
Lim, relasi saya di China menawarkan peluang bisnis. “ Enam cargo crude milik perusahaan minyak venezuela PDVSA dihentikan oleh otoritas AS. Dianggap melanggar sanksi dagang terhadap Iran.” Kata Lim.
“ Memang benar itu cargo ke Iran? tanya saya.
“ Ya benar. Tapi yang dilarang kan kan transfer uang. Pengapalan tidak bisa dilarang. “ Kata Lim.
“ Sanksi AS cenderung dirancang untuk mencakup lapisan finansial, logistik, dan legal secara holistik, bukan sekadar tentang pembayaran tunai atau fisik. Artinya, pembayaran melalui barter semata tidak otomatis menjamin bebas sanksi. “ Jawab saya.
“ Tapi ya mau gimana lagi. Itu suka sukanya Amerika. Dia punya kuasa dan kekuantan. Kemarahan dan protes dari Hugo Chavez tidak dianggap AS. “ Kata Lim.
“ So?
“ Saya bingung. “ Kata Lim. “ Apa mungkin kita lakukan skema counter trade? Tanyanya.
“ How?
“ Saya akan atur melalui agent di London. Mereka punya cara untuk koneksi ke pelabuhan hub trading oil seperti Singapore atau Hong kong. Saya akan bayar dalam bentuk produk yang diperlukan venezuela seperti alat kesehatan dan obat obatan atau makanan atau apalah. “ Jelas Lim
“ Gimana settlement transaksinya? Tanya saya.
“ Trader Iran yang terdaftar di UEA akan teken kontrak dengan seller crude di Venezuela. Trader di UEA itu membayar transaksi pembelian produk dengan perusahaan yang terdaftar di Xinjiang, China. Kemudian produk itu dikapalkan ke Venezuela melalui pelabuhan Hong Kong sebagai pembayaran Crude.” Kata Lim.
“ Cara itu bisa saja. Tetapi beresiko. Pasti ketahuan sama AS.” Kata Saya.
“ So solusi dari kamu gimana ? tanya Lim.
“ Lakukan dengan system shadow fleet.” Kata saya.
Lim mengangguk. Di dunia energi global, istilah itu bukan rumor, melainkan fenomena struktural.
“ Perhatikan.” Lanjut saya. “ Jika counter-trade bertumpu pada pertukaran barang untuk menghindari sistem pembayaran, maka shadow fleet bekerja di lapisan yang berbeda sama sekali. Lapisan logistik dan pelayaran. Fokusnya bukan pada settlement, melainkan pemisahan jejak kepemilikan, asal muatan, dan tanggung jawab hukum. Nilai tidak disembunyikan lewat barang, tetapi lewat kapal. “
Lim menyimak dan keliatan dia tertari. “ Jelaskan teknis nya? pinta nya.
“ Shadow fleet terdiri dari kapal tanker tua atau berumur menengah yang dimiliki oleh perusahaan cangkang (special purpose entities). Berbendera negara dengan pengawasan longgar (flags of convenience) dan tidak berafiliasi dengan operator besar Barat. “
“ Untuk apa ?
“ Ya, tujuannya sederhana. Yaitu memutus keterkaitan langsung dengan yurisdiksi AS dan sekutunya.
“ Kan setiap kapal niaga membawa AIS (Automatic Identification System). Gimana menghidarinya?
“ AIS dimatikan sementara (dark activity), data lokasi dimanipulasi atau terputus, rute tampak hilang di laut terbuka. Secara teknis, ini tidak menghentikan kapal berlayar—tetapi mengaburkan bukti pergerakan.” Kata saya.
“ Terus”
“ Di area laut lepas dengan pengawasan rendah. Minyak dipindahkan dari tanker asal ke tanker lain. Itu istilah Ship to Ships. Muatan berubah identitas administrative, dokumen asal bisa diganti atau diputihkan, minyak tampil seolah berasal dari sumber berbeda. Secara fisik minyaknya sama, secara legal identitasnya berubah. “ Jelas saya. “ Dengan STS, Pemilik kapal bukan pemilik muatan. Pemilik muatan bukan pembeli akhir. Asuransi bukan perusahaan Barat utama. Struktur ini menciptakan kabut tanggung jawab hukum (liability fog). Jika satu simpul terkena sanksi, simpul lain tetap berjalan.
“ Kan Asuransi Barat dan AS menolak. ” Lim bekerut kening. ” Terus gimana bisa ada kapal angkut cargo bila tanpa asuransi ? Tanya Lim.
“ Ya self-insurance. Negara lain kan bisa. Banyak negara offshore yang punya yurisdiksi abu-abu.Kita bisa pakai stemple dia. “
“ Ya tapi itu beresiko. “ kata lim
“ Resiko ya. Tetapi untung kan 300%. Ya setimpal lah. High risk high gain “ Kata saya tersenyum.
“ Kamu yakin system ini efektif ?
“ Karena sanksi modern tidak bisa menghentikan fisika laut. Amerika Serikat dan sekutunya menguasai sistem keuangan, menguasai asuransi global, menguasai kepatuhan korporasi. Tetapi mereka tidak menguasai seluruh samudra. Shadow fleet memindahkan konflik dari ruang finansial ke ruang maritim. “ Jawab saya santai. “ Kalau tidak ketahuan ya efektif. Makanya tergantung team kita. Bisa engga jaga rahasia.” Kata saya tersenyum.
Jika counter-trade adalah taktik ekonomi, maka shadow fleet adalah arsitektur konflik global. Bukan perang terbuka. Bukan barter tradisional. Melainkan perang senyap atas jalur laut, dokumen, dan identitas komoditas. Dalam dunia seperti ini, minyak tetap mengalir. Yang berubah hanyalah siapa yang berani terlihat, dan siapa yang memilih berlayar dalam bayangan.
**
Tahun 2014, sebuah email masuk ke kotak pesan saya. Pengirimnya: Aliana.
My dear,
Aku berharap kamu baik-baik saja. Aku merindukan kebersamaan kita beberapa tahun lalu. Masih ingatkah kamu malam-malam panjang di Caracas, Las Mercedes—kota yang dulu tak pernah tidur? Kita makan larut malam, menonton film tanpa rencana, berpindah dari bar ke bar, lalu berakhir di night club hingga pagi hampir menyentuh. Kita tertawa, terutama menertawakan pria-pria China yang gagal menggoda perempuan Latin dengan pinggul besar dan tawa yang percaya diri. Kau bercanda waktu itu: “Sepertinya sosialisme tidak terlalu applicable dalam urusan asmara.” Aku tertawa. Kini aku mengerti betapa pahitnya ironi itu.
Caracas hari ini bukan kota yang sama. Kehidupan malam telah runtuh pelan-pelan, lalu menghilang. Setelah pukul delapan malam, jalan-jalan sepi, seolah jam malam tak tertulis berlaku. Rasa takut menyusup tanpa suara. Kota ini kini mencatatkan diri sebagai salah satu kota dengan tingkat pembunuhan tertinggi di dunia.
Malam menjadi gelap bukan hanya oleh kejahatan, tetapi oleh listrik yang dijatah, hidup kami bergantung pada jadwal padam. Wajah-wajah murung berbaris di depan apotek, menunggu jatah obat yang entah datang entah tidak. Di depan swalayan, para pegawai melayani dengan malas, bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena stok memang tak ada. Harga melambung tujuh kali lipat. Hidup sehari-hari penuh kewaspadaan, curiga, dan kelelahan. Caracas tidak lagi menawarkan kesenangan dengan banyak pilihan. Semua terasa sempit. Semua terasa dikontrol. Semua terasa salah urus.
Kau ingat La Quinta Bar? Tempat kita mendengarkan salsa live, menari tanpa peduli esok. Kini ia hanya buka tiga hari seminggu. Pengunjungnya nyaris tak ada, kecuali segelintir orang China yang masih datang, mungkin karena rindu bayangan masa lalu, atau sekadar rindu perempuan Latin yang kini lebih sibuk bertahan hidup daripada tersenyum.
Kami merindukan semua yang hilang itu. Dan jujur saja, dulu kami tak pernah benar-benar menyangka akan berakhir seperti ini. Padahal sebetulnya semua sudah bisa ditebak. Mana mungkin kemakmuran diserahkan sepenuhnya pada negara yang menguasai segalanya? Aku ingat betul ucapannmu dulu. Kau bilang, “Kemakmuran hanya bisa lahir dari kemandirian rakyat. Negara tidak boleh mematikan pasar hanya demi mengendalikan harga.” Kau menyebutnya paradoks. Sekali harga dikendalikan, kompetisi mati; sekali kompetisi mati, kreativitas hilang; dan ketika kreativitas hilang, sebuah bangsa mulai melemah dari dalam.
Benar adanya. Ketika Hugo Chávez terpilih kembali pada 2006, negara mengambil alih segalanya. Dari Peternakan, supermarket, bank, telekomunikasi, listrik, minyak, manufaktur, bahkan pabrik botol, baja, semen, kopi, yoghurt, deterjen, hingga kaca. Negara hadir di setiap sudut kehidupan ekonomi. Dan di hampir semua sektor itu, produktivitas jatuh tanpa suara, seperti tubuh yang kehilangan darah sedikit demi sedikit.
Kami diberkahi cadangan migas terbesar di dunia, dan di situlah kutukannya. Migas memanjakan kami. Membuat segalanya tampak mudah. Pajak tak penting. Produktivitas tak mendesak. Negara seolah selalu punya uang untuk menenangkan rakyat. Sosialisme memberi ruang bagi elite untuk mengambil banyak dan memberi sedikit, sambil menyanyikan lagu populisme. Bahwa semua akan ditanggung negara. Kami terlena oleh jargon palsu—bahwa orang boleh bekerja apa adanya, bahwa upah minimum cukup untuk hidup nyaman, bahwa pesta akan selalu ada setiap malam.
Lalu harga minyak jatuh. Dan kami kelaparan di lumbung sendiri. Negara yang telah menasionalisasi perusahaan asing tak lagi mampu mencetak laba. Rakyat yang tak pernah dilatih mandiri menunggu bantuan yang tak datang. Utang digali demi mempercepat kemakmuran. Yang terjadi justru gagal bayar. Kepercayaan keuangan internasional runtuh. Kami mundur ke abad lampau. Mencetak uang, menjual emas cadangan. Nilai mata uang jatuh hingga 98 persen. Inflasi menembus 700 persen. Masa depan seperti tirai yang ditutup perlahan.
Ada satu pelajaran pahit yang kini terasa jelas. Bergantung pada impor adalah bunuh diri yang ditunda. Untuk tujuan sosial, pasar jauh lebih efektif daripada tekanan. Mematok harga pangan bukan solusi. Yang lebih penting adalah membiarkan harga bekerja—mendorong produktivitas, daya saing, dan martabat rakyat.
Kini aku menulis ini dari apartemen kecil, sendirian, dengan listrik yang dijatah. Aku merindukan kita. Aku teringat pagi itu di sebuah kota kecil di China, saat kita melihat seorang ibu menggendong bayinya di punggung, mendorong gerobak dagangan di tengah musim dingin. Ia lelah, tapi wajahnya penuh harapan. Kau berkata, “Itu sosialisme yang dikoreksi oleh budaya China—kemandirian rakyat, pasar yang hidup, dan negara yang menjaga keadilan berkompetisi.” China belajar dari kegagalan Revolusi Kebudayaan. Ya saat negara menjamin segalanya dan menguasai semua sumber daya. Puluhan juta mati kelaparan. Pelajarannya mahal. Tapi elite mereka berdamai dengan perubahan. Mereka berani mengoreksi ideologi.
Di sini tidak demikian, my dear. Saat krisis datang, para elite sibuk menyalahkan pihak luar. Politik paranoid. Kami sibuk melihat keluar. Tapi lupa melihat kedalam. Sementara akademis yang jujur dan idealis dipunggungi. Setiap protes mereka ditanggapi dengan sanggahan dari akademis pendukung pemerintah. Para akademisi yang idealis dianggap ancaman revolusioner sosialis. Di cap kaum liberalis
Oposisi tidak dianggap sebagai penyeimbang. Malah dituduh antek asing dan kaum liberalis. Mereka dikriminalisasi dan diasingkan. Media massa dilarang meliput dan memberitakan tentang mereka. Chaos terjadi. Wajah-wajah marah merusak took. Pemernitah tuduh semua itu ulah provokasi oposisi. Padalah itu gerakan spontan rakyat yang lelah dan miskin harapan. Kami senyatanya bangsa yang cinta damai. Engga mau ribut.
Kami percaya saja tentang sosialisme, sumber daya alam, kemakmuran tanpa pajak, pesta setiap malam dengan musik dan tarian. Sayang sekali, banyak yang tak menyadari satu hal sederhana, pesta itu sudah usai. Ke depan, tidak akan ada lagi kemakmuran yang datang begitu saja dari migas. Yang tersisa hanyalah pilihan, belajar berdiri sendiri, atau terus menunggu sambil perlahan runtuh.
Aku merindukanmu. Dan aku merindukan Caracas yang pernah kita kenal— sebelum kota ini tenggelam dalam gelap, bukan hanya karena listrik, tetapi karena kehilangan arah. “Aliana”
***
“Keadaan Caracas semakin tidak menentu,” kata William, direktur holding, suaranya terdengar berat di ujung telepon. “Gelombang protes terus meluas. Apa yang harus kita lakukan dengan staf lokal di sana?”
Saya diam sejenak. “Ada berapa staf lokal yang tersisa?” tanya saya.
“Tinggal dua orang. Lima staf asing sudah kita terbangkan keluar.” Jawabnya.
“Baik,” jawab saya pelan. “Sambungkan saya dengan Ramon di Panama.”
Tak lama kemudian, sekretaris memberi isyarat. Sambungan masuk.
“Ramon,” kata saya tanpa basa-basi, “tugas kamu evakuasi semua staf lokal di Caracas ke Panama. Tim dari New York akan mengatur relokasi mereka ke negara lain.”
“Termasuk keluarga?” tanya Ramon.
“Ya. Termasuk keluarga.”
“Siap, Pak. Akan segera saya laksanakan.”
Sebulan kemudian, kabar dari Panama datang. Satu orang menolak dievakuasi. Aliana. Ia masih bertahan di Caracas—bertugas sebagai penghubung dengan pemerintah dan perusahaan lokal. Saya tahu, ini bukan sekadar soal pekerjaan. Ini soal keyakinan.
Saya memutuskan terbang sendiri. ” Mengapa kamu ambil resiko, B? ” Kata William ” Di sana tidak aman sekarang”. katanya.
Saya menghela napas. ” William,” seru saya seraya menatapnya lurus. ” Aliana saya rekrut dari asrama yatim piatu. Dia cerdas walau tidak pernah masuk universitas. Otodidak yang hebat. Maklum dia besar di Asrama. Pengurus Asrama titip pesan agar saya menjaganya. Sampai kini dia belum bersuami. Engga ada yang jaga dia. Kalau saya berdiam diri. Saya salah. Tidak amanah.” Lanjut saya. William bisa maklum dan mengatur keberangkatan saya ke Caracas lewat Panama. Ramon akan mendampingi saya dari Panama.
***
Mengunjungi Venezuela saat itu bukan perkara mudah. Maskapai satu per satu menghentikan penerbangan. Jalur Panama City adalah satu-satunya pilihan yang masih masuk akal. Kami memilih penerbangan pagi agar tiba sebelum malam.
“Di sana tidak aman,” kata Ramon di pesawat. “Mereka terjebak budaya petrostat.”
“Apa itu petrostat?” tanya saya.
Ramon menarik napas. “Istilah informal. Negara yang hidup dari minyak. Pendapatan pemerintah bergantung hampir sepenuhnya pada migas. Kekuasaan ekonomi dan politik terkonsentrasi pada segelintir elite. Institusi lemah, korupsi merajalela.”
Saya mengangguk. Pikiran saya melayang—seperti bercermin ke negeri saya.
“Sejak minyak ditemukan tahun 1920-an,” lanjut Ramon, “Venezuela hidup dalam siklus boom and bust. Ini pelajaran mahal bagi negara kaya sumber daya. Pemerintahan yang buruk selama puluhan tahun menyeret negara yang dulu paling makmur di Amerika Latin menuju kehancuran ekonomi dan politik.” Ia menatap jendela pesawat. “Padahal solusinya sederhana. Pendapatan migas harus diubah menjadi investasi produktif—riset, teknologi, industri kreatif. Asal tidak terlena dan konsisten, Venezuela seharusnya bisa jadi negara besar.” Lanjutnya.
Pesawat mendarat di Simón Bolívar International Airport. Aliana sudah menunggu. Ia tersenyum, dan memeluk saya “Selamat datang di Caracas, Pak.” Bisiknya. “ Saya tak yakin kamu sendiri yang akan datang. Terimakasih. Betapa besar perhatian kamu kepadaku” Airmatanya berlinang.
“ Aliana, seru saya. ” kamu bukan hanya staff saya, tapi juga sahabat saya. Kamu membantu saya banyak dalam bisnis di sini. Semua network di pemerintahan kamu yang punya. Dan itu kamu lakukan dengan kesetiaan yang tinggi. “ Kata saya seraya mengusap punggungnya dengan lembut.
***
Aliana menyetir sendiri kendaraan menuju Hotel. Jalanan lengang. “Keadaan tidak menentu,” katanya. “Kejahatan meningkat. Penculikan dan perkosaan terjadi hampir setiap hari.”
Mobil melaju melewati kota yang terasa asing. “Para demonstran memprotes pemerintah yang gagal mengelola ekonomi,” lanjutnya. “Tapi dihadapi dengan represif. Pemerintahan Maduro semakin otoriter. Tentara menembaki kerumunan, menahan pengunjuk rasa, menyerang jurnalis.”
Caracas adalah megacity dengan jejak kejayaan. Tahun 70–80-an, kota ini simbol kemakmuran Amerika Selatan. Pencakar langit masih berdiri, tetapi perbukitan di sekitarnya bercerita lain. Barrios—rumah-rumah reyot bertumpuk, hidup tanpa kepastian. Kelaparan, kejahatan, pemadaman listrik, kekerasan—semua menjadi normal. Petare, di perbukitan yang kami lewati, berdiri sebagai simbol hipokrisi terbesar kota ini.
Hotel kami sunyi. Hanya dua tamu lain. Bar dan restoran tutup. Saya minta kopi. “Tidak ada,” kata Aliana lirih. “Listrik padam. Tapi saya tahu café kecil. Ada kopi, kue, dan Wi-Fi.”
Saya mangangguk untuk pergi ke café yang dimaksud.
Saya teguk kopi itu. Rasanya anehnya tapi enak. “Kenapa potensi agro tidak dikembangkan?” tanya saya. “Iklim kalian bersahabat sepanjang tahun.”
Ramon tersenyum pahit. “Untuk apa bertani? Cadangan minyak Venezuela melampaui Arab Saudi. Penjualan minyak menyumbang 99% ekspor dan seperempat PDB. Rakyat pernah menerima pembagian tunai. Untuk apa repot?”
Aliana menyela, suaranya meninggi. “Semua ini karena Amerika tidak mau menerima sosialisme kami dan kemitraan dengan Iran.”
“Tahun 2011,” lanjutnya, “AS menjatuhkan sanksi. Melarang penjualan minyak, membatasi aktivitas anak usaha seperti CITGO. Bank dilarang memberi kredit ekspor. Padahal 45% pasar kami adalah AS.”
“Masalahnya bukan Iran,” kata Ramon tenang. “Masalahnya Chávez menasionalisasi ExxonMobil dan ConocoPhillips tahun 2007. Itu fatal mistake.”
Aliana menatap tajam. “Salah di mana? Itu hak kami. Kami hanya minta pembagian hasil lebih adil. Tapi kolonialisme tidak pernah benar-benar pergi. Mereka pakai soft power. Apakah itu adil secara HAM?”
Ia menarik napas panjang. “Setelah sanksi, global bond kami jatuh. Tidak bisa didaur ulang. Minyak tak bisa dijual. Mitra ikut disanksi. Devisa habis. Impor lumpuh. Cetak uang? Tidak ada bank mau terima LC kami. Inflasi menggila. Nilai mata uang jatuh 98%. Kertas uang lebih mahal dari nilainya.”
Saya hanya diam saja. Kami makan siang di Plaza Altamira. Pisang raja, ayam, nasi, kacang, jus segar. Enak. Bill lima dolar. Sorenya saya kembali membujuknya pergi. “Aliana, kamu bisa keluar dulu,” kata saya pelan. “Kembali nanti. Atau menetap di luar. Untuk sementara.”
Ia menggeleng perlahan. “Maaf, B. Saya tidak akan meninggalkan negeri saya,” katanya lirih. “Sosialisme tidak salah.”

Saya menarik napas. Kali ini saya tidak ingin berdebat sebagai analis, apalagi sebagai orang luar. “Dengar, Aliana,” kata saya tenang. “Saya tidak mengerti politik seperti kalian yang hidup di dalamnya. Dengarkan saya bicara sebagai sahabat.”
Ia mengangguk.
“Sosialisme tidak salah,” lanjut saya. “Itu ideologi yang juga diterapkan banyak negara—Indonesia, China, Iran, tentu dengan bentuk dan bingkai yang berbeda. Yang salah bukan ideologinya.”
Saya menatapnya dengan hati-hati, seperti orang yang sedang berjalan di atas kaca. “Yang salah adalah institusinya. Institusi yang lemah dan tidak kredibel. Hukum tidak ditegakkan. Keadilan tidak berlaku equal before the law. Anggaran tidak transparan. Ekonomi dan moneter dikelola tanpa disiplin dan tanpa akal sehat. Demokrasi hanya hidup di level prosedural—pemilu ada, parlemen ada—tetapi dalam praktiknya penuh cacat.”
Ramon mengangguk pelan di samping saya.
“KPU dan pengawas pemilu memihak. Tidak independen. Tentara dan polisi berubah menjadi alat kekuasaan—bukan penjaga republik, melainkan penjaga rezim. Oposisi dibungkam, bukan dilawan dengan gagasan. Ini bukan soal kiri atau kanan, bukan soal sosialisme atau kapitalisme. Ini soal mental kekuasaan.”Kata saya.
Saya berhenti sejenak.
“Institusi hanya bisa kuat jika elitnya bermoral. Dari sanalah dignity lahir. Dan jika sebuah negara punya dignity dari dalam, tekanan dari luar—sanksi, embargo, propaganda—tidak akan mudah menggoyahkan.”
Saya menatapnya lembut. “Kamu bisa lihat itu pada Iran. Pada Korea Utara. Mereka bertahan bukan karena sistemnya sempurna, tapi karena elite dan negara—dalam batas tertentu—masih punya kohesi. Nasionalisme hanya punya nilai jika pemerintah mengelolanya dengan hikmat dan bijaksana.”
Saya menghela napas. “Karena itu, tanggung jawab nasionalisme ada di pundak penguasa dan elite. Bukan di pundak rakyat kecil. Jadi jangan salahkan rakyat jika mereka memilih pergi. Itu bukan pengkhianatan. Itu survival.”
Malam turun perlahan, seperti tirai berat yang ditarik tanpa suara.
Aliana berbicara lagi, suaranya hampir tenggelam. “Kami memang berada di tengah keruntuhan kemanusiaan. Penyebabnya jelas: embargo finansial. Tidak ada uang belanja negara. Tidak ada valas untuk impor. Tapi solusinya bukan campur tangan yang berlebihan. Biarkan kami berdamai dengan diri kami sendiri.”
Saya mengangguk. “Harus ada konsolidasi nasional,” jawab saya. “Kesepakatan hidup bersama. Pemilu yang benar-benar bebas dan adil. Institusi demokrasi yang cerdas, bukan hanya kuat.”
Saya menambahkan pelan, hampir seperti doa: “Dan bangsa kalian sedang berjalan melewati takdirnya sendiri. Itu tidak mudah. Apalagi ketika dominasi elite begitu besar dan status quo dipertahankan dengan segala cara.”
Aliana tersenyum—senyum yang tidak berhasil menyembunyikan kesedihan.
Keesokan paginya, saya kembali ke Hong Kong. Aliana mengantar saya ke bandara. “Jaga diri kamu baik-baik, ya… sayang,” kata saya saat berpisah. Ia mengangguk dengan airmata berlinang.
Seminggu kemudian, kabar datang dari Ramon. Aliana akhirnya bersedia pergi. Saya menggunakan semua sumber daya yang saya miliki agar ia bisa tinggal di Amerika Serikat. Kini ia menetap di New York—bekerja sebagai staf international trade di AMG–NY, unit bisnis SIDC bidang Investment & Trade. Ia tidak meninggalkan negerinya karena menyerah. Ia pergi karena memahami satu hal yang paling sulit diterima oleh seorang idealis. Kadang, untuk tetap hidup—dan tetap berguna— seseorang harus menjauh terlebih dahulu dari tanah yang paling ia cintai.
**
Tahun 2024 Aliana mengirim Email.
B, New York tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya berganti wajah. Dari jendela apartemenku, lampu-lampu gedung menyala seperti bintang buatan—dingin, teratur, dan tak peduli siapa yang lelah. Di sini listrik tidak pernah padam. Air mengalir tanpa antrian. Apotek buka dua puluh empat jam. Tidak ada rasa takut ketika jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Dan justru itulah yang paling menyakitkan. Aku sering bertanya pada diriku sendiri: Apakah kenyamanan ini harga dari pengkhianatan?
Di Caracas, aku hidup dalam kekurangan—tetapi setiap hari terasa bermakna. Di New York, hidup terasa aman—namun sunyi. Di sana, aku berdiri di antara bangsaku yang marah dan lapar. Di sini, aku berdiri di antara gedung-gedung yang tidak mengenalku, tidak membutuhkan keyakinanku, tidak peduli pada masa laluku.
Kadang aku terbangun di tengah malam, mencari suara kota yang dulu kukenal: klakson yang kasar, teriakan demonstran, langkah tentara di kejauhan. Yang kutemukan hanya dengung AC dan sirene ambulans—teratur, profesional, tanpa emosi. Aku ingat kata-katamu, B. Bahwa pergi bukan berarti menyerah. Bahwa bertahan hidup juga bentuk tanggung jawab.
Namun nasionalisme tidak pernah sederhana. Aku mencintai negeriku, tetapi negeriku tidak mencintaiku kembali. Ia diperas oleh elite yang berbicara atas nama rakyat, tetapi hidup jauh dari penderitaan rakyat. Mereka menyebutnya perjuangan ideologi. Aku menyebutnya ketakutan kehilangan kekuasaan. Aku masih percaya sosialisme tidak salah. Yang salah adalah manusia yang memegangnya tanpa hikmah.
Di New York, aku bekerja di meja rapi, membaca kontrak, menganalisis arus perdagangan global—semua yang dulu kutuduh sebagai wajah kapitalisme dingin. Ironisnya, di sinilah aku belajar satu hal. Sistem bisa keras, tetapi institusi yang adil membuat kerasnya menjadi bisa diterima. Di Venezuela, sistem mungkin berniat baik, tetapi institusinya runtuh. Di sini, sistem bisa kejam, tetapi institusinya bekerja. Itu perbedaan yang tidak pernah diajarkan di kampus.
Aku tidak lari dari bangsaku. Aku membawa bangsaku ke dalam diriku. Setiap kali melihat dolar berpindah tangan, aku teringat bolívar yang menjadi kertas tak bernilai. Setiap kali melihat rak supermarket penuh, aku teringat antrian panjang di Caracas—wajah-wajah tua yang berharap obat yang tak datang. Setiap kali mendengar orang mencaci imigran, aku ingin berteriak, kami bukan datang karena serakah, kami datang karena sistem kami runtuh.
Aku tahu suatu hari aku harus kembali. Bukan sebagai simbol. Bukan sebagai pahlawan. Tapi sebagai seseorang yang telah belajar—bahwa ideologi tanpa institusi adalah puisi tanpa tanah, dan nasionalisme tanpa keadilan hanyalah slogan yang digantung di dinding kekuasaan.
New York mengajariku bertahan. Caracas mengajariku mengapa aku harus kembali. Dan di antara dua kota itu, aku belajar satu hal paling pahit, bahwa mencintai sebuah negara kadang berarti berani menjauhinya— agar suatu hari, jika waktu mengizinkan, aku bisa pulang dengan kepala tegak dan akal tetap sehat.
Salam Aliana.

Tinggalkan komentar