
New York, Musim Gugur.
Udara mulai dingin, pohon-pohon di Park Avenue menua dalam warna oranye dan cokelat. Di dalam apartemenku yang sunyi, layar Bloomberg Terminal terus menyala, menampilkan grafik yang bergerak lamban — seperti ilusi yang tak lelah menipu.
Gentech Renewable Energy. Grafiknya merayap naik, pelan tapi pasti. Volume melonjak abnormal. Tidak rasional. Tidak wajar. Di balik angka-angka ini, aku tahu siapa yang sedang bermain. Don. Hedge fund predator. Pemain lama yang selalu memulai permainan dengan pola yang sama: pump and dump.
Dunia ini kecil. Orang seperti Don selalu mengira pasar bisa ia tundukkan dengan leverage, dengan derivative, dengan repo. Tapi aku bukan anak kemarin sore. Aku bukan orang yang ikut menari di pesta yang dibuat orang lain. Aku menunggu pesta usai. Aku menunggu musik berhenti. Aku menunggu darah. Harga jatuh adalah simfoni yang paling jujur dalam dunia ini.
Aku mengangkat cangkir kopi, memandang ke luar jendela. Manhattan tetap angkuh. Gedung-gedung itu seolah tak pernah lelah berdiri, seolah tak pernah tahu berapa banyak dusta, air mata, dan ambisi yang lahir dari lantai-lantai kaca mereka.
Di mejaku, laporan keuangan Gentech teronggok seperti mayat yang menunggu pengadilan. Kertas-kertas itu bukan lagi angka. Mereka adalah sisa-sisa kebohongan yang disusun rapi. Siapapun bisa membacanya. Tidak perlu jadi jenius untuk tahu ini semua busuk: Revenue recognition dipercepat. Capex digelembungkan demi narasi green bond. SPV disulap jadi pabrik piutang palsu.
Semua tampak legal. Semua tampak hijau. Semua tampak mulia. Tapi semua itu hanya dekorasi dusta.
Aku tak tergesa. Aku menunggu seperti serigala menunggu tulang terakhir jatuh dari meja pesta. Karena dalam keuangan modern, kesabaran lebih kuat dari modal, dan waktu lebih tajam dari pedang.
Orang bilang pasar adalah soal pertumbuhan, soal inovasi, soal masa depan. Tidak. Pasar hanyalah tentang siapa yang lebih dulu paham: kapan harus sabar, kapan harus membunuh.
Aku tahu Don menunggu harga naik, menunggu retail terpancing, menunggu window earnings season agar semua terlihat manis. Tapi aku juga tahu: semua harga yang naik terlalu cepat, sedang menunggu alasan untuk jatuh.
Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar rasional. Tidak ada yang benar-benar jujur. Ada yang tampak hijau, tapi dalamnya abu-abu. Ada yang tampak kuat, tapi sebenarnya rapuh. Semua orang hanya menunda waktu. Menunda jatuh.
Aku menyentuh laporan itu lagi. Lembaran demi lembaran. Neraca yang dipoles seperti wajah palsu di gala dinner. Goodwill membengkak tanpa dasar. Deferred tax asset tanpa alasan. Receivable yang diputar-putar lewat SPV bodong.
Aku tahu cara membongkarnya. Aku tahu siapa yang bisa membantu. Tapi orang itu sudah lama menghilang dari dunia ini. Seperti dosa yang memilih sembunyi di balik tirai penyesalan. Cristina Ferragni. Wanita yang pernah jadi tangan kanan banyak hedge fund besar, yang pernah tahu bagaimana laba dipoles, bagaimana EBITDA dibungkus seperti hadiah natal palsu. Tapi ia menghilang setelah Lehman. Tak banyak yang tahu ke mana dia. Tapi aku tahu. Semua orang punya masa lalu. Dan masa lalu yang belum lunas akan selalu bisa dicari.
Aku menunggu. Karena dalam dunia angka, kesabaran bukan sekadar keutamaan. Kesabaran adalah senjata.
Milan, Navigli.
Malam di kanal tua itu bergerak perlahan seperti air yang malas. Di kanan-kiri, bar dan kafe menyala temaram. Suara tertawa, clink gelas wine, musik jazz murahan, bercampur jadi satu riuh yang hangat, yang asing bagiku.
Aku memilih duduk sendiri di pojok bar tua. Bar & Cafe. Tempat biasa orang gagal berpura-pura bahagia. Aku datang bukan untuk mabuk, bukan pula untuk melupakan. Aku datang karena tahu Cristina suka tempat ini.
Perempuan itu pernah menjadi legenda kecil di meja audit hedge fund Eropa. Tak banyak yang tahu tangannya ikut membentuk angka-angka yang membuat dunia percaya pada kebohongan perusahaan besar. Tapi setelah Lehman tumbang, dia menghilang. Aku tahu dia tak pernah benar-benar pergi. Orang seperti dia hanya pindah tempat bersembunyi.
Dia datang tanpa aba-aba. Tanpa drama. Seperti kabut yang tiba-tiba muncul saat musim gugur malas bicara. Cristina Ferragni. Tanpa riasan, tanpa simbol sukses. Jaket tua. Celana jeans. Mata yang sudah terlalu lelah menatap angka.
Dia duduk, langsung menenggak wine merah yang belum sempat aku sentuh.
“Aku tahu kamu akan datang. Cepat atau lambat.”
Suaranya serak, bukan karena usia. Tapi karena terlalu lama bicara dengan dunia yang tak pernah benar-benar mendengarkan.
“Bagi B, tidak ada yang mustahil. Tak ada tempat bersembunyi bagi targetnya. Dan kita juga tahu, kita tak akan pernah bertemu kalau ini bukan tentang untung-rugi.”
Dia tersenyum kecut. Aku membalasnya dengan diam. Dalam dunia kami, kalimat sopan adalah kebohongan pertama.
Perlahan suasana mencair. Kami bukan lagi predator dan mangsa. Kami sama. Dua ayam kampung yang bosan melihat merak pamer bulu.
“Kau bukan orang Eropa. Aku kira orang Eropa lebih beradab.” ucapku.
Dia sendawa pelan. “That’s my answer.”
Lalu kami tertawa. Tawa orang yang tahu hidup terlalu pendek untuk pura-pura elegan.
“Dance?” katanya sambil menarik lenganku.
Aku menurut, karena menolak pun tak akan mengubah apapun malam itu.
Kami menari seadanya. Aku canggung. Dia sabar. Tangannya menarikku ke sana ke mari. “I’m a cow.” kataku.
“No, don’t say that.”
“Yeah, following another cow.”
“Ha-ha… fuck off.”
Dua jam, dua gelas wine, dua jiwa yang sama-sama tahu: ini bukan tentang menari. Ini tentang siapa yang lebih dulu lelah menyangkal bahwa mereka butuh satu sama lain.
Di pinggir kanal, saat angin membawa sisa musim ke pundakku, aku berkata pelan “Ada salam dari Steven. Rekening 1080.”
Dia berhenti. Napasnya membeku. Matanya menyipit. Nama itu seperti petir di siang bolong. Dia hendak pergi. Tapi tanganku lebih cepat. Aku pegang lengannya, aku dekatkan mulutku ke telinganya.
“We’re in the same boat.”
Dia menatapku. Mata yang tadi keras, kini jatuh. Dia tahu. Dalam dunia ini, uang bisa hilang dalam satu klik. Hidup bisa habis dalam satu file Excel.
“Mau ikut operasi saya?”
Dia diam sebentar. Menelan semua rasa takut yang tak bisa ia sebutkan.
“Aku sudah pelajari kamu, B. Tapi aku tak pernah tahu kamu sejauh ini bisa menjangkauku. Tampaknya aku tak punya hak menolak.”
Aku lepaskan lengannya. Dia justru menggamit lenganku saat berjalan. Entah takut. Entah lega.
Keesokan paginya.
Di taman kecil, Cristina duduk menatap anak-anak bermain. Dia sekarang guru TK. Ironi paling indah dari seorang yang dulu memoles EBITDA seperti pelukis memoles cahaya. Kini dia ajari anak kecil A-B-C, supaya kelak mereka tak terlalu cepat belajar rugi-laba.
“Aku tak mau kembali ke dunia angka palsu itu, B.” katanya, suaranya kalah oleh angin musim gugur yang malas. Jaket bulunya lusuh. Tangannya dingin. Aku sodorkan laporan Gentech. Di situ terhampar neraca busuk: goodwill menggelembung, deferred tax asset tak berdasar, receivable diputar lewat SPV. Semua trik lama yang dia kenal di luar kepala.
Dia membaca. Pelan. Seperti membaca dosa lamanya sendiri.
“Ini klasik. SPV, EPC internal, revenue kertas. Semua dongeng tua.”
Aku mengangguk.
“Don tahu ini. Dia inflate buat exit. Aku tunggu dia jatuh. Aku butuh kamu membuat narasi lebih rapi dari dustanya.”
Dia menatapku. Lama.
“Angka bukan bilangan. Angka adalah senjata. Kau tahu itu lebih baik dari siapapun.”
Aku tersenyum. Kami sama-sama tahu. Ini bukan sekadar tentang Gentech. Ini tentang dendam. Tentang pembuktian. Tentang menertawakan sistem dengan lebih pintar dari sistem itu sendiri.
Di kamar hotelku kami berdiskusi dan membuat rencana. Gentech tampak sehat. Laporan keuangan rapi. Tapi bagi Cristina, itu hanya dosa lama yang dilukis dengan angka baru.
“ Revenue Recognition Dipercepat. SPV dipakai untuk mengakui revenue lebih cepat. Piutang diakui padahal belum cash-in. Capex Digelembungkan, Green Bond Gimmick. Angka belanja modal dibesar-besarkan demi narasi proyek hijau, agar valuasi tinggi. Capex ini utamanya fiktif: memancing investor ESG. SPV Dipakai Untuk Permainan Arus Kas & Neraca. SPV memutar receivable dan pinjaman, membuat working capital tampak sehat. Padahal sesungguhnya negative cashflow. “ Kata ku mempertegas.
Kemudian Cristina menjelaskan secara tekhnikal dan menyimpulkan. “Ini bukan laporan keuangan. Ini peta dosa. SPV, EPC internal, revenue kertas. Semua dongeng.”
“ Kalau begitu kita harus susun perangkap keuangan secara tekhnis. Harus detail dan mamping juga risk management nya. “ Kataku.
“ Target ? Cristina mengerutkan kening.
“ Menghancurkan posisi Don yang full leverage lewat repo dan derivative. Membiarkan Don mati bukan oleh pasar, tapi oleh ekspektasi salahnya sendiri.
Cristina mengangguk. Dia membaca lagi data yang ada lewat laptopnya. “ Kelemahan Don. Dia pakai repo loan berbasis saham Gentech. Di lleverage 70% dari nilai pasar. Floating leverage naik, funding naik, tapi hanya kuat kalau harga naik. Dia menunggu earnings season untuk window dressing exit.
‘ Okay. Kalau begitu kita rancang Blueprint Financial Modeling “ Kataku menatap Laptop.
“ Ya. “ Cristina mengangguk.
“ Adjusted Free Cash Flow to Firm. Revenue Real: USD 320 juta. EBITDA Real: USD 28 juta. FCFF: Minus USD 4 juta. WACC: 9.2% Valuation Fair: EV/EBITDA wajar hanya 8x (Don pakai 16x). Harga wajar: USD 1.85 per saham. Current Price: USD 4.2. Itu Bubble
Cristina simpulkan dengan tersenyum. “ Repo bukan alat pinjam. Repo itu pisau bagi orang rakus. Kita sabar. Kita tarik talinya nanti.”
“ Ya kita Eksekusi. Tidak frontal. Perlahan. Sistematis. Bukan sekadar menjatuhkan harga. Tapi menjatuhkan kepercayaan. “ kataku.
Di dunia ini, harga tidak pernah benar-benar turun karena laporan keuangan buruk. Harga turun karena kepercayaan pecah. Dan kepercayaan itu tak pecah dengan sendirinya. Harus ada tangan yang menekannya perlahan. Sampai rapuh. Sampai retak. Sampai hancur.
Di kantor AMG New York. Cristina duduk di hadapanku, secangkir espresso dingin di tangannya. Di layar Bloomberg, Gentech masih bertahan di angka $4.2. Volume stabil. Volatilitas rendah. Semua tampak baik-baik saja. Tapi kami berdua tahu: ini bukan ketenangan. Ini ilusi sebelum badai.

“ Aku harus pancing Gentech rights issue lewat jebakan finansial tidak langsung. “ Kataku sambil seruput kopi. Cristina mengerutkan kening.
“ Biarkan Bubble Repo Don Melebar. Biarkan dia inflate harga Gentech via repo loan, derivative, options. Harga naik, valuation tinggi.. Pasti Gentech ikut senang karena market cap naik, bisa buat narasi sehat di laporan. “
“ Tapi… cashflow Gentech aslinya sudah defisit.” Timpal Cristina.
“ Ya biarkan Gentech terlena tidak sadar, ini semua ilusi repo leverage Don.
Cristina menatap aneh. Tetapi dia diam saja. Dia perhatikan aku bicara dengan seseorang via safeNet. “ Victor. Kamu standby di posisi. Jangan bergerak tanpa perintahku. Pegang bukti SPV revenue under investigation.. Cashflow project delay. Green bond future gagal closing “
Senin harga mulai turun perlahan.Repo lender mulai gelisah. Don makin dalam leverage. Gentech mulai panik: Utang jalan. Cash tinggal sisa. Tidak ada funding baru karena harga saham goyah. Bank susah kasih utang tambahan. Direksi Gentech rapat: “Kita perlu cash cepat.” Dan “Rights issue adalah opsi paling masuk akal.” Team shadow ku, via fund manager, advisor, lawyer ikut tekan direksi secara diam-diam dengan narasi: “Rights issue lebih baik dari default atau rating drop.” Akhirnya karena situasi dan kondisi : Laporan keuangan makin tipis cash. Repo lender sudah hint mau tarik collateral. Don tidak bisa injeksi fresh fund lagi. Rights issue lebih cepat dan legal.
“ B, kamu tidak menarik pelatuk. Hanya meletakkan senjata, menaruh amunisi, menutup pintu..Lalu Gentech sendiri yang menarik pelatuknya. “ Cristina tersenyum getir.
Aku beli semua rights itu diam-diam. Di atas kertas, AMG Holding tak muncul. Yang muncul adalah nominee. Di bawah tangan, aku kumpulkan kunci masa depan Gentech perlahan. Kenapa rights issue di tengah harga tinggi? Kenapa diskonnya sedalam itu?Jawabannya satu: cash is dying.
Cristina mengangkat alis. “Ini bukan soal harga. Ini soal panic. Market mulai mencium bau bangkai.
Perang berlanjut…
Don bermain repo loan. Dia jadikan saham Gentech collateral. Dia pakai leverage untuk bikin harga tampak kuat. Dia pikir semua bisa diatur. Dia pikir semua bisa dia lewati dengan rumor earnings, opsi, dan convertible bond.
Tapi aku tahu kelemahan repo. Repo bukan soal pinjam. Repo soal waktu. Repo soal siapa yang menarik tali lebih dulu.
Cristina menyusun peta kecil:
Repo cycle Don leverage 70%
Harga drop 12% lender panggil margin
Harga drop 25% forced sell
Harga drop 30% semua unwind otomatis
Aku siapkan hedge fund kecil masuk pasar. Aku kasih mereka repo dengan bunga lebih tinggi, collateral lebih sempit. Aku biarkan mereka jadi short seller. Aku buat mereka percaya mereka predator. Padahal mereka hanya bidak caturku.
Kini aku harus ciptakan kepanikan. Aku masuk pasar lewat derivative. Short position bukan untuk hari ini. Short position untuk besok, lusa, minggu depan. Bukan untuk cari untung cepat. Tapi untuk buat Don makin dalam leverage.
Aku buat pasar tenang.
Aku buat retail masuk.
Aku buat algorithmic trader ikut.
Lalu aku perintahkan Team Victor mulai bergerak. Rumor bocor. SPV revenue under investigation. Audit finding soon
Cristina tersenyum.
“Pelan. Seperti ular mematuk di leher yang sudah lelah.”
**
Senin. Harga turun 4%. Tak besar. Tapi cukup buat lender kecil panik. Repo loan kecil mulai cairkan collateral. Don counter. Dia tambah posisi. Pakai opsi. Pakai repo baru. Dia tambah floating loss. Dia pikir dia masih pegang kendali. Padahal kendali itu sudah aku cabut perlahan.
Rabu. Harga drop 9%.
Short seller mulai tambah posisi.
Repo lender mulai kirim surat.
Collateral makin tipis.
Paper value makin rapuh.
Cristina menatap layar.
“Next stage: panic unwind.”
Jumat. Harga drop 15%.
Repo unwind. USD 30 juta.
Collateral dijual paksa.
Option worthless.
Floating loss jadi realized loss.
Cristina menulis satu kalimat di notes kecilnya: “Margin bukan hukuman. Margin adalah alat.”
Di Wall Street, Don duduk tenang. Dia tekan tombol repo. Dia kirim collateral. Dia buat floating leverage. Dia pikir semua ini masih dalam kendalinya. Tapi kami tahu lebih dulu. Kami sudah gambar blueprint ini sebelum dia cetak.
“Repo, derivative, margin bukan tentang uang. Itu tentang kepercayaan. Dan kepercayaan runtuh lebih cepat dari logika.”
Dia menggeleng. Begitu sederhananya kejatuhan itu. Padahal membangunnya butuh bertahun-tahun laporan, audit, presentasi, roadshow, greenwashing. Tapi untuk runtuh? Cukup satu rumor. Satu margin call. Satu rights issue.
Di bawah sana, Wall Street sunyi. Trader mulai bicara dengan nada rendah. Lender mulai tarik napas panjang. Semua tahu ini bukan bencana terakhir. Ini hanya pemanasan.
Cristina menatapku lama. “Pasar bukan soal angka. Ini soal kuasa. Siapa yang lebih dulu mengerti angka. Siapa yang lebih sabar menunggu angka berubah jadi senjata.”
Aku tersenyum. Kami tak butuh akuisisi. Tak butuh perang. Tak butuh negosiasi. Cukup repo. Cukup margin call. Cukup sabar. Akhirnya kami juga pemenang. Gentech sudah jadi milik kami.
Di atap gedung tua Manhattan, tempat orang-orang kaya biasa merayakan deal besar, aku dan Cristina hanya duduk. Tidak ada champagne. Tidak ada sorak. Hanya kopi hitam dingin, angin musim gugur yang malas, dan tatapan kosong ke arah Empire State yang berdiri di kejauhan, seperti saksi tua atas semua dosa yang terlalu sering diulang manusia.
Gentech jatuh. AMG Holding naik. Dunia tak pernah tahu perang ini terjadi. Tidak ada di berita. Tidak ada di laporan tahunan. Tidak ada di pertemuan bursa. Hanya ada di kolom Excel, di belakang pintu kaca yang sunyi, di antara repo, rights issue, dan derivative yang tak pernah benar-benar dimengerti oleh orang awam.
Cristina menatap jauh.
“Aku tahu siapa kamu, B.” katanya pelan. “Kau tak pernah cari cinta. Kau hanya cari kemenangan. Kau percaya pada angka yang patuh, struktur yang tunduk, neraca yang taat. Bukan hati yang rapuh.”
Aku diam. Aku tak perlu menyangkal. Karena dia benar. Di dunia ini, cinta lebih mudah runtuh dari margin. Perasaan lebih mudah pudar dari valuation. Dan janji lebih rapuh dari repo agreement.
Cristina menghela napas. “Dulu aku percaya angka bisa membangun masa depan. Aku poles EBITDA seperti musisi mengatur tempo. Semua demi investor yang tak peduli bagaimana angka lahir, asal mereka tumbuh.”
Matanya kosong, menatap malam. “Lalu aku hancur. Lalu aku mengajar anak kecil huruf A-B-C karena aku takut mereka belajar untung rugi terlalu dini.”
Dia tersenyum. Pahit. “Tapi hidup menertawakanku. Aku kembali ke angka. Olehmu, B. Bukan untuk memoles laba. Tapi untuk memuaskan egomu.”
Aku menatapnya. Lama. Dia tahu aku tak pernah menjanjikan cinta. Aku hanya menjanjikan satu hal: percaya. Aku percaya dia. Aku percaya tangannya. Aku percaya kepalanya.
Cristina memandangku. “Di tengah Excel, aku belajar: angka bisa bohong. Tapi hati? Tidak. Dan aku lihat hatimu, B. Retak. Lelah. Sunyi. Bukan karena uang. Tapi karena terlalu lama percaya tak ada lagi yang bisa dipercaya.”
Dia menutup matanya sejenak. “Compliance bukan aturan. Compliance adalah pagar terakhir agar manusia tak saling memakan.”
Dia membuka matanya lagi. Kali ini, lebih tenang.
“Aku mencintaimu, B. Tapi lebih penting dari itu, aku tak akan biarkan kau jatuh. Karena jika kau jatuh, bukan hanya kau yang hancur. Sistem yang kau buat untuk melindungi yang lemah dari predator lebih buas, akan runtuh bersamamu.”
Aku tersenyum. Perlahan. “Gentech kini anak AMG Holding. Aku tawarkan kau memimpinnya. Jadi CEO Gentech. Jadikan GRC- Governance risk management compliance sebagai standard.. Dengan prinsip People, planet and profit.”
Cristina menatapku. Air matanya jatuh diam-diam. Aku memeluknya. “Kau inspirasiku, B. Tapi lebih dari itu, kau adalah satu-satunya alasan aku percaya angka bisa kembali jujur, asal tangan yang menulisnya tak takut pada sunyi.”
Di dunia ini, tak ada lagi janji. Tak ada lagi cinta manis. Hanya kepercayaan yang tak pernah kami ucapkan. Hanya angka yang kami jinakkan. Hanya hati yang diam-diam ingin pulang.

Tinggalkan komentar