Kolonial =Partnership

Langit Hong Kong seperti kaca retak.
Hujan jatuh dalam garis-garis tajam, memantulkan lampu-lampu neon yang menari di permukaan Victoria Harbour.  Kota yang tak pernah tidur, tapi selalu gelisah. Dari lantai office tower Yuan, B berdiri tanpa bergerak. Tangannya menyentuh jendela besar, dingin seperti nikel. B, tidak punya posisi formal apapun di Yuan Holding. Para eksekutif menyebutnya mentor. Sarannya adalah perintah.

Di luar sana, kapal-kapal tanker tampak seperti noktah kecil di lautan abu-abu, membawa bahan baku yang menentukan harga dunia. B tidak melihat laut. Ia membaca arus. Bukan air yang ia lihat, melainkan cashflow global yang bergerak dalam pola yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang paham bahasa uang.

“ Jika mereka kehilangan suplai naphtha, mereka mati,” suara Sanya memecah kesunyian. Sanya adalah CEO Yuan Mining and industriesm salah satu dari lima Subholding dari Yuan. B menoleh pelan. Sanya berdiri di belakangnya, tablet di tangan. Rambutnya diikat ketat, setetes air hujan masih menempel di pundaknya, mungkin dari perjalanan tergesa ke gedung ini. Layar di tablet menampilkan berita singkat dari Bloomberg: PetroAsia Refinery – Searching for Feedstock Guarantee. “Dan jika kita beri oksigen,” kata B pelan sambil menatap pantulan wajahnya di kaca, “kita jadi paru-paru mereka.”

Sanya menarik kursi, duduk tanpa bicara sejenak. Di antara mereka, meja hitam panjang dengan peta rantai pasok dunia terpampang titik-titik biru di Teluk Persia, garis merah ke India, lalu cabang tipis ke Asia Tenggara.

“ Mereka punya kilang, tapi tak punya jaminan pasokan,” ujar Sanya datar.

“ Klasik. Pabrik lebih besar dari pikirannya sendiri,” sahut B. “Seperti orang yang punya paru-paru tapi lupa bernapas.”

B menggeser layar, menampilkan grafik harga propylene, margin turun 18%. “ Semua orang bicara soal produksi. Tak ada yang bicara soal arithmetic of survival,  logika arus hidup antara waktu dan uang.”

Suara petir jauh terdengar. Hujan menebal. Bayangan kota bergetar di jendela, seperti riak dalam grafik volatilitas. B berjalan ke meja bar di sudut ruangan, menuang whisky secukupnya. “ Di dunia ini,” katanya lirih, “perusahaan kuat hanya terlihat kuat karena punya utang besar yang belum jatuh tempo. Tapi yang lemah,  justru paling mudah diarahkan. Mereka haus, dan haus adalah alat terbaik untuk kendali.”

Sanya menatapnya.

“ Jadi, kita akuisisi?”

B menoleh, senyum tipis. “Tidak. Aku tidak tertarik pada akuisisi. Aku tertarik pada sistem. Aku tidak ingin membeli mereka. Aku ingin mereka tidak bisa hidup tanpa kita.”

Lampu gedung lain memantul di kaca, seperti layar-layar bursa yang tak pernah padam. Dari atas sini, Hong Kong tampak seperti papan sirkuit raksasa: listrik, data, uang, ambisi. Semua mengalir di bawah hujan. Sanya menatap B lama. “Kenapa kamu selalu memilih yang sekarat?”
“ Karena,” jawab B sambil memutar gelasnya perlahan, “yang hampir mati paling mudah bernegosiasi dengan iblis.” Ia menatap kembali ke laut, suaranya tenang, nyaris filosofis. “Di dunia petrokimia, yang menguasai napas bukan pemilik pabrik… tapi pengatur supply feedstock dan cash flow.
Dan di dunia keuangan, kekuasaan tertinggi bukan memiliki sesuatu, tapi menjadi oksigen bagi mereka yang kehabisan udara.”

Sanya menatapnya dalam diam, lalu berkata pelan, “ Jadi langkah pertama?”

B memandang ke arah layar besar, di mana nama PetroAsia bergetar seperti sinyal lemah di radar perang. “Saya akan minta Team Shadow untuk dapatkan informasi tentang titik lemah mereka. Siapa pembeli produksinya, siapa krediturnya, siapa pemasok feedstock nya. “ Kata B. Sanya tahu bahwa di luar team Yuan, B juga punya team Shadow. Mereka terlatih dan punya jaringan yang luas dan kuat. “ Kalau kita bisa kuasai tiga itu, mereka akan datang sendiri meminta kita menyelamatkan mereka.” Lanjut B dingin.

“ Dan kalau mereka menolak?”

“ Tak ada yang menolak udara,” kata B tenang. Lalu menatap kembali ke hujan. “Pertanyaannya bukan apakah mereka mau, tapi kapan mereka mulai tenggelam.”

Malam makin pekat. Di luar, kilatan petir memantulkan cahaya di permukaan laut,  seperti kilau angka di layar perdagangan global.

Sanya berdiri, mendekat ke jendela, berdiri di samping B. Untuk sesaat, keduanya diam, hanya mendengar detak hujan di kaca, dan suara kapal yang mengerang di kejauhan. “ B,” bisik Sanya, “kau benar-benar percaya semua bisa dikendalikan dengan struktur?”

B tersenyum kecil. “Tidak semua. Tapi cukup banyak untuk membuat dunia berpikir kita Tuhan.”

***

Setahun kemudian. Sanya dapat surat dari PetroAsia. Mereka butuh solusi. Itulah buah dari kehebatan Team Shadow B , tim yang bekerja di antara celah data, arus pasar, dan psikologi manusia. Mereka tidak menekan target dengan kekerasan, tetapi dengan persepsi dan algoritma. Krisis yang terlihat alami di permukaan, anjloknya harga, menurunnya arus kas, dan kebingungan manajemen, sejatinya adalah rekayasa terukur.

Tak ada yang menyadari bahwa “badai pasar” yang menimpa mereka adalah simulasi yang dirancang. Tujuannya bukan menghancurkan, melainkan mengarahkan. Ketika semua kanal likuiditas tertutup, hanya satu pintu yang tampak aman: Yuan, yang datang dengan solusi elegan. Restrukturisasi arus dana, jaminan suplai, dan skema akuisisi tak langsung.

B tersenyum di balik layar. Ia tahu, pengendalian pasar tidak dilakukan dengan menaklukkan pesaing, melainkan dengan membuat mereka datang meminta tolong. Itulah filosofi Shadow Finance: menciptakan krisis yang tampak alamiah agar solusi tampak heroik. Dan pada akhirnya, target yang semula merasa diselamatkan tidak pernah sadar bahwa seluruh langkah mereka sudah ditulis lebih dulu dalam rencana B.

B datang ke ke Hong Kong. Perintahnya jelas. Team formal Yuan harus masuk ke arena. Ruang rapat Yuan Tower seperti kapsul di langit. Kaca melingkar memantulkan lampu kota, dan di tengahnya, meja hitam sepanjang belasan meter menampung mimpi, risiko, dan konspirasi yang dikemas dalam istilah “proyeksi keuangan”.

Sanya membuka file baru: PROJECT CODE: YUAN-PHASE07-PETROASIA. Ia membaca cepat. Kontrak derivatif kompleks, cross-guarantee, supply hedge, dan escrow layer yang terhubung ke offtake financing.

“‘Kita tidak menguasai saham, tapi kita mengendalikan seluruh kontrak yang memberi mereka makan,” kata B. “ Dan dengan itu, mereka akan datang sendiri. Bukan karena kita kuat, tapi karena mereka tidak punya pilihan.”

Di ujung meja, Sanya duduk dengan punggung tegak, matanya memantulkan layar besar di hadapannya: PetroAsia: Current Liabilities – Feedstock Cost Ratio 71%.
Sementara B, masih dengan ketenangan khasnya, berdiri di depan layar seolah seorang profesor di amfiteater kekuasaan.

“ Mereka bukan kekurangan modal,” ujar B, suaranya dalam dan lembut.” Mereka kekurangan arah. Dan arah adalah komoditas paling langka di dunia.” Ia menulis di papan digital: tiga lingkaran besar yang saling bersinggungan.
1️. Offtake Agreement.
2️. Feedstock Guarantee.
3️.Supply Chain Finance. Tiga kata itu tampak sederhana, tapi di tangan B, ia menjadi struktur kendali — the anatomy of control.

Bayangkan tubuh manusia,” katanya, melangkah pelan di depan meja. “ Pabrik itu paru-paru. Feedstock adalah udara. Offtaker, pembeli adalah darah yang membawa oksigen ke pasar. “ Dan kita?” Ia menatap Sanya. “Kita adalah sistem sarafnya. Tanpa kita, semua organ hanya tumpukan daging.”Sanya terdiam, mencatat setiap kata. “ Jadi, kita tidak perlu membeli asetnya,” ujarnya perlahan.

“ Tidak,” jawab B. “Kita hanya perlu mengatur ritme napasnya.”

Ia mengetik cepat, dan di layar muncul diagram baru. Arus uang dari pemasok Timur Tengah ke SPV di Labuan, turun ke LC syndicate Swiss, lalu bercabang ke pabrik India dan aggregator di Dubai. “ Semua arus itu tidak terlihat publik,” kata B. “ Tapi siapa yang memegang instrumen finansialnya, memegang dunia nyata.”

Sanya menatap layar itu lama. “ Ini seperti jaring laba-laba,” katanya. “Indah tapi mematikan.”

B tersenyum samar. “Kau salah, Sanya. Laba-laba menunggu mangsanya datang. Kita menciptakan ruang agar mangsa tidak punya jalan keluar selain datang kepada kita.”

Ia menatap Sanya lebih dalam, seolah ingin memastikan ia paham. “ Di dunia modern, kepemilikan adalah beban. Pajak, politik, serikat pekerja, reputasi, semuanya beban. Tapi kendali? Kendali adalah kebebasan murni. Tidak terlihat, tapi absolut.”

Hening beberapa detik. Angin malam menabrak kaca, menimbulkan dengung halus. Sanya akhirnya bertanya lirih, “ Dan kalau mereka sadar?”

B berjalan mendekat, menatap keluar jendela. “Sadar bukan berarti bisa melawan. Orang yang tahu ia sedang tenggelam tetap butuh udara. Ia tidak menolak bantuan. Ia hanya berharap harganya tidak terlalu mahal. Tapi di dunia ini, harga selalu ditentukan oleh yang punya waktu lebih panjang.”

Di luar, suara hujan mulai reda, berganti kabut tipis yang menyelimuti menara-menara Hong Kong. Sanya menatap ke jendela, pantulan wajahnya dan B bersatu di kaca. Dua siluet, dua ideologi dalam satu sistem.

“ B,” katanya pelan, “apa bedanya ini dengan kolonialisme?”

B tertawa kecil, tanpa menoleh. “Kolonialisme menaklukkan tanah. Kita menaklukkan arus.”

“ Tapi efeknya sama. Mereka kehilangan kedaulatan.”

“ Benar,” jawab B, menatap jauh ke lautan lampu. “Hanya saja kini mereka menyebutnya partnership.”

Ia berdiri, merapikan jasnya, dan mematikan layar.
“ Mereka sudah undang kita. Besok kita kirim tim ke Mumbai. Aku ingin perjanjian awal ditandatangani dalam tujuh hari. Dan pastikan semua kontrak menggunakan format Yuan Nexus Protocol.

Dan setelah itu?” Tanya Sanya lirih.

Setelah itu,” kata B sambil berjalan keluar ruangan, “mereka akan belajar bahwa penyelamat adalah bentuk kekuasaan paling sempurna. Karena ia lahir dari rasa syukur.

Pintu menutup pelan di belakangnya. Sanya tetap duduk, menatap peta dunia di layar.  Titik-titik biru, garis-garis merah.mIa tahu, sekali sistem itu berjalan, tidak ada jalan mundur. Dan di dalam jaring yang dibangun B, semua bergerak bukan karena perintah… tapi karena gravitasi.

***

Malam Mumbai berbau logam dan laut. Di luar jendela ruang rapat PetroAsia, langit berwarna tembaga, penuh asap dari kilang di pinggir kota. Suara hujan mengetuk kaca tinggi, seperti detik waktu yang tak sabar menagih keputusan.Sanya berjalan masuk dengan langkah tenang. Setelan blazer nya sederhana tapi pas, suaranya lembut tapi tegas. Jenis suara yang membuat orang berpikir dua kali sebelum menolak. Di belakangnya dua staf Yuan membawa koper hitam berisi dokumen dan proyeksi keuangan yang dikemas seperti obat penyelamat hidup.

Di ujung meja, duduk tiga pria beruban. Direktur PetroAsia yang dulu berkuasa, kini tampak kecil dalam jas mahal yang kebesaran oleh beban hutang.

“ Kami bukan bank,” kata Sanya memulai. “ Kami datang membawa napas.”

Ia menyalakan proyektor: grafik cashflow merah menurun, margin feedstock menembus garis bahaya, kontrak pasokan nafta Timur Tengah sudah habis masa berlakunya.

“ Kalian punya pabrik dengan kapasitas luar biasa, tapi tak ada oksigen untuk menjaganya tetap hidup,” ujarnya datar.
“Kami bisa berikan oksigen itu dalam bentuk feedstock guarantee dan kontrak pembelian jangka panjang.”

Ketua dewan Direksi, pria tua bernama Arun Desai, menyandarkan punggungnya dan menatap tajam. “ Dan sebagai gantinya

Sanya tersenyum, menyentuh layar dan menampilkan lembar perjanjian: Yuan Subholding – Strategic Offtake Agreement.

“ Kami akan membeli enam puluh persen produksi Anda selama lima tahun. Kami bayar lebih cepat dua minggu sebelum pengiriman. Kami bahkan sediakan jaminan pasokan bahan baku melalui jaringan kami di Teluk.”

“ Dan?” tanya Arun lagi. “Tidak ada yang cuma-cuma.”

“ Semua invoice dan LC akan melewati platform kami,” jawab Sanya lembut. “ Kami bantu mengelola arus pembayaran agar rantai pasok Anda efisien. Anda tetap pemilik.” Ia menekankan kata itu, tetap pemilik. Tapi dalam suaranya ada nada ambigu seperti seseorang yang menjual keselamatan dengan klausul tersembunyi di balik tanda tangan.

B di Hong Kong memantau dari jarak ribuan kilometer. Layar di ruang kerjanya menampilkan siaran langsung rapat itu melalui feed internal. Ia menatap wajah Arun yang gelisah dan berkata pelan pada dirinya sendiri, “Orang seperti dia tak takut kehilangan uang… mereka takut kehilangan waktu.” Ia tahu, rasa takut kehilangan waktu adalah mata uang paling berharga di dunia.
Dan rasa takut itu, bila diarahkan dengan benar, bisa menggantikan saham, direksi, bahkan hukum.

Di Mumbai, keheningan menggantung. Sanya menunggu. Hujan semakin deras di luar; suara air seperti metronom kesabaran. Akhirnya Arun menarik napas panjang.

“‘Berapa lama waktu yang kami punya untuk mempertimbangkan?”

“ Tujuh hari,” jawab Sanya. “Setelah itu, kapal tanker  pertama kami berangkat ke klien baru di Vietnam. Kalau Anda ingin ikut di gelombang itu, waktunya sekarang.”

“ Dan kalau kami tidak menandatangani”

Sanya menatapnya lembut, hampir penuh empati. “ Maka pabrik Anda berhenti bernafas. Dan dunia tidak berhenti untuk menunggu yang berhenti bernafas.”

Tanda tangan ditorehkan malam itu juga. Pulpen bergetar di tangan Arun, tinta hitamnya seperti darah kontrak yang baru. Sanya berdiri, menutup dokumen, lalu menjabat tangannya.

“ Selamat, Pak Arun. PetroAsia kini aman.

Arun menatapnya tajam. “ Atau sudah jadi milik Anda tanpa kami sadari?”

Sanya tersenyum, matanya menatap jauh ke luar jendela. “ Tidak, Pak. Milik Anda sepenuhnya. Kami hanya memastikan agar Anda tidak kehilangan napas.”

Beberapa jam kemudian, di pesawat menuju Hong Kong, Sanya menatap awan dari jendela. Ponselnya bergetar: pesan dari B.

“ Bagus. Mereka sudah menyerahkan paru-paru mereka. Sekarang kita tinggal kendalikan ritme jantungnya.”

Sanya menutup layar, termenung.Ia tahu B benar, tapi di dadanya ada rasa dingin yang sulit dijelaskan. Ia baru saja menyelamatkan sebuah perusahaan… dengan cara yang membuatnya tak lagi merdeka. Di catatan pribadinya, ia menulis. “Setiap krisis adalah undangan. Setiap rasa takut adalah pintu. Dan setiap bantuan, bila cukup lama, akan berubah menjadi bentuk baru dari kepemilikan.”

***

Zurich. Kota yang tampak suci, tenang, dan steril seperti lembaran saldo bersih dari dosa. Salju tipis turun di tepi Sungai Limmat, sementara di jantung distrik finansial, di lantai 11 , seorang pria bernama B sedang menulis simfoni paling rumit dalam dunia modern, bukan dengan not musik, tapi dengan struktur finansial.

Ia duduk di depan tiga layar, tiap layar memantulkan arus uang dari tiga benua. Di pojok meja, secangkir kopi dingin, belum disentuh. Ia bekerja seperti biarawan dalam ritual ekonomi.  Tenang, presisi, tanpa emosi. “‘Feedstock dari Teluk akan masuk minggu depan,” suara seorang analis dari Hong Kong terdengar melalui panggilan terenkripsi. “Volume pertama 250 ribu barel. Kita jadikan collateral atau hedging asset, sir?”

“ Collateral,” jawab B tanpa menoleh. “Dunia percaya pada aset fisik. Tapi yang mengendalikannya selalu dokumen.”

Di layar utama, muncul tiga kotak: SPV: Yuan Petrochem Finance (Labuan). Aggregator: Yuan Trading (Dubai). Custodian Bank: Roth & Winter (Zurich)
Di bawahnya: garis-garis biru menghubungkan akun, escrow, dan LC (Letter of Credit) yang terhubung ke kontrak offtake PetroAsia.

B menatapnya lama, seperti pelukis memandang kanvas terakhirnya. “ Struktur ini akan membuat mereka bernafas hanya jika kita menekan tombol approve.” Ia mengetik baris kode internal: Activation Condition = Yuan Consent Signature. Itu berarti, setiap transaksi PetroAsia, dari pembelian bahan baku hingga ekspor polimer  tidak bisa berjalan tanpa tanda tangan elektronik dari sistem Yuan. Tidak ada saham, tidak ada pengambilalihan. Hanya satu baris otorisasi digital. Dan dengan itu, kendali total tercapai tanpa kepemilikan formal.

Seorang banker muda Swiss masuk ke kamar kerja B, membawa dokumen. “ Herr B, sind Sie sicher? (Apakah Anda yakin?) Regulasi Eropa mungkin akan mempersulit struktur tiga negara ini.”

“ Saya tidak bekerja di bawah regulasi,” jawab B tanpa menatapnya. “ Saya bekerja di antara regulasi. Di ruang hampa itulah kekuasaan lahir.”

Ia membuka file baru: PetroAsia Integration Plan v2. Di sana tertera. Semua invoice penjualan PetroAsia → diterbitkan atas nama Yuan Trading (Dubai). Semua feedstock contract → dijamin oleh LC dari Roth & Winter Bank. Semua pembayaran ekspor → melewati escrow di Labuan sebelum diteruskan ke India. “ Dengan skema ini,” gumam B, “mereka bisa beroperasi seperti biasa. Tapi tanpa kita, semua ini akan berhenti seperti tubuh tanpa nadi.”

Banker itu diam, menunduk. Antara kagum dan takut. Ia tahu pria di depannya bukan klien biasa. B adalah arsitek.  Orang yang tidak menjual uang, tapi menjual mekanisme bertahan hidup. Banker itu berlalu dari hadapan B.

Tiba-tiba layar notifikasi menyala di terminalnya. B melirik dan accepted. Panggilan video dari Sanya di Hong Kong. Di belakangnya, lampu malam kota membentuk refleksi samar di kaca.

“ Strukturnya sudah siap?” tanya Sanya.

“ Sudah,” jawab B. “Sekarang mereka terhubung pada kita seperti bayi ke tali pusar.”

Sanya sgera menerima notifikasi di sistem Yuan “All Financial Layers Activated — PetroAsia Network Online.” Ia menatap layar itu lama “Dan dengan satu klik, dunia berubah tanpa satu pun rapat dewan.” Sanya terhenyak. “ Tapi B, mereka tidak akan sadar sampai audit berikutnya. Itu bisa jadi dua tahun lagi.” Lanjut Sanya”

“ Dua tahun cukup untuk membuat ketergantungan berubah jadi kebutuhan,” Jawab B ringan..
“Dan kebutuhan… selalu lebih kuat dari hukum.”

Sanya terdiam sejenak. “ B, apakah kau pernah merasa bersalah?”

B menatap salju di luar jendela. “Bersalah adalah hak istimewa orang yang tidak berurusan dengan sistem. Aku tidak menyakiti siapa pun. Aku hanya mengganti arsitek realitas.”

Ia berhenti, lalu menambahkan pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri “Ketika dunia terlalu rumit, kekacauan butuh tangan yang bisa mengatur ritmenya. Aku hanya memberi mereka ritme.” Signet out.

Beberapa jam kemudian, B berdiri di balkon apartemennya menghadap Sungai Limmat. Lampu-lampu Zurich memantul di air seperti deret angka, indah tapi dingin. Iamenyalakan rokok, menatap ke arah katedral tua di seberang sungai. “Zaman dulu,” katanya dalam hati, “para arsitek membangun katedral agar manusia merasa dekat dengan Tuhan. Sekarang, para arsitek keuangan global lewat influencer politik dan ekonom mengarahkan pemimpin negara untuk  membuat kebijakan membangun sistem agar manusia merasa dekat dengan likuiditas dan bergantung selamanya.

Salju jatuh pelan di pundaknya. Ia menatap ke langit. “Bedanya… di sini, Tuhan tidak lagi memutuskan siapa yang hidup, siapa yang mati. Likuiditas yang melakukannya.”

***

Pagi di Mumbai terasa seperti kelahiran baru. Asap dari menara pembakaran di kilang PetroAsia kembali naik ke langit, sirene kapal terdengar di pelabuhan Nhava Sheva, dan para pekerja mulai tersenyum lagi. Mereka pikir krisis sudah lewat. Padahal, mereka baru saja menjadi bagian dari sistem kehidupan yang bernapas lewat paru-paru orang lain. Di kantor pusat PetroAsia, CFO baru — orang Yuan — sedang memeriksa laporan keuangan. Cashflow positif. LC cair tepat waktu. Semua berjalan sempurna. Hanya saja, satu hal kecil berubah, semua pembayaran harus melalui Yuan Payment Gateway. “Itu bagian dari efisiensi,” katanya tenang. “ Kita butuh sistem yang lebih cepat.”

Tidak ada yang curiga. Kecepatan selalu tampak seperti kemajuan, padahal kadang ia hanya bentuk penyerahan diri yang lebih elegan.

Di Hong Kong, Sanya membaca laporan performa kuartal pertama. Margin naik 27%.
Pasokan bahan baku stabil. Bahkan kreditur lama PetroAsia memuji “stabilitas baru yang sehat.” Tapi di matanya, angka-angka itu bukan tanda kehidupan, melainkan indikator keterikatan. Ia menghubungi B di Zurich. “ B, Mereka benar-benar bergantung pada sistem kita sekarang.”

“ Tentu. Tak ada yang bisa mengalahkan rasa aman. Ketika orang merasa aman, mereka tak sadar sudah kehilangan kedaulatan.

“ Kadang aku merasa kita bukan menolong, tapi mengikat.”

“ Sanya, dalam ekonomi global, tak ada yang bebas. Kita hanya memilih jenis rantai yang kita pakai.”

Sementara itu, di ruang kendali Yuan Tower, tim analis memantau dashboard: feedstock flow, shipment route, offtake margin, repo financing. Setiap data terhubung dengan sistem PetroAsia tanpa mereka tahu bahwa pusat gravitasi bisnis mereka kini berada ribuan kilometer jauhnya. B menyebutnya “the silent puppet system.” Ia pernah berkata dalam rapat internal “Kita tidak butuh memerintah. Kita hanya perlu memastikan semua keputusan rasional mereka berujung pada kita.” Dan seperti air yang selalu mencari dataran rendah, semua arus ekonomi itu mengalir menuju Yuan.

Malam itu, Sanya duduk di ruang kantornya, memandangi layar yang menampilkan arus transaksi PetroAsia secara real-time. Ribuan angka menari di depan matanya seperti nadi yang berdetak dalam tubuh transparan. Ia teringat pertemuannya dengan Arun di Mumbai. Tatapan pria tua itu saat menandatangani kontrak tak pernah hilang dari pikirannya. Tatapan seseorang yang tahu ia sedang menyerahkan sesuatu yang lebih dari sekadar bisnis: harga diri. Ia memejamkan mata. “Apakah aku menyelamatkan mereka… atau sekadar membuat mereka tidak bisa hidup tanpaku?”

Di Zurich, B menerima laporan, PetroAsia – Full Integration Success. Baginya, itu bukan kemenangan, itu rutinitas. Ia menulis di jurnal kulit hitamnya: “Ketergantungan adalah bentuk kekuasaan paling stabil. Kekuasaan melalui ancaman menciptakan perlawanan, tapi kekuasaan melalui kebutuhan menciptakan loyalitas yang tak sadar.”

***

B mengundang Sanya ke Zurich. Pertemuan diadakan di resto tepi Sungai Limmat. Lampu-lampu kota memantul di air seperti serpihan emas cair. “ Kau lihat, Sanya… sekarang mereka tidak bisa berjalan tanpa kita.”

“ Ya. Tapi aku mulai berpikir, sampai kapan dunia bisa diselamatkan dengan skema ketergantungan?”

“ Selama dunia takut pada ketidakpastian.”

Ia menatap Sanya lama. “Kau masih terlalu percaya pada moral. Di dunia finansial, moral adalah mata uang yang nilainya turun begitu masuk ke neraca laba-rugi.”

Sanya tersenyum getir. “Kau bicara seperti Tuhan tanpa surga.”

“ Tidak. Aku hanya mentor yang tahu semua neraka dimulai dari neraca.” Jawab B cepat dengan tersenyum tipis.

Mereka terdiam.
Angin malam meniup tirai sutra di jendela restoran. Di kejauhan, lonceng gereja Grossmünster berdentang, seolah mengingatkan bahwa bahkan kota sebersih Zurich dibangun di atas sistem kepercayaan yang rapuh. Uang, reputasi, dan keheningan yang disepakati bersama.

Di hotel malam itu, Sanya menulis di buku catatannya “Setiap sistem yang terlalu efisien adalah sistem yang tak memberi ruang bagi manusia untuk bernafas. Dan setiap bisnis yang terlalu terkontrol, pada akhirnya tak lagi menjadi bisnis — melainkan agama baru, dengan profit sebagai Tuhan.”

***

Langit Mumbai sore itu berwarna abu-abu keemasan. Hujan baru saja berhenti; udara lembab membawa bau minyak mentah dan besi panas. Di ruang rapat PetroAsia, udara tegang. Para kreditur, regulator, dan perwakilan bank berdiri di depan layar besar menampilkan laporan keuangan terbaru.

Di pojok ruangan, Sanya berdiri tenang, ditemani dua penasihat hukum Yuan dan seorang analis muda dari Hong Kong. PetroAsia, yang sempat “diselamatkan,” kini menghadapi tekanan baru: regulator India mencium kejanggalan dalam struktur pasokannya. Terlalu terikat pada satu entitas asing: Yuan Subholding

“ Miss Sanya,” suara tegas dari pejabat regulator memecah suasana.

“‘Mengapa semua LC, pembayaran, bahkan kontrak ekspor PetroAsia sekarang lewat jaringan Yuan? Negara kami tidak menerima Devisa hasil Ekspor. Apakah ini bentuk pengambilalihan terselubung?

Sanya tersenyum kecil. “ Tidak, Tuan Singh. Kami hanya mendukung rantai pasok. Semua masih di bawah kendali PetroAsia. Kami tidak memiliki saham. Kami hanya memastikan semua pihak tetap mendapat pasokan.”

Kalimat itu terdengar seperti jawaban sempurna di ruang konferensi, tapi di bawahnya tersembunyi kebenaran yang lebih dingin. Yuan tidak perlu saham, karena kendali cash flow sudah menjadi bentuk kepemilikan yang baru.

Sementara itu, di Zurich, B menatap rapat itu melalui feed langsung. Ia mendengar tawa sinis seorang bankir India di ujung meja, lalu mengangkat ponselnya. Satu panggilan ke Ale Capital. Sepuluh menit kemudian, layar rapat berubah. Grafik cadangan likuiditas PetroAsia melonjak 200% berkat “dukungan pembiayaan jangka pendek dari Yuan Finance Network.”

Ruangan yang tadi panas mendadak sunyi.

“ Anda lihat?” ujar Sanya lembut.
“Kami tidak menguasai PetroAsia. Kami hanya memastikan mereka tidak gagal bayar.”

Regulator menatap satu sama lain, lalu menurunkan nada suaranya. Sanya tahu momen itu adalah garis transisi, dari kecurigaan menjadi ketergantungan resmi.

Keesokan harinya, rapat para kreditur berlangsung tertutup. Bank terbesar India menolak memperpanjang kredit tanpa jaminan feedstock. Satu-satunya yang bersedia adalah  Yuan Subholding, melalui mekanisme reverse repo agreement yang menjadikan Yuan sebagai pengendali semua invoice ekspor.

“ Untuk sementara,” kata salah satu direktur bank.

“ Demi stabilitas sistem.”

Kalimat itu demi stabilitas sistem , adalah stempel suci dalam dunia finansial. Ia membenarkan apa pun. Pengambilalihan, intervensi, bahkan kolonisasi ekonomi.

Dua minggu kemudian, Yuan mendapat kursi resmi di Komite Teknis Operasional PetroAsia. Sanya menandatangani surat keputusan itu di hadapan Dewan. Ia tidak berbicara banyak, hanya satu kalimat pendek “Kami datang bukan untuk mengambil, tapi memastikan Anda tidak kehilangan lagi.”Para direksi bertepuk tangan. Ironisnya, bahkan yang sadar bahwa itu berarti menyerahkan kendali, ikut bertepuk karena di dunia pasca-krisis, rasa aman lebih berharga dari kebebasan.

Malam itu di Zurich, B menerima salinan dokumen lewat sistem terenkripsi. Ia membaca cepat, lalu menutup laptop. “ Dan begitulah,” katanya pada dirinya sendiri, “ sebuah kudeta tanpa pasukan. Tanpa ancaman. Tanpa darah. Hanya arus kas dan rasa syukur.”

Ia menatap keluar jendela, salju menutupi kota seperti selimut steril. Lalu menulis catatan di jurnal kulit hitamnya. “Manusia menyerahkan kekuasaan bukan karena kalah, tapi karena mereka lelah berjuang mempertahankan rasa aman.”

Beberapa hari kemudian, Sanya tiba di Zurich untuk melapor. B menunggunya di restoran favoritnya di tepi Sungai Limmat. Meja mereka selalu sama: nomor 12, dekat jendela. “ Kita sudah duduk di dalam sistem. Bahkan regulator yang menuduh, sekarang memanggil kita ‘mitra stabilisasi’. Kata Sanya

“ Itulah hukum tertua di dunia yang memberi solusi, berhak memegang kunci.

Sanya menatapnya lama. “ Kau sadar, B? Tak ada yang kita ambil dengan paksa. Mereka semua… menyerahkan sendiri.”

“ Tentu,” jawab B sambil memutar gelas anggur.

“ Revolusi sejati tidak lagi memakai senjata. Ia memakai spreadsheet.”

Di tengah malam, saat mereka berjalan keluar restoran, Sanya berhenti di jembatan. Air sungai memantulkan lampu seperti serpihan emas. “B,” katanya pelan, “kalau suatu hari sistem ini runtuh, apa yang akan kita lakukan?”

B tersenyum samar, menatap ke air. “Sistem tidak runtuh, Sanya. Ia hanya berganti wajah.
Hari ini kita penyelamat, besok kita krisis bagi orang lain. Begitulah siklus kekuasaan, ia tidak mati, hanya berpindah nama.”

***

Hong Kong, dini hari. Kota yang biasanya berkilau tampak kusam di bawah hujan yang tak kunjung reda. Lampu pelabuhan memantulkan warna kuning keperakan di jalan basah. Di jendela kamar hotel InterContinental, Sanya duduk diam, memandangi kapal-kapal yang bergeser pelan di dermaga. Di meja, segelas wine tak tersentuh. Di layar ponselnya, berita tentang PetroAsia memenuhi headline. “Pemulihan Cepat Berkat Kolaborasi Yuan.” Stabilitas Baru, Era Baru di Industri Petrokimia India.”Semua menulis hal yang sama, penyelamatan. Tak satu pun menulis tentang ketergantungan.

Ia menyalakan rokok. Asapnya mengabur di udara dingin. Ia ingat wajah Arun Desai, mantan CEO PetroAsia, yang kini duduk di kursi kehormatan simbolis tanpa kekuasaan nyata. Satu bulan lalu, pria itu mengirim pesan pendek ke inbox pribadinya “Terima kasih, Miss Sanya. Anda menyelamatkan pabrik kami. Tapi saya merasa seperti pasien yang hidup dengan paru-paru buatan.”

Sanya tak pernah membalas. Karena di dalam hati, ia tahu  metafora itu sempurna. PetroAsia memang hidup, tapi bernapas dengan sistem Yuan. Di layar sebelah, panggilan terenkripsi masuk dari B di Zurich.
Wajahnya muncul di video, dingin seperti kaca. Kau tampak lelah,” katanya.

Aku hanya sulit tidur.”

“ Itu gejala biasa bagi orang yang belum berdamai dengan kekuasaan.”

Sanya tersenyum tipis. “Kadang aku berpikir, B… apa bedanya kita dengan kolonialis abad 19? Mereka datang dengan senjata dan kontrak dagang. Kita datang dengan spreadsheet dan feedstock guarantee. Tapi hasilnya sama. Mereka tak bisa hidup tanpa kita.”

B diam beberapa detik. “Perbedaan mendasar, Sanya, adalah bahwa kita memberi mereka kesempatan hidup. Kita tidak merampas. Kita menata ulang.”

“ Menata ulang apa?”

“ Dunia,” jawabnya pelan. “Supaya tidak dikuasai oleh ketidakefisienan.”

Sanya menatap layar lama.

“ Tapi di mana batasnya, B? Di mana garis antara menyelamatkan dan mengambil alih?
Antara memberi napas dan menciptakan ketergantungan?”

B menghela napas. “Pertanyaan itu hanya muncul dari orang yang masih ingin menjadi manusia. Aku berhenti menanyakannya sejak lama.”

Setelah panggilan berakhir, Sanya berjalan ke balkon. Dari ketinggian, ia melihat Victoria Harbour — lautan lampu dan arus uang. Ia sadar, di bawah cahaya itu, ribuan transaksi bergerak setiap detik, membentuk dunia yang tampak hidup tapi kehilangan arah. Ia menatap laut dan berkata pada dirinya sendiri. “Kita menciptakan sistem yang begitu efisien, sampai-sampai tidak ada ruang lagi untuk kesalahan… atau hati nurani.”

Keesokan paginya, Sanya menemui Arun Desai diam-diam di kafe tua di Sheung Wan. Pria itu tampak lebih tua dari usianya, namun matanya masih tajam.

“ Kau tahu,” kata Arun sambil menatap ke laut, “ aku tidak membencimu. Aku bahkan berterima kasih. Tapi setiap kali aku menandatangani laporan bulanan, aku sadar semua angka itu bukan milikku lagi. Rasanya seperti menulis laporan dari kapal yang dikendalikan orang lain.”

Sanya menunduk. “ Mungkin itu harga untuk bertahan hidup.”

“ Bertahan hidup bukan berarti hidup,” balas Arun.” Ketika semua keputusan harus ‘disetujui secara sistemik,’ kita bukan lagi manusia. Kita algoritma.”

Kata-kata itu menggema di kepala Sanya jauh setelah mereka berpisah.

Malamnya, di Yuan Tower, B menerima laporan dari tim Shadow nya. PetroAsia mencapai laba tertinggi dalam sejarah.
Investor memuji. Media memuja. B hanya menatap layar, lalu mematikan semuanya. Ia menulis satu kalimat di jurnalnya “Kesempurnaan sistem adalah ketika tidak ada yang sadar mereka sedang dikendalikan.

Sanya membaca laporan yang sama di Hong Kong tapi formal. Ia menutup file, menatap langit kota yang mulai berwarna oranye. Ia tahu, setiap angka sukses di layar itu adalah bagian dari cerita yang akan ditulis ulang sejarah. Tentang bagaimana kekuasaan modern tidak lagi menaklukkan dengan kekerasan, melainkan dengan kenyamanan. “Dan kenyamanan,” pikirnya, “adalah bentuk penjajahan yang paling halus.”

Ia menulis di buku catatannya, huruf-huruf kecil tapi tajam. “B menciptakan sistem yang sempurna. Tapi setiap sistem yang terlalu sempurna pada akhirnya menolak manusia. Karena manusia, pada dasarnya, diciptakan untuk salah — bukan untuk dikendalikan.

Malam itu, di antara hujan dan kabut Hong Kong, Sanya memutuskan satu hal. Ia akan tetap berjalan di samping B,  tapi kali ini, dengan mata terbuka

***

Hong Kong kembali terjaga oleh kegelisahan pasar. Di layar-layar Bloomberg, sebuah rumor muncul seperti riak di air tenang.“Yuan Subholding dikabarkan memiliki kendali tidak langsung atas PetroAsia Refinery, meski tidak tercatat sebagai pemegang saham.” Lalu disusul yang lain “Struktur pasokan global berubah.  Offtaker baru menggeser pusat pengaruh dari Teluk ke Asia Timur.” Pasar gemetar bukan karena kepastian, tetapi karena ketidakpastian yang terasa benar.

Di ruang rapat Yuan Tower, Sanya berdiri di depan layar menampilkan potongan berita internasional. Di belakangnya, tim komunikasi dan hukum berdiri tegak seperti pasukan. “ Kita diserang narasi,” kata Sanya. “Tapi tidak ada yang bisa membuktikan.

B masuk beberapa menit kemudian, mengenakan jas abu-abu, tampak seperti orang yang tidak pernah tidur tapi juga tidak pernah lelah. Ia menatap layar, lalu tertawa kecil. “Biarkan saja,” katanya. “ Rumor seperti kabut. Semakin kau coba meniupnya, semakin ia menutupi seluruh kota.”

Sanya menatapnya khawatir. “ Tapi ini bisa mengundang regulator, B.”

“ Regulator tidak peduli pada kebenaran,” jawabnya pelan. “Mereka peduli pada stabilitas. Dan selama kita menjaga stabilitas, kita aman.” Ia berjalan ke jendela, menatap langit malam yang dipenuhi lampu gedung tinggi. “Kekuasaan sejati, Sanya, bukan saat orang tahu kau berkuasa. Tapi ketika mereka mulai berbisik, dan tak satu pun dari mereka berani menyebutkan namamu dengan lantang.”

Beberapa hari kemudian, konferensi energi internasional digelar di Abu Dhabi. Media memenuhi lobi. Investor global ingin tahu. Apakah rumor itu benar? Apakah Yuan kini mengendalikan rantai petrokimia Asia? Sanya berdiri di podium, menghadapi lautan kamera. Ia tersenyum profesional, lalu berkata dengan tenang. “Kami tidak memiliki siapa pun. Kami hanya berinvestasi dalam efisiensi dan kepercayaan.” Ruangan menjadi hening. Wartawan menatapnya. Mencari jeda, mencari celah. Tapi Sanya tidak memberi apa-apa. Ia berhenti tepat di antara kejujuran dan kebohongan, wilayah yang B sebut “zona kendali sempurna.”

Sementara itu, di Zurich, B sedang makan malam dengan seorang bankir tua dari Swiss.
Mereka duduk di restoran kecil di tepi sungai Limmat, hanya diterangi lilin. Bankir itu menatapnya tajam. “Orang bilang Anda mengendalikan setengah pasokan petrokimia Asia.”

B tersenyum, menyesap anggur.

“ Orang bilang banyak hal. Tapi saya hanya memperlancar arus.”

“ Tapi semua arus itu mengarah ke Anda.”

“ Itu bukan salah saya kalau gravitasi bekerja begitu.”

Bankir itu terdiam. Ia tahu tak mungkin menang melawan seseorang yang sudah menjadikan sistem sebagai senjata. Beberapa minggu kemudian, laporan IMF dan Bank Dunia menyebut Yuan sebagai “aktor likuiditas non-negara terbesar di sektor energi Asia.” Tak ada bukti resmi. Tak ada struktur kepemilikan yang bisa dibaca publik. Namun semua orang tahu, di balik setiap LC, escrow, dan feedstock guarantee, ada tanda tangan yang sama, Authorized by Yuan.”

Malam itu di Hong Kong, Sanya duduk sendirian di kantor. Ia memandangi layar komputer yang menampilkan peta rantai pasok Asia. Semua jalur biru mengarah ke satu titik: Hong Kong. Ia berbisik pada dirinya sendiri, “Kita sudah jadi sistem itu sendiri.”

B masuk tanpa suara dan duduk di sofa. Sanya menatapnya, mata mereka bertemu dalam cahaya neon kota. “ B… kadang aku berpikir, ini bukan lagi tentang bisnis.”

“ Tentu bukan,” jawabnya tenang. “Ini tentang peradaban. Tentang siapa yang menulis ulang mekanismenya.”

Ia menatap keluar jendela. “ Dan sekarang, dunia butuh mitos. Mitos tentang stabilitas. Tentang tatanan yang tak pernah goyah. Dan kita, Sanya… adalah mitos itu.”

Malam makin larut.NDi pelabuhan, kapal-kapal tanker berlabel Yuan Supply Guarantee bergerak pelan menuju Laut Cina Selatan. Setiap satu kapal yang berangkat menandakan satu perusahaan yang bertahan hidup, dan satu dunia yang tak sadar sedang dikendalikan. Sanya menatap laut dari jendela dan berbisik, “Kekuasaan yang tak terlihat akhirnya mulai terdengar… tapi hanya dalam bisikan..

***

Zurich, musim dingin. Udara dingin seperti bilah pisau. Berita pagi menghantam dunia finansial seperti badai. Harga Crude melonjak 180%. Pasokan naphtha dari Teluk terganggu karena konflik geopolitik. Puluhan pabrik petrokimia di Asia menghentikan produksi. Di layar besar ruang kerja B, grafik merah memanjang seperti luka terbuka. Setiap lonjakan harga berarti ratusan juta dolar beban tambahan bagi offtaker. Dan di tengah semua itu. PetroAsia berdiri di ujung jurang.

Sanya memanggil konferensi darurat. Layar ruang rapat Yuan Tower menampilkan wajah-wajah tegang dari India, Dubai, hingga Singapura. “Harga feedstock sudah di luar kendali,” katanya cepat. “Kita harus aktifkan price cap clause di kontrak PetroAsia. Kalau tidak, mereka gagal bayar.”

B muncul di layar lain, duduk di ruang gelap di Zurich, hanya diterangi cahaya laptop. “ Tidak perlu,” katanya datar. “ Biarkan mereka gagal bayar dulu.”

“ Apa?” Sanya terkejut. “Kalau mereka gagal bayar, sistem escrow kita ikut tertekan.

“‘Justru itu tujuannya,” jawab B. “Kita biarkan semua kartu jatuh di meja, baru kita ubah permainan.”

Dua hari kemudian, PetroAsia resmi default. Media menulis: “Yuan Subholding gagal mencegah kehancuran rantai pasok.” Harga saham turun, regulator panik, bank-bank lokal membekukan pinjaman.

Namun di balik layar, B sudah menyiapkan langkahnya. Ia mengirim surat rahasia ke semua kreditur besar PetroAsia “Yuan bersedia menanggung semua kewajiban feedstock. Sebagai kompensasi, konversikan seluruh piutang Anda menjadi saham preferen, yang dikelola di bawah konsorsium likuiditas kami di Labuan.” Dengan satu surat, utang berubah jadi kepemilikan. Dan kepemilikan berubah jadi pengendalian mutlak.

Malam itu, di Hong Kong, Sanya menatap layar yang menampilkan data realtime. Semua kreditur satu per satu menyetujui restrukturisasi. Dalam waktu 72 jam, PetroAsia secara hukum dan ekonomi berpindah tangan.

“ Kita baru saja melakukan akuisisi terbesar tanpa mengeluarkan satu dolar pun,” katanya kepada dirinya sendiri. “ Dan karena itu ada 4 industri petrokimian di Asia yang sudah menghubungi Ale Capital dari team Shadow Yuan untuk mengikuti skema restrukturisasi yang sama dengan PetroAsia. Ia membayangkan sosok B. Dia paham mengapa B disebut oleh sebagian orang sebagai predator yang dingin.

***

8 bulan kemudian, di Zurich, B menghadiri pertemuan dengan para pemimpin bank Swiss. Mereka memuji langkah cepat Yuan. Salah satu dari mereka berkata,” Anda menyelamatkan sektor energi Asia.”

B hanya tersenyum kecil. “ Saya tidak menyelamatkan siapa pun. Saya hanya memastikan sistem tidak kehilangan irama”.

Namun di balik ketenangan itu, Sanya mulai merasa hampa. Ia tahu kemenangan ini terlalu senyap, terlalu steril, terlalu sempurna. Ia membaca laporan harian: Yuan kini memiliki 87% kendali efektif atas rantai petrokimia Asia Selatan. Ia mengirim pesan pendek ke B. “Apakah semua ini benar-benar perlu?”

B membalas satu kalimat: “Segala sesuatu yang bisa dikendalikan ya  harus dikendalikan. “

Beberapa hari kemudian, Sanya tiba di Zurich. Gedung Ale Capital seperti katedral modern: marmer putih, kaca dingin, dan keheningan yang nyaris sakral. Ia mendapati B sedang menatap kota dari balik jendela. “ Kau tahu, B,” katanya lirih, “dunia menyebutmu penyelamat.”
“Aku hanya pembaca pola,” jawabnya. “Ketika semua orang bereaksi, aku berhitung.”

Sanya mendekat, menatap wajahnya. “ Kau tidak pernah takut kehilangan segalanya?

“ Tak mungkin kehilangan sesuatu yang tak pernah kau miliki.”

Ia berbalik, menatap peta dunia digital di layar. “Lihatlah, Sanya. Setiap titik biru itu bukan perusahaan, tapi denyut nadi. Kita tidak lagi mengatur pasar. Kita adalah pasarnya.”

Malam itu, di hotelnya, Sanya menulis di jurnal kecil “Krisis bukan bencana, tapi alat.
Dalam tangan yang tepat, ia menjadi penyaring kekuasaan. Tapi dalam tangan yang salah, ia bisa menjadi awal dari kehampaan.

Ia berhenti menulis, lalu menatap ke luar jendela. Zurich tampak indah, tapi sepi seperti sistem yang berhasil menyingkirkan semua kekacauan, dan sekaligus semua perasaan manusia di dalamnya.

Di sisi lain dunia, berita utama berubah “Yuan Rescues PetroAsia — New Order in Petrochemical Trade Begins.” Para analis menyebutnya “keajaiban pasar.” Tak ada yang tahu bagaimana penyelamatan itu terjadi. Tak ada yang sadar bahwa penyelamatan itu adalah bentuk akuisisi paling halus dalam sejarah manusia.

Sementara B duduk sendirian di balkon kantornya, rokok di tangannya nyaris padam.
Ia menatap langit malam yang bersih dari awan, dan berkata pelan, mungkin hanya untuk dirinya sendiri: “Krisis adalah musik yang paling jujur. Karena hanya saat dunia retak, kita tahu siapa yang memegang irama.”

***

Malam itu, Sanya menerima pesan dari B. “Kapal akan berangkat ke Teluk. Aku ingin kau ikut.” Ia tak bertanya kenapa. Ia tahu ini bukan undangan bisnis. Ini semacam penutupan.

Malam di Laut Cina Selatan sunyi. Langit tanpa bintang, laut tanpa gelombang. Di atas dek kapal tanker Yuan Liberty, dua sosok berdiri memandangi horizon yang gelap. B dan Sanya, diam, dengan mantel panjang tertiup angin asin. Di kejauhan, cahaya lampu kapal lain berkedip pelan, armada Yuan Supply Guarantee, kapal-kapal yang kini mengangkut napas ekonomi Asia. Setiap muatan bukan hanya naphtha atau propylene, tapi simbol: bahwa dunia kini bergantung pada sistem yang mereka bangun.

B menyalakan rokok. Api kecil itu berkedip singkat, lalu padam tertiup angin. Ia menatap lautan, lalu berkata perlahan “Kau tahu, Sanya… semua orang berpikir kekuasaan diraih lewat perang, atau uang, atau politik. Padahal, yang paling kuat adalah kendali yang dibungkus dalam kepercayaan.”

Sanya menatapnya, wajahnya pucat diterpa cahaya lampu dek.

“ Dan sekarang kita sudah memilikinya?”

“ Kita tidak memiliki apa-apa,” jawab B. “Kita hanya memastikan semua orang percaya mereka aman.”

Ia menatap laut lagi.

“ Itu bedanya penyelamat dengan penakluk. Penakluk ingin diingat, penyelamat ingin dilupakan, tapi tetap dibutuhkan.”

Angin malam bertiup kencang. Sanya menggenggam pagar besi, matanya basah oleh kabut laut. “Kadang aku berpikir,” katanya pelan, “ semua yang kau bangun terlalu senyap. Tak ada patung, tak ada penghargaan. Hanya angka di layar dan sistem yang berjalan.”

B tersenyum samar. “ Justru karena itu, kita menang. Kekuasaan sejati adalah ketika tidak ada yang tahu siapa yang sebenarnya berkuasa.”

Ia menatap jauh ke garis gelap horizon. “ Dunia sekarang berjalan sendiri tapi setiap langkahnya melewati jalur yang kita rancang. Itu sudah cukup.”

Malam tenang, laut hitam seperti kaca cair. B berdiri di pinggir dek, menatap ke laut tanpa suara. Sanya mendekat. “ Kau tahu, B, katanya pelan, “ aku dulu berpikir kekuasaan adalah kemampuan untuk mengubah dunia.

“ Dan sekarang?”

“ Sekarang aku tahu… kekuasaan adalah kemampuan untuk membuat dunia tak berani berubah tanpa izinmu.”

B menatapnya lama, lalu tertawa kecil. “ Akhirnya kau mengerti. Itu bukan kesombongan, Sanya. Itu arsitektur.”

Kapal bergoyang ringan. Lampu dek memantulkan cahaya ke wajah mereka, menciptakan siluet samar: dua orang yang pernah mengubah arah arus dunia, namun kini tampak seperti bayangan di tengah sistem yang lebih besar dari mereka sendiri.

“ Dan setelah ini?” tanya Sanya.

“ Setelah ini,” jawab B lirih, “ Aku menghilang.”

“ Menghilang?”

“ Ya. Setiap sistem yang sempurna harus kehilangan penciptanya agar tetap abadi.” Ia menatap laut, lalu menambahkan “Orang akan menyebut aku  legenda, lalu rumor, lalu lupa. Tapi sistem akan terus berjalan — itulah kemenangan yang sebenarnya.

***

Beberapa bulan kemudian, nama B menghilang dari semua laporan dan dokumen formal. Tak ada yang tahu ke mana ia pergi. Beberapa bilang ia pindah ke Swiss, yang lain bilang ke utara Islandia. Sebagian percaya ia hanya mitos.

Laporan tahunan Yuan diterbitkan. Hanya satu kalimat pendek di bagian akhir: “Strategic consolidation achieved.” Tak ada nama PetroAsia. Tak ada daftar aset.mTak ada pengumuman akuisisi. Namun para analis global tahu. Semua arus perdagangan baru kini berputar di orbit Yuan. Dan seperti planet yang tak sadar pada matahari, dunia berputar mengikuti gravitasi yang tak pernah mereka lihat.

Di Hong Kong, Sanya berdiri di ruang kantornya yang menghadap Victoria Harbour. Kota masih berkilau, tapi di balik gemerlap itu ia merasa kosong. Ia menatap layar komputernya. Sistem Yuan berjalan sempurna, tanpa kesalahan, tanpa hambatan, tanpa manusia. Ia menulis satu kalimat di buku catatannya “B menciptakan mesin yang tidak membutuhkan cinta, hanya logika. Dan sekarang mesin itu berjalan tanpa dia .”

Sanya sebagai CEO sub Holding Yuan Mineral dan Industries  menandatangani laporan tahunan dengan tangan gemetar, lalu menutup mata sejenak, mendengar detak mesin dunia yang terus berdengung. Ia berbisik pada dirinya sendiri “Kita tidak pernah berperang, tapi dunia berubah.”


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Satu tanggapan untuk “Kolonial =Partnership”

  1. “Ketergantungan adalah bentuk kekuasaan paling stabil.
 Kekuasaan melalui ancaman menciptakan perlawanan,
 tapi kekuasaan melalui kebutuhan menciptakan loyalitas yang tak sadar.”

    .. sampai kapan dunia bisa diselamatkan dengan skema ketergantungan?”

    “Selama dunia takut pada ketidakpastian.”

    Suka

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca