
Tahun 2013 saya sudah pensiun dari SIDC. Hasil rapat dewan direksi memutuskan untuk mengevakuasi tenaga kerja asing yang ada di Caracas. Terutama karyawan dari China. Saya bisa maklum. SIDC memang berbisnis international. Tidak bertanggung jawab terhadap karyawan lokal. Tahun 2014 saya dapat email dari Aliana, staf lokal SIDC di Caracas. Dialah karyawan pertama saya di Caracas. Dia yang menuntun saya memasuki rimba belantara bisnis Caracas. Tanpa dia tidak mungkin saya bisa jalankan business coutertrade dengan nilai kontrak ratusan juta dollar dari BUMN Venezuela.
Saya tidak bisa memakasa SIDC untuk evakuasi dia. Saya sendiri yang harus pastikan dia aman. Saya kawatirkan nasip dia. Di tengah keadaan negeri yang sudah bankrut. Hukum ketertiban tidak lagi efektif menjamin keamanan. Itu saya baca dari media massa.
” Keadaan Caracas semakin tidak menentu. Gelombang protes terus meluas. “ kata William dikektur holding.
“ Ada berapa lokal staf di sana ?’
“ Tinggal dua orang. Yang lain sudah diterbangkan keluar bersama Staf asing”
“ Ok sambungkan saya dengan Ramon di Panama” Kata saya.
Tak berapa sekretaris minta saya menerima sambungan dari Panama.” Ramon, tugas kamu evakuasi semua staff lokal di Caracas ke Panama. Nanti team dari New York akan atur kepindahkan mereke ke negara lain.” Kata saya.
“ Apakah termasuk keluarganya ?
“ Ya. “
“ Siap pak. Segera saya lakukan.”
Sebulan kemudian saya dapat kabar dari Panama. Salah satu tidak mau di evakuasi, yaitu Aliana. Dia bertugas sebagai penghubung dengan pemerintah dan perusahaan di Venezuela. Saya putuskan sendiri akan terbang ke Panama dan terus ke Caracas. Membujuk Aliana untuk mau di evakuasi. James dan Wiliam direksi SIDC berusaha membujuk saya tidak berangkat.
“ Dia bukan hanya karyawan tetapi sahabat saya. Kalau saya tinggalkan dia disituasi yang buruk, itu artinya saya bukan sahabat. Apalagi dia tidak ada suami, Siapa yang akan jaganya. Pikirkan itu” kata saya. James bisa maklum.
Selama kunjungan itu saya akan didampingi Ramon. Mengunjungi Venezuela saat ini tidaklah mudah karena sebagian besar maskapai telah menghentikan penerbangan mereka ke dan dari Venezuela.Terbang melalui Panama City adalah pilihan tepat. Agar tidak sampai malam hari, kami memilih penerbangan awal. “ Di sana tidak aman” kata Ramon. “ Mereka terjebak dengan budaya petrostat. “ menambahkan.
“ Apa itu petrostat?
“ Itu istilah informal yang digunakan untuk menggambarkan suatu negara dengan beberapa atribut yang saling terkait, yaitu pendapatan pemerintah sangat bergantung pada ekspor minyak dan gas alam, kekuatan ekonomi dan politik sangat terkonsentrasi pada minoritas elit, dan institusi politik lemah dan tidak bertanggung jawab, dan korupsi merajalela.
Pada waktu bersamaan pemerintah menebarkan subsidi gila gilaan kepada rakyat. Makanya approval rating pemerintah tinggi sekali. Sehingga setiap kritik akal sehat terhadap kebijakan pemerintah, kena stigma kapitalis. Musuh bersama rakyat. Bahkan sudah bankrut, tidak ada lagi uang untuk subsidi, tetap saja rakyat tidak menyalahkan pemerintah. Yang disalahkan malah AS dan kapitalisme. Negeri ini bankrut karena racun populisme, yang ditebar oleh gerombolan elite dan dipimpin oleh presiden yang bermental pecundang . ” Kata Ramon.
Sampai di Bandara, Aliana menjemput kami. Dia tersenyum menyalami saya dan ketika tangan saya rentangkan, dia langsung memeluk saya. “Terimakasih sudah datang B. Aku kangen’ Katanya. Aliana mengantar kami ke Hotel dengan kendaraan yang dia setir sendiri. “ Keadaan sekarang tidak menentu. Kejahatan meningkat. Culik dan perkosa terjadi setiap hari. Kelaparan, kejahatan, pemadaman listrik, dan kekerasan adalah norma di sini.“ Kata Aliana. Area Petare, terlihat di perbukitan di atas jalan yang kami lewati adalah simbol hipokrit di Caracas.
Caracas adalah Megacity dengan sentuhan sosialisme. Pada tahun 70-an-80-an ini adalah kota paling berjaya di Amerika Selatan dan kini masih bisa melihat kejayaannya. Pencakar langit mendominasi cakrawala, tetapi perbukitan di sekitarnya menceritakan kisah lain. Jutaan orang tinggal di apa yang disebut “barrios” atau daerah kumuh perkotaan. Rumah reyot dibangun di atas satu sama lain dan kehidupan di sini tentu saja yang paling sulit.
Kami tiba di hotel dan check in. Kami hanya melihat dua tamu lain yang menginap. Bar dan restoran tutup. Tidak ada gunanya mengeluh. Saya datang memang untuk membujuk Aliana keluar dari Caracas. Seperti yang diharapkan, pariwisata yang pernah berkembang pesat di kota ini sudah mati. Bahkan saya minta secangkir kopi, tidak ada. “ Karena listrik padam. “ Kata Aliana. “ Tapi saya akan ajak anda ke Cafe lain. Di sana ada ada kopi, kue dan Wifi. Kita bisa ngobrol santai.” Lanjutnya. Ya kami pergi saja ikut Aliana.
“ Huh enak kopinya” Kata saya setelah seruput kopi dan menghisap rokok dalam dalam. “ Bill kopi dan kue yang kita makan bisa menyelamatkan satu keluarga selama seminggu di Caracas.”Kata Aliana.
Saat itu Aliana memang menolak saya evakuasi. Tetapi dua tahun kemudian keadaan semakin memburuk. Dia akhirnya bersedia di evakuasi. Saya minta Wenny kirim private jet untuk jemput Aliana dari Panama. Kini dia bertugas di New York. Menjadi staf international SIDC-AMG.

Sejak ditemukan di negara itu pada tahun 1920-an, minyak telah membawa Venezuela dalam perjalanan boom-and-bust. Ini mungkin jadi bahan pelajaran bagi negara lain yang kaya SDA. Pemerintahan yang buruk selama puluhan tahun telah mendorong negara yang pernah menjadi salah satu negara paling makmur di Amerika Latin menuju kehancuran ekonomi dan politik.
Padahal solusinya sederhana. Pemerintah harus menetapkan mekanisme yang akan mendorong terjadinya transformasi ekonomi dari SDA ke investasi produktif dan kreatif. Dan itu perlu prinsip membangun berbasis riset untuk menguasai IPTEK. Tapi Venezuela gunakan sumber daya uang yang begitu besar untuk subsidi sementara IPTEK diabaikan. Akibatnya uang habis, transformasi ekonomi gagal total. Hutang default, engga bisa bayar. Asset mereka dibekukan di luar negeri.
Ketika negara bangkrut, para elite dan pengusaha rente sudah lebih dulu kabur ke luar negeri dengan hidup bergelimang harta. Tinggal hanya rakyat miskin. Kini mereka hidup dengan upah USD 6 atau Rp. 100.000/bulan. Padahal 20 tahun lalu sebelum bangkrut, rakyat miskin dapat subsidi Rp. 2 juta sebulan. Target tahun 2013 Venezuela jadi negara maju malah jatuh terpuruk termiskin di dunia. Generasi milenial kini menelan derita akibat generasi sebelumnya jadi dungu dibujuk subsidi, BLT dan macam macam paket bantuan.
Sementara di sudut kota Caracas yang sunyi, di antara gedung-gedung kusam dan pasar gelap yang ramai dengan barter, seorang ayah duduk di teras rumahnya yang hampir roboh. Wajahnya tirus, matanya cekung, suaranya serak karena terlalu sering menahan lapar. Sejak minyak—yang dulu disebut “berkah Tuhan”—tak lagi menjadi sandaran hidup, keluarganya hanya mengenal satu hal: perut yang tak pernah kenyang.
Hari itu, di atas meja kayu lapuk, hanya ada sepiring spageti yang ia dapatkan dengan susah payah dari tetangga yang baru kembali dari Kolombia. Sepiring pasta itu berharga lebih dari sekadar makanan. Di pasar gelap, sepiring spageti bisa sama nilainya dengan upah sebulan seorang buruh.
Sang ayah menatap anak gadisnya yang baru berusia 14 tahun. Mata si gadis masih berbinar, polos, seolah tidak mengerti dunia yang sedang runtuh di sekitarnya. Tetapi ayahnya tahu, di luar sana banyak orang yang mencari “cara cepat” untuk membeli tubuh anak-anak muda, ditukar dengan makanan. Di gang sebelah, sudah ada cerita seorang ibu yang menyerahkan putrinya untuk semangkuk nasi dengan daging—bukan karena tidak sayang, tapi karena lapar telah mengalahkan martabat.
“Kalau aku menjual dia… setidaknya keluarga ini bisa makan satu minggu,” pikirnya dengan getir. Dada terasa sesak, seakan dunia mengejeknya. Di benaknya, terngiang kata-kata para pemimpin di televisi: “Revolusi ini demi rakyat!” Tapi rakyat yang mana? Revolusi itu hanya kenyang di meja para pejabat, sementara di rumahnya, revolusi itu menjelma dalam perut kosong anak-anak.
Si gadis menatap spageti di meja. “Papa, kita bagi tiga ya. Papa, Mama, dan aku,” katanya sambil tersenyum kecil. Senyum itu menghantam hati ayahnya lebih keras dari peluru. Bagaimana bisa seorang anak kecil masih berpikir untuk berbagi, sementara dunia orang dewasa hanya tahu cara merampas?
Ia pun menangis dalam diam. Spageti itu akhirnya mereka makan bersama, perlahan, seolah setiap helai pasta adalah emas cair. Sang ayah tahu, besok mereka mungkin tak punya apa-apa lagi. Tapi malam itu ia memutuskan satu hal: ia tidak akan menjual anaknya. Biarlah ia mati kelaparan, asal sang anak tidak menjadi korban kerakusan yang lebih kejam daripada lapar—rakusnya manusia terhadap tubuh dan masa depan anak-anak.
Kisah ini bukan fiksi murni, kata Aliana. Melainkan cermin dari laporan-laporan nyata tentang krisis kemanusiaan di Venezuela. Hiperinflasi, kelangkaan pangan, dan hancurnya distribusi sosial telah membuat barter tubuh dan anak-anak menjadi fenomena suram. Di balik semua itu, akar masalahnya tetap sama: negara yang diperas oleh elit korup, hingga yang tersisa bagi rakyat hanyalah pilihan antara kehormatan dan kelaparan.
***
Tidak ada tragedi ekonomi yang lebih pahit daripada melihat sebuah negeri dengan cadangan minyak terbesar di dunia terperosok menjadi negara bangkrut. Venezuela adalah contoh ekstrem bagaimana kerakusan elit politik yang korup dapat melumpuhkan sendi-sendi negara, membunuh produktivitas, dan memaksa rakyat berbondong-bondong meninggalkan tanah airnya.
Venezuela mengalami apa yang oleh ekonom disebut resource curse atau kutukan sumber daya. Sejak Hugo Chávez dan dilanjutkan Nicolás Maduro, minyak bukan lagi instrumen pembangunan, melainkan alat untuk mempertahankan patronase politik. PDVSA, perusahaan minyak negara, berubah menjadi “mesin uang” yang diperah untuk membiayai subsidi populis dan memperkaya lingkaran kekuasaan. Ironisnya, alih-alih diversifikasi, negara semakin menggantungkan diri pada ekspor minyak—hingga 96% penerimaan ekspor bergantung pada komoditas ini. Ketika harga minyak jatuh, seluruh fondasi fiskal runtuh.
Ketika defisit melebar, solusi yang ditempuh bukan reformasi structural dengan memotong APBN 30%, melainkan utang, pelonggaran uang beredar lewat pencetakan uang secara tidak langsung. Pemerintah menerbitkan obligasi internasional dengan bunga tinggi, kerap dijamin oleh cadangan emas atau minyak masa depan. Namun hasil penjualan surat utang itu tidak masuk ke investasi produktif, melainkan tersedot ke dalam patronase politik dan rekening pribadi elit di luar negeri. Bank sentral pun dipaksa mendukung dominate fiscal untuk menutup subsidi. Akibatnya, Venezuela terjerumus ke dalam hiperinflasi, dengan puncaknya pada 2018 mencapai 1.000.000% per tahun.
Kebijakan kurs ganda (resmi dan pasar gelap) membuka ruang arbitrase besar-besaran. Elit dan kroni mereka memperoleh dolar murah dari negara, lalu menjualnya kembali di pasar gelap dengan selisih ratusan kali lipat. Skema ini bukan sekadar korupsi teknis, melainkan pencurian sistematis yang mengeringkan cadangan devisa. Rakyat jelata hanya bisa menyaksikan nilai uangnya tergerus, sementara segelintir orang memperkaya diri dengan memanfaatkan distorsi kebijakan.
Tidak berhenti di sektor keuangan, militer dilibatkan langsung dalam ekonomi. Program CLAP, yang seharusnya menjamin distribusi makanan murah untuk rakyat miskin, dikuasai oleh jaringan militer dan elit. Paket makanan impor dibeli dengan harga subsidi, kualitas dipangkas, lalu dijual dengan mark-up. Dengan demikian, kelaparan rakyat dijadikan komoditas politik: siapa yang tunduk pada rezim, mendapat jatah. Siapa yang kritis, dibiarkan lapar.
Kerakusan elit Venezuela tidak berhenti di Caracas. Kekayaan hasil minyak yang diselewengkan disamarkan melalui perusahaan cangkang di Karibia, trust di Swiss, hingga properti mewah di Miami dan Madrid. Laporan Panama Papers dan Paradise Papers membongkar bagaimana pejabat Venezuela memanfaatkan celah hukum global untuk mencuci uang. Inilah wajah globalisasi gelap: ketika kapital internasional justru melayani oligarki predator.
Akibat kerakusan itu, ekonomi Venezuela menyusut lebih dari 75% dalam satu dekade, menjadikannya krisis ekonomi terburuk di luar zona perang. Produksi minyak anjlok dari 3,5 juta barel per hari menjadi kurang dari 700 ribu. Rakyat harus antre berjam-jam untuk mendapatkan bensin, ironi yang tragis bagi negeri dengan cadangan minyak terbesar dunia. Lebih dari tujuh juta warga Venezuela kini hidup sebagai pengungsi ekonomi, eksodus terbesar di belahan bumi barat. Negara yang seharusnya menjadi kaya, justru kehilangan rakyatnya.
Kisah Venezuela bukan sekadar tentang kegagalan ekonomi, melainkan kegagalan politik. Elit yang korup menguasai negara, menggunakan sumber daya untuk patronase, dan menghancurkan institusi yang seharusnya menjadi penyeimbang. Hiperinflasi, default utang, dan kolapsnya produksi minyak hanyalah gejala dari penyakit lebih dalam: absennya tata kelola demokratis dan supremasi hukum.
Dari perspektif akademis, Venezuela memperlihatkan kombinasi sempurna dari tiga patologi: kutukan sumber daya, institusi yang rapuh, dan korupsi sistemik. Dari perspektif politik, ia adalah pelajaran tentang bagaimana populisme tanpa disiplin fiskal dapat berubah menjadi otoritarianisme yang lapar rente.
Kesimpulan.
Venezuela membuktikan bahwa kekayaan sumber daya alam bukan jaminan kesejahteraan. Tanpa institusi yang bersih dan kepemimpinan yang akuntabel, minyak yang melimpah justru menjadi racun yang mempercepat kehancuran. Dan kerakusan elit yang korup dengan berlindung dibalik citra bansos dan BLT adalah katalis utama yang membuat sebuah negara kaya berakhir miskin.
Reference
Corrales, J., & Penfold, M. (2011). Dragon in the Tropics: Hugo Chávez and the Political Economy of Revolution in Venezuela. Brookings Institution Press. Ellner, S. (2019). Latin America’s Pink Tide: Breakthroughs and Shortcomings. Rowman & Littlefield. Hausmann, R., & Rodríguez, F. (2014). Venezuela Before Chávez: Anatomy of an Economic Collapse. Penn State University Press. López Maya, M. (2011). Democracia participativa en Venezuela (1999–2010): Orígenes, leyes, percepción ciudadana y calidad. Fundación Centro Gumilla. Corrales, J. (2015). Autocracy Rising: How Venezuela Transformed from Democracy to Authoritarianism. Journal of Democracy, 26(2), 37–51. Hsieh, C.-T., & Klenow, P. J. (2009). Misallocation and Manufacturing TFP in Venezuela. Quarterly Journal of Economics, 124(4), 1403–1448. Penfold, M. (2019). Populism and Hegemony in Venezuela. Government and Opposition, 54(3), 555–581. Kornblith, M. (2016). Democratic Decay and Authoritarian Resurgence in Venezuela. Latin American Politics and Society, 58(2), 31–56. International Monetary Fund (IMF). (2018). World Economic Outlook: Challenges to Growth in Venezuela. Washington, D.C. United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). (2020). Venezuelan Refugee and Migrant Crisis. Geneva. Brookings Institution. (2019). Impact of the 2017 Sanctions on the Venezuelan Economy. Washington, D.C. Atlantic Council. (2018). The Collapse of the Venezuelan Oil Industry. Washington, D.C. Freedom House. (2020). Freedom in the World: Venezuela. Washington, D.C. The Economist Intelligence Unit (EIU). (2022). Democracy Index Report: Venezuela Country Profile. London. Banco Central de Venezuela (BCV) – Boletín Estadístico. U.S. Energy Information Administration (EIA). Venezuela Country Analysis Brief. World Bank. World Development Indicators: Venezuela.

Tinggalkan komentar