Indonesia bisa makmur tanpa merusak Alam.

Tahun 2022, Bangkok kembali terasa hangat dan penuh kenangan ketika saya turun dari mobil di depan kediaman Achara. Tiga tahun setelah refinery ginger oil-nya mencapai omzet USD 150 juta per tahun, ia telah menjelma menjadi sosok yang berbeda. Kini dengan aura kepemimpinan yang matang. Namun secara personal tetap sederhana, tetap rendah hati. Ia menyambut saya dengan senyum kecil.

“Pak… saya ingin menunjukkan sesuatu,” katanya.

Ia mengajak saya ke sebuah ruangan kerja kecil di dalam rumahnya. Di meja itu, berserakan lembar-lembar studi pasar, grafik harga minyak avokad, foto kebun avokad di Chiang Mai dan Lampang, serta blueprint kecil mesin cold press extraction.

Saya melihat sekilas. Lalu menatap Achara. “Achara… kamu mau masuk bisnis Avocado Oil?”

Ia mengangguk pelan.

“Demand global untuk extra virgin avocado oil tumbuh 12% per tahun. Industri kosmetik, nutraceutical, skincare, dan health food semua pakai. Harga per kilogram bisa sampai USD 18–22 untuk kelas premium. Per ton bisa USD 18.000–22.000. Dan Thailand punya varietas avokad yang kadar minyaknya tinggi.

” Saya tersenyum kecil. “Kamu sudah menghitung OPEX?”

Ia menyerahkan lembaran: Yield minyak: 8–12%. Annual net margin: 28–32%. Ia memandang saya, dengan mata penuh harap seperti 10 tahun lalu ketika ia meminta saya mengajari membuat minyak jahe.

“Pak… Rara mau ekspansi. Boleh ?”

Saya menarik napas panjang.

‘ Ra, pabrik Avocado Oil tidak bisa berdiri tanpa satu hal yang sering dilupakan banyak pengusaha agrikultur: disiplin hulu. Sebagus apa pun mesin cold press, sehebat apa pun refinery, hasil akhirnya tetap akan seburuk kualitas buah yang masuk ke hopper pencucian. “  Kata saya. Acahara mengerti. Itu sebabnya sebelum memulai konstruksi mini-plant, saya meminta Achara menyusun SOP (Standard Operating Procedure) Kebun Avokad yang harus dipatuhi semua petani.

Achara mengangguk, membawa buku catatan kecilnya.
Saya mulai menjelaskan satu per satu.

1. Varietas Wajib

“Petani tidak boleh asal tanam,” kata saya.
“Kamu tetapkan varietas yang sesuai kadar minyaknya.”

Achara mencatat: Hass – kadar minyak tinggi (18–22%). Fuerte – stabil dan cocok untuk high-oleic oil. Local Chiang Mai hybrid – kadar minyak 15–18%, cocok untuk food-grade. Semua bibit disediakan oleh Achara Natural Oils Nursery agar seragam.

2. SOP Penanaman & Jarak Tanam

Saya jelaskan dengan tegas ” Random planting menghasilkan random yield. Industri tidak bisa jalan kalau supply tidak stabil.”

Standar:

ParameterStandar Industri
Jarak tanam6 × 6 meter
Ketinggian ideal600–1.200 mdpl
pH tanah5.5 – 6.8
NaunganMaks 30% untuk tahun pertama

Petani harus mengikuti layout seperti grid. Mudah dipantau dan mudah dipanen.

3. Pemupukan & Pengendalian Hama.

Jika petani menggunakan pestisida sembarangan, residunya akan merusak proses cold press.
Saya tekankan. “Kamu wajib buat SOP organik ringan. Industri kosmetik nol toleransi.”

Standarnya?  Pupuk dasar: kompos fermentasi + NPK industri.. Pupuk susulan: K-mag untuk tingkatkan kualitas minyak. Pestisida: neem oil, soap spray (larangan total pesticide generasi 2 & 3).
 Achara bahkan membuat “Avocado Care Kit” untuk petani berisi pupuk, panduan, dan jadwal aplikasi.

4. Panen Berdasarkan Dry Matter Analysis

“Ini penting. Petani sering panen karena butuh uang, bukan karena buah sudah siap. Itu bunuh industri,” kata saya.

Standarnya? Kadar bahan kering (Dry Matter) minimal 23–25%. Berat buah minimal 200 gram. Panen tidak boleh dipetik hijau. Petik manual, tidak boleh pakai getok batang.Lalu saya katakana, “Achara, kamu wajib beli portable DM scanner. Training petani sampai mereka hafal angkanya.”

5. SOP Pasca Panen,

Karena proses cold press sensitif terhadap oksidasi, saya tekankan: Buah harus masuk pabrik < 48 jam sejak panen. Tidak boleh disimpan di karung. Suhu penyimpanan 12–15°C. Tidak boleh ada luka mekanis. Achara membuat pusat pengumpulan (collection center) dengan chiller kecil di setiap desa.

6. Traceability — Backbone untuk Ekspor Premium

Saya tahu untuk masuk ke Korea, Jepang, EU, semua harus tertelusur. Saya meminta Achara menerapkan: QR code per batch panen. Nomor kebun, nomor blok, nomor petani. Catatan pupuk, pestisida, dan tanggal panen
 “Kamu bangun sistem dari awal. Seperti kamu bangun refinery dulu,” kata saya. Achara mengangguk dengan mata berkilat.
Ia selalu tergerak kalau bicara integritas dan kualitas.

Selanjutnya saya minta Achara ikut training di Yuan Agro di Wuhan China.

***

Tahun 2024. Suatu pagi di Chiang Mai, saat kami berdiri di tepi kebun percobaan seluas 5 hektar, saya berkata kepada Achara: “Kalau hulu tidak disiplin, hilir akan cacat. Kamu butuh rantai pasok yang bisa dipercaya, bukan yang bisa dikasihani.”

Setelah selesai inspeksi kebun, kami duduk di sebuah gubuk kayu kecil, ditemani teh panas dan angin gunung Chiang Mai. Achara berkata pelan “Pak… saya tidak menyangka semua ini bisa sejauh ini. Dulu saya hanya gadis yang berharap Bapak beri saya arah.”

Saya memandang bukit-bukit hijau.

“Achara, kamu punya sesuatu yang pengusaha besar sering hilangkan:
kesabaran untuk belajar dan keberanian untuk jujur.”. Lalu saya tambah “Hulu ini bukan tentang avokad. Ini tentang manusia. Tentang mengangkat martabat petani Thailand agar mereka bermain dalam standar global.”

Ia menunduk.

“Saya akan pastikan semua petani ikut SOP. Saya akan jadi orang yang Bapak didik.”

Saya tersenyum kecil. “Jangan jadi seperti saya. Jadilah lebih baik.”

**

Tahun 2025.

Sore itu di kantor Perwakilan Yuan di Jakarta, saya menemui Achara di ruang meeting. Ini formal. Karena posisinya sebagai CEO Unit Business Yuan bidang Agro. Ia masuk dengan map tebal berisi rancangan teknis, finansial, dan simulasi pasar. Wajahnya tidak lagi ragu seperti dahulu — kini ia membawa langkah seseorang yang tahu persis apa yang ia perjuangkan.

Ia duduk perlahan lalu berkata “Pak B… saya ingin membangun pabrik avocado oil skala industri. Hulu sudah siap. Petani sudah menguasai teknologi tanam. Saya ingin hilirisasi yang terintegrasi.”

Saya menatapnya lama.
Ada keheningan pendek sebelum saya menjawab “Sudah waktunya, ya?”

Achara mengangguk.

“Ya, Pak. Tiga tahun ini petani berubah total. Mereka tidak lagi bertani karena terpaksa.
Mereka bertani karena bangga. Selama ini offtake market buah alvocado mereka adalah afiliasi Yuan. Di ekspor ke  China, Jepang , EU dan Korea. Kini mereka inginkan pabrik ada dekat mereka.”

Ia membuka mapnya dan memperlihatkan growth curve: Produktivitas kebun meningkat 42%. Kadar minyak rata-rata buah naik dari 14% menjadi 19%. Shrinkage pasca panen turun 30%. 100% petani lulus audit traceability/


Saya membolak-balik dokumen itu sambil berkata “Ini bukan lagi bisnis kecil, Achara.
Ini supply chain yang bisa bertahan puluhan tahun.”

“Kenapa kamu ingin bangun industri?” Pertanyaan saya sederhana, tapi jawabannya tidak.

Achara menarik napas. “Karena petani sudah berlari sejauh yang mereka bisa.
Sekarang hilir harus hadir untuk mengikat harga mereka.” Ia melanjutkan dengan suara lebih mantap “ Saya ingin keadilan bagi petani. Agar mereka juga merasakan nilai tambah lewat kenaikan harga dan kepastian market.”

Saya tersenyum.
“Inilah yang saya tunggu dari kamu. Niat hebat yang harus diperjuangkan. “ kata saya. “ Ok lanjut.”

Achara membuka blueprint-nya.
Tidak main-main. Ia sudah mempelajari pabrik-pabrik terbaik dari Meksiko, Kenya, Peru, hingga Australia.

1. Teknologi: Industrial Cold-Press Extraction

Standar mesin: Temperature-controlled screw press (maks 45°C). 3-stage centrifugal oil separator. Vacuum dehydration chamber. Inline micro-filtration system (0.2–0.45 micron). “Tujuannya,” kata Achara,
“supaya minyak tidak rusak, tidak oksidatif, dan tetap emerald green.”

Saya mengangguk.

2. Refinery & Fractionation Unit

Ia menjelaskan: Degumming. Neutralization. Deodorization. Winterization
 “Ini membuat produk kita masuk sektor kosmetik high-end. Margin-nya 7 kali lipat dari food-grade.”

Ia bicara seperti industrialist yang sudah 10 tahun menjalani bisnis ini.
Saya bangga,  tapi tidak menunjukkannya.

3. Kapasitas Produksi

Input buah: 10 ton per hari.Output minyak: ±1.8 ton per hari. Projected revenue: USD 40–60 juta per tahun. EBITDA margin: 28–34%
 Angka itu realistis.
Tidak berlebihan.
Tidak dibuat untuk memuaskan investor, tapi untuk memuaskan akal sehat.

Untuk mengamankan pertumbuhan jangka Panjang. Achara juga memasukan dalam business plan nya program akuisisi 2 perusahaan kosmetik organik di Korea & California.
Mereka pemakai besar avocado oil untuk: Skin serum, Herbal moisturizer, Hair oil, Natural anti-aging line
 “Rencana akuisisi itu terkait structure Merger lewat SPAC yang akan listed di Nasdaq parallel. Kita punya ecosystem value dan harga saham akan tinggi.” Katanya.

Saya tersenyum.

“ Pak “ serunya. “ Saya butuh anggaran semua USD 500 juta. “ katanya pelan.

Saya hubungi Mia di Ale Capital Zurich. Dia siap memberikan pinjaman lewat MCN, untuk program pembangunan industry hulu dan akuisisi hilir

“ Ra kamu kenal kan dengan Mia?

“ Ale Capital? Suaranya terdengar familiar.

“ Ya. Temui Mia. Dia akan jadi team kamu untuk pembiayaan. “ Kata saya.

“ Siap pak”  

Achara menutup mapnya. “Pak… terima kasih. 15 tahun lalu saya hanya ingin membantu keluarga saya.
Sekarang saya ingin mengubah kehidupan ribuan keluarga.”

Ia menatap saya sambil menahan emosi.

“Semua ini karena Anda memberi saya kesempatan waktu itu.
Anda tidak pernah memandang saya sebagai orang kecil.”

Saya menjawab pelan “Orang kecil, Achara, bukan karena harta.
Orang kecil adalah mereka yang berhenti bermimpi.”

Ia menunduk.

“Kalau begitu,” katanya sambil tersenyum tipis, “izinkan saya bermimpi lebih besar.”

Saya berdiri, meraih mapnya, dan berkata. “Bangunlah pabrik itu. Ekosistem bisnis Yuan mendukung baik financial, teknologi maupun market”

Achara menatap saya dengan mata berair. Di momen itu, saya tahu. Perempuan ini tidak lagi hanya mengolah minyak.
Ia sedang mengolah masa depan bangsanya.

**

Indonesia terlalu lama dipenjara oleh paradigma using,  bahwa kemakmuran lahir dari menebang lebih banyak, menggali lebih dalam, dan mengekspor lebih cepat. Padahal dunia sudah berubah. Yang menang hari ini bukan lagi negara yang punya SDA paling besar—tetapi negara yang mampu menciptakan nilai tambah paling tinggi dari SDA yang paling kecil. Dan di sinilah ironi besar Indonesia terlihat dengan telanjang.

Bandingkan, CPO (minyak sawit), harga ± USD 1.000 per ton,
membutuhkan jutaan hektar lahan, deforestasi, konflik tanah, dan rantai oligarki panjang.
Nikel laterit, harga semakin jatuh karena oversupply, margin tipis, polusi ekstrem, limbah tailing, dan risiko stranded asset.


Lalu kita lihat sesuatu yang sederhana… Avocado oil, ginger oil, lemongrass oil, patchouli, citronella → harga USD 20.000–52.000 per ton,
dapat diproduksi dari kebun rakyat, tanpa merusak hutan, tanpa membakar gambut, tanpa menggeser desa.
 Itu fakta.
Nilai tambah agro-industri 20–50 kali lipat lebih tinggi dibanding komoditas tambang dan perkebunan monokultur.

Tidak perlu smelter miliaran dolar.
Tidak perlu konsesi raksasa.
Tidak perlu truk-truk menggila di tambang. Yang dibutuhkan hanya budaya pertanian yang benar (SOP, traceability, hygiene). Mini refinery di setiap distrik. Rantai pasok terstandardisasi. Kepastian pasar industri global. Pemberdayaan jutaan rumah tangga petani. Dan itu cukup untuk menciptakan ekosistem pertumbuhan inklusif—sesuatu yang tidak pernah mampu diberikan oleh sawit atau nikel.

Mengapa oligarki Indonesia tidak suka Agro-Industri? Jawabannya sederhana:
agro-industri tidak kompatibel dengan mentalitas rent-seeking. Tidak bisa monopoli lahan. Tidak bisa kuasai izin tambang. Tidak bisa main harga dari hulu ke hilir. Tidak bisa menciptakan sistem rente yang menjerat rakyat.

Bisnis seperti avocado oil atau ginger oil justru mendistribusikan nilai ke petani, bukan ke konglomerat,
 mengandalkan pengetahuan, bukan kekuasaan, tumbuh lewat inovasi, bukan konsesi.


Karena itu, sebagian besar pengusaha Indonesia tidak tertarik.
Mereka lebih nyaman menjadi broker SDA, bukan industrialist. Mereka menanam sawit karena malas.
Mereka menambang nikel karena butuh cepat balik modal.
Mereka menggusur hutan karena itu shortcut menuju untung besar. Itulah mengapa Indonesia kaya SDA tetapi miskin nilai tambah.

Jika Indonesia ingin keluar dari jebakan negara ekstraktif, maka industrialisasi agro harus menjadi strategi nasional, bukan sekadar wacana akademik. Model industrialisasi avocado memberikan pelajaran jelas: Tidak perlu lahan luas. Tidak perlu hutang jumbo. Tidak perlu pembakaran hutan. Tidak perlu smelter yang beracun. Bisa dikerjakan oleh jutaan keluarga petani. Menciptakan pendapatan yang stabil dan berulang.

Ini bukan mimpi.
Ini sudah terjadi di Kenya, Meksiko, Peru, Thailand, dan kini bahkan Rwanda. Di negara-negara itu, avocado, ginger, dan essential oil telah menjadi motor ekspor, sumber lapangan kerja, jaminan stabilitas ekonomi desa. Sementara Indonesia?
Masih sibuk memuja hilirisasi nikel yang telah sunset bahkan sebelum matang.
Masih bangga dengan sawit sementara dunia perlahan meninggalkannya.
Masih percaya bahwa buldoser dan chainsaw adalah alat pembangunan.

Nilai tambah terbesar Indonesia bukan ada di perut bumi,
tetapi ada pada kemampuan rakyat mengolah tanah tanpa merusaknya.

Kita bisa memilih masa depan yang berbeda: masa depan petani, bukan konsesi, masa depan industri hijau, bukan ekstraksi gelap
, masa depan inklusif, bukan oligarkis, masa depan di mana ekonomi tumbuh tanpa mengorbankan hutan, gambut, dan sungai
 Agro-industri adalah jalan yang tampak sunyi,
karena oligarki tidak berdiri di belakangnya. Tetapi justru di jalan sunyi itulah
Indonesia bisa menemukan kemakmurannya yang paling besar.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca