
Saya bertemu dengan Mey di Apartement nya di Kawasan Lippo Karawaci. Ini pertemuan setelah tahun 2018 di Beijing. Dia tetap sehat diusianya 62 tahun. Kegiatan hari harinya membaca dan mengajar piano untuk anak anak. Dia sempat terkejut ketika saya datang. “ Kenapa engga beritahu kalau mau datang.” katanya.
“ Emang kenapa? Ada teman pria kamu di sini? Kata saya mengerutkan kening.
Dia tabok punggung saya dengan lembut. “ Ale, mana ada lagi pria yang tertarik dengan nenek nenek.” Katanya.
“ Saya hanya ingin tetap menghormati privasi kamu, Mey “ Kata saya cepat.” Lain kali saya akan telp sebelum datang.” Lanjut saya.
“ Mana ada privasiku. Aku engga punya suami dan engga punya anak. Dan lagi apartement ini yang beliin Awi. ” Katanya tersenyum. “ Maksudku, kalau kamu telp, aku akan siap siap. Ganti baju yang rapi engga hanya pakai daster seperti sekarang ini. Dan masak yang enak kesukaan kamu.” Lanjutnya dengan menyandarkan tubuh ke bahu saya.
Kami duduk di sofa. “ Ale, kenapa China dan Norwegia itu bisa jadi negara hebat. ” Tanyanya setelah menghidangkan kopi dan duduk disebelah saya.
“ Karena dua negara itu, tumbuh lewat belajar dan berubah. “ kata saya.
“ Maksudnya ?
“ Hidup ini Mey, “Kataku ” tidak ada jalan yang sempurna. Tidak ada yang too good to be true. Kita hanya diberi pilihan diantara banyak cara. Setiap pilihan selalu ada resiko. Masalahnya adalah apakah kita menghindari resiko atau melewatinya. Menghindari, pasti paradox. Melewati itu pasti berproses. Disetiap kegagalan kita itu bukan jatuh tapi naik kelas. Begitu cara berproses menuju transformasi. Begitu hukum sunnatullah. ”
“ Ya Ale “ Kata Mey.” Seperti jalan hidupmu dan jalan hidupku. Kamu yang berani melewati resiko dan menerima kegagalan demi kegagalan. Namun dari setiap kegagalan itu kamu sebenarnya sedang bertransformasi. Akhirnya sampai ke tujuan. Sementara aku, menghindari resiko, menolak kegagalan. Selalu mencari cara too good to be true. Akhirnya tidak bergerak kemana mana. Malah akhirnya terpuruk ” Mey berlinang airmata.
Hening.
“ Lanjut ceritakan. Bagaimana China dan Norwegia itu berproses sehingga jadi seperti sekarang.” Kata Mey kembali tersenyum.
“Apa yang kamu tahu tentang dua negara itu, sehingga kamu bertanya? Kata saya.
“ Aku baca buku tulisan Barry Naughton tentang The Chinese Economy: Transitions and Growth. Dan The Search for Modern China oleh Jonathan D. Spence” Kata Mey seraya berdiri dan ambil buku di rak buku yang ada di ruang tengah. Dia perlihiatkan ke saya. Juga buku The Age of Norway’s Oil, Economic, Political and Institutional Transformation.
“ OK lanjut “ kata saya setelah baca sekilas judul dan kata pendahuluan pada masing masing buku.
“ China tidak melewati jalan yang mudah ” Kata Mey. ” Era Mao menunjukkan kegagalan besar. Great Leap Forward dan Revolusi Kebudayaan menghancurkan produktivitas. Menciptakan kelaparan massal, dan mematikan insentif ekonomi. Namun titik baliknya bukan sekadar pergantian pemimpin, melainkan pengakuan implisit bahwa dogma ideologis tidak bekerja.
Reformasi Deng Xiaoping bukanlah cetak biru sempurna, melainkan eksperimen bertahap dengan strategi crossing the river by feeling the stones. uji coba lokal (SEZ) sebelum nasionalisasi kebijakan. Toleransi terhadap ketimpangan demi akumulasi kapasitas produksi. Artinya, China maju bukan karena model sosialis pasar itu jenius sejak lahir, melainkan karena negara bersedia meninggalkan ortodoksi yang gagal dan menggantinya dengan pragmatisme yang bisa diuji dan dibatalkan bila salah.
Norwegia juga tidak otomatis sukses hanya karena minyak. Pada awal eksploitasi Laut Utara, risiko klasik resource curse nyata, yaitu berupa inflasi, over-spending fiskal, dan tekanan nilai tukar. Banyak negara gagal di fase ini, seperti Indonesia, Venezuela. Yang membedakan Norwegia adalah keputusan politik yang tidak populer namun disiplin. Yaitu menahan belanja hasil minyak, memisahkan pendapatan SDA dari anggaran rutin, membangun sovereign wealth fund dengan mandat antar-generasi. Menyadari bahwa pertumbuhan jangka pendek harus dikorbankan demi stabilitas jangka panjang. Ini bukan karena Norwegia “lebih bermoral”, melainkan karena elite dan institusinya sepakat bahwa phase ini harus dihentikan sebelum menjadi struktur permanen. “ kata Mey.
Saya mengangguk pelan. Dia memang MBA dari Singapore. Well educated.
” Dua contoh ekstrem—China dan Norwegia—menunjukkan pola dengan sangat jelas. Keduanya berangkat dari latar belakang ideologis, struktur politik, dan sejarah yang nyaris bertolak belakang. Namun ada satu kesamaan kunci, keduanya menghadapi resiko dengan kegagalan demi kegagalan, lalu belajar secara sistemik dari kegagalan itu. “ kata saya.
Mey menyimak.
Saya menghela napas dan kemudian seruput kopi. “ Sejak reformasi ekonomi 1979, Cina membangun mesin pertumbuhan ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern. Strateginya jelas dan konsisten: investasi masif, ekspor agresif, dan penekanan konsumsi domestik. Model ini—yang sering disebut investment- and export-led growth—berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas 8 persen selama hampir tiga dekade. Dalam waktu singkat, Cina bertransformasi dari ekonomi agraris miskin menjadi “bengkel dunia”.
Namun, keberhasilan spektakuler ini menyimpan cacat struktural serius yang perlahan menumpuk di bawah permukaan. Fondasi utama mesin pertumbuhan Cina adalah pengekangan konsumsi domestik. Upah pekerja tumbuh lebih lambat dibandingkan produktivitas, jaminan sosial sangat terbatas, dan rumah tangga didorong—bahkan dipaksa secara institusional—untuk menabung tinggi sebagai perlindungan diri.
Akibatnya, porsi konsumsi rumah tangga terhadap PDB menjadi sangat rendah dibandingkan negara besar lain. Ekonomi Cina menjadi tidak seimbang, bergantung berlebihan pada investasi dan permintaan eksternal. Selama ekspor dunia tumbuh, mesin ini tampak tak terkalahkan. Namun ia rapuh terhadap guncangan global.
Sementara investasi masif yang difasilitasi kredit murah menciptakan over-investment struktural. Infrastruktur dibangun lebih cepat daripada kebutuhan riil ekonomi. Kota-kota baru berdiri tanpa penghuni. Kapasitas industri melampaui permintaan. Proyek-proyek pemerintah daerah dijalankan bukan berdasarkan produktivitas, melainkan target pertumbuhan. Di balik pertumbuhan tinggi, utang pemerintah daerah dan BUMN meningkat tajam, sementara efisiensi modal menurun. Setiap unit investasi baru menghasilkan pertumbuhan yang semakin kecil. Itu tanda klasik dari mesin yang mulai aus.
Pertumbuhan ekstrem juga dibayar mahal oleh lingkungan dan kohesi sosial. Polusi udara dan air mencapai tingkat berbahaya. Degradasi ekologi meluas. Dan biaya kesehatan tersembunyi meningkat. Secara spasial, pertumbuhan terkonsentrasi di wilayah pesisir dan pusat manufaktur, sementara daerah pedalaman tertinggal. Ketimpangan regional dan sosial melebar. Itu terpaksa ditoleransi sebagai harga pembangunan, tetapi sesungguhnya menciptakan risiko politik dan ekonomi jangka panjang.
Menjelang 2010, tanda-tanda kelelahan mesin lama semakin nyata. Pertumbuhan mulai melambat, efisiensi investasi turun, dan krisis finansial global 2008 menjadi alarm keras. Ketergantungan pada ekspor terbukti berbahaya ketika permintaan dunia runtuh. Model lama tidak lagi berkelanjutan. Phase ini harus dihentikan. Perubahan terjadi cepat. Negara memperluas jaminan sosial dan peningkatan UMR untuk mendorong konsumsi rumah tangga. Menggeser fokus dari akumulasi kapital ke produktivitas dan inovasi. Membatasi ekspansi kredit yang tak terkendali, serta mulai serius menangani isu lingkungan.
Koreksi ini tidak bersifat revolusioner, melainkan evolusioner. Ya disesuaikan dengan skala ekonomi dan stabilitas politik. Cina tidak menghancurkan mesin lama, tetapi menyetelnya ulang. Dari pertumbuhan ekstrem ke pertumbuhan inklusif, dari kuantitas ke kualitas, dari bengkel dunia ke ekonomi teknologi dan jasa. Kata saya.
Kembali saya seruput kopi.
“ Berbeda dengan Cina yang hampir runtuh oleh kekurangan konsumsi, Norwegia justru menghadapi ancaman dari kelebihan sumber daya. “ Lanjut saya. “ Sejak ditemukannya dan dieksploitasinya minyak Laut Utara pada awal 1970-an, Norwegia masuk ke wilayah risiko klasik yang dikenal sebagai resource curse. Nilai tukar menguat, sektor manufaktur dan ekspor non-migas tertekan, dan negara berpotensi tergelincir menjadi ekonomi rente. Terlihat kaya, tetapi malas secara produktif.
Pada banyak negara seperti Indonesia dan Venezuela, kisah ini berakhir buruk. Belanja publik membengkak, kapasitas industri menyusut, dan ketika harga komoditas turun, negara jatuh ke krisis fiskal. Norwegia nyaris mengikuti jalur ini. Pada fase awal, godaan untuk menggunakan pendapatan minyak demi kesejahteraan instan sangat besar. Mereka memperluas belanja sosial, menaikkan konsumsi, dan membiarkan negara hidup nyaman dari hasil bumi.
Namun titik balik Norwegia justru muncul saat kesalahan masih bisa dicegah, bukan setelah kerusakan menjadi permanen. Elite politik Norwegia sampai pada kesimpulan mendasar. Minyak adalah aset yang habis, sementara negara harus hidup melampaui umur sumber dayanya. Jika pendapatan minyak langsung dihabiskan, yang tersisa bagi generasi berikutnya hanyalah ekonomi rapuh tanpa basis produktivitas. Kesadaran ini bukan moralistik, melainkan rasional—berbasis kalkulasi jangka panjang.
Koreksi Norwegia bersifat radikal namun disiplin. Negara membentuk sovereign wealth fund dan secara tegas melarang belanja langsung dari pendapatan minyak dalam anggaran tahunan. Pendapatan minyak diinvestasikan secara global, sementara hanya imbal hasil jangka panjangnya yang boleh digunakan secara terbatas. Dengan langkah ini, Norwegia memutus ketergantungan fiskal pada harga komoditas. Melindungi ekonomi domestik dari volatilitas minyak, dan menahan apresiasi nilai tukar berlebihan yang bisa membunuh industri non-migas.
Pada saat yang sama, Norwegia tidak mengorbankan sektor non-migas. Negara menjaga daya saing industri, mendorong inovasi, dan memastikan bahwa minyak tidak “mengusir” aktivitas ekonomi lain. Pendapatan hasil investasi minyak dialihkan ke pendidikan, kesehatan, riset, dan kapasitas manusia—bukan sekadar konsumsi jangka pendek. Hasilnya, produktivitas tenaga kerja tetap tinggi, dan struktur ekonomi Norwegia tetap beragam.
Ujian sejati datang ketika harga minyak jatuh. Banyak negara produsen goyah, tetapi Norwegia relatif stabil. Anggaran tidak runtuh, nilai tukar tidak kolaps, dan standar hidup tetap terjaga. Ini membuktikan bahwa Norwegia tidak tumbuh karena minyak, melainkan karena cara mengelola minyak.
Norwegia tidak sukses karena kebal dari godaan rente, tetapi karena berani mengoreksi arah sebelum rente menjadi identitas ekonomi. Negara ini menunjukkan bahwa kelimpahan sumber daya sama berbahayanya dengan kekurangan modal. Kunci keberhasilan terletak pada disiplin fiskal dan desain institusi, bukan volume kekayaan alam. Negara maju adalah negara yang memperlakukan sumber daya alam sebagai alat transisi, bukan tujuan akhir”
Mey terdiam dan seakan berpikir. “ Dari kisah Cina dan Norwegia, terlihat kontras yang tajam namun justru saling melengkapi.” Kata Mey. “ Apa yang bisa dipelajari dari cerita kedua negara ini? Tanyanya.
Saya tersenyum dan berkata “Cina belajar menahan ekses produksi dan investasi. Norwegia belajar menahan ekses konsumsi dan rente. Keduanya dari awal punya agenda besar dan strategi yang jelas. Karena tidak ada jalan yang benar benar mulus. Akan selalu ada rintangan. Kan urusan ekonomi masalah bagaimana kita mengelola sumber daya terbatas. Kan engga ada sumber daya yang unlimited.
Sejak agenda nasional disusun, mereka sepenuhnya memahami risiko. Orang berkata, hindari resiko. Tetapi mereka menjawab, hadapi resiko. Mereka melewati fase risiko itu secara sadar. Kesalahan terjadi, distorsi muncul, bahkan biaya sosial dan ekonomi harus dibayar. Namun perbedaannya terletak pada satu hal krusial. Setelah fase risiko terlewati, mereka cepat keluar dan melakukan koreksi secara institusional.
Cina menyadari mesin pertumbuhan ekstremnya mulai merusak diri sendiri, lalu mengubah arah dari kuantitas ke kualitas. Norwegia menyadari minyak berpotensi menghancurkan struktur ekonomi, lalu memisahkan negara dari rente sebelum terlambat. Keduanya memiliki peta jalan masa depan, sehingga mereka tahu kapan sedang mengambil risiko, kapan harus berhenti, dan ke mana arah koreksi dilakukan. “
Mey mengangguk. “ Di sinilah masalah Indonesia menjadi terang benderang. Indonesia tidak memiliki rencana visioner yang jelas tentang masa depan struktur ekonominya. Tidak ada konsensus nasional. Apakah ketergantungan pada sumber daya alam ini memang fase transisi yang disadari, atau justru kondisi permanen yang diterima tanpa pertanyaan.
Karena tidak ada peta tujuan, Indonesia juga tidak tahu apakah sedang berada dalam fase risiko atau sekadar terjebak dalam kebiasaan lama. Akibatnya, koreksi tidak pernah benar-benar terjadi. Yang ada hanyalah pengulangan. Eksploitasi sumber daya alam dengan kemasan baru, jargon baru, tetapi logika lama.
Sejak era Soeharto hingga hari ini, pola dasarnya nyaris tidak berubah. SDA tetap menjadi tumpuan utama, baik sebagai sumber pertumbuhan, pembiayaan fiskal, maupun legitimasi politik. Tidak pernah ada transformasi struktural yang sungguh-sungguh—hanya pergeseran aktor dan istilah. “ Kata Mey.
“ Ya.” Saya tersenyum. “ Jadi paham kan, Mey. Inilah perbedaan paling mendasar antara negara yang belajar dan negara yang stagnan. Negara yang belajar berani berkata, model ini sudah sampai batasnya. Negara yang stagnan terus berkata, model ini masih bisa diperas sedikit lagi.
Tanpa visi jangka panjang, Indonesia akan terus salah membaca keadaan. Mengira sedang memanfaatkan peluang, padahal sebenarnya menunda perubahan. Dan sejarah menunjukkan, negara yang menunda koreksi terlalu lama tidak berhenti di stagnasi, ia akhirnya dipaksa berubah oleh krisis. “ Kata saya.
“ Tidak ada negara yang menjadi maju karena sumber daya besar. Kemajuan hampir selalu lahir dari rangkaian kegagalan yang diakui, dievaluasi, lalu dikoreksi secara institusional. Perbedaan mendasar antara negara yang sukses dan yang gagal bukan terletak pada absennya kegagalan, melainkan pada kecepatan dan keberanian untuk mengakui kegagalan serta mengubah arah kebijakan sebelum kerusakan menjadi permanen.” Kata Mey menyimpulkan. ” Pertanyaannya adalah mengapa mereka bisa punya visi besar dan bisa membaca fenomena untuk bertransformasi ” Tanya Mey.
” Sebenarnya dunia udah mengajarkan lewat sejarah panjang. Sejarah selalu berulang. Hanya beda bentuk dan waktu saja. Esensinya sama. Yaitu satu satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Suka atau tidak suka. Kita harus berubah. Kalau tidak, kita ditelan oleh perubahan itu sendiri. ” Jawab saya.
” Bukankah di Indonesia banyak orang religius dan terpelajar. Dimana sajalahnya? tanya Mey mengerutkan kening.
” Banyak orang beriman kepada Tuhan, tetapi tidak percaya sunnatullah tentang perubahan. Artinya dia beriman tapi tidak berakhlak. Orang berani berubah karena dia punya akhlak. Di Indonesia, semua orang beragama tapi miskin akhlak. Banyak orang terlelajar. Tetapi lebih suka memilih jalan mudah dan cenderung bertahan di comfort zone. Makanya ketika ia ditelah oleh perubahan, ia nampak bodoh dan dunguk.” Kata saya.
Mey terdiam. Seakan dia bercermin pada dirinya sendiri. Hening sebentar. Aknirnya Mey berdiri. “ Aku masak ya. “ Kata Mey.
Saya tahan tangannya. “ Engga usah. “ Kata saya. “ Saya hanya sebentar. Saya lagi temanin cucu di Mall. “ Lanjut saya seraya berdiri untuk pamit. “ Kamu jaga kesehatan ya, Mey.”
Mey mengangguk namun airmatanya berlinang. “ Terimakasih Ale. Setelah begitu banyak aku kecewakan kamu, tetapi kamu tetap jaga aku dimasa tua. “
Saya mengangguk dan berlalu.
.

Tinggalkan komentar