Uang mengalir ke UEA…

Sore itu Jakarta agak lengas, hujan baru reda. Kami bertiga—saya, Herman, dan Abeng—duduk di sebuah kafe di Sudirman. Jalanan masih ramai, mobil-mobil menyalakan lampu, memantul di aspal basah. Kopi hitam kami mengepul di meja, dan seperti biasa, obrolan ringan berubah menjadi diskusi yang tak pernah ringan.

Herman menaruh ponselnya di meja. “Eh, gue baca berita. Katanya tahun ini ada 9.800 orang kaya dunia pindah ke Dubai. Serius segitu banyak? Apa sih yang bikin orang-orang itu mau buang duit dan hidup di padang pasir?”

Saya tertawa kecil. “Bukan padang pasir lagi, Man. Dubai itu udah kayak Disneyland buat orang kaya. Pajak penghasilan? Nol persen. Capital gain? Nol. Properti? Juga nol. Mereka kayak bikin mall raksasa khusus orang kaya, di mana pajak itu barang diskon.”

Abeng langsung menimpali, sambil mengaduk kopinya yang sudah terlalu pahit. “Jangan salah. Orang kaya tuh pinter cari promo. Kalau di Eropa, pajak bisa 40 persen ke atas, di Inggris 45 persen. Lah di Dubai, gratis. Kayak belanja Black Friday tiap hari. Jadi wajar aja mereka pindah.”

Herman mengangkat alis. “Ya, tapi kan Timur Tengah rawan konflik. Gimana kalau perang?”

Saya menghela napas. “Justru itu kehebatannya. Dubai sama Abu Dhabi jadi oase stabil di tengah badai. Mereka jualan ‘jaminan tenang’. Orang kaya nggak mau ribut. Mereka mau tidur nyenyak tanpa takut besok pagi asetnya disita atau demo bakar jalan.”

Abeng menyeringai, nadanya satir. “Intinya gini, Man. UEA tuh bukan negara, tapi semacam servis center buat kapital global. Semua bisa masuk: Rusia yang kena sanksi, India yang nyari pelindung, Afrika yang cari aman, bahkan orang Eropa yang kesel sama pajak. Dubai itu kayak food court, tiap meja ada orang kaya dari negara berbeda, tapi makannya sama: bebas pajak.”

Herman terdiam sebentar, lalu tertawa. “Jadi Dubai itu kayak Grand Indonesia, ya? Bedanya, pengunjungnya miliuner semua.”

Kami bertiga tergelak. Saya menambahkan sambil mengangkat cangkir kopi. “Bahkan sekarang mereka kasih Golden Visa sepuluh tahun. Itu kayak membership card. Masuk, tinggal, buka usaha, semua lancar. Orang kaya nggak perlu ribut urusan imigrasi. Tinggal gesek kartu, langsung bebas.”

Abeng menepuk bahu Herman. “Bayangin aja, kalau di Eropa, pajakmu separuh gaji. Di Dubai, duitmu utuh, plus bisa pamer Ferrari di jalan tol. Itu bukan sekadar iming-iming, itu gaya hidup. Dubai berhasil bikin kapital global jatuh cinta. Mereka bukan jual minyak lagi, tapi jual ilusi: bahwa dunia bisa dibeli asalkan domisili tepat.”

Kami hening sebentar, memandangi jalan Sudirman yang padat. Di luar sana, motor-motor berdesakan, sopir taksi mengumpat, dan lampu merah tak kunjung berubah.

Herman akhirnya berkomentar pelan, suaranya agak getir. “Lucu juga. Orang kaya cari surga pajak di Dubai. Sementara kita di sini, rakyat masih pusing mikirin bayar pajak motor sama listrik.”

Saya dan Abeng saling pandang. Kami tahu, obrolan hitu pahit tapi nyata. Dunia memang sedang bergerak—dan pusat gravitasinya, entah kenapa, kini ada di padang pasir yang penuh menara kaca, yang menawarkan surga pajak, sementara negeri kita apapun dipajaki tetapi tetap miskin.

“ Aneh, Dollar melemah tetapi rupiah juga melemah..” Tanya herman lagi.

“Fenomena ini memang sering membingungkan. Banyak orang masih berpikir bahwa melemahnya dolar AS seharusnya otomatis menguatkan rupiah. Padahal, patokan global melemahnya dolar dihitung lewat Dollar Index (DXY) — sebuah keranjang enam mata uang utama dunia. Jika dolar melemah terhadap euro atau yen, bukan berarti rupiah ikut menguat.

“ Terus kenapa Rupiah ikut melemah?

“ Band antara IDR dan USD itu jauh sekali. Sama seperti jarak kutup utara ke kutup selatan. Jadi kalau USD melemah, Indonesia ikut melemah artinya jarak USD dan IDR semakin jauh dan jauh..” Kata Abeng.

“ Ok, terus apa penyebabnya” tanya Herman.

Pertama, pelemahan DXY mendorong investor melakukan portfolio rebalancing. Mereka keluar dari aset berdenominasi USD maupun rupiah, lalu masuk ke yen, emas, dan komoditas seperti tembaga. Kenapa? Karena spread BI rate dan Fed rate semakin tipis setelah Bank Indonesia menurunkan suku bunga. Dengan imbal hasil yang semakin tidak menarik, rupiah ditinggalkan.

Kedua, defisit transaksi berjalan melebar. Impor jasa yang lebih besar dibanding ekspor menggerus cadangan devisa. Ditambah, defisit fiskal juga melebar, akibat kebijakan perpajakan dan Cukai, dan absennya program efisiensi APBN. Kombinasi ini membuat persepsi pasar terhadap fundamental Indonesia semakin rapuh.

Ketiga, capital outflow tak terbendung. Bank Indonesia terpaksa menutupinya dengan menerbitkan Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Jangan lupa, Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia negatif lebih dari USD 200 miliar. Risiko sudden rush sewaktu-waktu menghantui.

“ Terus kalau begitu kenapa kurs rupiah engga terjun bebas aja sekalian.? Kata herman tersenyum sinis seakan meragukan argumen saya. ” Masih volatile aja tuh” sambungnya.

Kan masih ada buffer Rp 400 triliun tabungan pemerintah. Cadangan ini memberi ruang bagi BI untuk intervensi pasar. Namun intervensi bukan berarti solusi permanen. Pasar finansial global punya karakter seperti bandar yang menunggu lawan habis modal. Selama dana intervensi masih ada, ruang berhutang masih ada, rupiah digoyang pelan. Begitu habis, barulah risiko sell-off bisa membuang rupiah ke posisi yang lebih lemah, bahkan ekstrem.

Abeng, dengan gaya sarkastik, menyebut: “Tissue toilet lebih berharga daripada rupiah.” Sebuah cermin kejam bagaimana persepsi pasar bisa menghancurkan martabat mata uang jika fundamental tak diperbaiki.

Herman mencoba mencari harapan: “Katanya Danantara sukses jual Patriot Bond, kan itu kuat.”

Namun Abeng menepisnya. Patriot Bond hanyalah narasi media untuk memberi ilusi kepercayaan. Mana mungkin konglomerat dalam negeri membeli obligasi dengan bunga rendah menggunakan uang tunai mereka sendiri? Narasi itu lebih sebagai market influence ketimbang realitas transaksi. Ironisnya, publik masih banyak yang menelan mentah-mentah.

***

Fenomena perpindahan orang kaya dunia (High Net Worth Individuals / HNWI) kian menjadi sorotan dalam studi ekonomi global. Laporan Henley Private Wealth Migration Report 2025 menempatkan Uni Emirat Arab (UEA) sebagai destinasi nomor satu dengan arus masuk sekitar 9.800 billionaire baru pada tahun ini, naik signifikan dari 6.700 di 2024. Tren ini berjalan beriringan dengan laporan HSBC yang menemukan bahwa 59% entrepreneur global berencana memindahkan kekayaan mereka ke luar negeri pada 2025, dengan destinasi utama Singapura, Inggris, dan Swiss.

Artinya, UEA bukan satu-satunya magnet, tetapi bagian dari fenomena global di mana pusat-pusat keuangan tertentu — Singapura, Swiss, London, dan Dubai — berebut menjadi “terminal transit” kapital dunia, sementara negara-negara lain seperti Indonesia justru mengalami arus keluar kekayaan.

Ada lima pilar utama yang menjelaskan mengapa UEA menjadi magnet kapital global.

Pertama, rezim pajak yang ekstrem ramah kapital. Tidak ada pajak penghasilan pribadi, tidak ada pajak keuntungan modal, bahkan pajak properti pun nyaris nol. Dengan kondisi ini, UEA secara praktik berfungsi sebagai tax haven, meski tidak secara formal dicap demikian seperti Swiss atau Cayman Islands. Bagi High Net Worth Individuals (HNWI), rezim pajak nol persen ini berarti efisiensi luar biasa: kekayaan bisa tumbuh tanpa tergerus fiskal, sehingga daya tariknya jauh melampaui pusat keuangan tradisional yang semakin ketat aturannya.

Kedua, stabilitas politik dan keamanan. Dubai dan Abu Dhabi menawarkan sesuatu yang langka di kawasan Timur Tengah: kepastian politik. Di tengah konflik regional, UEA berhasil menjaga keamanan internal, memberikan jaminan bagi pemilik modal bahwa aset mereka tidak akan terancam nasionalisasi, kudeta, atau gejolak sosial. Faktor psikologis ini sangat menentukan, sebab bagi orang kaya, keamanan adalah fondasi pertama sebelum berbicara investasi.

Ketiga, diversifikasi ekonomi dan infrastruktur sebagai global hub. UEA tidak lagi semata mengandalkan minyak. Investasi besar-besaran diarahkan ke pariwisata, real estate, keuangan, dan teknologi. Dubai International Financial Centre (DIFC) menjadi pusat regional investasi, tempat beroperasinya bank internasional, family offices, dan perusahaan pengelola aset. Infrastruktur kelas dunia — dari bandara hingga jaringan logistik — membuat Dubai tidak hanya ramah wisatawan, tetapi juga nyaman bagi investor yang ingin mengelola portofolio globalnya.

Keempat, mobilitas global. Melalui kebijakan Golden Visa selama 10 tahun, bahkan dalam beberapa kasus pemberian kewarganegaraan terbatas, UEA membuka pintu luas bagi investor asing. Prosesnya jauh lebih sederhana dibanding banyak negara Barat yang cenderung birokratis. Bagi HNWI, mobilitas ini berarti fleksibilitas: mereka bisa tinggal, berbisnis, dan mengakses pasar global tanpa hambatan administratif yang rumit.

Kelima, geopolitik kekayaan. UEA memainkan peran unik sebagai neutral hub antara Barat dan Timur. Dubai menerima arus modal dari Rusia, India, Afrika, hingga Eropa. Setelah perang Rusia–Ukraina, ribuan HNWI Rusia memindahkan aset mereka ke Dubai untuk menghindari sanksi Barat. Tren ini berlanjut hingga sekarang, memperkuat citra UEA sebagai pelabuhan netral bagi kapital global. Posisi ini sulit ditiru oleh negara lain karena UEA berada di titik silang geopolitik, namun mampu menjaga hubungan diplomatik yang relatif seimbang dengan blok kekuatan dunia.

Dengan kombinasi lima faktor ini, UEA tidak sekadar menjadi destinasi investasi, melainkan juga arsitektur baru dalam geopolitik keuangan global. Migrasi 9.800 millionaire tahun ini hanyalah manifestasi kasat mata dari strategi yang dirancang bertahun-tahun: menjadikan Dubai dan Abu Dhabi sebagai “surga kapital” di era ketidakpastian global.

Kalau pajak rendah bahkan nol, lantas UEA dapat apa  secara ekonomi?  Ada tiga implikasi utama yang paling terlihat.

Pertama, pertumbuhan pasar real estate. Migrasi HNWI secara otomatis menciptakan lonjakan permintaan hunian mewah, baik apartemen super premium di pusat kota maupun vila eksklusif di kawasan tepi laut. Sejak 2022, harga properti di Dubai meningkat rata-rata 15–20% per tahun, sebuah angka yang jauh di atas pertumbuhan normal pasar perumahan global. Lonjakan ini bukan hanya didorong oleh kebutuhan tempat tinggal, melainkan juga oleh logika investasi: properti di Dubai dianggap sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan risiko geopolitik.

Kedua, peningkatan likuiditas dan aset finansial. Kedatangan HNWI berarti aliran masuk modal ke sektor keuangan. Dana kelolaan (assets under management) di pusat-pusat finansial Dubai melonjak drastis, terutama di Dubai International Financial Centre (DIFC). Dari sinilah UEA menjelma sebagai magnet baru bagi family offices yang mengatur kekayaan lintas generasi, serta hedge fund yang mencari basis operasional di luar yurisdiksi tradisional seperti London atau New York. Infrastruktur finansial yang modern, sistem hukum berbasis common law di zona khusus, serta konektivitas global menjadikan Dubai setara bahkan lebih menarik bagi banyak investor internasional.

Ketiga, reputasi global sebagai safe haven. UEA kini sejajar dengan Swiss dan Singapura dalam daftar negara tujuan migrasi kekayaan dunia. Bedanya, UEA memadukan rezim pajak nol persen dengan citra sebagai negara modern di kawasan Teluk yang stabil, sesuatu yang unik dalam lanskap geopolitik global. Posisi ini membuat Dubai bukan hanya menjadi tempat parkir aset, melainkan juga simpul geopolitik keuangan. Di tengah ketegangan Barat–Timur, UEA berhasil memosisikan diri sebagai pemain netral yang bisa menerima modal dari berbagai blok tanpa diskriminasi.

Implikasi-implikasi ini memperkuat posisi UEA dalam peta kapital global. Apa yang dulu dipandang sebagai “ekonomi minyak” kini berkembang menjadi ekonomi jasa finansial dan real estate premium, dengan reputasi sebagai oase kapital di tengah ketidakpastian dunia. Sebuah cara yang fenonemal dalam melakukan transformasi ekonomi dari SDA ke  jasa. Itu berkat rendahnya tingkat korupsi.

Bagaimana dengan negara asal orang kaya? Fenomena ini bukan tanpa konsekuensi bagi negara asal para HNWI. Pertama, terjadi capital flight, di mana modal yang seharusnya menjadi basis pajak justru keluar. Hal ini memperburuk ketimpangan karena kelas kaya menghindari beban fiskal, sementara kelas menengah tetap membayar. Kedua, brain drain ekonomi ikut terjadi. Bukan hanya uang, tetapi juga jejaring bisnis, inovasi, dan modal sosial ikut berpindah, menggerus kapasitas domestik. Ketiga, muncul tekanan politik internal. Negara asal dipaksa mereformasi rezim pajak, memperbaiki stabilitas, dan mengurangi korupsi jika tidak ingin terus kehilangan orang kaya dan modalnya.

Mengapa ? Fenomena ini menimbulkan pertanyaan akademis: apa faktor penarik (pull factors) UEA, apa implikasinya terhadap struktur ekonomi dan geopolitik, serta bagaimana negara lain dapat belajar dari fenomena tersebut. Fenomena migrasi orang kaya lintas negara — atau High Net Worth Individuals (HNWI) — tidak bisa hanya dipandang sebagai perpindahan domisili pribadi. Ia adalah fenomena kompleks yang dapat dijelaskan melalui sejumlah kerangka analitis yang sudah lama dikenal dalam kajian migrasi, ekonomi politik, dan keuangan global.

Salah satu kerangka klasik adalah Push-Pull Theory yang berakar dari kajian Ravenstein (1885) dan kemudian dikembangkan Lee (1966). Dalam perspektif ini, perpindahan orang kaya terjadi karena dorongan (push) dari negara asal dan tarikan (pull) dari negara tujuan. Dorongan bisa berupa beban pajak yang tinggi, ketidakstabilan politik, atau bahkan konflik yang menimbulkan ketidakpastian. Sebaliknya, tarikan muncul dari rezim pajak yang lebih ringan, stabilitas politik yang terjamin, serta adanya peluang investasi yang dianggap lebih aman atau lebih menguntungkan. Migrasi ke Uni Emirat Arab (UEA) misalnya, menunjukkan pola ini: negara-negara asal dengan pajak tinggi atau risiko politik besar mendorong arus keluar, sementara UEA dengan pajak nol persen dan stabilitas kawasan justru menjadi magnet.

Kerangka lain yang relevan adalah Global Tax Competition Theory sebagaimana diuraikan oleh Zucman (2015). Di era globalisasi finansial, negara-negara berlomba-lomba mendesain sistem perpajakan yang ramah bagi aset dan modal global. Kompetisi pajak antarnegara bukan sekadar instrumen fiskal, melainkan strategi geopolitik untuk menarik kapital dan kelas kaya dunia. UEA adalah contoh ekstrem dari strategi ini: dengan menciptakan zero income tax jurisdiction, mereka berhasil menyalip pusat keuangan tradisional seperti Swiss atau London dalam arus masuk kekayaan baru.

Selain itu, ada pula pendekatan Portfolio Diversification & Asset Protection sebagaimana dibahas Solimano (2010). Orang kaya tidak hanya berpindah karena tarif pajak, melainkan juga untuk tujuan proteksi aset dan diversifikasi portofolio. Dalam dunia yang ditandai ketidakpastian geopolitik, fluktuasi pasar, dan ancaman inflasi, HNWI mencari lokasi yang mampu memberi jaminan hukum, infrastruktur keuangan yang kuat, serta reputasi sebagai safe haven. Dubai dan Abu Dhabi memenuhi fungsi ini, menjadi ruang parkir aman bagi kekayaan dari Rusia, India, Afrika, hingga Asia Tenggara.

Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi peringatan. Indonesia bukan destinasi utama migrasi HNWI karena pajak relatif tinggi, perlindungan hukum atas aset belum teruji, dan stabilitas politik masih fluktuatif. Sebaliknya, Singapura — dengan tarif pajak lebih rendah, kepastian hukum, dan status pusat finansial Asia — justru masuk 10 besar global dengan arus masuk 3.800–4.000 HNWI di 2025.

Dengan demikian, Indonesia berisiko hanya menjadi sumber capital flight, bukan tujuan. Tanpa reformasi serius, penegakan hukum, perbaikan system demokrasi, transfaransi,  kekayaan akan terus mengalir keluar menuju yurisdiksi yang lebih ramah modal, sementara beban fiskal domestik tetap ditanggung mayoritas rakyat.

Daftar Referensi

Henley & Partners. (2025). Henley Private Wealth Migration Report 2025. Henley & Partners Group Holdings Ltd. HSBC Global Private Banking. (2025). Entrepreneurial Wealth Outlook 2025. HSBC Holdings plc. Ravenstein, E. G. (1885). The Laws of Migration. Journal of the Statistical Society of London, 48(2), 167–235. Lee, E. S. (1966). A Theory of Migration. Demography, 3(1), 47–57. Solimano, A. (2010). International Migration in the Age of Crisis and Globalization: Historical and Recent Experiences. Cambridge University Press. Zucman, G. (2015). The Hidden Wealth of Nations: The Scourge of Tax Havens. University of Chicago Press. The National News. (2025, 24 Juni). UAE to attract record 9,800 millionaires in 2025, Henley & Partners report says. Business Insider. (2024, Juni). Dubai to attract more millionaires than any other city in 2024. Kontan.co.id. (2025, September). Harga emas batangan bisa mencapai Rp 2,7 juta per gram. Bloomberg. (2025). Gold Hits Record as Fed Policy, Geopolitical Risks Fuel Safe-Haven Demand. International Monetary Fund (IMF). (2023). Global Financial Stability Report. IMF.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca