Cinta adalah anomali…

B pertama kali bertemu Lyra pada sebuah konferensi hedge fund di Hong Kong. Lyra saat itu masih muda, trader berbakat di desk biotech sebuah fund Inggris bernama Cobalt Ridge. Ia tampil memukau, menjelaskan strategi pairs trade antara dua saham farmasi yang volatilitasnya bergerak terbalik sempurna. Kalkulasinya presisi, timing-nya nyaris tak mungkin dilakukan manusia biasa.

Namun di balik itu, B tahu ada sesuatu yang tidak wajar. Terlalu banyak posisi Lyra yang “beruntung.” Dan keberuntungan seperti itu jarang bertahan lama di dunia yang dibangun dari algoritma dan tipu daya.

Enam bulan kemudian, berita muncul: Cobalt Ridge terlibat skandal insider trading. Nama Lyra berada di daftar hitam investigasi FCA. Ia dipecat. Rekeningnya dibekukan. Dunia yang ia bangun runtuh dalam semalam.

B menemuinya di bar hotel kecil di Wan Chai. Lyra datang dengan mata lelah dan suara yang nyaris pecah.

“Aku tidak bersalah, B. Tapi mereka butuh kambing hitam.”

“Aku tahu,” jawab B tenang. “Dan aku tahu bagaimana cara membuatmu keluar tanpa noda.”

Dalam waktu seminggu, lewat serangkaian manuver legal dan financial engineering, B memindahkan aset Lyra ke rekening baru di Zurich atas nama trust nominee, struktur yang bahkan FCA tak bisa tembus. Semua dokumentasi digital yang bisa mengaitkan Lyra ke skandal itu ia hapus dari sistem internal fund, melalui celah compliance yang hanya orang seperti B tahu keberadaannya.

“Kau baru saja menghapus sejarahku,” kata Lyra ketika semuanya selesai.

“Aku tidak menghapus,” jawab B datar. “Aku hanya menulis ulang versi yang lebih benar.”

Sejak saat itu, Lyra menatap B dengan cara yang berbeda. Antara kekaguman, hutang budi, dan sesuatu yang lebih dalam. sesuatu yang bahkan ia sendiri tak berani sebut cinta. B tahu itu. Tapi baginya, perasaan adalah gangguan dalam disiplin.

“Kau tidak perlu mencintaiku, Lyra,” kata B suatu malam di Conrad Hotel Hong Kong. “Yang kubutuhkan hanyalah loyalitas total. Dunia ini hanya percaya pada disiplin.” Lanjut B. Namun B mendekapnya dengan lembut sepanjang malam itu. Tidak ada kesan dia sebagai predator. Sisi lain dari seorang B yang tetap ada sisi kemanusiaannya. Setidaknya tahu membuat wanita merasa sempurna. Karena itu membuat Lyra semakin terpesona dan mematuhinya.

Sejak itu Lyra berkerja sebagai shadow team B. Dengan reputasi baru, sebagai quant consultant independen dari firma bayangan Zariel Data Corp, yang secara legal tampak bersih. Hubungan personal mereka baik, walau tidak sering ketemu. Bila B, ke Zurich dalam sibuk bagaimanapun dia sempatkan menemui Lyra di satu rumah di pedesaan. Yang jauh dari suara trader.

***

Setahun kemudian, ketika B memutuskan menumbangkan Epsilon Capital, ia tahu hanya satu orang yang bisa masuk tanpa dicurigai:  Lyra Devereux. Hujan tipis mengguyur New York malam itu, seperti kabut tipis yang menutupi dosa. B berdiri di balkon hotel Mandarin Oriental, menatap menara-menara kaca yang memantulkan cahaya biru dari Bloomberg Terminal.

“Target: Epsilon Capital. Objective: Collapse from within.”

Ia menutup ponselnya. Di layar terakhir yang redup, nama itu muncul, Lyra Devereux. Wanita yang ia selamatkan dari kehancuran, dan kini, akan ia kirim kembali ke dunia yang dulu hampir membunuhnya.

“Kau akan menyusup sebagai sekutu,” kata B. “Bukan musuh. Bukan whistleblower. Jadilah bagian dari mereka. Dan ketika waktunya tiba, aku yang menekan tombolnya.”

“Apa aku akan keluar hidup-hidup?” Tanya Lyra dengan terbata bata. Dia kawatir B akan tersinggung, meragukan integritasnya.

“Kalau kau tetap mengikuti arahanku. Tidak lebih, tidak kurang.”

Lyra mengangguk. Ia tahu, di balik dinginnya suara B, tersimpan kepercayaan yang tak pernah diucapkan.

***

Lyra melangkah masuk ke markas Epsilon Capital di Park Avenue dengan percaya diri yang tenang. Dalam presentasi internal, ia memperkenalkan sistem baru yang ia sebut Pretender Protocol — model sinkronisasi lintas bursa yang konon bisa “menyamakan latency antar-market agar tidak ada delay informasi.”

“Dengan Pretender, eksekusi bisa berjalan simultan di tiga benua. Tidak ada lagi kehilangan peluang karena micro-delay,” katanya. Para direktur terpukau. Mereka melihat efisiensi, bukan jebakan. Padahal di balik layar.

Pretender adalah algoritma cermin — shadow relay yang menyalin setiap perintah transaksi Epsilon dan mengirim versi palsunya ke jaringan dummy yang sepenuhnya di bawah kendali B. Bayangkan begini, Epsilon memiliki sistem otomatis (algoritma) yang mengeksekusi transaksi saham dalam hitungan mikrodetik. Contoh: mereka akan membeli saham perusahaan energi karena mendapat informasi rahasia bahwa harga akan naik besok.

Pretender Protocol yang ditanam oleh Lyra berfungsi seperti cermin bayangan. Saat Epsilon mengirim perintah beli ke bursa (misal beli saham energi senilai USD 100 juta), sistem itu lebih dulu menyalin data perintah tersebut ke server milik B. Penyalinan ini terjadi lebih cepat sepersekian detik (0,07 detik pada contoh kode). Itu sudah cukup lama untuk melakukan transaksi yang sama lebih dulu di pasar modern. Karena data itu mengalir lebih dulu ke server B, maka B tahu lebih cepat apa langkah Epsilon berikutnya. Ia pun bisa “mendahului” mereka di pasar — melakukan transaksi mirror trade (meniru) melalui perusahaannya sendiri Aether Holdings Ltd. di Bahama.

Misalnya,  Epsilon akan membeli saham perusahaan energi “Solarion” sebanyak 1 juta lembar. Pretender menangkap perintah itu lebih cepat 0,07 detik. Dalam dunia keuangan, 0,07 detik sudah cukup untuk mengeksekusi transaksi lebih dulu dengan sistem algoritmik cepat.

Maka,  B membeli saham Solarion lebih dulu, sebelum order besar dari Epsilon masuk. Ketika Epsilon benar-benar membeli dan harga saham langsung naik karena volume besar, B menjual sahamnya dan mendapat untung besar — karena ia masuk sebelum harga naik. Inilah yang disebut pretender trade: B tidak mencuri uang Epsilon, tapi memanfaatkan pantulan (refleksi digital) dari aktivitas mereka untuk mengambil posisi lebih cepat.

Melalui kanal itu, B bisa membaca niat Epsilon sepersekian detik lebih cepat dari dunia nyata. Ia memperdagangkan bayangan mereka dengan melakukan pretender trades melalui perusahaan pribadinya, Aether Holdings Ltd., di Bahama. Setiap malam, setelah ruang trading kosong, Lyra akan menerima pesan terenkripsi di tablet-nya. Pesan pendek, tanpa sapaan, hanya kode waktu dan instruksi.

B-2201/22: Mirror Epsilon Energy Position. Delay 0.07 sec. Volume 4x.

B-2201/22 adalah  kode transaksi (tanggal/waktu). Mirror Epsilon Energy Position, bermakna ikuti posisi saham energi yang diambil oleh Epsilon. Delay 0.07 sec → lakukan transaksi 0,07 detik setelah sinyal masuk (agar tampak natural di data bursa, tidak terlalu cepat). Volume 4x → perbesar jumlah transaksi empat kali lipat dari volume yang Epsilon rencanakan. Pesan ini terenkripsi (hanya bisa dibaca oleh perangkat yang sudah disiapkan), agar tidak bisa dilacak oleh sistem keamanan Epsilon atau otoritas pasar.

***

Lyra tidak pernah bertanya kenapa. Ia hanya menuruti. Hubungannya dengan B kini tak lagi seperti dulu. Mereka jarang bicara tentang perasaan. Kadang Lyra ingin mengatakan bahwa ia jatuh cinta, bahwa setiap perintah dari B seperti denyut nadi yang membuatnya hidup. Tapi B tak pernah memberi ruang untuk itu.

“Perasaan membuatmu lambat, Lyra. Dan dalam dunia ini, yang lambat mati lebih dulu,” katanya suatu malam di villa yang ada di desa Swiss.

“Aku tahu,” balas Lyra pelan. “Tapi entah kenapa, setiap menit dalam dekapanmu aku merasakan kamu mencintaiku dengan tulus.

B terdiam lama sebelum menjawab.

“Maka dengarlah..” B menatapnya dengan teduh. “ kamu seperti berdiri di pangkal akanan menatap matahari terbenam diujung langit. Seakan matahari itu sangat dekat dan mudah meraihnya. Yang ada kenyataannya, kamu hanya bisa merasakan hangat matahari tetapi tidak akan pernah bisa menjangkaunya. “

Lyra hanya bisa mempererat pelukannya dan berusaha mengerti hubungan mereka.

***

Dalam tiga bulan, Pretender mulai mengguncang fondasi Epsilon. Bug mikro yang dipasang B di sistem relay menciptakan disinkronisasi waktu 0,3 detik di volume transaksi besar. Ketika Epsilon melakukan rollover posisi besar pada kontrak farmasi, waktu eksekusi bergeser, dan kontrak dianggap kadaluarsa. Mereka kehilangan USD 4,7 miliar dalam semalam.

B dari Zurich memantau data yang berjatuhan seperti hujan batu.

Lyra memainkan perannya: panik, memperbaiki, berpura-pura tidak tahu. Regulator datang. Investor keluar. Dan B menutup semua posisi bayangan lewat Aether Holdings dengan keuntungan bersih USD 2,84 miliar.

***

Beberapa minggu kemudian di Zurich, Lyra duduk di kafe tepi danau bersama B.

“Semuanya sudah selesai,” kata Lyra. “Mereka menyebutku penyelamat. Ironis, bukan?”

B menatap jauh ke air yang berkilau dingin. “Setiap sistem butuh sosok suci agar dosa terlihat wajar.”

Lyra menggenggam jemari B dengan pelan.

“Kau tahu aku mencintaimu, kan?”

B tidak menatapnya. “Aku tahu. Tapi cinta tidak ada dalam neraca keuntungan, Lyra. Yang kupahami hanyalah keseimbangan.”

Ia berdiri, menatap refleksi dirinya di kaca jendela, seorang pria tanpa tanda tangan di dunia yang hanya mengenal angka. “Kau sudah melakukan dengan baik,” kata B “Sekarang, istirahatlah..”

Dan ketika B berjalan meninggalkan kafe itu, Lyra tahu, cintanya adalah kesetiaan paling sempurna kepada seseorang yang bahkan tidak percaya pada cinta.

***

Salju mulai turun di Zürich. Kota itu terlihat seperti papan catur yang dibekukan waktu—tenang di permukaan, namun di bawahnya arus uang dan rahasia terus bergerak. B duduk di ruang kerja apartemennya di Seefeld. Cahaya monitor menyorot wajahnya yang lelah namun tajam. Di layar, deretan grafik, log transaksi, dan sinyal algoritma bergulir tanpa henti. Nama proyek di sudut layar itu: ATHENA PROTOCOL — CLASSIFIED.

***

Sudah tiga minggu sejak Epsilon Capital runtuh. B mengira badai sudah berlalu, tapi email anonim datang malam itu:

Subject: “Zurich knows. Clean your mirrors.”

From: Untraceable domain — possibly Singapore node.**

Seseorang tahu tentang Pretender Protocol.

Athena, sistem pengawasan global yang B buat untuk mendeteksi anomali insider trading, kini justru mengendus jejak dirinya sendiri. Ia melihat pattern transaksi yang identik dengan Aether Holdings—perusahaannya di Bahama—muncul di laporan audit lintas negara. Masalahnya: laporan itu tidak dibuat oleh manusia, melainkan oleh machine-learning monitor milik regulator Eropa.

“Algoritma mereka menyalin algoritmaku,” gumamnya pelan. “Dan itu berarti… seseorang di dalam Athena pernah bekerja untukku.”

***

Lyra datang malam itu, mengenakan mantel hitam panjang dan topi wol. Ia terlihat lebih gelap dari biasanya, seperti seseorang yang membawa kabar buruk.

“Aku dipanggil oleh FINMA besok,” katanya pelan. “Mereka ingin aku menjelaskan struktur Pretender. Mereka bilang menemukan korelasi dengan transaksi Aether.”

B menatapnya lama. “Apa kamu bilang apa pun?”

“Tidak. Tapi mereka tahu ada pihak ketiga yang mengakses server Epsilon melalui relay. Itu jalur kita, B.”

Keheningan memanjang. Di luar, salju turun semakin rapat. B tahu, waktunya hampir habis. Sistem yang ia bangun mulai memakan dirinya sendiri.

“Lyra, dengarkan aku,” katanya tenang tapi tegas. “Mulai malam ini, kamu bukan bagian dari ini lagi. Semua catatan, akun, dan komunikasi kita—hapus. Aku akan tangani sisanya.”

Lyra menatapnya dengan mata yang penuh campuran marah dan takut.

“Kau mau menanggung semuanya sendirian?”

“Bukan menanggung,” jawab B. “Menghilang.”

B membuka terminal hitam di laptop satelitnya dan mengetik perintah yang sudah ia siapkan bertahun-tahun:

/execute: Athena_self_destruct –mirror_wipe_all –72_hours_countdown

Dalam tiga hari, seluruh jejak digital yang terkait dengan Pretender Protocol, Aether Holdings, dan node Zurich akan lenyap—terhapus bahkan dari arsip transaksi pasar. Ia tahu konsekuensinya: sistem yang ia ciptakan, dan seluruh database yang bisa mengungkap kebenaran, akan hilang selamanya.

Tapi itu satu-satunya cara untuk selamat.

***

Malam kedua, ketika B sedang menutup data, sebuah pesan terenkripsi masuk.

Pengirimnya: Lyra.

“Mereka tahu tentang Zurich. Aku tidak bisa diam lagi. Aku sudah kirim sebagian log ke pihak Athena—mereka janjikan kekebalan hukum. Maaf, B.”

B berhenti menatap layar. Tangannya gemetar, tapi wajahnya tetap tenang.

“Kau tidak mengerti, Lyra,” bisiknya. “Begitu mereka memiliki log itu, mereka akan tahu seluruh sistem dunia bayangan. Dan mereka akan menciptakan monster baru dari kebenaran yang setengah mati.”

***

Pagi berikutnya, Lyra datang ke apartemen itu. Wajahnya pucat, matanya merah.

“Aku hanya ingin memastikan kau pergi,” katanya.

“Aku sudah pergi sejak hari pertama kita bertemu,” jawab B pelan.

Ia menyerahkan sebuah flash drive kecil berwarna perak. “Ini cadangan terakhir Pretender. Hanya kau yang bisa memutuskan apakah dunia pantas mengetahuinya.”

“Dan kau?” Tanya B mengerutkan kening.

“Aku akan tetap di sini sampai sistem padam.”

Lyra memandangnya lama. Ada cinta, ada luka, ada penyesalan yang tak bisa diungkapkan. Ia tahu, setelah hari itu, B tidak akan pernah bisa dilacak—tidak oleh otoritas, tidak oleh siapa pun.

***

Tiga hari kemudian, Zurich kehilangan satu sinyal digital besar. Node Athena berhenti bekerja. Semua log transaksi dari delapan bursa global tiba-tiba kosong. Laporan resmi menyebutnya “catastrophic data corruption.”

FINMA menutup investigasi. SEC berhenti bertanya.

Lyra pindah ke Lisbon, bekerja sebagai analis pasar energi. Kadang, saat malam sepi, ia membuka flash drive itu dan menatap file di dalamnya: satu folder, satu pesan, satu baris teks.

“Cinta adalah anomali terbesar dalam algoritma manusia.” — B

Ia tersenyum tipis. Dan di kejauhan, entah di mana, sistem baru sedang dibangun—tanpa nama, tanpa tanda tangan—oleh seseorang yang dunia kira telah tiada.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tag:

Tanggal:

Up next:

Before:

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca