
2008. Di Shanghai, di sebuah kafe dalam hotel di kawasan Lujiazui, aku janjian bertemu seorang relasi. Ketika masuk, temanku belum datang. Aku memesan minuman ringan dengan lemon. Musik pelan, lampu temaram, dan aroma kopi bercampur parfum mahal. Seorang wanita melintas di depanku. Ia bergerak dengan tenang, percaya diri. Mantel panjang warna coklat membungkus tubuh semampainya dari dinginnya malam winter di Shanghai. Rambut sebahu, rapi. Wajahnya oval. Mata gemintang. Bibir tipisnya berulas shocking pink, diterangi kilau lipgloss.
Jumat malam. Friday night di Shanghai, biasanya orang merayakan gaji, bonus, atau sekadar melarikan diri sejenak dari tekanan kerja. Ia berhenti sejenak, mengeluarkan ponsel mungil merah tua. Ia membaca pesan, mengangguk kecil, memasukkan lagi ponsel itu ke dalam tas, lalu berjalan cepat ke sebuah meja, setengah menunduk. Aku sempat berpikir sebentar. Kalau lima belas menit tidak ada seorang pun datang ke mejanya, mungkin aku akan menyapa sebatas basa-basi.
Tapi sebelum lima belas menit lewat, seorang pria datang. Cara mereka berinteraksi menunjukkan bukan pertemuan pertama. Gestur tubuh mereka akrab, tetapi tegang. Sesekali pria itu menunjuk-nunjuk, wanita itu hanya mendengar. Tak lama kemudian, suasana berubah.Pria itu mengangkat gelasnya, dan dalam sekejap, wine merah itu terciprat ke wajah wanita itu. Suara gelas beradu meja. Beberapa pengunjung menoleh. Pria itu membentaknya dengan suara keras dalam bahasa Mandarin yang tajam. Wanita itu menunduk, menahan sesuatu, entah marah, entah malu.
Pria itu melempar beberapa lembar uang ke meja, lalu menarik lengan wanita itu dengan kasar. Ia berontak. Terjadi tarik-menarik. Kursi bergeser. Wanita itu terjatuh. Refleks, aku berdiri dan melangkah cepat ke arahnya. Aku ulurkan tangan, menolongnya berdiri. Saat pria itu mengangkat tangannya, seolah hendak menampar, aku menghalang. Untuk beberapa detik yang terasa panjang, ia menatapku. Aku balas menatap, tanpa kata. Di ruang publik, ia akhirnya memilih mundur. Ia pergi.
Aku menoleh ke wanita itu.
“Are you okay?” tanyaku pelan, dalam bahasa Inggris.
Dia menarik napas dalam-dalam. “I’m fine,” jawabnya. Tapi suaranya bergetar. Wajahnya dingin, matanya berkaca. “He has the right to be angry. I was too naive.”
Dia mengusap wajahnya dengan tisu. Wine bercampur maskara membentuk garis tipis hitam di pipinya.
“Apa yang terjadi?” tanyaku—pelan, tidak menginterogasi.
“Saya punya hutang 60.000 yuan,” katanya akhirnya. “ Saya sudah berkali-kali janji mau bayar bulan ini, tapi selalu gagal. Dia marah. Dia bekerja di lembaga keuangan. Saya menolak diajak tidur. Jadi… ya, dia merasa dirugikan dua kali.”
“Pacar?”
“Bukan. Relasi. Dia bantu saya dapat pinjaman dulu. Hutangnya personal, tapi dipakai untuk bisnis.”
“Bisnis apa?”
“Ekspor fashion brand internasional. Awalnya saya cuma maklon. Belakangan saya mencoba bangun pabrik garmen kecil khusus produk branded. Sudah hampir setahun keliling cari investor, belum dapat. Sekarang saya nyaris bangkrut. Hutang di mana-mana. Untuk bayar apartemen saja saya kesulitan. Besok mungkin saya tidur di jalan, di musim dingin seperti ini.”
Ada keheningan sesaat.
Aku menatapnya lebih dekat. Di balik riasan dan fragmen drama barusan, aku melihat sesuatu. Struktur kalimat yang rapi, cara ia menyebut istilah “maklon” dan “eksportir” dengan tenang. Ini bukan gadis muda tanpa arah. Ini orang yang mengerti apa yang ia lakukan, hanya saja kalah likuiditas dan kalah posisi tawar.
“Duduk dulu,” kataku.
Kami mulai bicara. Ternyata dia menguasai betul dunia garmen. Namanya Alin. Lulusan akademi desain dan tekstil di Shanghai. Ia paham istilah FOB price, beda antara CMT (Cut, Make, Trim) dan full package, detail spesifikasi kain: GSM, yarn count, finishing, hingga standar quality control untuk brand Eropa.
“I used to be a broker,” katanya. “Saya hanya menjembatani buyer Eropa dengan pabrik di Cina. Margin saya tipis. Tapi saya belajar, yang punya pabrik dan yang punya brand-lah yang mengendalikan permainan.”
Aku mengangguk. Itu fakta dalam global value chain. Yang pegang desain, brand, dan jaringan distribusi, mendapat margin tertinggi. Pabrik produksi massal dapat margin paling tipis.
“Makanya saya mau punya pabrik sendiri,” lanjutnya. “Tapi saya salah. Saya membangun pabrik dengan model lama. Jadi vendor biasa, bukan production solution partner.”
Pembicaraan mengalir. Kami bicara tentang lead time produksi 60–90 hari, minimum order quantity (MOQ) dari buyer, risiko overcapacity di Cina daratan, tekanan harga dari fast fashion global, konsep fast response garment, produksi dalam batch kecil tapi cepat untuk brand. Tak terasa lebih dari satu jam berlalu.
“Do you have a business proposal?” tanyaku akhirnya.
Dia menatapku, mungkin ragu. Lalu menghela napas.
“Saya punya. Tapi saya sudah menunjukkan proposal itu ke banyak orang. Tidak ada yang percaya.”
“Kirim saja ke saya,” kataku. “Biarkan saya yang menilai”
Dia mengeluarkan ponsel. “Email address?” tanyanya.
Aku menyebutkan alamat email kantorku di Hong Kong. Tak lama ia berkata pelan, “I’ve sent it.”
“Baik. Saya akan pelajari malam ini. Saya rencana besok sore kembali ke Hong Kong. Kita bisa sarapan di hotel ini, jam delapan pagi?”
Wajahnya sedikit menghangat. “Terima kasih. Saya pasti datang. Nama saya Alin.”
“Saya B,” kataku. Kami berjabat tangan.
***
Jam delapan pagi, dia sudah menungguku di lobi, tepat waktu. Ini indikator kecil tapi penting dalam menilai calon partner, sense of time. Aku ajak dia naik ke restoran di lantai empat.
“Saya sudah baca proposalmu,” kataku setelah kami duduk.
Matanya langsung menatap penuh harap.
“Kamu punya kompetensi, paham desain, paham tekstil, punya pengalaman sebagai eksportir walau baru sebatas broker. Kamu tahu pasar, menguasai supply chain. Secara human capital, kamu layak jadi mitra. Tapi secara business model, ada yang perlu diperbaiki.”
“Apa yang salah?” tanyanya.
“Pertama, kamu ingin membangun pabrik dari nol dan mengerjakan semua proses. Dari cutting, sewing, finishing, sampai packing. Di era sekarang, margin tertinggi justru ada di bagian yang paling sulit diputihkan secara skill dan quality, yaitu handmade dan finishing presisi. Kamu ingin menjadi pabrik biasa, padahal kamu bisa jadi specialized production hub.”
Kuhentikan sejenak. Dia menyimak.
“Kedua, di proposalmu aku tidak melihat data kapasitas dan kompetensi pabrik sejenis di Shanghai dan sekitarnya. Aku butuh benchmark. Berapa produktivitas operator per jam (SMV), berapa average defect rate, berapa kapasitas harian untuk produk kategori yang sama.”
Aku tatap dan dia keliatan serius sekali mennyimak. Aku melanjutkan:
“Model yang kuinginkan seperti ini, kita fokus hanya mengerjakan bagian-bagian krusial handmade. Kerah, lipatan bawah, pinggiran, detail konstruksi yang menentukan quality feel. Sementara proses massal lain seperti body stitching, basic assembly, kita outsource ke partner yang sudah punya mesin lengkap dan sertifikasi compliance. Itu sesuai konsep modular production dalam global supply chain. Kita jadi center of excellence untuk high-skill tasks, bukan mass production murah.”
Dia mengangguk pelan. “You really know this business,” katanya.
“Sedikit,” jawabku. “Yang penting, kamu setuju?”
“Tentu,” katanya mantap. “Saya akan perbaiki proposal hari ini. Siang nanti saya kirim ulang semua data. Kapasitas pabrik, skill pekerja, data QC, nama rekanan existing.”
Dia bahkan tidak jadi sarapan. Langsung berdiri dan pamit.
Aku hanya geleng-geleng kepala. Drive-nya tinggi.
Begitu dia pergi, aku menghubungi Lena, sekretarisku di Hong Kong.
“Len, aku baru kirim satu proposal via email. Suruh Wenny cek semua data supply chain-nya. Suruh James verifikasi buyer di Eropa—periksa track record LC, shipping record, dan payment history. Sebelum jam 12 siang aku harus dapat konfirmasi, valid atau tidak.”
Kalau datanya valid, ini bukan sekadar menolong seorang wanita yang sedang terpuruk. Ini peluang masuk ke global fashion value chain lewat pintu yang sudah agak terbuka: existing buyer Eropa yang sudah percaya kepada Alin sebagai broker. Kalau tidak valid, aku akan lupakan dia. Bisnis harus disiplin. Empati tanpa due diligence adalah bunuh diri.
***
Siangnya, usai meeting dengan relasi, aku kembali ke hotel. Alin sudah menunggu di lobi. Lebih dari satu jam. Ketika aku datang, dia tersenyum.
“Sudah makan?” tanyaku.
Dia hanya tersenyum. Dari matanya aku tahu: belum.
Aku ajak dia ke restoran hotel. Ia menyodorkan proposal yang sudah diperbaiki. Lengkap, data pabrik, rekanan, kapasitas, skill matrix, bahkan ia tambahkan layout pabrik ideal untuk line balancing.
Ponselku bergetar. Pesan dari Lena: Supply chain data valid. Buyer Eropa benar, LC real, ada shipping record. Payment performance: on time.
Aku tersenyum.
“Sudah berapa lama kenal dengan buyer Eropa ini?” tanyaku.
“Dua tahun lebih. Saya hanya broker. Ini beberapa copy LC dan invoice ekspor yang pernah saya tangani.”
Ia mengeluarkan map. Struktur dokumennya rapi: nama buyer, consignee, volume, harga, Incoterms.
“Baik,” kataku. “Sekarang kamu siap kalau saya ajak ke Eropa? Kita temui buyer itu langsung, kita tawarkan upgrade:, dari broker menjadi strategic production partner.”
“Ke Eropa?” Ia terkejut.
“Ya.”
“Ya, siap. Tapi saya harus urus visa dulu…”
“Urus. Saya tunggu kamu di Hong Kong,” kataku.
Ia terdiam sebentar. Lalu aku mengeluarkan amplop.
“Alin, ini ada uang. Kamu pakai untuk bayar hutang dan sewa apartemen. Jangan tidur di jalan di musim dingin.”
Ia membuka amplop, menghitung sekilas—USD 25.000.
Bibirnya bergetar.
“Saya… tidak pernah mendapatkan empati seperti ini seumur hidup saya,” katanya lirih. “Saya kerja paruh waktu untuk menyelesaikan kuliah. Saya pikir dunia hanya tempat kuat memangsa yang lemah. Tapi… terima kasih.”
Aku hanya mengangguk.
“Ini bukan amal,” kataku pelan. “Anggap ini bridge financing sebelum kita bangun struktur bisnis yang benar. Saya hanya invest kepada orang yang mau bekerja keras.”
Dia menatapku lama, lalu berkata pelan, “Saya janji tidak akan mengecewakan Anda.”
***
Tiga bulan kemudian, pabrik garmen kami di Dongguan sudah berdiri. Investasi awal: USD 3 juta. Struktur kepemilikan:
– Yuan Holding 70%,
– Alin 30% lewat skema share loan yang akan ia lunasi dari dividen.
Pabrik pertama kami sewa di kawasan industri. Kami memilih asset-light model di awal untuk menjaga fleksibilitas. Fokus kami, kapasitas produksi berkualitas tinggi, bukan bangunan.
Empat bulan kemudian, aku datang ke pabrik. Alin menyambutku dengan senyum—sedikit cemas. Aku keliling: melihat line produksi, layout meja, alur material dari cutting ke sewing, QC, hingga packing, melihat SOP quality control, dan data produksi yang ditempel di papan: output per jam, defect rate, rework rate.
Di kantor, aku duduk dan membaca laporan kinerja pabrik. Angkanya jelas, kapasitas terpasang 1.000 unit/hari, produksi real baru sekitar 450–500 unit. Kapasitas terpakai kurang dari 50%.
“Kenapa statistik kinerja pabrik masih di bawah 50%?” tanyaku.
Alin menarik napas. “B, sabar. Kita masih dalam fase learning curve. Pekerja baru, banyak yang dari desa. Kita harus didik mereka.”
“Dengar, Lin.” Suaraku meninggi, tapi tetap terukur. “Dalam manufaktur, learning curve memang wajar. Tapi kalau dalam tiga bulan tidak ada tren naik yang signifikan, ini bukan lagi masalah belajar. Ini masalah sistem.”
Aku melanjutkan, keras tapi jernih. “Kalau tiga bulan ke depan tidak ada peningkatan produktivitas, ini bukan pabrik. Ini penampungan sosial. Kita bukan pemerintah yang tugasnya melatih pekerja untuk alasan politis. Kita perusahaan swasta. Kalau tidak efisien, kita mati.”
Alin menunduk. Matanya berkaca, tapi tidak membantah.
“Kapasitas yang ada sekarang sebenarnya sudah lumayan,” katanya pelan.
“Lumayan ?” suaraku meninggi. “Jangan ukur pakai standar lama yang membuatmu bangkrut dulu. Kamu pernah jadi pecundang dalam bisnis, Lin, karena kamu terlalu kompromi terhadap angka. Bisnis itu soal productivity, efficiency, dan profitability, bukan soal kasihan.”
Dia mulai menangis. Pelan, tapi tegas.
“Lihat, Lin,” kataku lebih lembut namun tetap firm. “Nasib orang itu beda-beda karena standar mereka beda-beda. Standar saya? output naik, defect turun, lead time membaik, buyer repeat order. Kalau tidak, saya tidak mau bernasib sama seperti kamu dulu. Dihina orang karena gagal mengelola bisnis.”
Dia terus menangis. Tapi tidak meratap. Air mata yang pamit dari masa lalunya.
“Kalau kamu menangis karena kata-kata saya, kamu salah mengerti,” lanjutku. “Tangisanmu seharusnya karena kamu mengevaluasi dirimu sendiri, bukan menyalahkan orang lain. Saya tidak anti perempuan, saya tidak peduli gender. Ukuran saya cuma satu. Apakah kamu menguntungkan atau tidak untuk perusahaan. Kalau tidak, saya akan buang kamu.”
Ia mengangguk. Tak lagi membantah.
“Pastikan tiga bulan ke depan, kinerja meningkat signifikan,” kataku. Lalu aku pergi.
Dalam perjalanan ke Hong Kong, aku menghubungi Wenny.
“Wen, tadi aku baru marahin Alin.”
“Bagus,” jawabnya santai. “Dia butuh itu.”
“Dia sampai menangis.”
Wenny tertawa. “B, wanita Cina itu tidak menangis karena disakiti orang lain. Mereka menangis karena marah pada diri sendiri. Kalau dia bertahan setelah dimarahi, itu artinya dia serius. Santai saja.”
***
Empat bulan kemudian, aku kembali ke pabrik. Sebelumnya aku sudah menerima laporan produktivitas. Output harian meningkat hampir 4 kali lipat. Defect rate turun. Buyer Eropa mulai mengajukan repeat order, bahkan menambah kategori produk.
Begitu sampai, aku lihat Alin di lantai produksi. Ia tidak lagi hanya duduk di kantor. Ia mengarahkan pekerja QC, mengecek random sample, mengajarkan cara memeriksa stitching, seam allowance, dan aligning pattern. Ia melihatku, wajahnya masih menyimpan sedikit ketegangan. Luka psikologis dari teguranku dulu masih ada, tapi dikover oleh keyakinan baru.
“Lin,” panggilku. “Temani saya makan malam di Shenzhen.”
“Ya,” jawabnya singkat. Ia memanggil GM pabrik, memberikan instruksi singkat, lalu menghampiri saya. Ia menyetir mobil menuju kota, sepanjang perjalanan lebih banyak diam.
Di restoran, aku duduk. Seorang pria mendekat.
“B, saya dari property agency, diminta Ibu Wenny menemui Anda di sini.”
“Baik,” kataku. “Bicara dengan wanita itu,” sambil melirik ke arah Alin. “Tanya apartemen seperti apa yang dia mau.”
Mereka berbicara cukup lama. Alin lalu kembali ke meja. “B, semua apartemen yang dia tawarkan mahal sekali,” keluhnya.
“Kamu fokus ke ukuran dan lokasi, bukan harga. Soal harga, itu urusan saya,” jawabku tenang.
Ia menatapku. Mata itu mulai berkaca lagi. “B…” katanya pelan, air mata mulai turun. Lalu ia refleks berlutut hendak mencium tanganku. “Hei, bukan berlutut. Peluk saya saja,” kataku cepat, separuh bercanda. Ia berdiri dan memelukku. Pelukan kuat, penuh rasa lega yang ditahan bertahun-tahun. “Terima kasih,” katanya.
“Saya beri kamu apartemen bukan karena kasihan,” jelasku. “Itu standar saya untuk eksekutif. Tetapi itu tidak gratis. Kamu bayar dengan kinerja, dengan disiplin, dengan profit yang kamu bantu ciptakan.”
Dia mengangguk dengan airmata berlinang.
Aku menambahkan pelan “Kalau kamu ingin mencintai orang lain, cintai diri kamu dulu. Kalau kamu mau menyelamatkan orang lain, selamatkan dirimu dulu. Kalau kamu ingin mengubah dunia, ubah dirimu dulu. Paham?”
Dia tersenyum, mengangguk. “Paham.”
Setelah agen properti pergi, Alin menunjukkan foto apartemen pilihannya. Wajahnya riang, seperti anak kecil yang baru menemukan rumah pertama dalam hidupnya.
Tahun-tahun berikutnya, bisnis berkembang. Investasi awal USD 3 juta itu tumbuh. Skema share loan berjalan: 30% saham atas nama Alin, tapi pembayarannya dicicil dari dividen. Ini membuat dia bukan hanya pekerja, tapi owner secara ekonomi, sehingga cara berpikirnya berubah dari sekadar “karyawan” menjadi “partner”. Dengan dukungan Bank of China, kami memperluas bisnis. Dari hanya pabrik garmen outerwear, kami merambah ke pabrik underwear, aksesoris wanita, kancing, ikat pinggang, frame kacamata.
Model bisnis kami berubah dari hanya memproduksi ke “Global Production Service” untuk brand fashion Eropa. Kami tidak hanya menjahit, tapi mengelola: sourcing material multi-negara, compliance audit, lead time management, dan integrasi produksi beberapa pabrik dalam satu sistem.
***
Suatu hari, di kantor pabrik, aku berkata “Kamu harus belajar menikmati hidup juga, Lin. Sempatkan bergaul, punya pacar, mungkin menikah.”
Dia tersenyum miris.
“Dulu, ketika saya tidak punya uang, saya pacaran dengan pria kaya. Saya diperlakukan seperti keset kaki. Pria yang saya kira teman, ternyata menganggap saya objek. Ketika saya berhutang, dia bentak dan siram wine ke wajah saya di depan umum. Waktu kuliah, saya punya pacar miskin. Saya kerja paruh waktu dan cuti kuliah agar dia bisa selesai duluan. Setelah dia punya pekerjaan, diam-diam dia pergi ke wanita lain, tanpa rasa bersalah. “ kata Alin. Airmatanya berlinang.
“ Kemudian saya bertemu kamu, B, ketika saya terpuruk. Kamu bantu saya, tapi bukan dengan kata-kata manis. Kamu keras, detail, suka marah kalau saya lambat. Kamu telepon kapan saja, saya harus siap. Tapi justru dari situlah saya sadar, hidup ini keras. Terlalu naif berharap bahagia dari perkawinan saja.”
Aku menghela napas.
“Hidup memang keras,” kataku. “Tapi lihat orang kebanyakan. Mereka tetap bisa bahagia dalam kesederhanaan, mereka tetap percaya harapan walau hidup sering tidak adil. Menikahlah sebelum terlambat dan kamu menyesal.” Saat itu usia 30 tahun.
Lima tahun kemudian, aku datang tanpa memberi tahu ke apartemennya. Dia terkejut, tapi cepat mempersilakan. Aku melihat-lihat. Di dinding kamarnya ada foto kami di Shanghai, beberapa tahun lalu. Di bawahnya ada tulisan kecil:
“My winter, my valentine.”
Aku hanya tersenyum.
“Dulu sebelum kerja sama kamu, kamu sangat romantis,” katanya pelan. “Setelah masuk bisnis, tidak ada lagi kemesraan itu. Semua berubah jadi tanggung jawab, tekanan, KPI, dan kepedulian yang dingin tapi konkret.”
Saya tersenyum melihat dia tersipu malu.
“Saya mungkin tidak punya suami atau pacar. Tapi saya punya kamu. Kamu boss saya, mentor saya. Ketika saya memeluk kamu, saya merasa hidup aman. Itu saja sudah cukup. Saya bersyukur kepada Tuhan untuk itu.”
Dia menatapku.
“I do love you, B,” katanya dalam bahasa Inggris. Lalu mengutip pelan: “And even if the sun refused to shine, Even if romance ran out of rhyme, You would still have my heart, Until the end of time…”
Aku masih diam. Kadang, dalam hidup, jawaban terbaik bukan kata-kata, tetapi konsistensi. Aku bukan pangeran dalam cerita cinta. Aku hanya seorang arsitek finansial yang kebetulan menarik seorang wanita dari tepi jurang, lalu memaksanya belajar terbang di ruang pabrik dan lantai bursa. Dan dari seluruh angka, rasio, dan laporan keuangan yang pernah kami hasilkan, mungkin laba paling riil dari kisah ini bukan hanya profit margin 18% atau ekspor ke Eropa. Tetapi fakta sederhana, bahwa seorang wanita yang dulu siap tidur di jalan di musim dingin, kini bisa berdiri tegak, memimpin ribuan pekerja, memegang saham di pabriknya sendiri, dan berkata “Hidup memang keras. Tapi saya tidak kalah.”

***
2015. Aku ingat betul malam ketika keputusan itu muncul—bukan dari spreadsheet, tapi dari kegelisahan. Pabrik garmen sudah stabil. Margin sehat. Order dari Eropa mengalir. Tetapi pasar bergerak. Fast fashion makin brutal. China, Vietnam, Bangladesh, Kamboja semuanya berebut harga murah. Aku benci perang harga. Itu perang yang hanya dimenangkan oleh yang paling putus asa.
Aku butuh lompatan, bukan koreksi kecil.
Di Hong Kong, di kantorku yang menghadap pelabuhan, aku menatap deretan kontainer yang keluar-masuk. Di layar, terpampang laporan riset tren tekstil global: demand untuk functional fabric meningkat, konsumen mulai memikirkan hygiene, kenyamanan, dan kesehatan kulit, brand besar mencari USP baru di luar sekadar desain dan logo.
Laporan dari salah satu brand lingerie Eropa menempel di mejaku:
“We are looking for new generation underwear fabrics: softer, lighter, anti-odor, anti-bacterial, breathable, yet safe and sustainable.”
Aku tersenyum tipis. Ini dia pintunya.
Aku menekan nomor Alin di Guangzhou “Lin, datang ke Hong Kong besok. Kita perlu bicara masa depan,” kataku singkat.
Dia hanya menjawab, “Baik, B. Saya segera datang besok.”
Keesokan harinya, Alin duduk di hadapanku. Tanpa make up berlebihan, hanya kemeja putih dan celana Panjang hitam. Wajahnya sudah bukan lagi wajah perempuan yang pernah disiram wine di kafe Shanghai dulu. Kini itu wajah CEO yang memikul ribuan pekerja dan puluhan kontainer di pundaknya.
“Ada apa, B?” tanyanya.
“Apa yang kamu tahu tentang nanoteknologi di tekstil?” tanyaku, tanpa basa-basi.
Ia mengerutkan kening. “Saya tahu beberapa hal dasar. Seperti finishing anti air, kain antibakteri pakai nano-silver, atau coating yang bikin kain lebih tahan noda. Tapi kita belum main ke sana. Kita masih di level konvensional, high quality tapi belum high-tech.”
Aku mencondongkan tubuh.
“Dengar ini baik-baik, Lin. Kita sudah menang di production service. Sekarang kita harus naik kelas jadi high-tech textile partner. Bukan hanya menjahit underwear wanita berkelas. Kita harus menyentuh level scientific fabric engineering.”
Dia terdiam. Menatapku seperti menunggu vonis, atau wahyu.
Aku memutar layar laptop ke arahnya. Slide demi slide.
“Target kita jelas. Underwear wanita berkelas untuk brand internasional tapi dari kain generasi baru,” jelasku. “ Bahan yang lembut dan halus di kulit, breathable, tidak pengap, antibakteri untuk mencegah bau, mungkin sedikit water-repellent untuk bagian tertentu, kuat tapi ringan, dan yang paling penting: aman dan memenuhi standar kesehatan & regulasi.”
Aku menunjuk salah satu grafik. “Ini tren riset penggunaan nanopartikel di tekstil untuk membuat serat lebih tahan air (hydrophobic), melapisi serat dengan agen antibakteri, memperbaiki kekuatan mekanis serat tanpa menambah ketebalan.”
Alin mengangguk pelan.
“Tapi B, nanoteknologi juga punya risiko. Kalau pakai nano-silver misalnya, regulasi Eropa sangat ketat. Harus ada uji migration, memastikan partikel nano tidak mudah lepas dan diserap kulit.”
Aku tersenyum. Inilah Alin yang aku mau. Tidak kagum buta pada kata “canggih”, tapi tetap berpijak pada kenyataan regulasi dan sains. “Makanya,” lanjutku, “kita tidak akan main-main. Kita tidak bikin ‘gimmick’ nano. Kita bangun pabrik tekstil canggih yang punya basis ilmiah.”
Aku berhenti sejenak, lalu berkata pelan namun tegas. “Lin, aku ingin kamu memimpin pembangunan pabrik tekstil high-tech khusus untuk underwear wanita branded, berbasis nanoteknologi.”
Mata Alin membesar. “Pabrik tekstil? Bukan cuma garmen?”
“Ya. Kita turun satu layer ke atas dalam value chain. Bukan cuma sewing, tapi juga fabric engineering. Namun kita tidak mulai dari nol dalam hal serat. Kita kerja sama dengan supplier serat di Jepang/Taiwan yang sudah punya basis microfiber dan nano-finished yarn, laboratorium independen untuk uji antibakteri, uji iritasi kulit, dan uji durability.”
Aku menambahkan “Pabrik ini fokus di tiga hal. Pertama. Nanofinishing. Coating serat dengan teknologi nano untuk tahan air ringan (bukan plastik, tetap breathable), antibakteri (menggunakan formulasi yang lolos OEKO-TEX & REACH), anti-odor, dan meningkatkan kekuatan kain. Kedua. Knitting & Weaving khusus underwear. Mesin circular knitting berpresisi tinggi untuk menghasilkan kain yang sangat halus, elastis, nyaman untuk kulit sensitif.
Ketiga. R&D Lab Kecil di Dalam Pabrik untuk uji: handfeel, shrinkage, breathability, contact test dengan kulit, dan stability finishing setelah 50–100 kali cuci.”
Alin menunduk, berpikir. “Akan butuh CAPEX besar, B,” katanya. “Mesin finishing nano, line coating, lab testing, environmental control. Belum lagi training staf. Ini bukan sekadar pabrik jahit.”
Aku mengangguk. “Tentu. Tapi kita tidak lagi bermain di margin 10–15%. Dengan teknologi seperti ini, kita bisa masuk ke segmen premium lingerie, bermain di model long-term contract, bahkan ikut menentukan spesifikasi produk bersama brand, bukan sekadar menerima.”
Ada keheningan beberapa detik.
“Kenapa underwear, B?” tanya Alin akhirnya.
“Karena underwear adalah produk paling intim,” jawabku. “Berada paling dekat dengan kulit dan sistem reproduksi. Kalau kita bisa membuktikan bahwa kain kita lebih aman, lebih higienis, lebih nyaman secara ilmiah, maka brand loyalty akan jauh lebih kuat. Orang mungkin ganti baju, tapi mereka jarang ganti merek underwear yang membuat mereka merasa nyaman dan percaya diri.”
Aku melanjutkan, kini dengan nada agak filosofis “Dan di level bisnis, underwear punya repeat purchase tinggi. Itu recurring demand. Kalau kita jadi partner utama satu brand, itu sama dengan punya ‘obligasi pendapatan’ jangka panjang.”
Alin tersenyum tipis.
“Kamu selalu bisa mengubah sesuatu yang sentimental menjadi angka, B.”
Aku tertawa kecil. “Itu pekerjaanku.”
“Jadi langkah pertama apa?” tanyanya.
“Pertama, kamu ke Dongguan dan susun tim kecil. Kita butuh satu engineer tekstil yang paham finishing, satu chemist spesialis coating & nano-finishing, satu QC manager yang paham standar OEKO-TEX, REACH, dan regulasi Eropa. Kedua, kamu ke Jepang dan Taiwan. Kamu temui. supplier serat yang sudah mengembangkan microfiber + nano-coating, lab independen yang biasa dipakai brand Eropa untuk testing. Ketiga, kita pilih lokasi pabrik baru, masih di China, tapi dekat hub logistik. Pabrik ini tidak besar seperti garmen. Fokusnya kualitas, bukan volume massal.”
Alin mengangguk, mencatat cepat.
“Lin, proyek ini hanya akan jalan kalau kamu memahami satu hal, ini bukan hanya soal kain. Ini soal menggabungkan sains material, regulasi kesehatan, dan supply chain fashion. Artinya, kamu harus siap belajar lagi, dari nol.”
Dia menatapku lurus. Mata yang dulu pernah penuh ketakutan kini penuh dengan sesuatu yang lain, lapar tantangan. “Saya siap, B,” katanya akhirnya. “Dulu kamu tarik saya dari jalan, sekarang kamu suruh saya masuk lab. Tidak apa. Saya akan belajar.”
Aku mengangguk pelan.
“Baik. Kita mulai dari satu produk saja: women’s premium underwear. Satu brand dahulu. Satu kategori dahulu. Satu kemenangan dahulu. Setelah itu, baru kita bicara skala.”
Dia tersenyum.
“B… kalau nanti pabrik ini sukses, kamu akan bersikap keras lagi seperti dulu?” tanyanya, separuh bercanda.
“Tentu,” jawabku singkat. “Karena keras itulah yang membuatmu sampai di sini.”
Dia tertawa kecil.
“Kalau begitu,” katanya sambil berdiri, merapikan kemejanya, “izinkan saya pergi lebih dulu. Saya harus menyiapkan diri menjadi… apa tadi istilahmu? High-tech textile partner.”
“Dan satu lagi, Lin,” tambahku sebelum ia melangkah pergi.
“Apa?”
“Pastikan semua formula nano-finishing kita transparan, bisa diuji, aman, dan terdokumentasi. Kita tidak menjual ‘sihir nano’, kita menjual sains yang dapat dipertanggungjawabkan. Ingat, brand internasional bukan beli slogan. Mereka beli data.”
Dia mengangguk, kali ini dengan tatapan yang sangat serius. “Underwear wanita berkelas, dengan nanoteknologi yang jujur,” katanya pelan. “Saya suka kedengarannya.”
Aku tersenyum.
“Selamat datang di bab berikutnya, Lin. Kita tidak lagi sekadar menjahit kain. Kita sedang mulai menjahit masa depan.”
***
Tahun 2024. Enam tahun berlalu sejak malam terakhir betemu Alin di Hong Kong. Dunia bergerak cepat—dan Alin berlari lebih cepat. Sekarang dia punya lima pabrik: dua di Tiongkok, dua di Ho Chi Minh, satu di Bangladesh. Semua terhubung dalam satu sistem: global production service untuk underwear wanita berkelas, dengan kain fungsional berbasis nanoteknologi.
Hari itu kami bertemu di Jakarta, di sebuah lounge hotel di kawasan Sudirman.
Aku duduk bersama Abeng—kawan lama, pengusaha yang sudah kenyang asam garam. Di meja kami ada kopi hitam, teh hangat, dan satu piring kecil pisang goreng yang tinggal dua. Pintu lift terbuka. Alin melangkah keluar.
Dia sudah jauh berbeda dibanding gadis yang dulu disiram wine di Shanghai. Tailored suit warna krem, rambut diikat simpel, langkahnya mantap. Aura seorang CEO, bukan lagi broker yang dikejar utang.
“B,” sapa Alin, memelukku.
Aku tersenyum, memperkenalkan, “Lin, ini Abeng. Teman lama saya. Pengusaha juga. Kadang waras, kadang tidak.”
Abeng tertawa dan menjabat tangan Alin. Setelah basa-basi singkat, pembicaraan pun mengalir ke hal yang pasti: bisnis. Abeng tahu kalau Alin boss Pabrik garment dan tekstil
“Jadi, Alin,” kata Abeng sambil menyandarkan tubuh, “Indonesia lagi ramai isu pabrik tekstil tutup, PHK, demo buruh, complaining soal impor dan sebagainya. Kamu kan justru membangun kerajaan tekstil lintas negara. Menurut kamu, apa sebenarnya yang salah? Industrinya? Pemerintahnya? Atau apa?”
Alin menatap keluar jendela sebentar, lalu kembali ke kami. Ia meletakkan cangkir teh di meja. Nada suaranya tenang, tapi tajam.
“Menurut saya,” katanya pelan, “tidak ada bisnis yang salah. Yang ada adalah mismanagement. Itu Pendidikan pertama dari mentor saya, B. “
Abeng saling melirik ke saya.
“Kenapa saya bilang begitu?” lanjut Alin. “Karena pada dasarnya, bisnis itu mengelola sumber daya terbatas. Modal terbatas, pasar terbatas, teknologi terbatas, material terbatas, tenaga kerja terbatas. Keterbatasan itu datang dari kompetisi, perubahan regulasi pemerintah, dinamika demand and supply, perubahan teknologi, kondisi internal dan eksternal perusahaan.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan. “Resiko itu ada setiap hari. Ancaman itu ada setiap saat. Management yang baik bukan yang mengeluh soal ancaman, tapi yang bisa mengubah ancaman jadi peluang, lalu tumbuh berkelanjutan.”
Abeng mengangguk kecil. “Contohnya?”
“Ambil contoh industri tekstil dan produk tekstil (TPT),” katanya. “Saya sering dengar cerita pabrik tutup di Indonesia, PHK massal, biaya tinggi, kalah saing. Tapi di saat yang sama, lihat apa yang terjadi di Bangladesh. Tahun 2001, ekspor tekstil dan garment Bangladesh kira-kira masih di kisaran USD 5 miliar. Tahun 2023, mereka sudah tembus sekitar USD 40 miliar. Itu berarti selama lebih dari dua dekade, tren pertumbuhan mereka rata-rata dua digit.
Apakah karena mereka lebih kaya? Tidak. Apakah karena upah mereka ajaib? Tidak juga. Kuncinya, mereka fokus pada inovasi model bisnis dan efisiensi rantai pasokan. Bangladesh itu awalnya main di basic garment untuk pasar low–mid,” lanjutnya. “Tapi mereka, membangun cluster industri: pabrik-pabrik yang saling melengkapi, dekat dengan pelabuhan, memperkuat logistik dan lead time, mengundang brand-brand global untuk menjadikan mereka basis produksi jangka panjang, dan secara bertahap naik ke produk dengan nilai tambah lebih tinggi.”
Abeng menyela, “Sementara Indonesia, banyak pabrik tekstil terjebak mindset lama. Produksi untuk pasar domestik, sedikit ekspor, dan terlalu bergantung pada proteksi tarif. Ketika kompetisi global dan FTA masuk, mereka tetap pakai model lama.”
“ Padahal, kalau manajemennya baik, seharusnya opsi strateginya macam-macam. Jadi bagian dari global supply chain, jadi spesialis seperti yang kami lakukan. Focused production service untuk brand global, atau pivot ke produk tekstil teknis, bukan hanya kain biasa.” Kata Alin.
“Hal yang sama terjadi di industri alas kaki,” Kataku “Di Indonesia, banyak pabrik footwear bangkrut. Tapi di India, mereka justru tumbuh dengan rata-rata dua digit”
“Kenapa?” Tanya Abeng.
“India menjalankan program revitalisasi industri footwear. Mereka tingkatkan efisiensi, modernisasi mesin, integrasikan ke pasar domestik dan ekspor. Jadi, mereka tidak sepenuhnya bergantung pada pasar luar negeri. Mereka masuk ke ceruk pasar domestik dengan produk yang terjangkau masyarakat bawah, tapi tetap terstandar. Dengan begitu, ketika ekspor fluktuatif, domestik menahan.”
Aku menatap Abeng, lalu menambahkan pelan. “ Intinya, bukan industrinya yang gagal, tapi cara dikelolanya.”
Aku lalu menggeser topik ke agrikultur. “ Lihat produk pertanian di Indonesia: cabai, bawang, tomat. Di tingkat petani, harganya sering jatuh atau sangat volatil. Petani suffering. Tapi data menunjukkan, kita masih impor cabai olahan, bawang, tomat, ikan beku, garam. Yang impor itu siapa? Pabrik pengolahan makanan. Harga impor naik, harga produk petani jatuh, dan di sisi lain konsumen lemah daya beli sehingga terjadi tekanan deflasi di beberapa komoditas.”
“Kenapa bisa begitu?” tanya Abeng.
“Karena tata niaga pertanian kita tidak terorganisir dengan baik,” jawabku. “Tidak ada sistem yang menjamin kontinuitas pasokan ke industri pengolahan. Petani jalan sendiri, pabrik jalan sendiri, distribusi dipegang trader yang lebih fokus arbitrase harga daripada integrasi rantai pasok.”
Aku melanjutkan. “Bandingkan dengan Thailand. Di sana, porsi agro-industry dalam ekonomi terus meningkat. Bukan karena petani mereka lebih pintar, tapi karena produksi pertanian mereka diintegrasikan dengan pabrik pengolahan, ada kepastian serapan, ada dukungan logistik dan cold chain. Sehingga transformasi pertanian ke industri berjalan sukses. Nilai tambahnya naik, petani dapat imbal hasil yang lebih layak, dan produk mereka terserap, bukan membusuk di lapangan.”
Abeng bersandar. “Jadi pattern-nya sama?”
“Sangat sama,” jawab Alin. “Dimanapun, ketika industri tumbang sementara negara lain di sektor sama malah tumbuh, itu bukan soal ‘nasib buruk’. Itu soal manajemen, strategi, dan kemampuan beradaptasi.”
Ia meneguk teh sebentar, lalu melanjutkan. “Kembali ke prinsip awal: tidak ada bisnis yang salah. Yang ada adalah perusahaan yang tidak mau atau tidak mampu membaca fenomena yang berkembang. Berbisnis itu bukan seperti berburu di kebun binatang—hewan sudah pasti ada, tinggal ditembak. Pasar itu dinamis. Targetnya bergerak terus karena perubahan selera, perubahan teknologi, perubahan regulasi, perubahan pemain.”
“Fungsi manajemen,” lanjutnya, “adalah mengantisipasi perubahan itu melalui proses. Planning, merencanakan strategi dengan data. Organizing, menyusun struktur dan sumber daya. Actuating, menjalankan, memastikan eksekusi. Controlling, mengontrol, memeriksa deviasi. Dan di dalamnya, siklus Plan – Do – Check – Evaluate harus berjalan. Kalau PDCE/PDCA ini buntu, perusahaan hanya akan jadi penonton perubahan.”
Abeng tersenyum “ Ale, benar benar murid lue ni anak.” Katanya dengan Bahasa Indonesia menunjuk alin. “ Prakteknya gimana? Tanya Abeng kepada Alin.
“Justru praktiknya yang saya lihat di lapangan,” kata Alin. “Kalau siklus itu hidup, perusahaan tekstil di Indonesia seharusnya sudah mengevaluasi pasar domestik sejak lama. Bahwa mereka tidak bisa hanya bergantung pada pasar dalam negeri, mereka kalah dari produk murah China, maka Let’s do something. Ubah model bisnis, jadi bagian dari global production chain, seperti Bangladesh dan India lakukan.”
“ Apa mungkin? Tanya Abeng.
“Indonesia punya keunggulan kompetitif di beberapa area. Upah yang relatif kompetitif, tenaga kerja yang bisa dilatih, posisi geografis strategis. Tinggal mau atau tidak mengubah model bisnis menjadi global supply chain partner untuk brand internasional, atau at least, outsource hub seperti Vietnam, yang memanfaatkan kebutuhan China, Korea, Jepang, Eropa, AS untuk mass production yang efisien dari sisi upah dan logistik.”
Alin mengangkat telunjuk. “Tapi ada syarat. Untuk bisa jadi global partner, pabrik harus didukung management produksi yang handal, sistem QC yang kuat, dan yang paling penting: peningkatan kualitas SDM, bukan hanya ‘kepatuhan upah minimum’.”
“Dan di level makro,” Aku menambahkan, “pemerintah harus paham fenomena bisnis ini. Kebijakan yang diambil harus memfasilitasi integrasi ke rantai pasok global, bukan menghambat. Contoh: Naikkan tarif impor seenaknya. Hambat impor bahan baku atau barang setengah jadi. Itu justru merusak supply chain industri. Sebaliknya, yang dibutuhkan adalah mempermudah impor barang setengah jadi yang akan di-finishing di dalam negeri, lalu di ekspor kembali dengan nilai tambah lebih tinggi.”
Abeng menimpali, “Jadi, jangan proteksi membabi-buta?”
“Proteksi yang tepat sasaran boleh,” jawabku. “Tapi yang dibutuhkan industri adalah akses bahan baku dan teknologi yang lancar, bukan tembok tarif buta. Kalau kita hambat akses input, industri dalam negeri jadi mahal dan tidak kompetitif. Ujungnya: pabrik tutup, buruh di-PHK, kita hanya ribut gejala, lupa akar masalah.”
Alin menyandarkan tubuh, menatap kami berdua.
“Jadi, jangan bilang ‘bisnis lagi lesu, ekonomi salah’ setiap kali perusahaan tumbang. Sebelum menyalahkan makro, lihat dulu ke cermin. Tanya, apakah kita sungguh-sungguh mengelola sumber daya yang terbatas itu dengan baik? Apakah kita adaptif, atau hanya nostalgia dengan kejayaan masa lalu? Kata kuncinya cuma satu: well management. Kalau manajemen sehat, industri punya peluang hidup, bahkan di tengah badai.” Kataku.
Hening sejenak.
Aku menatap Abeng. Ia tersenyum tipis. “Gila, Ale,” katanya pelan dalam bahasa Indonesia. Alin tidak mengerti. “Kalau semua pengusaha tekstil di negeri ini mikir seperti Alin, mungkin ceritanya beda.”
Alin tersenyum sambil rangkul lengan saya. Abeng perhatikan. “ sekarang lue dapat adik angkat yang cerdas, pekerja keras dan setia. Lanang beruntung kau Ale..”
Aku senyum aja. Dan di luar sana, Jakarta tampak sama saja: macet, lembab, berisik.

Tinggalkan komentar