Kehilangan dan kepergian

Langit Jakarta tidak sekadar gelap sore itu. Ia seperti menyimpan luka kolektif, menggantung di antara gedung-gedung yang tinggi dan hati yang rendah. Hujan turun deras, memecah atap, mengguyur jendela kafe hotel berbintang itu seperti mengetuk-ngetuk nalar yang nyaris punah.

Aku duduk menghadap kaca lebar. Di balik jendela, hidup berjalan dalam deras yang tak ramah: seorang ibu menggendong anak di halte, tak punya pilihan selain membiarkan tubuhnya diguyur. Seorang tukang ojek menyelonjorkan kaki, bersandar pada dinding, memejamkan mata sejenak seolah ingin meminjam istirahat dari semesta yang pelit.

Jakarta, kota para pengelana nasib. Hujan yang bagi sebagian orang berarti keindahan, bagi mereka adalah bencana kecil yang datang tanpa notifikasi. Dan jika air dari Bogor mengalir tiba-tiba, bantaran Ciliwung akan berubah menjadi ruang mayat yang tak terdeteksi sistem statistik. Di negeri ini, kematian rakyat kecil jarang tercatat. Tidak dalam survei kepuasan publik, tidak pula dalam narasi besar pembangunan. Mereka mati diam-diam. Seperti debu.

Kupalingkan wajah dari jendela. Segelas kopi belum tersentuh. Aku lebih suka memperhatikan langit daripada menyeruput sesuatu yang kini terasa terlalu hangat untuk dunia yang dingin. Hidup memang berisiko. Tetapi untuk mereka yang ada di bawah, risiko adalah rutinitas. Sebuah harga dari sistem yang tidak pernah benar-benar mencintai rakyatnya.

Seorang perempuan masuk ke kafe. Rambutnya terurai, wajahnya bersih, langkahnya yakin. Tapi sorot matanya menyimpan banyak ruang yang belum berisi. Ia mendekat. Aku bersiaga. Tempat ini terlalu steril untuk seorang wanita yang menawarkan tubuh. Semua pengunjung di sini—baik laki-laki maupun perempuan—memiliki kartu hitam. Dan lebih dari itu: mereka memiliki dosa-dosa yang diselubungi parfum mahal.

“Mr. B,” sapanya, menyergap sebelum aku sempat menggeser tempat duduk di sofa panjang.

Aku menatapnya. Tak ada rasa canggung dalam dirinya. Ia menyalakan rokok Jepang, dan tanganku secara refleks menyulutkan korek api. Ia mengangguk singkat, mengucap terima kasih. Seketika, asap dari rokok kami menari di udara, seperti dua siluet dari dunia yang tidak tampak.

“Erwin minta saya bertemu Anda,” katanya.
Aku tersenyum ringan. Nama itu membuatku tenang. Erwin adalah sahabatku—CEO investment banking kelas dunia di Eropa. Jika dia merekomendasikan seseorang, biasanya bukan orang sembarangan.

Usianya sekitar pertengahan tiga puluh. Barangkali Sunda, atau Manado. Wajahnya bersih, bahunya tegak. Ia duduk dengan kepercayaan diri yang tidak dibuat-buat. Lalu menyerahkan sebuah amplop biru. Aku membukanya. Hanya selembar cetakan terminal GPI berlogo hitam.

Remittance Terminated — USD 1,000,000,000

Aku meletakkan dokumen itu kembali di hadapannya. “Saya tidak tertarik pada dokumen semacam ini,” ujarku.

Ia tertawa. “Hebat. Anda tahu artinya hanya dengan sekilas pandang. Erwin tidak salah.”

Aku diam. Menyimak.

“Total dana besar sampai USD 30 miliar.. Dipecah dalam 18 rekening offshore. Saya ingin Anda bantu layering, lalu siapkan jalur utilisasi.”

Aku tatap matanya. Dalam. “Anda percaya pada hoaks tentang saya?”

Dia tak tergoyah. Malah semakin dekat. Aku terintimidasi oleh caranya duduk. Terlalu berani, terlalu tahu apa yang ia inginkan.

Aku berdiri. “Maaf. Saya ke toilet.”

Dan ketika aku kembali, aku memilih duduk di kursi seberang. Bukan lagi di sofa yang sama.

“Dulu kerja di mana?” tanyaku datar.

“Sekarang jalankan Asset Management bersama teman. Sebelumnya di kantor konsultan.”

Ia serahkan kartu nama: Arina — Direktur Utama

Aku angguk kecil. Kami belum bicara soal bisnis, tapi sudah melangkah jauh ke dalam gelombang ketegangan yang menyenangkan.

“Kamu tahu, B, awalnya KPK bicara tentang ekspor ilegal ore nikel ke China. Jutaan ton. Nilainya triliunan. Tapi semua seperti bayangan di air. Terlihat. Tapi tak bisa disentuh.”

Aku angguk. Tak terkejut. Dunia tambang adalah dunia penuh jubah suci—undang-undang, izin usaha, studi AMDAL, peta geologi. Tapi di balik semuanya, adalah ruang gelap yang penuh aroma besi dan uang.

“Kalau itu ilegal, kenapa bisa lolos?” tanyaku datar.

“Karena semua izin bisa didokter,” jawabnya cepat.

Aku mengernyit. “Maksudmu?”

“Dokter. Itu istilah umum. Artinya dokumen terbang. Surat izin tambang—atau yang tampak seperti itu—dibeli. Atau disewa. Untuk pengiriman, untuk solar subsidi, bahkan untuk laporan ke ESDM. Tambangnya ilegal, tapi dokumennya legal. Sama seperti narkoba yang dibungkus vitamin.”

Aku terdiam. Dunia tambang lebih kejam dari dunia keuangan. Uang bisa dicuci. Tapi alam tidak bisa. Ia menyimpan luka, dan suatu saat pasti mengembalikannya kepada manusia.

“Terus?” kataku, menyulut rokok baru.

“Ada juga istilah ‘pelakor’.”

Aku tertawa kecil. “Itu pelakor tambang?”

“Ya. Pemilik IUP resmi, tapi nambang di luar wilayahnya. Di lahan perusahaan lain, lahan koridor, atau bahkan kawasan konservasi. Tapi karena punya IUP, mereka tetap bisa kirim barang—asal ada ‘dokter’ yang bantu.”

Aku menggeleng. “Dan semua ini diketahui aparat?”

“Bukan hanya diketahui. Mereka bagian dari sistem. Dari Pemda, Polda, TNI, KPK, Dirjen Minerba. Semua punya jalur jatah. Bahkan bea cukai dan surveyor. Semua dimasuki. Semua dibagi.”

“Lalu, siapa yang paling besar dapat untung?”

“Trader dan Smelter.”

“Bukan pemilik tambang?”

“Tidak. Pemilik IUP itu boneka. Lahan tambang pun sering bukan milik mereka. Ada yang cuma menyewa tanah warga. Ada yang pinjam nama tukang parkir untuk PT-nya. Tapi trader dan smelter? Mereka pemain sejati. Mereka broker dari broker. Trader adalah jembatan dari smelter ke pasar. Dan smelter? Mereka hanya perpanjangan tangan dari offtaker di China.”

Aku mulai menyusun gambar. Sebuah sistem mata rantai. Terlihat seperti bisnis. Tapi sesungguhnya ini jaringan predator. Dan para penambang hanyalah semut yang tertangkap dalam jalur gula.

“Cuan mereka besar?”

“Luar biasa. Harga HPM untuk ore 1,8% nikel itu USD 53. Tapi harga di Shanghai USD 83. Untung USD 30 per ton. Itu 65% margin. Dan jangan lupa, smelter dapat insentif pajak, bea keluar, bahkan listrik murah dari negara.”

Aku meneguk air mineral. Tak ingin minum kopi. Terlalu panas untuk cerita sebrutal ini.

“Kenapa tidak bisa dibongkar sistem ini?” tanyaku.

Arina tersenyum miring. “Karena mereka punya koneksi hingga presiden. Bahkan partai. Apalagi sekarang menjelang pemilu. Uang dari tambang seperti ini jadi logistik politik. Mereka akan lindungi mati-matian. Bahkan mengorbankan aparat sekalipun.”

“Dan kita ini di mana?”

“Kita? Kita adalah saksi..”

Aku tertawa kecil. Tapi dalam hati mulai dingin. Bangsa ini selalu mengulang kebodohan yang sama. Zaman Soeharto, migas dijarah. Nilai tambah dinikmati Singapore. Hutan habis, tapi furniture-nya dibuat di Korea dan Jepang. Kini nikel pun bernasib sama. Kita bangga punya smelter, tapi kita hanya jadi kacung dari downstream industri mereka.

Aku tidak membantah. Karena diam, adalah satu-satunya cara menjaga waras di negeri yang seluruh suaranya adalah gema kepentingan.


Kafe itu menyisakan senyap yang menetes perlahan, seperti sisa hujan di sudut kaca. Arina menyalakan rokok keduanya. Asapnya membentuk pola yang tak bisa diuraikan siapa pun—seperti jejak-jejak dana yang ia bawa.

Di meja itu, kami tak lagi berbicara sebagai dua orang asing. Kami adalah dua penjaga gerbang dunia gelap: dunia yang tak memerlukan pistol untuk merebut kekuasaan, cukup sebuah password, sebuah routing code, dan selembar “Black Screen” yang bisa membuat bursa berguncang.

“Jadi… kamu ingin layering dana sebesar USD 30 miliar?” tanyaku setelah meneguk kopi yang kini dingin, tapi masih terasa pahitnya.

Dia mengangguk. “Dana itu sudah lama dormant. Terpecah dalam 18 rekening, tersebar di Swiss, Luxemburg, Isle of Man, dan satu di Bahama.”

Aku mengangguk perlahan. Itu bukan hal yang mustahil. Tapi bukan pula hal yang sederhana.

“Apakah dana ini berasal dari satu sumber?” tanyaku.

“Multi-layer,” jawabnya. “Namun bermuara pada satu pemilik saham..”

Aku tak bertanya lebih jauh. Dalam dunia kami, tidak semua informasi harus dicari. Ada yang datang sendiri pada waktunya.

Aku menyalakan rokokku sendiri. Untuk sesaat, hanya asap yang bicara di antara kami.

“Kalau kamu sudah tahu dana itu terminate, kenapa masih cari jalan keluar?” tanyaku.

Dia tertawa kecil. “Karena saya sudah terlalu jauh. Dan saya tidak ingin mati sebagai pecundang.”

Jawaban itu tidak heroik. Tapi jujur.

Aku melempar pandangan ke luar jendela. Malam mulai turun pelan-pelan. Seperti sesuatu yang menyelimuti, bukan menggantikan. Kota ini tidak pernah benar-benar malam. Ia hanya lebih gelap dan lebih diam.

“Ada satu yang bisa lakukan itu,” kataku akhirnya. “Tapi dia tidak murah. Dan dia tidak butuh uang.”

“Lalu dia butuh apa?”

“Waktu. Kepercayaan. Dan akses.”

“Berapa waktu yang dia perlukan?”

“Berapa waktu yang kamu punya?” tanyaku balik.

Ia diam. Mengambil napas panjang. “Saya sudah kehabisan waktu. Saya sudah kehabisan uang. Tapi saya belum kehabisan akal.”

Aku tersenyum. Jawaban itu mengonfirmasi: dia layak disebut pemain. Itu asset bukan milik dia. Tapi milik orang lain. Tentu karena semua jalan mencairkan asset itu buntu dan mereka sudah lelah dan pasrah. Maklum rekening sudah diblock oleh system. Semakin diurus malah semakin dekat dengan international crime. Uang engga cair, malah penjara yang didapat. Arina hanya mandatory yang menjanjikan too good to be true kepada orang yang putus asa dan kehilangan waras.


Esok malamnya, aku hubungi George—shadow banker yang selama lebih dari 12 tahun sebagai anggota team shadow-ku, menari di atas jaringan aman antara London, Zurich, Dubai, dan Malta. Dia tidak pernah muncul di publik. Tapi ia dikenal di meja makan IMF dan dinner privat di Forum Davos.

“B, kamu tahu ini game yang tidak ada u-turn,” katanya setelah aku ceritakan garis besar.

“Aku tahu.”

“Kamu sendiri akan back up dia?”

“Tidak. Kamu yang akan pegang routing, pegang otorisasi. Dia yang harus bayar dengan kepercayaannya sendiri.”

George tertawa. “Perempuan? Berani sekali dia. Siapa yang endorse?”

“Erwin. Bankir utama Eropa. Temanku.”

“Baiklah. Kirimkan form awal. Aku akan tentukan terms-nya. Kalau dia lolos, dia dapat satu pintu.”

Satu pintu. Itu istilah kami untuk membuka jalur legalisasi atas dana terminate dengan metode constructive validation via non-trade asset. Tidak ada jual beli barang. Tidak ada instrumen derivatif. Yang ada hanyalah legitimasi yang dibangun dari sistem luar sistem.

Tiga hari kemudian, Arina mengirimkan dokumen via sistem pengaman berlapis. Aku tak buka. Aku hanya forward ke George. Lima jam kemudian, ia menelepon.

“Routing-nya bersih. Tapi penuh trap. Ada enam layer yang sudah dipasang OFAC dan FATF. Sistem seperti ini bukan untuk dibuka. Ini untuk dikunci selamanya.”

“Apa bisa dikelola sebagai bounty asset?”

“Bisa. Tapi hanya USD 2 juta yang bisa dibuka. Selebihnya harus dikorbankan.

Arina Awalnya keberatan dengan USD 2 juta sebagai bounty asset. Tapi akhirnya dia bisa menerima dan setuju untuk bertemu dengan George di London. Aku tidak memaksa tapi dia harus belajar satu hal: dalam dunia ini, kadang bukan seberapa besar yang kau pegang, tapi seberapa banyak yang kau rela lepaskan.


Aku datang ke boutique di Selatan Jakarta, yang Kelola Mirna. Itu pekerjaan formalnya namun sebenarnya dia salah satu team Shadow ku. Aku serahkan satu folder padanya. Di dalamnya ada struktur trust, analisis transfer antar-yurisdiksi, dan satu memo dari George.

“Pelajari ini. Besok kamu terbang ke Singapura. Gabung dengan tim George. Viktor akan briefing soal tugas kamu sebagai peserta lelang di Monte Carlo. “

“B, seru Mirna. “ Kalau tugas ini selesai, Apa boleh aku keluar dari team kamu.”

“ Bebas. Itu hak kamu. “ Kataku cepat. “ Pastikan tugas kamu selesai.”

“ Siap.” Katanya menunduk dengan suara lirih.


Monte Carlo tidak mengenal musim gugur seperti London. Di kota ini, daun tak pernah jatuh—yang gugur adalah rahasia, dan yang tumbuh adalah ilusi.

Di sebuah bangunan putih tua, berdiri tenang di lereng bukit menghadap Laut Tengah, lelang terbatas digelar. Bukan untuk masyarakat umum. Bukan pula untuk kolektor biasa. Hanya tiga belas undangan. Tanpa kamera. Tanpa siaran langsung. Tanpa pers.

George mengatur semuanya. Seperti biasa, ia tak hadir secara fisik. Ia ada dalam dokumen, dalam otorisasi, dalam sistem. Marina hadir mewakili jalur dana terminate, tapi tidak sebagai pemilik, hanya sebagai pemegang akses sementara—atas trust yang dikunci oleh kode internal yang hanya George pahami sepenuhnya.

Di ruangan itu, tidak ada suara keras. Hanya derak kursi tua, gesekan pulpen pada katalog barang antik, dan satu layar LED di pojok, menampilkan urutan lot: arloji kuno, peta warisan dunia, dan satu lukisan yang diklaim berasal dari Budapest—hilang dari museum sejak 1986.

Yang dilelang bukan sekadar barang. Yang diperjualbelikan adalah kepercayaan, adalah hak masuk ke sistem yang tidak terdaftar, sistem di luar SWIFT, sistem yang disebut George sebagai:

“Silent ledger for those who live in the noise.”

Dana terminate dari Arina digunakan sebagai jaminan. Routing code dikunci, trust name disamarkan, beneficiary disamarkan, dan akun di Mauritius dijadikan perantara.

Setelah tiga jam yang sunyi dan penuh isyarat, George memenangkan lelang atas satu artefak tua dari dinasti Mughal. Nilai transaksinya: USD 118 juta. Tapi itu hanya topeng.

Yang dicari bukan artefak. Yang diambil adalah kesempatan untuk membuka dana terminate—bukan dari sistem resmi, tapi dari jalur validasi off-market.

Beberapa hari setelah itu, Arina menerima email. Ringkas, tanpa salam pembuka:

USD 2,000,000
Disbursed to: Trust Account – Mauritius
Ref: Bounty – Tier-3 Release.
Status: Non-Repatriable.

Sisanya? Masuk black hole trader hedge fund. Akan jadi CDS untuk program leverage pasar uang.

***

Tiga minggu setelah lelang itu, aku bertemu Arina di kafe hotel. Ia tampak lebih tenang. Atau mungkin… lebih hampa.

“George hanya beri saya dua juta,” katanya, nyaris seperti menyebut angka rekening.

Aku tidak menjawab. Tak perlu. Karena kami berdua tahu: dua juta itu bukan bantuan. Itu kompensasi atas kehilangan kendali.

“Aku beri dia akses. Routing, backup code, identifikasi pendukung. Aku pikir kami kerja sama. Tapi ternyata, aku hanya… pintu masuk.”

Aku angguk. “Karena kamu pikir kamu pemain. Padahal sejak awal kamu hanya kunci. Dan bukan pemilik rumah.”

Ia tertawa kecil. Tapi tawanya getir. Tawanya bukan suara. Tapi suara yang pernah ia simpan terlalu lama. Ia menatapku lama. Aku tak bisa menebak pikirannya. “B, kalau aku datang lagi, dengan case baru, kamu masih mau bantu?”

Aku tersenyum kecil.

“Tergantung. Kalau kamu datang sebagai Arina yang dulu, mungkin tidak. Tapi kalau kamu datang sebagai Arina yang hari ini—yang tahu bahwa satu langkah salah di dunia ini bisa jadi pintu maut—mungkin saja.”

Ia bangkit. Mengambil tasnya. Tapi sebelum pergi, ia menoleh.

“Kamu tahu apa yang paling aku sesali?”

“Apa?”

“Aku pikir aku bisa kendalikan semua. Ternyata aku hanya pion kecil…pecundang. Sama dengan mereka yang mengumpulkan uang haram itu.” Kata Arina.

Dan ia pun pergi. Tanpa pamit. Seperti seseorang yang tahu bahwa jalan pulangnya bukan ke rumah, tapi ke dalam dirinya sendiri—yang tak lagi utuh.


Kebayoran, sore hari. Langit menggantung seperti sesuatu yang belum selesai diucapkan. Kami bertiga duduk di sebuah kafe kecil yang menyimpan aroma kayu manis dan kayu tua—aku, Mirna, dan Ira. Tak ada latar jazz. Tak ada ponsel di meja. Hanya secangkir teh, beberapa lembar dokumen yang belum disentuh, dan percakapan yang tak pernah diajarkan di ruang kuliah hukum atau ekonomi.

Mirna baru saja kembali dari tugasnya di luar negeri. Matanya sedikit lebih tenang, tapi aku tahu: dalam dunia kami, ketenangan adalah produk kompromi antara moral dan akal sehat. Ira datang dari arah kiri, membawa sebuah map dan sorot mata tajam seperti biasa.

Aku menatap keluar jendela. Jakarta sore itu terlihat sibuk, tapi diam. Seperti rakyatnya: bergerak, tapi tidak benar-benar hadir dalam sistem.

“Kamu tahu pertanyaanku selama ini?” kataku. “Mengapa kleptokrasi justru tumbuh subur di negara demokratis?”

Ira langsung menoleh. “Kamu akhirnya mengakuinya juga.”

Aku mengangguk.

“Tiga puluh tahun dunia berjuang melawan korupsi. PBB keluarkan UNCAC. FATF buat 40 rekomendasi. Transparency Index terus terbit tiap tahun. Tapi semua itu gagal menahan uang gelap. Kenapa?”

Ira menjawab cepat:

“Karena sistem keuangan global berubah. Dan satu-satunya hal yang tumbuh lebih cepat dari korupsi adalah cara-cara legal untuk menyembunyikannya.”

Mirna menambahkan, nadanya lebih tajam:

“Forum Ekonomi Dunia bilang lebih dari USD 2,6 triliun uang gelap berputar setiap tahun. Satu triliun dolar dibayar sebagai suap. Dan itu bukan di negara gagal—tapi di pusat keuangan global: London, New York, Zurich.”

Ira mengangguk. “Semua itu dimungkinkan karena layanan hukum dan keuangan telah berubah fungsi. Mereka tak lagi membela hukum. Mereka membela anonimitas. Lewat nominee account, layered trust, dan shell companies.”

Aku menyandarkan punggung, menyambung:

“Dan semua sistem itu tidak dibuat oleh tukang tambang nikel dari Sulawesi. Tapi oleh alumni Harvard, pengacara London, dan banker Swiss.”

Hening. Tapi bukan hening karena lelah. Hening karena kejernihan telah tiba.

“Panama Papers, Paradise Papers, Pandora Papers… semua hanya menunjukkan satu hal: sistem hukum global tidak kalah. Ia berkompromi,” ujar Ira. “Dan dalam kompromi itu, uang memenangkan semuanya.”

Aku menyesap teh. “Kadang aku berpikir, mungkin demokrasi hari ini hanyalah prosedur formal untuk melegitimasi kleptokrasi.”

Mirna memandangku lama. “Bukan hanya prosedur, B. Demokrasi juga panggung. Tempat para aktor bersuara seolah membela rakyat, padahal sedang menyusun skema agar uang bisa mengalir tanpa batas.”


Bandara Soekarno-Hatta, pukul 06.15 pagi. Langit belum sempurna terang, tapi pengumuman boarding sudah memantul dari speaker seperti doa yang kehilangan makna. Aku berdiri di dekat pintu keberangkatan internasional, menunggu satu sosok yang tak akan lagi kembali dalam bentuk yang sama.

Mirna datang beberapa menit kemudian. Langkahnya ringan. Ia mengenakan jaket wol abu-abu, tas selempang kulit, dan senyum kecil yang lebih mirip perpisahan daripada kemenangan. Tidak ada riasan mencolok. Tidak ada lambang kekuasaan. Hanya perempuan yang telah menyusun keputusannya dalam diam.

“Sudah siap?” tanyaku.

“Saya tidak pernah benar-benar siap,” jawabnya pelan. “Tapi saya tahu ini harus dilakukan.”

Sepuluh tahun terakhir, Mirna bukan sekadar rekan. Ia adalah pengatur file, operator transaksi, kurir rahasia, dan penerjemah banyak bahasa ke dalam kode trust dan debit instruction. 10 tahun dia bekerja dalam team shadow ku. Hari ini, ia meninggalkan semuanya.

Di tangannya: tiket ke Toronto. Di rekeningnya ada puluhan juta USD tabungan selama bekerja sebagai team shadow. Dari proyek terakhir bersama George dia dapat USD 5 juta. Dana itu cukup untuk memulai hidup baru. Tapi aku tahu: uang itu tidak membuat dia bahagia.

“ Aku mau ambil S3 di Toronto?” Katanya.

Aku mengangguk.

Ia mengeluarkan satu map tipis dari tasnya.

“Ini file terakhir yang aku analisis. Tentang aset digital yang digunakan untuk menyimpan kekayaan bayangan. George minta aku mulai pelajari cara mentransformasikannya ke struktur utilitas energi..”

Aku terima map itu. “Apakah kamu akan kembali suatu saat nanti?” tanyaku, setengah berharap.

Ia tersenyum. Lalu memelukku erat. Lama. Lebih lama dari semua waktu yang pernah kami habiskan di ruang-ruang data, lounge hotel, dan transaksi senyap.

Lalu ia berjalan menuju pintu keberangkatan. Satu langkah. Dua. Tak lagi menoleh. Karena ia tahu, keputusan seperti ini tidak punya ruang untuk ragu.

Langit Jakarta pagi itu buram, seolah enggan membuka hari baru. Di kejauhan, pesawat-pesawat menderu seperti mimpi yang dipaksa tinggal landas—meninggalkan luka, menyisakan jeda. Aku berdiri sendiri di parkiran basement bandara, rokok di tangan, dan secarik kertas terakhir dari Mirna yang masih hangat dalam ingatanku.

“Aku mau terlibat dalam tim shadow kamu dan take risk, karena cinta. Tapi semakin lama cinta itu tak berbalas. Apalagi saat aku menerima honor dari setiap putaran transaksi. Aku merasa kotor. Bagaimanapun… you were always my mind.”

Itu bukan kalimat pengakuan. Itu kalimat perpisahan—yang lebih jujur dari cinta itu sendiri.

Aku termenung. Dunia kami, dunia yang berjalan di bawah meja peradaban, tak mengenal ruang bagi perasaan. Di sana, kebenaran tak pernah dibicarakan; ia hanya digeser. Kasih tak pernah tumbuh; ia hanya disamarkan. Dan cinta? Ia tak pernah benar-benar berani tumbuh. Karena terlalu banyak sandi, terlalu banyak protokol, terlalu banyak jarak.

Mirna bukan sekadar rekan. Ia adalah jantung dari sistem gelap yang selama ini kugerakkan. Tapi ternyata, ia juga adalah satu-satunya cahaya yang diam-diam menahan diriku dari jatuh sepenuhnya ke dalam jurang. Dan kini, cahaya itu padam. Bukan karena tak sanggup, tapi karena sudah terlalu lama tak dianggap.

Aku duduk di dalam mobil. Kutarik napas dalam-dalam. Kupandangi langit Jakarta lewat kaca buram—langit yang selalu kelabu, bahkan saat tak hujan.

Malam sebelumnya, Ira berkata “B, kamu terlalu sering menyentuh sistem, tapi terlalu jarang menyentuh hati.”

Dan mungkin itu benar. Aku terlalu terbiasa menyusun trust, bukan kepercayaan. Terlalu sering menghitung exposure, tapi abai pada kehilangan. Terlalu fasih dengan layering dana, tapi gagap ketika harus membaca lapisan emosi. Dalam dunia yang kami bangun, tidak ada peta untuk pulang. Hanya lintasan antar-yurisdiksi, dan protokol yang tak mengenal kata “menyesal”.

Tapi pagi itu, di sudut parkir yang sepi, aku merasa… kosong.

Bukan karena hilangnya proyek, bukan karena keluarnya Mirna dari tim, tapi karena aku sadar: dalam seluruh permainan ini, aku mungkin telah memenangkan segalanya—kecuali satu hal yang paling sederhana: rasa memiliki.


Di meja ruang kerja, folder terakhir dari Mirna masih terbuka. Di dalamnya, bukan hanya file aset digital dan strategi transformasi ke energi. Tapi juga catatan-catatan kecil yang ia selipkan seperti bunga kering: analisis, komentar pribadi, bahkan secarik puisi yang tak selesai ia tulis:

“Jika dunia ini adalah ruang hampa,
maka cinta hanyalah gema dari suara
yang tak pernah sempat diucapkan.”

Aku tak tahu sejak kapan ia mulai menyimpan perasaan itu. Tapi aku tahu pasti: dunia kami tidak pernah adil bagi siapa pun yang memilih mencintai dalam diam. Karena setiap kasih harus diubah menjadi mata uang, dan setiap rindu hanya bertahan selama masa retensi data.

Dan sekarang, ia pergi. Membawa satu-satunya sisi manusiawi dari sistem yang terlalu lama hidup sebagai mesin.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Satu tanggapan untuk “Kehilangan dan kepergian”

  1. Dulu Saya pernah mencari dan hendak masuk ke dalam dunia permainan itu, nyatanya hingga saat ini akhirnya luput dari permainan tersebut. Meskipun miskin harta tapi hati selalu hati-hati, siapapun punya jalan hdup masing-masing dankalaupun mereka berkata takdirnya lain hahahaaaa..

    Terima kasih ilmu dan pencerahannya Babo

    Suka

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca