
Tuhan Yang Maha Pengatur tidak menciptakan alam secara acak. Dalam bahasa teologi, alam adalah ayat-ayat kauniyah; dalam bahasa sains, ia adalah sistem kompleks yang koheren. Keduanya bertemu pada satu prinsip yang sama: keteraturan yang bermakna.
Fisikawan dan kosmolog menegaskan bahwa alam semesta tidak dibangun di atas kekacauan, melainkan keteraturan yang presisi. Albert Einstein pernah menulis, “The most incomprehensible thing about the universe is that it is comprehensible.” Bahwa alam dapat dipahami oleh akal manusia justru menandakan adanya tata kelola yang rasional dan konsisten.
Kita hidup di wilayah khatulistiwa—sebuah ruang geografis yang, di peta meteorologi global, tampak “aman”. Tidak ada badai siklon tropis yang mendarat. Tidak ada angin destruktif seperti di Karibia atau Jepang. Ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari desain sistemik Bumi.
Ilmu atmosfer menjelaskan bahwa di sekitar garis lintang 0° terdapat Intertropical Convergence Zone (ITCZ)—sabuk konveksi paling aktif di planet ini. Di sinilah angin pasat dari dua belahan bumi bertemu dan naik secara vertikal, membentuk awan cumulonimbus dan hujan lebat yang berulang.
Ahli iklim terkemuka James Hansen menegaskan bahwa sistem iklim Bumi bekerja sebagai satu kesatuan terintegrasi: The climate system is an interconnected whole; disturbing one part inevitably affects the rest.” ITCZ adalah contoh nyata prinsip ini. Ia bukan anomali, melainkan mekanisme distribusi energi dan air yang menjaga keseimbangan planet.
Siklon tropis memerlukan gaya Coriolis untuk berputar. Di khatulistiwa, gaya ini nyaris nol. Karena itu, energi panas laut yang besar tidak mewujud sebagai badai angin, melainkan dilepaskan secara vertikal sebagai hujan. Meteorolog senior Kerry Emanuel menjelaskan bahwa Wind is not the primary destructive force of tropical weather systems; water is.” Di wilayah khatulistiwa, Tuhan seolah memilih air sebagai instrumen kehidupan, bukan angin sebagai instrumen kehancuran. Namun air, ketika tidak dihormati hukumnya, dapat berubah menjadi malapetaka.
Wilayah khatulistiwa dianugerahi hutan hujan tropis, sungai-sungai besar, dan tanah latosol–laterit yang dalam dan berpori. Semua ini adalah infrastruktur ekologis, jauh sebelum manusia membangun bendungan dan kanal. Ahli ekologi Eugene P. Odum, pelopor ekologi sistem, menulis: The ecosystem is not just a collection of organisms, but a functioning whole in which energy flows and matter cycles.” Hutan tropis berfungsi sebagai penyangga hidrologi—menahan, menyaring, dan melepaskan air secara perlahan. Dalam desain ini, hujan tinggi bukan ancaman, melainkan bagian dari siklus keberkahan.
Masalah muncul bukan karena hujan, tetapi karena hilangnya penyangga moral dan ekologis. Deforestasi masif dari hulu ke hilir merusak sistem yang sejak awal dirancang stabil. Tanah kehilangan kohesi, sungai kehilangan kapasitas, dan air kehilangan jalan yang bijaksana.
Pemikir etika lingkungan Aldo Leopold mengingatkan jauh hari “ A thing is right when it tends to preserve the integrity, stability, and beauty of the biotic community. It is wrong when it tends otherwise.” Dengan ukuran ini, banjir bukan sekadar bencana alam, melainkan indikator kegagalan etika kolektif.
Ironi terbesar adalah ketika ilmu pengetahuan tumbuh, tetapi kebijaksanaan menyusut. Filsuf Hans Jonas, dalam The Imperative of Responsibility, memperingatkan: The power of human action has outgrown the ethics that once contained it.” Teknologi dan pengetahuan memberi manusia kuasa besar atas alam, tetapi tanpa akhlak, kuasa itu berubah menjadi instrumen perusakan. Inilah titik di mana sains kehilangan hikmah, dan kepemimpinan kehilangan kebijaksanaan.
Kita menyebut kemerdekaan sebagai berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Namun rahmat selalu datang bersama amanah. Ketika alam dirusak atas nama pertumbuhan, dan rakyat menanggung risikonya, maka bencana bukan lagi takdir, melainkan konsekuensi etis. Filsuf politik Hannah Arendt pernah menulis bahwa krisis terbesar manusia modern bukanlah kebodohan, melainkan thoughtlessness—ketiadaan refleksi moral dalam tindakan besar.
Penutup
Negara khatulistiwa diciptakan bukan tanpa risiko, tetapi dengan sistem penyangga yang sempurna. Bebas siklon bukan berarti kebal bencana. Ia berarti Tuhan telah menyediakan keseimbangan—asal manusia tidak merusaknya. Ketika banjir datang, ia adalah bahasa alam yang menyampaikan pesan moral: bahwa kekuasaan tanpa etika akan selalu berakhir pada penderitaan kolektif. Di titik inilah sains dan spiritualitas tidak saling bertentangan, tetapi saling meneguhkan—mengajarkan bahwa menjaga bumi adalah bagian dari ibadah peradaban.
Referensi.
Al-Qur’an. QS. Al-Baqarah (2): 164. QS. Fussilat (41): 53. Nasr, Seyyed Hossein (1996). Religion and the Order of Nature. Oxford University Press. Polkinghorne, John (1998). Science and Theology: An Introduction. Fortress Press. Einstein, Albert (1936). Physics and Reality. Journal of the Franklin Institute. Davies, Paul (2006). The Goldilocks Enigma: Why Is the Universe Just Right for Life? Penguin. Penrose, Roger (2004). The Road to Reality. Jonathan Cape. Holton, James R. (2004). An Introduction to Dynamic Meteorology. Elsevier Academic Press. Peixoto, J. P., & Oort, A. H. (1992). Physics of Climate. American Institute of Physics. Hansen, James et al. (1981). Climate Impact of Increasing Atmospheric Carbon Dioxide. Science. Emanuel, Kerry (2005). Divine Wind: The History and Science of Hurricanes. Oxford University Press. Gill, Adrian E. (1982). Atmosphere–Ocean Dynamics. Academic Press. → Gaya Coriolis dan ketiadaan siklon di khatulistiwa.
Odum, Eugene P. (1983). Basic Ecology. Saunders College Publishing. Bonan, Gordon B. (2015). Ecological Climatology. Cambridge University Press. Bruijnzeel, L. A. (2004). Hydrological Functions of Tropical Forests. UNESCO–IHP. Leopold, Aldo (1949). A Sand County Almanac. Oxford University Press. Callicott, J. Baird (1999). Beyond the Land Ethic. SUNY Press
Jonas, Hans (1984). The Imperative of Responsibility. University of Chicago Press. Latour, Bruno (2017). Facing Gaia. Polity Press. Arendt, Hannah (1963). Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil. Viking Press. Arendt, Hannah (1958). The Human Condition. University of Chicago Press. Berry, Thomas (1999). The Great Work: Our Way into the Future. Bell Tower. IPBES (2019). Global Assessment Report on Biodiversity and Ecosystem Services.

Tinggalkan komentar