dosa, tetapi hampir selalu muncul sebagai biaya yang datang terlambat dan tidak bisa dinegosiasikan.

Setahun kemudian, pada 2013, sebuah email panjang masuk dari salah satu anggota. Tidak provokatif. Tidak emosional. Bahasanya kering, teknis, dan disiplin. Email itu menjelaskan—secara ilmiah dan terukur—mengapa penambangan bawah tanah (underground mining) di Indonesia mengandung risiko struktural yang jauh lebih tinggi dibandingkan banyak yurisdiksi pertambangan lain di dunia. Bukan risiko operasional biasa, melainkan risiko yang menempel pada geologi itu sendiri.

Saya membacanya perlahan. Bukan karena sulit dipahami, tetapi karena kebetulan yang aneh. Karena pada saat yang sama, saya sedang memantau proses divestasi sebuah tambang asing (PMA) di Indonesia. Dari berbagai percakapan informal, saya mendengar rencana ekspansi, bukan lagi tambang terbuka, tetapi underground mining. Di titik itulah email itu berhenti menjadi tulisan akademik. Ia berubah menjadi lensa.

Saya memutuskan untuk bertemu langsung dengan penulisnya. Namanya Wini. Sarjana geologi dari perguruan tinggi negeri. Berkarier sebagai tenaga fungsional di kementerian. Jawabannya singkat dan sopan:
“Terima kasih, Pak. Saya senang sekali mendapat undangan, apalagi difasilitasi tiket dan akomodasi.”

Kami bertemu di lounge eksekutif Hotel Park Lane, menghadap Victoria Park. Siang itu Hong Kong cerah. Kota ini selalu menjadi tempat yang tepat untuk percakapan lintas disiplin. Di sini, angka dan realitas jarang saling menyangkal. Wini masih sangat muda. Belum tiga puluh. Cerdas, tenang, dan belum kehilangan idealismenya. Ia berbicara tanpa upaya mengesankan. Tidak ada keinginan untuk “meyakinkan”. Ia hanya menyusun fakta, satu per satu.

Ia menjelaskan bahwa secara tektonik, Indonesia berada di konvergensi tiga lempeng aktif.
Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Posisi ini menempatkan Indonesia di jantung Pacific Ring of Fire—zona dengan aktivitas seismik tinggi, sesar aktif yang kompleks (baik strike-slip maupun thrust faults), serta deformasi kerak bumi yang berlangsung terus-menerus.

Dalam konteks penambangan bawah tanah, implikasinya bersifat fundamental. Distribusi tegangan batuan tidak pernah benar-benar stabil. Risiko rock burst, runtuhan terowongan, dan reaktivasi sesar tidak dapat dimodelkan secara linier. Ketidakpastian bukan anomali, melainkan kondisi normal.

“Indonesia,” kata Wini pelan, “bukan wilayah kratonik yang tua dan stabil seperti Kanada atau Australia. Kita tidak punya geomechanical predictability jangka panjang.”

Ia melanjutkan, “ sebagian besar cebakan mineral di Indonesia berasosiasi dengan busur vulkanik muda—Miosen hingga Resen. Formasi seperti ini dicirikan oleh kepadatan rekahan tinggi, batuan yang telah teralterasi hidrotermal dan melemah, serta variasi litologi yang tajam dalam jarak pendek.”

Bagi insinyur tambang, konsekuensinya jelas bahwa nilai Rock Mass Rating (RMR) dan Q-System sangat fluktuatif. Kebutuhan penyangga terowongan meningkat tidak proporsional terhadap kedalaman. Model empiris yang bekerja baik di wilayah stabil kehilangan reliabilitasnya di sini. Dalam bahasa ekonomi, itu berarti satu hal, CAPEX dan OPEX tambang bawah tanah di Indonesia bersifat eskalatif dan tidak pasti. Di titik itu saya berhenti mencatat. Saya sudah paham.

Bagi saya, ini bukan lagi soal keselamatan kerja atau teknik penambangan. Ini adalah critical point dalam proses divestasi. Sebuah proyek dengan risiko teknis yang tidak dapat diprediksi akan selalu bermasalah ketika dipindahkan ke neraca, terutama dalam rezim pembiayaan global pasca–Basel III.

Yang menarik, Wini tidak berhenti pada sains. Ia mengaitkannya dengan ekonomi.
Ia berbicara tentang risk premium, tentang biaya modal yang meningkat, tentang ketidakmungkinan menjadikan proyek seperti itu sebagai bankable collateral dalam jangka panjang. Di sanalah penjelasannya memperoleh nilai strategis. Ia tidak sedang mengkritik industri.
Ia sedang menjelaskan batas rasionalitas investasi.

Sebelum kami berpisah, saya menyerahkan sebuah amplop. “Ini bukan apa-apa,” kata saya.
“Sekadar untuk menikmati Hong Kong. Kamar kamu saya perpanjang sampai hari Senin. Anggap saja liburan singkat.”

Ia tersenyum cerah, senyum orang muda yang belum tahu bahwa analisisnya suatu hari akan menjadi argumen sunyi dalam keputusan finansial bernilai miliaran dolar.

Saya menatap keluar jendela, ke arah kota yang terus bergerak. Di dunia ini, saya berpikir,
pengetahuan jarang mengubah dunia secara langsung.
Ia hanya menunggu, dengan sabar, sampai dunia kelelahan menyangkalnya.

***

Tahun 2015.

Restoran hotel itu tenang, terlalu tenang untuk ukuran Orchard Road. Siang hari, eksekutif lintas negara lebih suka ruang seperti ini: netral, mahal, dan tidak mengundang perhatian. Di meja kami, hanya ada piring makan siang, segelas air mineral, dan percakapan yang nilainya miliaran dolar.

“B,” Simon memanggil sambil menurunkan sendoknya. Nada suaranya tidak santai, meski tubuhnya tampak rileks. Dia banker London—produk klasik City. Rapi, dingin, dan terbiasa berbicara dengan angka seolah itu bahasa ibu.

“ Saya punya clients di Indonesia. Mereka ditawari program divestasi PMA tambang.”
Kata Simon. Saya mengangguk pelan. “ Mereka tidak punya uang. Tapi mereka punya investor strategis. Masalahnya, investor strategis hanya akan masuk setelah proses divestasi selesai. Skemanya, investor strategis akan memberikan cash collateral kepada lending bank sebagai dasar pencairan kredit. “ Lanjut Simon. Itu cara halus layering lewat investor institusi. Sebenarnya uang berasal dari Indonesia juga.

Simon terdiam sebentar.  “ Nah untuk bisa dapatkan posisi dalam program divestasi itu, client saya perlu credit enhancement yang dari Prime bank. Credit enhancement dalam bentuk block fund.” Katanya.

Saya tersenyum.

“ Engga usah kawatir. “ Kata Simon cepat seakan menghapus keraguan saya.” Credit enhancement tidak akan di call. Karena setelah Client saya resmi menguasai Saham PMA Tambang itu, investor strategis kirim cash collateral untuk pencairan kredit akuisisi tambang itu. Selanjutnya credit enhancement tidak lagi binding.” Kata Simon.

Jadi ini skema bisnis rente. Jual hak beli pada program divestasi. Kemudian dijual kepada investor strategis untuk dapatkan profit. Di Indonesia, kata divestasi selalu terdengar resmi, seolah ini murni agenda negara. Padahal praktiknya jauh lebih kompleks. Secara hukum, hak divestasi itu milik negara. Tapi mereka berhasil meyakinkan beberapa pejabat bahwa divestasi ini sebaiknya jatuh ke mereka.

Saya tidak langsung menanggapi.
Tahun 2015 adalah periode transisi—masa ketika banyak kepastian lama runtuh, sementara kepastian baru belum sepenuhnya terbentuk. Harga komoditas global jatuh, penerimaan negara melemah, dan APBN berada di bawah tekanan. Dalam situasi seperti itu, hak negara—termasuk hak divestasi—sering kali tidak lagi diperlakukan sebagai prinsip hukum yang kaku, melainkan sebagai ruang negosiasi fiskal dan politik.

Simon mencondongkan tubuhnya sedikit, menurunkan suaranya.

“Masalahnya bukan di politik,” katanya.
“Masalahnya di struktur transaksi.”

Saya tersenyum tipis. Pengalaman mengajarkan saya bahwa kegagalan terbesar hampir selalu disembunyikan di balik kata struktur. Di situlah risiko dikemas agar tampak jinak, padahal ia hanya sedang menunggu waktu.

“Klien saya terafiliasi dengan International Investment Holding di Singapore,” lanjut Simon.
“Mereka punya akses ke bank. Punya akses ke kekuasaan.”
Ia berhenti sejenak.
“Yang mereka tidak punya hanya satu, yaitu credit enhancement agar bisa qualified masuk program divestasi. Apalagi perusahaan tambang itu berstatus PMA.”

Di titik itu saya mulai melihat gambarnya secara utuh. Dalam praktik divestasi, prosesnya tidak pernah langsung menuju uang. Ia selalu melewati tiga lapisan utama. MoU, MoA, dan Financial Closing. Pada setiap tahap itu, credit enhancement menjadi alat legitimasi keuangan, bukan sekadar tambahan.

Simon menyandarkan kepala pada tangannya, jari telunjuk mengarah ke atas—gestur khas banker yang sedang menghitung risiko di dalam benaknya. “Nilainya sekitar USD 3 miliar.”

Saya tertawa kecil. Bukan karena lucu, tetapi karena polanya terlalu akrab.

“Chicken and egg,” kata saya.

Simon mengangguk.
“Persis.”

Saya lalu menyusun persoalan itu dengan kerangka yang lebih teknis—bukan untuk menggurui, tetapi untuk memastikan kami berbicara pada frekuensi yang sama. “Pada tahap MoU, semua orang hanya mengunci niat,” kata saya.
“Belum ada kewajiban uang, tapi pembeli diminta menunjukkan financial capability. Di sinilah credit enhancement pertama kali dibutuhkan, sebagai sinyal bahwa MoU itu bukan sekadar kertas.”

Simon mengangguk pelan.

“Masuk ke MoA, atau SPA,” lanjut saya,
“risikonya naik. Harga mulai dikunci. Conditions precedent ditentukan. Bank mulai bicara serius. Tanpa credit enhancement, MoA sulit ditandatangani karena pembiayaan belum bankable.”

Saya berhenti sejenak.

“Dan financial closing,” kata saya,
“hanya bisa terjadi kalau verifikasi credit enhancement oleh bank hasilnya satisfied. Ya setara cash. Di titik itu, credit enhancement berfungsi sebagai jembatan. Agar transaksi bisa bergerak dari niat hukum ke realisasi keuangan.”

Simon menyela, “Masalahnya, tidak ada yang mau berdiri paling depan.”

Saya mengangguk.

Itulah paradoks divestasi di era pasca–Basel III. Bukan karena kurang uang, melainkan karena tidak ada pihak yang bersedia menanggung risiko transisi—risiko yang muncul di antara MoU, MoA, dan financial closing. Di meja itu, tidak ada pihak yang salah. Namun justru karena itu, tidak ada satu pun yang mau melangkah lebih dulu.

Simon menatap saya lurus. “Itu sebabnya saya hubungi kamu.” Katanya. “Apa mungkin bisa bantu?” Tanyanya.  

Saya tidak langsung menjawab. Tahun 2015 bukan tahun yang ramah bagi transaksi besar. Basel III mulai benar-benar terasa. Bank tidak lagi bebas menerbitkan guarantee tanpa capital charge yang berat. Letters of comfort sudah tidak dianggap cukup. Semua harus balance-sheet justified.

“Saya akan pikirkan,” kata saya akhirnya, sambil mengangguk pelan. Dalam kepala saya, bukan pertanyaannya apakah mungkin, tetapi siapa yang bersedia menanggung risiko transisi. Bagaimana uang bisa hadir tanpa benar-benar hadir. Dan bagaimana struktur bisa dibangun agar setiap pihak merasa aman tanpa melanggar garis merah regulasi.


Di dunia seperti ini, masalah jarang diselesaikan dengan uang tunai.
Ia diselesaikan dengan arsitektur kepercayaan, struktur legal, dan rekayasa finansial yang cukup cerdas untuk terlihat sederhana. Dan saya tahu, jika solusi itu ada, ia tidak akan datang dari meja makan siang, melainkan dari desain yang dikerjakan diam-diam, jauh dari Orchard Road.

***

Seminggu kemudian, langit Hong Kong abu-abu tipis. Kabut rendah menggantung di antara gedung-gedung Central, membuat kota itu terasa seperti ruang tunggu raksasa—tempat keputusan besar diambil sambil berpura-pura minum kopi.

Saya bertemu Lyly di sebuah lounge privat menghadap Victoria Harbour. Walau Lyly eksektuif SWF China, namun penampilannya sangat egaliter. Tidak ada protokol berlebihan. Tidak ada rombongan. Sovereign wealth fund tidak bekerja dengan cara itu. Kekuasaan mereka justru terletak pada kesunyian. Kami bersahabat lebih dari sepuluh tahun. Lyly adalah tipe wanita matang—tenang, presisi, dan tidak pernah berbicara tanpa menghitung implikasi lima langkah ke depan. Di komite investasi, orang seperti dia bukan pembuat headline, tapi penentu nasib.

“ Ly, seru saya. “ Sejak Basel III diberlakukan penuh, credit enhancement tidak lagi diperlakukan sebagai janji institusional. Dalam perhitungan regulator dan auditor, credit enhancement harus setara cash.” Kata saya mengawali diskusi

Lyly mengangguk. Dia jauh lebih paham daripada kebanyakan banker.

“Artinya,” saya lanjutkan,
“ Proof of funds, standby facility, atau comfort letter harus digital document yang traceable secara system. Itu dianggap off-balance-sheet exposure yang harus dikonversi ke risk-weighted assets.”

Saya berhenti sebentar, lalu menekankan poin utamanya. “Dan untuk exposure seperti ini, conversion factor-nya mendekati 100%. Bagi regulator, itu bukan ‘niat baik’. Itu komitmen likuiditas implisit.”

Lyly tersenyum tipis.
“Itulah kenapa kami sangat ketat.”

Dia lalu menambahkan, kali ini dari sudut pandang sovereign wealth fund. “Basel III memaksa semua pihak jujur pada neraca. Kalau kami mengeluarkan credit enhancement, kami harus siap secara kas, engga bisa lagi sekedar janji semacam surety bond.”

Saya mengangguk. “Makanya saya tidak bicara soal bank guarantee. Bank sekarang tidak mau menerbitkan guarantee tanpa cash back. Dan letter of comfort sudah dianggap kosmetik—tidak kredibel di mata counterparty.”

Lyly mencondongkan tubuhnya sedikit. “Bagi kami, itu sederhana,” katanya.
“Kalau credit enhancement itu bisa dipakai untuk menekan harga, membuka negosiasi, atau memengaruhi keputusan korporasi, maka secara etika dan regulasi, kami harus siap settle setara  cash.”

Itulah garis merahnya.

Saya tersenyum kecil.
“Itu sebabnya saya datang ke kamu, bukan ke bank. “ kata saya tersenyum. “ Bank terikat Basel III secara keras.
Sovereign wealth fund terikat Basel spirit—bukan regulasi langsung, tapi disiplin reputasi global.

“Tapi itu juga sebabnya exit strategy jadi mutlak,” lanjut Lyly. “Tanpa exit yang jelas, credit enhancement berubah dari alat negosiasi menjadi beban neraca yang tidak produktif.”

Saya mengangguk. “Jadi struktur harus memastikan tiga hal,” kata saya, menyimpulkan,
“Tidak ada drawdown otomatis. Tidak ada trigger sepihak. Dan ada buyer atau refinancing path yang jelas sebelum enhancement expired.”

Lyly tersenyum. “Kalau itu bisa dipenuhi,” katanya,
“credit enhancement bisa kami keluarkan. Sebagai sinyal kekuatan finansial, bukan sebagai jebakan kewajiban.”

” Dan B, ” seru Lyly dengan mata Elang ” Saya mau lakukan deal ini karena reputasi kamu. Karena selama ini kamu terbukti tidak pernah datang membawa masalah ke kami. Kamu datang selalu dengan solusi exit properly”

Di titik itu, saya sadar.
Ini bukan lagi soal membantu sebuah negosiasi divestasi. Ini soal mendesain instrumen yang patuh Basel III, aman secara reputasi, dan cukup kuat untuk membuka pintu tanpa harus benar-benar mendorong uang keluar. Di era sebelum 2008, janji sudah cukup.
Di era setelah Basel III, setiap janji harus dihitung seolah-olah itu kas. Dan hanya sedikit institusi di dunia yang sanggup berkata:
“Ya, kami siap—asal strukturnya benar.” Kata Lyly.

**

“B, bagaimana? Ada solusi?”
Suara Simon terdengar melalui telepon. Sudah hampir sebulan sejak pertemuan kami di Hilton Orchard, Singapore. “Ada.” Jawab saya. Hening sejenak.

“Baik. Apakah saya boleh mengatur pertemuan Anda dengan client saya?”

“Silakan.”

Tidak lama kemudian saya dihubungi seseorang yang menyebut nama Simon. Ia meminta pertemuan di sebuah hotel di kawasan Kebayoran, Jakarta. Saya menyanggupi.

Kami bertemu di restoran hotel. Sejak awal saya mengenali salah satu dari mereka sebagai pejabat pemerintah. Kami saling menyalami dan bertukar kartu nama—ritual singkat yang selalu menandai dimulainya percakapan formal. “Saya sudah lama mengenal Simon,” kata Beni, salah satu dari mereka.
“Ia banyak bercerita tentang Anda, B.”

Saya tersenyum singkat. “Tidak ada yang istimewa.
Ini murni urusan bisnis.”

Saya sengaja menutup pujian lebih awal. Dalam transaksi seperti ini, personal branding yang berlebihan justru memperkeruh struktur.

Seorang pejabat yang duduk di seberang saya membuka diskusi. Di kartu namanya tertulis namanya Budiman. “Bagaimana pandangan Anda terhadap program hilirisasi minerba? Undang-undangnya sudah jelas, bukan?” Katanya.

Saya menjawab hati-hati. “Menurut saya, tantangannya justru ada pada definisi hilirisasi itu sendiri.”

Budiman menanggapi cepat. “Apa yang kurang jelas?”

“Karena pengolahan pertambangan secara industri terbagi menjadi upstream dan downstream. Pertanyaannya adalah apakah hilirisasi dalam undang-undang dimaksudkan hanya sampai pengolahan bahan mentah—atau sampai penciptaan produk industri akhir.” Kata saya.

“Tolong jelaskan secara konkret.” Kata Budiman.

Saya mengangguk. “Ambil contoh nikel. Penambangan menghasilkan nickel ore dengan kadar sekitar 1,5–3%—limonit dan saprolit.”
“Material ini kemudian diolah di smelter menjadi feronikel, dengan kandungan nikel 15–40%. Di bawah itu dikenal sebagai nickel pig iron.”

Saya lanjutkan tanpa terburu-buru. “Selain itu ada produk antara seperti Mixed Hydroxide Precipitate (MHP),
Mixed Sulphate Precipitate (MSP),
dan nickel sulphate. Seluruh proses ini masih berada pada upstream atau midstream industry.”

Saya kemudian masuk ke hilir. “Downstream industry dimulai ketika feronikel digunakan untuk produk akhir:
peralatan dapur, tableware, peralatan medis, hingga material interior dan eksterior bangunan. Feronikel dengan kualitas 2–15% Ni sudah memadai untuk kebutuhan tersebut.”

Saya tambahkan aspek strategis. “Namun jika feronikel di-upgrade menjadi nickel matte, atau presipitat diproses lebih lanjut, maka ia menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik (EV). Selain itu, nikel juga krusial bagi industri elektronik, misalnya kapasitor generasi baru yang menggunakan serbuk nikel ultrahalus. Ini bukan sekadar pengolahan bahan mentah,” saya simpulkan.
“Ini industrial engineering dan value creation.”

Budiman mengangguk, namun tetap bertahan pada perspektif regulasi. “Undang-undang hanya membedakan hulu dan hilir. Hulu dari bumi, hilir produk olahan.”

Saya tersenyum tipis. “Itulah problemnya. Undang-undang tersebut di created dengan mindset perdagangan, bukan visi industrialisasi jangka panjang.”

Tidak ada yang menyela. Beni kemudian mengarahkan diskusi ke inti transaksi. “Baik, B. Apa solusi konkret dari Anda?”

Saya menjawab lugas, tanpa berputar. “Saya punya rekan yang dapat menyediakan credit enhancement untuk keperluan beauty contest divestasi.”

“Syaratnya ada dua,” lanjut saya. “Pertama, settlement fee harus dibayar di muka sebagai premium atas credit enhancement tersebut. Besarnya setara dengan bunga internasional. LIBOR plus tiga persen.”

Saya berhenti sejenak, memastikan mereka menangkap maksudnya. “Kedua, exit strategy harus jelas, terukur, dan kredibel. Karena dalam struktur ini,” saya menambahkan dengan nada tenang,
“ penyedia credit enhancement tidak akan menanggung risiko default.. “

Mata saya menatap keras kepada mereka. “ Jika exit gagal dan credit enhancement sampai di-call oleh bank,” lanjut saya,
“ mereka tidak akan membiarkan diri mereka default. Mereka akan melakukan bail-out dengan melepas hak, baik opsi maupun kepemilikan kepada pihak ketiga.”

Saya menutup dengan satu kalimat pendek “Itu satu-satunya cara agar struktur ini tetap patuh regulasi, aman secara reputasi, dan dapat dipertanggungjawabkan di neraca.”

“ Artinya “ Kata Beni. “ Walau credit enhancement, tetapi skema nya tetap hutang konversi”

” Ya.” Jawab saya tegas.

Beni kemudian menjelaskan posisi mereka, suaranya tenang, nyaris yakin. “Kami sudah memperoleh line of credit dari konsorsium bank domestik. Namun bank hanya berfungsi sebagai channeling bank. Setelah financial closing, cash collateral akan disediakan oleh mitra kami di luar negeri. Dengan struktur ini, risiko default praktis tidak ada.”

Ia mengatakannya seperti seseorang yang telah mengulang argumen itu berkali-kali di hadapan bank, regulator, dan mungkin juga kepada dirinya sendiri. Secara skematik, penjelasan itu terdengar rapi. Kredit sudah tersedia, jaminan akan datang, dan bank hanya bertugas menyalurkan.

Saya tersenyum kecil. Bukan senyum mengejek, melainkan senyum orang yang tahu bahwa di dunia perbankan, urutan selalu lebih penting daripada niat.

“Masalahnya,” kata saya pelan,
“bank bukan lembaga pegadaian.”

Beni terdiam.

“Bank tidak memberi kredit hanya karena ada janji collateral,” lanjut saya.
“Bank memberi kredit karena proyek itu sendiri bankable.”

Saya menyandarkan tubuh sedikit, memilih kata dengan hati-hati.

“Dalam kerangka kepatuhan perbankan terutama pasca Basel III, bank harus patuh pada project compliance. Itu berarti setiap fasilitas kredit harus ditopang oleh dokumen underlying proyek yang lengkap, terverifikasi, dan dapat diuji.”

Saya menatap Beni. “Tanpa underlying documents—izin, struktur kepemilikan yang final, proyeksi arus kas, dan risiko teknis yang terpetakan—bank tidak bisa menganggap proyek itu layak dibiayai. Dan kalau proyeknya belum bankable, bank tidak punya dasar untuk mencairkan kredit.”

Saya berhenti sejenak, lalu menambahkan poin yang sering disalahpahami. “Justru mitra luar negeri kalian yang membutuhkan underlying proyek yang bankable,” kata saya.
“Tanpa itu, mereka pun tidak akan mengirim cash collateral. Bukan karena mereka tidak punya uang,” saya melanjutkan,
“tetapi karena uang mereka juga tunduk pada komite risiko, auditor, dan regulator di yurisdiksi mereka sendiri.”

Di titik itu, argumen Beni mulai kehilangan pijakan.
Struktur yang ia jelaskan mengandaikan satu hal keliru. Bahwa collateral bisa mendahului proyek. Padahal dalam sistem keuangan modern, proyeklah yang harus lebih dulu sah, baru uang mengikuti.

Saya menutup dengan satu kalimat sederhana “Collateral bukan pengganti bankability,” kata saya.
“Dan bankability tidak bisa dilompati dengan skema channeling.”

Ruangan kembali hening.

Saya mengangguk. Bukan setuju. Tetapi memaklumi keyakinan mereka. “Baik. Silakan kirimkan business plan lengkap kepada saya. Setelah itu, saya akan mengatur pertemuan Anda dengan sovereign wealth fund China.”

“Kapan pertemuan bisa dilakukan?” Kejarnya.

“Kirim email sekarang. Saya akan pastikan jadwalnya hari ini.” Kata saya tegas. Beni perintahkan staf nya untuk kirim file via email. Email itu langsung saya terima dan saya teruskan ke Lyly.

Tidak lama kemudian, telepon saya berdering. “B, saya bisa menerima mereka di Beijing,” kata Lyly.
“Namun tidak lewat minggu depan. Saya ada perjalanan bisnis ke London.”

Saya kembali ke meja. “Anda bisa bertemu mereka di Beijing minggu ini. Saya sarankan agenda dikirim langsung ke Miss Lyly.”

Saya menyerahkan detail kontaknya. Sejak pertemuan itu, Beni tidak lagi menghubungi saya.


***

Singapore — 2018.

“B, bisa ketemu?”
Suara Simon terdengar dari London melalui sambungan internasional. Nadanya tidak seperti biasa. “Ada apa?” tanya saya.

“Ini serius.” Katanya.

Saya diam sebentar.

“Di mana?” tanya saya.

“Singapore. Besok sore. Saya terbang hari ini.” Katanya.

Keesokan harinya kami bertemu di lounge executive hotel tempat dia nginap. Simon datang bersama Beni dan timnya. Wajah mereka tegang. Tidak ada basa-basi. “B,” kata Simon membuka pembicaraan.
“Beni default menyediakan exit.”

Saya mengangkat alis.

“Mitra mereka di Singapore tidak mau mengeluarkan cash collateral. “ Lanjut Simon. ” Alasannya klasik, dokumen divestasi tidak comply. Tanpa cash collateral, Bank otomatis menolak mencairkan pinjaman.”

“ Engga Comply ? Saya mengerutkan kening. “ Kalau engga lengkap kan tinggal minta kepada perusahaan tambang itu melengkapi. Kenapa pusing amat”  Lanjut saya.

“ Masalah, perusahaan tambang itu punya rencana ekspansi ke mining underground. Mitra nya kan investor institusi. Mereka punya standar ketat soal lingkungan. Mereka minta document divestasi itu tidak terkait dengan ekspansi tambang bawah tanah. Ya itu sulit. “  

Saya menyandarkan tubuh. “So?”

Beni langsung masuk. “ Client saya sedang berusaha bicara kepada penguasa untuk mengubah business plan tanpa underground mining. ” Katanya. ” Apa credit enhancement bisa diperpanjang?” Pintanya.

Saya tahu persis apa yang mereka minta itu sama saja melukis diatas awan. Persoalannya bukan kepada kekuasaan. Tetapi ini bisnis. PMA itu mau divestasi asalkan dapat izin tambang underground. Sementara pemerintah sudah terlanjur keluarkan izin divestasi, tentu sudah termasuk izin ekspansi.

“Kenapa tidak bicara langsung dengan SWF China?” tanya saya.

Beni tertawa kering. “Mereka menutup komunikasi. Bahkan mengirim lawyer untuk meminta kami melepas opsi saham divestasi. Kalau kami lepas, kami rugi waktu, biaya settlement, dan reputasi.” Jawabnya. “ Itu juga logis karena credit enhancement itu kalau di call, ya harus cair. Mereka jaga reputasi. Engga mungkin mereka mau dinyatakan default.” lanjutnya

“B, tolong.”
Nada Beni  turun. Hampir memohon.

Saya mengangguk pelan.

“Saya akan bicarakan dengan SWF China. Namun tidak janji” Kata saya. Bagi saya itu udah closed file. Setelah pertemuan itu, saya tidak pernah lagi bertemu dengan Simon dan Beni.

Singapore— 2022

Ruangan itu terlalu rapi untuk sebuah kebetulan.
Kursi ditata simetris. Air mineral belum disentuh. Pendingin ruangan disetel dingin. Tanda pertemuan akan lama dan tidak nyaman. Andri duduk santai, seperti tuan rumah yang tidak ingin terlihat sebagai pengatur.  Beni dan Simon ada di hadapan saya. Bagi saya Andri jadi soft power menekan saya. Wajah mereka bukan marah, tapi kelelahan. Kelelahan orang yang terlalu lama melawan sesuatu yang tidak bisa dilawan.

Begitu saya duduk, Beni menatap saya lurus. “Kamu memang predator.”

Saya tidak menjawab.
Di dunia seperti ini, kata predator sering dipakai oleh mereka yang baru sadar bahwa aturan main tidak memihak harapan.

Beni menarik napas panjang. “Waktu kami default lagi di 2019,” katanya,
“SWF China langsung menutup komunikasi. Mereka bilang opsi saham sudah dijual ke pihak ketiga. Alasannya sederhana. Mereka tidak bisa terus memperpanjang credit enhancement tanpa merusak reputasi. Mereka mengucapkannya seperti orang membaca keputusan komite. Tidak ada dendam, hanya penyesalan.”

Saya tetap diam.

Dalam kepala saya, kalimat itu punya arti yang sangat jelas.
Credit enhancement bukan janji moral. Sejak Basel III, ia dihitung setara kas. Setiap perpanjangan berarti menahan likuiditas nyata, masuk ke stress test, dan dicatat sebagai contingent exposure.
Satu kali default masih bisa dimaafkan.
Default kedua berarti menjadi risiko reputasi permanen.

Beni melanjutkan. “Cash-out datang dari pihak ketiga itu. Awalnya kami pikir ini penyelamatan.”

Ia tersenyum pahit. “Mereka menawarkan MCN. Mandatory Convertible Notes. Katanya lebih fleksibel, lebih ‘equity-like’.” Ia berhenti sebentar. “Syaratnya kami beri akses akuisisi pembangkit listrik dan konsesi batubara. Kami setuju walau caranya lebih ke hostile dan harga murah”

Ruangan hening.

Saya tahu persis apa yang terjadi.
MCN selalu terdengar ramah di awal. Kata convertible membuatnya tampak seperti kemitraan. Padahal di atas kertas, ia tetap utang dengan tanggal jatuh tempo. Jika proyek belum menghasilkan arus kas stabil—tidak ada DSCR yang bisa dipegang—MCN bukan jembatan, tapi pisau waktu.

“Dan saat jatuh tempo,” kata Beni lirih,
“MCN itu tetap mereka call.”

Ia tertawa pendek namun lebih kepada miris “Uang mereka, memang. Tapi setelah semua akses kami buka… rasanya seperti dipermainkan. Apalagi mereka dapat asset Pembangkit listrik dan konsesi tambang dengan harga murah. Itu kan karena lobi politik kami. “ Lanjutnya.

Saya melihat Simon. Ia menunduk. “ Pihak ketiga itu bukan datang sebagai mitra industri. Mereka datang sebagai pemegang opsi. Mereka membeli hak untuk keluar di saat paling menguntungkan, bukan untuk tinggal.

Saya tersenyum tipis. “Mari jujur,” kata saya.
“Kalau kalian tidak default, cerita ini tidak pernah ada.”

Beni ingin membalas, tapi tidak jadi.

Simon masuk, suaranya lebih tenang. “Kamu punya pengaruh. Setidaknya bantu lunakkan sikap pihak ketiga.”

Saya memandang mereka satu per satu. “Tidak bisa,” jawab saya pelan.
“Sejak bertemu SWF China, kalian berjalan sendiri. Saya tidak pernah lagi dilibatkan. Dan saya tidak pernah mengambil apa pun dari transaksi ini.”

Mereka diam.

Yang tidak mereka katakan—tapi saya tahu—adalah bagian yang paling teknis. Bank-bank internasional sudah menutup pintu jauh sebelum default kedua terjadi. Ekspansi tambang bawah tanah di Indonesia tidak pernah benar-benar bankable.
Bukan karena manajemennya buruk, tapi karena risikonya tidak bisa diasuransikan secara penuh.
Geologi muda, tekanan air tinggi, seismik aktif—semua itu masuk kategori unmitigable physical risk.

Dalam kerangka ESG dan Basel III, aset seperti itu tidak eligible sebagai collateral.
Mitra di Singapore boleh saja punya uang, tapi uang itu tidak bisa di-recognize bank sebagai penyangga risiko. Karena itu cash collateral tidak pernah keluar.
Bukan soal niat. Soal aturan.

“Tidak ada payung?” tanya Beni hampir berbisik.

Saya menyandarkan kepala sebentar. “Akan saya pikirkan,” kata saya.
“Tapi jangan berharap.”

Saya berdiri dan pamit undur diri.

***

Tahun 2024

Simon menemui saya di Singapore.
Saya didampingi Wenny. Kami bertemu di sebuah tempat netral—tidak terlalu mewah, tidak terlalu terbuka. Saat ia datang, saya bisa melihat kemarahan yang ia bawa. Namun, seperti banker City pada umumnya, emosinya terbungkus disiplin. Wajahnya tegang, tapi suaranya tetap terkendali. Saya tersenyum ringan. Tidak defensif. Tidak juga menantang.

“Saya sudah menginvestigasi pihak ketiga yang mem bailout credit enhancement itu “ katanya tanpa basa-basi.
Ia membuka sebuah berkas digital dan mendorong tablet ke arah saya.
“Ale Capital terdaftar di Zurich. Pemegang sahamnya adalah asset management company yang berbasis di Budapest.”


Ia menggeser layar, menunjuk beberapa nama.
“Para pengurusnya semuanya proxy. Tidak ada beneficial owner yang muncul di permukaan.”

Saya melirik sekilas. Informasi yang rapi. Formal. Persis seperti yang seharusnya. Simon terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tajam. “Semua kontak saya mengatakan satu hal yang sama,” katanya.
“Ale Capital terhubung dengan satu nama.” Ia menatap saya lurus. Matanya menyala. “Nama itu kamu.”

Saya tetap tersenyum.
Bukan senyum meremehkan, melainkan senyum orang yang paham satu hal sederhana. 
Di dunia keuangan internasional, struktur hukum selalu lebih penting daripada asumsi personal. Saya tidak menjawab. Tidak ada gunanya menanggapi kemarahan yang dibangun di atas rumor, betapapun rapinya rumor itu dikemas sebagai intel.

Simon menarik napas, lalu melanjutkan—kali ini dengan nada yang lebih datar, hampir faktual. “Setelah Ale Capital menguasai saham holding klien saya di Singapore,” katanya,
“mereka melakukan transfer of rights ke Yuan Capital di London.”


Ia berhenti sejenak.
“Setahun kemudian saya mendapat kabar. Saham holding itu dijual ke tiga sovereign wealth fund.”
Ia menatap saya lagi.
“Dengan harga hampir tiga kali lipat dari harga masuk.”

Kata-kata itu menggantung sebentar di udara.
Bukan sebagai tuduhan, melainkan sebagai pengakuan bahwa permainan sudah selesai, dan ia baru memahami hasil akhirnya.

Saya menyesap air mineral saya, lalu bertanya dengan nada biasa, seolah sedang menutup percakapan ringan. “Apakah kamu sudah selesai?”

Simon mengangguk pelan.


“Kalau begitu saya pamit,” kata saya sambil berdiri.
“See you.”

Saya berjalan pergi tanpa menoleh. Wenny rangkul lengan saya.

Di dunia ini, saya tahu,
banyak orang sibuk mencari siapa di balik sebuah struktur.
Padahal yang menentukan bukan siapa,
melainkan apakah struktur itu sah, bersih, dan bisa berdiri sendiri tanpa perlu dibela oleh siapa pun. Dan ketika sebuah transaksi sudah selesai dengan sempurna,
tidak ada klarifikasi yang lebih kuat
selain diam dan hasil akhir di neraca.

Wenny menghela napas “ Team shadow Ale Capital memang hebat dan first class team. Bisa sehebat itu. Mampu memetakan transaksi dengan presisi dan melewati rentang waktu 5 tahun. Itu tidak mudah. Butuh kesabaran prima” kata Wenny.

Saya senyum aja.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca