
Saya duduk bersama Mia di safehouse. Apartement di kawasan Thamrin—tempat yang sering saya gunakan untuk pertemuan privat. Saya dapat telp bahwa Florence dan Ira sudah di café di Hotel yang ada tepat di sebelah Apartement. Kami segera keluar dari safehouse dan langsung ke café.
“Ale… ini tempat favorit kamu dulu. Dan biasanya kamu sama Mia. Setelah itu Mia kamu rekrut dan dapat beasiswa di Harvard. Eh sekarang Mia nongol lagi di tempat yang sama,” kata Florence sambil melirik ke Mia.
Mia hanya tersenyum sopan, senyuman wanita muda yang sudah kenyang pengalaman internasional, tapi tetap memilih tampil sederhana. Kami belum sempat mengobrol banyak ketika Ira langsung menembak. “Ale! Kamu tahu kasus skandal perdagangan nikel palsu di Singapura oleh Ng Yu Zh?”
Saya tersenyum. “Aku tahu. Tapi Mia yang jelaskan. Dia lebih teknikal.” Saya melirik Mia, memberi isyarat.
Mia merapikan duduknya. Rok di atas lutut membuat geraknya terukur dan elegan.
“Caranya sebenarnya sederhana… tapi hanya sederhana bagi orang yang memahami structured commodity trading,” kata Mia.
“ Pertama. “ lanjut Mia. “ Ng menerbitkan produk hedge fund high-yield, 15% untuk 3 bulan. Karena itu limited offer dan hanya untuk sophisticated investor, dia tidak perlu izin regulator. Banyak structured fund seperti ini berjalan melalui skema Exempt Offering Regime.”
Mia menatap Ira dengan tersenyum. “ Kedua. “ sambung Mia. “ Ng bikin SPV, Envy Global Trading (EGT). SPV ini membuat kontrak futures palsu untuk jual-beli nikel dengan BNP Paribas Commodity Futures.
Di atas kertas terlihat legit: Ada kontrak jual forward ke BNP Paribas. Ada kontrak beli ore dari Poseidon Nickel Limited. Ada kontrak supply ke Raffemet. Semua nama besar. Investor langsung percaya,” kata Mia.
“ Terus.. Kejar Florence yang mulai terpancing ingin tahu.
“ Ketiga. “ Kata Mia. “Ng create Platform IT trading. Itu sebenarnya closed circuit. Degnan adanya Platform trading itu, Investor melihat grafik transaksi. Tapi itu mirror-data. Semua transaksi itu fiktif. Tidak pernah masuk clearing house, tidak tercatat sebagai LME deliverable inventory.”
Mia terdiam sebentar. “ Kemudian dengan infrastruktur yang ada, Dana investor masuk ke Envy Asset Management. Profit trading dilaporkan tinggi, tapi sebenarnya hanya account receivable fiktif yang kemudian dileverage lagi. Ini bukan cuma Ponzi. Ini Ponzi berskala institusional dengan kosmetika finansial yang sangat meyakinkan. “ kata Mia.
Ira menatap tak percaya. “Siapa saja investornya?”
Mia menjawab ringan, “JP Morgan, private banker dari Temasek, beberapa family office. Semua kelas kakap.”
Florence melongo. “Lho… kok bisa institusi besar ketipu? Kan mereka banyak yang lulusan Harvard. Bahkan S3. Kok semudah itu dikerjain anak muda.”
“ Itulah kecanggihan financial engineering. Yang tidak semua orang ngerti dan sangat sophisticated untuk sebagian besar ahli ekonomi dan keuangan.” Jawab Mia tersenyum tipis.
“ Ya jelaskan aja mengapa ? kejar Florence.
“ Dengan pengetahuan financial engineering Ng dan team nya bisa dengan mudah memalsukan settlement cycle, membuat pseudo hedging structure, memanipulasi margin statement, dan cara melakukan layering fund flow sehingga tampak sah. “ Jawab Mia. “ Selain itu, 90% perdagangan nikel di LME sebenarnya tidak di-backup oleh fisik. Apalagi nikel Indonesia yang low grade sering diperlakukan sebagai supply padahal tidak layak untuk LME settlement. Jadi ruang abu-abunya sangat besar,” jelas Mia.
Florence mengangguk. Ia mulai menangkap konteks. Tapi Ira penasaran. “Terus kenapa Ng akhirnya ketangkep?”
“Karena dia terlalu hedonis,” kata Mia. “ Itu mamancing suspection. Ng membeli LV & Luxlexicon jewellery. American Express bill saja pernah mencapai US$12 juta. Kendaraanya, Porsche 911 GT3, Ferrari 488 Pista Spider, Aston Martin Rapide, Rolls Royce Phantom, Lamborghini Aventador SV. Dia juga membli Beberapa apartemen di AS, Singapura, Hong Kong ”
“ Oh I see.” Ira mengangguk.
“ Ya. Hedonis membuatnya mencolok. Hedonis membuatnya jadi target. Hedonis membuat skema yang elegan menjadi murahan. “ Jelas Mia.
“Hidup hedonisme itu memupuk egoisme,” kata Mia. “Orang hedon tidak pernah merasa cukup. Mereka membeli kekuasaan, status, gaya hidup… bukan fungsi.”
Mia melanjutkan. “Hedonisme membuat seseorang tak disiplin terhadap cash flow. Dan trust hedge fund hanya hidup di atas disiplin cash flow. Saat disiplin hilang, runtuhlah semuanya.”
Florence bengong. Ira mengerutkan kening.
Saya tersenyum mendengar Mia berbicara seperti seorang global macro analyst.
Ira bertanya pelan, “Kok kamu ngerti banget?”
Florence menjawab, “Dia team hedge fund-nya Ale.”
Ira makin kaget. “Berapa umur kamu?”
“34 tahun, Tante.”
“Sudah menikah?”
Mia menggeleng sambil tersenyum.
Florence menambahkan sambil tertawa. “Team Ale yang perempuan jarang menikah. Mereka sudah tajir. Income mereka USD enam digit setahun. Hidup di ekosistem kelas dunia. Mana lagi mikirin laki-laki?”
Ira melirik Mia, mengangguk. “Dan kamu sangat humble dari sisi penampilan.”
Florence tersenyum. Hunble bagi orang awam atau kaya tanggung.” Lue engga liat tuh jam tangannya. “ Kata Florence menunjuk jam yang dikenakan Mia.
“ Ah itu jam bukan merek terkenal seperti RM” Kata Ira.
“ Memang biasa. Bagi orang punya gaji dibawah Rp. 6 miliar setahun. “ Kata Florence tersenyum “ Itu PH, Ladies’ Grand Complications.” Sambung Florence.
“ Oh artinya humble dihadapan orang miskin, karena barang yang dikonsumsi bukan barang publikasi. Tetapi limited offer.” Kata Ira menyimpulkan. “ Mengapa harus humble di hadapan publik?
Mia melirik saya untuk minta ijin menjawab. Saya mengangguk.
“ Ada aturan tak tertulis dalam dunia hedge fund. Aturan yang tidak pernah diajarkan di Harvard, Wharton, atau LSE, tetapi diwariskan secara bisik-bisik di ruang rapat gelap, lift hotel, dan ruang sauna tempat transaksi miliaran dolar berlangsung. Bahwa Hedonisme membunuh disiplin. Dan hedge fund hidup dari disiplin.” Kata Mia.
“ Pak Ale selalu menekankan itu kepada seluruh team. Bukan dengan kata kata tetapi dengan teladan. Mia, Moni, Xiau Lin, Karen dan lain lain dalam team shadow, semuanya melihat bagaimana Ale hidup. Kami tidak hanya belajar teknik leverage, repo, swap, atau paritas risiko. Kami juga belajar filosofi dasar yang menjadi akar bertahannya hedge fund dalam siklus ekonomi yang brutal. “Jelas Mia.
Saya tersenyum.
“ Bisa jelaskan secara detail mengapa hedonism itu hal terlarang ? tanya Ira.
Mia menjelaskan bahwa Hedonisme menghilangkan kemampuan melihat risiko. Trader yang hedon, tidak membaca yield curve, tidak menganalisis correlation breakdown, tidak sadar skew volatility berubah, tidak memahami liquidity gap di pasar sekunder, tidak disiplin terhadap capital adequacy window. Mereka melihat profit sebagai hadiah bukan sebagai hasil perhitungan risiko.
Hedge fund—terutama macro fund—tidak pernah bekerja berdasarkan keberuntungan. Kami bekerja berdasarkan position sizing, tail risk, duration mismatch, credit default correlation , macro factor modeling. Satu malam pesta di kelab mewah saja cukup membuat seorang fund manager gagal mendengar perubahan kecil dalam funding market chatter—yang besoknya menjadi bencana. Hedonisme merusak radar sensitivitas itu.
Hedonisme menciptakan kebutaan Moral dan Akuntabilitas. Trader yang hedonis mulai berpikir begini, “Uang investor ini bukan uangku. Kalau rugi, tinggal cari investor baru. Selama bonus cair, fine. Selama NAV bagus, tak ada yang akan cek.” Ini adalah moral hazard paling mematikan dalam industri keuangan.
Apalagi hedge fund berdiri bukan pada regulasi ketat seperti bank, melainkan pada kepercayaan (trust). Trust hanya bisa hidup bila: Disiplin terjaga. Integritas dijaga. Cashflow dijaga. Leverage terkendali. Begitu moral hazard muncul, leverage berubah menjadi bom waktu. Hedonisme mempercepat penghitung detiknya.
Tidak ada hedge fund yang mati karena tidak punya strategi. Mereka mati karena leverage berlebihan, cashflow mismatch, margin call yang tak dapat ditutup, atau laporan palsu internal. Dan hedonisme memperparah semuanya. Seorang fund manager yang menghamburkan uang untuk gaya hidup. Dampaknya ia harus menciptakan tekanan psikologis untuk “menutup kerugian dengan risiko lebih besar”, mengambil posisi berlebihan agar bonus tidak turun, menekan back office agar melaporkan angka “optimistis”. Ini bukan lagi masalah etika. Ini masalah survival teknikal.
Hedge fund yang hedonis akan menghadapi: liquidity crunch , collateral recall, forced unwinding. Seperti LTCM tahun 1998. Seperti Archegos 2021. Seperti Envy Global Trading milik Ng.
Hedge fund yang benar-benar kuat tidak pernah muncul di berita. Mereka hidup seperti arus bawah tanah: tidak mencolok, tidak memamerkan kekayaan dengan rumah mewah di Kawasan elite, tidak membeli supercar yang mencolok dijalanan, tidak membeli jam mahal kecuali limited offer, tidak nongol di pesta sosialita, tidak flexing di social media.
Mengapa? Karena regulator mulai mengawasi, pesaing mulai menargetkan posisi, media mulai mencium pola, bank mulai curiga pada cashflow, investor mulai bertanya “kenapa kamu terlalu mencolok?”. Hedge fund terbesar di dunia selalu low profile karena kekayaan yang berisik mengundang predator yang lebih besar. Kekayaan yang diam mengundang peluang yang lebih besar. Hedonisme membuat seseorang lupa prinsip itu.
Mia menatap saya, berkata “Ayah Ale mendidik kami untuk hidup humble. Semua tim patuh.”
Saya tersenyum kecil. Saya memang tidak pernah menuntut gaya hidup tertentu dari tim. Saya hanya menuntut disiplin. Karena hedge fund adalah seni bertahan hidup. Dan seni itu membutuhkan keheningan, fokus, analisis dingin, pengamatan tajam, kontrol emosi, ketenangan menghadapi volatilitas, kesabaran menunggu momentum. Hedonisme mengacaukan semua itu.
“ Hedge fund adalah dunia para asket modern—para biksu yang berperang melawan volatilitas, bukan melawan dosa. Dan hedonisme adalah musuh yang membuat pedang mereka tumpul.” Kata Florence menyimpulkan. Saya senyum aja.
***
Di balik narasi besar pembangunan dan hilirisasi SDA, Indonesia menghadapi paradoks yang semakin sulit disembunyikan: kerusakan ekologis yang terus meluas dan hutang publik yang membengkak—sementara elite politik hidup dalam kenyamanan yang dibangun oleh eksploitasi jangka pendek. Fenomena ini memiliki satu akar yang sama, yaitu hedonisme politik. Gaya berkuasa yang memprioritaskan kesenangan, elektabilitas, dan patronase, jauh melampaui pertimbangan ilmiah dan keberlanjutan.
Hedonisme politik bekerja dalam diam. Ia tidak hadir dalam bentuk pesta dansa atau sampanye; ia hadir dalam percepatan izin sawit dan tambang di kawasan rawan bencana, proyek mercusuar yang mengabaikan daya dukung lingkungan, eksploitasi mineral untuk mengejar pertumbuhan statistik, dan kebijakan transaksional yang mengubah hutan menjadi rente politik.
Prinsip yang digunakan sederhana, ambil untung sekarang, tanggung jawab nanti. Tapi “nanti” itu selalu datang, dan yang membayar bukan mereka yang menikmati pesta, melainkan publik yang kehilangan rumah, sungai, mata pencaharian, dan masa depan.
Kerusakan ekologis bukan hanya tragedi lingkungan; ia adalah liabilitas fiskal jangka panjang: rehabilitasi DAS, infrastruktur anti-banjir, penanganan longsor dan darurat pangan, biaya kesehatan akibat polusi, kompensasi sosial, penurunan produktivitas wilayah terdampak. Ini semua dibayar oleh APBN, bukan oleh perusahaan atau pejabat yang menguras alam. Dengan kata lain keuntungan diprivatisasi, kerugiannya disosialisasikan. Dalam bahasa akuntansi publik, inilah bentuk paling telanjang dari moral hazard politik.
Ketika politik mengadopsi mentalitas hedonisme, SDA bukan lagi modal pembangunan; ia berubah menjadi alat pembiayaan gaya hidup kekuasaan. Konsesi jadi alat barter politik, hilirisasi dijadikan tameng untuk rente baru, APBN dijadikan sumber subsidi untuk kebijakan populis, dan setiap proyek strategis tiba-tiba menjadi alat pencitraan. Hasilnya, negara kehilangan arah industrialisasi, namun kaya akan kompleksitas rente.
Banjir di Sumatera, longsor di Kalimantan, gagal panen di Jawa, kekeringan di NTT—semua ini bukan sekadar “musim ekstrem”. Ini adalah pembalikan ekologis dari puluhan tahun ekstraksi tanpa kendali. Namun negara memilih narasi aman, “bencana daerah”, bukan nasional. Mengapa? Karena status bencana nasional berarti audit izin sawit, tambang, HTI, food estate, pertanggungjawaban politik, keterlibatan pusat dalam pendanaan, dan tekanan pada oligarki yang menjadi sponsor kekuasaan. Dengan kata lain, status bencana nasional adalah cermin yang tidak ingin dilihat oleh pemerintah.
Di negara yang sehat, kebijakan lahir dari visi. Di negara yang tersandera hedonisme, kebijakan lahir dari transaksi. Hasilnya, ekonomi jalan di atas ekstraksi, bukan produktivitas, politik hidup dari rente, bukan kebijakan, lingkungan meluruh setiap hari, dan masa depan bangsa dijadikan collateral. Indonesia seperti menuju masa depan sambil menginjak tanah yang retak—retak oleh kerakusan mereka yang merasa tidak akan pernah menanggung akibatnya.
Sebagai bangsa besar kita menghadapi satu pertanyaan mendasar, untuk siapa negara ini bekerja? Hingga hari ini, jawabannya masih kabur. Selama hedonisme politik dibiarkan bertumbuh, selama SDA dimonetisasi untuk gaya hidup kekuasaan, dan selama kerusakan ekologis ditutup dengan retorika, maka bencana kita akan terus menumpuk—menjadi hutang raksasa yang diwariskan kepada generasi yang bahkan belum lahir.
Negara boleh sibuk mencitrakan kemajuan, tetapi alam memiliki caranya sendiri untuk menghitung kebenaran. Dan ketika itu tiba, tidak ada pesta politik yang cukup mewah untuk menyembunyikan tagihan ekologis yang jatuh tempo.

Tinggalkan komentar