Malaysia Melayu Cerdas..

Saat di resto di mandarin hotel. Ada wanita mendekat kami. Abeng terkejut melirik saya. “ ale, itu cewek cantik sekali. Tinggi dan bodi proporsional. “ kata Abeng “ eh dia menuju ke kita ? Abeng senggol lengan saya “ Lue order cewek ? Tanya Abeng.

“ Gila lue. Kata saya tersenyum . “ itu Moni anak buah gua “

” Anak buah yang mana ?

“ Dia kerja di NY. “ kata saya. Setelah dekat kami, Moni salami saya dan Abeng. Kemudian dia duduk sebelah saya. Abeng perhatikan sekilas. Terus lanjut ngobrol dengan saya. “ ale, satu hal yang selalu bikin gua heran,” katanya. “Indonesia ini pabrik sawit terbesar di dunia. Kapasitas refinery kita gila-gilaan. Tapi margin rentan oleh gejolak pasar global “

Saya melirik Moni untuk dia jawab. Moni tersenyum tipis. Ia tidak langsung menjawab. Seperti biasa, ia memilih menyusun cerita dulu—bukan angka.

“Karena kita keliru menyamakan besar dengan bernilai,” kata Moni akhirnya. “Indonesia itu raksasa tonase. Malaysia itu arsitek nilai.”

Saya mengangguk.

“Bayangkan rantai sawit seperti restoran ini,” lanjut Moni, menatap sekeliling. “Indonesia menyediakan dapur terbesar. Kompor banyak. Api besar. Tapi menu kita pendek.”

Abeng mengernyit. “Maksudmu produk?”

“Ya. Kita jago RBD, fatty acid dasar, fatty alcohol generik, biodiesel. Volume besar, margin tipis. Itu seperti menjual nasi putih ke seluruh kota. Ya laku, tapi untungnya kecil.”

Saya menyela pelan, mendukung arah ceritanya. “ Dan sangat sensitif pada harga CPO dan kebijakan.”

Moni mengangguk. “Tepat.”

Ia lalu melanjutkan, nadanya berubah lebih tajam. “ Malaysia berbeda. Mereka tidak mengejar dapur terbesar. Mereka mengejar menu terpanjang.”

Abeng condong ke depan. “Menu seperti apa?”

“Oleochemical specialty,” jawab Moni tanpa ragu. “Bukan cuma fatty acid. Mereka punya surfactants khusus untuk personal care, fatty amine untuk water treatment dan migas, ester untuk kosmetik dan farmasi, polyol dan resin intermediate untuk coating dan adhesive.”

Ia berhenti sejenak, memastikan Abeng mengikuti.

“Produk-produk itu tidak dijual di pasar spot. Mereka dijual lewat kontrak, spesifikasi teknis, dan application knowledge. Sekali pabrik sabun, kosmetik, atau chemical plant cocok—mereka susah pindah.”

Saya menambahkan, “Itu sebabnya margin mereka stabil. Bukan karena sawitnya, tapi karena fungsi produknya.”

Abeng terdiam. Ia mulai memahami bahwa masalahnya bukan teknologi reaksi, tapi arsitektur bisnis. “ Jadi,” katanya pelan, “kita kalah di formulasi?”

“Lebih tepatnya,” Moni menjawab, “kita berhenti di reaksi kimia, mereka melangkah ke solution engineering.”

Pelayan datang membawa hidangan utama. Moni menunggu sampai meja kembali sunyi.

“Indonesia membangun hilirisasi sebagai proyek fisik,” lanjut Moni “Pabrik, tangki, kapasitas. Malaysia membangun hilirisasi sebagai portofolio produk.”

Saya mengangguk lagi. “Dan portofolio itu yang memegang margin.”

Abeng tersenyum pahit. “Jadi kita sibuk tebang hutan, bangun pabrik, mereka sibuk bangun pelanggan.”

Moni mengangkat gelasnya sedikit. “Dan membangun switching cost.”

Abeng tersenyum “ Kamu sudah menikah ?

Moni tersenyum. “ Belum. “ jawabnya. Abeng mengangguk. Sepertinya dia sedang berpikir sesuatu. Hening sesaat.

“ Yang salah itu generasi kita, Ale. ” Akhirnya suara abeng terdengar. ” Gua punya kebun sawit, Awi juga. Mana sempat mikir jauh. Bisanya ya cuman CPO. Tetapi itu juga wajar karena belum tanam kita udah dipalaki pejabat. Kredit cair harus bagi orang bank. Belum panen udah dipalaki aparat. Dari lurah sampai pusat terus aja minta uang “ kata abeng dengan wajah kosong “ gimana mau pikir downstream yang butuh riset lama dan kesabaran berproses” sambungnya. Saya senyum aja

***

Indonesia dan Malaysia berasal dari rumpun budaya yang sama. yaitu Melayu. Struktur sosial, patronase politik, hingga relasi elite–negara memiliki kemiripan historis. Namun, hasil akhirnya berbeda. Jika Indonesia kerap terjebak dalam oligarki ekstraktif dan konflik tata ruang, Malaysia justru menunjukkan kemampuan berulang untuk keluar dari krisis dan melakukan lompatan struktural. Pertanyaannya bukan soal etnis atau sumber daya, melainkan arsitektur kekuasaan dan pilihan kebijakan.

Perbedaan paling mendasar terletak pada institusi simbolik namun efektif, Raja Konstitusional yang non-partisan. Di Malaysia, Raja tidak berpolitik praktis, tetapi berfungsi sebagai penjaga nilai dan rasa malu kolektif (cultural restraint). Dalam literatur ekonomi institusional, mekanisme ini disebut informal constraint—aturan tak tertulis yang membatasi perilaku elite (North, 1990). Akibatnya, politik Malaysia memang elitis, tetapi tidak sepenuhnya jatuh menjadi kleptokrasi sistemik. Elite tahu ada garis budaya yang tak boleh dilampaui. Ketika garis itu dilanggar, koreksi datang—kadang cepat, kadang keras.

Skandal 1MDB pada era PM Najib Razak adalah ujian terbesar Malaysia. Namun yang menarik bukan skandalnya, melainkan respon institusionalnya. Ketika Mahathir Mohamad kembali berkuasa (2018), ia memilih jalan pragmatis dan strategis. Alih-alih membiarkan utang membusuk, Mahathir menegosiasikan ulang proyek-proyek besar dengan Tiongkok.

Mahatir  meminta China take-over langsung atas aset-proyek bermasalah itu dan memastikan pengelolaan tetap berjalan tapi dibawah bendera China. Namun pajak serta manfaat ekonomi tetap mengalir ke Malaysia. Langkah ini tercatat dalam laporan resmi Kementerian Keuangan Malaysia (MOF, 2019) dan dianalisis luas oleh IMF serta World Bank sebagai contoh debt restructuring without default. Dalam waktu kurang dari satu tahun, tekanan fiskal mereda tanpa kehancuran reputasi negara.

***

Malaysia sering disebut “raja sawit”. Menariknya, luas kebun sawit Malaysia lebih kecil dibanding Indonesia, namun produktivitasnya lebih tinggi. Data FAO dan MPOB menunjukkan. Produktivitas sawit Malaysia: ≈ 4,2–4,5 ton CPO/ha/tahun. Indonesia: ≈ 3,6–3,8 ton CPO/ha/tahun. Kuncinya bukan ekspansi hutan, tetapi pemanfaatan lahan pasca-tambang timah, bibit unggul dan presisi agronomi,
 serta hilirisasi oleofood dan oleochemical yang luas. Malaysia juga memimpin price discovery lewat Bursa Malaysia Derivatives (FCPO) yang menjadi acuan global CPO—setara peran LME di logam (Bursa Malaysia, 2024).

Indonesia hari ini adalah raksasa fisik industri sawit dunia. Kapasitas refinery kita puluhan juta ton, biodiesel mendominasi Asia, oleochemical berdiri megah dari Sumatra hingga Kalimantan. Dari hulu ke hilir, mesin sudah ada. Volume ada. Infrastruktur ada. Namun pertanyaan yang jarang diajukan—dan sengaja dihindari—adalah,  siapa yang memegang margin?

Model hilirisasi Indonesia masih berat di intermediate goods: RBD palm oil, fatty acid dasar, fatty alcohol generik, biodiesel berbasis mandate. Produk-produk ini padat volume, tipis margin, dan sangat sensitif terhadap siklus harga komoditas serta kebijakan fiskal. Hasilnya?  ketika harga global turun atau levy berubah, laba ikut mengempis—meski pabrik tetap berasap.

Berbeda dengan Malaysia. Kapasitas mereka lebih kecil, tetapi ragam produk oleochemical mereka jauh lebih luas dan lebih dalam. Bukan sekadar fatty acid dan alcohol, melainkan derivatives bernilai tinggi yang masuk ke ratusan aplikasi industri. Di sinilah margin tinggal.

Spektrum produk oleochemical Malaysia mencakup: Surfactants & specialty surfactants (detergen premium, personal care, industrial cleaners). Fatty amine & quats (water treatment, oil & gas chemicals, mining reagents). Esters khusus (lubricants food-grade, cosmetics, pharmaceutical excipients). Polyol & resin intermediates (coatings, polyurethane, adhesives). Niche bio-chemicals untuk agrochemical, textile finishing, dan electronic chemicals. Produk-produk ini tidak diperdagangkan sebagai komoditas. Mereka dijual lewat kontrak jangka panjang, dengan spesifikasi teknis, konsistensi kualitas, dan switching cost tinggi. Sekali pelanggan terkunci, margin bertahan.

Di mana letak perbedaannya? Perbedaannya bukan pada sawit—bahan bakunya sama—melainkan pada arsitektur industry. Pertama. R&D dan formulasi. Malaysia menguasai formulation science, bukan hanya reaksi kimia dasar. Kedua. Product portfolio. Indonesia fokus “output”, Malaysia fokus “use case”. Ketiga. Go-to-market. Malaysia kuat di trading house global, technical sales, dan sertifikasi industri. Keempat. Branding B2B. Produk tidak dijual sebagai “turunan sawit”, tapi sebagai solusi industri.

Sementara Indonesia sukses membangun biodiesel—namun keberhasilannya bergantung pada kebijakan. Margin hidup dari mandate dan insentif. Begitu fiskal mengetat atau CPO naik, margin tertekan. Sebaliknya, specialty oleochemical hidup dari fungsi, bukan subsidi. Mereka bertahan di siklus apa pun. Jadi, siapa yang memegang margin? Jawabannya jelas, yaitu yang menguasai produk spesifik, bukan yang memproduksi paling banyak. Indonesia memegang tonase. Malaysia memegang fungsi, formulasi, dan pelanggan.

***

Sejak 1999, Malaysia secara sadar menggeser paradigma pembangunan. 
Dari agro-ekstraktif menuju knowledge & digital economy. Pembangunan Multimedia Super Corridor (MSC) menjadi fondasi untuk digelarnya e-government. Pendidikan IT diperluas dari tingkat Sekola, universitas sampai vokasi. Karena itu engga kaget bila dalam perkembangannya tumbuh pesat  ekosistem E&E (Electrical & Electronics).
 Hari ini, Malaysia adalah bagian vital dari global electronics supply chain, terutama semikonduktor dan komponen presisi (OECD, 2023).

Dalam satu dekade terakhir, Malaysia melangkah lebih jauh, yaitu data center economy. Menurut data Knight Frank Data Centre Report, 2024, Malaysia adalah data center terbesar kedua di ASEAN setelah Singapore dan salah satu yang tumbuh tercepat di dunia, yaitu 20% per tahun. Pemain global hadir bukan karena retorika, tetapi karena kesiapan ekosistem. Sepeti Equinix, Microsoft Azure, Google Cloud, Amazon AWS, ByteDance, GDS, AirTrunk, Bridge Data Centres
 dengan mitra lokal kuat, TM One (Telekom Malaysia), AIMS Data Centre, YTL Data Center, Tenaga Nasional–linked projects,
 Keppel & STT GDC.


Karena bisnis Data center itu yang dijual adalah SDM, lahan dan infrastruktur ( Listrik dan Air,). Walau engga aple to aple membadingkan dengan kebun sawit. Namun kita bisa lihat dari perspektif lain. Value dari perubahan paradigma. Mari bicara angka, bukan emosi. Data center punya revenue USD 200 juta perhektar per tahun. Sementara Sawit? Pendapatan ± USD 3.200/ha/tahun. Untuk USD 200 juta perlu ± 60.000–62.500 hektare.

Artinya? Nilai ekonomi per hektare data center ≈ 31.000 kali kebun sawit. Ini bukan penghinaan terhadap petani, melainkan kritik terhadap paradigma. Devisa besar tidak harus datang dari deforestasi luas dengan nilai tambah kecil. Gimana multiplier effect ? Ekonomi digital menciptakan SDM berkeahlian tinggi,
 kelas menengah yang kuat, masyarakat lebih efisien dan adaptif.
 Dalam teori economic resilience (Mazzucato, 2018), masyarakat berbasis pengetahuan lebih tahan guncangan dibanding ekonomi padat lahan dan padat konflik.

Malaysia menunjukkan bahwa pembangunan bukan soal banyaknya SDA, tetapi cara membaca nilai dari ruang, teknologi, dan manusia.
 Perbedaan Indonesia–Malaysia hari ini bukan pada potensi,
melainkan pada keberanian meninggalkan ekonomi berbasis dengkul
dan beralih ke ekonomi berbasis otak. Dan sejarah menunjukkan bahwa bangsa yang berani mengubah paradigma lebih awal
tidak perlu menebang hutan terlalu banyak untuk mendapatkan masa depan yang layak.

Referensi.

North, D. (1990). Institutions, Institutional Change and Economic Performance. IMF Country Report: Malaysia (2019). FAO Statistical Yearbook (2023). MPOB Annual Report (2024). OECD Economic Surveys: Malaysia (2023). Knight Frank Data Centre Report (2024). World Bank: Debt Management & Sovereign Risk in Emerging Markets


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Satu tanggapan untuk “Malaysia Melayu Cerdas..”

  1. enchantingwitchd90ec3f6d4 Avatar
    enchantingwitchd90ec3f6d4

    Fakta membuktikan sistem dan ekosisten perekonomian yg dibangun oleh Orde Baru selama 32 tahun tdk dpt dirubah oleh Orde Reformasi akibat perubahan tdk dilakukan secara mendasar disamping para pembuat kebijakkan dan pelaksananya dilapangan msh terkontaminasi dgn mental Orba akibat dr hukum tdk diterapkan secara adil dan konsisten

    Suka

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca