
London, Januari 2012.
Gerimis menyapu kaca jendela Bentley Mulsanne hitam yang melambat di depan pintu masuk The Connaught. Di dalam kabin beraroma kulit Italia dan cedar halus, Lyly duduk tenang, kakinya bersilang rapi. Jari-jarinya bermain pelan dengan brosur tebal berjudul:
Global Gala Dinner: Mutual Funds and the Future of Financial Infrastructure.
Aku menatapnya. Gaun malamnya dirancang secara kilat oleh rumah mode Prancis, disesuaikan sempurna dalam satu jam atas permintaanku sendiri. Bukan untuk menyenangkan Lyly, melainkan untuk memastikan dia tampil sepadan dengan para pemegang sistem malam ini. Semua tahu, Lyly adalah executive dari CIG-SWF China. Pengelola asset terbesar di dunia.
“You look wonderful tonight,” kataku. Bukan rayuan. Hanya pernyataan objektif yang bahkan algoritma pun tak bisa bantah.
Lyly tersenyum kecil, lalu mencubit lengan jas-ku dengan manja. “Untuk apa kita datang ke acara seperti ini? Kamu tahu aku tidak suka pesta-pesta para pengendali uang.”
Aku tertawa, ringan tapi lelah. “Sekadar menghormati undangan… dan menerima sedikit hospitality, Maxim,” jawabku menyebut nama belakangku—nama yang kupakai malam ini.
Bentley melaju kembali menuju Lord’s Cricket Ground, gedung bersejarah yang kini menjadi ruang negosiasi para market sovereigns. Di dalam ballroom utama, langit-langit tinggi dipenuhi gemerlap lampu kristal Baccarat. Anggur tua mengalir tanpa jeda. Musik jazz klasik—Miles Davis versi 1959—mengisi udara seperti pengantar spiritual untuk percakapan bernilai miliaran dolar.
Kami melangkah ke dalam, dan ruangan itu… seolah simposium Kekaisaran Finansial Modern.
Di meja utama: CEO BR Asia, Partner dari McK Global Institute, perwakilan JPM Asset Management, Top Level Governement officer..
“This is where money breathes,” bisikku ke Lyly.
Dia tidak tersenyum. Matanya hanya mengamati. “Di sini, kekayaan tidak lagi dinilai dari hasil kerja, tapi dari proyeksi kepercayaan yang bisa dijual.”
Aku mengangguk. “Karena di dunia ini, trust is the most valuable commodity.”
Lyly mendekat padaku, suaranya rendah. “Di Barat, uang adalah aset—bisa digandakan, dijaminkan, disulap menjadi derivatif. Tapi di China, kami diajarkan: uang adalah liability—utang kepada rakyat, yang harus diproduksi ulang dalam bentuk nyata: mesin, rumah, teknologi.”
Aku menarik napas. “Tapi malam ini, kita menari di panggung mereka.”
Sebuah suara memotong obrolan kami.
“Mr. B?”
Seorang perempuan elegan dengan blazer putih dan postur tinggi sekitar 170 CM menghampiri. Di dadanya, bros kecil berbentuk huruf Y.
“Susan,” katanya memperkenalkan diri. “Chairwoman, Yaris Capital.”
Kami saling bertukar kartu nama. Dia membaca sekilas, lalu menatapku seperti seseorang yang baru menemukan pecahan kunci di reruntuhan kuil kuno.
“Saya tahu Anda bukan hanya investor. Anda adalah sistem.”
Suaranya datar, tanpa basa-basi.
Susan lalu menatap Lyly sekilas—tanpa ekspresi, tapi cukup lama untuk menunjukkan bahwa ia sedang membaca lebih dari sekadar gaun mahal dan wajah Asia Timur yang tenang. Lalu ia kembali padaku.
“Ada meja khusus untuk Anda. Bersebelahan dengan delegasi dari MS AMG dan PIMCO. Saya ingin mengenalkan Anda pada beberapa kolega kami. Ini bukan sekadar gala dinner. Ini peluncuran structured mutual credit fund berbasis supply chain finance. Total nilai: USD 1 miliar.”
Aku menatap Lyly sebentar. Ia mengangguk kecil, seperti menyetujui tanpa ingin ikut.
Susan melanjutkan, “Besok pagi, saya ingin Anda datang sarapan bersama. Saya janji, tidak akan buang waktu Anda.”
“Fine,” jawabku singkat.
Susan tersenyum profesional. “Sampai jumpa pagi nanti.”
Setelah ia pergi, Lyly menyesap anggurnya pelan. “Dia datang untuk jual produk, ya?”
Aku mengangguk. “Semua gala dinner pada akhirnya hanyalah trust engineering. Undangan mewah hanyalah metode persuasi. Pitching di balik kemewahan. Seperti soft seduction dalam jas Armani.”
Lyly tertawa sinis. “Kita sedang menyaksikan bentuk feodalisme baru. Uang bukan lagi alat tukar, tapi medium dominasi. Dan gala dinner adalah kastilnya.”
Aku diam. Berusaha maklum.
***
Pukul delapan pagi.
Langit London menggantung kelabu, seolah menyimpan rahasia kontrak-kontrak yang diteken tanpa saksi dan janji-janji yang dibisikkan dalam bahasa arbitrase.
Restoran The Connaught tampak sepi. Hanya beberapa tamu berbicara pelan, sebagian besar mengenakan setelan bespoke dari Savile Row. Suara sendok dan garpu seolah lebih berbobot dari pidato menteri keuangan.
Susan datang lebih awal. Ia mengenakan blazer gading tanpa cela, bros hitam berbentuk huruf “Y” tersemat di kerahnya. Sikapnya tenang, langkahnya pasti. Ia tahu apa yang ia bawa ke meja—dan lebih tahu lagi, apa yang ingin ia bawa pulang dari pertemuan ini.
Kami duduk di sisi jendela. Lyly memilih duduk sedikit jauh, membiarkan pertemuan ini berlangsung dalam format asli dunia keuangan: formal, penuh topeng, dan sangat terukur.
“Terima kasih sudah datang, Mr. B,” ucap Susan sembari membuka tablet. Layar menampilkan grafik, kurva, dan angka yang menari seperti upacara algoritmik.
“Saya tidak akan menjual mimpi di pagi hari,” lanjutnya. “Tapi Yaris Capital tengah menyiapkan mutual fund senilai USD 1 miliar. Target return kami: 2% di atas LIBOR. Kami tidak hanya menjanjikan itu—lihat track record lima tahun terakhir kami.”
Ia menunjukkan grafik yang mendaki dengan stabil. Di pojok kanan atas:
11.83% annualized return – Volatility Adjusted.
Aku mengangguk. Wajar. Struktur mereka kuat di data. Platform mereka menghubungkan supplier dan buyer dalam rantai pasok lintas negara. Tahun 2012, itu adalah cutting edge. Mereka mengklaim visibility, traceability, dan scalability—tiga mantra yang menyihir investor institusional.
Namun aku tahu, dalam dunia ini, antusiasme adalah kelemahan. Yang abadi adalah due diligence.
“Kami juga didukung Morgan AMG,” ucap Susan tenang. “Pendiri kami generasi pasca-2008. Mereka belajar dari krisis, tapi tidak trauma. Mereka tahu: volatility is not the enemy—it’s the product.”
Kalimat itu membuatku menoleh. Mereka tidak menjual stabilitas. Mereka menjual keterampilan menari di atas ketidakpastian. Dan di pasar hedge fund, itu lebih laku.
Susan melanjutkan, “Dan sekarang kami ingin Anda, Mr. B. Yaris Capital butuh legitimasi. Butuh seseorang yang menjembatani ke hedge fund dan pasar institusional. Kami tahu Anda mengelola structured fund dari Swiss.”
Ia menatapku dalam. Seperti seseorang yang menawarkan saham yang belum bisa ia valuasi, tapi tahu jika aku masuk, valuasinya akan melonjak.
Aku menaruh cangkir teh-ku perlahan.
“Menarik,” kataku, memberi jeda. “Tapi…”
Wajah Susan berubah sedikit. Ketegangan halus muncul.
“Yes, B…?”
“Kalaupun saya terlibat, syaratnya sederhana: kamu ikut platform saya.”
Ia membeku sesaat. Tapi perempuan seperti Susan tidak hidup dari keraguan. Ia cepat pulih, dan mengangguk.
“Deal. Asal platformmu punya compliance layer yang bisa diverifikasi investor institusional.”
Aku tersenyum. “Lebih dari cukup. Platform kami sudah disertifikasi oleh auditor independen di Zurich. Audit trail-nya berbasis hash chain, bukan hanya spreadsheet.”
Kami berjabat tangan. Tapi dalam dunia hedge fund, jabat tangan bukan simbol kepercayaan. Itu hanya tanda bahwa game baru saja dimulai.
Sebelum pergi, Susan menyenderkan tubuhnya sebentar ke kursinya.
“Kalau saja kamu datang tanpa gadis Beijing itu,” katanya setengah menggoda. “Kita mungkin bisa lanjut ke dinner malam nanti.”
Aku tak menjawab. Lyly sedang melirik dari kejauhan—cukup dekat untuk membaca bibir Susan, cukup jauh untuk tetap tak terlibat. Susan pergi, langkahnya ringan. Ia pikir, ia telah mendapatkan pemain kunci.
Aku kembali ke meja Lyly.
“Structured credit fund, ya?” tanyanya datar.
Aku tersenyum. “Ya. Mutual fund berbasis receivable, dibungkus dengan polis asuransi, lalu dijual ke bank dan family office. Undangan gala itu hanya ujung tombaknya.”
Lyly tertawa pelan. “Feodalisme versi API dan Bloomberg. Gala dinner sebagai compliance theatre.”
Aku menatapnya, lama.
“Ada apa kamu menatapku begitu?” katanya sambil mengusap tanganku.
“Aku butuh bantuanmu.”
“Kamu butuh apa lagi, B?”
“Telepon Kumar.”
“Kumar? CEO perusahaan asuransi itu?”
Aku hanya mengangguk. Dan Lyly, yang tahu bahwa permintaan ini bukan basa-basi, mengeluarkan ponselnya dan menekan satu nama—satu-satunya nama yang tak butuh skrip untuk dibacakan: Kumar, pengendali risiko dari sistem yang tak pernah tertulis.
***
Kami duduk di ruang privat di The Connaught Hotel. Aku, Lyly, dan Kumar. Kumar, pria berwajah Asia Selatan, mengenakan setelan konservatif, jam tangan Patek Philippe, dan membawa dokumen di dalam portofolio hitam seperti seorang dokter membawa hasil diagnosis. Namun yang ia bedah bukan tubuh, melainkan risiko.
“Saya sudah dengar dari Lyly,” katanya membuka pembicaraan. “Kamu ingin menggunakan polis kami sebagai pondasi dari produk hedge fund berbasis supply chain finance dari Yaris Capital.”
Aku mengangguk. “Tapi bukan pondasi tunggal. Saya tidak minta kamu tanggung semua risiko. Hanya menjadi lapisan pertama dari risk shielding.”
Aku menyerahkan proposal setebal sebelas halaman, dicetak rapi dengan watermark logo Aurelius Holdings. Di dalamnya: Struktur Legal SPV di Panama sebagai issuer structured note. Risk-sharing framework yang menjelaskan bahwa insurance hanya menanggung first-loss layer. Simulasi failure rate vs yield, dirancang berdasarkan data simulatif buyer-supplier di platform SCF. Strategi exit melalui sekuritisasi ulang dan rencana proteksi reputasi Kumar melalui rebranding tranche.
Kumar membolak-balik halaman, matanya tajam.
“Kamu tahu, supply chain finance adalah dunia abu-abu. Antara invoice dan kenyataan bisa sangat berbeda. Dan asuransi bukan bank. Kami tak bisa asal klaim.”
Aku mengangguk. “Tapi kamu juga tahu, dunia hedge fund hanya percaya pada yield—dan jaminan.”
“Berapa yield yang kamu janjikan?” tanya Kumar.
“8 persen. Fixed. Dengan tenor rolling fund lima tahun.”
Kumar tertawa, pendek. “8 persen dengan backing AAA-rated insurance? Itu bukan return, itu teater.”
Aku menatapnya. “Kita tidak menjual kepastian. Kita menjual struktur. Yield itu lahir dari velocity, bukan margin. Polis kamu saya jadikan anchor asset. Saya pecah menjadi tranche. Lalu saya jual sebagai note. Bukan pinjaman, bukan saham, tapi klaim atas arus kas yang belum lahir.”
Ia menatapku lama. “Berapa premi yang kamu tetapkan?”
“0.5% per invoice. Real-time, traceable, dan termonitor melalui platform digital.”
“Siapa saja investor utama?”
Aku sodorkan satu lembar kertas: Private Wealth Division dari dua bank Swiss. Family office dari Monaco dan Abu Dhabi Sovereign fund. Dua perusahaan asuransi pensiun dari Kanada
“Mereka beli karena polis kamu. Tanpa kamu, tidak ada investor yang mau beli receivable note tanpa jaminan.”
Kumar menyandarkan punggung ke kursi. Ia tahu permainan ini. Ia bukan pemula. Tapi ia juga tahu—sekali dia setuju, semua pintu terbuka. Uang mengalir. Pasar percaya.
“Kamu bukan investor, B. Kamu bukan trader. Kamu bukan spekulan.”
Aku diam. Menunggu.
“Kamu… arsitek dari sistem yang tidak terlihat. Neraca bayangan yang hidup di luar batas yurisdiksi.”
Kami saling tatap. Lalu berjabat tangan.
“Proposal ini saya bawa ke board besok. Tapi saya yakin mereka akan setuju,” kata Kumar. “Kami masuk.”
Aku mengangguk. “Kalau kamu masuk, Yaris Capital akan hidup. Dan kita bisa mulai mendesain generasi baru dari leverage global.”
***
Sore itu, di kamar hotel.
Langit London kelabu. Lyly duduk di dekat jendela, memandangi taman kecil di bawah, dikelilingi kabut dan ketidakpastian. Aku baru saja selesai membaca email dari tim Zurich. Pesannya jelas:
Yaris belum punya struktur backup untuk risk transfer. Jika kamu masuk sekarang, kamu bisa tentukan seluruh parameter dari skema ini.
Aku menoleh ke Lyly.
“Kamu ingin pakai polis Kumar sebagai collateral produk ini?” tanyanya, datar.
Aku mengangguk. “Yaris hanya punya casing. Aku yang isi kontennya. Tapi Kumar adalah segel kepercayaan.”
“Kamu memang jahat,” sahutnya. “Kamu tahu risiko SCF tidak pernah nol. Tapi kamu bungkus jadi fixed income. Itu bukan inovasi. Itu jebakan.”
Aku tersenyum. “Inovasi dan jebakan adalah dua sisi dari arbitrase persepsi.”
” Please call Mr. Kumar..” Pintaku kepada Lyly.
Lyly berdiri. Ia mengambil ponselnya. Lima menit kemudian, ia kembali. “Kumar setuju bertemu di Hong Kong. Tapi hanya kamu yang bisa bicara soal perjanjian akhirnya.”
“Tentu,” jawabku. Karena dalam permainan ini, hanya ada dua peran: yang percaya, dan yang tahu terlalu banyak.
Di dunia hedge fund, structured notes berbasis receivable finance bukan sekadar produk. Ia adalah cerita. Dan seperti semua cerita yang laku, ia butuh dua hal: jaminan dan rasa aman palsu.
***
Hong Kong, malam yang padat namun tak bising.
Langit gelap berpendar oleh refleksi lampu dari logo-logo bank internasional. Di Admiralty, Financial Club berdiri angkuh—sebuah kuil kepercayaan bagi uang yang tak punya negara.
Aku menjamu Kumar di ruang makan privat. Esther sudah menunggu. Dia Banker di Hong Kong. Temanku sejak usia tiga puluhan. Ia tahu seluruh sistem dari sisi yang jarang dipahami: sisi institusional yang pura-pura tidak melihat.
Kumar masuk dengan langkah biasa. Kami saling menyapa tanpa basa-basi. Aku tidak perlu kenalkan Esther kepada Kumar. Karena mereka sudah saling kenal. Dunia keuangan kecil. Makan malam dimulai bukan dengan menu, tapi dengan topik.
“Jadi,” tanya Esther, “apa itu sebenarnya SCF menurutmu, B?” Nada suaranya ringan, tapi aku tahu itu pancingan teknikal. Esther ingin mendengar versiku—sebagai fund architect.
“Bayangkan ada supplier yang butuh cash sekarang, tapi klien mereka—korporasi besar—baru membayar 90 hari kemudian. Nah, platform SCF kami membayar invoice itu lebih awal, dengan diskon 5–10 persen. Supplier happy. Buyer tetap bayar sesuai jadwal.”
Esther mengangguk. “Itu mirip factoring biasa.”
Aku melanjutkan, “Bedanya, di platform kami semua terverifikasi lewat sistem IT dan real-time cashflow simulation. Karena data supplier, perilaku buyer, dan ranking kontrak semua terhubung di backend kami.”
“Tapi untuk danai semua invoice itu, kamu tidak pakai uang sendiri?” Esther tersenyum sinis.
Aku tersenyum. “Tentu tidak. Kami create structure. Underlying-nya bukan invoice real-time, tapi future receivable. Produk hedge fund yang kami jual adalah narasi atas cash flow.”
Esther tertawa kecil. “Artinya kamu mengatur sistem leverage tanpa menyentuh satu dolar pun uangmu.”
Aku tidak menjawab.
Esther mendekatkan tubuhnya. Suaranya kini lebih rendah, seperti seorang jaksa berbicara pada terdakwa yang juga sahabat lamanya.
“Tapi kamu sadar kan, kalau struktur ini sangat mudah disalahgunakan?”
Aku mengangguk. “Justru karena itu kami pasang insurance layer. Itulah fungsi Kumar.”
Kumar menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Masalahnya bukan hanya proteksi. Masalahnya adalah illusion of control. Sistem kamu terlalu bagus untuk jadi nyata. Dan investor akan percaya terlalu dalam. Lalu… mereka akan overleverage.”
Esther menghela napas, lalu berkata pelan. “Apa yang akan terjadi ketika invoice fiktif mulai diselipkan? Ketika data supplier direkayasa agar terlihat layak? Ketika volume transaksi digelembungkan hanya demi menjaga arus kas masuk dari investor baru?”
Esther menatapku tajam. “Itu bukan platform. Itu schematic leverage. Sebuah engineered optimism yang bergerak dari kepercayaan, bukan nilai.”
Aku tetap tenang. “Dan dalam dunia hedge fund, kepercayaan adalah nilai.”
Esther berdiri, berjalan ke jendela. Di luar, kilatan lampu dari gedung-gedung bank terlihat seperti sumbu yang menunggu api. “Kamu tahu apa yang terjadi setelah itu, B? Sistem runtuh. Karena delay payment buyer. Karena invoice bermasalah. Karena asuransi tak sanggup lagi bayar klaim. Dan ketika itu terjadi… semuanya terlambat.”
Kumar menatapku. “Apakah kamu siap ambil risiko itu?”
Aku menjawab pelan. “Tidak. Karena aku tidak akan menunggu sampai sistem runtuh. Aku akan keluar saat pasar masih mabuk optimisme.”
Kumar acungkan jempol. Esther mengerutkan kening. Setelah itu, aku dan Kumar mulai membahas agenda. Kami menanda tangani Confidential agreement dan NDA, memastikan antara kami tahu sama tahu dan tetap jaga rahasia. Selanjutnya team Kumar di London dan Team saya di Zurich akan terlibat memproses segala aspek sampai Hedge Fund note masuk ke pasar.
***
Enam. bulan kemudian.
Structured hedge fund note senilai USD 1 miliar mulai dijual. Narasi Penawaran. Return tetap: 8% per tahun. Underlying asset: Insurance-wrapped receivable contracts. Risiko rendah karena data termonitor real-time. Telah mendapat internal rating dari dua lembaga pemeringkat boutique (dibina dengan baik, tentu saja). Dalam waktu 13 hari, produk ini terjual habis. Dana masuk berasal dari: Swiss bank surplus division. Family office yang haus narasi Asia growth story. Asuransi yang mencari aset berimbal hasil tetap tapi “asset-backed”
Apa yang mereka beli?
Bukan invoice. Bukan cashflow.
Mereka membeli cerita.
Cerita tentang mesin ekonomi Asia yang produktif. Cerita tentang transparansi digital. Cerita tentang stabilitas berbasis asuransi. Dan seperti semua cerita yang terlalu indah, itu akan retak. Tapi tidak sekarang.
Setiap Jumat, aku menerima laporan dari tim Swiss:
• Net Asset Value (NAV)
• Invoice Actual vs Simulated Ratio
• Deviation Yield
• Settlement flow per region
Semuanya dalam batas aman. Tapi bukan karena sistem aman.
Melainkan karena narasi risiko kami begitu elegan, sehingga pasar belum sempat panik.
***
Empat tahun kemudian, tahun 2017. Aku kirim satu instruksi kepada Team di Swiss:
“Mulai proses buyback.”
Amanda, CEO dari Aurelius Holdings, bertanya, “Kenapa?”
Aku menjawab, “Karena permainan terbaik adalah saat pasar percaya kamu belum mulai bermain.”
Strategi Exit: Penarikan Produk dari Pasar Sekunder. Alasan: rebalancing portfolio. Realitas: deleverage disguised as prudence. Buyback Notes dengan Diskon. Yield dijaga, NAV teta. Investor tidak curiga, karena laporan bulanan tetap hijau. Repackaging Invoice Simulatif ke SPV Baru. Didaur ulang, diberi nama baru. Diposisikan sebagai generasi berikutnya dari “digital receivable innovation”
Kami keluar dengan bersih. Sebelum auditor datang. Sebelum media menggigit. Sebelum pasar curiga. Sebelum regulator paham bahwa yang mereka lihat bukan neraca, tapi cermin. Kami keluar saat narasi masih kuat. Saat ilusi masih diberkati kepercayaan.
***
Tahun 2021.
Kabar itu datang seperti bisikan dari ruang yang tak pernah bersuara: Kumar mengundurkan diri. Board tidak memperpanjang kontraknya. Tekanan datang dari otoritas asuransi Eropa yang mulai mengaudit keterlibatan perusahaan Kumar dalam produk-produk berimbal hasil tinggi yang dibungkus asuransi, tanpa due diligence layak.
Kabar itu menggerakkan sesuatu yang tak terlihat—persepsi risiko. Investor tidak menarik dana secara panik. Mereka hanya mulai bertanya. Dan dalam dunia keuangan, pertanyaan adalah gejala awal pembusukan.
***
Tahun 2022.
Yaris Capital kehilangan lapisan pelindung utamanya: polis asuransi Kumar. Beberapa buyer invoice gagal bayar. Sistem panik. Kompensasi tak lagi bisa ditutup dari dana cadangan. Internal rating yang sebelumnya stabil turun dalam waktu tiga minggu:
From AA- to BB+ to unrated.
Laporan transparansi yang selama ini dibanggakan—ternyata adalah dashboards manipulated via selective API feeds. Audit independen menemukan laporan NAV yang dihasilkan melalui simulasi invoice, bukan data aktual. Investor institusional mulai menarik dana. Swiss bank yang menjadi kustodian mulai menjual posisi.
Efek Domino: NAV turun 34% dalam satu kuartal. Bukan karena kegagalan invoice. Tapi karena mark-to-model valuation yang tak bisa dipertahankan. Two family office dari UEA menghentikan reinvestment. Alasan: reputasi, bukan performa. Dunia hedge fund digerakkan oleh persepsi, bukan kebenaran. Sovereign Fund Afrika menuntut pengembalian dini. Mempicu kegelisahan sistemik. Structured note tak bisa dicairkan dalam tempo singkat Swiss Bank mengirim surat resmi: “Kami memutus hubungan kustodian. Mohon transfer dana ke pihak independen.”
Yaris runtuh.
Total kerugian: USD 10 miliar.
12.000 investor institusional terdampak.
Dua bank Swiss mengalami tekanan likuiditas.
Dan ketika media internasional mulai meliput, satu narasi muncul di mana-mana: “Ini bukan penipuan. Ini kesalahan data.”
Sebuah kalimat yang cukup panjang untuk menunda penyelidikan. Tapi tidak cukup kuat untuk menyelamatkan kepercayaan.
***
Singapura, akhir 2022.
Amanda menemuiku di Marina Bay. “ Maaf tempo hari waktu kamu perintahkan keluar. Aku sempat paranoid. Aku anggap kamu idiot dan lemah. Ternyata pada akhirnya kamu juga yang benar. Dan kami team yang dibawah kamu semua selamat.” Amanda berlinang air mata.
“Kamu tahu, B?” katanya sambil membuka tablet. “Skema kita sudah meledak. Tapi banyak yang masih menyangkal. Investor masih menyebut ini ‘market accident’
Aku mengangguk. “Karena mereka malu mengakui bahwa mereka membeli narasi. Bukan nilai.”
Amanda menunjukkan berita utama:
‘Global Fund Exposure: The Fall of Yaris and the Collapse of Trust’
***
Esther datang malam itu, mengenakan blazer gelap dan kemeja tanpa riasan. Ia duduk di kursi jendela kamar hotelku.
“Jadi sekarang kamu jadi kambing hitam?”
Aku menggeleng. “Tidak. Saya hanya terlalu tahu.”
Esther menatapku lama. “Kamu kerja sama dengan Kumar. Kamu desain polis jadi collateral. Kamu create hedge fund note. Lalu kamu tarik diri saat sistem masih tampak sehat.”
Aku mengangguk.
“Dan kamu tahu sistem itu akan runtuh.”
“Benar. Tapi bukan aku yang menyalakan sumbu. Mereka yang overleverage.”
Esther menunduk. Lalu tertawa kecil. “Kamu predator. Tapi predator yang tahu kapan harus berhenti makan.”
Aku melepaskan dasi. Menatap langit Singapura yang tampak steril—tapi hanya di permukaan. Singapura. Tengah malam yang tenang, tapi tak pernah benar-benar tidur.
Aku duduk di lounge kamar hotel, ditemani Esther. Di luar, lampu-lampu perbankan internasional menyala seperti mata-mata yang tak pernah berkedip. Marina Bay terlihat bersih, tapi aku tahu: bersih adalah ilusi dari sistem yang tahu cara menyembunyikan kekotorannya.
Amanda baru saja pergi setelah menyampaikan kabar: “Investigasi dari Brussels akan dimulai. Tapi kamu tidak disebut langsung. Nama kamu hanya ada di bagian ‘early structuring contributor’.”
Aku tidak terkejut. Dalam shadow finance, arsitek tak pernah tercantum dalam laporan kerugian. Yang dicatat adalah perantara, pemegang dokumen, atau perusahaan cangkang—semua bisa diganti, semua bisa dibakar.
Esther membuka tablet. Memutar grafik. Data pertumbuhan kekayaan ultra-rich Asia Tenggara.
“Lihat ini,” katanya pelan. “Di tengah COVID, di tengah keruntuhan pasar—kekayaan individu terkaya di Indonesia tumbuh 3 kali lipat.”
Aku melihat angka-angkanya. Aku sudah tahu.
Esther melanjutkan, “Dana kampanye capres 2024? Estimasi Rp 30–40 triliun. Itu bisa dibiayai oleh lima orang kaya. Dan mereka tidak akan merasa kehilangan.”
“Dan mereka dapat apa?” tanyaku.
“Lisensi. Deregulasi. Impunitas. Mereka tidak butuh kekuasaan. Mereka hanya butuh sistem yang tidak menghalangi rencana mereka.”
Aku menyesap teh. Diam.
Esther memandangku tajam. “Politik hari ini bukan tentang ideologi. Tapi tentang kanalisasi shadow economy. Yang tampil di layar cuma badut. Yang menentukan arah regulasi adalah rekening yang tidak terdaftar.”
Aku mengangguk. “Kamu benar.”
Amanda pernah berkata, “Masalahnya bukan karena orang kaya masuk politik. Tapi karena uang ilegal masuk politik, lewat sistem keuangan legal.”
Kami berdiskusi panjang malam itu—tentang struktur dunia yang tak bisa diadili: Dana hasil tambang ilegal yang dicuci lewat Lichtenstein dan labuhan trust di Mauritius. Uang dari penipuan digital yang masuk ke CSR, yayasan pendidikan, bahkan startup AI lokal. Kartel logistik yang menggunakan receivable leasing untuk menyamarkan profit haram. Dan sistem SCF seperti milik Yaris… yang menjadi contoh bagaimana ilusi pertumbuhan bisa dijual sebagai kredibilitas.
Esther berkata: “Kamu tidak hanya menciptakan leverage, B. Kamu menciptakan narrative infrastructure. Sebuah sistem di mana uang haram bisa bernafas legalitas.”
Aku tersenyum kecil. “Aku hanya merancang sistem yang dunia butuhkan—untuk pura-pura stabil.”
Jam menunjukkan pukul 02:00. Esther masih di kursi dekat jendela.
“Kamu tahu, B?” katanya dengan suara nyaris pelan.
“Semakin sistem ini membuat segelintir orang kaya, semakin banyak yang jatuh miskin.”
Aku memandangnya. Tidak bertanya.
“Miskin karena kehilangan kepercayaan. Kepada data. Kepada etika. Kepada manusia. Di dunia ini, yang tulus dianggap bodoh. Yang manipulatif dipanggil keynote speaker.”
Aku hanya menjawab pelan, “Kita semua miskin, Es. Hanya saja, kita dibayar cukup besar agar tidak sadar.”
Esther mendekat. Duduk di sofa seberangku.
“Kamu akan mulai lagi, kan? Sistem baru?”
Aku tak menjawab.
Ia menarik napas panjang. “Kalau kamu mulai lagi, ajak aku. Tapi kali ini… desain dari awal agar bisa runtuh dengan indah.”
Tiba-tiba, Esther berkata lirih, “Tahu nggak, B… kenangan terindah itu justru masa saat kita masih miskin. Jakarta tahun 1994. Aku masih junior officer bank. Kamu masih pengusaha supplier pabrik kecil. Tiap Jumat malam nongkrong di TIM, minum murah, tertawa tanpa presentasi. Kita pulang dengan penuh utang… tapi juga penuh tawa.”
Aku diam. Angin malam dari ventilasi menyentuh wajah kami seperti nostalgia yang tak diundang.
“Sekarang? Kita bisa beli dunia. Tapi tak bisa pulang ke versi kita yang dulu.”
Aku menatap cermin di seberang ruangan. Di pantulannya, ada aku, ada Esther, ada sistem yang tak bisa kita cabut dari diri kita sendiri.
Sebelum tidur, aku memeriksa email terakhir dari Zurich.
“New SPV registered in Seychelles. Draft white-label note completed. Ready for next issue.”
Aku menatap layar lama.
Bukan karena ragu.
Tapi karena aku tahu: Sistem tidak runtuh. Ia hanya mengganti casing. Dan di balik casing itu, kita semua tetap ikut menulis manualnya.

Tinggalkan komentar