
Kamis kemarin, Anton telp aku. “Ale, mari basobok. Lama tak jumpa. Si Novi katanya mau ikutan. Kangen kau katanya”
“ Novi ? k awan Awak dari Medan itu ? Katanya dia di Sing. Dimana dia sekarang?
“ Ada di Jakarta. Ayolah basobok.” Pintanya. Aku sanggupi. Kami janjian di café di Kawasan Pecenongan. Mereka adalah sahabat masa muda ku saat masih salesman tahun 80an. Anton aku tahu punya bisnis tambang. Dia bermitra dengan pengusaha Singapore. Novi sendiri, mengelola hub trading untuk elektronik. Kantornya di Singapore tetapi market nya global.
Hujan baru saja reda ketika aku melangkah masuk ke café keciil. Anton dan Novi melambaikan tangan untuk aku mendekat. Rambut mereka sudah memutih. Sama denganku. Namun tetap sehat dan bugar.
“Aku sengaja pilih tempat ini,” kata Novi sambil tersenyum. “Rasanya seperti nostalgia. Ingat, kita pernah dulu sekali sangat miskin. Melata di jalanan mencari sesuap nasi. Menjual barang yang hampir sulit terjual. Karena tidak semua orang mau beli. Kini, kita menua dan tetap sehat. Dan bisa berkumpul lagi, mengenang masa lalu.” Lanjut Novi. Memang karena kesibukan. Kami tidak pernah saling bertemu sejak krismon tahun 1998.. Novi hijrah ke Singapore. Anton hijrah ke KL dan aku sendiri akhirnya hijrah ke China.
Anton tertawa kecil. “Enaknya ketemu Ale, selalu suka bicara soal yang serius. Dan kalau diajak becanda, dia hanya senyum.”
Novi menatapku sejurus. “Aku baca laporan BPS kemarin. Surplus ekspor kita cukup tinggi, tapi impor justru menurun. Orang-orang mungkin mengira itu kabar baik, padahal tanda bahaya.”
Aku mengangguk, mengaduk kopi hitamku yang masih panas. “Benar. Surplus ekspor itu seperti wajah cantik dengan hati yang rapuh. Kalau impor turun, bisa jadi karena daya beli domestik melemah. Barang-barang konsumsi yang biasanya masuk sudah tidak banyak dibeli. Industri dalam negeri pun tak berkembang, tidak ekspansif.”
Novi bersandar di kursinya, menarik napas panjang. “Dan itu bukan cuma soal perdagangan luar negeri. Penerimaan pajak juga turun. PPN dalam negeri merosot, padahal itu cermin konsumsi rakyat sehari-hari. Kalau PPN lemah, artinya orang-orang lebih sedikit berbelanja.”
Anton menatap keluar jendela. “Kita sedang hidup di masa aneh. Dari luar terlihat stabil: ekspor jalan, cadangan devisa ada. Tapi di dalam, daya beli rakyat drop, penerimaan negara menurun. Seperti rumah dengan cat baru, padahal kayunya lapuk.”
Novi mencondongkan tubuh, suaranya lebih pelan. “Dan jangan lupa, defisit neraca berjalan makin melebar. Kuartal pertama masih tipis, tapi kuartal kedua sudah menembus tiga miliar dolar. Itu berarti apa yang kita terima dari ekspor belum cukup menutupi apa yang harus kita bayar ke luar: bunga, dividen, jasa. Indonesia seperti pekerja yang gajinya lumayan, tapi utangnya lebih besar.”
Novi meletakkan sendok di atas piring kecil, menatap kami berdua dengan sorot mata yang lebih dalam dari cangkir kopi di hadapannya.
“Ekonomi kita,” katanya perlahan, “seperti perahu yang sudah lama bocor. Dari jauh tampak megah berlayar, benderanya berkibar, tetapi di lambungnya air merembes masuk. Orang di dek atas bertepuk tangan, sementara yang di ruang bawah sibuk menyendok air agar kapal tidak tenggelam.”
Aku terdiam. Anton hanya mendengus kecil.
Novi melanjutkan, nadanya tegas, “Subsidi energi yang terus membengkak itu ibarat tambalan darurat di perahu. Dari jauh terlihat kokoh, tapi nyatanya hanya kain basah yang ditempelkan. Dorongan belanja populis malah membuat bobot kapal semakin berat. Pasar tahu, mereka bisa mencium bau karat di lambung perahu itu. Kredibilitas fiskal perlahan runtuh.”
Ia berhenti sebentar, menatap kami. “Koordinasi fiskal dan moneter?” Novi tersenyum pahit. “Bayangkan dua nakhoda berebut kemudi. Pemerintah memaksa kapal belok ke kiri dengan mesin penuh, sementara Bank Indonesia mati-matian menahan kemudi ke kanan. Hasilnya? Kapal berputar di tempat, cadangan bahan bakar terkuras. Itulah cadangan devisa kita.”
Aku merasakan dadaku berat mendengarnya.
“Dan pemangkasan TKD?” Novi mengetuk meja pelan. “Itu seperti melepas dayung para awak di perahu kecil yang mengawal kapal induk. Saat ombak inflasi pangan datang, mereka tak punya alat untuk mengarahkan perahu. Akhirnya kapal kecil itu terguncang, penumpangnya panik, dan riak keresahan menyebar ke lautan luas.”
Anton menyalakan rokok dengan tersenyum menyimak Novi bicara. Tadinya waktu masih salesman Novi nyambi kuliah sore di PTS. Ketika hijrah ke Singapore dia ambil magister ekonomi.
“Investor?” Novi menarik napas panjang. “Mereka punya cermin bernama WUI. Cermin itu kini retak, dan di dalam retakan itu mereka melihat wajah kita yang bingung, tidak tahu arah. Mereka tahu disorientasi kita bukan sekadar badai global, tapi cacat di kompas sendiri. Itulah sebabnya premi risiko naik, dan biaya perjalanan makin mahal.”
Ia menatap kami dengan tatapan yang hampir seperti doa. “Jika 12 bulan ke depan kita masih terus seperti ini, maka lihatlah: nilai tukar akan menjadi layar yang koyak, cadangan devisa menjadi bahan bakar yang habis, subsidi meledak seperti lubang baru di perahu, dan keresahan sosial menjadi ombak yang mengguncang sampai ke dek paling atas.”
Aku menunduk, menggenggam cangkirku yang dingin. Novi lalu menutup catatannya, dan dengan suara nyaris aku berkata, “Masih ada jalan keluar. Ya, pasang pagar disiplin fiskal seperti jangkar baja, kembalikan TKD bersyarat agar perahu kecil bisa bertahan, sinkronkan kemudi fiskal-moneter agar kapal tidak berputar sia-sia, dan bicara jujur kepada penumpang tentang badai yang kita hadapi. Hanya dengan begitu kita bisa kembali dipercaya.”
Anton menghembuskan asap rokoknya, menatap kosong. “Kalau tidak, kita semua tahu jawabannya. Kapal ini akan karam. Dan setiap orang hanya akan menyelamatkan dirinya sendiri.”
Aku tersenyum getir. “Sebagai pengusaha berbisnis international yang terbiasa membuat keputusan berdasarkan data, semua ini bisa kita baca dari angka-angka, tapi jarang terdengar dalam pidato resmi. Yang ditonjolkan selalu cerita manis tentang ekspor, bukan luka di sisi lain. Tak terbilang kali saya ingatkan kalau ketemu dengan teman elite politik dan pejabat, tetapi mereka seperti tidak mendengar. Mereka anggap saya pesimis.”
“ Ya. Benar. “ Saru Anton. “ Mereka anggap kita pesimis. Padahal kalau kita punya mindset pesimis mana pula kita berani berbisnis di luar negeri. “
Saya mengangguk. “ Kritis itu repliksi betapa kita sangat mencintai negeri ini dan berharap anak cucu kita bisa tenang mencari nafkah di negeri ini tanpa harus seperti kita yang terpaksa hijrah.
Hening sesaat. Kami berdua menatap cangkir masing-masing. Di luar, hujan kembali turun tipis-tipis, seolah menggarisbawahi percakapan kami.
“Apa yang bisa kita lakukan?” tanya Novi akhirnya, suaranya lembut, lebih seperti sebuah doa.
“Sebagai pengusaha kita harus hati-hati kalau mau ekspansi. Lebih baik sekarang wait and see. Untuk bisnis yang export oriented, secepatnya lunasi utang bank dalam negeri dan alihkan ke luar negeri yang lebih stabil. Dengan begitu kita punya alasan untuk menghindari kewajiban DHE. Jadi kalau terjadi chaos, kita tinggal angkat koper, terbang, dan melanjutkan usaha dari luar negeri.” Kata Anton.
Aku dan Novi saling berpandangan. Jawaban Anton terdengar getir, sekaligus realistis. Di luar café, hujan masih turun pelan, seperti irama waktu yang mengingatkan: keputusan-keputusan besar kadang lahir dari percakapan sederhana di meja kopi.
Senja datang, menorehkan garis-garis panjang di kaca jendela. Kami bertiga terdiam, masing-masing larut dalam pikiran sendiri. Aku tahu kata-kata Anton bukan sekadar saran bisnis, melainkan isyarat getir: bahwa kepercayaan kepada negeri sendiri kian tipis, dan pengusaha harus menyiapkan pintu keluar. Novi menunduk, jari-jarinya mengetuk pelan meja kayu, seakan setiap ketukan adalah pertanyaan tentang masa depan.
Aku meneguk sisa kopi yang sudah dingin, lalu berkata lirih, “Lucu sekali, ya. Kita lahir di tanah ini, tumbuh dengan bahasa ini, tapi tiba-tiba merasa harus menyiapkan koper untuk menyelamatkan diri. Seperti cinta yang dipaksa merantau.”
Hening lagi. Di luar, lampu jalan mulai menyala, memantul di aspal basah. Sejenak aku sadar: bangsa ini bukan sekadar angka ekspor, impor, defisit, atau pajak yang menurun. Ia adalah rumah, rapuh sekaligus indah. Tapi rumah yang rapuh, bila terus diabaikan, pada akhirnya hanya akan menyisakan reruntuhan.
Dan dalam diam itu, aku merasakan getirnya kebenaran: jika kebijakan terus salah arah, mungkin yang tersisa hanyalah koper-koper yang berangkat, meninggalkan tanah yang pernah mereka cintai.
***
Pasar tidak bisa dibohongi. World uncertainty index adalah benchmark yang dihormati untuk mengukur ketidakpastian lintas-negara. Karena sumber data berasal dari Economist Intelligence Unit (EIU). Meliputi 143 negara. Apa yang memicu meningkatnya WUI atau ketidak pasti suatu negara? Guncangan global: krisis Asia (1997–98), Kita kena krismon, tetapi WUI kita tetap Oke. Begitu juga saat Global Financial Crisis (2008–09). WUI kita aman saja. Bahkan ada demo akbar 411 dan 212. WUI tetap bagus. Dalam situasi Pandemi COVID 19, WUI kita juga cerah.
Nah pada kuartal kedua tahun ini, World Uncertainty Index (WUI) Indonesia melonjak ke 1,10 Itu lebih tinggi dari tahun 1997-1998 dan COVID 19. Artinya tingkat ketidak pastian ekonomi kita kini sangat buruk sepanjang sejarah rezim. Itu data. Kini kita tercatat sebagai negara dengan ketidakpastian tertinggi di ASEAN—Thailand 0,69, Malaysia 0,65, Vietnam 0,58, Filipina 0,50, sementara Singapura hanya 0,18. Ini bukan sekadar angka: ini peringatan global bahwa investor membaca disorientasi kebijakan kita dengan jernih.
Hingga Agustus 2025, defisit APBN sudah 1,35% PDB. Yang paling mencolok adalah subsidi energi: Rp218 triliun hanya dalam delapan bulan, dengan porsi terbesar untuk BBM, LPG, listrik, dan pupuk. Belanja semacam ini kaku dan rentan guncangan harga minyak serta nilai tukar. Ironisnya, saat inflasi pangan melonjak di daerah (Sumut 5,32% vs nasional 2,65%), pemerintah justru memangkas Transfer ke Daerah (TKD) sebesar 24,8% untuk tahun depan. Artinya, Pemda kehilangan amunisi fiskal untuk melakukan operasi pasar atau intervensi harga.
Di sisi moneter, Bank Indonesia terpaksa menguras cadangan devisa demi menahan rupiah. Cadangan devisa anjlok ke USD150,7 miliar per Agustus 2025, level terendah 9 bulan terakhir. BI memang menjanjikan penggunaan “all available instruments”, tetapi kita tahu: intervensi tidak gratis. Cadangan terkikis, sementara utang luar negeri pemerintah tetap jatuh tempo.
Di atas kertas, RAPBN 2026 menargetkan defisit 2,48–2,53% PDB—seakan ingin menunjukkan konsolidasi. Tetapi realitasnya? Pemerintah justru mendorong stimulus konsumsi jangka pendek senilai USD2 miliar, plus injeksi likuiditas Rp200 triliun ke bank BUMN. Pesan ke pasar pun kacau: satu sisi bicara disiplin, sisi lain belanja jor-joran.
Apa Risikonya? Rupiah bisa makin rapuh jika arus modal keluar dan cadangan devisa terus tergerus.APBN terancam lebih berat jika harga minyak naik atau rupiah melemah, karena subsidi energi otomatis membengkak.Inflasi pangan daerah makin liar karena Pemda dipaksa berhemat saat daya beli rakyat melemah.Investor asing membaca ini sebagai inkonsistensi. Mereka tak peduli argumen buzzer, mereka hanya melihat risiko.
Indonesia kini berdiri di tepi jurang ketidakpastian. Pasar sedang bersiap menghukum, dan hukuman pasar datang tanpa ampun: capital outflow, rupiah jatuh, biaya utang meroket. Jika pemerintah terus menutup telinga dan membiarkan menteri-menteri tak kompeten mengelola ekonomi, maka bukan hanya kredibilitas negara yang runtuh—tetapi juga kesejahteraan rakyat.
Pesannya sederhana: kembalikan disiplin fiskal, hentikan subsidi jor-joran tanpa kendali, perbaiki koordinasi pusat-daerah, dan beri BI ruang tanpa intervensi politik. Bila tidak, jangan salahkan siapapun selain diri sendiri ketika pasar akhirnya berbicara lebih keras daripada rakyat.
Sudah tak terhitung berapa kali rakyat, ekonom, dan analis independen mengingatkan: kebijakan ekonomi Indonesia salah arah. Disiplin fiskal diabaikan, kebijakan moneter dipaksa menanggung beban politik, dan koordinasi belanja dibiarkan tak terarah. Namun, kritik itu selalu dimentahkan dengan argumen buzzer yang lebih mudah dikonsumsi publik awam ketimbang penjelasan berbasis data.
Referensi.
WUI Indonesia (Q2-2025 = 1,10044) – FRED/St. Louis Fed. BPS. Inflasi Sep-2025 = 2,65% yoy; Sumut 5,32% Reuters (data Kemenkeu). SSI/analisis pasar. Defisit APBN Jan–Agu 2025 = 1,35% PDB. Cadangan devisa turun ke USD150,7 miliar (Agu-2025) – SSI/analisis pasar. Indonesia Business Post (data Kemenkeu). Subsidi energi ±Rp218 triliun (s.d. 31/8/2025). Financial Times. Stimulus konsumsi & injeksi likuiditas bank BUMN. Fitch Ratings, Indonesia Business Post. Rencana defisit 2026 = 2,48–2,53% PDB. KPPOD (RAPBN 2026). Pemotongan TKD ~−24,8%.

Tinggalkan komentar