Nilai kemanusiaan…

Satu waktu di tahun 2010. Di Shenzhen saya dan teman teman ke KTV. Seperti biasa, mami-san menawarkan wanita pengiring lagu atau LC. Tak berapa lama masuklah barisan Wanita ke dalam ruang KTV  untuk beauty contest depan kami. Saya keluar ruangan untuk terima telp. Ada wanita cantik mendekat dan tersenyum seakan dia kenal saya. Saya abaikan saja. ini dunia malam. Semua wanita ramah.

“ Tempo hari saya dampingi anda. Mengapa anda tidak pilih saya.” tegur wanita itu setelah saya usai terima telp. Bahasa inggris nya bagus.

“ Mau tahu alasannya ? tanya saya balik. Dia menganguk. Saya selipkan uang USD 100 ke sela jarinya.  Dia tersenyum cerah.  Padahal tadinya wajahnya keliatan masam.  “ Itu alasannya. “ kata saya.

Dia terkejut. 

“ Anda hanya berpikir soal uang terhadap saya. Maka uang itulah nilai anda. Sampai kapanpun anda tidak akan mendapatkan rasa hormat lebih dari uang. “ Kata saya seraya masuk kembali ke ruang KTV.  “ Pak..” panggilnya. Saya menoleh ke belakang. “ Bisa tahu nomor hape nya” katanya dengan sikap merasa bersalah. Saya peluk dia untuk menentramkan hatinya yang merasa kalah dalam kontes dan merasa inferior karena saya tidak mau beri nomor hape saya.  Saya senyum aja dan berlalu.

Jam 3 pagi, saya keluar dari KTV. Dari tempat parkir saya melihat ada wanita berdiri mengenakan longcoat depan gerbang gedung. Dia melangkah mendekati saya.“ Maafkan saya. Anda telah memberikan hal yang sangat bernilai dalam hidup saya. Anda telah menyadarkan saya. “ Katanya menunduk sambil berlutut dengan kedua tanganya dia serahkan uang yang tadi saya beri USD 100. “ Ambil lagi uang ini.” Katanya. 

Saya terkejut. Duh ini wanita terlalu terbawa suasana hati terhadap sikap saya. Mengapa terlalu baper. Ini hanya Dugem. Mana ada perasaan terlibat.  Saya lihat dia masih dengan kedua tangan terjulur dan berlutut, tanpa bersuara. 

“ Berdiri kamu” kata saya seraya peluk dia. “ Engga usah begini, sayang” Sambung saya.  “ Saya mau makan. Gimana kalau uang itu kita pakai untuk  bayar makan. Gimana” Kata saya berusaha menentramkan hatinya. Dia terkejut namun akhirnya dia mengangguk. Terlihat sekali dia kalah dalam keadaan tidak bisa memilih. Pada moment itu, saya melihat dia sedang bertarung membuang ego narsis yang ada dalam dirinya. 

“ Kenapa sih kamu terlalu baper? Tanya saya dalam kendaraan. 

“ Saya tidak baper. Saya tahu diri aja. Siapalah saya. Tetapi sikap anda  tadi sangat mencerahkan saya. Walau hanya se-noktah cahaya di tengah lorong gelap. Itu menguatkan diri saya akan menemukan jalan yang benar. “ katanya.

“ Tetapi sikap saya tadi kan biasa saja. Kan biasa tamu  reject wanita yang ada dalam contest. “ Kata saya cepat.

“ Benar. “ Jawabnya cepat.”  Kalau orang lain, saya tidak peduli. Tetapi selama kerja di KTV, hanya anda yang tidak ajak saya tidur. Padahal anda sudah booking all in.  Sementara itu anda beri saya tip yang jumlahnya sama dengan 10 tamu.  Maklumi suasana hati saya. “ katanya dengan airmata mengambang. Saya perhatikan. Dia cerdas dan pasti terpelajar. Ah baru saya ingat. KTV  itu kan KTV berkelas. Hanya menyediakan escort berkelas dan pasti well educated. Saya mengangguk. 

“ Latar belakang Pendidikan kamu apa ? tanya saya sambil lalu. Kalau dia tidak mau jawab, saya abaikan saja. 

“ Saya sarjana ekonomi. Hanya saja saat masih kuliah, saya jatuh cinta dengan pria kaya Hong Kong. Saya larut dalam kemanjaan yang diberi pria itu. Dia racunin saya dengan kehidupan hedonism. Dua  tahun setelah itu, dia buang saya. Sementara saya sudah mabuk dengan kehidupan hedonism. Sumber income tidak ada. Satu satunya cara melanjutkan gaya hidup hedonis, ya jual diri. Ya akhirnya saya masuk dalam dunia malam. Semakin lama semakin dalam.” Katanya dengan tatapan kosong. Seakan sesal tak berujung

” Malam ini saya menemukan kesadaran. ” Katanya mengusap airmatanya. ” Di usia emas saya seharusnya saya berjuang untuk kehormatan saya. Besok saya akan gunakan kedua tangan saya untuk kerja keras. Gunakan kedua kaki melangkah tanpa ragu. Masa depan akan saya jemput dengan berani. “ katanya. Saya terhenyak. 

Usai makan di restoran dan akan berpisah “ siapa nama kamu ? tanya saya.


“ Fang. “ katanya seraya menunduk. Saya menyerahkan personal card kedia. “ Ini nomor telp saya. “ 

“ Terimakasih.” Katanya. “ Sebaiknya tidak usah” Katanya menolak personal card saya. “ Berharap suatu saat takdir akan mempertemukan kita lagi. Dan saya ingin jadi sahabat anda. ” Katanya bijak dan tanpa provokasi apapun. Saya terhenyak. 

***

Tahun 2024. Suara alert notifikasi SafeNet mengejutkan saya di tempat tidur. Saya trader, alert itu seperti urat nadi saya. Udah menyatu dengan alam bawah sadar saya, Segera saya jangkau smartphone saya.

 “ Uda. “ Chat Yuni. Saat itu pukul 4 pagi.  Yuni CFO Yuan Holding. Dia sahabat saya.

“ Ya ada apa?

“ Yuni barusan kirim file. Coba lihat “ 

Segera saya lihat. Hanya ada photo pabrik dan di depannya ada truk container. “ Ada apa dengan photo ini.” Tanya saya.

“ Yuni dapat rumor, itu pabrik sedang bangun proses produksi dengan tekhnologi AI. Tapi mereka bantah terus kalau wartawan ingin clarifikasi soal Rumor itu “ 

“ Kan hanya rumor itu.  Apa pentingnya dibahas ? kata saya.

“ Pabriknya dikawal ketat. Parameter 500 meter tidak boleh mendekat” kata Yuni. Ah saya merasa ada sesuatu yang harus saya cari tahu. Apalagi saya tahu korporat itu. Itu raksasa Industri microchip dan digital, smartphone. 

“ Ok, nanti saya cari tahu. “ kata saya mengakiri chat.

Dalam dunia teknologi, kalau sampai berhasil produksi massal dengan kecerdasan buatan (AI) di dalam sistem produksinya, maka efisiensi biayanya bisa turun 30–40 persen dibanding pabrik biasa.
Bayangkan, perusahaan yang tadinya butuh seribu karyawan untuk proses produksi, kini cukup dengan puluhan orang dan mesin pintar yang saling belajar. Ini competitive advance luar biasa. Bisa dengan mudah melumat pesaing Sebagai trader, tugas saya bukan menunggu berita resmi.
Tugas saya adalah bergerak sebelum dunia sadar.

Saya tidak bisa asal percaya begitu saja.
Rumor di pasar itu seperti kabar gosip di pasar tradisional. Sepuluh kabar, sembilan palsu.
Tapi kalau yang satu itu benar, bisa mengubah sejarah. Maka saya mulai berpikir:
Bagaimana cara memastikan kebenarannya tanpa bertanya langsung ke perusahaan yang dirumorkan itu?

Saya buka laptop, masuk ke jaringan data SafeNet, semacam pintu belakang legal untuk mencari informasi publik dengan kecepatan mesin.
Saya cocokkan foto itu dengan data satelit.
Ternyata koordinatnya cocok dengan zona industri di Shanghai, tepat di kawasan yang dulunya bekas pabrik chip generasi lama.

Saya lalu mencari data tambahan. Lalu lintas truk di sekitar lokasi. Rekrutmen tenaga kerja di situs pekerjaan.
Daftar impor barang yang lewat pelabuhan terdekat.
Dan yang paling penting, yaitu  permintaan listrik dan gas pabrik itu dalam tiga bulan terakhir. Hasilnya mengejutkan.
Ada lonjakan pemakaian listrik hingga 200 persen. Artinya, pabrik itu benar-benar aktif, bukan proyek mati.

Saya menatap layar lekat-lekat.
Jantung saya berdetak lebih cepat.
Di dunia saya, data adalah firasat, dan waktu adalah senjata. Sekarang saya tahu. Ini bukan sekadar rumor.
Ini awal dari sesuatu besar,  dan saya tidak boleh terlambat. Kalau perusahaan itu benar-benar berhasil memproduksi menggunakan tekhnologi AI,
biaya pesaing mereka akan terlihat seperti zaman batu.
Harga saham-saham besar yang selama ini dipuja akan runtuh seperti istana pasir. Saya harus lebih cepat dari pasar.
Lebih cepat dari analis.
Bahkan lebih cepat dari berita yang akan tayang besok pagi.

Saya meneguk kopi dingin di meja kerja, menatap langit Jakarta yang mulai memudar ke warna biru.
Dalam pikiran saya, semua bergerak cepat, grafik, angka, strategi.
Tapi di satu titik saya sadar, hidup seorang trader itu seperti berdiri di tepi jurang. Sekali langkah salah, jatuh.
Tapi kalau benar, anginnya bisa membawa kita ke atas. Dan saya sudah memutuskan, hari itu, saya akan melompat.

Saya tidak mungkin tanya kepada eksekutif perusahaan yang di rumorkan itu. Cara termudah adalah mencari tahu dari perusahaan cargo yang dalam photo sedang berparkir depan pabrik. Saya lakukan desk  riset lewat google untuk tahu profile perusahaan Cargo itu. Tidak ada. Wah ini jadi penasaran. Saya check di Bloomberg. Tidak ada . Saya cek di beberapa databased korporate listed. Tidak ada. 

Melalui jasa investigasi swasta di Shanghai saya dapat informasi tidak memuaskan. “ Itu pabrik tidak ada kegiatan sejak 1 tahun lalu. “ Kata mereka.  Tidak juga bisa memberikan informasi keberadaan truk cargo depan pabrik. Tetapi mereka memberikan rekomendasi perusahaan jasa investigasi private. Beralamat di Shenzhen. Mereka memberikan nomor telp dan  orang yang bisa dihubungi.

Saya langsung telp. Menjelaskan apa yang saya butuhkan. “ Kami akan memberikan jasa terbaik. Kami khusus melayani riset personal. Tetapi tarif kami mahal. “ Katanya.

“ Berapa ?

“ USD 60,000” katanya.

“ Seberapa cepat?

“ 7 hari.”

“ Saya bayar 5 kali lipat kalau anda bisa dapatkan informasi dalam  6 jam”. Kata saya cepat. Terdiam cukup lama. Tidak langsung jawab pertanyaan saya 

“ Ok, jam 4 sore hari ini anda akan dapatkan informasi itu.” Akhirnya dia jawab tegas. ”  Nah gimana bayarnya? Tanyanya.

“ Dalam 10 menit orang saya akan bayar. Orang saya akan call anda segera.“ Kata saya.

“ Terimakasih.”

Benarlah jam 4 kurang 25 menit. Saya dapat profiling perusahaan cargo itu. Lengkap banget. Saya tersenyum dan puas banget. Segera saya lakukan riset menyeluruh. Saya mulai menghitung. Kalau biaya turun 40%, laba bersih kompetitor akan jatuh.
Nilai saham mereka otomatis ikut turun. Investor akan lari dari saham lama dan pindah ke saham baru yang punya teknologi lebih efisien.


Lalu saya petakan. Pecundang (Losers): perusahaan teknologi lama, yang biayanya mahal, mesin lamanya boros, dan belum punya kemampuan AI.
Pemenang (Winners): perusahaan yang memproduksi alat-alat pendukung teknologi baru — seperti pendingin cryogenic, alat metrologi canggih, dan material langka untuk chip AI.
 Itu inti permainan di pasar: uang tidak pernah hilang — hanya berpindah tangan dari yang kalah ke yang lebih cepat.

Tujuan saya sederhana, yaitu menangkap perubahan harga sebelum orang lain sadar. Tapi caranya tidak sederhana.
Saya tidak bisa hanya “beli dan jual saham.”
Saya butuh struktur seperti mesin keuangan berlapis, supaya risiko bisa dikendalikan. Caranya?  Saya menjual saham-saham teknologi lama (short selling), karena saya yakin nilainya akan turun.
 Di saat yang sama, saya membeli kontrak turunan (derivatif) seperti put option — ini semacam asuransi yang nilainya naik ketika harga saham jatuh.
 Saya juga menjual indeks teknologi (futures) supaya bisa untung dari penurunan pasar secara keseluruhan.


Sementara itu, saya beli saham-saham pemenang — mereka yang bakal naik karena teknologi baru.
 Kombinasi ini membuat posisi saya seimbang.
Kalau pasar goyah, saya tidak langsung hancur.
Yang saya cari adalah selisih keuntungan (spread) dari perubahan cepat di antara keduanya.

Modal saya sendiri kecil dibanding posisi yang saya buka.
Sebagian besar adalah dana pinjaman (leverage), artinya saya pakai uang orang lain untuk memperbesar hasil.
70% dari total posisi datang dari pinjaman dengan bunga tertentu,
dan 30% sisanya lewat kontrak derivatif yang jauh lebih murah. Tapi ada risikonya: kalau harga bergerak salah arah 1% saja,
broker bisa menelpon saya untuk menambah uang jaminan (margin call).
Kalau tidak saya tambah, posisi saya ditutup paksa, dan semuanya lenyap.

Ini seperti berdiri di tepi jurang: satu hembusan angin bisa menjatuhkanmu. Saya tahu permainan ini bisa berakhir tragis kalau salah langkah.Maka saya pasang sistem pengaman: Setiap posisi saya batasi hanya sebagian kecil dari total modal (sekitar 1%).
Kalau harga bergerak terlalu jauh dari perkiraan, posisi langsung saya tutup. Semua transaksi dijalankan lewat algoritma otomatis, supaya tidak kelihatan mencolok di bursa.
 Tujuannya satu: jangan sampai pasar tahu ke mana arah serangan saya.

Malam itu, dari sore sampai pagi saya tidak tidur.
Bukan karena gelisah, tapi karena seluruh data yang saya kumpulkan selama seminggu mulai tersambung seperti pola bintang di langit: semuanya mengarah ke satu kesimpulan, pasar akan jatuh. Harga saham teknologi sedang berada di puncak euforia, tapi di bawahnya mulai ada retakan.
Data pengiriman logistik melambat, utilitas listrik di beberapa pabrik menurun, dan rumor tentang produksi chip baru yang jauh lebih efisien mulai mengalir dari Shanghai.
Saya tahu, ketika industri berubah, pasar akan kaget — dan di situlah keuntungan besar muncul.

Pukul lima pagi, saya sudah yakin.
Saya menelpon partner lama saya di Eropa, seorang fund manager senior di London.

“B, apa ini serius? Posisi kamu terlalu besar. Ini gila,” katanya. Saya tahu kekhawatirannya. Tapi dia juga tahu reputasi saya, bahwa saya tidak pernah masuk pasar tanpa perhitungan yang lengkap.
Karena itu, tanpa banyak diskusi, dia memutuskan terbang ke Singapura keesokan harinya untuk membicarakan semuanya secara langsung.
Dalam dunia hedge fund, keyakinan bisa terbang melintasi benua lebih cepat daripada sinyal internet.

Rapat diadakan pagi itu.
Kami duduk di ruang rapat hotel yang menghadap Marina Bay, dan di meja kami hanya ada tiga hal, laptop, kalkulator, dan data real-time dari Bloomberg Terminal.

Kami menyusun struktur posisi yang dikenal di dunia profesional sebagai leveraged short portfolio. Kombinasi antara uang pinjaman, kontrak derivatif, dan manajemen risiko tingkat tinggi.

Secara teknis, begini sistemnya bekerja: Total nilai posisi: USD 10 miliar.
 Dana pribadi saya: hanya 1% dari itu, sekitar USD 100 juta.
 Leverage (pinjaman): 70% dari total dana, diperoleh melalui fasilitas kredit dari prime broker di London.
Leverage ini ibarat “daya ungkit”, uang pinjaman yang memungkinkan saya mengontrol posisi besar dengan modal kecil.
 Derivatif: 30% sisanya dikelola lewat instrumen turunan seperti put options, CFDs, dan index futures untuk melindungi risiko dan memperluas daya tembak.


Saya tidak membeli saham. Saya menjual saham yang belum saya miliki (short selling).
Logikanya sederhana: saya bertaruh harga akan turun.
Kalau benar, saya beli kembali di harga lebih murah, lalu menutup posisi dengan keuntungan. Namun bila harga justru naik, posisi saya bisa meledak.
Satu persen saja salah arah, dan broker akan langsung menelpon.

“Naik 1% saja harga, kamu harus top-up. Kalau tidak, posisi kamu dilikuidasi.” Kata fund Manager. Artinya, saya harus menambah uang tunai ke akun jaminan (margin account) agar tidak ditutup paksa.
Kalau tidak sanggup, seluruh posisi akan ditutup secara otomatis dan saya kehilangan semuanya. Itu sebabnya dunia keuangan menyebut margin call sebagai “panggilan maut.”

Fund manager menyerahkan hasil analisis fundamental — netting report terhadap portofolio saham yang jadi target saya.
Semua angka mendukung: valuasi sudah terlalu tinggi, earning guidance rapuh, dan korelasi dengan indeks volatilitas (VIX) mulai menyempit.
Saya tahu apa artinya: sentimen investor sedang di ujung optimisme, titik paling rapuh dari sebuah tren. Kami sepakat: posisi short akan dibuka di sektor teknologi AS dan Hong Kong, dengan fokus pada saham-saham berkapitalisasi besar yang rentan koreksi.
Saya menandatangani kontrak, dan dengan itu, mesin mulai bekerja.

***

Hari itu tanggal 9 agustus. Wall Street seperti kebakaran hutan.
Indeks Nasdaq jatuh tajam.
Saham-saham teknologi biru — yang selama ini jadi idola dunia — runtuh satu per satu. Kenapa?
Karena rumor dari Shanghai yang dulu saya tangkap ternyata benar.
Media memberitakan perusahaan Tiongkok itu memamerkan produknya dengan biaya produksi setengah dari pesaing Amerika.
Investor panik. Dana keluar besar-besaran dari sektor teknologi AS dan Hong Kong. Bagi saya, itu bukan bencana. Itu simfoni.
Semua posisi short saya menghasilkan uang.
Grafik merah di layar orang lain adalah grafik hijau di layar saya.

Ketika saya menutup posisi malam itu, keuntungan saya mencapai 25% dari total posisi.
Dari transaksi sebesar USD 10 miliar, saya mendapatkan USD 2,5 miliar bersih.
Media finansial menulis: “Pasar menyebutnya The Shanghai Short.” Bagi saya, itu bukan kemenangan.
Itu hanya hasil dari disiplin, logika, dan sedikit keberuntungan.
Di dunia trading, nasib adalah algoritma yang tidak bisa kamu program.

Banyak orang mengira trader itu penjudi.
Mereka salah.
Penjudi bertaruh tanpa data.
Trader bertaruh dengan data, tapi tetap tunduk pada risiko. Itu sebabnya saya bilang, “Risk is the only religion in trading.” Uang bisa hilang, strategi bisa gagal,
tapi selama kamu menghormati risiko, kamu masih hidup di meja permainan.

***

“ Apa mungkin saya undang anda makan malam” kata saya telp CEO perusahaan jasa investigasi yang sudah berjasa memberi saya informasi mahal. “ Kalau anda bersedia, orang saya akan sediakan private jet untuk jemput anda di Shenzhen. Anda ketemu saya di Singapore.” Kata saya. Saya hanya mau berterimakasih. Kalau dia mau ya sukur. Kalau  engga, juga engga apa apa.


“ Engga mungkin saya menolak undangan personal dari client kakap saya “ katanya.

Seminggu kemudian saya bertemu di Mandarin Marina Singapore. Saat mata kami bersetatap. Dia terkejut “ Are you B?

Saya mengangguk.

“ B, kamu lupa ya. “ katanya dengan tersenyum. “ Saya Fang. Ingat engga,? Kita ketemu  tahun 2010 di KTV Marriot Shenzhen. Kamu memberi saya uang USD 100 ” Katanya. Entah mengapa saya langsung ingat. “ nolak kartu nama saya. “ kata saya cepat. Dia mengangguk dengan riang. Dia kini berpenampilan eksekutif, beda dengan kali pertama ketemu sebagai LC di KTV.

“ To be honest.” Kata saya. “ For months, you were always on my mind. I worried about you more than I wanted to admit. I even asked someone to find you at the Marriott, but they said you’d already gone. After that… all I could do was pray,  that somehow, someday, God would let our paths cross again.” “ kata saya. 

Dia genggam jemari saya. “ “My prayer was the same. I wished so much to see you again.” Kata Fang. “ now, I am here,” sambungnya dan rentangkan kedua tangannya. Saya peluk dia. “Are you doing well, dear ?” bisik saya.

“Yes, I’m very okay. I have my own company now, managing fourteen talented employees,” jawabnya dengan semangat. Ketika saya tawarkan kemudahan untuk dapatkan client dan uang. Dia menolak dengan halus seraya menjawab. “ Kau membuka tirai realitas kepadaku dan karena itu aku bisa berubah menjadi diriku seperti sekarang. Aku hanya ingin jadi sahabatmu. Orang yang selalu kau ingat disaat kau sulit..”

***

Untung dalam trading tidak pernah benar-benar membuatku bahagia. Grafik boleh naik, saldo boleh bertambah, tapi ruang hati tetap sunyi. Mungkin karena di balik setiap profit, ada rasa bersalah yang samar— karena uang yang kuperoleh selalu lahir dari ketidakseimbangan, dari sistem yang tak pernah benar-benar adil.

Namun, anehnya, selembar uang seratus dolar yang kuberikan dengan ketulusan telah membuatku lebih bahagia daripada miliaran dolar di rekening offshore. Bukan karena nilainya, melainkan karena di momen itu, aku sadar: kemanusiaanku masih ada. Bahwa di balik strategi, algoritma, dan angka-angka pasar, Tuhan masih menyisakan ruang kecil dalam diri ini—ruang untuk peduli, untuk memberi tanpa kalkulasi.

Kadang, Tuhan tidak menguji manusia lewat kerugian, tapi lewat keberhasilan. Karena di puncak profit, kita sering lupa siapa diri kita sebenarnya. Dan ketika sebuah niat sederhana menyalakan cahaya dalam hati, barulah aku mengerti, bahwa keberkahan sejati tidak pernah datang dari hasil trading, melainkan dari semangat berbagi— dari kesadaran bahwa angka tak akan pernah menggantikan makna.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca