
Tahun 2006. Dunia sedang berubah. Namun aku tahu, perubahan yang paling penting bukan yang tampak di koran, melainkan yang senyap bergerak di bilik-bilik keuangan kecil yang tak pernah masuk berita. Saat itulah aku mendirikan Private Equity firm. Bukan untuk menjadi kaya, bukan pula demi gengsi, melainkan karena aku tahu: hanya kapital yang bisa menaklukkan kapital. Modal awal kuperoleh dari bisnis maklon bersama Wenny, sahabatku, partnerku, dan malaikatku dari hidup yang tak ramah.
Awal tahun 2008, aku meminta Wenny membangun shadow banking entity yang terdaftar di Inggris. Aku beri nama: Ale Capital. Modalnya, USD 2 juta. Jumlah kecil dalam peta dunia, tetapi bagiku, itu ibarat satu lilin pertama di malam panjang.
Di tahun yang sama, PE berubah menjadi SIDC Holding. Aku semakin tenggelam dalam peta bisnis global. Dan Wenny, dengan ketekunan yang kupahami sebagai doa tanpa suara, membesarkan Ale Capital—pelan tapi pasti. Namun penghujung 2008 bukan tahun ramah. Wall Street tumbang. Lehman Brothers hancur. Goldman berdarah. Dunia seperti pria mabuk yang baru sadar dirinya bangkrut.
Tapi aku tak terguncang. SIDC terlindung berkat China’s Investment Company—negara yang tak terlalu peduli krisis di Barat. Tetapi Ale Capital? Hanya aku dan Wenny. Dan setiap krisis selalu kejam kepada yang kecil. Liquidity mengering. Order trade financing, credit enhancement dari klien membanjir, tapi nyaris tak satu pun bank mau membuka pintu. Semua sedang memeluk neraca masing-masing. Wenny mulai khawatir. Matanya yang biasanya cerah, mulai lelah. Ale capital teracam bankrupt.
Aku datang ke kantornya. Menatapnya, tersenyum dengan semangat tanpa kenal istilah menyerah.
“Wen, kita ini bukan pemain baru. Kita lahir dari industri maklon, dari bisnis yang menuntut kita mengerti bukan hanya produk, tapi proses, supply chain, ekosistem market. Itu kekuatan kita. Kenapa tak kita ubah saja keunggulan itu menjadi model bisnis baru? Model ekosistem berbasis resource, bukan sekadar uang.”
Dia menatapku bingung. Maka kutulis di whiteboard kecil
Upstream – Midstream – Downstream – Supply Industry – End User. Contoh pada mineral tambang. Upstream itu dalam bentuk konsentrat. Midstream, pengolahan primer dan intermediatery. Downstream, material industry. Supply Industry, supply chain industry. End user, industry kebutuhan konsumen rumah tangga.
“Kita tak perlu jadi pemain end user. Cukup kita bermain di layer yang paling dekat dengan arus produksi. Di situ kita bisa menguasai offtake market dan supply secara bersamaan. Komoditas? Semua! Migas, mineral, pertanian, kelautan. Yang penting arusnya, bukan bentuknya.”
Wenny mulai tersenyum. Ia mulai paham ke mana arahku.
“Lalu?” tanyanya.
“Kita masuk lewat offtake market, bicara langsung ke upstream, midstream, downstream, Supply Industry. Kita jamin supply dan market mereka, kita kendalikan arus keluar mereka. Dan… kita siapkan ekosistem pendanaan. Bukan pinjaman. Bukan bunga. Tapi counter trade. Pembayaran? Dari hasil produksi. Simple, barter modern.”
Dia tertawa kecil. “Kamu gila, B.”
“Bukan gila. Financial engineering. Kita pegang sumber daya dan market, kita pegang cashflow, kita pegang arus barang, kita pegang arus uang. Lalu kita konversikan cashflow itu menjadi financial asset, leverage ke instrumen baru. Ale Capital bukan lagi sekadar shadow bank. Ia bisa menjadi Holding Company.”
“ Terimakasih B. Aku akan siapkan business plan. Lengkap dengan risk management, SOP, long form contract, SDM dan kemitraan dengan Lembaga riset terutama dengan China Academy Science.”
**
Wenny terbang dari satu pabrik ke pabrik lain. China, Eropa, Amerika. Copper, steel, nickel. Semua dia datangi. Satu tahun lebih. Akhirnya, empat pabrik baja besar kami dekati. Dua dari China, dua dari Barat. China paling sulit. Mereka terlalu pintar, terlalu waspada.
Akhirnya Zhang, CEO pabrik baja besar di China, bersedia bicara. Itupun setelah aku memanfaatkan koneksi paling dalam. Meeting dilakukan di lounge eksekutif. Zhang duduk menyilangkan kaki.
“Langsung saja. Apa yang Anda tawarkan?” katanya dalam bahasa Inggris yang lebih fasih dari orang china pada umumnya. Maklum dia lulusan Harvard.
“Supply guarantee, bukan forward contract. Anda tak perlu bayar tunai. Anda bayar dengan hasil produksi. SWAP dengan harga 5% di bawah market,” kata Wenny lugas.
Zhang menyipitkan mata. Mereka sudah punya supplier, tentu. Tapi tak banyak punya jaminan stabilitas supply. Mereka hidup dari LME contract, bukan dari jaminan nyata. Masalah utama mereka selalu: cashflow, inventory risk, cost of fund.
“Kenapa saya harus pilih Anda?”
“Karena kami bukan supplier. Kami penyedia ekosistem. Kami bawa dana, bahkan untuk ekspansi smelter Anda. Tanpa utang. Bayarnya? Dengan barang, swap settlement, barter. Tidak ada bunga. Tidak ada loan agreement.” Wenny menegaskan.
Zhang tersenyum. “Berapa kuota produksi yang Anda minta?”
“10% dari total produksi. Proporsional dengan exposure financial resource yang kami beri”
“Syarat lain?”
“Kalau kami terlibat investasi Capex, kami tentukan EPC, operator, logistics. Kami punya akses ke semua itu. Teknologi secure, delivery secure.”
Zhang diam lama. Matanya tajam, seperti menembus daging.
“Apa yang saya dapat?”
“Stabilitas. Cost efficiency. Secure supply chain.”
Zhang angkat cangkir. “Baik. Karena ini soal Mr. B, bukan sekadar bisnis Anda. Jangan gagal. Ini soal reputasi.”
**
Untuk mendukung business Wenny, aku create Exchange trade fund, mutual fund yang lebih rumit namun flexible dan dynamic . Aku perlu dukungan Asset manager kelas dunia untuk menggerakan likuiditas. Aku perlu credit rating. Bagaimana? Walau underlying-nya jelas: supply chain bisnis, kontrak jelas, cashflow aman. Tak ada Sovereign Wealth Fund, Dana Pensiun yang mau deal. Kami newcomer.
Jadi solusinya apa ? Ya. Offshore fund, jalan ninja menuju langit. Itu yang harus kami tempuh. Lewat kemitraan dengan keluarga pemilik old money, kami dapat fasilitas Non-Depletion Account, kami bungkus jadi CDS untuk backup surat utang dalam bentuk Credit Link Note atau Structured Derivative. Underwriter percaya, investor ikut. Aku butuh 2 tahun structure financia resource untuk Yuan. Perjuangan yang berat di jantung financial center dunia. London, Zurich, New York, Boston. Akhirnya structure bangun tercipta. Wenny bisa kerja dengan tenang. Tahun 2013. Ale Capital berubah nama. Yuan Holding. 2017, punya lima pilar: Mining-Energy, Agro-Food, Logistic, Industry-Manufacture, Financial Service. Total karyawan langsung maupun tidak langsung mencapai 400.000 di 80 negara.
***
Tahun 2019 aku bertemu dengan Lyly, sahabatku. Dia berkarir pada Investment company yang terafiliasi dengan state own company China. Saat itu aku baru usai restruktur utang SIDC lewat Investment group China. “ B, ada yang penuh tanda tanya kami.Terutama soal Yuan Holding “ Kata Lyly saraya menuangkan tea di kamar kerjanya yang sederhana.
“ Di laporan keuangan. Nama Yuan kadang tak muncul. Di rapat umum pemegang saham? Nama Yuan sering tak disebut. Tapi saya tahu. Di balik Trust, di balik Nominee, di balik Offshore Entity, Yuan hadir. Bayangkan Yuan beroperasi seperti jaringan akar. Tidak nampak di atas tanah, tapi ia yang menentukan pohon mana akan tumbuh, mana akan tumbang. Yuan masuk bukan dari pintu depan, melalui Offtake Agreement, Supply Guarantee, Financial Support for CAPEX via Counter-Trade, Escrow Control, Payment via Swap Settlement.
Keeberadaan Yuan tidak terlacak Bloomberg, sebuah jaringan merayap cepat. Bukan seperti gurita. Bukan juga seperti shadow business. Dari semua itu justru menciptakan bisnis yang patuh kepada ESG, Green concept dan follow standard legal compliance. Sangat good governance. Terlalu halus untuk dunia yang diliputi awan gelap konspirasi dan fraud.”
Aku tersenyum. Tak ingin mengomentari kata kata Lyly. Uang tak pernah kuat berdiri sendiri. Uang adalah arus. Tapi ekosistem adalah sungai yang menuntun arus. Orang kaya membeli saham. Orang berkuasa membentuk struktur. Tapi orang yang ingin mengendalikan masa depan, membangun ekosistem kepemilikan. Inilah rahasia mengapa Yuan Holding berkembang begitu cepat. Bukan karena uang. Tapi karena keterhubungan. Karena kolaborasi. Karena keterikatan yang tak kasat mata, tapi mengikat lebih kuat dari hutang.
Setiap perusahaan yang masuk dalam business model kami, kami pastikan kami memiliki sebagian kecil saham di dalamnya. Engga perlu besar. Karena denyut jantung perusahaan “ market, supply chain dan cash flow kami yang kendalikan. Itu lebih menentukan berkuasa daripada saham. Kapan saja, mereka bisa kami hostile kalau tidak patuh.
“ B, tidak ada yang tahu seberapa besar Yuan. Karena memang tidak besar. Yuan menyebar. Seperti air di tanah. Yang Yuan pegang bukan aset. Tapi arus. Bukan saham mayoritas. Tapi kontrol ekosistem.
“B, kamu tahu kenapa sistem Yuan sulit dihancurkan?” tanya Lyly kemudian.
“Kenapa?”
“Karena Yuan tidak terlihat sebagai lawan. Yuan terlalu cair. Terlalu fleksibel. Semua yang Yuan dukung, merasa sebagai mitra, bukan objek.”
Aku tersenyum. “Karena aku belajar dari sejarah. Siapapun yang ingin menguasai dunia dengan bendera, pasti akan dilawan. Tapi siapapun yang masuk melalui sistem yang membantu orang lain tumbuh, akan diundang ke ruang paling dalam.”
“You don’t build empires. You build dependency.”
Aku tersenyum. “Dependency is the new form of power.”
“ Ya, Aku tahu. Ketika dunia bicara ESG, Yuan sudah punya jalur carbon trade. Ketika dunia bicara food security, Yuan sudah punya cold chain. Ketika dunia bicara energy transition, Yuan sudah punya offtake mineral critical. Ketika dunia bicara infrastructure, Yuan sudah punya shipping, port, EPC, supply chain financing. Yuan tidak tidak lebih kuat. Tapi lebih dulu. Lebih dalam. Lebih tersembunyi. “ Lyly menatapku dengan tersenyum, senyum sahabat.
“ Kami bingung, kenapa Yuan tumbuh begitu cepat.”
Aku tatap Lyly dengan teduh. “ Karena Yuan tidak pakai uangsendiri. Cashflow dari business model, dijadikan tools leverage. Ya, Yuan bentuk equity secara alamiah lewat supply chain integration. Dan itu terjadi karena Yaun selalu menyodorkan bantuan yang dibungkus sebagai solusi, bukan pinjaman.
“Supply chain itu seperti darah. Kalau kita pegang arusnya, kita pegang hidupnya. Sisanya hanya soal waktu sebelum mereka ikut dalam ekosistem kita.” Kata Lyly mengangguk. “ Saya tahu itu tidak mudah mengawalinya. Bahkan hampir tidak mungkin bisa dilakukan bagi newcomer. Keteguhan hati kamu lah yang membuat nothing to impossible “ lanjut Lyly. Saya tahu Lyly tidak sedang memuji saya tetapi lebih kepada khawatir akan kesehatan saya. “ Wenny cerita, kamu kerja keras setiap hari 18 jam lebih tanpa libur. Kadang tidur pun tidak lelap. “
“ Tahun 2019 ini saya pensiun.” Kataku. Lyly terkejut dan akhirnya airmatanya berlinang. “ Aku senang kamu utamakan Kesehatan daripada apa yang sudah kamu raih. “ Katanya memeluk saya. “ jaga diri baik baik ya, B.” bisiknya.

Tinggalkan komentar