
Hong Kong, 2013. Kawasan Central Financial District belum sepenuhnya tidur. Gedung-gedung kaca berkilau memantulkan cahaya neon yang basah oleh hujan sore. Di lantai bawah IFC Tower, sebuah café masih buka. Tempat para analis dan banker beristirahat sebelum sesi Wall Street dimulai. Saya, sering duduk di sana. Biasanya pukul delapan malam saya kembali ke apartemen di Mid-Level, menyiapkan sesi trading New York. Di meja pojok yang sama, saya membaca chart EUR/USD, menyesap lemon tea panas, menunggu sinyal volatilitas pasar.
Malam itu berbeda. Di seberang meja, seorang wanita duduk sendirian. Sekilas wajahnya mengingatkan saya pada sosok-sosok Asia Selatan. Kulitnya sawo matang lembut, bola matanya besar dan jernih. Dari postur, dia seperti orang Nepal atau mungkin, Indonesia. Saya lebih yakin yang terakhir. Ada sesuatu pada gesturnya. Tenang tapi rapuh, yang terasa sangat Nusantara. Ia menatap kosong ke luar jendela. Tidak ada ponsel di meja. Tidak menulis, tidak membaca. Saya tahu bahasa tubuh itu: kegelisahan. Tapi juga keanggunan yang tidak minta dikasihani.
Ketika mata kami bertemu hanya sepersekian detik, ia seperti tahu saya sedang memperhatikannya. Pandangannya tajam, lalu berdiri menatap ke arah Toilet. Saya pura-pura kembali menatap chart di layar. Saat melintasi saya, aroma parfumnya menembus konsentrasi. Saat ia kembali dari toilet, saya spontan berdiri. “Maaf, apakah anda dari Indonesia?” tanya saya dalam Bahasa Indonesia.
Ia mengernyit. “Say again?” Oh. Salah tebakan.
“Oh sorry ” ulang saya dalam Bahasa Inggris. “I thought you were Indonesian. Where are you from?
“Nepal,” jawabnya. Senyum itu kini lebih hangat. “My name is Yvonne.”
“B,” kata saya memperkenalkan diri.
Ia melirik kursi saya. “Are you asking me to join you?”
Pertanyaan itu langsung memukul ego saya. Namun saya tetap tersenyum, menggeser kursi dengan sopan. “Only if you wish.”
Waitress datang, memindahkan minumannya ke meja saya. Kami resmi berbagi ruang — dua orang asing di antara bayangan pasar uang yang tidak pernah tidur.
“Pasti anda seorang trader,” katanya tenang. “Atau lebih tepatnya, fund manager.”
Saya tertawa kecil. “Bagaimana anda tahu?”
“Setelan jas anda, minimal sepuluh ribu dolar. Jam tangan anda — Black Watch Limited Edition. Satu juta dolar. Dan anda minum lemon tea, bukan bir. Artinya anda menjaga fokus untuk sesi Wall Street. Tepat pukul sembilan malam New York, enam pagi waktu sini.”
Saya terdiam. Analisisnya presisi seperti algoritma dengan intuisi manusia.
“Suami saya banker,” katanya sambil memutar cangkirnya. “Ia bergaul dengan banyak trader di London.”
Kalimat itu seperti alarm risiko. Saya tersenyum sopan. “Jadi… Anda sudah menikah.”
“Status,” katanya datar. “Hanya status. Kami serumah, tapi tidak sehati.”
Saya tidak menjawab. Ia melanjutkan dengan nada getir yang tenang. Sebuah kebiasaan orang yang pernah patah, tapi tidak kalah. Dan dari kalimat-kalimat berikutnya, saya tahu ia bukan sekadar istri banker biasa. Ia tahu struktur system dan memahami bagaimana arus uang bergerak, bagaimana keserakahan menjadi algoritma global.
“Apakah semua pria begitu?” tanya Yvonne tiba-tiba. “Lebih mencintai uang daripada pasangannya?”
Saya terdiam sejenak, menimbang jawabannya. “Itu pertanyaan tersulit bagi pria,” kata saya akhirnya.
“Mengapa?”
“Karena cinta tak bisa berjalan tanpa harga diri. Dan harga diri sering diukur dengan uang. Semakin besar cintanya pada pasangan, semakin keras dia bekerja untuk merasa layak dicintai.”
Ia menatap saya lama. “Termasuk mengorbankan waktu bersama keluarga?”
“Cinta itu memberi,” jawab saya pelan. “Dalam memberi, ada kehilangan. Tak ada yang sempurna. Ada pria yang punya waktu tapi tak punya uang. Ada yang kaya tapi hampa di rumah. Ada yang punya segalanya tapi gagal memberi rasa.”
Yvonne menunduk. “Suami saya lebih mencintai pekerjaannya daripada keluarga.”
“Dan Anda memilih bertahan?”
Ia mengangguk.
“Bukan karena cinta,” katanya. “Karena sistem. Kami hidup di dunia yang diukur oleh kepentingan.”
Saya menatapnya dalam.
“Ya. Uang dan kepentingan itu dua sisi dari eksistensi manusia modern. Selama salah satunya masih ada, hubungan tetap hidup. Tapi kalau keduanya hilang, semua bubar.”
Yvonne mengangguk pelan.
“Kau bicara seperti trader sejati. Rasional, tapi filosofis. Mungkin hanya itu alasan kalian bisa bertahan di dunia yang setipis batas antara makmur dan bunuh diri.”
Malam itu berakhir dengan pertukaran nomor ponsel. Saya tidak tahu apakah itu undangan atau jebakan. Tapi sejak malam itu, nama Yvonne menempel di kepala saya seperti kode rahasia.
***
Beberapa minggu kemudian, kami bertemu di Singapura di sebuah café sederhana di East Coast, jauh dari distrik keuangan.
“B,” katanya, menyerahkan secarik kertas kecil. “Ini data penting. Gunakan jika kamu mau.”
Saya membaca cepat. Deretan angka, nama bank, tanggal transaksi. Saya menatapnya serius. “Yvonne, ini berbahaya. Suamimu…”
“Dia pantas menerima akibatnya,” potongnya dingin. “Dia korup, arogan, dan berselingkuh. Aku tak akan jadi korban selamanya.”

Informasi di kertas itu — saya tahu — adalah peta menuju jantung pasar non-deliverable forward (NDF). Dunia kelam dari derivative OTC. Tempat mata uang dipertaruhkan seperti dosa yang disembunyikan, seperti taruhan pada nilai tukar pada tanggal tertentu di masa depan. Dua pihak setuju hari ini pada kurs forward untuk jumlah tertentu. Pada hari penghitungan (fixing) tidak ada yang benar-benar menyerahkan USD atau rupiah. Yang dilakukan hanyalah menghitung selisih antara kurs yang disepakati dan kurs pasar saat itu, lalu satu pihak membayar pihak lain jumlah selisih itu. Itulah sebabnya disebut non-deliverable.
Rumusnya sederhana.
Pembayaran = (Kurs_fixing − Kurs_disepakati) × Notional_USD.
Jika hasilnya positif, pihak yang “mendapat” selisih menerima uang.
Untuk memahaminya, ilustrasinya begini. Jika hasilnya negatif, pihak itu membayar selisih. Contoh. Kondisi kontrak Notional (nilai kontrak) USD 100.000.000. Kurs disepakati (forward) Rp 16.000 / USD .
Kasus A. Kurs fixing turun ke Rp 15.900.
Hitung selisih kurs: 15.900 − 16.000 = −100 (rupiah per USD). Kalikan dengan notional: −100 × 100.000.000 = −10.000.000.000 (rupiah) Interpretasi: negative, pihak yang “memegang posisi beli USD pada 16.000” mengalami kerugian 10.000.000.000 rupiah (10 miliar).
Kasus B. Kurs fixing naik ke Rp 16.100.
Hitung selisih: 16.100 − 16.000 = 100.
100 × 100.000.000 = 10.000.000.000 (rupiah).
Interpretasi: positif, pihak yang memegang posisi beli USD mendapat keuntungan 10 miliar rupiah
Dalam praktik sebenarnya pembayaran sering diselesaikan dalam mata uang ‘settlement’ misal USD dan ada rumus konversi sedikit berbeda, tapi inti aritmetika selisih kurs seperti contoh di atas tetap berlaku sebagai cara pemahaman dasar.
Mengapa “tidak ada pengiriman fisik” ? Karena yang dipertukarkan hanyalah selisih nilai, bukan USD fisik. Itu memungkinkan; Hedging bagi perusahaan/penjual yang tidak ingin/ tidak boleh memindahkan valuta karena pembatasan modal/valuta; Perdagangan kontrak besar tanpa kebutuhan likuiditas fisik besar; Aktivitas berjalan di luar sistem pembayaran domestik, biasanya lewat kliring offshore. Karena tidak ada pengiriman barang, transaksi ini mudah di-netting atau diselesaikan dengan satu pembayaran bersih. Efisien, tapi juga membuat jejaknya lebih tipis.
Bisa saja terjadi manipulasi fixing. Jika fixing (kurs acuan) ditentukan dari kuotasi bank-bank besar (mis. ABS Singapore menerima 18 quote), maka kolusi antarbank/trader dapat mempengaruhi angka fixing. Itu membuka peluang market-rigging. Disamping itu, leverage besar. Pemain dapat memakai margin untuk melipatgandakan posisi, maka pergerakan kecil bisa menyebabkan keuntungan atau kerugian sangat besar. Karena settlement netto dan sering lewat entitas offshore, jika satu pihak gagal bayar (default), pemulihan bisa rumit. Biasanya berujung pada skandal. investigas dan tuntutan tidak bisa dihindari.
Mengapa NDF sering dilakukan offshore? Karena kontrol modal / pembatasan devisa di negara asal membuat perusahaan domestik butuh pasar alternatif untuk hedging. Selain itu likuiditas lebih tinggi di pusat keuangan internasional (Singapura, London, dll.). Risiko akibat offshore? Kurangnya transparansi. Transaksi tidak tercatat di bursa publik, sehingga regulator sulit memantau.
Nah siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan? Yang diuntungkan adalah pihak yang menebak arah kurs dengan benar, atau yang bisa mempengaruhi fixing secara tidak sah, atau yang punya akses ke informasi lebih cepat (asymmetric information). Yang dirugikan adalah pihak yang salah arah, rakyat pengguna kredit lokal (KPR, kartu kredit) yang terpapar suku bunga/valuta, dan pasar domestik yang likuiditas dan reputasinya rusak.
Dan informasi dari Yvonne adalah celah dalam sistem itu. Bagaimana 18 bank besar mengirim kuotasi kurs ke Association of Banks in Singapore (ABS), lalu memanipulasi rata-rata demi keuntungan internal. Itu bukan rumor. Itu bukti.
***
Selanjutnya kami berkomunikasi lewat SafeNet encryption. Yvonne meninggalkan pesan di bawah cangkir kopi. Saya mengambilnya setelah ia pergi, membaca di toilet, mencatat angka, lalu menyiram kertasnya ke lubang air. Lima pertemuan dalam seminggu. Setiap kali di tempat berbeda. Setiap kali dengan ketegangan yang sama, antara moralitas dan peluang.
Sebulan kemudian, berita besar pecah. UBS, JPMorgan Chase, DBS Group, dan HSBC terseret skandal manipulasi kontrak valas NDF. Rupiah, Baht, Dong, dan Ringgit, semuanya diguncang. Saya menghasilkan profit bersih USD 150 juta. Tidak melanggar hukum — secara teknis. Tapi juga tidak sepenuhnya bersih. Yvonne hanya “memberi informasi pribadi”, bukan insider. Namun dunia tahu, sesuatu telah diguncang dari dalam.
***
Jakarta, 2023. Yvonne datang ke Jakarta. Saya menemuinya di hotel kawasan Sudirman. Setelah 10 tahun ini kali kami bertemu lagi. Ketika pintu terbuka, ia langsung memeluk saya. Lama. Hangat. “I miss you, B,” katanya.
“Bagaimana hidupmu?” tanya saya.
“Akhirnya kami bercerai. Setelah dia dipecat karena skandal 2013. Tapi aku bahagia. Lima juta dolar darimu cukup untuk memulai lagi.”
Kami tertawa kecil.
Saya ajak dia ke Hard Rock Café di SCBD. Ia menatap keluar jendela, lampu-lampu Jakarta memantul di matanya. “Tempat ini seperti Hong Kong,” katanya. “Atau Marina Bay. Tapi lebih… jujur.”
Kami bicara lama tentang ekonomi global, politik, dan moralitas uang. Ia masih Yvonne yang sama. Dingin tapi berapi-api. Ia bicara tentang resesi di Eropa, pengangguran di Amerika, dan pemerintah yang selalu datang terlambat memahami dunia yang mereka buat sendiri.
Saya menatapnya. “Pejabat-pejabat itu orang baik. Hanya saja mereka lugu. Dunia terlalu cepat bagi moralitas.”
Yvonne mengangguk. “Aku paham.”
Saya menatap jam. “Kamu bisa keluar dari semua ini, Yvonne. Dunia shadow banking tidak mengenal belas kasih.”
Dia menggeleng pelan. “Saya tidak akan keluar, B. Dunia ini mungkin gelap, tapi di sinilah saya menemukan terang.”
Saya menarik napas panjang. “Kalau begitu jangan biarkan perasaan mengendalikan bisnis. Kita bukan lagi dua orang yang saling melindungi. Sekarang kita dua kutub yang harus profesional.”
Yvonne menatap saya lama. “Terlambat,” katanya lembut. “Saya sudah jatuh cinta.”
Saya berdiri, menghela napas. “Jam delapan malam, saya harus pulang. Kamu saya antar ke kamar?”
Dia mengangguk. Kami berjalan beriringan di lorong hotel yang sunyi. Cahaya lampu kuning jatuh di antara langkah kami. Antara bisnis, cinta, dan dosa. Yang semuanya, pada akhirnya, hanya angka di layar. Dalam dunia pasar uang, cinta adalah risiko terbesar. karena tak ada sistem yang bisa mem-hedge perasaan.”
***
London, 2024
Kabut menyelimuti Canary Wharf seperti jaring laba-laba di pagi hari. Dari jendela apartemen saya di lantai 47, Sungai Thames tampak dingin, seperti pita perak beku. Jam menunjukkan pukul 6:40 waktu London. Bursa Eropa akan buka dalam 50 menit. Di layar Bloomberg terminal saya, yield UK gilt melonjak. Ada kebocoran rumor tentang penjualan portofolio oleh Sovereign Fund Timur Tengah. Tapi saya tahu — itu bukan rumor. Itu rencana yang sedang kami mainkan.
Di bawah operasi ini, kami menyebutnya Countertrade: sebuah skema yang memanfaatkan perbedaan waktu, arus kas, dan ketidakseimbangan sovereign liquidity antar-negara. Sebuah permainan antara liquidity illusion dan moral hazard, tempat informasi lebih berharga daripada emas. Dan sumber utama informasi itu — masih Yvonne.
Kami bertemu di sebuah bar kecil di bawah jembatan Docklands Light Railway. Hujan tipis. Musik jazz pelan. Di pojok ruangan, Yvonne mengenakan trench coat warna beige, rambutnya terurai menutupi sebagian wajah.
“B,” sapanya. “Akan ada pelepasan posisi besar minggu depan dari Qatar Investment Authority dan Mubadala. Mereka diverifikasi oleh Euronext. Dana akan ditarik dalam format swap line dengan counterparty di Zurich.”
Saya memandangnya hati-hati. “Kamu dapat data itu dari mana?”
“Dari board-meeting yang tak seharusnya saya dengar.” Ia tersenyum samar. “Aku masih punya teman di sana.”
Saya tahu arti kalimat itu. Seorang eksekutif masih mencintainya. Dan seperti biasa, Yvonne tahu cara memanfaatkan cinta orang lain untuk menyalakan kembali mesin pasar.
“ Bagaimana rencana kamu ? tanya Yvone.
“ Kita akan Menggunakan struktur CDS (Credit Default Swap) untuk mengunci pergerakan yield sovereign bond Inggris dan Swiss. “
“ Jelaskan dalam Bahasa sederhana. “ Tanya Ivone.
“CDS (Credit Default Swap) itu ibarat asuransi terhadap gagal bayar obligasi suatu negara atau perusahaan. Pembeli CDS membayar premi; jika obligasi itu bermasalah, pembeli CDS mendapat kompensasi. Secara praktis, jika kamu memegang obligasi pemerintah Inggris atau Swiss, membeli CDS mengunci risiko kredit: artinya kamu mengurangi (hedge) risiko bahwa yield/price obligasi berubah karena isu kredit.
Dalam rencana, CDS dipakai untuk menjaga posisi terhadap pergerakan yield tertentu sehingga pergerakan yield yang diinginkan (didorong oleh arus modal) tidak merusak eksposur yang lain atau bahkan menjadi sumber keuntungan yang dapat dimonetisasi. Analoginya, kalau obligasi adalah mobil yang bisa oleng karena jalan licin, CDS adalah ban cadangan yang membuat mobil tetap aman ketika jalan berubah.”
“ OK lanjut.”
“ Berikutnya, Posisi long USD/CHF dan short GBP/USD.”
“ Apa maksudnya secara sederhana? Tanya yvone.
” Long USD/CHF berarti kamu bertaruh bahwa dolar AS akan menguat terhadap franc Swiss (atau franc melemah terhadap dolar). Short GBP/USD berarti kamu bertaruh bahwa pound Inggris akan melemah terhadap dolar (atau dolar menguat terhadap pound). Kenapa dua posisi ini sekaligus? Karena ketika modal besar -mis. sovereign wealth funds bergerak keluar ayau masuk pasar tertentu, itu mengubah permintaan mata uang dan swap-cost sehingga beberapa pair terpengaruh lebih kuat.
Dengan memasang posisi yang mengikuti arus modal, trader memanfaatkan perbedaan reaksi antar-mata uang. Analaloginya, jika banyak orang tiba-tiba pergi dari satu panggung ke panggung lain, harga tiket di panggung tujuan naik dan panggung asal turun, kamu membeli tiket di panggung yang akan naik, menjual tiket di yang akan turun.”
“ Ok lanjut. “
“ Cross-currency basis dan swap lines. ” kata saya.
“ Mengapa itu penting?
“ Cross-currency basis adalah biaya atau iimbalan yang muncul jika kamu ingin menukar satu mata uang ke mata uang lain melalui swap. Basis ini menunjukkan berapa mahal/cepat likuiditas antar-mata uang dapat diakses. Swap lines atau garis swap antar-bank sentral atau fasilitas likuiditas adalah jalur formal di mana satu mata uang dapat disediakan oleh bank sentral lain. Misal, ketika dana besar dari Timur Tengah memasukkan likuiditas ke pasar Eropa, swap lines dapat mengubah availability dan biaya mata uang tertentu.
Ketika swap lines aktif atau ada arus besar, basis bisa melebar atau menyesak secara tajam, dan itu membuka peluang arbitrase. Beberapa pair akan bergerak lebih kuat daripada pair lain. Intinya, arus modal besar dan adanya swap lines itu sama dengan perubahan struktur biaya menukar mata uang, ya peluang profit bagi yang membaca sinyal lebih cepat. “
Yvone mengangguk.
“ Berikutnya, memonetisasi spread lewat “shadow liquidity” dan SPV. Spread differential atau selisih harga/imbal hasil antara dua instrument. Mis. yield gilt vs bund, atau swap basis antara pair mata uang. Jika kamu bisa memegang posisi yang mendapat untung dari melebar atau menyempitnya spread, kamu bisa menghasilkan profit. Dalam rencana kita, SPV (Special Purpose Vehicle) sebagai shadow liquidity dipakai untuk mengalirkan dana sehingga modal bisa bergerak tanpa langsung terlihat di neraca entitas utama. ” kata saya
“ Artnya likuiditas yang muncul dari kumpulan modal yang tidak transparan, transaksi antar-offshore, rekening berlapis, dan peralihan cepat. Yang semuanya membuat jejak aliran modal sulit dilihat regulator cepat. Penggunaan kendaraan offshore dapat menyamarkan sumber/tujuan modal, itu isu legal/etika besar. “ Kata Yvone berusaha menyimpulkan hal esensial. “ Kenapa kamu yakin recanan ini akan efektif? Tanya Yvone.
“Kita memanfaatkan ketidakseimbangan waktu atau perbedaan jam bursa, sehingga kita bisa buka/close posisi di pasar berbeda sebelum penyesuaian datang. Menyusun hedge (CDS) sehingga downside dari pergerakan yield dikendalikan, memungkinkan kita pakai leverage besar tanpa risiko langsung menghancurkan modal. Menggerakkan posisi FX yang memanfaatkan perubahan likuiditas dan basis, sehingga profit bisa didapat dari gerakan mata uang yang tajam. Menggunakan struktur offshore untuk memindahkan hasil dengan cepat dan menyamarkan aliran modal, sehingga menurunkan kemungkinan intervensi cepat regulator. ”
“ Gimana dengan Risiko hukum, etika, dan operasional ? tanya yvone lagi.
“ Banyak elemen yang saya jelaskan tadi berada di area abu-abu atau ilegal jika digunakan untuk memanipulasi pasar atau menutupi sumber dana. Manipulasi pasar, insider trading, atau konspirasi untuk mempengaruhi fixing rates adalah pelanggaran berat di banyak yurisdiksi. Penggunaan SPV/offshore untuk menyembunyikan aliran dana berisiko tinggi terkena aturan anti-pencucian uang (AML), kerahasiaan perbankan seringkali tidak melindungi aktivitas kriminal. Secara operasional, skema semacam ini memerlukan koordinasi teknis dan kepatuhan terhadap banyak kontrak. Kegagalan kecil bisa menyebabkan paparan hukum dan kerugian besar.
Yvone mengerutkan kening. Mungkin dia belum paham atau terlalu rumit untuk tidak kawatir.
“ Secara sederhana, rencana memanfaatkan perbedaan harga dan likuiditas antar-produk keuangan (obligasi negara, derivatif kredit, dan pasangan mata uang) yang muncul ketika modal besar bergerak antar-negara. Dengan mengunci eksposur pada obligasi (pakai CDS), membuka posisi mata uang yang diuntungkan oleh arus modal itu (long USD/CHF, short GBP/USD), lalu mengambil keuntungan dari selisih harga (spread) dengan memindahkan uang lewat kendaraan offshore (SPV). Hasilnya ya, keuntungan besar dari perbedaan harga dan timing.
Bayangkan pasar adalah meja bursa di mana beberapa orang besar (sovereign funds) bisa mengangkat atau menurunkan suhu ruangan. Rencana ini, menyediakan payung (CDS) agar tidak basah ketika hujan terjadi. Membeli tiket ke panggung yang akan ramai (long USD/CHF) dan menjual tiket panggung yang akan sepi (short GBP/USD). Menggunakan pintu belakang (SPV offshore) untuk mengeluarkan hasil tanpa diketahui penonton. Jika semua berjalan, hasilnya besar. Tapi jika ketahuan? konsekuensinya juga bisa menghancurkan. “ kata saya.
“ Tidak perlu kawatir. “ Lanjut saya. Lakukan bagian kamu, yaitu menyalurkan data dari dalam sistem, melewati firewall moralitas. Sisanya urusan saya dan team.” Kata saya tersenyum.
“ Yes sir.! Jawabnya cepat. Dan dia tercerahkan.
***
Operasi dijalankan hari Senin. Kami menembakkan posisi dari tiga kota: London, Boston, dan Zurich. Notional value mencapai USD 8,7 miliar — semua ditopang oleh aset pinjaman dari dua SPV yang kami ciptakan hanya untuk 72 jam.
Tepat pukul 14:15 GMT, spread antara gilt dan bund melebar 39 basis poin. CDS premium melonjak 11%. Kurs GBP/USD anjlok, sementara USD/CHF naik tajam. Kami menutup posisi 45 menit sebelum regulator FCA mengumumkan “market anomaly investigation”.
Setelah berkali kali transaksi. Total profit: USD 640 juta. Bersih. Tanpa jejak. Tanpa nama.
Yvonne duduk di sofa, menatap angka di layar sambil memegang segelas anggur merah. “Lihat,” katanya, “ini bukan hanya uang. Ini pembuktian.”
“Pembuktian apa?”
“Bahwa keadilan tak pernah ada di pasar. Yang ada hanya kecerdikan.”
Saya tersenyum. “Dan keberanian.”
***
Tiga hari kemudian, berita memecah di Bloomberg: “BoE launches inquiry into sovereign bond manipulation linked to undisclosed offshore funds.”
Kami sudah jauh sebelum berita itu keluar. Uang sudah berpindah ke beberapa layered account, dari Cayman ke Malta, ke Labuan, lalu ke Sentosa. Saya tahu permainan ini bagi pasar tidak bermoral. Tapi apakah pasar pernah punya hati saat memberikan ruang orang kaya semakin kaya karena system. Sementara orang miskin semakin jauh dari modal. GINI rasio global. Sangat timpang. Bagi saya ini perang. Hanya ada dua pemain. Kalah dan menang. Warrior dan loser..
Pagi itu, kami duduk di bangku taman. Kabut tipis menutup danau. Yvonne diam, hanya memainkan cincin di jari kirinya — cincin yang dulu ia lepaskan saat bercerai, tapi kini ia kenakan kembali, mungkin sekadar simbol pertahanan diri.
“Mengapa kita harus terus bermain begini?” tanya Yvonne
“ Karena sistem tak pernah berubah,” jawab saya tanpa menoleh. “Yang bisa berubah hanya posisi kita di dalamnya.”
“Kadang aku pikir, kita bukan melawan sistem. Kita adalah sistem itu sendiri.” Suaranya lembut, tapi nadanya getir.
“Yvonne,” kata saya pelan, “pasar tidak punya etika. Yang ada hanya konsekuensi. Kamu dan aku hanya belajar membaca konsekuensi lebih cepat daripada yang lain.”
Dia tersenyum tipis.
“Dan memanfaatkannya lebih dingin dari yang lain.”
Saya menatapnya lama. “Jangan biarkan perasaanmu jadi variable, Yvone. Pasar tak mengenal moral.”
“Dan kamu?”
Saya tidak menjawab. Hening yang menggantung itu lebih mahal dari semua sinyal Bloomberg malam itu.
“B,” katanya akhirnya, “aku rasa kita terlalu jauh. Bukan secara moral, tapi secara takdir.”
Saya menatapnya. “Takdir hanya nama lain dari keputusan yang kita buat berulang-ulang.”
Dia tertawa lirih. “Kau selalu membuat kesalahan terdengar seperti kebijaksanaan. “ Yvone menatap saya dengan wajah sendu. “ Aku terpesona kepada kau kali pertama bertemu. Dan aku jatuh cinta.” Sambungnya. Saya tidak terkejut. Tapi apa arti cinta dengan keterpesonaan. Itu bukan cinta, tapi bentuk lain dari kapitalisme perasaan. Rentan dan terkesan pragmatis. Sebagai professional, saya terlatih mengabaikan feeling, nafsu rendah.
“Dan kamu selalu membuat dosa terdengar seperti cinta.” Jawab saya cepat. “ Dalam permainan ini abaikan soal cinta dan perasaan melankolis. Istirahatlah dan gunakan uang untuk menikmati financial freedom. Kamu bebas pergi tanpa perlu ingat aku lagi. Bagiku setiap sesi pertemuan kita, hanya uang. Tidak lebih. ” Yvone berlinang airmata. Saya peluk dia. ” “No matter what happens, you’ll always be my friend, someone who holds a quiet, special place in my heart. You have my phone number and email, feel free to reach out to me anytime.”
Hening lagi. Burung-burung camar menukik di atas air, seakan mengingatkan bahwa dunia masih berjalan seperti biasa. Namun kami tahu, di balik semua ketenangan itu, uang sedang berpindah tangan. Dalam dunia shadow finance, kebenaran hanyalah rumor yang terlambat diverifikasi.
***
Hong kong. Jam 2:45 dini hari. Chart di layar laptop berhenti bergerak. Bursa New York baru saja tutup. Cahaya neon dari pelabuhan Victoria menembus tirai kaca apartemen, seperti denyut nadi kota yang tak pernah tidur. Saya mematikan terminal trading, menatap pantulan wajah sendiri di layar hitam. Wajah yang sama, tapi semakin asing. Semakin lama saya bermain dalam dunia ini, semakin saya sadar — bahwa tidak ada yang benar-benar dimenangkan. Hanya dipertukarkan.
Hari ini saya kembali menghitung angka. Laba, selisih, basis point, yield spread — semuanya tampak hidup, seperti organisme digital yang menari mengikuti perintah jari saya. Namun di sela-sela angka itu, selalu ada bayangan Yvonne. Kadang saya berpikir, mungkin kami hanyalah dua orang yang tersesat di belantara finansial global. Dia kehilangan cintanya, saya kehilangan makna. Dan kami bertemu bukan karena takdir, tapi karena pasar yang mempertemukan kami pada titik di mana logika dan kesepian saling bertukar tempat. Di pasar uang, tidak ada kasih. Tidak ada belas kasih. Yang ada hanya reaksi — dan reaksi itu bisa membeli atau menghancurkan dunia dalam hitungan detik.
Yvonne pernah bertanya, “Apakah semua pria lebih mencintai uang daripada pasangannya?” Saya tidak menjawab waktu itu. Mungkin karena saya tahu, pertanyaannya tidak tentang pria — tapi tentang dunia ini sendiri. Dunia yang mengajarkan saya sejak muda bahwa cinta harus punya nilai tukar, bahwa kerja keras harus berbuah hasil yang bisa diukur, bahwa kesetiaan hanya layak jika dibayar dengan stabilitas. Dan ironinya, semakin kita paham cara kerja pasar, semakin kita buta terhadap hati sendiri.
Saya pernah berpikir uang adalah alat. Tapi sekarang saya tahu, uang adalah cermin. Ia memantulkan sisi terdalam manusia, baik kebijaksanaan maupun kerakusannya. CDS, NDF, cross-currency swap , semua hanyalah alat tukar rasa takut. Kita menyebutnya lindung nilai, tapi sejatinya itu hanya cara lain untuk berkata: “Saya tidak mau kalah.” Tapi hidup tidak bisa dihedging. Perasaan tidak bisa ditutup posisinya. Dan cinta — cinta selalu tanpa leverage, tanpa margin call, tanpa expiry date.
Saya memejamkan mata. Di kejauhan, kapal kargo melintas pelan di pelabuhan. Saya membayangkan berapa banyak uang, kontrak, dan harapan yang bergerak bersamanya. Dan di balik semua itu, manusia-manusia seperti saya dan Yvonne yang memanggul beban ambisi dengan senyum dingin di wajah. Kami semua aktor dalam drama pasar global. Ada yang jadi trader, ada yang jadi korban, dan ada yang hanya ingin dimengerti.
Mungkin nanti, saat layar ini padam untuk terakhir kalinya, tidak ada lagi angka, grafik, atau order book. Yang tersisa hanyalah jejak di hati. Tentang seseorang yang pernah saya temui di sebuah kafe di Hong Kong, tentang wanita dari Nepal yang saya kira Indonesia, yang duduk sendirian di meja, menatap jendela, dan tanpa dia sadari dia terjebak dalam cinta paranoia. Kepada pria yang diam diam membuat dia terpesona.
Pasar akan buka lagi lima jam lagi. Grafik akan bergerak lagi. Dan saya akan duduk di depan layar ini, pura-pura kuat, pura-pura paham arti stabilitas. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, saya tidak ingin menghitung apapun. Saya hanya ingin diam, dan percaya, bahwa di balik segala angka dan algoritma, masih ada ruang kecil bagi manusia untuk merasa. “Pasar bisa saya baca, tapi hati — tidak pernah bisa saya prediksi”

Tinggalkan komentar