Mengubah business model.

Tahun 2010 adalah tahun ketika dunia baru bangkit dari krisis 2008. Modal global kembali bergerak, tetapi berhati-hati; setiap peluang akuisisi menjadi berlian langka. Dan saya sedang memburu salah satu berlian itu,  sebuah proyek di Dubai, valuasi USD 1,2 miliar, milik group yang setengah bangkrut karena kredit macet.

Para calon investor utama berasal dari Rusia, konglomerat energi dan logistik yang tidak menyukai bahasa Inggris. Mereka lebih percaya pada bahasa ibu, pada struktur kalimat yang mereka pahami, pada negosiasi yang berlangsung dalam dialek dan intonasi yang mereka kuasai. Saya harus terbang dari Beijing ke Moscow dengan persiapan minim. Sekretaris saya kembali ke Hong Kong, sementara peluang meeting datang mendadak. Menolak berarti kehilangan momentum.

Di Beijing, seorang teman memperkenalkan saya pada seorang penerjemah lepas. Wanita muda berdarah campuran. Ayah Korea, ibu Rusia. Namanya Yana. Ia bisa bahasa Rusia dengan logat asli Moskovite, cukup fasih berbahasa Inggris. Dari profile nya yang saya terima dari Agent. Ternyata ia bekerja di sebuah KTV musisi, tempat para perempuan memainkan biola, saksofon, gitar maupun organ, sambil melayani tamu kelas atas. Di KTV berkelas, semua LC adalah sarjana atau well educated.

**

Kami tiba di Moscow malam hari, udara dingin memotong wajah seperti pisau tipis. Di hotel bintang lima tempat saya menginap, staff membawa koper sementara Yana berjalan terpaku, seperti seseorang yang tidak percaya berada di ruangan semewah itu. Begitu pintu tertutup, saya langsung tahu bahwa ia gugup.
Sangat gugup.

Ia berdiri tegak di dekat dinding. Tidak langsung duduk. Standar kesopanan professional yang dia pelajari akademi kepribadian.Ia menanti saya persilahkan duduk .

“Silakan duduk,” kata saya sambil membuka laptop.

 “Terimakasih.” Dia tersenyum. Lalu dengan suara yang terlalu spontan, ia menambahkan,  “Dan tentunya saya akan tidur bersama Anda.”

Saya menoleh cepat.

“Tidak. Kamu tidur di sebelah.”
Saya menunjuk pintu kecil di samping minibar.
“Itu connecting room. Kamu di sana.”

Yana membuka pintu kamar sebelah dan hampir ternganga.

“Ini… wow. Ini lebih besar dari apartemen saya di Beijing.”

Saya hanya tersenyum tipis lalu kembali ke laptop. Saya memberikan daftar link website Rusia yang memuat laporan bisnis, data keuangan grup konglomerat, dan berita lokal terkait dinamika pasar minyak. Yana bekerja cepat; jari-jarinya menari di atas keyboard seperti pemain musik profesional. Sementara itu saya sibuk menelepon relasi di Dubai, mengatur ulang capex model, dan memastikan angka arus kas tidak terlihat terlalu agresif di mata investor Rusia yang terkenal konservatif. Setelah dua jam, saya bersiap untuk makan malam dengan salah satu komite keluarga konglomerat.

Ketika saya melihat Yana, saya mengerutkan kening.

“Mau makan malam atau mau dugem kamu?”
Pakaian yang ia pakai: rok mini hitam, atasan renda yang terlalu ketat, stoking panjang sampai paha.


Yana tampak bingung, tapi jujur.
“Ini… yang terbaik yang saya punya.”

Ia bahkan menarik roknya sedikit. Gerakan itu… tidak perlu, dan justru membuat saya melihat g-string-nya. Saya menarik napas panjang, menahan emosi bisnis yang harus tetap profesional.

“Sudah. Ikut saya.” Saya menggenggam pergelangan tangannya dan membawanya turun ke butik mewah di lantai bawah.

“Pilihkan gaun malam untuk wanita ini,” kata saya pada pramuniaga.
Sambil menyerahkan kartu kredit.

Makan malam berlangsung lancar. Investor senang karena saya membawa penerjemah dengan logat Rusia yang sempurna. Negosiasi malam itu membuat saya mendapat undangan rapat lanjutan — progres signifikan untuk akuisisi.

Pulang ke hotel, Yana tampak ceria, mungkin lega karena malam berjalan baik. Begitu masuk kamar, hal yang saya tidak duga terjadi. Ia langsung melepaskan gaun malamnya di depan saya.
Tanpa ragu.
Tanpa canggung. Tubuhnya kini hanya ditutupi stoking dan pakaian dalam tipis.

“Ini gaunnya, saya kembalikan,” ujarnya sambil menyerahkan pakaian itu kepada saya.

Saya hampir menjatuhkan gelas minuman.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Bukankah… ini hanya untuk malam ini?”

Saya menghela napas.

“Itu bonus untuk kamu. Simpanlah.”

Ia terkejut. Matanya melebar.
Kemudian saya berkata:

“Silakan kembali ke kamar kamu. Selamat malam.”

Tapi ia tidak bergerak.

Dengan suara kecil, rapuh, “Tapi kontrak saya… termasuk melayani Anda… di tempat tidur.”

Itu adalah kalimat yang paling jujur — dan paling menyayat — malam itu. “Tidak usah. Kamu tidur saja.”

Ia menunduk… lalu menangis.
Pelan, tapi nyata. Saya diam beberapa detik.
Tangis perempuan dewasa berusia 30 tahun bukan tangis manja.  Itu tangis seseorang yang tahu dunia sudah lama tidak memberi ruang untuk pilihan.

“Ada apa?” tanya saya akhirnya.

Yana menutup wajahnya, suaranya bergetar:

“Saya janji pada diri saya… saya akan berhenti dari pekerjaan KTV. Saya ingin hidup normal.
Tapi saya sudah tiga bulan tidak dapat klien yang serius.
Umur saya sudah 30…
dan di dunia saya… itu sudah terlalu tua.”

Saya tidak berkata apa-apa.
Kadang diam lebih menghargai manusia daripada seribu nasihat. Ia akhirnya menghapus air matanya dan kembali ke kamarnya melalui connecting door. Pintu menutup pelan.
Sunyi. Dan malam Moscow terasa lebih dingin dari suhu di luar.

**

Setelah meeting terakhir dengan komite investor Rusia, saya dan Yana kembali ke Beijing. Di bandara Sheremetyevo, salju turun halus seperti debu kaca, menempel di jendela pesawat Aeroflot yang akan membawa kami kembali ke Asia. Begitu pesawat lepas landas dan stabil di ketinggian jelajah, lampu kabin diredupkan. Penumpang lain mulai tertidur atau sibuk dengan layar hiburan. Yana duduk di samping saya, tubuhnya lebih tenang dari dua hari terakhir. Tapi ada sesuatu di matanya malam itu. Campuran penasaran, kecemasan, dan keberanian kecil yang ia kumpulkan sejak pagi.

Dengan sangat hati-hati, ia membuka percakapan.

“Sir… boleh tanya?”

Saya menoleh sedikit. “Ya?”

Ia menarik napas, seperti hendak masuk ke wilayah yang bukan seharusnya ia masuki.

“Saya terjemahkan berita tentang perusahaan Rusia yang menang tender pembangunan pipa gas itu.” Ia menatap ke luar jendela, seolah mengatur ulang pikirannya.
“Dan waktu makan malam… saya dengar Anda komit keluar uang kepada perusahaan itu sebelum mereka masuk bursa. Pre-purchase agreement, right?”

Saya menatapnya. Wanita ini jauh lebih cerdas daripada impresi awalnya.

“Betul,” jawab saya pendek.

“Dan itu barter, ya?” katanya pelan. “Acquisition payment untuk Dubai ditukar dengan saham perusahaan Rusia yang akan naik ketika IPO.”

Saya masih menatapnya.
Ia bicara dengan ketelitian seorang analis, bukan penerjemah KTV.

“Ya,” ulang saya. “Kamu paham.”

Yana tersenyum kecil, senyum orang yang tahu ia baru menjelajah ruang yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Besoknya tim Anda bekerja seperti mesin.” Ia melanjutkan.
“Legal document, konfirmasi loan dari Eropa, dokumen pemenang tender, commitment letter dari bank untuk injeksi dana sebelum IPO… semua lengkap.”

Ia melirik saya dengan mata yang tajam tetapi tidak menghakimi.

“Secara teori, perusahaan Anda sudah memenuhi syarat financial closing. Investor tinggal tunggu kontrak pipa gas ditandatangani. Setelah itu dana cair, struktur jadi hidup. Benar begitu?”

“Benar.”
Saya bahkan sedikit terkejut bagaimana ia menyerap semua itu hanya dalam tiga hari. Ia terdiam sejenak, seperti memproses kenyataan yang lebih besar dari dirinya.

“Tiga hari itu… saya seperti tinggal di surga,” katanya lembut.
“Hotel mewah, mobil limousine, makan malam di tempat yang saya tidak pernah bayangkan. Tetapi…” ia berhenti sebentar, tersenyum getir, “…saya tidak ingin kaya seperti itu.”

Saya menatapnya. “Mengapa?”

Yana mengusap rambutnya, mengingat sesuatu yang jelas membekas di kepalanya.

“Waktu di KTV,” katanya pelan,
“saya mendekat ke meja Anda karena saya pikir Anda butuh penerjemah. Ternyata… pria Rusia itu bisa bahasa Inggris.”

Ia menelan ludah, lalu melanjutkan.

“Saya dengar dia bilang, kontrak pipa gas itu pasti gagal dieksekusi. Karena pembangunan pipa akan buat Suriah kacau. Pemerintahnya tidak stabil.”

Ia berhenti, menatap saya lebih dalam.

“Dan sahabat banker Anda itu… dia bilang White House sudah memerintahkan Arab mendukung oposisi agar Bashar jatuh. Turki juga ikut.”

Saya terdiam.
Yana telah mendengar percakapan paling sensitif dari keseluruhan operasi.

Lalu ia menambahkan, menirukan tawa kami malam itu. “‘We don’t care fucking politic. We just make money.’
Begitu kalian bilang.”

Nada suaranya bukan mengejek. Lebih seperti seseorang yang baru memahami realitas yang lebih kelam dari yang ia bayangkan.

“Kalian tertawa. Dan bilang Arab di Dubai itu akan kehilangan kapal dan bunker oil mereka karena membeli persepsi.”

Ia memandang saya lama.

“Saya pikir hidup saya kotor sebagai perempuan KTV.
Tapi ternyata ada yang lebih kotor dari saya. Para pengusaha lintas benua, politisi, lawyer, fund manager.
Dunia kalian jauh lebih gelap.
Lebih licik.
Lebih berbahaya.”

Ia tersenyum kecil. Senyum yang tulus, tidak pahit.

“Tapi…”
matanya melembut,
“walau begitu, saya dapat pencerahan.
Bahwa di balik kerakusan, masih ada sisi kemanusiaan.
Karena Anda memperlakukan saya bukan sebagai barang.
Saya… berterima kasih.”

Saya hanya tersenyum.
Tidak membantah, tidak menjelaskan. Ia tidak tahu,
bahwa ratusan juta saham yang diperdagangkan setiap hari,
yang membuat orang tiba-tiba kaya atau tiba-tiba miskin,
itu bukan karena realitas. Semua itu terjadi
karena persepsi. Harga adalah persepsi.
Nilai adalah persepsi.
Stabilitas politik adalah persepsi.
Kekuasaan pun persepsi. Dan manusia hidup di atas ilusi yang mereka sepakati bersama.

Di dalam pesawat yang melaju membelah langit Siberia, saya menutup mata dan berkata dalam hati. “ Ampuni aku ya Tuhan.
Dunia ini bergerak bukan oleh kebenaran…
tetapi oleh persepsi yang kami ciptakan sendiri.”

**

Hong Kong tahun 2012 sedang berada di puncaknya. Deretan menara kaca memantulkan cahaya matahari seperti pedang yang disarungkan, dan setiap langkah kaki di Central adalah gema transaksi dari jutaan dolar yang bergerak setiap detik. Usai rapat Komite Investasi di lantai 58 gedung kantor SIDC, James menyusul saya ke luar ruangan. “Saya sudah temukan wanita itu,” katanya sambil merapikan tablet berisi proposal.

Saya mengerutkan kening. “Siapa yang kamu maksud?”

“Yana. Wanita yang menemani Anda dua tahun lalu di Moskow.”

Saya berhenti berjalan.
“Moskow… ah ya.
Bagaimana?”

James mengangguk puas. “Hasil tesnya excellence. IQ, EQ, problem solving, semua top-tier.
Sekarang dia ada di ruang HRD. Tapi satu hal… dia menolak ditempatkan di Seoul.
Dia hanya mau pos China atau Hong Kong.”

Saya menghela napas.

“Suruh ke ruangan saya.”

“Siap, boss.”

Tak lama kemudian pintu kantor saya diketuk. Yana masuk dengan penampilan jauh lebih rapi daripada ketika pertama kali saya bertemu dengannya di Beijing dua tahun lalu.

Ia tersenyum profesional.
“Mr. B. Long time no see.”

Saya berdiri, menyambut uluran tangannya.

“Kamu memang hebat, Yana.”

Ia tersenyum tipis, tapi gurat mendung di wajahnya tidak bisa disembunyikan.

“Tapi saya minta maaf.
Sejak awal… saya berharap ditempatkan di Hong Kong atau China.”

Nada suaranya merendah, seperti takut mengecewakan. Saya tidak langsung jawab.
Sebaliknya, saya bertanya, “Yana, kamu sudah makan?”

Ia menatap saya, bingung. Lalu tersenyum kecil.

“Belum.”

“Temani saya makan siang. Lupakan dulu tawaran HRD. Kamu teman saya, bukan karyawan baru. OK?”

Ia mengangguk tanpa suara.

Kami duduk di sebuah restoran Korea modern, menghadap ke pelabuhan Victoria. Setelah pesanan datang. Bibimbap, bulgogi, dan teh barley. Percakapan mengalir lebih santai. Saya sengaja mulai dengan cerita lucu tentang teman-teman saya di Seoul, tentang bagaimana eksekutif Korea sering memesan proyek miliaran dolar sambil menekan remote TV, dan bagaimana budaya corporate mereka bisa membuat orang luar kewalahan.

Yana tertawa.
Perlahan, bahunya yang tegang mulai turun. Baru setelah suasana cukup hangat, ia membuka dirinya.

“Saya tidak suka Seoul.”

Saya menoleh. “Kenapa?”

Ia diam lama.
Mungkin sedang menimbang apakah kisah itu layak dibuka di meja makan atau disimpan selamanya.

Akhirnya ia berbicara. “Tiga tahun lalu… kehidupan saya hancur,” katanya lirih.
“Pacar saya memutuskan hubungan sepihak.”

Ia menatap meja, bukan saya.

“Kami pacaran sejak saya kelas satu SMA sampai lulus universitas. Orang tua kami setuju. Kami sudah merencanakan menikah musim semi.”

Ia menelan ludah, suaranya bergetar.

“Tapi awal musim dingin, dia… dekat dengan karyawan kantornya. Saya telepon dia, tidak diangkat.
Saya datang ke rumahnya,  satpam tidak izinkan saya masuk.”

Satu air mata turun, ia cepat-cepat menghapusnya.

“Saat itu saya… hancur berantakan. Saya pergi ke Beijing untuk melupakan segalanya.”

Ia menarik napas panjang.

“Ayahnya konglomerat di Korea. Pemilik maskapai penerbangan.
Keluarga saya… siapa kami dibanding mereka?”

Ia menatap jauh keluar jendela, seolah melihat masa lalu yang masih menggenggamnya.

“Itu bukan soal saya pribadi.
Yang paling menyakitkan adalah melihat hati kedua orang tua saya retak. Mereka sayang padanya seperti anak sendiri.”

Saya hanya mendengarkan.
Kadang dalam hidup, menjadi pendengar lebih penting daripada menjadi penyelamat.

“Tiga tahun,” katanya. “Selama itu saya tidak bisa hapus kenangan buruk itu.”

“Kenapa?” tanya saya.

Ia menatap saya dengan mata yang jernih dan teguh.

“Karena saya tahu dia luar dalam.
Dia bukan tipe yang bisa meninggalkan saya.
Ini pasti ada sesuatu yang lebih besar yang membuat dia tidak berdaya.”

Saya terkejut.
Di tengah segala luka, wanita ini masih berpikir positif.

Saya akhirnya bicara.

“Yana, saya tugaskan kamu sebagai Country Manager di Seoul.
Saya akan akuisisi salah satu maskapai besar di sana.
Permintaan dari konsorsium kreditur.”

Ia menatap saya lama.

“Tolong jujur,
Anda mencari saya untuk tujuan ini?
Anda sudah tahu semua tentang saya sejak saya jadi penerjemah Anda?
Termasuk hubungan saya dengan pewaris maskapai itu?”

Saya menghela napas.
Tidak ada gunanya membohongi wanita secerdas ini.

“Ya.”

Saya memilih jujur.

Ia tersenyum.
Senyum itu bukan senyum bahagia, tapi senyum seseorang yang akhirnya mengerti nasibnya ditarik oleh kekuatan lebih besar dari kehidupannya sendiri.

“OK.”

Ia bersandar sedikit, menatap saya dengan mata yang kembali penuh cahaya.

“Apa tugas saya?”

“Kamu akan jadi eksekutif Ale Capital Zurich. Menjadi penghubung antara tim Yuan dan pihak maskapai.
Saat negosiasi nanti, kamu yang memimpin secara resmi. Karena financial resource dari Ala Capital”

Ia tersenyum cerah, senyum kemenangan kecil. “Deal!”

***

Seoul, 2012

Uap hangat menyelimuti ruangan spa private itu seperti kabut yang menyembunyikan rahasia. Cahaya lampu redup, temaram, hanya memantul pada permukaan kolam marmer hitam. Ruangan kedap suara, jauh dari mata-mata, jauh dari telinga yang berbahaya, jauh dari birokrat yang selalu merasa tahu apa yang terbaik untuk dunia, Padahal mereka sendiri hanyalah wayang. Di ruangan inilah strategi paling berbahaya, dan paling rahasia selalu diputuskan.

Saya sudah duduk di dalam kolam hangat ketika pintu samping terbuka. Yana masuk dengan langkah pelan. Rambutnya terikat sederhana, wajahnya tenang, matanya waspada. Tidak ada make-up, tidak ada simbol kekuasaan. Hanya dirinya, apa adanya. Justru dalam kesederhanaan itu, kecerdasannya memancar paling jelas.

Ia duduk di sisi kolam dalam keadaan bugil. Mengangkat kaki pelan, dan masuk ke air. Suasana hening beberapa detik, hanya gema gelembung kecil yang pecah di permukaan.

“Pak,” katanya akhirnya. “Anda ingin saya memimpin tim di Seoul. Maka… saya ingin dengar langsung dari Anda, apa strateginya.”

Saya tersenyum tipis.

“Yana, hari ini kamu tidak hanya dengar strategi. Kamu dengar perang.”

Saya mendekat sedikit ke arahnya. “Pertama,” kata saya, “kita harus mengunci konsorsium kreditur. Kalau kreditur sudah terkunci, pemegang saham tidak bisa berkutik.”

Yana mengangguk pelan, matanya tak lepas dari saya.

“Saya sudah analisa laporan keuangan,” katanya. “Dana pensiun perusahaan USD 500 juta. Aset yang bisa diputar cepat USD 1,5 miliar.”

“Bagus.” Saya menatapnya. “Dari dua angka itu, sebenarnya kita sudah punya modal untuk membangun jaminan lima miliar dolar.”

Ia terbelalak sebentar.

“Lima miliar… dari dua miliar aset?”

“Ya,” kata saya tenang. “Melalui swap guarantee. Kita tidak sentuh asetnya. Tidak pindah rekening. Tidak ada pelanggaran kustodi. Kita hanya gunakan nilai ekonominya sebagai tiang penyangga—reference asset.”

Ia menghela napas, kagum. “CDS?”

“Lalu dipacking menjadi convertible bond,” lanjut saya. “Lima miliar dolar. Instrumen itu akan menjadi tali pengunci kreditur.”

Yana tertawa kecil, getir namun terpesona.
“Jadi Anda akan membuat mereka setuju bahkan sebelum mereka sadar mereka setuju.”

Saya tersenyum.
“Begitulah dunia Private Equity.
Kontrak paling penting adalah kontrak yang tidak pernah ditandatangani.”

Yana menyandarkan punggung pada tepi kolam, menyerap semuanya. “Setelah proposal kita masuk ke lead konsorsium…” katanya.

“Mereka akan keluarkan mandate letter,” lanjut saya. “Dan begitu mandat itu ada di tangan kamu, posisi kita… di atas angin.”

Mata Yana menyipit.
“Jadi pemegang saham tidak bisa lagi memainkan harga.”

Saya mengangguk.

“Tidak bisa. Mereka hanya akan memiliki dua pilihan,  menyetujui atau menyetujui.”

Ia tertawa lagi, kali ini tanpa getir.
“Aku semakin paham kenapa dunia Anda menakutkan.”

Setelah diam beberapa saat, Yana berkata pelan, “Pak… jika kita berhasil mengakuisisi maskapai ini… apa rencana Anda? Karena model seat-passenger mereka sudah rapuh.”

Saya menatap permukaan air yang beriak lembut.

“Model itu harus mati,” kata saya tanpa rasa ragu.
“Bisnis penumpang adalah bisnis nostalgia. Margin kecil, risiko besar, penuh drama politik dan serikat pekerja. Itu permainan usang.”

Yana mendekat sedikit.

“Jadi apa model baru yang Anda bayangkan?”

Saya menatap matanya.

“Business airline premium dengan core business Cargo,” kata saya. “Air cargo.
Kita jadikan maskapai ini sebagai tulang punggung e-commerce Asia.

Ia terpana.

“E-commerce akan meledak setelah 2012,” sambung saya.
“Alibaba, JD, Amazon, Rakuten… semuanya akan butuh rute udara cepat.
Kita ubah wide-body aircraft menjadi cargo configuration.
Kita bangun fulfilment route untuk marketplace.”

Yana menutup mulutnya sebentar, mencerna. “Kita memindahkan pusat gravitasi bisnis… dari seat ke shipment.”

“Ya. Dari kursi ke kotak.”
Saya tersenyum.
“Passenger is emotion. Cargo is logic.”

Mata Yana berkilat.
“Dan logic selalu menang.”

Saya menatapnya lama. “Yana,” kata saya akhirnya.
“Kamu yang akan menjelaskan business model baru ini ke regulator Korea. Kamu yang akan bicara dengan kreditur Jepang dan Eropa. Kamu yang akan memimpin pertempuran ini.”

Ia membeku.
Seperti seseorang yang tahu ia baru ditarik masuk ke perang yang lebih besar dari dirinya, tetapi perang yang justru akan membentuk siapa ia sebenarnya.

“Pak…” suaranya pelan.
“Terima kasih. Anda percaya saya?”

Saya menggeleng. “Tidak banyak orang yang saya percaya.
Tapi kamu…”
Saya menatapnya tajam.
“Kamu berbeda. Kamu mengerti struktur. Kamu mengerti risiko. Kamu mengerti manusia.”

Ia tersenyum, senyum yang muncul dari kedalaman yang lama terkubur. “Kalau begitu,” katanya, “biarkan saya mulai perang ini.”

Yana keluar dari ruangan spa dengan langkah ringan namun tegar. Dari belakang keliatan tubuhnya memang indah. Terutama bokongnya.


Begitu pintu tertutup, ruangan kembali sunyi. Saya menatap permukaan air yang kembali tenang. E-commerce.
Air cargo.
Swap guarantee.
Convertible bond.
Mandate letter.
Business model revolution. Di luar ruangan ini, dunia mungkin sedang tenang.
Tapi di balik uap hangat ini,
perang miliaran dolar baru saja dimulai. Dan Yana…
akan menjadi jenderalnya.

**

Koridor lantai 37 gedung markas besar maskapai itu terasa seperti lorong museum: dingin, hening, penuh kaca dan marmer. Yana berjalan di depan saya dengan langkah mantap. Tumit sepatunya menyentuh lantai seperti denting jam yang menghitung mundur pada sebuah pertemuan yang sudah ditakdirkan. Hari ini adalah Board Meeting Final, rapat dewan keluarga konglomerat sebelum akuisisi kami mengambil alih kendali.

Hari ini juga hari di mana Yana akhirnya akan bertemu kembali dengan seseorang yang pernah menjadi seluruh hidupnya. Pria yang dulu mencintainya tujuh tahun.
Pria yang hilang tanpa sebuah alasan.
Pria yang membuatnya meninggalkan Korea demi melupakan.

Pintu ruang rapat terbuka ketika kami tiba. Ruangan itu luas, dengan meja kayu rosewood berbentuk oval dan dinding kaca yang memperlihatkan Seoul dari ketinggian. Di ujung meja, duduklah keluarga inti konglomerat: ayah, ibu, paman, dua pengacara. Dan di sisi kanan, Yana berhenti berjalan. Saya merasakan tubuhnya mengeras seperti pilar batu.

Di sana, duduk seorang pria muda berjas abu-abu. Wajah tegas, ramah tetapi kaku, dengan sorot mata yang pernah menyimpan masa depan bersamanya. Han Seung-woo.
Putra tunggal pemilik grup konglomerat maskapai itu. Ia terangkat dari kursinya, refleks. Terlalu cepat untuk ditahan.

“…Yana?” suaranya hampir tidak terdengar.

Yana berdiri tegak.
Tidak ada air mata.
Tidak ada getar.
Hanya tatapan dingin seorang profesional yang telah melewati badai yang jauh lebih besar dibandingkan patah hati.

“Selamat pagi,” katanya datar.

Saya menatap keluarga itu. Ketegangan menyebar seperti listrik.

Chairman keluarga memulai. “Silakan duduk. Mari kita mulai.”

Yana duduk di samping saya. Seung-woo tidak mengalihkan pandangannya. Tapi Yana tidak menoleh sedikit pun.

Chairman membuka dokumen.

“Kami telah mendapat mandat kreditur.
Kami memahami pihak Anda akan mengambil alih kendali operasional.”

“Betul,” jawab saya.

Lalu Yana menambahkan. “Dan setelah closing, struktur keluarga tidak lagi memegang veto. Itu syarat konsorsium kreditur untuk debt-swap.”

Seung-woo tampak kaget mendengar Yana bicara bahasa Korea dengan formalitas yang sempurna.
Bukan Yana yang dulu.
Ini Yana yang baru.
Yana yang telah ditempa oleh dunia bisnis global.

Rapat berlangsung intens. Saya menyampaikan timeline restrukturisasi,
perubahan rute internasional,
konversi aircraft ke cargo,
pemangkasan biaya,
 model fulfilment untuk e-commerce Asia.


Yana mempresentasikan business model baru dengan grafik jelas, detail lengkap, dan logika kuat. Setiap kata dari mulutnya membuat para direktur berpindah dari skeptis menjadi kagum.

Tapi di tengah paparan, suara Seung-woo akhirnya pecah.

“Maaf.”
Ia mengangkat tangan sedikit.

Semua menoleh.
Ketegangan memenuhi ruangan.

“Mengapa Anda yang memimpin presentasi ini? Siapa Anda sebenarnya dalam struktur pengambilalihan ini?”

Yana tak bergeming.

“Saya ketua tim akuisisi,” jawabnya tenang.
“Dan setelah closing, saya akan mengawasi transisi operasional selama dua tahun.”

Seung-woo tampak goyah.

“Kenapa kamu… di sini?
Kenapa kamu kembali?”

Yana tidak menjawab.
Tidak dengan kata-kata.

Ia memandangnya sekali, singkat, tajam, dingin—seolah ingin berkata: Aku di sini bukan untukmu.
Aku di sini karena dirimu hanyalah bagian kecil dari dunia besar yang kutaklukkan. Chairman mengetuk meja.
“Kita lanjutkan rapat. Ini urusan perusahaan.”

Seung-woo menunduk.

Di akhir presentasi, keluarga konglomerat menunjukkan tanda tangan akhir mereka. Tetapi sebelum rapat ditutup, Seung-woo kembali bicara. “Saya ingin bicara sebentar. Lima menit saja.”

Yana tetap diam.
Saya menoleh padanya.
Ia mengangguk pelan.

Semua anggota keluarga keluar.
Hanya kami bertiga tersisa. Seung-woo berjalan mendekati Yana. Langkahnya berat. Matanya berkaca.

“Aku tahu kamu benci aku,” katanya.
“Tapi percayalah… aku tidak ingin menghilang dari hidupmu.”

Yana menatap wajah pria itu seperti tatapan seseorang yang sudah lama berhenti percaya.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “mengapa kamu pergi?
Mengapa kamu tidak bicara satu kata pun?”

Seung-woo menutup mata.
Menahan sesuatu yang tampaknya menyakitkan.

“Ayahku…”
Ia menelan ludah.
“Ayahku memaksaku memutuskan hubungan itu.
Dia bilang kamu tidak layak untuk keluarga kami.
Dia bahkan memblokir teleponmu, rekeningmu, alamatmu… semuanya.
Aku tidak tahu caranya melawan.”

Yana terpaku.
Beberapa detik ia hanya memandang kosong.

“Jadi kamu… menyerah?” suaranya pelan.

“Aku… aku terjebak,” katanya patah.

Yana tersenyum.
Senyum itu pahit, tapi kuat.

“Aku menunggu kamu bertahun-tahun, Seung-woo.
Bukan untuk menikah.
Tapi untuk melihat apakah pria yang kukenal…
masih punya keberanian untuk memilih dirinya sendiri.”

Air mata mengalir di mata pria itu.

Yana menatapnya lurus.

“Ternyata aku salah.”

Yana berdiri.
Mengambil map dokumen.
Menutupnya perlahan. “Aku tidak kembali ke Korea untuk masa lalu,” katanya.
“Aku kembali untuk masa depan.
Dan masa depan itu bukan tentang kita.”

Sepanjang ruangan rapat, angin pagi Seoul mulai terasa melalui ventilasi.

“Aku baik-baik saja sekarang.
Dan aku berharap kamu juga belajar… menjadi pria, bukan pewaris.”

Seung-woo terisak pelan.

Yana memandang saya.

“Pak, mari kita pergi. Closing sudah menunggu.”

Saya berdiri.
Kami berjalan keluar ruangan tanpa menoleh.

Ketika pintu tertutup, saya tahu satu hal. Pertemuan itu bukan penutupan luka.
Itu penutupan bab. Dan Yana melangkah keluar bukan sebagai perempuan yang pernah ditinggalkan. Tapi sebagai perempuan yang menang
di meja rapat
di medan perang
dan di hatinya sendiri.

***

Jam 05.40 pagi, Seoul masih gelap. Namun di lantai 32 gedung kantor hukum terbesar Korea, lampu ruang rapat sudah terang. Di belakang kaca besar yang menghadap Han River, kota itu tampak seperti rangkaian sirkuit elektronik yang belum menyala penuh—sunyi, penuh potensi, dan penuh ancaman. Hari ini adalah hari closing.
Hari di mana keputusan miliaran dolar akan lahir atau mati.

Di ujung meja oval panjang, Yana duduk tegak. Blus putih sederhana, rambut rapi, ekspresi dingin. Tidak ada lagi jejak gadis KTV. Yang duduk di sana adalah ketua tim akuisisi, jenderal perang finansial. Saya berdiri di sampingnya, membuka laptop, menyiapkan dokumen. Perangkat konferensi internasional menyala.
Di layar pertama: Tokyo – Bank Jepang, kreditur senior secured.
Di layar kedua: Zurich – Wakil private bank Swiss.
Di layar ketiga: Hong Kong – Kantor konsorsium kreditur. Di layar keempat: Pemegang saham keluarga konglomerat Korea.
Wajah mereka tampak tegang. Mereka tahu hari ini bukan perundingan. Ini execution day.

Pengacara regulator Korea membuka pertemuan. “We start with IFRS compliance.
We were informed the acquirer will use a non-custodial guarantee structure.
We need clarity.”

Yana menatap saya. Saya memberi anggukan kecil.

Ia maju. Yana berdiri, membuka lembar presentasi. “Pertama, kami tegaskan,” katanya dalam bahasa Inggris yang jelas,
“tidak ada perpindahan dana pensiun.
Tidak ada pelanggaran custodian rule.
Tidak ada aset yang dipindahkan.”

Regulator Korea mengernyit.
“Bagaimana bisa memberikan guarantee tanpa perpindahan aset?”

Yana tersenyum kecil.
Di sinilah kecerdasannya bermain. “Melalui IFRS 9 – Financial Instruments, paragraf mengenai expected credit loss model,
dan IFRS 7 tentang risk disclosure.”

Ia menulis di whiteboard: We use only the economic exposure of pension assets,
not the custody account itself.


Bank Swiss muncul di layar. “From IFRS perspective, this is considered synthetic support,
not collateral.”

Regulator Korea tampak gelisah.
Tapi tidak bisa membantah.
Karena definisi IFRS adalah hukum global, bukan pendapat pribadi.

Sekarang giliran Jepang. Tokoh serius di layar Tokyo tampak angkuh. Senior, konservatif, detailis. Ia berkata,  “Your proposal is aggressive.
We will only accept debt swap if the convertible bond is fully liquid in Market S.”

Yana tidak goyah.

“Kami sudah dapatkan confirmation dari fund manager top-10 dunia,” katanya.
“Mereka siap menyerap volume bond di pasar liquidity pool Market S.
Termasuk swap leg untuk hedging.”

Tokoh Jepang menyipitkan mata.

“Can you prove it?”

Saya maju.
Menaruh satu lembar surat di meja kamera.

“Letter of comfort.
Signed last night.”

Tokoh Jepang membaca cepat.
Nafasnya melambat.

“Baik,” katanya akhirnya. “Debt swap pada prinsipnya kami setujui.”

Yana menutup file-nya pelan.
Satu benteng besar runtuh.

Sekarang medan perang paling sensitif: Escrow. Keluarga konglomerat Korea berbicara. “Kami setuju akuisisi.
Tapi escrow fund harus disimpan di bank Korea.
Tidak ada yang keluar sebelum semua audit selesai.”

Saya balas, “Itu tidak mungkin.
Jika escrow di Korea, maka Anda bisa block release kapan saja.
Kami tidak akan masuk perangkap.”

Wajah mereka mulai memerah.

“Ini negara kami!” teriaknya tegas.

“Dan ini maskapai kalian yang hampir bangkrut,” kata saya dingin. “Kami datang untuk menyelamatkan.
Kalau mau escrow di Korea, closing selesai hari ini.
Done.”

Ruangan sunyi.
Suasana panas.

Lalu Yana maju.
Langkahnya pelan, tapi tegas. “Escrow akan ditempatkan di Hong Kong.
Bukan Korea.
Bukan Swiss.
Bukan Jepang.”

Pengacara keluarga bereaksi keras. “Impossible!”

Yana menatap mereka dengan tatapan paling dingin yang pernah saya lihat darinya.

“Karena saya yang memimpin tim akuisisi.
Dan saya warga negara Korea. Saya yang akan memastikan maskapai ini kembali hidup. Jika escrow di tempat Anda, semua kerja keras tim saya selama empat bulan akan mati.
Termasuk masa depan perusahaan ini.”

Hening.
Tidak ada yang berani bicara.

Bank Swiss akhirnya berkata “We support Hong Kong escrow.”

Kreditur Jepang mengangguk. Hong Kong konsorsium juga setuju.

Keluarga konglomerat menunduk. Mereka kalah total.

Regulator Korea akhirnya memberikan kata final, “Financial closing… approved.”

Lampu-lampu layar monitor satu per satu mati.
Hanya tersisa pantulan cahaya Seoul pagi hari yang mulai merekah. Yana duduk kembali.
Ia menutup mata.
Menarik napas panjang.
Dan untuk sesaat — hanya sesaat — wajahnya tampak lega.

Saya menatapnya. “Yana,” kata saya pelan,
“hari ini kamu memenangkan perang yang bahkan tidak dimulai oleh kamu.”

Ia membuka mata.
Tatapannya tajam, penuh hidup. “Tidak, Pak,” katanya lirih.
“Ini bukan kemenangan saya.
Ini pembebasan saya.”

Saya mengangguk.

Dan di situlah saya tahu.
Hari itu bukan hanya hari closing transaksi. Hari itu adalah hari Yana
kembali menjadi dirinya sendiri.

**

Akuisisi selesai. Yana cepat sekali belajar. Berkat dia , kami dapatkan harga terbaik dan menggeser semua anggota keluarga dari jajaran direksi. Saya undang Yana ke Beijing. Kami bertemu di Spa center Paninsula.

Dia terkejut ketika masuk ruang spa. Di kolam air hangat saya sedang bersama CEO Lead konsorsium dan pejabat otoritas korea. Tidak ada pembicaraan. Namun dia merapat ke saya dan berbisik. “ Sama ya dengan di Moskow. Kamu akuisisi bunker oil tampa modal. Kalian memang jahaat. Tetapi lama lama saya suka. Kata Yana. “ Kalian seksi semua.  Tidak ada perut yang buncit. Semua dengan tubuh atletis. “ Lanjutnya. Saya senyum aja.

” Hanya persepsi ya. “ Kata Yana seraya mencubit perut saya. Yana mengingatkan kata kata saya dulu waktu dia ikut dalam bisnis trip ke Moskow.

***

2017. Lima tahun berlalu sejak akuisisi maskapai itu.
Di dunia bisnis, lima tahun adalah satu kedipan mata.
Tapi bagi industri aviasi dan e-commerce, lima tahun adalah badai evolusi. Maskapai yang dulu sekarat kini berubah menjadi raksasa cargo Asia.
Fulfillment center di Incheon, Osaka, Hong Kong, dan Shenzhen bergerak seperti jantung logistik yang tidak pernah tidur.

Pendapatan cargo naik 430%.
Passenger business dipertahankan sebagai low-yield feeder saja.
Dan rute malam Seoul–Shenzhen menjadi jalur emas bagi marketplace Asia Timur.

Ada satu masalah tersisa. Convertible Bond USD 5 miliar yang jatuh tempo tahun ini. Instrumen itu—yang dulu kami pakai sebagai senjata mengunci konsorsium kreditur—sekarang menjadi bom waktu. Jika tidak direfinancing: kreditur bisa menuntut pembayaran tunai,
 valuasi maskapai akan terjun bebas,
 keluarga konglomerat akan memanfaatkan keadaan,
 regulator bisa masuk, dan struktur yang kami bangun selama lima tahun… runtuh.


Saya duduk bersama Yana di sebuah ruang rapat berlapis kaca di IFC Hong Kong.
Di belakang kami, Victoria Harbour berdenyut oleh lampu-lampu kapal kontainer. Yana membuka dokumen tebal di pangkuannya. “Pak… kita tidak bisa refinancing dengan skema standar,” katanya pelan.
“Yield-nya akan terlalu tinggi. Investor baru akan minta kupon besar. Itu akan menghancurkan cashflow.”

Saya menatap grafik likuiditas.

“Berikan saya angka terburuk.”

Yana menyodorkan lembaran.

“Jika kita refinancing secara tradisional, perusahaan butuh coupon 7%.”

Saya menggeleng. “Tidak mungkin. Itu bunuh diri.”

Ia menghela napas.

“Kreditur sudah mulai bicara. Mereka ingin kita bayar full karena valuasi perusahaan naik pesat. Mereka mencium darah.”

Saya menatap keluar jendela. “Kalau begitu… kita masuk ke strategi kedua.”

Yana menatap saya menunggu.

“Strategi apa, Pak?”

Saya menatapnya tajam.

“Synthetic Refinancing. Lohmann Layering Method.”

Matanya membesar.
Teknik itu… bukan untuk pemula.
Bahkan bank besar pun jarang berani mencobanya.

“Kita tidak akan refinancing convertible bond secara langsung.
Kita gunakan tiga lapisan.”

Saya ambil pena, menulis di layar digital: Layer 1 — Synthetic Forward Purchase Agreement (SFPA). Layer 2 — Cashless Swap Rollover. 
Layer 3 — New CB with Lower Coupon Hedged by Marketplace Cashflow

“SFPA… berarti kita menciptakan ilusi bahwa investor baru sudah membeli bond baru lima tahun sebelumnya?” Kata Yana.

Saya mengangguk. “Itu akan menekan ekspektasi yield. Investor lama akan berebut rollover.”

Ia menghela napas kagum.

“Dan Cashless Swap Rollover. Kreditur lama akan merasa seperti mendapat payment, padahal tidak ada uang keluar.” Katanya.

“Betul.”
Saya meliriknya.
“Itu teknik hedge fund London pada krisis 2008. Sekarang kita pakai.”

“Layer ketiga,” lanjut Yana, “CB baru dengan coupon rendah karena hedged oleh cashflow e-commerce shipping volume?” Katanya.

“Tepat sekali. Marketplace sekarang memakai rute kita sebagai backbone. Kita leverage itu.”

Yana menutup file.

“Pak… ini gila. Tapi… ini brilian.”

***

Kami terbang ke Seoul.
Rapat dengan keluarga konglomerat berlangsung di gedung pusat mereka yang dingin.

Chairman menatap saya dengan senyum tipis.

“Lima tahun lalu Anda mengambil alih perusahaan kami.
Sekarang, bond jatuh tempo.
Waktunya Anda membayar.”

Saya tersenyum.

“Kami akan refinancing, bukan membayar.”

Chairman mendengus. “Kreditur meminta full payment.
Anda tidak akan bisa mengumpulkan dana lima miliar dolar dalam waktu tiga bulan.”

Yana maju.
Wajahnya tenang seperti permukaan air yang siap menerjang badai.

“Kami tidak perlu kumpulkan lima miliar dolar,” katanya.

Keluarga itu tertawa sinis. “Lalu? Kalian bayar pakai doa?”

Yana membuka dokumen. “Tidak. Kami bayar dengan struktur.”

Chairman terdiam.

Yana melanjutkan: “Kami sudah masuk ke perjanjian SFPA. Itu berarti investor baru secara struktur sudah memegang future bond.
Kami lakukan rollover cashless.
Dan coupon baru akan lebih rendah dari sebelumnya.”

Mata keluarga konglomerat melebar.

“Bagaimana bisa coupon lebih rendah?” tanya paman tua.

Yana menatapnya tajam. “Karena lima tahun lalu, kalian mengira kami ingin membeli maskapai penumpang.”

Ia mencondongkan tubuh. “Ternyata kami membeli masa depan e-commerce Asia.”

Saya menahan senyum.
Yana telah melampaui dirinya sendiri.

Video call dari Tokyo dibuka. Tokoh kreditur Jepang berkata: “Convertible bond Anda jatuh tempo.
Kami butuh pembayaran.”

Saya menjawab: “Kami siapkan cashless rollover.
Tidak ada cash keluar, tapi Anda mendapatkan yield lebih stabil selama lima tahun ke depan.”

Ia mengernyit. “Itu tidak cukup.”

Yana maju. “Jika Anda memaksa pembayaran penuh,” katanya dingin,
“maskapai akan terpaksa menghapus 22 rute penumpang.
Tapi volume kargo akan tetap masuk melalui pesaing kalian di Jepang.”

Kreditur Jepang membeku.

Yana menambahkan:

“Artinya… kalian kehilangan cross-border shipping volume.
Dan kalian tahu, tanpa itu, kalian akan exit rugi.”

Beberapa detik hening.

Kemudian:
“We agree to rollover.”

Di ruang rapat yang sama di IFC Hong Kong, dokumen refinancing ditandatangani. Convertible Bond lama dibubarkan tanpa pembayaran tunai. Convertible Bond baru diterbitkan dengan coupon 2.8% saja, terendah dalam sejarah maskapai Asia Timur. Cashflow marketplace menjadi hedge. Struktur perusahaan tetap kuat.
Cargo business menjadi mesin uang.

Saya melihat Yana menandatangani dokumen terakhir. Lima tahun lalu, ia hanya penerjemah lepas yang patah hati. Sekarang, ia adalah wanita yang menaklukkan: keluarga konglomerat,
kreditur Jepang,
bank Swiss,
regulator Korea,
 hedge fund global,
 dan dirinya sendiri.


Ia menutup map perlahan.
Menatap saya.

“Pak… perang kedua selesai.”

Saya tersenyum.

“Belum,” kata saya pelan.
“Perang ketiga akan segera datang.”

Ia mengangkat alis.

“Perang apa?”

Saya menatap jendela. “Perang mempertahankan apa yang sudah kita bangun.”

Ia diam.
Mengingat perjalanan panjang itu.

“Kalau begitu,” katanya,
“saya siap.”

Saya keluar ruangan dan kembali pulang ke rumah. Biarlah dia dengan dunianya. Dia akan bisa melanjutkan perang tanpa saya. Dia akan baik baik saja.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Satu tanggapan untuk “Mengubah business model.”

  1. wuuuuaaahhh….saya tak bisa berkata apa apa…

    walaupun saya nol sama sekali tentang dunia keuangan, tapi melihat rencana akuisisi yang terstruktur dan rapi serta bisa mempertahankan dengan baik, itu jelas jelas membutuhkan ilmu yang mumpuni, koneksi yang hebat dan pengalaman yang luar biasa…

    saya hanya bisa bertepuk tangan saja karena kagum terhahadap keahlian Babo…

    Suka

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca