
Saya meminta George di London untuk mendaftarkan saya sebagai peserta International Financial & Banking Seminar di Singapura. Seminar ini bukan ruang akademis biasa—ini forum tertutup, hanya untuk lawyers yang mendapat recommendation dari Top 10 global law firms. Di antara semua panel dan diskusi, daya tarik utama saya hanya satu: para pembicaranya adalah praktisi, bukan akademisi. Saya selalu percaya satu hal, “literasi finansial sejati lahir dari membaca buku… dan membaca manusia.” Hari itu tahun 2011. Usia saya 48. Dan saya masih haus belajar.
Di tengah kerumunan jas gelap dan aksen Eropa, mata saya terpaku pada seorang wanita. Satu-satunya yang usianya belum 30. Sangat tidak biasa untuk forum ini. Wanita seusia itu, di ruangan seperti ini? Artinya hanya dua kemungkinan Associate Partner pada firma hukum internasional, atau an outlier—talenta yang terlalu cepat naik level.
Kami saling lempar senyum. Lalu ia mendekati saya.
“EB?” katanya sambil menatap badge seminar saya. “Apa singkatan EB?”
Saya mengangkat bahu. “Panggil saja B.”
Kami berjabat tangan. Hangat. Tegas.
“Martina, by the way.”
Tatapannya tajam, tetapi senyumnya professional, the combination you only find in top-tier lawyers.
“B, dari firma hukum mana? ” Nada suaranya halus, tetapi penuh kalkulasi.
“Saya bukan lawyer,” jawab saya santai. “Saya businessman.”
Ia mengernyit kecil.
“Tapi seminar ini terbatas. Hanya lawyer yang dapat rekomendasi dari Top 10 law firms yang bisa masuk.”
Saya hanya tersenyum.
Ia menatap saya lama, lalu menarik kesimpulan yang tepat.
“Jadi kamu businessman… yang direkomendasikan oleh Top Law Firm. That means, you’re not an ordinary businessman.” Satu kalimat yang membuktikan intuisi hukumnya tajam.

**
Setelah seminar ia memberi nomor telepon. Saya ajak minum kopi; ia mengangguk. Pertemuan demi pertemuan berlanjut. Dia selalu luangkan waktu bertemu saya bila saya ada business trip ke Singapura. Begitupula di Hong Kong setiap kali ia ada business trip pasti telp saya.
Pada satu malam di kamar hotel Ritz-Carlton. Malam itu, setelah empat tahun pertemanan. “You’re a shadow banker, B. You exploit the weaknesses of clients who can’t pass the normal banking gate.”
Saya tertawa pelan dari balik selimut dan memeluknya “You bet you. But how did you know?”
Martina menatap saya lama. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan keterpesonaan. “Sejak hari pertama… kamu terlalu menguasai kasus hukum keuangan. Referensi kamu presisi. Kamu menggiring percakapan seperti pengacara senior menggiring junior. Advice saya tidak berarti apa-apa bagi kamu. Sama seperti memberi saran pada angsa tentang cara berenang.”
Ia menyentuh pipi saya. “You were teasing me. And I… liked it.”
***
Keesokan pagi. Saat sarapan, ia tiba-tiba serius. “B, saya ada klien bermasalah. Mereka kalah di futures. Loss masih unrealized, tapi kalau tidak dibantu window dressing, neraca mereka bisa jebol. Value perusahaannya USD 5 miliar. Mereka butuh credit enhancement untuk jaga rating di bank.”
Saya menatapnya. Lembut, tetapi tetap profesional.
“Jadi mereka butuh credit enhancement.”
“Yes. Kamu tahu siapa yang bisa bantu?”
Dalam benaknya, Martina menolak berurusan langsung dengan shadow banker. Tetapi ia tetap ingin saya membuka pintu akses. Ia memisahkan kehidupan profesional dari personal. Dan saya menghormati itu.
Saya memberikan kartu nama.
“Temui George di London. CEO Private Equity. Dulu eksekutif JPM Frankfurt.”
Ia membaca kartu itu dan tersenyum kecil.
“Nama ini tidak asing… Yes, I know who he is.”
Itulah malam ketika hubungan kami berubah. Bukan sekadar kedekatan, tetapi sebuah kemitraan diam-diam— di mana rasa, kepercayaan, dan akses saling menyilang tanpa pernah mendefinisikan diri.
***
Sebulan setelah Martina bertemu George, sebuah secure packet tiba di inbox terenkripsi saya. George menulis ringkas, presisi, seperti biasa—tiga halaman yang merangkum keseluruhan business plan Martina. Dan dari sanalah semuanya menjadi jelas.
Holding yang ingin “didandani” itu bukan perusahaan kecil. Ini perusahaan energi integrative. Core business di oil & gas trading, jaringan distribusi lintas-benua, armada tanker untuk logistik, anak perusahaan tambang batubara, konsesi nikel yang menjadi tulang punggung suplai smelter.
Struktur mereka berat. Eksposur derivatif besar. Neraca mereka retak, tapi belum pecah. Mereka butuh satu hal, window dressing yang cukup elegan untuk meyakinkan bank, cukup kredibel untuk lolos regulator, cukup besar untuk menutup luka dalam neraca. Martina mungkin tidak mengatakannya dengan gamblang, tapi saya tahu, ini bukan permintaan bisnis biasa, ini permintaan kepercayaan.
Saya memutuskan menggerakkan mesin. Lewat secure email, saya berikan instruksi pada George.
1. Credit Enhancement — Titik Awal Operasi
George mengarahkan tim Ale Capital di Zürich untuk menyiapkan instrument. First-class bank instrument, dibungkus sebagai credit enhancement, collateral dijamin oleh dana Praha, dokumentasi dirancang supaya clean secara regulatoris Eropa. Ini pondasi untuk restruktur fasilitas kredit, rollover utang jangka pendek, dan akses pembiayaan bridging.
Credit enhancement itu bukan jaminan abadi. Ia seperti oksigen tambahan. Menyembuhkan sementara, tapi tidak pernah mengubah penyakit. Dan itulah yang mereka butuhkan.
2. Chang di Beijing — Penjaga SWIFT Terminal
Saya tugaskan Chang menjaga hal yang paling sensitif: terminal SWIFT dengan API khusus. Chang memegang sistemnya. Tetapi PIN hanya saya yang punya. Artinya? pengiriman aset, pemicu collateral, routing antarbank, dan denyut nadi pembiayaan lintas negara …semua melalui satu jalur yang hanya saya kendalikan. Chang hanyalah tangan kanan. Kontrol utamanya tetap pada saya.
3. Victor — Yang Mengunci Pintu Otoritas
Victor mengisi ruang yang tidak bisa diisi siapapun, tiga pejabat regulator, satu pejabat senior energi, satu insider di lembaga sovereign. Ia tidak membawa proposal. Tidak membawa uang. Yang ia bawa adalah koneksi. Dan di dunia shadow finance, koneksi adalah hukum kedua setelah kontrol. Jika legalitas dibangun oleh sistem, kelayakan dibangun oleh orang dalam. Victor memastikan pintu yang harus terbuka—terbuka. Dan pintu yang harus tertutup—tertutup rapat.
4. Klien Martina akan menandatangani dokumen demi dokumen: facility agreement,cross-guarantee deed, collateral pledge, SPAC conduit arrangement. Mereka tidak memahami: struktur akhir, alur kontrol, atau konsekuensi jangka panjang. Mereka percaya pada legal opinion Martina, dokumen Swiss yang tampak premium, struktur yang terlihat rapi di atas kertas.
Martina pun akan percaya bahwa ia mengendalikan struktur itu. Padahal ia hanya menggerakkan façade paling depan. Lapisan inti tidak pernah dia lihat. Tidak pernah dia kuasai. Dan memang tidak saya izinkan untuk ia kuasai.
Rencana Exit — Operasi yang Dirancang dari Hari Pertama
Martina tidak pernah tahu bahwa sejak awal saya sudah merancang struktur dengan tiga exit yang berbeda—semuanya legal, semuanya rapi, semuanya tak tersentuh regulator.
Exit 1: Akuisisi Melalui SPAC Zürich
Semua aset holding Singapura rencananya akan ditransfer ke SPAC Zurich — skin bersih, compliant, EU-grade. Semua terlihat sehat. Tidak ada darah. Tidak ada jejak masa lalu.
Exit 2: Debt-for-Equity Swap
Ketika saatnya tiba, saya tekan tombol yang menentukan terminate credit enhancement. Dalam sekejap collateral batal, fasilitas kredit runtuh, dan debt berubah menjadi equity. Equity itu kemudian automatically berpindah ke kreditor tertentu kreditor yang sudah saya pilih sejak hari pertama.
Exit 3: Beneficial Ownership ke Grup Chang.
Pada akhirnya saham berpindah, kontrol berpindah, konsesi tambang berpindah. Melalui SPAC yang legal menurut standar internasional, terdaftar di Nasdaq, memenuhi seluruh persyaratan SEC.
Tidak ada satu pun pasal hukum yang bisa digugat. Tidak ada regulator yang bisa membalikkan struktur. Tidak ada pengacara yang bisa menemukan celah. Karena semua terjadi dalam jalur legal formal, meski motifnya tidak pernah formal. Yang pasti hostile terjadi dengan harga murah. Skema mudah. Hanya 10% cash out dari total asset dan sisanya syntetic bond dengan cash back offshore account sebagai collateral utang ke bank konsorsium.
***
Sejak hari saya mengenalkannya kepada George, nomor telepon Martina mendadak sunyi. Pesan saya hanya centang satu, email saya tenggelam tanpa balasan. Saya tidak tersinggung. Tidak kecewa. Saya hanya mengamati. Karena secara berkala, George mengirimkan laporan. “B, she’s exceptional. Negotiation skill di atas rata-rata. M&A structure comprehension sangat kuat. Banking-law literacy-nya kelas global. She’s driving the entire process flawlessly.”
Saya hanya tersenyum membaca itu. Bukan karena bangga, tetapi karena segala sesuatu berjalan sesuai desain. Martina mengikuti setiap protokol yang saya dan George bentuk: protokol yang ia kira bagian dari pekerjaannya, padahal itu blueprint yang saya susun sejak hari pertama.
***
Dua hari sebelum Natal 2024. Email yang tidak saya duga. Subject-nya sederhana “B, I’m in Jakarta. I miss you.” – Martina- Saya membaca email itu lama. Bukan karena rindu, tetapi karena tahu bahwa lingkaran akhirnya menutup.
Sore itu Jakarta hujan seperti tirai tipis perak. Saya mengetuk pintu kamar hotelnya. Tidak ada pelukan saat pintu tersibak. Tidak ada tawa kecil seperti dulu. Yang membuka pintu adalah seorang wanita yang telah naik kelas beberapa level di atas dirinya sendiri.
Jaket formal. Jam tangan executive. Aura CEO yang terbentuk dari tahun-tahun tekanan.
“B…” suaranya bergetar lembut, “…akhirnya kita bertemu lagi.”
Ia menyerahkan kartu namanya. CEO – Holding International Energy & Mining. Holding yang dulu ia perjuangkan mati-matian demi kliennya… dan yang kini dimiliki Chang.
Ia tersenyum bangga. “Saya ingin kamu tahu. Kamu orang pertama yang saya beritahu. Karena kamu sahabat saya.”
Kata “sahabat” keluar dari bibirnya dengan hati-hati, seperti seseorang yang takut mengakui bahwa ia pernah butuh seseorang.
“Aku minta maaf…” suaranya pecah, nyaris seperti bisikan yang tertahan di tepian tenggorokan. “Sembilan tahun ini… aku sengaja menghilang dari kamu.”
Kata-kata itu jatuh pelan, tapi menghantam dadaku seperti pintu masa lalu yang tiba-tiba dibuka lebar. Dia menunduk, jemarinya bergetar. “Aku tahu kamu kirim email… aku tahu kamu kirim short message. Setiap tulisanmu masuk. Aku baca semuanya… tapi aku tidak berani membalas.”
Lorong itu terasa semakin senyap. Bahkan napas AC seolah berhenti. Waktu… ya, waktu memang berjalan kejam. Sembilan tahun lenyap seperti bayangan yang diseret malam. Namun tiba-tiba semuanya kembali hidup. Tajam, utuh, menyala, seperti malam 2015 di Room Ritz, ketika kota baru saja basah oleh hujan dan lampu-lampu hotel memantulkan kilauan emas pada kulit Martina.
Saya masih bisa merasakan detiknya, aroma parfumnya yang hangat, tatapan matanya yang berani, dan gerak tubuhnya yang selalu dua langkah lebih jujur daripada kata-katanya. Martina tidak pernah pandai bersembunyi. Jika dia mencintai seseorang, seluruh tubuhnya yang bicara lebih dulu. Dan malam itu… malam yang kusangka hanya lintasan nakal antara dua manusia dewasa… ternyata adalah malam yang tidak pernah hilang dari dirinya. dan kini kutahu, juga tidak pernah hilang dariku.
“Aku mencintaimu waktu itu…” katanya, menahan napas. “Dan aku benci diriku karena masih merasakannya sampai sekarang.”
Saya menutup mata sejenak. Ternyata cinta bisa berjalan sembilan tahun… tanpa kehilangan langkahnya.
Dan saya tidak merespon. Saya hanya menatapnya. Menatap perempuan yang dulu tersipu saat saya goda, yang menangis di bahu saya saat kliennya terancam bangkrut, yang bekerja siang-malam mengikuti arahan George, yang akhirnya tanpa sadar membawa kliennya ke struktur yang saya desain untuk di hostile dengan harga murah. Ia tidak tahu, bahwa perusahaan yang kini ia pimpin bergerak sesuai jalur kontrol yang saya bangun bertahun-tahun sebelum ia duduk di kursi CEO.
Martina tidak tahu bahwa posisinya sebagai CEO adalah proxy appointment, dan seluruh struktur kepemilikan dikunci oleh Grup Chang melalui legal international SPAC architecture yang tidak bisa diserang siapa pun. Ia menyebut dirinya “dipercaya investor”. Dan itu tidak salah. Hanya saja, ia tidak tahu siapa yang menempatkannya di sana. Andaikan nanti dia tahu sendiri, tetap saja dia tidak akan percaya. Karena secara legal nama saya tidak ada dalam struktur korporat.
“B… saya bahagia sekarang.” Ia berkata itu sambil menunduk sedikit, gerakan kecil yang menandakan kejujuran yang ia tidak bisa sembunyikan. “Tapi entah kenapa… saya ingin kamu tahu.”
Saya tersenyum pelan. Senyum seseorang yang akhirnya melihat seseorang lain tiba di tempat yang seharusnya ia berada, walau ia tidak pernah tahu jalan menuju ke sana sudah saya ratakan dari jauh-jauh hari.
Ada orang yang hadir dalam hidup kita bukan untuk dimiliki, bukan untuk dinikahi, bukan untuk dikurung dalam ikatan. Ada orang yang hadir untuk membuat kita melihat sisi diri kita sendir yang paling tersembunyi. Martina adalah itu bagi saya. Ia membuat saya ingat bahwa saya masih bisa menyayangi seseorang tanpa keinginan memiliki, masih bisa menjaga seseorang tanpa membuatnya merasa dijaga, masih bisa melindungi seseorang tanpa ia tahu dari apa ia dilindungi.
Ia bukan korban. Bukan lawan. Bukan sekutu. Ia adalah satu-satunya paradox lembut dalam hidup saya. Wanita yang menjadi bagian dari permainan terbesar saya, tanpa pernah saya beri peran sebagai pion. Ia berjalan dengan kakinya sendiri. Mendaki gunung yang ia yakini sebagai pilihan. Dan saya membiarkannya.
Karena cinta yang dewasa tidak membutuhkan klaim. Tidak membutuhkan balasan. Hanya membutuhkan ruang untuk melepas.
“Kamu sudah jadi orang hebat, Martina.”
Saat saya berdiri, ia menatap saya untuk terakhir kalinya.
“B… maafkan kalau persahabatan kita harus berjarak karena…”
Saya memotongnya dengan senyum ringan. “Kamu sudah jadi orang hebat. Saya sudah menua , saya tetap bangga pernah menjadi sahabatmu.”
Saya melangkah pergi. Pintu kamar tertutup perlahan di belakang saya. Ia tidak mengantar sampai lift. Karena setelah pintu itu terkunci, ia akan kembali ke dunianya, dan saya akan kembali ke dunia saya. Dan seperti semua cerita yang tidak membutuhkan drama, akhirnya justru menjadi sempurna.

Tinggalkan komentar