
London sore itu berkabut tipis. Dari jendela tinggi lantai 22 hotel Mayfair, lampu-lampu kota berpendar seperti butiran mutiara yang jatuh di atas permukaan Sungai Thames. Aku baru saja keluar dari ruang rapat panjang, di mana negosiasi akuisisi aset milik seorang konglomerat Rusia di Amerika Serikat berlangsung alot. Pihak penjual berusaha mempertahankan harga, sementara konsorsium yang kuwakili mencoba menekan valuasi dengan argumentasi risiko geopolitik dan ancaman sanksi Barat.
Di ujung koridor, aku melihat Elena. Ia datang dengan balutan coat wol warna biru tua, rambut pirangnya sedikit tergerai oleh angin yang masuk dari pintu berotasi. Tatapannya tenang, tetapi penuh kalkulasi. Elena bukan sekadar penasihat hukum; dia adalah team shadow ku yang menuntun masuk ke dunia Rusia yang penuh intrik. Dialah yang membawa dokumen-dokumen awal kepemilikan aset yang akan kami akuisisi, dan dialah yang membuka percakapan tentang nama besar yang membayangi seluruh transaksi ini: Boris Abramovich Berezovsky.
“Elena,” sapaku, sambil menyalami tangannya yang dingin. “Setiap kali negosiasi melibatkan aset Rusia, bayangan politik selalu ikut masuk ke meja. Apalagi ketika nama besar seperti Berezovsky ada di latar cerita.”
Ia tersenyum samar, seolah menyembunyikan rahasia yang sudah terlalu lama dipendam. “Kau benar. Tanpa memahami sosok Boris, tidak mungkin mengerti bagaimana logika bisnis—atau lebih tepatnya logika kekuasaan—berjalan di Rusia sejak perestroika. Semua jejak yang kita lihat hari ini, termasuk aset yang kau kejar di Amerika, berawal dari permainan bayangan itu.”
Aku menatap Elena, yang kini menyesap wine merah di tangannya. “Jadi semua yang kita hadapi hari ini—aset, proxy, bahkan negosiasi di meja ini—sebenarnya adalah warisan dari seorang Boris Berezovsky? Membeli dengan harga murah dan kemudian di clean up untuk dijual lagi “
Elena mengangguk pelan. “Ya. Dia adalah arsitek dari jaringan yang menghubungkan oligarki Rusia dengan Barat. Bahkan saat dia mati, warisannya tetap hidup: aset yang berseliweran di New York, London, Zurich, dan sekarang kau coba akuisisi di sini.”
Aku terdiam, menyadari bahwa negosiasi kami hanyalah satu bab kecil dari sejarah panjang antara sains, bisnis, dan kekuasaan—sebuah sejarah yang lahir dari seorang doktor matematika yang pernah bermimpi tentang mobil rakyat, tetapi berakhir sebagai bayangan tragis di antara raja dan negara.
Boris Abramovich Berezovsky bukanlah figur biasa. Seorang doktor matematika, anggota kehormatan Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, dan penulis produktif yang seharusnya hidup tenang di dunia sains. Namun gelombang perestroika pada 1989 mengubah arah hidupnya. Kaum terpelajar Rusia membuka pintu kebebasan dari komunisme, dan Berezovsky melihat celah emas: bisnis.
Modalnya kecil, hanya USD 50 juta dari pooling fund All-Russia Automobile Alliance (AVVA). Dengan jargon “mobil rakyat”, ia menarik dana rakyat kecil untuk investasi otomotif. Tapi uang itu tak cukup untuk membangun pabrik. Maka ia mendirikan LogoVAZ, perusahaan pemasok bagi AvtoVAZ, dan menguasai 30% saham AVVA. Itu sudah cukup baginya untuk mengendalikan penuh bisnis tersebut.
Namun langkah berani ini menantang status quo. Sebuah bom mobil hampir merenggut nyawanya. Alih-alih gentar, ia justru semakin agresif: pada 1994, ia menguasai ORT Televisi, menjadikannya corong anti-Komunis. Ia menunjuk pembaca berita populer Vladislav Listyev sebagai CEO, tapi Listyev terbunuh hanya setahun kemudian. Tragedi itu tidak melemahkan tekad Berezovsky—justru menguatkan.
Pada 1995, ia bertemu Roman Abramovich, pengusaha muda dengan ambisi besar. Lewat skema pinjaman pemerintah yang ditukar dengan saham BUMN, mereka menargetkan akuisisi Sibneft, raksasa migas Rusia. Abramovich hanyalah proxy, sementara Berezovsky tetap menjaga citra sebagai idealis pro-reformasi.
Tahun 1996 menjadi puncak pengaruhnya. Di Davos, ia dan Anatoly Chubais menggalang dana kampanye Yeltsin hingga 140 juta pound. Sekembalinya, ia berhasil mendekati putri Yeltsin, Tatyana Dyachenko, dan bersama Chubais memaksa pembersihan lawan-lawan politik. Tapi perseteruan internal segera muncul: Berezovsky dan Chubais berselisih dalam lelang Svyazinvest. Media menjadi senjata saling serang, hingga Yeltsin sendiri turun tangan. Berezovsky tersingkir, tapi tak sepenuhnya hilang.
Pada 1998, ia justru masuk kembali ke panggung sebagai eksekutif Persemakmuran Negara-Negara Merdeka. Meski sempat terjerat skandal Aeroflot, dukungan lingkar dalam Yeltsin membuatnya selamat. Dan di tengah kebingungan mencari penerus Yeltsin, Berezovsky melirik sosok yang kelak mengubah wajah Rusia: Vladimir Putin.
Putin menolak perintah membunuh Berezovsky ketika masih Direktur FSB. Persahabatan lama di St. Petersburg, serta bantuan finansial yang pernah ia terima, membuat Berezovsky yakin: dialah calon pengganti Yeltsin. Maka pada 1999, Berezovsky mendirikan Partai Persatuan untuk kendaraan politik Putin. Dengan dukungan media dan dana Abramovich, Putin melesat ke Kremlin.
Putin dilantik pada 8 Mei 2000. Namun hanya tiga minggu kemudian, Berezovsky menolak RUU yang memperkuat kekuasaan pusat atas daerah. Ia bersuara lantang demi demokratisasi—atau mungkin demi menjaga pengaruhnya sendiri. Sejak itu, ia jadi oposisi. Putin membalas dengan membuka kembali skandal Aeroflot. Berezovsky memilih eksil, sementara Abramovich resmi mengambil alih bisnisnya dan menjadi salah satu orang terkaya di Rusia—kini loyal kepada Putin.
Tahun 2013, Berezovsky ditemukan tewas di kamar mandi rumah mantan istrinya di Inggris. Dari king maker, ia berakhir dalam kemiskinan, meninggalkan hutang 100 juta pound sterling. Sebuah ironi: otak brilian, pengatur kekuasaan, tetapi akhirnya runtuh dalam bayangan permainan yang ia ciptakan sendiri.
***
Suasana bar hotel itu semakin lengang. Para pebisnis yang tadi memenuhi meja sudah pergi satu per satu, meninggalkan aroma alkohol yang bercampur dengan wangi kulit sofa. Dari balik kaca besar, London malam tampak dingin dan asing, seperti menegaskan bahwa di kota ini uang dan kekuasaan adalah bahasa resmi yang dipahami semua orang.
“Elena,” kataku, memecah diam panjang. “Berezovsky mati dalam kesendirian. Tetapi aset-aset yang ia bangun justru menjadi warisan yang terus diperebutkan sampai sekarang. Ironis, bukan? Seorang raja tanpa takhta, tetapi masih mengendalikan dunia dari kuburnya.”
Elena meletakkan gelasnya, matanya menatap lurus ke arahku. “Itulah Rusia. Sejarahnya bukan tentang stabilitas, melainkan tentang transisi kekuasaan yang selalu penuh darah. Berezovsky hanya satu figur dalam siklus itu. Ia pernah mencoba jadi arsitek kekuasaan, tapi akhirnya terjebak dalam permainan yang ia buat sendiri.”
Aku mengangguk. “Dan hari ini, kita berada di tengah pusaran warisan itu. Negosiasi akuisisi yang kujalani di sini bukan sekadar soal valuasi aset, tapi juga soal siapa yang akan mengendalikan bayangan kekuasaan itu. Aset ini bukan hanya tambang, bukan hanya perusahaan energi—ini adalah potongan sejarah politik Rusia yang jatuh ke tangan Barat.”
Elena tersenyum samar, lalu bersandar ke kursi. “Kau tahu apa yang paling ironis? Semua ini berawal dari mimpi sederhana: mobil rakyat. Tapi pada akhirnya, rakyat tidak pernah benar-benar memiliki apa-apa. Yang mereka miliki hanyalah debu, sementara oligarki dan para bankir mengukir kerajaan.”
Aku menatapnya lama. Ada kesedihan di balik suaranya, seakan ia pernah menyaksikan dari dekat bagaimana rakyat Rusia ditinggalkan di jalanan Moskow yang dingin, sementara miliarder mengangkat gelas di Davos.
“Lalu apa artinya bagi kita, Elena? Mengambil bagian dalam permainan ini, bukankah sama saja kita menjadi bagian dari warisan busuk itu?” tanyaku lirih.
Elena menatapku tajam, seolah ingin memastikan aku mendengar setiap kata. “Tidak. Bedanya, kau tidak bermain untuk satu rezim atau satu oligarki. Kau bermain untuk memahami sistem, dan menggunakannya. Ada perbedaan halus di sana. Sistem ini memang busuk, tapi justru karena busuk, ia bisa dibaca, bisa dikalkulasi. Dan siapa yang bisa membaca—dialah yang selamat.”
Aku terdiam, meresapi kata-katanya. Di luar sana, jam Big Ben berdentang, mengingatkan waktu yang terus berjalan.
“Elena,” ujarku pelan, “mungkin kita tidak bisa mengubah sejarah. Tapi kita bisa menulis catatan kaki yang tidak semua orang berani tulis: bagaimana uang, kekuasaan, dan mimpi-mimpi yang gagal itu tetap bisa memberi kita pelajaran.”
Ia tersenyum kecil, kali ini lebih hangat. “Dan catatan kaki itu, mungkin akan lebih abadi daripada raja mana pun.”
***
Pagi berikutnya, ruang rapat di lantai 30 Canary Wharf dipenuhi cahaya putih yang menembus kaca. Meja panjang dari kayu walnut mengkilap, di atasnya berderet dokumen, laptop, dan botol air mineral berlabel elegan. Suasana ruangan terasa dingin—bukan hanya karena AC, tetapi karena tatapan orang-orang di sekeliling meja yang lebih tajam daripada bilah pisau.
Di ujung meja duduk Jonathan Whitmore, banker senior dari Barclays Capital. Wajahnya kaku, penuh kalkulasi. Di sampingnya ada dua pengacara dari firma hukum internasional, Clifford Chance. Mereka membawa bundel dokumen tebal yang tampak seperti kitab suci bisnis modern.
Aku duduk di sisi kanan, dengan Elena di sampingku. Ia mengenakan setelan abu-abu muda, rambut pirang tersusun rapi, dan mata birunya berkilat seperti es. Tidak ada senyum basa-basi. Di meja ini, semua orang tahu: satu kalimat bisa berarti ratusan juta dolar, dan satu gestur bisa meruntuhkan kesepakatan.
Jonathan membuka rapat dengan suara datar. “Gentlemen, kita semua tahu aset yang sedang dibicarakan ini, sebuah perusahaan energi dengan jejak bisnis di Amerika berasal dari struktur kepemilikan yang tidak sederhana. Pertanyaannya hanya satu. Siapa pemilik sebenarnya? Dan apakah akuisisi ini akan menimbulkan liability politik di masa depan?”
Aku menatapnya, lalu bicara tenang. “Kepemilikan saham mayoritas memang berlapis. SPV di Cyprus, kemudian trust di Jersey, dan ujungnya nama yang sudah Anda semua baca di dokumen intelijen: Roman Abramovich. Tetapi setelah pembekuan aset tahun 2022, kontrol efektif berpindah. Apa yang kami beli hari ini bukanlah bayangan politik, melainkan real asset yang berdiri di tanah Amerika, tunduk pada hukum Amerika.”
Seorang pengacara menyela: “Tuan, Anda tahu reputasi aset ini. Ada risiko jika Departemen Keuangan AS menganggapnya masih bagian dari proxy Rusia. Itu bisa berarti pembekuan ulang.”
Sebelum aku menjawab, Elena mencondongkan tubuhnya. Suaranya halus, tapi penuh kekuatan. “Kalian selalu bicara tentang risiko, seakan pasar adalah ruang steril. Padahal semua transaksi besar, terutama yang melibatkan energi adalah politik. Pertanyaannya bukan apakah aset ini berisiko, tapi kepada siapa risiko ini dialihkan. Dan di sinilah letak kekuatan kesepakatan kita.”
Jonathan terdiam sejenak, lalu menatapku. “Jadi Anda yakin bisa menjinakkan bayangan Rusia di balik aset ini?”
Aku tersenyum tipis. “Bukan menjinakkan. Membacanya. Karena bayangan, tidak bisa dibunuh, hanya bisa dipahami.”
Dokumen keuangan diproyeksikan ke layar. Valuasi perusahaan dipatok di angka 3,8 miliar dolar. Tim bankir mencoba mendorong ke atas, menekankan potensi cadangan energi. Aku menolak halus, dengan argumentasi bahwa discount geopolitik harus dihitung: sanksi, risiko reputasi, dan kemungkinan litigasi.
“Kalau tanpa diskon geopolitik,” kataku, “ini bukan akuisisi. Ini bunuh diri.”
Elena menambahkan: “Dan jangan lupa, pasar New York sudah melihat jejak oligarki di balik perusahaan ini. Harga sahamnya stagnan, bukan karena bisnisnya lemah, tetapi karena persepsi. Itu artinya kita punya leverage.”
Seorang banker muda di sisi lain meja berbisik pada koleganya, tapi cukup keras terdengar: “Mereka bicara seakan sedang menulis ulang sejarah Berezovsky.”
Aku menoleh, menatapnya lurus. “Sejarah memang ditulis ulang di meja seperti ini. Di Davos, di London, di New York. Bedanya, kita tahu harga setiap kalimat.”
Ruangan kembali hening.
Saat jeda, aku dan Elena keluar sejenak ke balkon kaca. London terbentang abu-abu, dingin, tapi indah.
“Elena,” kataku sambil menyalakan rokok. “Mengakuisisi aset seperti ini sama saja dengan membeli fragmen sejarah. Kita membeli kepingan cerita Berezovsky, Abramovich, dan Putin—dalam bentuk saham dan cadangan energi.”
Elena menatap ke bawah, melihat sungai Thames yang mengalir. “Benar. Dan mungkin ironisnya, hanya mereka yang mengerti bahwa uang adalah narasi, yang bisa bertahan di dunia seperti ini. Sisanya hanyalah penonton yang membayar tiket.”
Aku mengangguk pelan. Di meja rapat tadi, aku sadar: negosiasi ini bukan hanya soal angka. Ini adalah drama geopolitik, di mana kami berdua memainkan peran yang bahkan tidak tertulis di kontrak.
***
Restoran itu terletak di Chelsea, tersembunyi di sudut jalan kecil dengan pintu kayu ek berlapis cat hitam. Di dalam, lampu kuning temaram memantul di gelas kristal, musik jazz lembut mengalun, seolah menghapus jejak tegang dari ruang rapat tadi siang. Aku memilih meja di sudut, jauh dari keramaian, hanya ada kami berdua.
Elena datang dengan gaun hitam sederhana, tanpa perhiasan mencolok. Keanggunannya tidak pernah membutuhkan dekorasi. Pelayan menuangkan Bordeaux ke dalam gelas, meninggalkan kami dengan daging panggang yang masih mengepulkan aroma rosemary.
Kami makan dalam diam beberapa saat, lalu Elena yang memecah kesunyian. “Di ruang rapat tadi, aku melihatmu seperti seorang aktor di panggung teater. Kalimatmu tidak hanya soal valuasi, tapi seperti menekan tombol memori kolektif. Seolah kau sedang berbicara bukan hanya pada bankir, tapi pada arwah Berezovsky sendiri.”
Aku tersenyum kecil. “Mungkin benar. Setiap akuisisi besar bukan sekadar transaksi; ia adalah penggalian kuburan. Kita membeli fragmen, kita membuka kisah yang dikubur bersama nama-nama besar. Berezovsky, Abramovich, Putin—semuanya meninggalkan jejak yang kini kita jadikan angka.”
Elena menatapku lama, lalu berkata lirih:
“Kau tahu, itulah yang paling mengerikan sekaligus indah dalam kapitalisme. Ia menjadikan tragedi manusia sebagai ekuitas, menjadikan kematian sebagai valuasi, menjadikan pengkhianatan sebagai leverage. Dan kita berdua duduk di sini, minum anggur, seolah itu semua wajar.”
Aku menaruh garpu, menatap matanya. “Elena, kau berbicara seakan ingin membenci permainan ini. Tapi mengapa kau tetap di dalamnya?”
Ia tertawa kecil, getir. “Karena siapa pun yang pernah melihat sistem ini dari dekat tahu satu hal: keluar bukan berarti bebas, keluar berarti lenyap. Lebih baik menjadi bidak yang sadar dirinya di papan catur, daripada menjadi pion yang bahkan tidak tahu ia sedang dimainkan.”
Aku terdiam. Kata-katanya menusuk, seperti cermin yang memantulkan wajahku sendiri.
Kami kembali diam, membiarkan musik dan denting gelas menggantikan kata-kata. Di luar, hujan tipis mulai turun, membasahi kaca jendela, membuat lampu jalan terlihat seperti lukisan impresionis.
Aku kemudian berkata pelan, hampir seperti bisikan, “Kalau semua ini hanya permainan, di mana tempat bagi kita sebagai manusia? Di luar angka, di luar neraca, apa yang tersisa?”
Elena menunduk, mengaduk anggurnya perlahan. “Yang tersisa hanyalah fragmen kecil yang kita simpan untuk diri kita sendiri. Senyum tulus yang langka, sentuhan yang tak tercatat di kontrak, percakapan yang tak masuk dalam laporan tahunan. Itu semua tidak akan menyelamatkan dunia, tapi setidaknya bisa menyelamatkan jiwa.”
Aku terdiam, menatap wajahnya yang diterangi cahaya lilin. Ada sesuatu di balik kalimat itu—sebuah kerentanan, sebuah sisi manusiawi yang jarang muncul di ruang rapat.
Saat makan malam usai, kami berjalan keluar. London basah oleh hujan. Elena menarik syalnya, aku menyalakan rokok, dan kami berjalan berdampingan menyusuri jalan sempit yang berkilau karena cahaya lampu kota.

Tak ada lagi kata-kata besar tentang Rusia, Berezovsky, atau akuisisi. Hanya langkah pelan dua orang yang tahu bahwa di balik setiap angka, ada ruang sunyi yang ingin tetap diisi oleh kehangatan manusia.
“Elena,” kataku pelan, “mungkin suatu hari kita akan kehilangan semua ini—uang, saham, bahkan sejarah. Tapi percakapan malam ini, aku ingin mengingatnya lebih lama daripada semua kontrak yang kutandatangani.”
Elena menoleh, menatapku dengan senyum samar. “Mungkin itu satu-satunya hal yang benar-benar bisa kita miliki.”
Kami terus berjalan, dan hujan London malam itu terasa seperti saksi yang diam-diam menyimpan rahasia kami.
***
Pagi di London selalu dingin, tapi pagi itu lebih dingin dari biasanya. Bukan karena cuaca, melainkan karena keputusan yang harus diambil. Negosiasi selesai, harga disepakati. Namun angka hanyalah permukaan; pertanyaannya sekarang adalah bagaimana menutup transaksi tanpa memicu radar otoritas dan tetap menjaga fleksibilitas politik.
Kami kembali ke ruang rapat kecil. Hanya aku, Elena, dan dua banker kepercayaanku. Di meja ada secarik kertas yang penuh coretan—bukan sekadar angka, tapi sebuah arsitektur bayangan. Dimana SPV (Special Purpose Vehicle) di Luxembourg sebagai kendaraan utama. Tujuannya menampung dana investor institusional dari Eropa yang tak ingin namanya disebut. Dengan orphan structure, di mana saham SPV dipegang oleh trust independen agar tak bisa dilacak ke salah satu pihak. Bridge Loan dari konsorsium bank Swiss senilai 800 juta dolar. Jatuh tempo: 18 bulan. Refinancing lewat penerbitan obligasi privat, Rule 144A.
Sebagian besar ekuitas tidak akan dibayar penuh. Sebaliknya, kita gunakan Total Return Swap (TRS) dengan fund di Cayman. Dengan TRS, kita hanya setor margin awal, sisanya dibiayai pasar. Risiko harga aset ditransfer ke pihak lain, tapi hak ekonomis tetap di tangan kita. CDS dipasang diam-diam terhadap risiko default dari entitas AS tempat aset itu berdiri. Dengan premi kecil, investor merasa aman karena jika ada pembekuan aset oleh otoritas, ada pembayaran kompensasi.
Elena mendengarkan dengan seksama, lalu berkata, “Struktur ini elegan, tapi terlalu halus. Kau sadar, kan, setiap SPV, setiap CDS, setiap swap yang kau susun, sebenarnya seperti lapisan kabut? Mereka menutupi kebenaran, tapi juga membuat kita bisa berjalan tanpa terlihat.”
Aku mengangguk. “Ya, Elena. Itulah inti shadow finance. Tidak ada transaksi besar yang murni terang-benderang. Yang ada hanyalah lapisan-lapisan ilusi, dan ilusi itu cukup kuat membuat semua pihak percaya bahwa mereka aman.”
Seorang banker bertanya: “Mengapa kita tidak saja menutup akuisisi ini dengan dana segar dari sovereign wealth fund Asia? Mereka punya likuiditas besar.”
Aku menoleh padanya, lalu menjawab dengan nada dingin.“Karena dana segar itu terlalu terang. Semua mata akan melihat. Apa yang kita butuhkan bukan uang, tapi narasi, sebuah arsitektur yang membuat setiap pihak merasa sedang menonton cerita yang berbeda, meskipun panggungnya sama.”
Elena tersenyum samar, lalu menambahkan “Bayangkan ini seperti permainan cermin. Di satu sisi, Amerika melihat akuisisi oleh entitas Luxembourg, sah secara hukum. Di sisi lain, bank Swiss melihat pinjaman yang aman dengan jaminan saham. Investor di Cayman melihat swap yang menguntungkan. Sementara publik hanya melihat angka di layar bursa. Tidak ada yang benar-benar melihat keseluruhan cermin, kecuali kita.”
***
Dalam beberapa hari berikutnya, skema itu mulai dijahit oleh team Ale Capital. Dokumen SPV ditandatangani oleh firma hukum di Luxembourg. Bank Swiss menyusun term sheet bridge loan dengan bunga LIBOR + 250 basis poin. Di New York, firma sekuritas menyiapkan kerangka penerbitan obligasi Rule 144A dengan tenor lima tahun. Hedge fund di Cayman mulai menghitung margin untuk TRS. Semua bergerak senyap, tanpa headline, tanpa kamera.

Malamnya, aku dan Elena berdiri di balkon hotel, menatap lampu London yang gemerlap.
“Elena,” kataku, “kadang aku merasa transaksi seperti ini bukan sekadar bisnis. Ia seperti menulis ulang sejarah dengan angka, menutup bab yang dimulai dari Berezovsky, Abramovich, hingga Putin, lalu membuka bab baru di tangan kita.”
Elena menatap jauh ke horizon. “Benar. Tapi ingat, setiap bab baru hanya sementara. Pada akhirnya, sejarah akan kembali menuntut bayaran. Pertanyaannya: apakah kita siap membayar harga itu?”
Aku tidak menjawab. Dalam diam, aku tahu: harga itu mungkin bukan dalam bentuk uang.
***
London malam itu masih basah oleh hujan. Dari jendela kamar hotel Mayfair, lampu kota berpendar samar, seakan menjadi saksi bisu transaksi yang baru saja kututup. Nilainya miliaran dolar, tetapi maknanya jauh lebih dalam dari sekadar angka.
Mengakuisisi aset eks-Boris Berezovsky bukan hanya soal membeli saham atau cadangan energi. Itu adalah pembelian fragmen sejarah—potongan dari sebuah kerajaan bayangan yang lahir dari perestroika, tumbuh di atas darah dan intrik, lalu runtuh bersama sang pemilik yang mati sendiri di pengasingan.
Untungnya jelas: aset itu kami peroleh dengan diskon geopolitik, jauh di bawah valuasi normal karena stigma Rusia. Begitu masuk ke struktur baru—SPV di Luxembourg, swap di Cayman, obligasi Rule 144A di New York—aset itu seketika berubah: dari hantu politik menjadi mesin kas nyata. Dari bangkai reputasi menjadi aliran laba.
Tapi lebih dari itu, kami juga membeli narasi. Aset ini adalah kunci kecil untuk membuka pintu besar: akses ke meja global, leverage di percaturan energi, bahkan posisi tawar dalam percakapan politik. Di tangan orang lain, mungkin ia hanya tambang atau kilang minyak. Di tanganku, ia adalah potongan peta kekuasaan.
Aku menatap gelas wine yang tinggal separuh, teringat kata-kata Elena:
“Sistem ini memang busuk. Tapi justru karena busuk, ia bisa dibaca, bisa dikalkulasi. Dan siapa yang bisa membaca—dialah yang selamat.”
Aku menarik napas panjang. Di luar sana, jam Big Ben berdentang, menandai berlalunya waktu. Sejarah tidak pernah mati; ia hanya berganti tangan. Dan malam ini, sebagian dari sejarah Rusia itu resmi berada di tanganku—dibeli murah, dibersihkan, dan siap dijadikan bab baru dalam permainan yang tak pernah benar-benar berakhir.

Tinggalkan komentar