
“Uda sadar enggak? Hampir semua direksi dan relasi respek sama Uda karena sikap egaliter itu,” kata Yuni pelan. “Di Hong Kong, Uda punya kamar ganti pakaian di kantor. Ada setelan bisnis, ada pakaian pribadi. Itu tanda Uda tahu menempatkan diri dalam dua dunia berbeda. Tapi sebagai pribadi, Uda tetap sama. Tidak berubah.”
Saya tersenyum tipis. “Ah, itu biasa saja, Yuni. Bukan hal luar biasa. Itu sudah nature saya. Mau bagaimana lagi? Saya lahir di kampung, bukan dari keluarga kaya raya. Kalau sekarang bisa berbisnis, itu bukan semata karena pintar, tapi karena TRUST dari investor. Tanpa saya memberi laba, mana mungkin TRUST itu bertahan? Jadi, apa hebatnya saya? Saya hanya ayam kampung di tengah ayam merak.”
“Uda, jangan merendahkan diri begitu,” protes Yuni.
“Lho, memang begitu kenyataannya. Kalau istri saya mau bertahan bersama saya, itu karena saya menepati komitmen, dan dia merasa pantas mendapatkannya. Kalau teman dan sahabat tetap dekat, alasannya sama: mereka merasa mendapatkan apa yang mereka butuhkan, dan saya bisa ‘delivery’. Kalau tidak, mereka pasti pergi. Jadi, apa yang salah? Tidak ada. Itu wajar. Saya hanya tahu diri, dan karena itu saya tidak perlu bangga berlebihan.”
“Uda terlalu realistis,” Yuni menghela napas.
“Saya realistis karena hidup mengajarkan begitu. Saya kerja keras, menjaga perasaan orang-orang terdekat, bukan untuk pencitraan, tapi agar mereka merasakan kenyamanan lahir batin. Sebaliknya, kalau saya merasa tidak nyaman, saya akan menjauh. Bedanya, saya tidak perlu protes atau mengeluh. Tahu diri saja, lalu menjaga jarak.”
“Uda tidak percaya pada ketulusan?” tanya Yuni lagi.
“Percaya. Tapi ketulusan sejati, bagi saya, hanya datang dari orang tua. Selebihnya, maaf, seringkali ada syarat. Ada timbal balik.”
“Lalu, apakah Uda nyaman dengan hidup seperti itu?”
Saya menatap keluar jendela. Malam Hong Kong memantulkan cahaya neon, berlapis dengan renungan saya. “Hidup bukan soal nyaman atau tidak, Yuni. Hidup itu dijalani dengan lapang dada, lalu selebihnya diserahkan kepada Tuhan. Kalau tidak, kita akan sibuk mengeluh dan menyalahkan siapa saja. Padahal, kalau istri tidak lagi respek, teman menjauh, sahabat cuek, pemerintah pun abai, sering kali itu karena ulah kita sendiri. Kita gagal men-delivery kewajiban, gagal membuat orang lain merasa dihargai. Maka seharusnya kita tahu diri. Agar bisa berubah.”
Yuni terdiam. Saya pun kembali pada satu kalimat sederhana yang menjadi kompas saya “ Tahu diri saja. “
“ Maksud nya ?
“ Dalam filsafat Timur, tahu diri adalah kesadaran tertinggi: mengenal batas dan tidak melampaui kodrat. Bagi Islam, kesadaran diri inilah inti dari taqwa. Rasulullah SAW bersabda, “Orang berakal adalah yang mampu menahan diri dan beramal untuk kehidupan setelah mati, sedangkan orang lemah adalah yang memperturutkan hawa nafsunya lalu berharap kepada Allah.” (HR. Tirmidzi).
Al-Qur’an pun menegaskan “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Dengan demikian, tahu diri bukan berarti pasrah atau rendah diri, melainkan menyadari amanah dan konsekuensi dari setiap pilihan. Kesadaran inilah yang membuat manusia bisa memilih dan bersikap dengan bijak, tidak sekadar bebas, tapi juga bertanggung jawab kepada sesama dan kepada Tuhan.
***
Individu yang hidup sendiri bebas menentukan arah hidup. Namun saat menikah, kebebasan berubah menjadi komitmen bersama. Seorang ayah tidak bisa lagi bertindak hanya atas dasar kepentingan pribadi, sebab ada istri dan anak yang ikut menanggung risiko.
Islam menegaskan: “Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi”—setiap kalian adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban (HR. Bukhari-Muslim). Dalam perspektif Ibn Khaldun, keluarga adalah unit terkecil dari umran (peradaban). Jika amanah dalam keluarga rusak, maka peradaban besar pun akan rapuh.
Dalam usaha pribadi, ruang kebebasan masih luas. Namun ketika usaha berkembang menjadi perusahaan, ada kontrak sosial yang membatasi: hak pekerja, kewajiban pajak, aturan negara. Ibn Khaldun dalam Muqaddimah menjelaskan bahwa harta dan usaha adalah bagian dari umran hadhari (peradaban). Jika seorang pedagang menyalahgunakan kekuasaan modal dan melupakan hak-hak sosial, maka kejatuhan ekonomi hanya soal waktu.
Al-Ghazali menambahkan, “Harta adalah titipan, bukan milik mutlak. Hak fakir miskin ada dalam setiap keping emas yang engkau miliki.” Maka seorang pengusaha harus sadar, aset perusahaan bukan milik pribadi, melainkan ada hak karyawan, bank, negara, dan masyarakat.
Seorang presiden tidak boleh merasa dirinya penguasa mutlak. Negara adalah amanah kolektif. Ibn Khaldun menegaskan bahwa pemimpin adalah ‘asabiyyah (kohesi sosial) yang menjaga keberlangsungan negara. Jika pemimpin hanya mementingkan kelompok kecil atau membiarkan korupsi merajalela, ia telah merusak ikatan sosial.
Al-Ghazali menulis dalam Nasihat al-Muluk: “Keruntuhan sebuah negeri bukan karena miskin sumber daya, melainkan karena rusaknya para pemimpin.” Inilah sebabnya, presiden yang mengabaikan keadilan, menumpuk utang tanpa visi, atau menoleransi korupsi, akan mendapat “kutukan sosial” dari rakyatnya. Dan kutukan itu, dalam bahasa agama, menjadi doa yang diangkat ke langit.
Filsafat Barat menekankan kebebasan sebagai hak alami manusia. Sartre mengatakan, “Manusia dikutuk untuk bebas.” Namun Islam memberikan dimensi berbeda: kebebasan bukan anarki, melainkan amanah. QS. Al-Ahzab (33:72) menjelaskan bahwa manusia menerima amanah yang ditolak langit, bumi, dan gunung. Artinya, setiap kebebasan selalu diiringi tanggung jawab.
Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menulis: “Kekuasaan adalah amanah. Barang siapa menjadikannya sarana kezaliman, maka ia telah mengkhianati Allah dan manusia.” Dengan kata lain, kebebasan tanpa kesadaran amanah akan berubah menjadi pengkhianatan.
Kebebasan bukan berarti bertindak sesuka hati, melainkan mengerti batas. Filosof menyebutnya self-awareness, sementara Islam menamainya taqwa. Dengan taqwa, seseorang “tahu diri” bahwa ia bagian dari tatanan yang lebih besar: keluarga, perusahaan, negara, bahkan peradaban.
Sebagai kepala keluarga: sadar bahwa perselingkuhan atau kecerobohan bukan hanya merusak diri, tetapi juga istri dan anak. Sebagai pengusaha: sadar bahwa manipulasi aset perusahaan ( window dressing) akan menzalimi karyawan, investor, dan negara. Sebagai presiden: sadar bahwa republik bukan kerajaan pribadi; kebijakan salah arah akan mengorbankan jutaan rakyat.
Filsafat dan agama Islam sama-sama menegaskan: kebebasan sejati bukanlah tanpa aturan, melainkan kemampuan tunduk secara sadar kepada aturan ilahi dan konsensus sosial. Tahu diri berarti sadar akan amanah, rendah hati dalam memimpin, dan adil dalam membuat keputusan. Dengan itu, kebebasan justru menemukan makna tertingginya: bukan sekadar bebas, tetapi membebaskan diri sendiri, keluarga, masyarakat
Referensi
Al-Qur’an dan Hadis. Surah Al-Ahzab (33:72): tentang amanah. Surah Al-Baqarah (2:286). Hadis Nabi Muhammad SAW (HR. Bukhari-Muslim): “Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi” Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin. Al-Ghazali, al-Muluk. Ibn Khaldun, Muqaddimah. Jean-Paul Sartre, Being and Nothingness (1943) Thomas Hobbes, Leviathan (1651) John Locke, Two Treatises of Government (1690). Ali Shariati, On the Sociology of Islam. Fazlur Rahman, Islam and Modernity M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an.

Tinggalkan komentar