
Dari Beijing saya terbang menuju Kiev. Udara dingin menyambut ketika saya keluar dari terminal Boryspil Airport. Namun lebih dingin lagi adalah sunyi yang selalu mengikuti setiap operasi lintas negara. Di antara kerumunan penjemput, saya melihat sosok yang langsung saya kenali dari cara ia berdiri—tenang, sigap, dan selalu waspada. Jellian. Dia tersenyum, merentangkan kedua lengannya, lalu memeluk saya sejenak.
“Apa kabar, B?” bisiknya lembut. “I missed you.”
Saya hanya membalas dengan senyum. Ia bukan sekadar anggota tim. Ia adalah shadow operator. Orang yang menjadi perpanjangan insting saya di lapangan. Jellian mantan militer para-komando. Pernah bekerja sebagai bodyguard internasional untuk klien high-tier. Sarjana Ilmu Sosial dan Politik. Menguasai empat Bahasa. Inggris, Rusia, Jerman, dan Perancis. Spesialis negosiasi lapangan, counter-surveillance, dan lobby engagement lintas yurisdiksi. Loyalitasnya tidak pernah saya ragukan.
Di dalam mobil menuju hotel, dengan lampu kota Kiev melewati kaca seperti garis-garis neon yang patah, saya menyerahkan amplop putih kepadanya. Ia membukanya. Di dalamnya, beberapa foto target dan calon mitra operasi.
“Kamu temui mereka. Semua sudah saya atur.”
Ia melihat foto satu per satu. Ketika matanya berhenti pada foto seorang perempuan, nada suaranya berubah.
“Yang ini kelihatannya cantik dan cerdas… Another woman kamu ya?”
Nada cemburu itu halus, tapi jelas. Woman nature. Ia coba sembunyikan dengan senyum.
Saya menggeleng.
“Bukan. Dia elite partai di Yunani.”
Jawaban itu cukup menenangkan ekspresinya yang tegang.
Sesampainya di hotel, saya mulai briefing secara lengkap—tanpa basa-basi. Saya memberikan peta operasional. Profil jaringan saya di Rusia, Ukraina, Turki, Eropa, dan Amerika Serikat, serta daftar tokoh kunci yang harus didekati.
Tugas Jellian jelas mengaktifkan kembali koneksi lama, melobi tokoh-tokoh pengaruh, mengamankan jalur logistik dan diplomasi informal, serta menjaga agar seluruh aktivitas tidak meninggalkan noise pada radar intelijen lokal. Ia menyimak dengan konsentrasi total—postur duduk tegak, mata fokus, otak menghitung setiap detail. Baginya, ini bukan pekerjaan. Ini medan operasi.
Malamnya, saya menghadiri makan malam dengan Ketua Parlemen Ukraina di restoran BAO, restoran Tionghoa premium yang terkenal dengan private room-nya untuk pertemuan politik kelas tinggi. Jellian mendampingi saya sebagai security & strategic presence. Sebagai gesture diplomatik, saya membawa Royal Korean Ginseng—yang saya beli di Beijing seharga 300.000 Yuan. Hadiah yang secara nilai simbolik menunjukkan penghormatan, pengakuan, dan pemahaman budaya. Ketua Parlemen menerimanya dengan wajah senang. Ia tahu kualitas itu, dan ia tahu pesan di balik hadiah itu: kepercayaan dan niat baik. Pertemuan berlangsung sekitar sembilan puluh menit. Efisien, terukur, dan produktif.
Keesokan paginya, sebelum matahari penuh naik, saya sudah berada di bandara untuk terbang ke Moscow. Sebelum berangkat, saya memberikan instruksi terakhir. “Jellian, kamu tetap di Kiev. Kamu standby, dan jaga jalur komunikasi dengan seluruh network.”
Ia mengangguk. Tidak ada protes. Tidak ada keraguan.
Di wajahnya hanya ada pemahaman bahwa ini bukan akhir, tetapi bagian dari rangkaian operasi yang lebih besar. Kiev perlahan menghilang di bawah sayap pesawat saat saya lepas landas— satu kota selesai, kota berikutnya menunggu, dan permainan besar kembali bergerak tanpa suara.
***
Saya keluar dari Stasiun Metro Mayakovskaya. Stasiun tua dengan mosaik bergaya Soviet yang dingin tetapi megah. Udara musim semi masih menyisakan sisa-sisa dingin musim dingin; dedaunan baru di pepohonan Bulvar Ring belum sepenuhnya tumbuh. Dari sana saya berjalan kaki menuju Patriarch Ponds, pusat distrik old money Moscow dan tempat di mana percakapan berbahaya sering terdengar seperti percakapan biasa.
Di Jalan Bronnaya, saya memilih sebuah bar kecil dengan interior kayu gelap—tempat yang cukup bising untuk menyamarkan pembicaraan penting, tetapi cukup privat untuk transaksi non-formal. Saat saya masuk, Victor sudah duduk di sudut ruangan, menyesap vodka dengan ketenangan khas orang Rusia yang sudah terlalu lama bersahabat dengan rahasia.
Saya melihat sekeliling. Beberapa gadis Rusia duduk di lounge, membunuh waktu. Ada yang menatap kosong, ada yang menatap kami. Seperti biasa, sulit membedakan apakah mereka sekadar pengunjung, hostess, atau aset berbayar. Moscow punya ekosistem sosialnya sendiri. Tumpang tindih antara hiburan, intel, dan jaringan informal.
Saya duduk. Tanpa menunggu, saya membuka percakapan. “Dubai menghubungi saya. Mereka minta bantuan untuk membuka akses pengambilalihan pabrik senjata di Ukraina.”
Victor meletakkan gelasnya, matanya menyipit sedikit. Reaksi halus yang menunjukkan ia memahami bobot kalimat saya.
“Wajar,” katanya. “Ada banyak pabrik senjata warisan Uni Soviet di Ukraina, kebanyakan mati suri. Tidak ada modal, tidak ada pasar, dan tidak ada arah politik. Itu dulu dibuat untuk memenuhi kebutuhan militer Soviet, bukan pasar global.”
Ia mencondongkan tubuh.
“Kamu tertarik mengambil tawaran itu?”
Saya menggeleng pelan.
“Saya tidak akan menyentuhnya sebelum tahu siapa pembelinya. Mereka minta saya datang ke Dubai. Katanya akan memperkenalkan saya dengan seseorang.”
Victor mengangguk, seolah menunggu bagian yang lebih penting.
Saya menatapnya langsung.
“Kalau saya ambil peluang ini, apa kamu bisa membuka akses politik ke Rusia? Mereka butuh special service, termasuk delivery channel dan jaminan proteksi perbatasan.”
Victor menyodorkan segelas vodka ke saya.
“Ah, Rusia…” katanya sambil tertawa pendek. “Tidak ada yang tidak mungkin. Semua tergantung uang. Sama seperti Indonesia.”
Dia benar. Di Rusia, akses bukan soal struktur, tapi soal siapa yang mendapat izin untuk melanggar struktur.
Kami menghabiskan malam dengan vodka yang terus mengalir. Tak lama kemudian sekelompok gadis datang ke meja kami, entah dipanggil Victor, entah memang bagian dari “layanan” tempat itu. Atmosfer berubah lebih liar, lebih bebas, seperti hanya Moscow yang bisa tawarkan.
Victor tersenyum pada saya.
“Ayo. Kita pergi ke tempat lain. Kita pesta.” Kata victor menepuk bahu saya. “Saya undang beberapa pejabat,” tambahnya seolah itu hal sepele.
Saya bertanya pendek. “Di mana?”
Victor hanya menjawab ” Ikut saja.”
Kami keluar dari bar, masuk ke dua mobil berbeda. Konvoi kecil itu menuju sebuah estate tua di pinggiran Moscow. Bangunan batu besar dengan pekarangan luas, dijaga discretely oleh pria-pria bertubuh besar. Di dalamnya, pesta sudah berlangsung. Ruang VVIP dipenuhi musik pelan, vodka premium, dan gadis-gadis yang sengaja ditempatkan untuk membuat suasana “cair”. Orang-orang seperti Victor tahu bagaimana menciptakan lingkungan yang membuat pejabat bicara lebih jujur dan lebih mudah dinegosiasi.
Beberapa menit kemudian, sekelompok pria masuk. Wajah-wajah birokrat, tetapi dengan aura kekuasaan yang lekat. Ekosistem politik Rusia selalu menyamarkan keseriusan di balik vodka dan wanita cantik.
Saya berjalan menjauh menuju kolam renang indoor, membawa gelas vodka saya. Air biru memantulkan cahaya, seperti ruang meditasi bagi orang yang hidup dalam bayang-bayang transaksi gelap.
Victor mendekati saya.
“Besok kita ke Dubai. Private jet saya.” Katanya. “Dua pejabat penting ikut dengan kita. Ini big fish, bro. Don’t worry.” Victor tepuk pundak saya. “Ayo kembali ke dalam. Kita habiskan malam ini dengan happy.”
Saya menatap kembali ke arah ruangan pesta. Pintu kekuasaan terbuka di tempat-tempat yang tidak pernah dicatat dalam dokumen resmi. Dan malam itu, di sebuah castle gelap di pinggiran Moscow, operasi geopolitik yang akan membentuk lingkaran baru telah dimulai. Bukan di pemerintahan, bukan di ruang rapat, tetapi di ruangan dengan vodka, musik pelan, dan rahasia yang dibisikkan pelan.
***
Penerbangan menuju Dubai berlangsung sunyi. Tidak seperti penerbangan komersial, kabin jet pribadi itu membawa atmosfer yang hanya muncul ketika beberapa orang berkumpul untuk melakukan transaksi yang tidak akan pernah tercatat di dokumen resmi negara mana pun. Pria yang duduk di seberang saya. Berusia lima puluhan, tubuh besar, dan tatapan seperti pisau. Akhirnya membuka suara setelah menyelesaikan gelas vodkanya. “Soal pengambilalihan pabrik senjata itu tidak ada masalah.” “Di Ukraina, tidak ada pejabat yang tidak bisa dibeli.”
Nada suaranya datar. Bukan sombong, bukan mengancam. Sekadar pernyataan objektif dari seseorang yang sudah bekerja terlalu lama di wilayah abu-abu pasca-runtuhnya Uni Soviet.
Ia mencondongkan tubuh, tatapannya berubah menjadi dingin.
“Tapi patokan harga harus black market price.” Katanya tenang. “Karena kita harus atur delivery channel keluar Ukraina tanpa terdeteksi aparat.”
Sorot matanya seperti serigala yang sedang menilai seekor rusa sebelum diterkam. Saya tahu persis apa maksudnya: delivery berarti jalur penyelundupan, operasi covert exit, off-the-record border management, dan perlindungan intelijen agar barang keluar tanpa jejak.
Dan Rusia—meskipun bukan lagi USSR—tetap dipenuhi pejabat yang merupakan alumni KGB, ahli dalam seni infiltrasi, subterfuge, dan penghilangan bukti. Mereka paham cara membuat sesuatu menghilang dari Ukraina dan muncul di tempat lain tanpa melibatkan negara secara resmi. Ini bukan politik. Ini bisnis murni.
Kami tiba di Dubai sore hari. Kontak saya sudah menunggu, menjemput kami dengan protokol diam-diam yang hanya digunakan untuk tamu tingkat sensitif. Pertemuan dilakukan di penthouse sebuah hotel bintang lima, lantai paling atas, dengan lift privat. Tempat orang-orang dengan kekuasaan finansial tidak terukur bertukar janji dalam ruangan yang tidak pernah disebut dalam invoice hotel.
Saya dan Victor masuk tanpa pengawal. Di dalam, seorang pria duduk tenang. Saya tahu persis siapa dia bahkan sebelum ia memperkenalkan diri. Ia tidak mengenakan thawb, tidak memakai ghutra. Ia memakai setelan mahal, jam tangan edisi terbatas, dan sepatu kulit yang harganya bisa memberi makan satu kampung selama sebulan.
Pria itu bukan sekadar pengusaha. Ia adalah fixer, orang yang menjadi jembatan antara politik, istana kerajaan, dan pasar gelap global. Dengan suara tenang, ia mulai bicara. “Saya dekat dengan Menteri Luar Negeri. Juga Pangeran pemegang mandate untuk transaksi ini.” Katanya menyebut nama tokoh. Itu kalimat yang tidak memerlukan validasi. Nama-nama itu sendiri sudah menjadi struktur kekuasaan.
Lalu ia mengeluarkan dokumen berstempel resmi. “Kami dapat SPK suplai senjata.”
Bahasanya jelas, kontrak pengadaan dari pemerintah atau institusi militer Timur Tengah. Saya menatap dokumen itu sejenak. Arab Saudi tidak pernah main-main soal kontrak senjata. SPK seperti ini adalah gateway ke miliaran dolar.
Ia menatap saya langsung.
“Yang saya mau, Anda takeover pabrik senjata di Ukraina. Anda juga atur kepemilikan pabrik itu. Anda lebih tahu cara menyamarkannya.”
Dalam transaksi seperti ini, kepemilikan harus dilapiskan melalui multi-jurisdiction shell companies, beneficial owner tidak boleh tertulis, jalur pembiayaan harus melewati beberapa negara bebas pajak, dan entitas penerima harus “bersih” ketika masuk daftar pemasok.
Saya mengangguk.
Victor menyela. “Termasuk delivery?”
Pria itu tersenyum tipis.
“Ya. Tepat.”
Saat itu saya menyerahkan sebuah lembar kertas berisi proposal singkat struktur akuisisi, skema penyamaran kepemilikan, estimasi biaya delivery, jalur pembayaran, dan mekanisme payment guarantee melalui bank London.
Saya menjelaskan intinya dalam bahasa Arab. Ia terkejut sesaat tidak menyangka saya menguasai bahasa itu dengan lancar. Ia membaca proposal itu dengan cermat, dari awal sampai akhir.
Lalu ia berdiri, sebuah tanda bahwa keputusan telah dibuat.
“Excellent ! Saya setuju. Akuisisi pabrik senjata Anda realisasikan segera. Payment guarantee sesuai proposal ini akan saya kirim ke bank Anda di London, besok pagi.”
Ia menyalami kami berdua. Saat hendak pergi, ia menepuk bahu saya dan berkata “Oh ya, B… bahasa Arabmu bagus sekali. Lebih bagus dari saya. “
“ Itu bahasa kedua ibu saya selain bahasa Indonesia.”
“ Bagaimana mungkin?
“ Kakek saya pernah sekolah di Makkah. “ Kata saya tersenyum. Dalam pekerjaan ini, bahasa adalah senjata yang lebih tajam dari pistol.
Dan malam itu, di penthouse Dubai, kesepakatan yang mampu menggoyang geopolitik Eropa Timur dan Timur Tengah telah ditutup— tanpa saksi, tanpa catatan, tanpa negara. Hanya tiga orang di ruangan itu yang tahu. Dan dunia tidak akan pernah tahu bagaimana sebuah pabrik senjata ex Uni Soviet di Ukraina berpindah tangan, yang produknya dikirim ke oposisi yang didukung Arab Saudi di Suriah… melalui jalur yang tidak pernah disentuh hukum internasional.
***
Saya dan Victor terbang kembali ke Kiev di tengah matahari yang baru naik. Jellian sudah menunggu di ruang privat bandara, rambutnya diikat serba praktis, kacamata hitam, dan auranya kembali berubah menjadi mode operasional penuh.

Saat kami tiba, saya langsung memulai briefing. “Victor akan mengawal kamu melobi pejabat Ukraina. Gunakan koneksi Rusia untuk membuka jalur politik. Lobi militer Turki untuk delivery sesuai designated address di kontrak. Hubungkan dengan elite partai Eropa. George dari London yang akan mengatur hubungan itu. Pengamanan cargo oleh tentara bayaran yang Victor kontrak dari agen Boston. Budget minta ke George. Clear?”
Saya menutup instruksi dengan satu kalimat yang menjadi hukum besi operasi ini. “Ingat. Fee ke pejabat yang mendukung kita harus dibayar sebelum delivery berjalan.”
Jellian mengangkat wajahnya. “Kalau delivery gagal?”
Saya menatapnya lembut tapi tegas. “Itu risiko kita.”
Victor menambahkan dengan nada bisnis murni “Margin kita sepuluh kali lipat dari harga pasar. Biaya produksi rendah. Resiko itu sepadan.”
Saya mengangguk pada Jellian. “Kamu yang memimpin operasi ini.”
Ia menjawab tanpa ragu. “Siap.”
Esok paginya saya terbang ke Hong Kong, dengan satu doa sederhana semoga Jellian selamat dalam misi paling kompleks dalam hidupnya.
***
Akuisisi pabrik dilaksanakan oleh tim George di London. Ia menggunakan struktur klasik. SPC (Special Purpose Company) terdaftar di Isle of Man untuk memanfaatkan low-tax jurisdiction, kerahasiaan pemilik, kemudahan pembiayaan lintas negara. Seorang lawyer London ditunjuk sebagai proxy director, sehingga nama kami tidak pernah muncul dalam dokumen resmi.
Ketika semuanya siap, George menelpon saya dari London “Deal bagus sekali, B. Orang Arab itu bayar dua puluh kali dari harga akuisisi pabrik. Dan harga jual produk sepuluh kali dari harga pasar.” Pembayaran dilakukan melalui cross-settlement rekening pria Arab, rekening SPC, bank yang sama di Isle of Man, sehingga transaksi tidak meninggalkan jejak internasional.
Selanjutnya giliran Victor. Untuk mengoperasikan pabrik senjata. Ia mengontrak perusahaan Ukraina yang punya hubungan langsung dengan elemen militer. Produksi berjalan di bawah radar. Produk diterbangkan ke Bandara Militer Turki, lalu dialihkan ke kereta khusus yang dikawal MIT (intelijen Turki). Pengamanan lapangan oleh tentara bayaran profesional dari Boston. Semua dibayar. jenderal, politisi, middle-man, dan operator. Tetapi margin jual tetap sepuluh kali. Operasi ini bukan murah—tetapi sangat menguntungkan.
***
Setahun setelah pabrik senjata kami mulai beroperasi penuh, dunia saya retak dalam satu panggilan yang tiba pada pukul 02.17 dini hari. Telepon satelit saya, yang hanya berbunyi untuk urusan yang benar-benar penting. Bergetar dengan kode masuk dari Victor.
Saya angkat. Yang terdengar pertama kali bukan suara, tetapi tarikan napas berat, khas seseorang yang membawa kabar buruk. Lalu satu kalimat pendek—dingin, padat, dan menghantam dada saya seperti logam.
“B… Jellian diculik.”
Saya duduk tegak. “Di mana?” tanya saya, suara saya datar, keras seperti baja yang ditarik dari sarungnya.
Victor menelan ludah. “Di Suriah. Pinggiran Aleppo. Daerah Al-Bab.” Nada suaranya pecah sedikit. Bukan karena takut, tapi karena marah pada dirinya sendiri. Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, saya sudah bangkit dari tempat tidur. “Victor. Detail.”
“Diculik saat perjalanan dari Al-Bab ke Manbij. Disergap dua kendaraan pickup. Mereka bawa ke arah selatan. Eksekusi rapi. Terlatih. Bukan bandit lokal.”
Saya menarik napas dalam. “Baik. Kamu tetap di posisimu. Jangan kejar dulu. Saya terbang sekarang.”
“Siap.”
Saya ambil paspor, tas operasional, lalu wudhu. Saya melaksanakan sholat Subuh. Setelah itu saya mendekati istri. Ia sudah bangun, seakan tahu ada sesuatu yang berat. Saya berkata, “Insya Allah, sebelum Jumat papa sudah pulang.”
Istri saya tersenyum tipis, senyum seorang perempuan yang sudah terbiasa hidup sebagai istri bisnisman international.” Pastikan urusannya selesai dulu, baru pulang ” katanya. Saya mengangguk, mengambil tas kecil yang ia siapkan tanpa suara.
Dalam perjalanan dari Jakarta menuju Gaziantep (Turki) untuk masuk ke perbatasan Suriah, saya memutar ulang setiap kemungkinan. Siapa yang menculik Jellian? Kami bukan politisi. Bukan agen negara. Kami pedagang — shadow merchants. Kami tidak peduli ke mana senjata dikirim; itu urusan pembeli. Tapi Suriah bukan kota aman, itu labirin pengaruh: Turki,Rusia , Iran, CIA, Mossad , kelompok-kelompok proxy, milisi pecahan ISIS, pasukan lokal FSA, milisi Kurdi YPG Jika ISIS atau pecahannya yang menculik, ini bukan transaksi gagal. Ini pesan.
Sudah lewat 24 jam. Belum ada tuntutan. Artinya hanya satu, ini bukan penculikan untuk uang. Ini penculikan untuk leverage. Dan leverage di Suriah… selalu mengarah pada geopolitik.
Saya mendarat pukul 05.10. Victor sudah menunggu dengan Land Cruiser hitam. Begitu pintu dibuka, ia menunduk.
“Maafkan saya, B. Saya gagal melindungi Jellian.”
“Sekarang fokus. Yang penting kita selamatkan dia.”
Kami bergerak menembus jalur perbatasan. Melewati checkpoint resmi Turki, lalu memasuki jalur selundupan menuju Al-Bab. Dua hari berlalu. Hasil pencarian nihil, tidak ada lokasi, tidak ada koordinat, tidak ada tuntutan, tidak ada identitas pelaku Satu-satunya petunjuk: dua pickup Hilux tanpa plat, warna pasir, arah selatan. Ini menunjukkan aktor yang lebih besar, bukan geng lokal.
Saya tahu kami butuh sesuatu yang tidak dimiliki orang lain…
Saya telepon Beijing. “Ini B. Saya butuh mata Anda.”
Saya meminta akses ke satelit Gaofen—militer China—yang resolusinya cukup untuk membaca plat nomor dari orbit. Beijing tahu saya tidak pernah meminta tanpa alasan.
“Area mana?”
“Utara Suriah. Radius 50 km dari Al-Bab.”
“Kapan?”
“Sekarang.”
Tiga jam kemudian, saya menerima file encrypted melalui Safenet: seluruh citra pergerakan kendaraan 30 jam terakhir. Sistem tracking menganalisis jalur kargo, blind spot intel Rusia , pergerakan malam tanpa lampu, pola berhenti yang tidak lazim , okupansi bangunan tersembunyi, heat signature manusia Dan kemudian…OBJECT MATCH: 94% — Koordinat: 36.3581 N, 37.5207 E. Wilayah: pinggiran Dayr Hafir.”
Citra di-zoom. Sebuah bangunan dua lantai, setengah runtuh, dikelilingi ladang kering. Delapan heat signatures. Satu di ruang bawah tanah. Itu Jellian. Saya merasakan dada saya mengeras.Dayr Hafir adalah area konflik. Siapa pun yang beroperasi di sana biasanya bukan aktor kecil, itu jalur para broker terkuat. Kami harus pastikan gerakan kami tidak boleh terdeteksi oleh kelompok yang sedang bertikai.
Saya panggil Victor. Briefing. Saya menunjukkan citra satelit. “Pintu timur adalah titik lemah. Temboknya retak.”
Victor membaca posisi penjaga. “Ini terlalu banyak untuk deep infiltration tanpa heavy weapons.”
Saya menjawab tenang “ Kita tidak pakai brutal entry. Kita pakai precision timed strike.”
“ Bagaimana formasinya? Tanya Victor.
“ 2 sniper di rooftop bangunan terbengkalai. 4 operator breaching. 2 operator CQB. Saya akan pimpin langsung.” Kata saya.
Victor menatap saya. “B, ini gila. Terlalu berbahaya. Posisi 1 : 1. Biarkan tim saya yang masuk.”
Saya balas dingin. “Kalau ada yang mati, aku ingin hanya aku yang mati. Tidak ada orang lain.”
Victor menunduk. “ Siapkan logistic dan team. “ Tegas saya.
“ Siap.” Jawab victor langsung ke luar ruang dari safehouse.
***
02.00 Dini Hari. Operasi Dayr Hafir Dimulai.
Angin padang kering Suriah bergerak seperti bisikan para arwah yang tersesat di gurun. Udara dingin mengiris kulit. Bau debu, logam, dan kehati-hatian memenuhi malam. Dari kejauhan, bangunan persembunyian itu tampak seperti bangkai beton yang menelan semua rahasia gelap yang masuk ke dalamnya.
Dua sniper kami sudah di posisi.
“Target perimeter A, locked.”
“Target perimeter B, locked.”
Saya mengangkat tangan, memberi isyarat terakhir. Detik itu dunia terasa berhenti. Saat saya menurunkannya perlahan, dua kilatan kecil tak bersuara keluar dari kegelapan.
Tssk. Tssk.
Dua tubuh penjaga luar jatuh hampir bersamaan. Seolah malam menelan mereka diam-diam. Tim breaching maju cepat, lutut rendah, langkah senyap. Sebuah explosive charge mini dipasang pada pintu timur. Tepat di titik lemah struktur.
“Three… two… one… breach.”
Ledakan kecil yang nyaris tak terdengar memecah pintu. Asap debu berputar. Kami masuk. Tiga penjaga berdiri di koridor yang remang. Mereka terkejut, mulut baru akan mengeluarkan kata pertama ketika tembakan peredam kami sudah mendahului.
Tuk. Tuk. Tuk. Malam kembali sunyi. Dalam 9 detik tiga penjaga tewas. Dua operator sudah lebih dulu bergerak ke lantai atas. Di lantai atas dua penjaga belum sempat turun, dua tembakan kami menyusul. Lebih dulu menyentuh jantung mereka sebelum kaki mereka mencapai lantai.
Saya bersama Victor berlari ke ruang bawah bawah tanah. Lorong bawah tanah seperti tenggorokan gelap yang menelan keberanian manusia. Bau lembap bercampur darah dan karat logam. Pintu besi terakhir menunggu. Victor melemparkan granat asap ke dalam.
“Go!”
Kami masuk menembus kabut putih. Di dalam, seorang penjaga menempelkan pistol ke kepala Jellian. Gerakannya rapi, dingin, profesional. Dia sudah siap mengeksekusi. Saya menembak tepat di antara kedua matanya sebelum ia sempat menarik napas kedua.
Tubuhnya rubuh seperti boneka kain. Senyap.
Di pojok ruangan lembab itu, di bawah lampu kuning yang menyala lemah, Jellian duduk terikat. Wajahnya penuh luka, darah kering, dan guratan bekas penyiksaan. Rambutnya acak-acakan, bibir pecah. Tapi matanya…
Saat ia mendongak dan melihat saya, pupilnya melebar, seperti seseorang yang baru melihat mimpi terakhirnya menjadi nyata.
“B… you came,” suaranya pecah seperti kaca retak.
Saya berlutut, tangan saya membuka tali di pergelangan tangannya dengan cepat namun lembut.
“Tentu saya datang,” bisik saya. “Kamu aset saya.”
Kata itu terdengar teknis, dingin, profesional. Tapi di baliknya, ada sesuatu yang jauh lebih dalam, yang hanya kami tahu. Begitu ikatan lepas, Jellian langsung meraih leher saya, memeluk dengan kekuatan orang yang baru kembali dari pintu kematian. Tubuhnya gemetar seperti mesin yang hampir kehabisan energi.
Di belakang saya, Victor memberi kode: Area secure.
Saya mengangkat Jellian dalam gendongan. Tubuhnya ringan… terlalu ringan. Tapi beban emosinya menghantam dada saya seperti palu tempur. “Kita pulang, sayang…” bisik saya. Pipinya menempel di dada saya, suaranya serak, hampir tak bernafas.
“B… I thought… I wouldn’t see you again.”
Saya menatap wajahnya, wajah mantan pasukan para komando Ukraina yang seharusnya tak bisa dihancurkan oleh rasa sakit apa pun. Dia dilatih untuk tidak bicara dalam penyiksaan. Dia dilatih untuk mati diam-diam jika perlu. Jika dia sampai mengucapkan kalimat itu… Artinya dia sudah melewati batas terakhir manusia.
“Semua sudah berakhir,” kata saya sambil tersenyum, senyum yang saya paksa khusus untuk menenangkan jiwanya. Dan malam itu, tanpa suara, tanpa drama, tanpa histeria… Air mata jatuh dari matanya perlahan, jujur, seperti rahasia yang akhirnya pecah. Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun bekerja bersama saya, saya melihat Jellian menangis. Di dada saya.
Durasi Operasi: 2 Menit 52 Detik
Bagi dunia, itu hanya angka. Tapi kami tahu: Tanpa satelit Gaofen, itu bukan operasi penyelamatan. Itu operasi bunuh diri. Dan malam itu, di Dayr Hafir, kami berhasil berjalan masuk ke neraka… dan keluar sambil membawa seseorang yang berarti lebih dari sekadar “aset”.
***
Keesokan harinya. Intel Turki (MIT) bingung. Intel Rusia (GRU) marah. Milisi lokal ketakutan. AS dan YPG mencurigai operasi intelijen bayangan. Iran mulai bertanya-tanya siapa yang punya akses satelit sebesar itu. Kesimpulan mereka. “Operasi dilakukan oleh unit profesional… dengan dukungan satelit militer tingkat negara.” Mereka tidak tahu, bukan negara. Bukan pemerintah. Hanya kami.
ISIS bingung, bagaimana lokasi mereka ditemukan? Gaofen bukan sesuatu yang mereka pahami. Marah. Makanya empat anggota dituduh informan. Dua dieksekusi. Takut! Ya karena bekas tembakan terlalu presisi. Ini operasi level negara. Ketakutan mereka membuat satu kesalahan, mereka mencoba memindahkan stok senjata curian di Idlib ke arah Turki, jalur yang justru sedang saya pantau. Itu membuka akses baru. Akses yang akhirnya menyelesaikan kontrak penjualan senjata, yang berakhir 2016.
***
Di apartemen kecil dekat Şişli, Istanbul. Jellian duduk dengan selimut tipis. Luka-lukanya sudah dibersihkan. Suasana sunyi.
Ia akhirnya berkata pelan “B… aku pikir aku tidak akan melihat siapa pun lagi.”
Ia menatap saya dengan mata yang penuh kejujuran dan ketakutan yang sudah retak. “Kesetianku padamu… bukan karena pekerjaan. Tapi karena kepemimpinanmu yang selalu digaris depan disaat krisis, disaat semua orang kehilangan cara..”
Ia tersenyum tipis. “sejak petama pertemu di Dubai, aku sudah jatuh cinta kepadamu.””
Saya diam. Karena dalam dunia kami, perasaan lebih berbahaya daripada peluru. Akhirnya saya menjawab, “Kalau aku selalu take risk didepan, itu karena aku tidak mau satu pun dari kalian jadi korban. Kalian tidak seharusnya mengabil resiko atas tugas yang berikan.
Ia menggenggam tangan saya sebentar, cukup untuk menyampaikan apa yang tidak bisa ia ucapkan. Dan dalam hening itu, kami berdua tahu. Hubungan kami telah berubah. Tidak menjadi romansa. Tidak menjadi larangan. Tapi menjadi sesuatu yang bernilai, lahir dari risk taker, kesetiaan, luka, dan keberanian. Sebuah loyalitas yang bukan lagi profesional. Bukan lagi operasional. Tetapi personal. Dan untuk dunia kami yang keras… itu sudah lebih dari cukup.
***
Sejak tahun 2017. Jellian ditugaskan sebagai analis di Yuan- Sub Holding Mineral tambang dan Energi. Tahun 2024, dia jadi CEO anak usaha Yuan dibawah sub holding Mineral tambang dan Energi di Brazil.

Tinggalkan komentar