Diantara luka dan cahaya

Sore itu, langit Kwitang seperti kain kusam yang dilukis dengan warna senja. Matahari bergelayut di ujung pohon angsana, seakan kelelahan untuk memberi cahaya. Dari lorong kos-kosan, bau gorengan bercampur dengan aroma tanah yang baru saja disiram gerimis.

Aku duduk di depan pintu kamar kos, menatap hujan yang turun pelan. Beberapa hari ini hujan selalu seperti ini: tidak deras, tidak juga rintik. Seolah hujan tahu, ada rahasia kecil yang harus dijaga di antara kami para perantau yang tinggal di kamar sempit dengan kasur tipis.

Robert keluar dari kamarnya dengan langkah tergesa. Tas besar di punggungnya. Mata itu, mata yang biasanya penuh kelakar mahasiswa tingkat akhir. Kini seperti kaca retak.

“Ke mana, Bet?” tanyaku.

“Cabut gue,” jawabnya pendek, napasnya tergesa. Ia melangkah masuk ke kamarku seolah butuh benteng terakhir untuk bersembunyi dari kenyataan.

“Cabut? Dari siapa lu kabur?” aku menatapnya dengan heran.

Robert menghela napas. “Amel minta gue kawinin. Bego apa.”

Aku terdiam. Kata-katanya jatuh seperti batu di dasar sumur. “Kan lu pacaran sama dia. Dia sering nginep di kosan lu. Jangan begitulah, Bet. Kalau lu belum siap nikah, ngomong baik-baik. Jangan kabur.”

“Dia hamil. Lu nggak ngerti, ya? Gue belum kelar kuliah. Masa depan gue masih panjang. Gue nggak mau kejebak di sini,” kata Robert dengan suara yang tinggi, seperti orang yang lebih takut pada bayangannya sendiri ketimbang kenyataan. Aku menatapnya, mencoba mencari sisa hati yang mungkin ia sembunyikan. “Kalau lu laki-laki, ya tanggung jawab.”

Robert tertawa hambar. Tawa yang tidak lucu. “Ogah gue. Masih banyak cewek. Kenapa harus dia?”

Ia melangkah keluar. Tas besar di punggungnya, langkah tergesa di lorong basah. Dari jauh, aku hanya bisa melihat punggungnya yang hilang di tikungan. Dalam hati aku bertanya-tanya, terbuat dari apakah hatinya? Dalam rahim wanita itu ada cabang bayi. Tentu berharap ayahnya menyambut  kelahirannya dengan ceria. Mengapa dia kabur? 

***

Teras kos itu tidak pernah sunyi dari langkah kaki orang-orang muda. Suatu pagi, para mahasiswa berangkat kuliah dengan wajah yang masih setengah tertidur, sambil menenteng buku atau map lusuh. Sore harinya, teras kembali ramai dengan suara radio yang memutar lagu-lagu pop patah hati, aroma kopi hitam, dan obrolan ringan tentang mimpi-mimpi yang sering terasa lebih besar daripada isi dompet.

Namun, sore itu berbeda. Teras kos yang biasanya gaduh menjadi senyap, seolah ikut menunggu sesuatu yang tak pasti. Amel datang, menatap pintu kamar kos dengan wajah yang penuh tanya. Gadis SMA dengan seragam putih abu yang sedikit kusut. Rambutnya digerai seadanya, matanya seperti memanggul seluruh langit mendung.

“Bang Ale, Bang Robert ke mana?” suaranya lirih, seperti retakan di gelas yang tak terlihat.

Aku diam beberapa detik, merasa kata-kata Robert kemarin masih berputar di kepalaku. “Dia pindah, Mel.”

“Pindah? Ke mana?” Wajahnya berubah pucat, tatapannya seperti seseorang yang mendadak kehilangan rumah.

Aku menggeleng. “Entahlah, Mel. Dia nggak bilang apa-apa.”

Air mata Amel turun tanpa perlawanan. Ia tidak meraung, tidak bertanya lagi. Ada kesedihan yang terlalu dalam untuk diucapkan. “Aku pulang aja, Bang,” katanya lirih.

Aku mencoba menyodorkan uang ongkos, tapi dia menolak dengan menggeleng. “Aku ada uang. Terima kasih.”

Aku hanya bisa melihat punggungnya yang pergi perlahan di bawah hujan tipis. Punggung yang ringkih, tapi menolak untuk jatuh.

Malamnya aku duduk di depan kamar, ditemani secangkir kopi pahit. Lampu-lampu jalan memantul di genangan air hujan. Dalam diam, aku bertanya pada diriku sendiri: bagaimana mungkin cinta bisa semudah itu meninggalkan seseorang? Bagaimana mungkin Robert, yang kemarin mengaku mencintainya, pergi begitu saja? Sementara walau belum merasakan jatuh cinta dan dicintai, namun aku bisa merasakan luka tercampakan dan terlupakan. Karena mungkin aku masih punya empati.

***

Sebulan Kemudian

Langit Jakarta berganti warna, hujan yang dulu setiap sore kini jarang turun. Suatu sore, Amel datang kembali. Amel berdiri di depan teras, kali ini dengan tas besar di tangannya. Matanya kosong, seperti langit setelah badai. Wajah putih gadis Riau  etnis Tionghoa itu seperti bulan pucat tanpa cahaya.

“Bang… aku diusir paman,” suaranya pelan, hampir seperti bisikan.

Aku menatapnya, mencoba memahami kalimat itu. Dia datang lagi kemari karena berharap pujaan hatinya, Robert ada di tempat kos. Berharap kekasihnya melindunginya. Berharap pada batas tak tertanggungkan. Naif memang.

“Sekolah tahu aku hamil. Aku harus berhenti sekolah,” lanjutnya, air mata mulai menggenang di sudut matanya. “Dari SMP aku yatim piatu. Aku nggak punya siapa-siapa. Aku cuma numpang di rumah paman. Sedara jauh dari ibuku. Sekarang aku… nggak tahu ke mana.”

Aku diam. Rasanya seluruh dunia berhenti sejenak mendengar kalimat itu. Aku ingin marah pada Robert, ingin mencari lelaki itu, tapi apa gunanya?

“Masuk dulu, Mel,” kataku.

Dia duduk di kursi kayu depan kamar kos. Wajahnya pucat. Air matanya jatuh pelan, satu per satu, seperti tetes hujan di tepi jendela.

Tak lama kemudian tubuhnya goyah. Aku menahan Amel agar tidak jatuh. “Mel… kamu kenapa?”

Dia terisak, tapi tak sanggup bicara. Tubuhnya terasa dingin. Aku teriak memanggil. Ibu kos datang dengan langkah tergesa. Kami membaringkan Amel di dipan kecil. “Kasih air hangat, Le,” kata ibu kos. Aku menyiapkan air dan minyak angin. Setelah beberapa menit, Amel mulai siuman. Matanya merah, seperti baru saja melewati hujan yang panjang.

“Terima kasih, Bang,” katanya lirih.

Aku ceritakan keadaan Amel. Ibu kos menatapnya dengan iba. “Kamu tinggal saja di rumah orang tua Ibu di Cempaka Putih. Dia butuh teman, dan kamu butuh tempat. Mau, kan?”

Amel hanya menangis pelan. Aku mengangguk berharap Amel menerima tawaran itu..

“Ikut Ibu ya, Mel. Di sana kamu lebih aman.”

Dia mengangguk, pelan sekali. “Terima kasih, Bu.”

Sore Itu. Aku bersama ibu kos mengantarnya ke Cempaka putih. Di sepanjang perjalanan, aku merasa ada sesuatu yang tak bisa kujelaskan: seperti rasa rasa iba, dan rasa hormat pada gadis muda yang tetap mencoba bertahan di tengah luka. Entah mengapa rasa ibaku berubah jadi sayang. Ingin berbuat sesuatu untuk menjaga nya agar tetap tegar dari aniaya pria yang membuang asanya.

Sesampainya di depan rumah yang baru, aku berkata, “Kamu jaga diri, Mel. Semua ini cuma fase. Hujan nggak akan turun selamanya. Berdoalah terus kepada Tuhan. Hanya Tuhan sahabat kita yang miskin ini ..”

Amel tersenyum tipis. Senyum itu bukan kebahagiaan, tapi semacam tekad yang lahir dari rasa sakit.

“Ya, Bang,” katanya pelan.

Aku berdiri di depan gerbang, menatap punggungnya yang masuk ke dalam rumah. Di mataku, punggung itu seperti bayangan yang menolak kalah. Malam itu, aku kembali ke kos. Teras kosong, hanya ada suara rintik hujan di seng tua. Aku duduk sendiri, mendengar gema langkahnya yang masih tertinggal di lorong ingatanku.

Bebarap hari kemudian. Aku dapat kabar. Amel mulai bekerja borongan. Ia membuat kantong kertas untuk toko-toko sekitar. Setiap malam, di kamarnya yang sempit, ia duduk dengan tenang, lipatan demi lipatan, seolah menyusun ulang hidupnya yang retak.

“Aku harus cari modal, Bang. Aku mau coba dagang kecil-kecilan. Untuk persiapan menyambut bayiku lahir.” katanya saat aku menemuinya.

Aku menatap jemari tangannya. Ada bekas lem, ada sedikit luka kecil karena gunting. Tapi Amel tidak mengeluh. Tangannya seperti doa yang diam-diam membangun kekuatan.

Ibu tempatnya menumpang berkata, “Dia anak rajin. Apa saja dikerjakan. Saya mau kasih uang tambahan, tapi dia nggak mau. Katanya dia hanya butuh kesempatan.” Aku tersenyum mendengarnya. Ada rasa bangga yang tak bisa kujelaskan.

***

Jakarta malam itu seperti kota yang kehilangan detak. Langit tak lagi punya bintang, hanya lampu jalan yang kusam, meneteskan cahaya seperti pelita yang dipaksa bertahan di tengah angin. Aku baru saja kembali dari kantor saat telepon itu datang—telepon yang mengubah soreku menjadi rasa cemas yang tak bisa kubayangkan.

“Bang, tolong… Amel di klinik… dia pendarahan,” suara di ujung sana terdengar panik.

Aku bergegas tanpa berpikir panjang. Motor-motor melintas dengan suara knalpot yang bising, tetapi di telingaku, semua terdengar jauh. Di jalan Pramuka, malam itu, aku hanya mendengar suara detak jantungku sendiri.

Klinik kecil di pinggir jalan tak mampu menahan keadaan Amel. “Bawa ke rumah sakit besar,” kata perawat dengan suara tegas. Aku menggendongnya keluar.

Tubuh Amel terasa ringan, seperti daun kering. Ia hanya berbisik, “Bang, sakit…”

“Kuat, Mel. Kita ke rumah sakit,” jawabku, suaraku bergetar.

Bajaj tua itu berderak di jalan. Lampu-lampu kota memantul di mata Amel yang setengah tertutup. Aku menatap darah yang mengalir dari selangkangannya, menggenangi jok plastik bajaj, membuat aroma besi menusuk hidung. Celanaku basah. Tapi aku tak peduli.

“Mel, tahan sebentar lagi. Kita hampir sampai,” bisikku, seolah kata-kata bisa menjadi jembatan yang menahan nyawanya agar tak jatuh.

Di luar, hujan turun lagi. Tipis. Butirnya menempel di jendela bajaj, seperti air mata yang tak bisa kuusir.

Di Rumah Sakit Bersalin Budi Kemuliaan, aku menggendongnya masuk. Perawat-perawat datang tergesa. Dokter memberi kode: gawat. Aku hanya bisa berdiri di depan pintu ruang tindakan, mendengar langkah-langkah tergesa di dalam.

“Apakah dia baik-baik saja?” tanyaku, suaraku pecah.

“Kami coba hentikan pendarahannya. Tunggu di luar, Dik,” kata seorang perawat dengan mata penuh empati.

Aku duduk di bangku panjang koridor rumah sakit. Bau obat-obatan bercampur dengan rasa takut. Saat itu usiaku baru 20 tahun. Di kepalaku, semua kenangan Amel berputar seperti film hitam-putih: tatapan matanya di teras kos, suaranya yang pelan ketika menolak uangku, senyumnya yang lebih mirip luka.

Jam di dinding menunjuk pukul sebelas malam ketika dokter keluar. “Kondisinya stabil. Tapi… dia keguguran.”

Aku mengangguk. Tidak ada kata-kata. Hanya rasa kosong yang menjelma menjadi hening panjang.

Aku masuk ke ruang rawat. Amel terbaring, wajahnya pucat, matanya terpejam. Aku duduk di sampingnya, menggenggam tangannya yang dingin. “Mel, kamu kuat. Jangan menyerah,” bisikku.

Amel membuka mata perlahan. “Bang… maaf aku merepotkan,” suaranya lirih, hampir tak terdengar.

“Jangan bicara begitu. Kamu bukan merepotkan. Kamu sahabatku, adikku..

Dia menatapku, seakan ingin menangis lagi tapi sudah kehabisan air mata.

Amel keluar dari rumah sakit seminggu kemudian. Aku membayar semua biaya rawat inapnya. Robert? Lelaki itu sudah hilang seperti debu dihembus angin. Amel tidak bertanya tentang Robert. Ia juga tidak mengutuknya. Ada ketegaran aneh di wajahnya. Ia hanya berkata, “Bang, aku mau sekolah malam. Aku harus selesaikan SMA-ku.”

Aku menatapnya lama. “Kamu yakin, Mel?”

“Yakin. Aku nggak mau hidupku berhenti di sini,” jawabnya dengan mata yang kini tak lagi basah, tapi tegar. 

Setiap sore, setelah membantu pekerjaan rumah, Amel pergi ke sekolah malam. Aku pernah mengantarnya sekali. Ia duduk di bangku kelas bersama orang-orang yang jauh lebih tua, beberapa di antaranya sudah bekerja sebagai buruh pabrik. Amel menatap papan tulis dengan mata yang fokus, seperti menatap satu-satunya jalan keluar dari lorong gelap masa lalu.

“Aku nggak mau kalah dengan keadaan, Bang,” ucapnya saat pulang.

“Dan kamu nggak akan kalah,” jawabku.

Aku merasa, gadis ini sedang membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar ijazah. Ia sedang membangun dirinya sendiri—dari puing-puing yang dulu hampir meremukkannya.

Beberapa bulan kemudian, aku melihat senyum yang berbeda di wajah Amel. Senyum itu bukan lagi senyum getir gadis yang ditinggalkan, tapi senyum perempuan yang menemukan dirinya.

“Bang, aku lulus ujian tengah semester. Nilai matematikaku bagus,” katanya dengan mata berbinar. “ Berkat abang yang ajarin aku.” 

Aku mengacungkan jempol. “Kamu hebat, Mel.”

“Aku hanya ingin buat abang bangga. Aku bukan adik yang bodoh dan lemah.,.”

Kata-katanya membuatku terdiam. Di usianya yang masih muda, ia sudah paham arti berterimakasih dan menjaga dignity 

Malam itu, aku mengajaknya duduk di teras kos. Hujan turun pelan, seperti lagu pelipur lara. “Mel, dunia ini kejam. Tapi kamu jangan berhenti percaya sama dirimu,” kataku.

Amel mengangguk. “Bang, aku tahu. Tapi kalau aku masih punya Tuhan, aku nggak takut. Aku belajar, kadang yang bikin kita jatuh bukan dunia, tapi pikiran kita sendiri yang bilang kita nggak bisa.”

Aku tertegun. Kata-katanya seperti mantra sederhana yang menenangkan hati.

Hari itu, aku menyadari sesuatu: Amel tidak lagi sama. Gadis SMA yang dulu menangis di teras kos sudah hilang. Yang ada kini adalah perempuan muda yang sedang membentuk dirinya sendiri dari nol, dengan kekuatan yang mungkin tidak semua orang bisa punya. Ia bukan lagi korban dari cinta yang gagal. Ia adalah seseorang yang memilih untuk berdiri, bahkan saat tidak ada yang mau menolongnya. Dan di malam yang sunyi itu, aku berdoa dalam hati: semoga dunia tidak lagi kejam padanya.

***

Pagi itu matahari seakan lebih hangat dari biasanya. Di teras tempat kos, Amel berdiri dengan gaun sederhana, memegang map ijazah SMA malam yang baru saja diterimanya. Matanya berbinar, memantulkan cahaya yang tidak pernah kutemukan sebelumnya.

“Bang, aku lulus,” katanya dengan senyum yang jujur, senyum yang lahir dari kerja keras dan malam-malam panjang penuh lipatan kertas dan doa.

Aku menatapnya lama. Dalam diriku ada rasa haru yang tak terucap. Aku teringat sore-sore di teras kos, saat gadis ini datang dengan air mata dan ketakutan. Kini, dia berdiri di depanku—bukan lagi korban keadaan, tetapi seorang pemenang yang diam-diam mengalahkan masa lalunya sendiri.

“Bangga banget sama kamu, Mel,” ucapku.

Amel tertawa kecil. “Aku nggak akan berhenti di sini. Aku mau cari kerja. Aku mau mandiri, Bang.”

***

Beberapa minggu kemudian, Amel datang ke kos dengan kabar baru.

“Bang, aku dapat kerja. Jadi caddy di lapangan golf Rawamangun.”

Aku sedikit terkejut. “Caddy?”

“Iya, Bang. Awalnya aku kira ditirima karena aku cantik. Tapi katanya aku punya potensi. Bahasa Inggrisku cukup bagus, jadi aku bisa komunikasi dengan tamu asing,” katanya sambil tertawa kecil.

“ Memang kamu cantik, Mel,” Kataku. Wajahnya merona.

Aku menatapnya. Di balik pekerjaannya, aku melihat keberanian. Tidak banyak gadis seusianya yang mau bekerja keras dengan cara itu.

“Kerja apa pun yang halal itu mulia, Mel. Tapi ingat pesan abang: jaga diri baik-baik.”

“Iya, Bang,” jawabnya.

Di matanya, aku melihat keyakinan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Seolah lapangan golf itu bukan hanya tempat kerja, tapi pintu masuk menuju dunia baru yang menunggu untuk ditaklukkan.

Amel bercerita suatu sore. Tentang lapangan golf yang hijau, luas, dan seolah tak tersentuh oleh kebisingan Jakarta. Tentang para tamu asing dengan bahasa dan sikap yang berbeda-beda.

“Bang, aku belajar banyak. Aku belajar cara bersikap profesional, cara melayani, bahkan aku jadi lebih percaya diri bicara bahasa Inggris.”

Aku tersenyum. “Itu bagus, Mel. Dunia ini besar. Jangan takut untuk melangkah lebih jauh.”

Di saat itu aku sadar, lapangan golf Rawamangun bukan sekadar tempat Amel mencari nafkah, tapi juga arena di mana dia belajar mengenal dunia di luar batas-batas Kwitang dan Taman Solo.

Beberapa kali Amel datang ke kosku di hari libur. Kami duduk di teras, ditemani suara jangkrik dan aroma kopi hitam.

“Bang, kadang aku pikir, kalau dulu aku menyerah waktu diusir paman, mungkin aku nggak akan duduk di sini sekarang,” katanya lirih.

Aku menatapnya. “Mel, orang yang kuat bukan orang yang nggak pernah jatuh, tapi orang yang tahu caranya bangkit. Kamu sudah buktikan itu.”

Amel tersenyum, dan senyum itu terasa seperti jawaban untuk semua luka masa lalunya. “ Dan siapa sangka. Bang Ale, yang tadinya aku tahu adalah pria pendiam dan wajah serius, ternyata berhati malaikat. Abang ale..terimakasih..” Kata Mel

***

Di suatu Minggu, Amel datang dan bertemu dengan Risa, temanku yang saat itu sedang menginap di kos.

“Ini Risa, temanku,” kataku memperkenalkan.

Amel menatap Risa, lalu tersenyum sopan. “Halo, Kak.”

“Dan ini Amel, adik angkatku,” kataku kepada Risa.

“ Dik Mel, Aku sama dengan kamu. Sama sama anak yatim. Aku dibantu juga sama bang Ale. Numpang sementara di tempak kos nya. “ Kata Risa.

“ Kita bukan pacar Bang Ale, tetapi dia jaga kita seperti adiknya sendiri. Dan benar benar seperti kakak kandung. Selalu ada untuk kita..” Kata Mel. Risa memeluk Mel. Aku hanya tersenyum melihat mereka berdua.  Malam itu kami duduk bertiga di teras. Risa dan Amel berbincang ringan tentang hidup, tentang perempuan, tentang cara mereka bertahan di dunia yang tidak ramah. 

“Bang, kalau suatu hari aku bisa punya pekerjaan yang lebih baik, aku cuma ingin satu, belikan abang dasi. “ Katanya tersenyum. “ Ya bang Ale, baru kerja seminggu di perusahaan Jepang. Dasinya beli di kaki lima. “ Kata Risa. Mereka berdua tertawa. Aku hanya senyum.  Malam itu, Mel terpaksa nginap juga ditempat kos. Jadi aku terpaksa tidur di lantai agar mereka bisa tidur di ranjang berdua.

***

Mungkin malam itu malam terakhir kami bertemu. Dua hari kemudian aku berangkat ke Tokyo ikut training selam 2 bulan. Setelah aku kembali, ke Jakarta. Aku sibuk. Aku sempat telp ke tempat kos Amel. Katanya sudah pindah. Tidak tahu kemana pindahnya. Pada waktu bersamaan Risa juga menghilang. Engga tahu kemana. Hari berganti hari, dan minggu terlewati, bulan berganti tahun pun terlewati. 2 tahun setelah itu, aku menikah dengan wanita pilihan orang tuaku. Tak terasa sudah 10 tahun tidak saling komunikasi. Dalam setiap doaku, nama Amel dan Risa selalu kusebut. Karena aku tahu mereka wanita yatim dan tidak ada tempat bergantung.

***

1994, Changi Airport adalah dunia yang tak pernah tidur. Deru koper di lantai marmer, suara pengumuman keberangkatan yang terdengar di antara langkah-langkah terburu penumpang, lampu-lampu terang yang seolah tak pernah padam. Semua orang tampak punya tujuan, kecuali aku yang hanya menunggu transit menuju Jakarta.

Aku duduk di kursi dekat gerbang keberangkatan, menatap orang-orang lewat. Di tengah keramaian itu, ada sesuatu yang mendadak menarik pandanganku: seorang perempuan, berjalan dengan anggun namun sederhana. Rambutnya terurai, wajahnya menatap sekeliling dengan mata yang… aku kenal.

“Amel?” suaraku hampir tak percaya.

Perempuan itu berhenti. Menoleh.

“Abang…” suaranya lirih, tapi di telingaku terasa seperti denting piano yang merobek sunyi. Dalam hitungan detik, ia memelukku. Aku bisa merasakan tubuhnya bergetar.

“Mel…” hanya itu kata yang mampu keluar. Kami berdiri di tengah keramaian bandara, dan waktu seakan berhenti.

Kami duduk di sebuah kafe bandara. Aku memandangi wajahnya, yang kini lebih dewasa, lebih matang. Tapi di matanya, aku masih melihat Amel yang dulu menangis di teras kos—mata yang pernah basah oleh luka, kini lebih tenang, lebih berani.

“Bang, Mel kangen,” katanya pelan.

Aku tersenyum. “Kamu… apa kabar, Mel? Sudah menikah?”

Amel menggeleng. “Tidak, Bang. Dalam hidupku cuma ada Tuhan… dan Abang.”

Matanya menatapku, tidak dengan rasa cinta yang romantis, tapi dengan rasa hormat dan syukur. Seakan aku adalah satu-satunya pria yang dia percaya menjaganya.

“Setelah setahun jadi caddy di Rawamangun, aku ketemu klien asing. Mereka bukan cuma main golf, tapi juga bicarakan bisnis. Aku belajar banyak dari mereka. Bahasa Inggris yang dulu cuma cukup buat ngobrol, sekarang kupakai untuk negosiasi,” ujarnya.

Amel bercerita tentang tawaran kerja di Singapura: menjadi agen pembelian mesin untuk pembangunan pabrik kimia di Indonesia.

“Aku belajar dari bawah, Bang. Aku tahu cara negosiasi LC, cara urus pengapalan barang, bahkan instalasi mesin. Semuanya kupelajari dengan diam-diam, karena aku nggak mau selamanya hanya jadi penonton dalam dunia ini.”

Aku mendengarkan dengan hati yang campur aduk.  Kami duduk lama di kafe itu, seolah semua penerbangan tak lagi penting. Amel memandang ke luar jendela, ke landasan pacu yang dipenuhi cahaya lampu pesawat.

“Bang, dulu aku pikir hidupku selesai waktu paman usir aku. Tapi sekarang aku sadar, hidup ini seperti bandara. Ada saat kita harus menunggu, ada saat kita harus pergi, dan ada saat kita harus kembali. Yang penting, kita tahu tujuan kita.”

Aku terdiam. Kalimatnya sederhana, tapi menghunjam seperti pisau ke hati.

“Bang, kalau dulu Abang nggak nolong aku, mungkin aku sudah hilang. Aku… nggak pernah lupa. Bertahun tahun Mel selalu berdoa untuk abang. Mel kangen. Tapi Mel engga mau merepotkan abang. Ketulusan abang terlalu mahal bagi Mel… Maafkan kalau Mel tidak berusaha menemui abang atau tidak berkirim kabar ” kata Amel. Aku menatapnya. Dalam senyumnya, ada rasa terima kasih yang lebih dalam dari sekadar kata-kata.

Aku ingin mengatakan banyak hal—tentang rasa kagumku, tentang betapa aku selalu mengingatnya—tapi aku hanya mampu berkata, “Kamu sudah hebat sekarang, Mel. Aku bangga.”

Dia tersenyum, senyum yang membuat Changi Airport yang dingin terasa hangat.

Panggilan boarding terdengar. Amel menatapku. “Bang, aku harus jalan. Tapi aku yakin kita akan bertemu lagi. Dunia ini kecil.”

“ Pergilah. Yang penting jaga Kesehatan Ya Mel” Kataku. 

Aku berdiri, menatap punggungnya yang perlahan menjauh, seperti dulu saat ia pergi dari teras kos. Bedanya, kali ini punggung itu tidak ringkih. Punggung itu kokoh, milik seorang perempuan yang tahu ke mana ia melangkah. Aku hanya berbisik dalam hati: Selamat jalan, Mel. Kau telah menang.

Aku meninggalkan bandara dengan hati yang penuh. Dalam benakku, wajah Amel tetap seperti hujan yang turun pelan: mengingatkan bahwa kehidupan tidak selalu keras, selama kita tahu bagaimana berdiri lagi.

***

Setelah pertemuan di Changi Airport, aku tahu bahwa Amel bukan lagi gadis yang pernah menangis di teras kos. Ia kini seperti pohon yang akarnya tumbuh menembus batu, berdiri kokoh di tanah yang dulu nyaris menelannya. Tahun 2000, aku bertemu lagi dengannya di Jalan Batutulis. Ia turun dari mobil sedan hitam dengan pakaian rapi dan langkah penuh wibawa. “Bang Ale,” katanya tersenyum, “Boss-ku di Singapura suruh aku urus lelang BPPN. Duit mereka nggak ada serinya, Bang.”

Aku terperangah. “Wah, itu bukan main-main, Mel. Hati-hati.”

Dia tertawa kecil. “Bang, abang bangga nggak lihat adiknya sekarang?”

Aku mendekat, memeluknya. “Bangga sekali, Mel.”

Saat itu aku tahu, Amel benar-benar telah menjadi pohon baja. Tak ada badai yang bisa meruntuhkannya.

Kami duduk sebentar di kafe kecil dekat Batutulis. Dia kembali ke ke dalam kendaraan terparkir. Dia membawa kotak warna merah Panjang. “ Ini dasi Mel  beli 4 tahun lalu. Selalu Mel simpan di dalam kendaraan. Berharap kalau ketemu abang, Mel bisa tunaikan janji Mel dulu. Memberi abang dasi..”  

Aku bertanya, “Mel, apa kamu masih ingat Robert?”

Dia menatap ke luar jendela. “Bang, ketika Bang Robert mencampakkan aku, awalnya aku marah. Tapi sekarang aku paham, dia hanya bagian dari jalan hidupku. Kalau dia nggak pergi, aku nggak akan berdiri di sini sekarang. Cinta itu bukan soal menyalahkan, tapi soal berdamai.”

Aku terdiam. Kata-kata Amel seperti hujan yang jatuh pelan-pelan di dalam diriku, menyadarkan bahwa luka bukan musuh, tapi guru yang keras.

Amel kini memiliki jalannya sendiri. Dia bekerja dengan jaringan bisnis internasional, mengenal orang-orang yang dulu hanya ada di halaman majalah ekonomi. “Bang, dulu aku cuma caddy, aku bahkan nggak tahu cara bicara dengan orang penting. Tapi sekarang, aku yang memimpin tim kecil di bawah holding Singapura,” katanya dengan senyum tipis.

Aku tahu, di balik semua itu ada kerja keras yang tak pernah terlihat: malam-malam panjang mempelajari kontrak, diskusi dengan orang asing, perjalanan bisnis yang melelahkan.

Malam itu, setelah kami berpisah, aku duduk lama di teras rumah. Aku memikirkan perjalanan hidup Amel—gadis yang dulu seperti hujan yang jatuh tanpa arah, kini berubah menjadi pohon yang menaungi dirinya sendiri. Dalam hati, aku berdoa: Semoga dunia ini selalu bersahabat denganmu, Mel. Semoga hujan yang dulu membuatmu jatuh kini menjadi alasanmu tumbuh.

Aku tahu, Amel belum berhenti di sini. Jalan yang ia pilih adalah jalan panjang, dengan tikungan-tikungan tajam. Tapi aku percaya, perempuan ini telah ditempa untuk menghadapi apa saja.

***

2010. Hong Kong selalu punya aroma kesibukan yang tak pernah reda. Dari pelabuhan Victoria, kapal-kapal kargo berlayar seperti barisan semut raksasa, membawa rahasia perdagangan dunia. Langit di atasnya berwarna abu-abu baja, seolah ikut memantulkan kegigihan kota ini. Dalam kesibukan kota ini, ada seseorang yang sudah menungguku: Amel.

Dari kejauhan, aku melihatnya berdiri di lobi hotel internasional di Admiralty. Ia tidak lagi mengenakan seragam putih abu, tidak lagi membawa tas lusuh. Di hadapanku kini berdiri seorang perempuan berblazer hitam, dengan rambut hitam yang ditata rapi. Senyum Amel hangat, tapi matanya tajam, seperti seorang pebisnis yang sudah memahami tarian angka di balik meja rapat.

“Bang Ale,” katanya sambil memelukku. Ada rasa asing tapi juga rasa akrab dalam pelukan itu—asing karena Amel yang dulu sudah tak ada, akrab karena aku masih melihat kilatan mata yang sama.

Kami duduk di restoran hotel dengan pemandangan gedung-gedung tinggi yang berjajar seperti deretan tombak.

“Bang, aku sudah punya holding di Singapura. Walau saham ku kecil tapi pemegang saham lain semua orang hebat.”  katanya sambil menatapku lurus. “Holding ini bergerak di tambang batubara dan kebun sawit. Kita lagi ekspansi, bahkan lagi bidik akuisisi pabrik ethanol dan perkebunan singkong di Sumatera. Udah listed Simex”

Aku tertegun. “Kamu sudah sejauh ini, Mel?”

Dia mengangguk. “Aku belajar banyak, Bang. Dari proyek pabrik kimia dulu, aku paham alur bisnis global. Aku tahu gimana cara membaca pasar. Aku tahu gimana cara menghadapi para investor. Aku bukan lagi gadis yang cuma terjebak di masa lalu.”

Amel bicara dengan nada tegas, tapi tanpa kehilangan kelembutan. Seperti seorang perempuan yang sudah tahu betul apa artinya menanggung keputusan besar.

***

Malam itu, di sebuah business center hotel di jantung Hong Kong, Amel duduk di hadapanku dengan wajah pucat. Layar laptopnya menampilkan spreadsheet panjang: proyeksi arus kas, struktur utang, dan angka-angka merah yang terasa seperti palu menghantam kepalanya. Di matanya ada gelisah yang tak pernah kulihat sebelumnya. Dia seperti seseorang yang baru saja kehilangan kompas di tengah lautan.

“Bang… aku punya masalah besar,” katanya lirih, hampir tak terdengar, seolah kata-kata itu terlalu berat untuk diucapkan.

Aku memandangnya. “Apa yang terjadi, Mel?”

“Buyer ethanol dari Jepang batalin kontrak offtake. Mereka mundur. “ Wajah Mel mulai keliatan pucat. Dia berusaha telp ke Singapore bicara dengan mitranya. Keliatan wajahnya tegang. Berkali kali terdengar dia minta maaf.  “ Mitraku ancam aku. Kalau akuisisi gagal, aku keluar sebagai pemegang saham. Alasanya kami sudah teken akad MOU dan HOA dengan perusahaan target. Dan sudah di announce ke pada publik rencana akuisisi ini. Kalau batal financial closing, aku akan berhadapan dengan masalah hukum. No way return “ ujarnya. Sorot matanya memerah, seperti seseorang yang melihat masa depan runtuh di depan mata.

Aku menarik napas panjang, menatapnya diam-diam. Amel bukan tipe perempuan yang gampang runtuh. Dia membangun dari nol, dengan keberanian yang tak banyak dimiliki orang. Tapi satu rantai negosiasi yang gagal bisa menghancurkan bangunan sebesar apa pun.

“Investor obligasi juga mundur,” suaranya bergetar. “Siapa yang mau masuk kalau offtaker ethanol nggak ada? Bang, aku… aku takut…”

Dia menangis. Aku mendekat, merangkulnya. “Amel tidak sekuat yang abang kira,” katanya di antara isakannya.

Aku menatap wajahnya yang bergetar. “Mel, kamu pernah ditinggal Robert. Dalam bisnis, ditinggal mitra di saat genting itu biasa. Bedanya, sekarang kamu berdiri di garis depan. Kamu bukan lagi pegawai yang dilindungi perusahaan. Kamu ini arsitek bisnis, seorang pemain utama. Jangan biarkan rasa takut jadi komandan perangmu.”

Dia menatapku, mata basahnya memantulkan cahaya lampu. “Dari awal, Amel cuma ingin abang bangga. Aku ingin ketemu abang dengan keadaan berbeda,” ucapnya pelan, seperti mengaku pada dirinya sendiri.

Aku mengusap kepalanya. “Mel, dunia bisnis bukan arena cari kebanggaan. Ini arena survival. Dan survival itu tak punya belas kasihan.” Aku menarik napas panjang. “Aku punya jaringan di Eropa. Mereka di sektor energi terbarukan. Aku akan hubungkan kamu dengan mereka.”

Dia menatapku dengan mata yang seperti menemukan secercah cahaya di ujung lorong gelap. “Bang…”

“Kita hitung ulang. Kita reset negosiasi. Jangan biarkan kecemasan yang memimpin,” ujarku tegas.

Selama satu minggu penuh, aku dan Amel terbang ke London. Kami menyiapkan ulang semua proyeksi: kapasitas produksi, kontrak suplai bahan baku, hingga struktur pembiayaan obligasi. Di meja negosiasi dengan mitra Eropa—sebuah konsorsium energi hijau—kami bicara angka tanpa kompromi. Mereka tertarik, tapi menuntut jaminan volume pasokan dan standar kualitas tinggi.

Amel berjuang dengan seluruh kapasitasnya. Aku melihatnya duduk di ruang meeting dengan blazer hitam, wajahnya tegas, tangannya tak bergetar sedikit pun saat menjelaskan proyeksi EBITDA lima tahun ke depan. Ada kilau berbeda di matanya—kilau seorang pejuang.

Pada hari kelima, Heads of Agreement ditandatangani. Mitra Eropa setuju menjadi offtaker ethanol selama lima tahun. Kabar itu membuat standby buyer obligasi kembali ke meja perundingan. Gelombang pertama sudah teratasi.

Malam itu di Hong Kong, setelah kontrak diteken, Amel duduk di balkon hotel, menatap gemerlap lampu Victoria Harbour. Angin laut mengibaskan rambutnya, wajahnya masih lelah tapi ada senyum tipis di sana.

“Mel,” kataku pelan, “rencanakan akuisisi semua saham holding-mu. Aku akan tunjuk Ale Capital sebagai SPV untuk proses itu.”

Dia menoleh, terkejut. “Bang… serius?”

“Serius. Mereka bukan mitra. Mereka sama seperti Robert. Saat kamu hamil, dia tinggalkan kamu. Samahalnya dengan mitra kamu. Saat badai datang, mereka tinggalkan kamu. Bahkan mereka menyiapkan skenario untuk menendangmu keluar. Lawan mereka. Jangan hanya bertahan. Kuasai permainan.”

Suaranya lirih, antara ragu dan takut. “ Mereka sangat besar, Bang.” 

“ Apakah ada yang lebih besar dari Tuhan. ? Kataku menatapnya tajam. “ Tuhan lah yang membuat kamu kuat dan bisa sampai pada tahap ini. Camkan itu. !

Dia berlinang airmata.” Amel engga mau abang berkorban lagi seperti dulu abang selamatkan Amel dari keguguran. Apa mungkin Amel bisa melaksanakan tugas ini?

“Ini bukan soal bisa atau tidak. Ini soal keberanian. Dalam hidup, hanya ada dua jenis orang: penakluk atau pecundang. Robert meninggalkanmu karena kamu lemah saat itu. Mitramu sekarang pun melihatmu sebagai perempuan pintar tanpa modal besar. Pilih, Mel. Mau jadi penakluk atau pecundang?”

Amel terdiam lama. Lalu sorot matanya berubah. Air mata berhenti, digantikan cahaya determinasi yang belum pernah kulihat. “Bang… setelah hampir 30 tahun, baru sekarang abang bicara setegas ini. Aku paham. Aku tidak akan jadi korban lagi. Aku siap.”

Kami susun rencana akuisisi dengan timeline detail. Beberapa bulan kemudian, transaksi pengambilalihan pabrik ethanol rampung. Ale capital terlibat sebagai anggota konsorsium lender. Dengan kuasai 10% total obligasi rekap. Dua tahun setelahnya, pabrik itu dijual ke perusahaan Jepang dengan capital gain berlipat. Tahun 2013, Holding Amel resmi diambil alih Ale Capital, dan Amel aku tunjuk menjadi CEO.

Hari ini, Amel menetap di Singapura. Bukan lagi perempuan rapuh yang menangis di malam gelap, tapi seorang pemimpin yang tahu harga setiap keberanian: bahwa di balik angka dan negosiasi, ada filosofi bertahan hidup—bahwa dunia ini hanya mengenal dua posisi: menjadi penakluk, atau menjadi korban dari permainan orang lain. 

***

Juli 2025, Singapura.

Di sebuah siang yang hangat dan atmosfer kota merayap tenang, aku duduk bersama Risa di ruang makan hotel Sheraton. Obrolan mengalir ringan, lalu masuklah seorang perempuan ke dalam restoran. Wajah Risa berubah, kaget dan penuh perasaan.

“Dik Amel…!” serunya tiba-tiba.

Perempuan itu tersenyum lembut, mengangguk, dan menebar pelukan hangat. “Cik Risa… Mel kangen.”

Risa menatapku dengan mata bertanya, “Ya, Amel CEO salah satu unit bisnis Yuan, di bidang sumber daya mineral dan CPO.”

Di sela senyum Risa bergelora keraguan: “Sejak kapan, Mel?”

“Sejak tahun 2013,” jawab Amel. 

Amel balik bertanya pada Risa, “Kak Risa kerja di mana?”

Risa menjawab pelan, “Di SIDC.”

Amel terpana, “Kerja dengan bang Ale juga?”

Risa mengangguk dengan tersenyum. Tanpa diduga, Amel memelukku terlebih dahulu, lalu Risa turut menyusul—tubuh tiga manusia itu bersatu dalam pelukan bareng. Hening menyelimuti kami.

Setelah beberapa detik yang terasa panjang, Amel menghela napas, “Setelah 42 tahun… kita yang dulu pernah numpang tidur di dipan kecil di kamar kos sempit, sementara yang punya tempat kos tidur di Lantai. Kini kita bersama dengan pria yang sama… kita berkumpul lagi.”

Risa lalu bertanya pada Amel, “Apa yang paling berkesan tentang Abang kita?”

Amel tersenyum dan menjawab ringan, namun memiliki inti mendalam. “Pemarahnya. Apalagi kalau PR Matematika yang dia ajarin, kita gak bisa kerjakan.”

“Marahnya tuh nyakitin,” sambung Risa pelan. “Apalagi kalau aku diajak dia ngomong bahasa Inggris dan enggak bisa jawab… Rasanya seolah kemarahan itu menelan habis. “

Lalu Amel meneruskan, “Tapi setelah marah, biasanya dia traktir aku makan bubur ayam.” Risa mengangguk. “ Ya…senang banget rasanya”

“ Ingat engga, kita disuruh setiap minggu harus tamat satu buku yang dia pinjam di perpustakaan.” Kata Amel. Sontak, Risa dan Amel mengangkat tangan, menyalip senasib. Aku hanya tersenyum pelan, tersentuh oleh kebersamaan ini—kenangan tentang mereka yang berjuang dan lulus SMA bersama lewat sekolah malam. “ 

“Mel, kamu tahu…?” sapaku membuka babak baru. “Robert pernah bekerja di salah satu unit bisnis holding Milikmu, ya? Tapi ia pensiun tahun 2019.”

Amel merengkuh cerita itu dingin tapi penuh makna: “Aku pernah beberapa tahun lalu berkunjung ke pabrik CPO di Sumatera—dia manajer purchasing di PKS. Tapi kami tidak sempat bicara.”

Robert menyadari bahwa wanita yang dulu ia buang tanpa asa adalah bos yang menopang hidupnya, dan juga ribuan karyawan lainnya. Saat ia membuang Amel, tanpa sadar ia telah membuang sifat kepahlawanan dalam dirinya. Dan Justru Amel menemukan kesejatiannya dalam luka tanpa asa.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca