Fotomorgana

Seusai rapat dengan Michael Chang, aku menatap James cukup lama. Ia gelisah, mungkin membaca sesuatu yang tak tertulis di wajahku. Aku berdiri, berjalan ke jendela besar. Cahaya sore menimpa kaca, memantulkan kilau baja gedung-gedung tinggi yang berdiri seperti altar modern di pinggir Victoria Harbour. Dunia ini tampak megah, tapi di balik gemerlapnya, uang berputar seperti doa tanpa makna.

Tak lama, Kang dan Lee masuk. Mereka membungkuk hormat.

“Lakukan sekarang,” kataku tenang. Tanpa bertanya, mereka pergi.

James menatapku hati-hati. “B, mereka itu lawyer dan shark loan. Mitra Michael Chang. Ada apa sebenarnya?”

Aku diam. Ia paham: kesunyian sering lebih jujur daripada jawaban. Di meja, laporan delivery contract dan hedging exposure terbuka. Angkanya janggal terlalu besar untuk ukuran perusahaan yang masih menapaki produksi fisik. Aku tahu tanda-tanda bahaya ketika angka mulai kehilangan logikanya.

“Siapkan kendaraan,” kataku pada sekretaris. “Aku ke Conrad.”

***

Uap panas menyelimuti tubuhku seperti kabut waktu. Air mengalir pelan, meniru suara masa lalu yang tak mau mati. Baru saja aku menutup mata, James datang tergesa-gesa.

“B, kabar buruk. Michael dilarang masuk kantornya. Kreditur shadow banker-nya melakukan loan call..”

Aku tak menjawab.

“Bukankah dia mitra strategis kita, pendukung unit business SIDC bidang industry mineral? Rantai pasok kita bergantung padanya. Apa yang sebenarnya terjadi?”

Aku tetap diam. Kadang, diam lebih kejam daripada kata-kata.

Tak lama, Michael muncul. Wajahnya merah, amarahnya menetes seperti keringat panas. Ia menghampiriku dengan kata-kata kasar.

Aku bangkit perlahan. Saat kakinya mencoba menendang, replek sebagai karateka terlatih membuatku dengan mudah dan cepat melumpuhkannya. Kuangkat tubuhnya kembali, dan memeluknya sebentar. Ia gemetar. Lalu pergi.

“B, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya James pelan.

Aku menyalakan cerutu.

“Jelaskan dulu, James. Apa posisi Michael di SIDC?”

“Ia punya konsesi nikel. Kita pemegang PI dan juga offtaker utama.”

Aku melempar laporan padanya.

“Lalu ini apa? Pengiriman tidak sesuai jadwal.”

“Audit lingkungan, B. Ini soal ESG. Regulasi internasional membatasi operasi.”

Aku mengeluarkan dokumen baru: manifest pengiriman ke pelabuhan Eropa.

“Apakah ini juga bagian dari ESG?” kataku dingin.

“You failed as CEO, James.”

James menatapku kosong. “ Saya tidak mungkin mengkhianati kamu B. “ Kata Jame seraya berlutut.

“ Aku  tahu dan tidak meragukan loyalitas kamu. Justru aku sedang berusaha melindungi kamu agar SIDC tidak jadi korban predator kampunga.  Nah berdiri. Tidak perlu berlutut”

“Darimana kamu dapat data itu?” tanya James seraya berdiri lambat.

“Michael membayar aktivis lingkungan untuk menciptakan alasan palsu, agar bisa menahan shipment ke kita. Tapi lewat pelabuhan lain, dia kirim ke Barat. Dia lupa, aku punya mata di pemerintahan, dan telinga di pasar. Shadow team-ku bukan bayangan, tapi sistem.”

Asap cerutu naik ke udara seperti doa yang menolak menuju langit.

“Dia telah melanggar kepercayaan. Dan dalam bisnis, itu dosa paling berat.”

***

Beberapa hari kemudian, aku mengundangnya makan siang. Michael datang bersama James. Wajahnya kusam, seperti seseorang yang telah kehilangan makna waktu.

“Maafkan saya, B. Saya terlalu serakah. Saya ingin menguasai harga nikel dunia. Sekarang semuanya hilang.”

Aku menatapnya lama.

“Kau bermain dengan pasar, Michael. Tapi pasar bukan kasino. Ia seperti hukum gravitasi, tak bisa dilawan. Semakin tinggi kau dongrak semakin tinggi jatuhnya. ” Kataku dengan tatapan keras. “ Mafkan juga aku membuat kamu jatuh dan hampir cedera kemarin. Itu bukan keinginan sadarkku. Itu karena replek sebagai karateka yang seketika  bereksi ketika diserang. Aku berlatih puluhan tahun. Maklumi“ sambungku dengan tersenyum.. Michael mengangguk. Dan setelah itu kami bicara ringan.

Setelah Michael pergi. James menatapku ingin tahu.

“Bagaimana ini bisa terjadi?”

Aku meneguk kopi hitam.

“Michael membuka posisi short besar di London Metal Exchange dan Shanghai Futures Exchange. Ia bertaruh harga nikel akan turun. Nilainya miliaran dolar. Tapi Maret 2022, ketika perang Ukraina meletus, pasar membalasnya. Harga nikel melonjak empat kali lipat dalam dua hari. Dari 20 ribu menjadi hampir 100 ribu per ton. Bursa pun lumpuh.”

“Short squeeze?” tanya James.

“Ya. Margin call datang. Bank menuntut tambahan jaminan. Arus kas macet. Shadow banker bernama Lee menawarkan repo saham. Awalnya 30% dari nilai jaminan. Tapi saat harga saham jatuh, collateral-nya habis. Ia dipaksa top-up hingga kehilangan semuanya.”

James terdiam.

“Jadi kau tahu?” tanya James kemudian.

Aku tersenyum tipis.

“Aku tahu, tapi aku biarkan. Hedging-nya berubah menjadi perjudian. Ia menumpuk posisi derivatif jauh melampaui aset fisiknya. Itu bukan lindung nilai lagi, tapi keserakahan yang menyamar jadi strategi.”

“Dan Felocy, hedge fund yang mendanainya, itu jaringanmu juga?”

Aku menatap kosong.

“Aku tidak menjebaknya. Aku hanya membiarkan hukum pasar bekerja. Dia yang menulis surat kematiannya sendiri.”

***

James menatap keluar jendela restoran. “Rakus. Friedman bilang pasar bebas harus diberi ruang seluas-luasnya. Tapi Soros menyebutnya market fundamentalism, Krugman menamakannya absolutisme laissez-faire. Ketika semua ingin menang tanpa batas, sistem menghancurkan dirinya sendiri.” Katanya.

Aku mengangguk.

“Dan itulah yang terjadi pada Michael. Ketika leverage menggantikan produktivitas, kehancuran hanya soal waktu. Pasar tidak punya belas kasihan.” Kataku.

“Amartya Sen pernah bilang,” lanjut James, “pasar butuh moral sosial: keadilan, kedermawanan, kemanusiaan. China tahu itu. Mereka bukan menolak demokrasi, mereka hanya tahu stabilitas adalah bentuk tertinggi dari moral ekonomi.”

Aku tersenyum kecil. “Sayangnya, dunia barat memuja kebebasan tapi lupa makna keseimbangan. Solidaritas kini digantikan spread, dan yield menjadi agama baru.”

“Apakah kamu tidak merasa bersalah, B?” tanya James.

Aku memadamkan cerutu.

“Bisnis ini tidak mengenal moral absolut. Ia hanya mengenal keseimbangan antara kuasa, informasi, dan waktu. Dalam shadow banking, keadilan pun bisa dijual, asal harganya pas.”

***

Sebulan kemudian. Rapat darurat SIDC berlangsung di lantai 37. Kabut turun, menutupi pelabuhan. Dunia seperti grafik yang kehilangan sumbu Y.

“Setelah kejatuhan Michael,” kataku, “pasokan nikel kita terputus. Tapi kita tidak akan ikut tenggelam. Kita ubah krisis ini jadi arus kas.”

Kang menyerahkan dokumen.

“Tri-party agreement siap, B. Zurich, JP Morgan, dan fund administrator Hong Kong sudah tanda tangan.”

Aku menatap James. “Kita bangun koridor likuiditas lintas yurisdiksi. Structured Liquidity Corridor. Dari reruntuhan PI Michael, kita buat SPV baru, Ironleaf Capital. Dari situ, kita tarik refinancing lewat repo bond 144A. Yield kita kendalikan, leverage kita desain ulang.”

“Itu mirip menciptakan bank bayangan, B.” Kata James seakan mencoba mengerti.

“Bukan,” jawabku, “kita hanya menciptakan bayangan bagi sistem. Michael ingin menguasai harga, aku hanya ingin menguasai waktu. Itu bedanya antara pemain dan arsitek.”

***

Private jet SIDC mendarat di Zürich dalam senyap musim semi. Langitnya bersih, udara seperti terdistilasi dari segala kebisingan dunia. Dari jendela hotel, sungai Limmat mengalir tenang—airnya jernih seperti arus likuiditas yang tak mengenal konflik. Aku selalu menyukai kota ini. Zürich punya cara tersendiri untuk membuat orang percaya bahwa ketenangan bisa diproduksi secara sistemik.

Aku datang bukan untuk berlibur. Aku sudah merencanakan struktur jangka Panjang untuk unit Bisnis SIDC bidang mineral tambang. Maklum SIDC punya sumber daya di beberapa negara. Tidak sehat kalau asset dan uang ditempatkan tanpa kendali hukum yang kuat. Perlu bunker yang kokoh.

Tiga hari lagi, The Zurich Protocol akan ditandatangani—kesepakatan tiga lapis yang akan mengubah unit bisbis SIDC mineral dari sekadar offtaker dan PT  menjadi arsitektur shadow reserve lintas mata uang: dolar, franc, dan yuan.

Di bawah protokol itu, seluruh aset digital SIDC, termasuk hasil repositori Ironleaf Capital dan corridor dari Hong Kong akan dialihkan ke bawah pengawasan Zurich Custody Vault, diatur oleh hukum Swiss, namun dilapisi oleh trust structure dari Cayman. Tujuannya sederhana, menyembunyikan kekuatan dalam bentuk legalitas.

James menemaniku duduk di balkon restoran. Angin dingin membawa aroma kopi Arabica dan bunga chestnut.

“B, apa ini langkah terakhir?” tanyanya pelan. “Atau ini awal dari sesuatu yang baru?”

Aku tersenyum samar.

“Tidak ada yang terakhir, James. Di dunia keuangan, yang disebut akhir hanyalah transisi menuju bentuk lain dari kontrol.”

***

Keesokan harinya, aku bertemu Elena, penasihat hukum dari Zurich Custody, yang juga team shadow-ku. Ia wanita tenang dengan mata kelabu seperti air dan ucapan sepresisi dokumen hukum.

“B, dengan protokol ini, Anda tidak hanya memindahkan aset, tapi juga pusat gravitasi keuangan SIDC,” katanya. “Selama ini Hong Kong adalah jantung likuiditas Asia. Tapi Zurich—ini jantung yang berdetak dengan ritme rahasia. Anda yakin ingin memindahkan nadi itu ke sini?”

Aku menatap peta dunia di meja kaca.

“Aku tidak memindahkan nadi, Elena. Aku hanya memindahkan detaknya ke tempat di mana suara uang bisa berdoa tanpa diawasi.”

Ia tersenyum tipis.

“Kau selalu berbicara seperti filsuf di dunia yang lapar akan laba.”

“Karena laba hanyalah suara dari ketakutan yang disamarkan menjadi strategi.”

Ruang rapat Zurich Custody dingin dan bersih. Di meja bundar, tiga bendera kecil berdiri berdampingan: Swiss, Hong Kong, dan UAE, lambang dari tiga jalur shadow corridor yang kini terhubung menjadi satu sistem likuiditas global. Kontrak ditandatangani tanpa tepuk tangan. Hanya suara pena yang bergeser di atas kertas seperti desahan waktu. Dengan tanda tangan itu, SIDC kini memiliki cadangan lintas yurisdiksi bukan hanya uang tetapi emas.

Semuanya terkoneksi lewat Structured Swap Agreement berbasis ETF komoditas dan sovereign bond. Secara hukum, semuanya sah. Secara moral, semuanya abu-abu. Tapi di dunia modern, antara hukum dan moral hanya dipisahkan oleh selembar surat dari notaris yang cukup pintar.

***

Sore nya, aku berjalan sendirian ke gereja tua di tepi Limmat: Grossmünster. Aku duduk di bangku kayu, menatap lilin yang menyala. Tak ada doa yang kuucap, hanya keheningan yang terasa seperti penilaian.

James menyusul. Ia duduk di sebelahku tanpa suara.

“B, kamu sadar tidak,” katanya perlahan,”  uang itu semakin paradox. Ia seharusnya mendekatkan yang jauh, merapatkan yang dekat, tapi ini justru uang semakin elitis,  semakin hilang sisi kemanusiaan. Hampir sulit dijangkau oleh 99% manusia di planet bumi ini. Hanya dinikmati segelintir orang saja.”

Aku tersenyum, tapi tanpa kebahagiaan.

“Mungkin itu harga dari kekuasaan, James. Semakin kamu menguasai sesuatu, semakin kamu kehilangan dirimu sendiri.”

Kami terdiam lama. Di luar, lonceng gereja berdentang pelan. Suara itu seperti mengetuk pintu antara logika dan iman—antara sistem yang kubangun, dan jiwa yang diam-diam ingin bebas darinya.

“Kamu orang yang nyaman dalam kesendirian,” kata James perlahan. “Kamu tak butuh tepuk tangan di tengah keramaian. Kamu tidak perlu berteriak ketika dikhianati. Kamu melawan dengan diam, dan memaafkan tanpa dendam. Kamu terus berjalan dalam sunyi, tanpa peduli apa kata dunia. Bagimu, cukuplah Tuhan sebagai penilai yang adil.”

Aku menatapnya. Suaranya seperti gema doa yang datang dari masa depan. Dalam dunia yang menilai keberhasilan lewat angka dan grafik, kata-kata itu terasa seperti firman yang menuntun ke dalam—bukan ke atas.

Kesendirian bukan kutukan, melainkan ruang meditasi tempat manusia berdialog dengan dirinya sendiri tentang batas dan makna. Di sana, kekuasaan kehilangan bentuk, dan ego kehilangan alasan. Tuhan tak menanyakan berapa banyak kau menaklukkan dunia, tapi seberapa tenang kau menanggungnya.

Memaafkan tanpa dendam bukan kelemahan, tapi bentuk tertinggi dari kemenangan—karena ia menolak memberi panggung bagi kebencian. Kesunyian adalah hak istimewa bagi mereka yang tak lagi membutuhkan pembenaran.

Dan di antara bising dunia, aku tahu satu hal pasti: yang abadi bukanlah pasar, bukan pula kekuasaan, melainkan kesadaran bahwa pada akhirnya, hanya Tuhan yang menilai dengan adil.

 “Yang sunyi bukan berarti lemah. Yang diam bukan berarti tunduk. Kadang, yang paling kuat justru mereka yang berjalan sendirian— dengan Tuhan sebagai satu-satunya saksi.”


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca