Keadilan itu harus diperjuangkan.

Langit senja menggurat tipis di jendela apartemen–safehouse ketika Rian melangkah masuk, membawa setumpuk proposal dan sorot mata yang terlalu bersih untuk sebuah perjuangan yang panjang. Kulitnya halus kota; gerak tubuhnya luwes, hasil rajutan akademik, bukan pengalaman lapangan. Ia datang atas rekomendasi sahabatku, Akhiat—membawa satu visi besar: membangun e‑commerce pertanian berbasis rantai pasok dan komunitas.

“Tujuan startup ini mendukung program ketahanan pangan nasional?” Kata Rian pelan, nyaris seperti angin yang menyusup celah sunyi.

Aku tersenyum kecil, menyembunyikan skeptisisme. Rian lahir dan tumbuh di kota. Dunia kampus adalah ladangnya. Tapi pernahkah ia mencium bau lumpur sawah, menjejak pagi bersama embun dan cacing tanah? Caranya bicara terlalu sistemik, seperti coding yang steril—terlalu bersih untuk memahami luka-luka petani yang tak pernah masuk dalam algoritma kebijakan. Baginya, komunitas petani barangkali hanya sekadar pasar—dapat dipetakan dan dimonetisasi.

“Bapak tahu,” katanya dengan semangat khas presentasi investor, “kenapa harga beras kita selalu lebih mahal daripada Vietnam dan Thailand?”

Aku hanya tersenyum dan siap menyimak.

“Karena kita terlalu lama membayar mahal untuk inefisiensi,” ujarnya. “Pertanian kita seperti orkestra tanpa konduktor. Setiap pemain memainkan nadanya sendiri. Tak ada harmoni.”

Aku menghela napas panjang. Dia berusaha membenamkan alasan dan ide start up berdiri.

“Tiap musim tanam, petani harus menanggung mahalnya pupuk, menyewa lahan yang kian mencekik. Tapi saat panen tiba, harga gabah ditekan tengkulak. Ironisnya, beras tetap mahal di pasar. Kita tahu, mereka petani—tapi mereka pun membeli beras di warung dengan harga yang tak bisa mereka kendalikan.”

Aku mengangguk pelan, tanda empati yang diam.

“Kita membayar ongkos distribusi yang terlalu panjang,” lannjutnya “Dari petani ke tengkulak, ke penggilingan, ke grosir, ke distributor, hingga ke pasar. Semua mengambil margin. Di tempat lain, satu koperasi bisa memangkas lima simpul sekaligus. Dan karena itulah niatku membangun e-commerce ini: menciptakan sistem yang efisien dan berkeadilan. Mendukung program ketahanan pangan nasional”

“Rian…” panggilku lirih. “Sulit kita bisa mencapai ketahanan pangan.”

“Mengapa?” tanyanya, kening berkerut.

“Apa yang kamu katakan, itu semua benar. Tapi itu hanya gejala. Akar masalahnya bukan yang tampak, melainkan yang tak terlihat. Hal-hal yang dikaburkan oleh kompromi sistemik terhadap kenyataan.”

Suaraku datar, namun menghunjam.

“Akar persoalannya adalah pada rantai pasok pertanian kita. Yang tampak rapi di permukaan, sesungguhnya rapuh dari dalam. Benih, pestisida, pupuk—semuanya dikendalikan oleh segelintir korporasi raksasa. Ini bukan sekadar pasar, ini adalah oligopoli global. Harga tak lagi ditentukan oleh kebutuhan petani, tapi oleh hasrat laba perusahaan multinasional. Petani ditekan dari dua sisi: membeli mahal, menjual murah. Pada akhirnya, panen itu bukan lagi milik petani—melainkan milik para raksasa global.”

“Bagaimana bisa seperti itu, Pak?”

“Kita punya benih unggul, tapi bukan hasil laboratorium kita. Hampir semuanya berasal dari laboratorium raksasa macam Syngenta. Benih itu bukan dilahirkan untuk kemanusiaan, tapi untuk mengunci pasar. Kamu pasti sudah familiar dengan nama-nama seperti BASF, Bayer‑Monsanto, FMC, UPL. Mereka tak bersaing—mereka berkolaborasi dalam simfoni monopoli.”

“Bayer merger dengan Monsanto, membentuk kekuatan sebesar gunung yang tak terkelilingi. Dan mereka terus tumbuh, hari demi hari.”

“Distribusi benih dan pupuk sudah seperti jaringan urat nadi yang mengunci desa. Agen mereka menembus hingga pelosok. Dan pupuk? Kita tergantung pada impor dari Nutrien, Yara, Mosaic. Mereka menguasai hampir sepertiga pasar nitrogen dan potash dunia. Sementara perusahaan pupuk BUMN kita tertatih oleh inefisiensi. Petani tercekik harga. Pilihan tak ada.”

Rian bergeming, seperti dipukul oleh kenyataan yang lama disembunyikan.

“Benih itu seperti warisan utang… dan pupuknya pun mahal,” gumamnya pelan.

“Tepat,” sahutku. “Ketergantungan ini membuat kita takkan pernah benar-benar merdeka. Semua program yang ada hari ini hanyalah retorika politik. Di baliknya berdiri tegak oligarki dan para komprador yang mengatur semua jalur kehidupan. Harga beras bertahan tinggi bukan karena tanah kita tak subur, tapi karena seluruh ekosistemnya telah dirantai dalam sistem rente. Soalnya bukan luas lahan atau produktivitas, tapi siapa yang mengendalikan cara tanam, benih, dan kebutuhan dasar agrikultur.”

Rian menoleh, suaranya kecil: “Lalu, apa solusinya, Pak? Setidaknya… bisa kah kita seperti Vietnam atau Thailand?”

Mataku menyala pelan. “Solusinya ada pada riset dan kemauan politik. Menggeser oligarki ke meritokrasi. Vietnam dan Thailand membuktikan—mereka tidak tergantung pada asing. Menurut IRRI 2016, biaya produksi beras mereka 2,5 kali lebih rendah dari kita. Efisiensi itu yang memberi nilai tambah bagi petani. Mereka bisa hidup layak dan memodernisasi pertanian secara berkelanjutan.”

“Tapi kalau R&D kita terlambat, apa mungkin kita keluar dari ketergantungan?”

Aku menatapnya lekat. “Kamu tahu Syngenta?”

Rian mengangguk.

“Era globalisasi memungkinkan kita membeli teknologi dari mana pun. Tinggal dikembangkan dan dimodifikasi. Tahukah kamu, Syngenta dulunya milik Swiss—lalu diakuisisi oleh Tiongkok. Seluruh tim risetnya dipindah ke China, digaji dua kali lipat. Bagi mereka, uang bukan soal utama jika menyangkut kepentingan nasional. Harga kemandirian memang mahal. Tapi bukan soal punya laboratorium besar dulu—melainkan soal punya otak dan hati untuk membeli, belajar, lalu berdiri sendiri.”

Rian menatapku lama, seolah sedang mengukur kedalaman realitas yang baru disadarinya.

Langit di luar mulai meredup. Cahaya lampu Safehouse menyapu dinding, menerangi ruang antara kenyataan dan harapan. Percakapan kami tentang benih, pupuk, dan kedaulatan pangan menggantung di udara. Ini lebih dari sekadar membangun startup—ini adalah tentang membalik takdir agraria bangsa.

***

Sebulan kemudian, Mia datang dari Boston. Langkahnya tenang, tajam. Seolah ia berjalan bukan hanya dengan tubuh, tapi dengan rencana yang telah dipahat bertahun-tahun. Ia masuk ruang safehouse seperti badai yang tak membawa suara. Di tangannya map transparan berisi lembaran yang bisa mengubah peta perdagangan pangan global.

“Target kita: LDC,” katanya langsung. “Internal family split. Leverage tinggi. Kita bisa masuk. Peluang besar sekali.”

Aku membuka dokumen, melihat grafik CDS dan swap derivatif mereka yang merentang seperti gurat nadi yang siap dipotong. Namun aku lebih focus kepada profiling dari LDC. Perusahaan yang sudah berdiri dua generasi. Punya pusat R&D Agro yang hebat, punya jaringan ekosistem bisnis agro di 80 negara. Didukung Ekosistem financial yang kokoh dan memiliki resource besar mengendalikan supply Chain agro. Masuk top 50 pemain dunia bidang pangan.

“Harga jagung dan kedelai volatile. Mereka tahan dengan struktur derivatif. Kalau kita aktifkan SPV Budapest sekarang, kita bisa bid dari sisi utang. Mereka akan datang sendiri.”

Aku bertanya, “Green fund Zurich siap?”

“Sudah. Tapi kita perlu aktivasi CDS dari shadow account. SPV kita sudah ada: Agro Fund Investment. Begitu kita kuasai LDC, kita bisa ubah struktur bisnisnya.”

“Dan setelahnya?”

Mia menjawab tanpa ragu. “Kita ubah business model. Dari hanya trading ke ekosistem downstream agro: logistik, pengolahan, carbon offset. Kita koneksikan dengan petani local negara berkembang. Bukan amal. Ini bisnis pertanian regeneratif.”

Wajahnya tajam. Tapi aku tahu, di balik semua itu, ada mimpi: tentang dunia yang tak dikendalikan dari lantai bursa, tapi dari ladang dan kehidupan.

“ Okay, Mari kita masuk arena tempur. Malam ini kita terbang ke Zurich.” Kataku. Mia memelukku dengan haru.

***

Langit di atas Zurich mulai kelabu, seakan kota ini menyimpan petir yang menunggu aba-aba. Kami menuju gedung kaca persegi hitam: D’Aureus Green Fund. Tak ada nama. Tapi semua yang masuk tahu siapa mereka. Ruangan rapat hening. Tiga orang menanti: Hermann dari Liechtenstein, Elin dari Stockholm, Charles Wu dari New York. Mereka bukan investor. Mereka adalah penyusun orkestrasi tren. Mereka membuat “green” menjadi “oil” baru.

Mia bicara: “Entry point: CDS exposure $4,8 miliar . Kita rescue, restrukturisasi. SPV sudah siap.”

Aku menambahkan, “Dan ESG-nya? Bukan hanya cerita. Kami punya rencana regeneratif. Investasi berbasis lahan, bukan janji.”

Wu bertanya: “Siapa backer politik kalian?”

Aku tersenyum. “Tak ada. Justru itu kekuatan kami.”

Lima belas menit kemudian, rapat resmi ditutup. Tapi kami tidak beranjak. Karena pertemuan sesungguhnya baru dimulai: the shadow session. Kami pindah ke ruangan kaca lain —tanpa notulen, tanpa nama.

Di sana duduk dua orang yang tak disebut dalam undangan resmi. Satu pria berambut putih dari Swiss yang dikenal sebagai Mark, arsitek merger. Satunya lagi—perempuan paruh baya berpaspor Perancis, bernama Céline, konsultan hukum yang juga bertindak sebagai penghubung kelompok pemilik saham lama LDC.

“Kami tahu niat kalian serius,” ucap Céline, menatap langsung ke arahku. “Tapi perlu kalian pahami, LDC bukan perusahaan biasa. Ini keluarga. Dan keluarga itu sedang retak.”

Mia bertanya pelan, “Kami sudah pelajari struktur pemegang saham kalian. 96% dimiliki oleh keluarga Dreyfus dan entitas proxy-nya. Tapi mulai 2023, beberapa trust warisan mulai goyah karena peralihan generasi.”

Mark menimpali, “Dan beberapa cucu pendiri sudah tak lagi percaya pada bisnis komoditas pangan. Mereka ingin keluar. Satu dari mereka—Claire—sudah setuju menjual.”

Aku menyandarkan tubuh. “Kami siap membeli blok saham Claire.”

Céline mengangguk, tapi wajahnya tetap dingin. “Itu hanya 7%. Tak cukup untuk kontrol. Kalian butuh lebih dari 15% untuk punya suara dalam dewan. Tapi jika kalian punya uang, ada jalan…”

Aku menyipitkan mata. “Apa yang Anda tawarkan?”

Dia menggeser folder ke arah kami.

Vincent Dreyfus, putra dari jalur utama, sedang dalam tekanan. Dia pernah menalangi hutang derivatif LDC yang digunakan untuk lindung nilai panen kedelai dari Brasil. Sekarang, hutang itu mengendap di Luxembourg SPV. Jika kalian mau, kalian bisa beli utang itu. Dan pakai sebagai tekanan dalam negosiasi keluarga.”

Mia tertawa kecil. “Kalian ingin kami bukan hanya membeli perusahaan, tapi ikut menyulut perang saudara dalam dinasti kalian?”

Céline menjawab datar. “Kami tidak menyulut. Kami hanya tunjukkan bahwa perang itu sudah terjadi. Kalian hanya perlu memilih di sisi mana kalian berdiri.”

***

Malam itu di Hotel Baur au Lac, kami duduk berdua di balkon, angin danau membawa aroma pohon-pohon tua. Mia memandang ke langit, matanya penuh kalkulasi. Tak lagi seperti gadis Siantar yang lugu di Medan.

“Jika kita beli utang Vincent di Luxembourg, kita bisa masuk sebagai kreditur utama. Dan dengan tekanan dari trust yang pecah, kita bisa duduk di meja. Tapi ini berbahaya.”

“Berbahaya secara hukum?” Aku mengerutkan kening.

“Secara moral. Kita akan masuk ke dalam perceraian keluarga. Ini bukan sekadar akuisisi. Ini invasi emosional.”

Aku terdiam. Tapi dalam hati aku tahu: semua sistem jahat berdiri karena ada ketenangan semu dalam keluarga elite. Dan kadang, satu gangguan kecil cukup untuk membuka pintu perubahan.

“Lakukan,” kataku akhirnya. “Aktifkan proxy kita di Luxembourg. Dan kirim pesan ke Vincent. Kita bukan lawan. Kita tawarkan penyelamatan.”

***

Tiga hari kemudian, kabar buruk datang.

Proxy legal kami di Singapura menerima surat dari firma hukum di London: Class Action Lawsuit. Diajukan oleh konsorsium kecil investor lama LDC—dipimpin oleh mantan direktur yang pernah dipecat. Tuduhannya: covert attempt to influence corporate governance through offshore CDS and SPV structure.

Dalam bahasa pasar: kami dianggap sebagai pembajak perusahaan dari balik tirai.

Mia melempar berkas ke meja. “Mereka sudah mulai main kotor.”

Aku menjawab datar, “Bagus. Artinya mereka panik.”

Kami memanggil dua penasihat hukum dari Geneva. Mereka menyarankan untuk tenang. “Ini bukan kasus yang kuat. Tapi ini akan menarik waktu. Dan itu yang mereka inginkan.”

Mia mengangguk. “Kalau begitu kita percepat. Kita hubungi Claire. Kita ajukan conditional equity purchase agreement. Dan aktifkan escrow deal. Lakukan semua di Budapest. Bukan Zurich.”

Aku menatapnya. “Kita akan paksakan akuisisi ini, bukan dengan kekuatan, tapi dengan logika. Dengan kehendak dunia yang sedang berubah.”

Mia mendekat. Suaranya hampir berbisik. “Dan kalau mereka pakai media? Pakai regulator? Atau lebih buruk—kita diganggu dalam bentuk yang tak bisa dilaporkan?”

Aku menatap tajam. “Kita sudah ada di tengah medan. Tak ada jalan kembali.”

***

Di ujung minggu itu, kami menerima kabar dari dalam: Claire telah menandatangani perjanjian awal. LDC resmi membuka celah untuk transisi struktur kepemilikan. Dan proxy legal kami di Luxembourg telah memiliki hak atas utang derivatif Vincent Dreyfus.

Intrik masih jauh dari selesai. Tapi kini, kami bukan lagi pengamat pasar.

***

Tiga hari kemudian, kami tiba di Rue du Rhône. Gedung kaca LDC berdiri sunyi. Hari itu, bukan sekadar RUPS—tapi medan uji antara sejarah dan masa depan. Di ruang rapat, wajah-wajah familiar hadir: delegasi sovereign fund Tiongkok dengan dasi merah, keluarga Dreyfus yang tersisa, dan tentu saja, Vincent—dengan setelan arang gelap dan mata yang penuh dendam.

Mia memulai presentasi singkat “Kami ajukan Agro Regenerative Turnaround. Skema baru: koperasi global, traceability, carbon offset, dan penataan ulang distribusi pangan dunia. Ini bukan eksperimen. Ini koreksi sistem.”

Perwakilan Tiongkok menyela. “Pasar butuh stabilitas, bukan idealisme.”

Aku menjawab tenang, “Tuan Li, pasar ini sudah rusak sejak 2008. Kami tidak membawa idealisme. Kami membawa kenyataan.”

Salah satu pemegang saham lama mencibir. “Kalian hedge fund player. Jangan sok jadi pahlawan.”

Mia menatap lurus. “Justru karena kami hedge fund, kami tahu cara kerja sistem ini. Dan karena itulah kami ingin memperbaikinya  dari dalam.”

Terpaksa cara voting dilakukan. Hasil voting kami menangkan 15,4% suara.  Itu berkat Claire yang bisa kami bujuk dan yang lain memang afiliasi kami. Cukup untuk membuat struktur lama retak. Karena kami butuh minimal 14,8% suara untuk memblokir dominasi Vincent.

Vincent berdiri. Suaranya dingin “Kalau kau pikir ini kemenangan… kau keliru.”

Aku menjawab datar, “Kami tidak datang untuk menang, Vincent. Kami datang untuk membuka pintu yang terlalu lama kau kunci.”

Usai rapat, Claire menyerahkan sebuah kotak kayu kecil. Di dalamnya: foto hitam putih petani muda Ethiopia, tersenyum di bawah topi panen. “Ini saat pertama kami buka jalur gandum ke Afrika Timur,” katanya. “Kalau kalian tak bisa kembalikan arah itu… jual saja semuanya. Jangan tambah luka.”

Aku menggenggam foto itu. Berat. Tapi bukan karena kayunya—karena maknanya.

Sore itu, kami tinggalkan Annecy. Mia menatap jendela mobil. “Vincent akan melawan,” katanya.

Aku menjawab, “Dia hanya punya waktu. Kita punya niat. Dan kadang, niat lebih kuat dari kekuasaan.”

Keesokan paginya. Mia menerima kabar dari Budapest: Transfer escrow telah final. 7% saham LDC secara efektif berpindah ke SPV Agro Fund Investment. Surat pengambilalihan hak kreditur Vincent telah difinalisasi.

“Secara hukum, kita tak bisa diusir dari meja dewan,” ujar Mia. “Kita masuk dari celah. Tapi sekarang kita bisa bicara di forum resmi. Kita bukan hanya pemegang saham. Kita punya misi besar mengubah  dunia menjadi lebih baik. “

Aku tatap Mia dengan teduh.

“ Mia, besok pagi, kamu kembali ke Boston dan aku kembali ke Jakarta. Selanjutnya team formal dari Yuan Holding di London akan masuk  arena. Mereka akan tuntaskan perang ini. Tugas kamu  selesai.   “ kataku memeluknya. “ Good Job, my dear. “ seraya menepuk punggungnya.

“ Mia tunggu tugas berikut nya.  ” Mia mempererat pelukannya.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca