
Setahun lalu aku menemui George di London. Pria kulit hitam warga negara AS. A team shadow-ku. Kami sudah bersama lebih 10 tahun. Di bar kecil di kawasan dockland. “ George, kamu bentuk Trust Fund di Hongaria. Usahakan menjadi mitra dari AP sebagai pendukung kampanye obat yang mereka produksi dan patenkan. Pastikan mereka percaya kepada Trust Fund itu sebagai Filantropi Fund saat mengajukan permintaan dana dan menyalurkannya kepada oknum WHO
“ B, suara George lemah dan kening berkerut. “ AP adalah industri pharmacy yang sudah berusia 100 tahun dengan market di empat benua dan punya beragam paten obat dari serum, vaksin, vitamin dan obat AIDS. Mereka punya 80 pabrik di 80 negara atas nama lokal company namun terikat dengan Mereka. Dan mereka juga terhubung dengan 5 big pharma kelas dunia.”
“ Apa mereka akan jadi target akuisisi?
Aku mengangguk.
“Kau tahu, George, kenapa kita lakukan ini? Karena pada akhirnya, kebenaran tak pernah punya banyak sekutu. Tapi sekali diungkap, ia tak butuh siapa-siapa lagi untuk menang. Kataku saat briefing dia beberapa bulan lalu “ Di balik setiap pintu putih rumah sakit, di balik setiap kapsul yang kau telan, ada seseorang yang sudah memutuskan: hidupmu layak berapa?
Aku tatap George dalam dalam “ kerjakan tugas mu dengan baik. Kau bisa gunakan sumber daya saya, termasuk team Moscow. Dan Asna, CEO SIDC Pharma tidak boleh tahu. Pastikan hanya kamu dan saya yang tahu agenda dari operasi ini.”
“ Siap B!
Aku mampir ke kantor Ashna di London. Dia CEO SIDC Pharma. Sebelum bekerja di SIDC, Ashna sahabatku. Kelahiran Bombai. Warga negara AS. Aku mengenalnya kali pertama pada seminar Biotech di Paris. Dia Phd dari MIT. Berkarir di Lab Pharma di AS. Dari dia aku dapat informasi. Sehingga memudahkan aku akuisisi Perusahaan industry Alkes dan industry biopolymer untuk material kemasan impus, alat suntik, pipet lab di AS. Dari dia juga aku bisa akuisisi industry API. Setelah tiga tahun bersahabat. Aku rekrut dia berkarir di SIDC Holding. Dua tahun kemudian dia sudah jadi CEO SIDC Pharma.
Sebulan kemudian George mengirim file via safeNet. Trust Fund bernama Echelon Veil, sudah berdiri dan dana operasi sudah teralokasi. AP harus dihentikan. Dengan cara yang paling tak mereka duga. Echelon Veil bergerak dalam senyap.
Setahun kemudian. Jakarta, pagi yang terlalu cerah untuk kabar yang selalu gelap. Aku menatap layar. Di sana, laporan George terpampang seperti epitaf untuk orang-orang yang tak pernah tahu siapa yang sebenarnya menentukan umur mereka.
X-22. Nama klinis yang dipilih agar mudah dipasarkan, mudah dipoles. Di balik angka-angka revenue, aku membaca sesuatu yang lebih dalam dari sekadar proyeksi keuangan. Aku membaca tentang hidup yang diringkus, tentang nyawa yang dikalkulasi dalam margin.
“Revenue projection secured until 2045 through global patent lock.”
Patent lock. Mekanisme legal yang lebih kejam dari monopoli biasa. Aturan WTO TRIPS sudah memberi mereka legitimasi. Tak ada negara yang bisa menciptakan tandingan. Tak ada dokter yang bisa meresepkan alternatif. Tak ada regulator yang berani membantah karena WHO sudah menganggukkan kepala.
Di bawah tabel itu: Projected Market Coverage — Africa (Tier 4), South Asia (Tier 3). Expected margin: + 320% over production cost.
File berikutnya. Grafik supply chain AP. 80 pabrik. 4 benua. Semua interconnected. Semua ditopang paten. Semua ditopang narasi kemanusiaan. Tapi intinya sederhana: mereka mencetak harga, bukan mencetak obat.
Peta Harga Hidup.
Afrika: Harga X-22 naik 300%.
Asia Selatan: Harga naik 270%.
Pasar maju: Harga tetap. Subsidi silang? Tidak. Itu hanya retorika. Mereka tahu negara-negara itu tak akan menawar. Tak akan berani melawan. Tak cukup kuat untuk menolak.
Selesai sudah. Semua borok konspirasi antara AP dan WHO ada ditanganku. Mereka terlalu sibuk merayakan margin, sampai lupa: Pasar lebih kejam daripada virus. Investor lebih cepat mencium bau busuk ketimbang regulator. Dan ketakutan pada kerugian lebih keras suaranya daripada pidato kemanusiaan.
Aku tahu semua ini bukan soal obat. Ini soal geopolitik. Siapa pegang supply, pegang populasi. Siapa pegang paten, pegang masa depan. WHO? Mereka hanya amplifikasi suara dari mereka yang paling banyak membayar.
Mereka menyebutnya efisiensi. Aku menyebutnya penjarahan. Obat ini bukan soal menyembuhkan. Ini soal menundukkan. Mereka sudah mengunci pasar. Afrika dan Asia Selatan tidak pernah punya pilihan selain menerima harga yang ditentukan dari big pharma, bukan dari kebutuhan rakyat mereka.
Tak ada yang mengejutkan. AP bukan sekadar perusahaan farmasi. Ia adalah entitas yang lebih tua dari demokrasi. Lebih licin dari hukum. Lebih kuat dari pemerintah yang menggantungkan anggaran kesehatannya kepada mereka. Mereka memproduksi pil, vaksin, serum. Mereka memproduksi ilusi kemanusiaan. Mereka menjual hidup dalam bentuk angka yang bisa dibeli siapa saja—selama cukup kaya.
File terakhir dokumen bagaimana mereka menyembunyikan asset paten itu. Sangat berlapir lapis caranya. Mereka mengklaim menyelamatkan dunia. Tapi dari data yang ada aku tahu, itu bohong. Obat bukan lagi hak. Ia sudah lama jadi komoditas. Dan manusia, di mata mereka, hanyalah baris angka dalam tabel laporan kuartal.
Pagi itu Jakarta terlalu cerah. Aneh. Karena berita yang kubaca tak pernah mengenal kata terang. Di layar monitor SafeNet, Aashna menatapku dari Zurich, tersambung lewat panggilan video terenkripsi.
“Aku baru dari Jenewa. WHO tetapkan harga X-22 untuk pasar berkembang.”
Aku diam. Biarkan dia habiskan amarahnya.
“Mereka sebut… terjangkau.” Ashna menahan tawa getir. “Untuk siapa? Untuk pasar yang terlalu miskin untuk menawar? Untuk negara yang terlalu lemah untuk melawan? WHO menyebutnya eufemisme. Aku menyebutnya pembunuhan.”
Ashna tak tahu. WHO sudah digiring. AP yang minta. Echelon Veil yang bayar konsultan. Semua langkah sudah ditata. Semua bukti sudah terkunci.
“B… harga X-22 naik 300% setelah disebut affordable. Mereka akan bunuh lebih banyak orang dengan harga itu, bukan virus.”
Aku matikan layar sejenak. Hisap rokok. Senyum kecil. AP sedang berjalan ke dalam perangkap yang mereka buat sendiri.
“Ashna, tenangkan dirimu.”
“Mereka takkan jatuh, B. AP, WHO… mereka terlalu kuat.”
“Mereka bisa jatuh.”
“Bagaimana?”
“Kamu yang akan menjatuhkan mereka.”
Ashna terdiam.
“ Mengapa kamu ragu. Apakah idealisme berseberangan dengan keberanianmu? Naif!
“ Ok B. Aku siap. Beri aku kepercayaan. Aku akan ubah menjadi lebih baik.”
‘ Good. “ Kataku cepat. “ Tunggu, team akan bekerja untuk proses akuisisi AP, dan setela clean, akan kamu dapatkan menjadi bagian dari SIDC Pharma. “
Hong Kong. Malam yang tak pernah benar-benar tidur. Di sebuah hotel yang tak pernah masuk daftar Forbes Travel, aku duduk menunggu Don. Kota ini tahu bagaimana menyembunyikan rahasia. Di balik gedung kaca, di balik pelabuhan, di balik angka-angka GDP, ada uang yang bergerak lebih cepat dari hukum. Don datang seperti biasa. Jaket linen, cerutu yang tak pernah dinyalakan, langkah malas yang tak pernah terburu. Dunia bisa runtuh, Don tetap pesan whiskey.
“B,” sapanya santai. “Kita selalu berseberangan. Tapi kali ini… kita punya musuh yang sama.”
Aku mengangguk. Tak perlu basa-basi. Don paham. Permainan ini bukan soal ideologi. Ini soal uang. Tentang jalur mana yang lebih cepat sampai ke tujuan. Di meja tak ada berkas. Tak ada laptop. Semua sudah di kepala. Dan kepala seperti kami tak pernah percaya cloud.
Aku hanya berkata. “Kita butuh kendaraan baru. Bersih. Tak terhubung langsung ke siapapun. Tak terdaftar di publik. Tapi punya kuasa lebih dari APBN negara kecil.”
Don mengangguk. “SPV?”
“The Shade.” jawabku.
Nama yang tak akan muncul di laporan keuangan manapun. Tapi akan jadi arteri bagi uang yang tak ingin dikenal.
Bagaimana The Shade dibangun. Tahapannya sebagai berikut. Pertama. Establishment: Cayman. Entitas silent. Tidak terlihat. Tidak dihubungkan langsung dengan Noir Circle atau SIDC. Kedua. Funding Route: Syndication melalui Swiss private banks. Layering masuk Jersey, keluar melalui trust berbeda di Luxembourg. Ketiga. Capital: USD 2 miliar. Clean money. No traceable ownership to pharma or public entity. Empat. Objective: Acquisition vehicle disguised as private equity fund. Kelima. Governance: Board dummy. Legal counsel nominee. Voting right under proxy. Semua legal. Semua rapi. Semua tak terjangkau otoritas biasa.
Peran Don jelas. Menjembatani dana dari Noir Circle, jaringan shadow banker yang bergerak seperti kabut—tak tampak, tapi mengunci. Sindikasi masuk Swiss, Cayman, Jersey. Dana keluar ke Asia Selatan, Afrika Timur, disguised sebagai investasi healthcare fund. Tujuannya? Akuisisi AP. Bukan hostile di atas kertas. Tapi hostile dalam praktik.
Don tahu cara membuat uang berjalan tanpa jejak. Aku tahu cara membuat kekuasaan bergerak tanpa suara. Kami tak perlu saling bertanya detil. Kami bukan pemula.
“Kita bicara berapa?” tanya Don, sambil menyesap minuman.
“Dua miliar dolar. Bersih. Tanpa jejak.”
Don tersenyum. “Laba atau dosa, B?”
Aku balas senyum tipis. “Di dunia kita, itu sama.”
The Shade lahir malam itu. Tak tercatat. Tak terdaftar. Tapi hidup. Ia akan bergerak seperti hantu di pasar saham. Membeli. Menekan. Menggoyang.
Noir Circle jadi bahan bakar.
The Shade jadi kendaraan.
Echelon Veil jadi wajah depan, bila perlu.
Aku menatap keluar jendela. Lampu pelabuhan berkerlip seperti kode rahasia yang hanya dimengerti mereka yang biasa bermain dalam kegelapan. Di bawah sana, kontainer bergerak. Obat, mesin, manusia. Semua diperdagangkan dengan cara yang sama.
“Don, ini bukan soal bisnis.”
“Ya. Ini soal kuasa.”
“Siapa pegang obat, pegang dunia.”
Don tersenyum. “Tapi yang punya jalur uang… lebih lama bertahan daripada yang pegang paten.”
Kami angkat gelas. Bukan untuk kemenangan. Untuk permainan yang akan kami mulai.
London, sore yang basah. Kota ini terlalu rapi untuk menyimpan rahasia, tapi terlalu kecil untuk menampung kekuasaan. George datang menemuiku tanpa banyak kata, tanpa banyak basa-basi. Matanya lebih kelam dari biasanya. Di tangannya, segepok dokumen yang tampak lebih berat dari lembar kertas biasa.
“Kau harus lihat ini.”
Ia menjatuhkan berkas ke mejaku seperti seseorang yang sudah menyerah berharap dunia waras. WHO. Nama yang di atas kertas begitu agung. Organisasi Kesehatan Dunia, penjaga hidup umat manusia. Di balik kertas? Sponsor utamanya kini AP. Dana hibah yang mereka sebut ‘dukungan observasi klinis’ mengalir langsung dari trust kita: Echelon Veil.
Aku menatap George. “Mereka tak lagi pura-pura?”
Ia menggeleng. “Mereka tak perlu. Dunia terlalu sibuk dengan epidemi baru. Tak ada yang peduli siapa yang membiayai siapa.”
Dalam lembaran dokumen itu tertulis rapi. Donor utama: AP (via trust intermediation). Tujuan: Program dukungan global vaksin dan treatment X-22. Outcome yang diharapkan: Reputational enhancement, global standard alignment. Bahasa birokrasi, tapi maknanya sederhana: Kau bayar, kau atur permainan.
The Anatomy of Control, simpel: Obat dikunci lewat paten. Paten dikunci lewat rekomendasi WHO. WHO dikunci lewat funding. Funding dikunci lewat trust. Trust dikendalikan oleh kami Rantai yang tak terlihat. Rantai yang tak bisa diputus tanpa menghancurkan kepercayaan pasar secara global.
Rantai yang sudah kami pegang ujungnya.
“1,2 miliar manusia bergantung pada obat itu di Afrika, B. WHO tahu. Mereka memuji AP seolah pahlawan. Padahal mereka yang melegitimasi harga kematian itu.” George bicara nyaris bergetar.
“Kau berharap lebih dari lembaga internasional, George ?”
“Aku pernah.”
Aku diam. Kadang, diam lebih menyakitkan dari kalimat mana pun.
“Aku serahkan semua data ini padamu, B. Aku sudah selesai percaya pada sistem. Sekarang aku percaya padamu.”
Aku mengangguk.
“Aku tak butuh kepercayaan, George . Aku hanya butuh kamu berdiri di titik yang tepat saat semua ini runtuh.”
Dia tersenyum kecil. “Kau percaya kita bisa menjebol benteng sebesar ini?”
Aku menatap dinding kaca di depanku. Di luar sana, London bergelap tenang. Cahaya kecil dari lampu apartemen lain seperti tanda-tanda hidup manusia yang tetap menolak tunduk pada malam.
“Kau tahu, George… semua benteng besar jatuh bukan karena hancur dari luar. Tapi karena ada retakan kecil yang dibiarkan tumbuh di dalam.”
Aku susun semua laporan ke satu file.
Lengkap. Terstruktur. Rapi.
Tak butuh revolusi. Cukup satu tumpukan kertas yang dikirim ke tempat yang tepat, di saat yang tepat. Anti-trust Eropa. Media internasional. Platform whistleblower. Semua sudah siap. Semua tinggal menunggu momentum.
George duduk, menarik napas. “Kita akan menang, B?”
Aku menjawab tenang, seperti biasa. “Kita tak butuh menang. Kita hanya butuh membuat mereka tahu: mereka tak lagi bisa bersembunyi.”
Aku buka email dari Noir Circle. Dana sudah masuk ke The Shade. Logistik siap. Perang segera dimulai. Saatnya keluar dari persembunyian.
“Kita bisa hentikan ini, B. Kau punya semua jejaknya. Kau punya cara.” Kata George. Aku menatap jendela, hujan mulai jatuh lagi. Zurich tenggelam dalam abu-abu yang cocok dengan mood dunia ini.
“George, kita tak bisa hentikan dunia. Tapi mengubah nya jadi lebih baik .”
Ia menatapku lama. “Dan apa yang kau cari, B? Keadilan? Balas dendam? Atau hanya… permainan yang lebih besar?”
Aku tersenyum kecil.
“Siapa bilang itu tiga hal yang berbeda?”
Di luar sana, WHO sedang menyiapkan rilis pers. Di dalam sini, aku menyiapkan akhir cerita mereka. Tak ada lembaga yang benar-benar suci. Hanya belum cukup dibayar, atau belum cukup ketahuan. Di balik setiap pengakuan ‘gold standard’ dari WHO, ada laporan keuangan yang lebih jujur dari semua pidato kemanusiaan. Dan aku, perlahan-lahan, mulai menikmati cara mereka akan jatuh oleh tangan mereka sendiri.
Aku selalu percaya, tidak semua perang dimulai dengan ledakan. Beberapa cukup dimulai dengan lembar-lembar dokumen yang dibaca dalam hening. Di meja ini, malam-malam terakhir lebih sunyi dari biasanya. Tak ada suara, hanya ketukan jari menelusuri laporan. Tidak ada darah, hanya angka-angka yang menyimpan lebih banyak kematian daripada senjata api.
Malam itu, aku tidur lebih nyenyak. Bukan karena semua beres. Tapi karena aku tahu. Besok perang sudah dimulai. Dan senjata kami kali ini bukan uang, bukan kekuasaan. Tapi kebenaran yang tak bisa mereka bantah.
Dunia ini tak pernah butuh revolusi besar. Kadang, cukup satu lubang kecil di dinding yang lama dibiarkan gelap, agar cahaya perlahan masuk dan membuat mereka gelisah. Hari itu, aku memandang Zurich dari jendela hotelku. Kota ini tetap sibuk memoles wajah rapinya. Tapi di balik bangunan kaca dan laporan GDP, sesuatu telah berubah. Tak terlihat oleh mata awam. Tapi aku tahu, perputaran kecil sudah dimulai.
File yang kususun semalam sudah di tangan team Victor di Moscow. Dia ahlinya black campaign. Tidak lewat jalur keras. Tidak lewat skandal tabloid. Tapi lewat tangan-tangan yang tahu: setiap monopoli, setiap kartel, selalu rapuh pada satu hal: bukti yang tak bisa mereka bantah.
Anti-trust Eropa mulai bertanya.
Media mulai menulis.
Platform whistleblower memuat laporan kami dengan kode sandi: EV Uncovered.
AP mulai bergetar. Harga saham mereka jatuh pelan. CEO mereka dipanggil, bukan oleh regulator, tapi oleh pemegang saham yang mulai takut rugi. WHO? Mereka menyangkal, seperti biasa. Tapi denyut reputasi mereka sudah bocor, seperti atap yang terlalu lama menahan hujan.
Aku duduk dengan Don, di bar hotel yang terlalu sepi untuk disebut tempat kemenangan.
“Kau puas, B?” tanyanya, menyesap whiskey dengan gaya malas yang selalu ia pelihara.
Aku tak menjawab. Kemenangan di dunia ini bukan soal tepuk tangan. Bukan soal headline. Tapi soal satu fakta: kita telah menggoyahkan menara yang mereka kira kekal.
“Kau tahu kenapa aku suka jalur gelap, B?” Don tersenyum tipis.
“Karena di gelap, orang-orang seperti kita selalu lebih paham cara jalan pulang.”
Aku ikut tersenyum. Tidak sepakat. Tapi tidak perlu menjelaskan. Don selalu bermain untuk dirinya sendiri. Dan aku tak pernah berharap lebih.
Victor mengirim pesan singkat. “ Serangan akan terus dilakukan. Semua terkendali.”
Aku balas dengan singkat. “Jaga dirimu. Sisanya biar berjalan seperti hukum alam.”
Di layar, laporan pasar keuangan hari ini memuat satu kalimat kecil. “Investigasi resmi atas AP diluncurkan oleh otoritas Eropa.” Kalimat dingin. Tapi cukup untuk memulai domino.
Aku menyulut rokok. Menatap malam yang tenang dari jendela. Di bawah sana, dunia tetap berjalan: orang membeli, orang menjual, orang hidup, orang mati. Tak ada yang benar-benar berubah. Tapi aku tahu, malam ini, ada dinding besar yang sudah retak. Dan tak ada kekuasaan yang bisa menambalnya tanpa kehilangan sebagian wajahnya.
Kita tidak pernah menyelamatkan dunia. Kita hanya memastikan mereka tak lagi terlalu nyaman duduk di singgasana yang mereka bangun dari penderitaan manusia.
Karena di dunia ini, kebenaran tak pernah butuh senjata. Ia hanya butuh keberanian kecil untuk dilepas ke udara.
Aku menghabiskan whiskey-ku. Memandang kota. Tersenyum kecil.
Don tertawa, tanpa alasan.
“Kau masih percaya esok pagi akan lebih baik?”
Aku menoleh pelan. “Aku tidak. Tapi setidaknya mereka akan lebih takut daripada kemarin.”
Di dunia ini, kehancuran jarang datang dalam bentuk ledakan. Lebih sering, ia datang dalam bentuk angka yang tak lagi mau patuh. Aku tahu satu hal sejak awal: AirinPharm tak akan pernah dijatuhkan dari luar. Mereka terlalu besar. Terlalu terhubung. Terlalu kuat. Tapi mereka, seperti semua kerajaan tua, punya kelemahan yang sama: mereka takut pasar. Mereka takut harga saham jatuh. Mereka takut kredibilitasnya runtuh di layar Bloomberg, bukan di ruang rapat WHO.
Dan di situlah aku mulai.
Langkah Pertama: Team victor berhasil.Pelan-Pelan Merusak Keyakinan Pasar. Melalui Noir Circle, dia mulai menanam desas-desus halus di pasar gelap ekuitas: Laporan keuangan AP terlalu bergantung pada harga paten X-22. WHO sedang dalam tekanan investigasi atas konflik kepentingan yang tak disangka-sangka akan bocor. Aku tak perlu menyerang langsung. Aku cukup menyebarkan keraguan. Keraguan adalah virus yang lebih cepat dari fakta.
Investor mulai bertanya. Analis mulai mengurangi rating mereka. Saham AP mulai melemah perlahan, turun 2%… lalu 5%… lalu 7%. Sedikit demi sedikit, cukup membuat internal mereka gelisah, tapi belum cukup untuk membuat mereka curiga ada yang menarik tali dari balik bayang-bayang.
Langkah Kedua: Memancing Reaksi Bodoh. Aku tahu cara kerja dewan direksi perusahaan semacam ini. Mereka akan bereaksi dengan satu hal: pembelian saham balik (buyback). Tujuannya? Stabilkan harga. Efeknya? Menguras kas. Kas yang akan mereka butuhkan nanti, saat badai yang sesungguhnya datang.
Dan aku biarkan mereka jatuh dalam perangkap itu. Setelah saham anjlok 7%, mereka mengumumkan buyback 300 juta dolar. Pasar tenang. Grafik naik tipis. Mereka merasa aman. Tapi aku tahu, yang mereka lakukan hanyalah memotong napas mereka sendiri lebih cepat.
Langkah Ketiga: Tekanan Bertubi. Di saat mereka sibuk menstabilkan ekuitas, aku mainkan kartu kedua: utang. Melalui proxy trust fund yang berbeda, aku mulai menahan rollover sindikasi mereka. Kreditur mereka tiba-tiba lebih keras dalam syarat covenant: Rasio utang harus dipertahankan di bawah 3x EBITDA. Likuiditas kas minimum dinaikkan. Risiko reputasi dimasukkan dalam trigger covenant baru.
AP mulai tergagap. Kas menipis karena buyback. Rasio utang mulai menekan karena leverage sebelumnya didesain untuk pertumbuhan agresif, bukan pertahanan reputasi. Mereka terjebak antara dua pilihan buruk: menerbitkan utang baru yang lebih mahal, atau menjual aset non-core yang tak cukup cepat menyelamatkan laporan keuangan.
Langkah Keempat: Membuka Pintu yang Tak Bisa Mereka Tutup, Saat mereka lemah, aku munculkan penawaran. Bukan tawaran baik-baik. Aku, lewat The Shade, masuk membeli 4,9% saham secara senyap, lewat pasar terbuka. Cukup untuk membuat mereka tahu: ada yang mengincar. Dewan mereka mulai panik. Investor mereka mulai bertanya. Pasar mulai bergumam: “Apakah AP target hostile takeover?”
Harga saham mereka mulai jatuh lebih dalam. Buyback tak lagi mungkin. Kas menipis. Utang tak lagi ramah. Investor besar mulai mendekat ke mejaku, menawarkan lembar kepemilikan mereka, diam-diam.
Langkah Kelima: Satu Pukulan Terakhir Aku mainkan sentimen pasar lewat analyst leak: “ AP diprediksi kesulitan mempertahankan status investment-grade tahun depan.’Akusisi oleh pihak luar mungkin lebih baik untuk kelangsungan bisnis jangka panjang.”
Itu bukan laporan resmi. Hanya bisik-bisik yang kuloloskan ke hedge fund dan media finansial. Tapi cukup untuk menurunkan harga 10% dalam semalam.Board mereka tak punya pilihan. Mereka tak bisa bertahan di pasar terbuka lebih lama. Investor mulai berpihak padaku. Satu per satu mereka bergeser, menjual hak suara secara senyap ke trust yang sudah kusiapkan.
Langkah Akhir: Menawarkan Pelampung yang Sudah Kupegang. Dewan AP akhirnya datang sendiri. Mereka menyodorkan merger. Menyodorkan sisa harga diri mereka yang sudah compang-camping. Alasan mereka? “Stability for long-term shareholder value.” Kata mereka: bukan akuisisi hostile. Kenyataannya? Mereka sudah kalah sebelum rapat pertama dimulai.
Aku tidak menjatuhkan mereka dengan kekuatan. Aku menjatuhkan mereka dengan kalkulasi rasa takut dan kecemasan yang kutanam dengan rapi.Bukan karena aku lebih kuat. Tapi karena aku lebih sabar. Dan sekarang, di tangan The Shade, seluruh kerajaan itu berpindah. Bukan lewat perang. Tapi lewat jebakan keuangan yang dirancang untuk satu tujuan: membuat mereka menyerah, bukan dihancurkan. Di dunia ini, kekuasaan sejati bukan tentang berapa besar kamu. Tapi tentang seberapa cepat kamu bisa membuat orang lain percaya mereka kehabisan pilihan.
Lewat the Shade, SIDC Pharma kuasai AP dan setelah berganti nama menjadi salah satu anak usaha. Ashna akan mengendalikannya sesuai dengan idealisme nya. SIDC akan bersih di mata pasar. Akan dipuji sebagai restrukturisasi yang sehat. The Shade hilang. Noir Circle diam. AP sudah tak ada. SIDC berdiri di atas puing-puingnya, memegang peta baru distribusi hidup manusia. Aku kembali ke Jakarta.
Di Jakarta. Di apartemen, atau aku sebut sebagai Safehouse. Tidak ada sinyal hape saat masuk ruangan. Wifi tidak tersedia. Semua komunikasi via cable F/0. Aku duduk di ruang rapat yang tak lagi kusebut ruang rapat. Lebih mirip altar baru bagi orang-orang yang percaya bahwa sistem bisa ditulis ulang, asal penanya cukup kuat.
Di hadapanku: peta baru kekuasaan. Bukan wilayah. Bukan pasar. Tapi jalur distribusi obat, izin edar, paten, dan harga. Semua kini dalam genggamanku. Bukan hasil perang. Hasil skema. Hasil menunggu. Hasil membaca takut orang lain lebih cepat dari mereka membaca peluang.
Ashna muncul di monitor Safenet dengan wajah yang lebih ringan, tapi bukan tanpa beban. Ia tahu, hari ini bukan akhir. Ini titik balik. “Kita sudah punya semuanya, B. Nama. Akses. Paten. Distribusi. Apa langkah selanjutnya aku diberi kebebasan menjalankan Visi SIDC?
Aku mengangguk dan memandang layar sebelah kiri. Grafik margin turun. Proyeksi laba tidak seindah sebelumnya. Tapi itu bukan masalah. Itu justru awal. “Aku akan restruktur bisnis ini. ‘ Kata Ashna. “ Kita akan tetap kapitalis, B. Tapi kita tentukan sendiri batasnya. Kita buat standar baru: obat tak boleh jadi komoditas yang membunuh pelan-pelan hanya karena harga.”
Aku mengernyit. “Humanitarian capitalism?”
Ashna mengangguk. Aku tersenyum kecil. “Kedengarannya mulia. Padahal hanya strategi baru. Tapi biarlah orang percaya kita malaikat, asal mereka berhenti mati karena harga.”
Ashna mulai menyusun business model. Harga maksimum global yang rasional, bukan disetir oleh margin gila investor. Skema cross-subsidy: pasar kaya menutup biaya distribusi ke negara miskin. Transparansi rantai pasok—tak ada lagi SPV tersembunyi untuk memoles harga. Dana penelitian yang benar-benar dikelola bersama LSM, bukan atas nama laba masa depan.
Aku mengangguk. “Ini tak akan cepat. Akan ada yang melawan.”
“Tentu.” Jawab Ashna.
Request dari Don mau ikut gabung VC. Aku mengizinkan
“Kau buat apa ini, B? Mau cuci dosa? Mau jadi malaikat?”
Aku menatapnya, tenang.
“Tidak. Aku hanya berusaha jadi orang baik dan mendorong terjadinya perubahan.”
Don tertawa. “Baiklah. Tapi ingat, dunia tak pernah benar-benar berubah.”
“Aku tak butuh dunia berubah. Cukup perusahaan ini jadi bukti, kita bisa menulis ulang cara main.”
Dan kali ini, aku memegang tali bukan sekadar demi laba. Tapi demi sesuatu yang lebih sunyi: membuktikan, bahkan kapitalisme bisa dibuat lebih waras. Bila cukup cerdas. Bila cukup sabar. Bila cukup tega untuk memutus siklus yang lama.
Tahun 2019. London. Hotel di kawasan yang terlalu mahal untuk ditinggali orang jujur. Ashna duduk di hadapanku. Wajahnya tak lagi sekadar CEO. Kali ini, wajahnya perempuan yang baru menyadari idealismenya berdiri di atas fondasi busuk yang tak pernah ia bayangkan.
Dia lempar satu berkas ke meja. Laporan forensik internal yang dia buat sendiri.
Trust Fund di Hungaria.
Dana mengalir ke konsultan.
WHO menerima rekomendasi.
AP terjebak oleh permainan yang rapi, yang lambat, yang diam.
Dan di ujungnya: namaku.
“Ternyata kamu.” katanya pelan, nadanya bukan marah, tapi kecewa. “Trust di Hungaria. Dana dari Noir Circle. Konsultan yang disuap lembut atas nama ‘advisory fee’. Semuanya atas permintaan AP. Tapi kamu yang giring mereka ke sana.”
Aku menatap jendela. London selalu sama. Basah. Dingin. Sibuk menyembunyikan rahasia di balik arsitektur yang rapi. Aku tidak menjawab. Karena diam lebih efisien daripada pembenaran.
Ashna menatapku lama, seolah mencari sisa-sisa nurani yang barangkali masih terselip di balik tatapanku yang dingin.
“Kamu jebak mereka… pelan-pelan… kamu buat mereka tamak, kamu umpan mereka dengan ilusi, lalu kamu jatuhkan mereka ke lubang yang kamu gali sendiri. Semua demi satu hal: akuisisi yang tampak bersih di mata hukum.”
Suara Ashna nyaris bergetar. “Kamu memang predator, B.”
Aku tetap diam. Tak ada kata yang perlu kujawab. Ia sudah tahu. Ia selalu tahu. Karena tugasnya memang percaya pada sesuatu yang lebih mulia daripada aku. Biarlah kalau karena itu aku terlihat seperti iblis di matanya. Dunia ini memang butuh orang naif, orang yang percaya sistem bisa diperbaiki dari dalam, bahkan setelah ribuan kali dikhianati.
SIDC butuh orang seperti dia.
Dan dunia butuh orang seperti aku.
Ashna melangkah pergi. Tanpa pamit. Tanpa menoleh. Aku biarkan. Kadang kebaikan memang harus dibiarkan pergi sendiri, agar tidak hancur oleh kebenaran yang lebih kejam.
Karena aku tahu, keadilan bukan soal benar atau salah. Bukan soal moralitas yang dipamerkan di atas podium atau slogan di balik rapat pemegang saham. Keadilan hanyalah soal siapa yang paling mampu bertahan hidup dari sistem yang selalu memihak kekuasaan.
Aku?
Aku hanya memastikan sistem ini tak membunuh lebih banyak orang lemah. Bukan karena aku percaya utopia, bukan karena aku merasa pahlawan. Tapi karena aku tahu, jika kau ingin dunia ini lebih adil, pastikan lebih dulu: kekuasaan itu di tanganmu. Baru setelah itu kau boleh bicara tentang keadilan. Tanpa kekuasaan, keadilan hanya lelucon yang ditertawakan meja makan oligarki.

Tinggalkan komentar