Ilusi atau akal sehat?

Aku menemui Cristine di kamar hotel international di Kawasan SCBD Jakarta. Dari balik kaca, Jakarta menyala seperti jaringan listrik ambisius yang ingin membuktikan diri sebagai pusat kekuatan baru Asia Tenggara. Cristine menyambut saya di kamar masih mengenakan setelan biru gelap khas banker Eropa.

“ Ganggu engga ? tanya saya.

“ Engga. “ Katanya tersenyum dan memeluk saya. “ Barusan selesai meeting. Dia sahabat saya.  Di sela kesibukan nya selama business trip di Jakarta, dia sempatkan bertemu dengan saya.

Kau tahu, B,” katanya membuka percakapan, “di Eropa mereka memuji Indonesia selama dua dekade terakhir. PDB naik dua kali lipat sejak 2004. Banyak analis bilang: a remarkable emerging success.”

Aku tersenyum kecil, bukan karena bangga, tapi karena aku tahu cerita di balik angka itu.

“Itu hanya ilusi yang dipoles akunting makro,” jawabku.

Cristina mengerutkan dahi. Aku melanjutkan, perlahan tapi tajam “Kenaikan PDB itu bukan hasil peningkatan produktivitas. Itu hasil sekurtisasi PDB. APBN dipaksa ekspansif. Belanja naik, konsumsi digas, utang ditarik. PDB melonjak, iya… tapi kas negara cekik untuk bayar bunga dan cicilan.”

Cristina mengangguk pelan. Kini ia paham ke arah mana pembicaraan ini berjalan.

“DSR Indonsesia sudah menjerit, tahun keseimbangan primer defisit” tambahku. “Ruang fiskal menyusut. Mesin lama tak lagi bisa berjalan.”

Cristina memandang keluar jendela. “Jadi… lahirlah mesin baru bernama Danantara.”

Aku berbalik menatapnya. “Ya. Derivatif dari sekuritisasi PDB. Kini bukan masa depan fiskal yang diagunkan, tetapi aset BUMN.”

Cristina menghela napas. Nada skeptis mulai terdengar. “Kau tidak percaya?” godaku.

“B,” katanya, “aku pernah membantu transaksi asset recycling di Abu Dhabi. Di sana, surplus migas jadi buffer. Tapi di sini? Cost of fund tinggi. Reputasi governance tidak bersih. Investor butuh yield besar untuk menutup risiko.”

“Kau benar,” jawabku. “Sumber dananya bukan surplus. Tapi utang lagi.”

Cristina menatapku lekat-lekat, seolah mencari jawaban yang tak tertulis di layar presentasinya. “Aku kawatir,” katanya lirih. “Karena jika Danantara gagal, yang jatuh bukan hanya angka — tetapi legitimasi. Habis Indonesia. Engga punya apa apa lagi untuk digadaikan berhutang. Ini soal generasi anak cucu..” Katanya. Maklum dia diaspora Indonesia.

Aku berjalan mendekat. “Aset BUMN terlihat gemuk di neraca. Tapi cash flow-nya rapuh. Banyak yang masih hidup dari subsidi, proteksi, dan penugasan politik. Bila dipaksa doleverage, mereka bisa runtuh.”

Cristina menyatukan jemarinya, tanda ia sedang berpikir keras. “Dari sekuritisasi PDB, sekarang sekuritisasi aset. Akibat kesalahan masa lalu yang berusaha ditutupi dengan jargon baru, yang sebenarnya menggali lubang lebih dalam untuk akhirnya tenggelam. Bukan masa depan yang baik..”

Aku tersenyum pahit. “Begitulah, kalau sebelumnya pendekatan sekuritisasi PDB masih okay. Karena value nya imaginer. Tidak ada yang digadaikan secara substansial. Kalau gagal bayar masih bisa diselesaikan secara politik. Tetapi asset BUMN? Itu bisa berujung privatisasi penuh apabila gagal bayar.….”

Aku ajak Cristina minum kopi di café hotel. Dia ganti pakaiannya  kasual.

***

“B,” katanya sambil menunjukkan sebuah pitch deck berlogo Danantara.“ Aku terima proposal ini. “ Katanya saat sampai di café. “ Indonesia siap melakukan aggressive leverage terhadap aset BUMN. Tidak perlu menunggu APBN. Danantara ingin lompat kelas. Bergabung dalam liga SWF global.”

Aku menatap slide yang terlihat indah di atas kertas: Indonesia Mining Fund, Green Industrial Fund, Private Credit Strategy, Strategic Asset Recycling — semuanya seperti mimpi besar yang menunggu dilepas ke pasar modal internasional.

Cristina tersenyum, nada suara naik satu oktaf. “Sama seperti Saudi Public Investment Fund, mereka mengubah minyak menjadi capital machine. Abu Dhabi dengan Mubadala melakukan asset recycling dari migas ke energi baru. Bahkan Temasek membuktikan active portfolio management bisa menjadi sumber fiskal yang kuat tanpa beban APBN.”

Ia berhenti sejenak sebelum berkata lebih mantap. “Danantara ingin melakukan hal yang sama, B.”

Aku menggeser berkas itu pelan, kemudian menjawab tanpa nada dramatis “Cristine, kau tahu bahwa di balik semua cerita sukses itu… ada satu syarat paling penting: fundamental ekonomi yang kokoh.”

Cristina mengangkat alis. “Aku tahu risiko. Tapi mereka punya reform agenda, bukan?”

Aku menghela napas. “Lihat Norwegia. Mereka hanya melaburkan surplus minyak ke financial asset. Bukan menjadikan financial action sebagai sumber pertumbuhan ekonomi.”

Cristina menahan diri, mendengarkan.

“Abu Dhabi dan Qatar, mereka sudah punya current account surplus yang permanen. Sementara Indonesia?”

Aku menunjuk angka neraca berjalan dan DSR di layar tablet.

“Indonesia masih bergantung pada utang, rawan twin deficits. Leverage dengan BUMN yang rapuh bukan akselerasi, itu memperpendek sumbu krisis.”

Cristina menutup laptopnya pelan. “ Bicara dengan kamu seakan semua Analisa akademis dan quantitative jadi sampah. Logika bisnis bertaut dengan intuisi pemain hedge fund memang sulit diajak berpikir ilusi, walau itu diatas angka dan data.”

Aku tidak peduli penilainnya terhadapku terkesan satire. Aku melanjutkan, lebih teknis “Banyak BUMN Indonesia  belum investment grade secara mandiri. R&D minim. Inovasi sering dikalahkan birokrasi. Asetnya besar, tapi monetization capacity-nya rendah sekali. Jika Danantara mendorong aggressive borrowing sebelum asset transformation selesai, Indonesia akan masuk ke negative carry trap, biaya modal naik, yield rendah.”

Cristina menunduk. Tangannya meremas satu sama lain. “Jadi menurutmu semua ini ilusi yang mahal?”

“Ilusi yang bisa mengorbankan generasi.” Kataku tersenyum. Lalu membakar cigar untuk menikmati segelas kopi. “SWF bukan trik akuntansi. Ia adalah refleksi kekuatan produksi nasional,” kataku.

Cristina perlahan ikut berdiri di sampingku. “Apa jalan keluarnya?”

Aku menatap malam Jakarta yang perlahan ditelan awan.

“Bangun dulu cash engine: energi, agritech, logistik nasional, R&D. Selesaikan transformasi tata kelola BUMN. Buat mereka benar-benar kompetitif, menghasilkan real cash, bukan paper asset. Lalu leverage,  sebagai multiplier dari kekuatan yang sudah ada.”

Cristina menarik napas panjang, kali ini lebih tenang. “Kalau begitu, Danantara hanya punya ambisi dan bermimpi berlari cepat.”

Aku tersenyum kecil. “It’s like walking in shoes filled with tiny stones,  each step cuts deeper, each mile feels endless, yet you keep moving, because stopping hurts even more.”

Cristina terdiam lama, sebelum akhirnya berucap lirih “Mereka bilang, Indonesia ingin menjadi the next big thing.”

Aku menggeleng pelan. “Untuk menjadi besar, tidak cukup ingin besar.”

Cristina mengangguk. “ Bahwa kekuatan sejati tidak datang dari utang besar… melainkan dari keberanian membangun pondasi yang tidak akan runtuh.

Suasana ruangan weekend di café itu cukup ramai. Aku menatapnya seraya isap Cigar dan hembuskan asap ke udara.

“B, mari kita bicara teknis, terutama private credit dan private equity yang Danantara rencanakan. Mereka ingin fokus ke green underlying: hilirisasi mineral, proyek EB, industrial decarbonization, green logistics & smart ports”

Ia membuka financial model dalam tablet.

“Investor Eropa hari ini haus pada green asset. Tapi masalahnya: mayoritas pipeline proyek Indonesia masih unproven. Technology risk tinggi, dan regulatory risk lebih tinggi lagi.”

Aku mengangguk pelan. Cristina tahu ia sedang menginjak wilayah yang aku kuasai. “Mereka ingin masuk melalui private credit dulu,” lanjutnya. “Secured loan, collateral asset BUMN, yields 8–12%. Tapi…”

Aku menyela, melanjutkan poin itu. “Collateral nya lemah. Hilirisasi nikel? Harga global fluktuatif, volatilitas menelan covenant. Hidrogen? Masih economically unbankable tanpa subsidi. Carbon capture? Baru jargon konsultan.“

Cristina tersenyum tipis—kesal tapi mengakui fakta.

“Kalau private equity?” tanyaku.

Ia menatapku lebih dalam. “Investor akan minta governance share, hak veto, audit ketat, ring-fenced cashflow. Dan itu tidak akan disukai elite BUMN yang politically entangled.”

Aku tertawa kecil. “Ya… di sini governance dianggap ancaman terhadap kenyamanan. Karena presiden tidak punya cukup keberanian menghadapi gank masa lalu yang masih mengendalikan elite partai.”

Cristina kemudian berujar dengan lirih, tapi sangat jujur. “Trust market terhadap Indonesia masih rendah. Skandal demi skandal, project leakage, penunjukan komisaris BUMN bukan berdasarkan kapabilitas, dan intervensi politik yang masif. Semua itu tercatat dalam memori investor global.”

Aku menjawab pelan “Bahkan SWF luar negeri menarik diri dari beberapa proyek karena isu ESG fraud dan weak institutions.”

Cristina mengangguk. “Itulah kenapa fund raising Danantara mungkin hanya akan menelan ongkos untuk konsultan, fund manager, underwriter dan analis. Hasilnya hanya ilusi”

Aku menatapnya tajam. “Dan para professional tentu memberikan janji banyak hal, mungkin terkesan too good to be true. Mereka tidak peduli pada hasil nanti asalkan semua upaya mereka dibayar di depan.”

“B, keyakinan saya pada proyek ini bukan tanpa ragu. Saya banker—pekerjaan saya mengelola risiko. Dan yang saya lihat: Indonesia belum lulus ujian trust.”

“ Aku harus segera pulang. Istriku di rumah minta agar sebelum jam 8 aku sudah pulang. “ Aku berdiri dan merapikan jas. “Trust tidak bisa dibangun dengan pitch deck. Trust hanya hadir ketika governance bicara jujur.”

Cristina mendekat, suara lebih lembut. “Danantara wants to be like Norway. “ Katanya tersenyum. “  but its foundations are still closer to an Asian version of Venezuela, big dreams resting on institutions that haven’t yet grown up.”

Aku tersenyum getir. “That’s what happens when a nation tries to get rich through financial engineering before it becomes rich through production.”

Cristina antar aku sampai pintu lift dan sebelum berpisah dia memelukku. “ Take care of yourself, B,” katanya berbisik. “If you ever come to Switzerland, I’ll cook your favorite gado-gado in my apartment. We can talk again, about the state, or maybe about life itself, which never seems to stabilize.”

“ Stability is a myth, Cris. What exists is only balance,  fragile, fleeting. Like markets. Like love. Like life.” Kataku tersenyum.

“ Maybe that’s why I enjoy talking to you. You make uncertainty sound… almost reasonable.”

Pintu lift terbuka dan aku masuk seraya melambaikan tangan.

***

Danantara — Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia yang baru dibentuk pada 2025 — merekrut mantan profesional dari GIC Singapura (salah satu SWF terbaik dunia dengan tata kelola kelas global): Daniel Lim → fokus private credit. Weihan Wong → fokus private equity.    Dipimpin oleh MD of Investments: Stefanus Ade Hadiwidjaja (eks-NI Indonesia). Itu artinya Danantara ingin langsung bermain di liga besar pasar keuangan internasional dan mengakses jaringan global investor institusi.

Danantara berdiri dengan kepercayaan bahwa literasi finansial tingkat tinggi dapat menggiring modal global masuk ke proyek-proyek strategis Indonesia. Seperti seorang profesional yang baru lulus dengan ijazah Certified Financial Engineering (CFE), ia percaya: selama struktur dana rapi, proposal cemerlang, dan valuasi meyakinkan—modal akan mengalir sendiri.

Padahal dalam literatur ekonomi kelembagaan, kebenaran itu terbalik. Megginson & Fotak (2021) menekankan bahwa: Sovereign funds are trusted only when backed by strong institutions and sustainable revenue bases.

Strategi fund raising yang kompleks hanyalah alat, bukan fondasi. Yang menciptakan trust adalah productive capacity dan quality of institutions. Indonesia hari ini belum memiliki: ekosistem produksi yang kokoh, R&D sebagai mesin inovasi, kepastian regulasi dan governance yang disipli. Tanpa tiga pilar itu, keunggulan finansial hanya menjadi kosmetik.

Feldstein (2008) sudah memperingatkan bahwa leverage tanpa cash engine yang kuat akan memicu: negative carry trap — debt grows faster than productive surplus. Ini persis risiko Danantara. Jika BUMN belum menghasilkan stable yield, leverage justru: menggerogoti arus kas, memaksa subsidi yang lebih besar, menaikkan sovereign risk premium. Dari super fund menjadi super liability.

La Porta et al. (2008) membuktikan: Weak institutional governance increases the risk of misallocation for political objectives rather than economic gains. Artinya: • konsultan hebat tidak menjami, proposal spektakuler tidak menjamin. pitch deck indah tidak menjamin

Yang menjamin adalah: project sponsor yang punya track record, menghormati meritokrasi dan transparansi, independen dari political capture Tanpa itu, investor top-tier akan menghindar. Yang tertarik hanya: high-yield hunters, opportunistic hedge funds, dealers yang mengejar fee. Modal seperti ini datang cepat, pergi lebih cepat.

OECD (2022) menulis: Capital follows strong institutions, not sophisticated products. Dan itulah inti masalah Danantara: Ia mempelajari how to raise capital sebelum memahami why capital trusts. BUMN masih menghadapi: biaya logistik tinggi, margin kompetitif tergerus politi, supply chain belum efisien, governance yang compliance by paperwork, bukan compliance by integrity. Bagaimana investor percaya jika dasar kepercayaannya sendiri belum dibangun?

Danantara bisa menjadi instrumen transformatif, jika reformasi BUMN selesai lebih dulu, cash flow engine kuat, tata kelola transparan dan bebas intervensi, R&D dan inovasi menjadi DNA industri, risiko dipahami, bukan di-“model”-kan Tanpa itu semua, ia tidak lebih dari: Profesional keuangan yang dipakai untuk menggadaikan masa depan aset negara. Bukan visi jangka panjang. Bukan mesin kemandirian ekonomi. Hanya ilusi kompetensi dalam bentuk diferensiasi instrumen.

Financial engineering adalah puncak piramida ekonomi. Namun Indonesia mencoba membangunnya tanpa fondasi. Puncak tidak bisa berdiri sendiri. Kapital global tidak tunduk pada proposal cerdas— hanya pada kredibilitas yang sudah teruji. Danantara arus memilih: menjadi arsitek industrialisasi atau pelukis ilusi baru bagi elite kekuasaan.

Apa itu Private Credit & Private Equity?

InstrumenFungsiContoh Investasi
Private CreditPendanaan langsung ke perusahaan (pinjaman non-bank)Structured lending, infrastructure debt, mezzanine finance
Private EquityInvestasi mengambil saham perusahaan non-publikAkuisisi pabrik, perusahaan energi, startup advanced manufacturing

Red Flags Teknis.

Danantara diproyeksikan sebagai “Super Fund” Indonesia dengan ambisi mengelola aset Rp14.000 triliun, menyaingi raksasa global seperti GIC Singapura dan PIF Arab Saudi. Di atas panggung politik, itu terdengar heroik. Namun dalam dunia keuangan, angka besar selalu membawa risiko besar — terutama ketika sumber kekuatan finansialnya belum matang.

Masalah pertama melekat pada asal-usul modal. Sovereign wealth fund idealnya tumbuh dari surplus, bukan dari kekurangan. Norwegia dan Saudi bisa membangun dana raksasa karena kekayaan alam mereka mengalir seperti sungai yang tak pernah kering. Indonesia berbeda: kita tidak punya laba fiskal berlimpah yang bisa dialihkan menjadi modal permanen. Bila Danantara didanai dari utang atau privatisasi tergesa-gesa, maka beban fiskal publik bisa membengkak dan keberlanjutan dana akan sangat tergantung pada daya tahan APBN. Super fund berisiko berubah menjadi super liability — bomb waktu yang diwariskan ke anak cucu.

Kedua, ambisi untuk mengejar aset US$900 miliar dalam waktu singkat mendorong pola pikir “kejar ukuran dulu, kinerja belakangan”. Godaan untuk bermain leverage besar akan selalu muncul. Dalam pasar finansial, utang itu seperti api: ia bisa menerangi jalan atau membakar rumah, tergantung siapa yang mengendalikannya. Jika agresivitas melampaui kemampuan mitigasi risiko, salah langkah sedikit saja bisa menjadikan Danantara seperti kapal tanker yang sulit berbelok ketika badai datang.

Ketiga, yang lebih mengkhawatirkan adalah bayang-bayang opasitas. Ketika keputusan investasi dilakukan di ruang yang tertutup—tanpa laporan nilai aset, peta risiko, dan outcome yang transparan kepada publik—maka peluang moral hazard muncul luas. Kita punya sejarah panjang proyek-proyek berlabel “strategis nasional” yang ternyata menjadi pesta gelap sebagian elite, sementara publik hanya mewarisi kerugian. Danantara jangan sampai tumbuh di jalur yang sama.

Keempat, politik selalu menunggu di tikungan. Bila alokasi dana dipengaruhi kedekatan kekuasaan alih-alih kelayakan bisnis, maka Danantara akan diseret untuk menambal lubang bisnis kawan politik atau mengongkosi ambisi sesaat para penguasa. Itulah risiko menjadi harta karun raksasa di negeri yang elite-nya haus proyek. Uang negara dapat berubah menjadi mesin pendongkrak kekuasaan, bukan mesin pertumbuhan ekonomi.

Kelima, risiko eksekusi dan risiko mata uang tidak boleh diremehkan. Untuk bermain di liga global, Danantara akan menempatkan modal dalam berbagai mata uang dan negara. Jika strategi lindung nilai tidak disiplin, gejolak kurs atau gejolak global dapat menguapkan nilai portofolio dengan cepat. Mengelola portofolio ratusan miliar dolar bukan sekadar soal niat baik — ia membutuhkan keahlian kelas dunia yang teruji lintas krisis. Belum ada bukti yang cukup bahwa Indonesia siap di level ini.

Dan terakhir, keberlanjutan politik menjadi syarat mutlak. Sovereign wealth fund adalah institusi lintas generasi, bukan proyek satu rezim. Bila arah investasi berubah setiap ganti pemerintahan atau menjadi alat balas budi politik, maka trust investor global akan runtuh seketika. Tanpa trust, tidak ada modal murah. Tanpa modal murah, tidak ada skala. Tanpa skala, semua visi tinggal poster.

Namun, bahkan jika tata kelola berhasil diperkuat, masih ada satu tembok besar yang sering tidak terlihat dari euforia media: sumber pendanaan privat dan institusional bukan sesuatu yang jatuh dari langit begitu saja.Investor kelas dunia—fund manager global, sovereign wealth fund lain, dana pensiun Kanada, Norwegia, Amerika, memiliki tiga sifat yang tidak pernah berubah:

1️. Mereka sangat sophisticated

2️. Mereka sangat berhati-hati

3️. Mereka hanya menghormati reputasi dan ekosistem yang solid

Mereka tidak akan menaruh miliaran dolar hanya karena pidato yang lantang atau target angka yang ditulis tebal-tebal di layar konferensi pers. Mereka hanya tunduk pada tiga hal: rekam jejak, governance, dan kepastian aturan main.

Tanpa rating kepercayaan yang kuat—mulai dari stabilitas politik, kredibilitas regulasi, independensi keputusan investasi, hingga integritas pengelola dana—modal global akan menghindar perlahan. Dan jika pendanaan tidak datang lewat jalur reputasi, maka jalur alternatif yang mungkin muncul hanya dua: utang berbiaya mahal atau private capital yang menuntut konsesi politik besar. Dua-duanya membahayakan Indonesia.

Selain itu, struktur pasar kita masih perlu diperkuat: rantai pasok industri belum kokoh, sistem logistik masih lamban, data dan perhitungan masih sering berubah setiap pergantian menteri. Investor global melihat itu sebagai tanda risiko, bukan peluang.

Pada akhirnya, bila Danantara memaksa beroperasi tanpa dukungan ekosistem bisnis yang matang—sekedar mengandalkan narasi besar dan retorika geopolitik—maka yang akan benar-benar tumbuh bukan AUM (assets under management), melainkan AUM: Arrangement Under Minister.

Biaya pendirian, biaya penasihat hukum, biaya penjamah pasar, biaya konsultan strategi, biaya promosi internasional—semua itu sangat mahal. Jika modal yang masuk minim dan dampak ekonominya kecil, maka Danantara berpotensi menjadi: Super Fund yang super mahal, tapi super kecil dampaknya. Keajaiban finansial tidak lahir dari spanduk besar, tapi dari kepercayaan yang dibangun lama dan dijaga tanpa kompromi.

Danantara hari ini berada di persimpangan:  Ia bisa menjadi arsitek masa depan ekonomi Indonesia atau menjadi papan proyek raksasa yang sesungguhnya hanya menyembunyikan ambisi-ambisi pribadi. Modal besar dan visi megah hanyalah permukaan.

Faktor penentu ada di bawahnya: integritas, disiplin, tata kelola, dan ekosistem yang berkembang nyata. Tanpa itu semua, super fund tinggal super slogan.

Kesimpulan

Danantara bisa menjadi mesin industrialisasi modern yang mendorong pertumbuhan 8% dan mengubah struktur ekonomi Indonesia selamanya. Namun, jika risiko-risiko tadi diabaikan, ia bisa menjadi katedral megah yang dibangun tanpa pondasi—indah dipandang, tapi menyeramkan ketika retaknya mulai terdengar.

Masa depan super fund ini akan ditentukan oleh satu hal: keteguhan pemerintah untuk melawan godaan politik dan ketamakan elite. Jika tata kelola menjadi kompas — kita maju. Jika kekuasaan yang memimpin dengan demokrasi cacat dan meritokrasi lemah— kita tersesat.***

Referensi..

Megginson, W. L., & Fotak, V. (2021). Sovereign Wealth Funds: A Strategic Governance Perspective. Journal of International Business Studies, 52(9), 1647–1665. Bernstein, S., Lerner, J., & Schoar, A. (2013). The Investment Strategies of Sovereign Wealth Funds. Journal of Economic Perspectives, 27(2), 219–238. International Forum of Sovereign Wealth Funds (IFSWF). Santiago Principles — Generally Accepted Principles and Practices (GAPP). (Revised 2023). OECD (2020). Sovereign Wealth Funds and Long-Term Investing. OECD Publishing. NBIM – Norges Bank Investment Management (2024). Government Pension Fund Global Annual Report. Temasek Holdings (2023). Stewardship and Governance Framework. Public Investment Fund Saudi Arabia (2023). PIF Strategy Overview – Vision 2030. Mubadala Investment Company (2023). Portfolio Diversification Strategy.

Preqin (2024). Global Private Debt Report. EY (2023). Private Capital and the Future of Infrastructure Financing in Emerging Markets. Gianfrate, G., & Zatti, D. (2022).Green Private Equity Investment and Climate Transition Risks. Sustainable Finance Review. BlackRock (2023). Green infrastructure & energy transition: Risk, Reward, and Project Bankability. World Bank (2024). Worldwide Governance Indicators: Country Risk and Performance. Transparency International (2024). Corruption Perceptions Index — Indonesia Report. La Porta, R., Lopez-de-Silanes, F., & Shleifer, A. (2008). Political Institutions and Financial Development. Journal of Financial Economics, 87(2), 355–411. Feldstein, M. (2008). Twin Deficits and the Sustainability of Fiscal Policy. NBER Working Paper No. 115. IMF (2023). Article IV Consultation: Indonesia — Fiscal Gap and External Vulnerabilities. OECD (2022). State-Owned Enterprise Reform: Enhancing Performance & Governance. PwC (2023). Greenwashed? Corporate Sustainability Risk Under Scrutiny. Boffo, R., & Patalano, R. (2020). OECD ESG Investing: Practices, Progress and Challenges.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca