
Siang itu saya bertemu David di Shangri-La Hotel, Hong Kong—ruang lobi yang terlalu wangi untuk percakapan yang sifatnya setengah legal. David berjanji memperkenalkan saya kepada seorang rekannya dari Italia, Marcini, pria yang menurutnya memiliki akses ke offshore liquidity yang dapat digunakan sebagai credit enhancement untuk struktur Credit Linked Note (CLN) yang sedang kami rancang.
Namun, seperti biasa, David terlalu banyak berbicara. Orang Italia memang punya bakat alami untuk membuat percakapan sederhana terdengar seperti opera kecil—penuh gestur, tawa, dan fanfaronade yang pada akhirnya tidak relevan dengan tujuan pertemuan. Saya menahan rasa bosan sambil menunggu ia berhenti berputar-putar. Butuh lebih dari satu jam sampai akhirnya ia masuk ke tema inti.
Marcini membuka pembicaraan dengan nada datar, business-like, tanpa upaya membangun kedekatan. “B, kita tidak perlu berpanjang kata. Saya hanya memiliki satu hal, yaitu access code untuk sebuah rekening offshore yang berada di bawah kontrol saya. Jika kamu bisa membukanya, cukup cetak print-out posisi dananya. Berdasarkan dokumen itu, kita bisa menandatangani akad.”
Tidak ada dramatisasi. Kalimatnya kering, seolah ia menyampaikan agenda rapat. Saya memahami maksudnya. Dalam dunia offshore private funds, pemilik atau controller rekening biasanya tidak memberikan dokumen formal. Yang mereka berikan hanya kode akses satu arah, kode yang memungkinkan seseorang hanya melihat saldo, bukan menarik dana. Ini mekanisme umum untuk memastikan, pemilik akun tetap anonim, controller dapat membuktikan eksistensi dana (proof of fund), dan pihak ketiga bisa melakukan verifikasi untuk keperluan struktur pembiayaan tanpa menimbulkan transaction footprint. Kode itu tidak memberi kewenangan transaksi. Hanya memberikan visibility.
Namun justru di situ letak sensitivitasnya. Hanya mereka yang benar-benar “diakui” oleh pemilik dana yang biasanya mampu membuka akses itu. Para pemain offshore sangat menjaga hirarki kepercayaan; salah satu cara mengetes seseorang adalah dengan memberikan kode seperti itu. Sebuah sandi yang lebih menyerupai ritual perkenalan dunia bawah tanah keuangan internasional, bukan sekadar login akun.
Saya tidak bertanya mengapa ia mau bekerja sama dengan saya. Pengalaman mengajarkan bahwa offshore fund operators biasanya beroperasi untuk kepentingan aktor-aktor gelap—politically exposed persons (PEP), pejabat koruptif, konglomerat yang ingin memutihkan arus dana, hingga sindikat yang memanfaatkan shadow banking lintas yurisdiksi. Mereka bukan kriminal jalanan; mereka adalah gangster berdasi, yang hanya terlihat bersih karena memakai bank custodian sebagai selimut legalitas.
Marcini menyerahkan selembar kertas berisi angka dan huruf—serangkaian kode yang tampak acak tetapi mewakili akses ke rekening bernilai delapan atau sembilan digit. Saya menatap kertas itu, lalu menatap Marcini. Wajahnya tetap tenang, mungkin karena ia tahu saya tidak menyukainya. Tapi ia juga tahu saya sedang mengukur konsistensi cerita dan integritas permainannya. Dalam transaksi seperti ini, yang dinilai bukan hanya dana, tetapi cara seseorang memegang permainan.
Saat itulah saya sadar. Marcini bukan sekadar operator. Ia sedang menguji saya, sama seperti saya sedang menilai apakah ia layak dipercayai—atau sekadar seekor serigala yang terbiasa menyamar sebagai konsultan finansial.
Dan permainan baru saja dimulai.
***
Usai meeting dengan David dan Marcini, saya langsung menuju Financial Club untuk bertemu Esther. Namun di tengah perjalanan, Esther menelepon dan memindahkan lokasi pertemuan ke sebuah kafe di kawasan Central, Hong Kong. Saya tahu tempat itu—kafe favoritnya ketika ia butuh ruang netral untuk bicara hal-hal sensitif di luar kantor. Ketika saya tiba, saya melihat Esther sedang duduk bersama seorang pria. Saya memilih tidak langsung mendekat; saya duduk tiga meja dari mereka sambil menunggu percakapan mereka selesai. Atmosfer kafe tenang, tetapi energi di meja mereka terasa tegang.
Beberapa menit kemudian, saya melihat pria itu mendorong Esther. Refleks, saya berdiri dan melangkah mendekat. Tepat ketika pria itu mengangkat tangan untuk menamparnya, saya menahan pergelangannya.
“Jangan ikut campur!” teriaknya.
Saya menatapnya tanpa emosi. “Dia sahabat saya. Dan sekarang, kalau Anda mau masalah, Anda berurusan dengan saya.”
Ia mencoba memukul saya. Jarak kami hanya setinggi lengan. Gerakannya mudah dibaca. Saya menunduk, menusukkan pukulan ke rusuknya, lalu memukul dagunya dengan cepat. Dalam hitungan sepuluh detik, pria itu roboh ke lantai. Satpam datang. Untungnya pria itu sadar kembali beberapa detik kemudian, bangkit dengan wajah marah, lalu pergi tanpa kata.
Saya menatap Esther. “Siapa dia? Apa yang terjadi?”
Bukannya menjawab, Esther menangis. Saya memeluknya agar ia tenang. “Dia teman saya, B… Dia pinjam uang, tidak besar, tapi dia bohong, malah dia marah…”
Saya menarik napas panjang. “Lupakan. Kamu terlalu kuat untuk urusan sepale itu .” Setelah ia merasa lebih tenang, saya mengajaknya ke Financial Club.
Di Financial Club
Kami duduk di ruang privat di lantai dua. Saya menyerahkan secarik kertas—akses code—yang diberikan Marcini. Esther membaca dengan seksama. Matanya berubah serius, bukan emosional seperti di kafe tadi.
“Ini restricted account, B. Tidak semua orang bisa membuka akun seperti ini meskipun memegang access code.” Kata Esther. Maklum di banker di bank Eropa yang ada di Hong Kong.
Ia lalu menambahkan penjelasan teknis. “Akun seperti ini berada di kategori institutional restricted facility. Untuk membukanya, dibutuhkan kredensial Trader Level 7.”
Dalam dunia open market operations, khususnya pada instrumen structured liquidity dan akun custodian tier-1, Trader Level 7 adalah kategori tertinggi, setara dengan lisensi operasi pasar terbuka yang biasanya hanya dimiliki oleh Head of trading desk prime bank tier-1, operator untuk sovereign fund, atau trader senior dengan akses langsung ke Open Market Commission The Fed atau ECB.
Dengan kata lain, access code hanyalah kata sandi, bukan kunci operasional. Untuk membuka restricted account, dibutuhkan identifikasi institusi yang terdaftar sebagai Qualified Institution (QI), lisensi trader level 7, approval channel dari bank kustodian yang terhubung dengan sistem interbank primary market.
Saya bertanya pelan. “Jadi siapa yang bisa membuka akses seperti ini?”
Esther menatap saya.
“Hanya VVIP dalam konteks finansial artinya bukan hanya Very Important Person, tapi Very Verified Institutional Person, yaitu institusi yang berada dalam top-tier prime bank, sovereign fund, atau private banking kelas dunia yang terhubung dengan Open Market Commission The Fed.”
Saya terdiam. Peta permainannya berubah. Access code tanpa lisensi institusional ibarat Anda punya koordinat brankas, tetapi tidak punya retina untuk membuka pintunya. Informasi Esther sangat berguna. Artinya ada celah untuk mengakses. Caranya? masuk sistem perbankan yang punya akses ke OMC. Sekarang masalahnya? bagaimana masuknya. Itu bukan big deal tapi tetap sophisticated.
Esther menatap saya lagi.
“Apa sebenarnya deal dia dengan kamu?”
“Kerjasama,” jawab saya singkat.
Ia menghela napas.
“Sebaiknya jauhi saja, B. Ini hanya buang waktu. Orang seperti itu selalu membawa lebih banyak risiko daripada peluang.”
Saya tidak menjawab. Di dunia shadow liquidity, risiko dan peluang memang sering kali datang dalam bentuk yang sama.
***
Ketika saya keluar bandara Ferenc Liszt, matahari sore memantulkan cahaya emas ke kaca gedung terminal. Angin lembut membawa aroma debu, bensin, dan roti panggang dari kafe dekat pintu keluar. Di sanalah Karel menunggu saya. Ia berdiri bersandar pada Audi hitam dengan kaca gelap—mobil pinjaman. Karel tidak seperti perempuan Eropa yang biasa bekerja di dunia finansial. Ada kekuatan tenang pada dirinya. Wajahnya tegas: dagu rapi, mata hijau gelap yang selalu tampak menganalisis sesuatu di balik orang yang ia lihat. Tubuhnya ramping, tapi dengan energi orang yang terbiasa bekerja 14 jam sehari.
“Are you Mr. B?” katanya dengan suara rendah yang sedikit serak, ciri orang yang sering begadang di depan layar server.
Saya mengangguk.
Ia tersenyum kecil. Senyum seorang perempuan yang tahu hidupnya keras, namun tetap memilih bertahan. Itu senyum yang membuat saya mengerti kenapa George memilihnya untuk operasi ini. Karel adalah definisi manusia yang paling bisa diandalkan ketika segala sesuatu runtuh.
Sebelumnya saya sudah baca profile Karel dari George. Nama: Karel Nováková. Usia, awal 30-an. Ia hidup dalam realitas paradoks kota ini. Ia bekerja dengan komponen teknologi kelas dunia. Karel tumbuh di keluarga yang selalu membayar tagihan telat. Ia belajar memprogram bukan karena passion, tapi karena IT adalah satu-satunya cara keluar dari nasib buruh. Karel pernah bekerja sebagai analis sistem di sebuah bank Hungaria kelas menengah. Ia tahu struktur permission internal, sistem identifikasi AML, API gateway, kesenjangan antara compliance dan operasional, dan terutama bagaimana bank memverifikasi identitas tamu korporat. Itu membuatnya sangat berbahaya. Dan sangat berguna bagi saya.
Saya terbang ke Budapest karena itu bagian dari routing perjalanan yang dirancang Victor—lebih aman, lebih bersih jejaknya sebelum masuk Praha. Budapest di musim panas adalah kota yang terasa seperti panggung arsitektur Austro-Hungaria, kafe-kafe pinggir jalan, dan ritme kota yang membuat siapa pun mudah tenggelam. Kota ini sering dipilih sebagai titik masuk oleh operator Eropa Timur karena tingkat pengawasannya lebih longgar. Praha berbeda total, lebih tertib, lebih presisi, dan lebih kaya akan pengawasan finansial, markas bagi beberapa private bank pan-Eropa yang terhubung dengan Euroclear dan OMC feed-line Eropa. Di sinilah operasi yang sebenarnya akan terjadi.

Entah bagaimana, saya dan Karel menjadi akrab dalam hitungan jam. Ia menemani saya check-in di Art Nouveau Palace Hotel, lalu membawa saya ke museum, dan kafe-kafe yang hanya diketahui warga lokal. Dan malam itu… kami tidak menjaga jarak. Saat saya terbangun pagi hari, ia berada di bawah selimut saya, tersenyum lembut sambil berbisik:
“Wonderful…”
Saya mengenali pola itu. Ketika seseorang tertambat secara emosional, ia berhenti menjadi variabel. Ia berubah menjadi aset. Karel kini menjadi bagian dari operasi saya. Dan ia tahu itu.
***
Saya briefing team, Mereka adalah Victor, Karel dan 3 pria bertubuh tegap dan tampan. Briefing di apartement yang khusus kami sewa untuk markas sementara “ Tujuan saya bukan meretas atau merampok bank. Saya ingin masuk ke sistem bank dengan cara yang legal dari sisi prosedur, tetapi memanfaatkan kelengahan logika manusia dan celah operasional. “ Kata saya. Mereka semua menyimak.
Victor mulai memaparkan rencana. Langkah 1. Kita menyiapkan identitas kamu sebagai: Michael Mandosa – Senior Financial Envoy Mandosa Global Trading, British Virgin Islands. Kita akan menggunakan sertifikat perusahaan yang benar-benar terdaftar, data beneficial owner yang sudah dibentuk lewat nominee, legal opinion dari firma hukum kecil di Malta, dan good standing certificate yang disahkan. Tidak ada yang ilegal. Hanya manipulasi struktur sah.
Langkah 2. Bank draft itu palsu, tetapi tercetak dengan hologram yang identik, nomor seri yang terdaftar di ledger lama bank penerbit, dan microprint yang tidak bisa dibedakan tanpa alat khusus. Mengapa draft itu penting? Karena draft besar memicu verifikasi melalui call-back, pembukaan ruang konsultasi privat, pemanggilan officer khusus internasional. Ini adalah social engineering, bukan hacking. Saat officer menerima draft, ia harus membuka portal internal, melakukan verifikasi dengan bank penerbit, mengizinkan saya duduk di ruangan privat.
Langkah 3. Bank Eropa memiliki ruangan khusus untuk tamu institusi: ruangan tertutup, komputer terhubung sistem , akses read-only akun tertentu Komputer itu tidak terhubung ke internet bebas. Namun access code dari Marcini adalah offshore read-only vault key yang tidak berada dalam jurisdiksi bank Hungaria. Ketika kamu memasukkannya, API dari offshore custodian terhubung lewat secure tunneling ke interface bank. Hasilnya, sistem bank menampilkan portofolio, tidak ada alarm, semuanya terlihat resmi. ” Kata Victor.
“ Karena ..” Karel menambahkan. “ dari sudut pandang IT, kamu hanyalah tamu institusional yang menggunakan hak akses sah. “ Karel menjelaskan itu sambil menyilangkan kakinya, menatap saya: “Bank percaya pada dua hal yaitu dokumen dan protokol. Kamu membawa dokumen. Saya memastikan protokol menerima kamu.”
Akses ke perbankan Praha bukan dimulai oleh Victor dan George, melainkan oleh Karel. Ia mempersiapkan seluruh route internal, mulai dari penjadwalan ruang private banking, identifikasi non-residen, hingga persetujuan high-value asset verification. Itu semua dilakukan nya di apartemen nya yang kecil lewat terminal computer. Semua berjalan secure dan perpect.
***
Pukul sepuluh pagi, langit Praha tampak terlalu tenang untuk operasi sebesar itu. Gedung bank tempat saya melangkah masuk berdiri seperti benteng tanpa emosi—kaca dingin, marmer abu-abu, dan satpam yang bergerak seperti robot yang diprogram untuk tidak salah langkah. Inilah bank papan atas Eropa yang namanya tidak pernah muncul di iklan, tetapi disebut dalam dokumen-dokumen rahasia para menteri keuangan dunia.
Bank yang saya masuki adalah lembaga yang memiliki tiga fungsi besar. Pertama. Prime Custodian. Bank jenis ini menampung dana korporasi global, sovereign fund, private wealth ultra-high-net-worth, menyimpan global securities seperti bond, CLN, MTN, equity basket, mengelola restricted account yang hanya bisa dibuka oleh institusi tertentu. Prime custodian adalah entitas yang memegang kunci utama ke jaringan kustodian global seperti Euroclear, Clearstream, dan Federal Reserve OMC.
Kedua. Cross-Border Settlement Hub. Bank tersebut mempunyai akses langsung ke SWIFT MT103/202 COV (customer and institutional transfers), CLS (Continuous Linked Settlement) untuk FX settlement, securities routing melalui Euroclear/Clearstream untuk aset yang disimpan secara global. Hub ini dipakai agar transaksi lintas negara tidak melewati bank kecil, sehingga jejak auditnya minimal.
Ketiga. Mitra OMC (Open Market Commission). Ini poin paling sensitif. OMC adalah “jalur langsung” ke primary market bank sentral, liquidity window antarbank, aset yang dikategorikan sebagai restricted fund, yaitu: akun dormant besar, akun escrow berisiko tinggi, sovereign hidden accounts, rekening ex-PEP yang berada dalam pengawasan.
Restricted fund tidak bisa diposting/diupdate tanpa clearance OMC, akses user level 7 (trader bank kelas tertinggi), dan device terminal yang terhubung in-house. Karena itu Officer meminta saya membuka access code, tanpa itu sistem OMC menolak posting.
Ruang private banking berada di lantai atas. Tidak ada nomor di pintu. Tidak ada nama. Hanya akses kartu magnetis dan wajah officer yang tidak pernah bersuara lebih dari satu kalimat.
Ia menjemput saya dengan sopan. “Mr. Michael Mandosa?”
Nama alias yang disiapkan Victor. Nama yang pagi itu terasa lebih nyata daripada nama saya sendiri.
“Victor informed us you’d be coming,” katanya. Victor team shadow saya dari Moscow yang menyiapkan jalur masuk seperti ilusi. Tidak terlihat, tidak terasa, tetapi nyata pada detik saya membutuhkannya. Ia sudah mengatur pre-alert ke bank lewat channel relationship bukan lewat front office, sehingga tidak ada flag atau risk comment yang muncul di sistem.
“I’d like to deposit this.” Saya menyerahkan bank draft USD 10 juta. Ia memegang draft itu seperti dokter memegang organ vital pasien. Satu kali periksa, satu kali anggukan, lalu ia menghilang. Ruang itu sunyi. Hening seperti gereja tua. Tiga puluh menit kemudian ia kembali. “Confirmed. Where should we place the funds?”
Saya menyerahkan nomor rekening offshore itu. Kode angka yang tampak biasa, tapi di baliknya tersembunyi sistem yang, jika disentuh secara salah, bisa membuka pintu ke neraka komisi internasional. Beberapa menit kemudian ia muncul lagi, wajahnya tetap datar. “You need to open the access code for this offshore account. Without it, we cannot post any incoming funds.”
Kalimat itu terdengar seperti protokol… Tetapi saya tahu maknanya lebih dalam. Restricted fund bukan rekening, itu mekanisme kunci. Seperti pintu vault yang hanya bisa dibuka sekali, oleh satu tangan, dalam satu jendela waktu yang sangat sempit. Officer menunjuk ke komputer khusus di pojok ruangan.
Ia meninggalkan saya sendirian. bank tidak ikut bertanggung jawab atas apa yang saya akses, dan untuk menjaga plausible deniability. Pintu tertutup. Udara berubah. Saya tahu saat itulah permainan sebenarnya dimulai. Komputer itu adalah air-gapped terminal (terpisah dari jaringan publik). Ciri-cirinya tidak ada akses internet biasa, terhubung langsung ke internal custodian gateway, semua aktivitas direkam melalui encrypted log, hanya bisa digunakan di ruang private banking.
Saya melakukan empat langkah penting. Pertama. Mengakses file rekonsiliasi dana. Dengan memasukkan access code Marcini, saya membuka ledger balance, posisi aset, file rekonsiliasi (biasanya CSV/XML format OMC), history posting. Ini membuktikan existence of fund (EOF). Elemen utama transaksi ini.
Kedua. Download file posisi asset. Ini laporan yang sangat sensitif berisi total funds, klasifikasi asset, status compliance, file hash untuk pembuktian keasliannya. File seperti ini biasanya bertipe: .omc.xml, .custody.dat, atau format enkripsi proprietary.
Ketiga. Transfer ke SafeNet storage SafeNet (Thales SafeNet) adalah HSM (Hardware Security Module), digunakan untuk menyimpan file sensitif yang tidak boleh disimpan di laptop biasa. SafeNet mengenkripsi file menggunakan AES-256, RSA-4096, atau kombinasi hybrid encryption scheme. Saya mengamankan file agar tidak meninggalkan jejak perangkat, bisa dibuka hanya oleh terminal London.
Keempat. Forward ke tim London via secure email. Secure email memakai PGP encryption. London menerima file yang sudah hash-verified, encrypted, dan tidak terlihat dalam traffic publik.
Kemudian terakhir adalah menghapus user-level log, session cache, temporary folder, user event logs, lalu exit mode. Namun catatan root-level log tetap ada, tetapi tidak akan menimbulkan flag karena akses saya dibenarkan oleh access code.
Officer kembali dan berkata “I’m afraid we cannot proceed with the deposit today. Please come back tomorrow.”
Ini bukan penolakan. Ini Standard OMC anti-abuse protocol. Setiap posting ke akun restricted harus mengalami verifikasi 24 jam, re-classification check, anti-layering compliance. Dengan 24-hour cooling period: bank memastikan tidak ada indikasi layering, smurfing, atau suspicious routing, terutama karena ini melibatkan bank draft dan akun offshore.
Bagi saya ini end operation. Tujuan saya bukan deposit, melainkan mengambil file. Saya keluar Gedung itu dengan langka ringan dan tenang.
***
Di dalam kendaraan hitam yang melaju pelan meninggalkan distrik finansial Praha, suasana di kabin berubah menjadi ritual yang hanya dipahami oleh orang-orang yang hidup di wilayah abu-abu dunia keuangan. Tidak ada kata-kata. Tidak ada perayaan. Hanya prosedur dingin yang sudah dilatih ratusan kali. Karel berada di depan, menatap jalan. Tim saya di samping, membuka kotak hitam berisi perangkat kecil seukuran buku saku—Field Sanitization Kit.
Lalu proses itu dimulai. Kartu identitas “Michael Mandosa”, lengkap dengan chip biometrik palsu, diletakkan ke dalam slot logam kecil. Sekali tekan tombol, bilah panas menyala. Dalam beberapa detik microchip meleleh, lapisan PVC menghitam, dan nama alias itu berubah menjadi serpihan plastik tak berarti. Tak ada yang tersisa. Begitu cepat, seakan identitas itu memang tidak pernah hidup.
Bank draft USD 10 juta, walau fake namun dibuat dengan mahal dan rumit, dimasukkan ke tabung titanium kecil. Bukan dibakar dengan api. Tidak boleh ada asap. Tidak boleh ada residu. Tabung itu menghancurkannya dengan tekanan tinggi, gelombang panas elektropulse, dan pemutusan serat kertas pada level mikroskopis. Dalam satu menit, dokumen itu hancur menjadi abu halus yang ditampung dalam filter karbon. Tidak ada fragmen. Tidak ada tinta. Tidak ada nomor seri. Seakan nilai sepuluh juta dolar itu hanya mitos yang pernah lewat.
Cermin kecil diturunkan.Saya menghapus lapisan silikon tipis di bagian rahang dan bawah mata, komponen kecil yang mengubah proporsi wajah, cukup untuk membuat kamera pengawas melihat orang yang berbeda. Warna kulit kembali ke warna asli. Kontur wajah kembali seperti semula. Sosok “Michael Mandosa” menghilang seperti bayangan. Hanya dalam hitungan detik, orang yang keluar dari bank itu bukan lagi orang yang duduk dalam mobil ini.
Setelah semua selesai, interior mobil kembali sunyi. Sunyi yang berat. Sunyi yang hanya muncul ketika sebuah operasi besar selesai tanpa cacat. Tidak ada siapa pun yang menoleh ke belakang. Tidak ada evaluasi. Tidak ada tepukan bahu. Dalam dunia ini, keberhasilan tidak dirayakan—keberhasilan hanya dipastikan tidak meninggalkan jejak. Dan pagi itu, di sebuah mobil hitam yang menuju bandara Praha, jejak saya benar-benar hilang.
Secara teknis, operasinya sempurna. Secara diam-diam, operasinya mematikan. Secara historis, operasinya tidak pernah tercatat. Hanya kami bertiga yang tahu apa yang terjadi di ruangan private banking itu. Dan dunia tidak akan pernah mengetahuinya.
***
Dari Praha saya terbang ke Istanbul. Istirahat 2 hari untuk lanjut ke Hong Kong.Sore itu diselimuti cahaya emas yang jatuh miring di atas Bosphorus. Saya duduk di teras hotel menghadap laut, ketika seseorang berdiri di ambang pintu kaca—diam, ragu, hampir seperti siluet yang kehilangan arah. Karel.
Ia berbeda dari Karel yang saya temui di Praha. Tak ada senyum percaya diri, tak ada langkah mantap. Yang tersisa hanya seorang perempuan yang terlihat lelah, terlalu lama berhadapan dengan kehidupan yang terlalu keras. Ia mendekat perlahan, lalu duduk di kursi seberang saya. Tangannya gemetar, bukan karena dingin, tetapi karena beban yang ia sembunyikan sejak operasi itu selesai.
“B… aku takut.”
Itu kata pertama yang keluar dari bibirnya. Tidak ada strategi. Tidak ada permainan. Hanya kejujuran telanjang. Saya menatapnya. Tatapannya pecah, seperti kaca yang retak dari dalam. “Bukan karena operasi itu,” katanya lirih. “Tapi karena aku sadar… aku terlalu mudah hilang kalau kamu pergi.”
Ia memalingkan wajah ke laut, seolah takut melihat reaksiku.
“Kamu pikir aku kuat? Kamu pikir aku ini wanita yang bebas dan berbahaya karena aku dekat dengan bank-bank besar itu? Tidak, B. Aku cuma anak perempuan dari keluarga miskin di distrik tua Ostrava, tempat orang lahir untuk kalah.” Suaranya bergetar.
“Ayahku tenggelam dalam hutang… ibuku kerja membersihkan kantor sampai telapak tangannya kasar. Aku tumbuh di rumah yang bahkan tidak bisa menghangatkan diri sendiri saat musim dingin.”
Ia menarik napas panjang, seperti seseorang yang akhirnya mengungkapkan sesuatu yang selama ini menghantuinya. “Aku tidak takut polisi. Tidak takut komisi internasional. Tidak takut operasi yang kita jalankan. Yang aku takutkan cuma satu…”
Ia menatapku. Mata itu memohon, bukan menggoda. “Aku takut kamu akan meninggalkan aku setelah ini selesai.”
Saya terdiam.
Karel menunduk, suaranya hampir tidak terdengar. “B… aku hidup dari ketakutan. Ketakutan menjadi tidak berguna. Ketakutan kembali menjadi orang miskin yang tidak punya masa depan. Kamu satu-satunya yang melihat aku… bukan sebagai instrumen, bukan sebagai alat operasi, bukan sebagai wajah cantik yang bisa membuka akses.”
Tetesan air mata jatuh. Hal yang tidak pernah saya lihat dari Karel sebelumnya. “Jangan tinggalkan aku, B. Jika kau pergi… aku akan kembali jatuh ke tempat aku berasal. Aku tidak akan selamat.”
Saya menarik kursi ke arahnya. Karel mendekat, gemetar, seperti seseorang yang baru terlepas dari jurang. Dalam dunia finansial gelap ini, perempuan seperti Karel tidak punya tempat pulang. Tidak ada rumah. Tidak ada perlindungan. Tidak ada masa depan yang aman. Yang mereka punya hanya kemampuan bertahan. Dan kadang… seseorang yang membuat mereka ingin bertahan.
Saya memeluknya perlahan. “Karel… kamu tidak sendiri. George udah tetapkan kamu sebagai team shadow saya. 24 jam saya selalu ada untuk kamu. Team saya ada dimana mana. “
Ia membalas pelukan itu, erat sekali. Seolah jika ia melepas genggamannya, dunia akan kembali menelannya hidup-hidup. Di teras hotel Istanbul, di bawah langit senja yang berubah warna, aku sadar. Operasi kami sudah selesai. Tapi hubungan kami baru dimulai, dalam ruang abu-abu yang tidak pernah menjanjikan keselamatan bagi siapa pun. Victor memberi dia bonus USD 10 juta dalam bentuk akun ETF. Sehingga dia dan keluarganya bisa financial freedom.
***
Sore itu Financial Club Hong Kong tampak seperti biasa. Sunyi, elegan, dan terlalu rapi untuk percakapan yang seharusnya tidak terjadi. Cahaya matahari masuk dari jendela besar, memantul di permukaan meja kaca dan gelas-gelas kristal. Para banker expat tampak sibuk dengan percakapan ringan. Esther duduk menunggu, tubuhnya sedikit membungkuk, wajahnya pucat. Ketika saya melangkah masuk, ia menatap seperti seseorang yang baru saja melihat sesuatu yang tak seharusnya ada dalam dunia manusia.
Saya duduk. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi.
“ Kau akhirnya kembali.”Suara esther lirih.
“Aku bilang kan, aku tidak akan hilang.”
Esther menahan napas “Kau tidak hilang… tapi kau kembali dengan sesuatu yang lebih buruk dari masalah.”
Maksudmu email custodian itu?” Kataku. Memang kemarin Esther kirim copy file email dari koleganya banker di Eropa.
Esther mengangguk, menelan ludah “B, itu bukan email biasa. Itu bukan notifikasi error. Itu… peringatan tingkat sovereign. Mereka tidak menulis kalimat seperti itu kalau mereka tidak yakin ada breach.”
Saya diam. Esther menatap dengan mata yang memohon jawaban. Dengan suara bergetar Eshter berkata “Aku sudah memeriksa semua titik. Semua. Dan semuanya mengarah ke kau.”
“Na…” Aku tersekat.
Esther memotong keras “Jangan menyangkal! Kau pikir aku tidak tahu pola-pola itu? Kau pergi ke Budapest. Kau bawa access code Marcini. Kau buka restricted account itu dari terminal tamu. Kau unduh snapshot portofolio. Kau… melakukan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.”
Saya menatapnya dalam-dalam “Sistem memberi aku akses.”
Esther tertawa miris, hampir sinis “Tidak, B. Sistem tidak memberimu apa-apa. Kau memaksa sistem membukakan pintu dengan celah kecil yang seharusnya tidak bisa digunakan.”
“Access code itu valid. Custodian menerimanya. Bank meneruskan request-nya. Apa masalahnya?”
Esther menggeleng keras “Masalahnya adalah KONTEXT-nya. Akun restricted tidak boleh… bahkan secara teori tidak boleh diakses dari device non-institusional. Kau membuka sesuatu yang berada di atas tingkatan seluruh jaringan interbank biasa.”
“Dan itu hanya read-only.”
Esther menatapku tajam, penuh luka “Read-only bagi orang awam. Tapi bagi orang seperti kau? Itu adalah blueprint untuk mencetak leverage. Dan sekarang mereka menyadari blueprint itu diperlihatkan kepada orang yang tidak terdaftar.”
Ia mengusap wajahnya, frustrasi.
“ Kau tahu apa yang paling membuatku marah?”
“Apa?” mataku menyipit.
“ Bukan bahwa kau melakukannya. Bukan bahwa kau tidak bilang padaku. Tapi karena kau tahu risikonya… dan kau tetap memilih pergi sendirian.
Saya tidak menjawab. Dalam dunia ini, diam sering kali lebih jujur daripada kata-kata.
Suara Esther melembut, hampir patah “B… aku bukan marah. Aku takut. Mereka tidak mengejar uangmu. Mereka mengejar jejakmu. Dan itu jauh lebih berbahaya.” Esther geleng geleng kepala. “Kau pikir custodian tidak punya backup node? Kau pikir mereka tidak konsultasi ke risk desk The Fed? Kau pikir investigasi ini akan berhenti begitu saja?”
Ia menatapku, matanya memerah. “B… kau benar-benar tidak mengerti apa yang sedang kau hadapi.”
“ Justru aku sangat mengerti, Na. Tapi kau harus sadar, aku sudah hidup terlalu lama di luar sistem ini. Dan setiap sistem, seberapa pun ketatnya…selalu punya celah. Aku berharap mereka menemukan jejakku dan disana takdir akan kujemput. Perang pasti terjadi. Aku tidak takut. Niatku untuk keadilan, bukan personal’
“ Mereka akan menutup celah itu, dan mungkin menutup hidupmu bersamaan.” Teriak esther
“ Mungkin. Tapi aku sudah memilih jalannya.”
Esther memejamkan mata, menahan air mata agar tidak jatuh. Udara di ruangan itu lebih berat dari sebelumnya. “ Kenapa kau selalu memilih jalan yang membuatmu sendirian, B? Kenapa selalu seperti ini?”
“ Karena jalan aman tidak pernah menuntun ke tempat yang aku butuhkan. Aku perna hidup idealis dalam kemiskinan. Kamu tahu, iparku meludahiku. Sahabat mengkhianatiku. Dan teman teman menghinaku.
Esther membuka mata, menatapku seolah ingin membaca seluruh masa lalu, rahasia, dan luka yang tidak pernah aku ceritakan.
“Dan aku harus apa sekarang?” tanya Esther bingung.
“Hanya tetap berada di sisiku.”
“ Apapun yang terjadi kamu akan tetap sahabatku, my man. Walau kamu tidak memberi rasa aman bagiku.” Suara esther lirih dengan tatapan kosong.
Kami duduk lama tanpa bicara. Di luar jendela, lampu-lampu Hong Kong mulai menyala. Kota itu tetap bergerak, tetap hidup, seolah tidak peduli apa yang baru saja kami bicarakan. Esther akhirnya bersuara, pelan, pecah, namun tegas. “B, kalau kau jatuh… aku tidak akan sanggup melihatnya.”
Saya menatapnya. Esther tetap diam, dia memukul dada saya dengan lambat dan akhirnya memeluk saya. “Aku tidak jatuh, Na. Aku hanya berpindah dari satu badai ke badai berikutnya.Aku memang memiliki banyak masalah, tetapi Tuhanku lebih besar dari semuanya. Jangan besar-besarkan masalah kita. Tuhan yang menjaga kita jauh lebih besar dari semua itu.”
***
15 tahun kemudian. Esther jadi Chairman SIDC dan Karel jadi CEO Ale Capital. Saya bangga pada mereka, meski saya tak pernah mengatakan itu secara langsung. Di usia tua, saya menyadari tidak semua keberhasilan harus dipestakan. Kadang cukup bisa menyaksikan orang lain naik ke tempat yang dulu mustahil mereka capai. Saya menua bersama istri di rumah dan hidup dengan penuh kesederhanaan. Life is not measured by what we obtain, but by what we give. Not by what we think, but by what we choose to do. Not by what we learn, but by what we pass on to others. In the end, everything returns to God , and only to Him do all matters truly belong.”

Tinggalkan komentar