Cinta dalam memberi

Andi  datang sore itu ke kantorku dengan wajah yang letih, tapi matanya menyimpan sesuatu yang berlapis antara harapan dan putus asa. Usianya sudah kepala lima. Sampai usia 40 tahun dia hidup sendirian. Maklum sebagai anak buah kapal pesiar. Masuk usia 40an, dia akhir mendapatkan jodoh dan bekerja di darat pada sebuah hotel. Ia sahabatku sejak lama.

“Ale,” katanya pelan, suaranya bergetar di antara keluhan dan keberanian, “Sejak di-PHK tahun 2020 akibat pendemi COVID, pesangon kupakai buka usaha. Gagal. Tempo hari aku coba over-KPR untuk tambahan modal usaha kuliner. Jatuh juga. Kini aku terpaksa tinggal di rumah kontrakan, tanpa penghasilan tetap. Aku hanya ingin masih bisa berjuang untuk istri dan dua anakku.”

Aku menatapnya lama, merasakan getir yang ia sembunyikan di balik senyumnya yang tipis. Di usia segini, ketika banyak orang menikmati masa mapan, ia justru tertatih.

“Ale, aku dapat SPK galian kabel. Apa bisa bantu modal? Aku engga ada yang bisa dijaminkan kecuali jiwaku,” lanjutnya, sambil menyodorkan map lusuh yang ia genggam erat, seolah itu adalah tiket terakhirnya menuju harapan.

Aku membuka map itu. Lembar-lembar kertas di dalamnya terlipat, penuh cap dan tanda tangan, aroma kertas yang lembab oleh perjalanan panjang. Aku membaca sekilas, lalu menatapnya kembali. Wajahnya kaku, seakan mencoba menahan rasa malu.

Aku tersenyum. Tanpa banyak bicara, aku beri tunai USD 45,000. Kutaruh di atas meja di antara kami. “Ambillah. Aku percaya padamu,” kataku. Aku ingat saat aku jatuh, dia pernah meminjami aku kendaraan untuk merintis peluang bisnis.

Tangannya bergetar ketika meraih uang itu, seperti seorang pengembara yang menemukan setetes air setelah hampir mati kehausan. Dan aku tahu, bukan jumlahnya yang membuatnya lega, melainkan rasa percaya yang kembali ia dapatkan setelah sekian lama dunia hanya memberinya penolakan.

Map lusuh itu kini bukan sekadar dokumen, melainkan simbol: tekad seorang lelaki yang telat mapan, tapi tidak pernah menyerah untuk memperjuangkan keluarga kecilnya.

***

Dua tahun kemudian kabar buruk datang. Andi, sahabatku meninggal, kanker paru-paru mengakhiri perjuangannya. Berita itu menghantamku seperti gelombang di malam tanpa bintang.

Keesokannya, aku datang ke rumah duka. Udara di sana berat, dipenuhi aroma bunga dan tangis. Istrinya menyambutku dengan wajah sembab, mata yang tak lagi mengenal kering.

“Sudah sebulan… tapi aku masih menangis,” katanya terisak. Istri Andi duduk di ruang tamu dengan mata sembab, tangannya bergetar memegang ujung jilbab yang basah oleh air mata. Suaranya pecah ketika akhirnya ia bercerita panjang, seolah ingin mengeluarkan semua beban yang selama ini mengikat dadanya.

“Betapa aku menyesal,” katanya lirih. “Aku sering marah pada Mas Andi… bukan karena dia berbuat salah, tapi karena hidup ini terasa begitu sempit. Karena uang yang dibawa pulang tak pernah cukup memenuhi keinginanku. Karena aku ingin lebih, sementara dia hanya bisa memberi sekadarnya. Aku buta, aku tuli terhadap cintanya.”

Ia mengusap wajahnya yang basah, lalu melanjutkan dengan suara serak.

“Aku sering malas memasak. Malas mengurus rumah. Kalau dia pulang, aku hanya menyambutnya dengan wajah masam. Aku sering membiarkan meja makan kosong, seolah tidak peduli apakah ia lapar atau tidak. Dan meski begitu, ia tetap pulang dengan membawa makanan di tangannya, entah hasil membeli atau sisa dari pekerjaannya. Aku menuduhnya pelit, aku menuduhnya gagal sebagai suami, padahal aku sendiri yang tak tahu diri.”

Tangisnya semakin dalam.

“Ketika dia sering pulang larut malam, aku menuduhnya selingkuh. Aku lontarkan kata-kata kasar yang menusuk hatinya. Aku pikir dia menghabiskan waktu dengan perempuan lain. Padahal, ternyata ia sedang memeras tenaga di luar sana, mencari rezeki tambahan agar aku bisa sedikit lebih bahagia. Aku menuduhnya tanpa bukti, aku merendahkannya tanpa alasan, sementara dia hanya diam. Tidak membantah, tidak membela diri. Diamnya itulah yang kini menghantuiku. Diam yang ternyata bukan karena bersalah, melainkan karena sabar.”

Ia menunduk, bahunya terguncang. Air matanya jatuh satu-satu ke lantai, seperti butir hujan yang tak bisa ia bendung.

“Ah, aku ini istri yang kejam,” bisiknya. “Aku mengukur cinta dengan angka. Aku menghitung kasih dengan uang. Aku lupa, bahwa dia mencintaiku dengan cara paling sederhana. Dengan kesabaran. Ia memaafkan aku bahkan sebelum aku meminta. Ia tetap mengangkat beban rumah tangga meski aku enggan mengangkat jemuran. Ia tetap mencuci bajunya sendiri, bahkan mencuci bajuku, ketika aku malas. Ia tetap tersenyum meski disambut omelan. Ia tetap bekerja, bahkan ketika tubuhnya sudah digerogoti penyakit yang tidak kuketahui.”

Ruang tamu itu menjadi saksi tangisan panjang yang tak henti. Setiap kata yang keluar dari bibirnya adalah penyesalan yang tak berujung, luka yang tak bisa dijahit kembali. Ia menangis bukan hanya untuk kepergian suaminya, tetapi juga untuk hatinya sendiri yang baru menyadari, betapa cinta yang sabar itu kini telah pergi, meninggalkan dia bersama segenap sesal yang akan menemaninya seumur hidup.

Ia menyerahkan buku harian suaminya. Sampulnya lusuh, halaman-halamannya berisi tulisan tangan yang tergesa. Aku membukanya, dan kutemukan kalimat yang membuatku haru.

*Setiap hari aku bekerja keras dengan seluruh sisa tenaga yang kupunya, hanya agar kelak dapat menghadiahkanmu sebuah rumah mungil. Bukan istana, bukan gedung menjulang, hanya sebuah atap sederhana tempat engkau bisa merasa aman, dan anak kita bisa bermain tanpa rasa takut. Dalam setiap ayunan cangkul, dalam setiap peluh yang jatuh ke tanah, yang selalu kuingat hanyalah wajahmu. Aku mencintaimu, dan entah bagaimana cara lain untuk membahagiakanmu selain dengan terus berjuang, meski tubuh ini kian rapuh.

Usaha kecilku sempat membawa sedikit cahaya. Ada untung yang kuraih, secercah harapan yang kubayangkan bisa kubawa pulang untukmu. Namun, Tuhan menuliskan kisah lain. Penyakit datang seperti bayangan yang tak bisa kuusir. Seluruh keuntungan yang sempat membuatku tersenyum, habis tak bersisa untuk biaya berobat. Sungguh aku menyesal—bukan karena sakit ini, melainkan karena tak sempat mewujudkan mimpiku untukmu.

Maafkan aku, sayang. Maaf karena terlalu sering membuatmu kecewa. Maaf karena aku tak mampu memberikan dunia yang kauimpikan. Tetapi percayalah, setiap hembusan nafasku selalu menyebut namamu dalam doa.

Aku menitip satu permintaan terakhir. Di dalam tabunganku yang aku sembunyikan darimu, ada sisa uang yang kusimpan rapi. Gunakanlah untuk melunasi hutangku pada sahabatku. Jangan biarkan utang itu menjadi penghalang bagiku untuk melangkah ringan menuju surga. Aku ingin bertemu Tuhan dengan hati yang bersih, tanpa beban janji yang tak terbayar.

Dan kelak, bila garis takdir mempertemukan kita di negeri abadi, semoga aku masih boleh mengenalmu seperti hari ini. Semoga engkau tetap bidadariku selamanya, duduk di sampingku di taman yang dipenuhi cahaya. Di sanalah, barangkali aku bisa benar-benar membangunkan rumah mungil itu, bukan dari bata dan semen, melainkan dari doa, cinta, dan kesetiaan yang tak pernah padam.”

Air mataku berlinang  di halaman itu. Aku menatap istri Andi , lalu berkata dengan lembut, “Tak perlu dibayar hutang itu. Gunakan saja uang itu untuk kamu dan anak anak, Tatalah hidup ke depan.  Andi sahabatku. Dia terlalu baik. Sejak awal, aku sudah ikhlaskan. Itu bukan hutang, tapi sebuah kepercayaan. Andi tak pernah berniat memperkaya diri, ia hanya ingin membelikanmu rumah sederhana untuk keluarga kecilnya “

Aku meninggalkan rumah duka dengan langkah berat. Hujan turun perlahan, butir-butirnya jatuh di tanah seperti doa. Di jalanan basah itu, aku merenung: betapa cinta sejati sering tersembunyi dalam diam. Seorang suami mungkin tak pandai berkata manis, tapi ia pandai berkorban. Ia mungkin tak menulis puisi, tapi ia menulis cintanya dengan cucuran keringat. Ia mungkin kalah oleh penyakit, tapi tak pernah kalah dalam menjaga janji.

Sahabatku telah pergi, meninggalkan rumah yang tak pernah jadi. Namun cintanya tetap tinggal, abadi dalam doa, dalam air mata, dalam buku harian yang sederhana, dan dalam keyakinanku, kelak ia benar-benar akan menemukan rumah mungil itu di surga.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca