
Pertemuan itu terjadi di Marina Bay, Singapura. Bukan karena direncanakan, tetapi karena hidup kadang mempertemukan manusia di titik tertentu ketika waktunya memang sudah matang. Saya bertemu Amel lagi di sana. Sahabat lama sejak 1983. Kami pernah melalui masa ketika dunia masih sempit, jalanan masih menjadi universitas, dan harapan masih sesuatu yang harus direbut, bukan ditunggu.
Kami sempat terpisah lama oleh waktu. Lalu 2008, di tengah riuh krisis subprime, dia muncul kembali di Hong Kong. Saat itu dia sedang menggalang dana. Menggiring modal dari berbagai penjuru dunia. Ia bermitra dengan mantan banker plat merah yang paham betul bagaimana darah mengalir dalam pembuluh sistem keuangan.
Kini Amel telah menjelma menjadi arsitek portofolio. Bukan hanya bisnis. Tapi struktur kuasa finansial. Memimpin sebuah holding company di Singapore yang membawahi perusahaan-perusahaan yang sahamnya terpampang di layar bursa. Kami berjanji bertemu sore itu di lounge Marina Bay, untuk sekadar minum kopi.
Saat itu, saya sedang berbincang dengan David. Seorang sahabat lama, pengusaha pabrikan di Tangerang. Orang yang hidupnya tidak di grafik, tapi di suara mesin, di bau logam panas, di keringat para pekerja. Amel datang. Tenangnya seperti seseorang yang telah terlalu lama berenang di laut ilusi, hingga ombak tidak lagi bisa mengguncangnya.
“Siapa ini, Ale?” tanya David.
“Adik saya,” jawab saya singkat, sambil menceritakan sedikit jejak bisnisnya di Singapura.
David mengangguk pelan.
Lalu ia bertanya, pelan tapi penuh muatan “Kenapa sekarang banyak perusahaan yang fundamentalnya lemah… asetnya kecil… cashflow-nya rapuh… tapi market cap-nya bisa puluhan triliun? Ini sudah tidak rasional.”
Amel tersenyum samar. Senyum orang yang sudah melihat terlalu banyak angka berjalan tanpa jiwa.
“Itu bukan irasional,” katanya. “Itu desain.”
Ia mengambil tisu di meja, menggambar sebuah lingkaran kecil. “Anggap ini kolam, bukan laut lepas. Tenang terlihat… tapi mudah diaduk.”
Lalu ia menulis. Market Cap = Harga Saham × Total Saham Beredar
“Masalahnya bukan pada rumus,” katanya, “tapi pada realitas di balik angka. Siapa yang membeli… dan berapa persen saham yang benar-benar bebas diperdagangkan.”
Amel menatap David.
“Kalau free float hanya 3–8 persen, menggerakkan harga itu seperti mengaduk ember, tapi diklaim seperti menggerakkan samudra. “ kata Amel
David mengernyit.
“Jadi mereka tidak membangun nilai, hanya membangun persepsi?”
“Persis,” jawab Amel.” Harga naik. Bukan karena value. Tapi karena kelangkaan buatan diciptakan. Itulah dunia bursa. Bukan tentang kebenaran, tetapi tentang persepsi yang dipercaya bersama. Dan persepsi itu kemudian dipakai untuk leverage.”
Ia menjelaskan bagaimana saham yang sudah melonjak itu dibawa ke bank atau LK untuk repo, untuk loan, untuk penerbitan convertible bond. Money real keluar, berbasis angka yang bisa runtuh kapan saja.
Saya menambahkan. “Di sinilah tragedinya, David. Bursa sering bukan cermin nilai. Tapi panggung teater. Dan banyak orang keliru mengira panggung itu adalah realitas.”
“Lalu kenapa bank atau LK mau bermain?” tanya David.
Saya tersenyum tipis. “Karena semua diuntungkan selama pesta belum usai.” Jawab saya cepat. ” Bank hidup dari fee dan interest kredit. Underwriter hidup dari fee IPO. Asset manager hidup dari management fee. Tak ada yang dibayar untuk mencegah gelembung meledak. Semua dibayar untuk meniupnya lebih besar.”
David menatap kami lagi. “Tapi kenapa banyak saham yang dulu disebut bluechip, akhirnya tinggal gocap?” tanyanya.
Amel diam sejenak. Seperti seorang pelaut sebelum menyebut nama badai. “Karena permainan dimulai sejak book building pra-IPO.” Jawab Amel.
Amel menjelaskan. “ Dalam teori pasar modal, book building adalah proses untuk menemukan fair price sebelum IPO. Langkah formalnya pertama, underwriter dan emiten menentukan price range (misal: Rp 900 – Rp 1.200). Kedua, underwriter melakukan roadshow ke investor institusi. Ketiga, investor menyampaikan indication of interest (IOI) misal, berapa lot? Di harga berapa? Semua minat beli dikumpulkan dalam order book. Dari sana ditentukan harga final IPO. Secara ideal, harga final adalah hasil permintaan real market, bukan kehendak emiten.
Masalahnya bukan di tabel atau sistemnya. Masalahnya terjadi pada siapa yang mengisi order book. Ada tiga distorsi utama. Pertama. Permintaan Titipan atau Artificial Demand. Dalam praktik, sebagian order di fase book building tidak selalu berasal dari investor independen.Yang terjadi di balik layar sering seperti, ada pihak afiliasi pemilik lama, ada fund tertentu yang sudah “sepakat” sebelumnya dan ada nominee account atau investor pinjaman nama.
Mereka diminta masukkan order beli besar di harga atas. Tujuannya, menciptakan kesan bahwa saham ini oversubscribed. Padahal permintaan itu bukan minat investasi jangka panjang, melainkan bagian dari konstruksi ilusi harga.
Kedua. Secara teknis, oversubscription artinya, total permintaan > Total saham yang ditawarkan. Namun dalam praktik, oversubscription itu bisa tercapai karena adanya rrder investor asl, order titipan, order dari entitas internal atau pinjaman nama. Angka oversubscription tetap valid secara administratif, tapi secara substansi bukan refleksi demand riil. Mirip antrian yang panjang karena sebagian orang di dalam barisan adalah “figuran”.
Secara resmi, Standby Buyer diperkenalkan sebagai pihak yang siap membeli saham bila pasar tidak menyerap. Namun secara teknis di banyak kasus abu-abu. Standby Buyer justru berfungsi sebagai pembentuk ilusi demand, penunda risiko distribusi ke publik, penjaga pintu exit bagi pemilik lama. Karena mereka tidak masuk untuk memegang jangka panjang. Mereka sudah punya exit strategy dari awal. Mereka hanya menjaga stabilitas awal harga pasca IPO. Setelah likuiditas masuk dan investor ritel berdatangan, mereka mulai mendistribusikan sahamnya ke pasar.
Ketiga. Di sinilah skema menjadi lebih “finansial” dan berlapis. Biasanya sebelum IPO, Perusahaan sudah menerima pinjaman dalam bentuk Convertible Bond atau Mandatory Convertible Notes atau Structured Loan dengan opsi konversi saham. Harga konversi sering dikaitkan dengan harga IPO. Atau harga rata-rata setelah listing.
Jika harga IPO berhasil didorong tinggi lewat book building, maka harga konversi juga otomatis tinggi. Kreditur seperti mendapat saham premium. Namun begitu saham hasil konversi masuk pasar. Jumlah saham beredar meningkat ya dilusi. Supply melonjak, otomatis tekanan jual meningkat. Harga runtuh secara structural. Publik baru sadar setelah saham anjlok, padahal kerusakan sudah terkunci sejak fase book building.”
“ Jadi kenapa saham bisa jatuh sampai Gocap. Itu karena harga awal bukan hasil fundamentals, tapi konstruksi demand. Setelah standby buyer keluar. Hutang konversi menjadi saham. Lock-up period selesai. Pasokan saham membanjir. Tidak ada cukup pembeli alamiah untuk menyerap supply. Ya, pasar mengoreksi ke harga wajar (bahkan sering over-correction). Yang tersisa, bukan valuasi perusahaan, tapi reruntuhan ilusi harga.” Kata David menyimpulkan.
Saya menambahkan. “ Dalam dunia bursa, harga bukan selalu refleksi nilai. Harga sering hanya refleksi kekuatan narasi dan distribusi kekuasaan informasi. Dan yang paling tragis adalah pasar tidak menghukum kebohongan dengan cepat, tapi selalu pasti, dengan cara yang brutal.
David menghela napas. “Jadi harga gocap itu bukan kegagalan pasar, tapi epilog dari sebuah drama yang sudah diskenario?”
Saya mengangguk. “Gocap itu bukan sekadar harga, tapi harga dari sebuah ilusi yang sudah kadaluarsa.” Jawab saya menegaskan.
Amel menambahkan pelan. “Di bursa, yang bertahan bukan yang paling pintar menghitung, tapi yang paling mampu membaca panggung. Trading bukan soal grafik semata. Ia soal manusia. Ketamakan. Ketakutan. Dan harapan yang dimanipulasi.”
“Dalam dunia trading, harga bukan hasil nilai. Tapi hasil pertarungan emosi kolektif. Dan siapa yang menguasai narasi, menguasai arus.” Sambung saya.
David terdiam lama. “Saya puluhan tahun membangun pabrik, mengurus karyawan, memperjuangkan margin operasional… sementara kalian menggerakkan nilai hanya lewat persepsi.”
Saya tersenyum pelan.
“Bedanya sederhana, David. Kamu membangun dunia nyata. Kami… mengarungi dunia bayangan.”
David berdiri dan minta permisi untuk pergi karena ada urusan lain.
Tinggal saya dan Amel. Di antara kami, menggantung satu kenyataan getir. Di dunia bursa, yang paling berbahaya bukanlah kerugian, melainkan keyakinan palsu bahwa harga selalu mencerminkan nilai.
***

Kami pindah ke bar. Lampu kuningnya redup, bukan karena sengaja diredupkan, tetapi karena memang hidup selalu lebih jujur dalam remang. Gelas-gelas kaca beradu pelan, seperti bunyi waktu yang dipukul tak pernah pecah. Amel memesan sebotol tequila. Tanpa basa-basi. Tanpa ragu. Saya mengerutkan dahi. Dalam hatiku hanya satu kalimat: “Kalau Amel sudah pesan tequila, bukan wiski yang sedang dia minum, tapi rasa bersalah.”
Dia membuka botol itu sendiri. Bukan bartender yang menuang. Seperti biasa, dia ingin berkuasa bahkan atas kadar alkohol yang masuk ke tubuhnya. Awalnya percakapan hanya permukaan. Tentang cuaca. Tentang dollar. Tentang harga komoditas yang naik turun seperti napas investor di tengah krisis. Lalu perlahan suaranya berubah. Lebih serak. Lebih lambat. Lebih jujur.
Matanya menyipit. “Aku jahat, bang Ale… jahat.” Katanya.
Saya tidak langsung menjawab. Saya sudah lama belajar. Kalau seorang predator mulai mengaku, itu bukan karena dia ingin diselamatkan, tapi karena dia sudah lelah dengan topengnya sendiri.
Ia tertawa kecil. Tertawa yang tidak lagi terdengar seperti kemenangan. Lebih seperti derit besi yang berkarat karena terlalu lama menahan beban.
Ia mulai bercerita. Tentang bagaimana ia membangun kerajaan, bukan dari tanah dan batu bara, tapi dari struktur dan celah hukum. Tentang bagaimana “perampokan perusahaan listed punya sendiri” paling sempurna bukan dilakukan dengan senjata, tetapi dengan akta notaris. Tentang perusahaan cangkang yang berdiri rapi di atas kertas, tentang kontrak jasa yang nilainya puluhan juta dolar, yang sebenarnya hanya fatamorgana bertanda tangan. Tambang yang diakuisisi dengan dana investor. Konsultan yang dibayar mahal, namun itu dirinya sendiri dalam wajah yang disamarkan legalitas.
Uang mengalir berputar seperti sungai. Masuk ke tambang. Keluar ke perusahaan jasa. Kembali ke rekening pribadinya. Legal. Bersih di atas kertas. Busuk di dalam hakikat.
“Kerugiannya?” Amel tersenyum pahit. “Selalu bisa dibagi–bagi: ke investor, ke bank, ke publik, ke negara. Aku hanya ‘mengatur struktur’.”
Lalu ia berbicara tentang zaman baru: zaman unicorn, zaman green economy. “Sekarang tidak perlu bisnis real, Ale,” katanya. “Cukup cerita. Cerita tentang masa depan. Kadang tidak perlu laba. Tidak perlu pelanggan. Cukup narasi.”
Startup rugi dipoles jadi masa depan bangsa. Valuasi bukan dicetak dari kinerja, tapi dari ekspektasi yang dibius euforia. Exit bukan lewat laba, tapi lewat IPO, lewat merger sesama perusahaan rugi, lewat dumping saham ke investor ritel yang membeli mimpi tanpa membaca catatan kaki.
“Dulu kita jual barang,” katanya lagi. “Sekarang kita jual ilusi.” Dan publik membelinya karena dunia selalu lebih suka mimpi daripada kenyataan.
Ia juga bicara tentang bank daerah. Bagaimana segelintir orang menguasainya lewat jalur politik dan kepemilikan silang. Bagaimana dana publik disedot lewat kredit properti yang dimark-up dua kali lipat. Jika gagal bayar, negara masuk sebagai pemadam kebakaran, bailout demi stabilitas, sementara pelakunya sudah menghilang dalam struktur offshore yang bahkan Tuhan pun mungkin malas melacaknya.
Aku menatap gelas di depanku. Cairan bening itu memantulkan wajahku yang tidak sepenuhnya bersih namun juga tidak sehitam pengakuannya. Lalu Amel berkata pelan, nyaris seperti berdoa. “Ale… kita ini serigala. Tapi ada serigala yang rakus, dan ada serigala yang tahu batas. Aku takut aku sudah terlalu lama lupa batas itu.”
Dan di sanalah saya paham. Bahwa tragedi terbesar dalam kapitalisme bukanlah ketidakadilan, melainkan ketika orang sadar ia bagian darinya, namun tidak tahu lagi bagaimana keluar.
Saya tidak menghakiminya. Saya juga bukan malaikat. Saya hanya duduk, menjadi saksi seorang manusia yang perlahan kalah bukan oleh pasar, tetapi oleh nurani yang terlambat bicara.
Di luar, lampu jalan tetap menyala. Lalu lintas tetap berjalan. Pasar besok tetap buka. Dan dunia, seperti biasa, tetap memilih lupa agar bisa terus bermimpi.
**
Ya bagaimanapun Amel sudah seperti adik saya. Dia yatim piatu. Dari sejak usia 17 tahun saya membinanya, namun berlalunya waktu dia berkembang mandiri, jauh dari jangkauan saya. Saya hanya jadi penonton. Saya yakin suatu waktu Amel pasti akan datang menemui saya. Dia tidak pernah menikah. Di dunia ini hanya saya keluarganya. Tahun 2024 dia menyerah. Akhirnya Holding Amel diakuisisi oleh Yuan Holding. Dia tetap CEO. Namun sejak itu Amel harus mengikuti standar bisnis Yuan, standar ESG, Environmental, social and governance dengan VISI, people, planet and profit. Setidaknya di masa tuanya dia di bawah pengawasan saya. Dia akan baik baik saja.

Tinggalkan komentar