Hutang tanpa collateral

Langit Jakarta sore itu menggantung muram, abu-abu pekat seperti kertas laporan yang belum ditandatangani. Di lantai atas kantor GI di Jakarta Barat, hujan belum turun, tapi udara sudah memadat, seolah menanti keputusan yang berat.

Kami bertiga duduk di ruang kerja Awi, Komisaris Utama GI. Ruangan itu sederhana, nyaris tanpa ornamen, tapi setiap detailnya terasa tegas seperti karakter pemiliknya. Awi bersandar santai, mengenakan kaus hitam berlengan pendek dipadu jas abu gelap, menatap teh hijaunya yang mulai kehilangan suhu dan makna. Di sebelahnya, Lina—Direktur Utama GI—menarik napas panjang, secangkir kopi hitam mengepul di tangannya. Usianya hampir menyentuh 45, tapi wajahnya masih menyimpan cahaya yang tak bisa disembunyikan waktu. Aku duduk di seberang mereka, satu cappuccino di tangan, hangat dan tanpa gula.

“Menurut Bloomberg,” ucap Lina, membuka diskusi dengan suara datar namun jernih, “Danantara mengirim proposal pinjaman multicurrency ke sejumlah bank regional dan internasional, Juni 2025. Nilainya? Hingga USD 10 miliar. Tenor 3 sampai 5 tahun. Yang ditunjuk sebagai koordinator: DBS, HSBC, Natixis, dan Standard Chartered. Tanpa jaminan. Unsecured.”

Ia menatapku, dalam. “Unsecured loan itu apa, Ale?”

“Pinjaman tanpa jaminan aset,” jawabku pelan. “Tak ada collateral fisik. Hanya kepercayaan. Sejenis dengan pinjol, atau fasilitas private credit fund. Bagian dari ekosistem shadow finance.”

Awi hanya mengangguk pelan, menyeruput teh hijaunya yang sudah tawar. “Hedge fund main di sini juga?”

“Bisa jadi,” jawabku. “Credit hedge fund biasanya masuk ke utang-utang seperti ini. Mereka bisa beli utang bermasalah, memberikan pinjaman langsung, atau restrukturisasi jadi derivatif—biasanya melalui SPV di luar negeri: Singapura, Cayman, bahkan Jersey.”

“Shadow banking?” tanya Lina.

“Ya. Danantara jelas masuk wilayah abu-abu itu. Antara negara dan pasar. Antara kebijakan dan komersial.”

Lina mengernyit. “Maksudnya abu-abu?”

Aku menatap ke jendela, langit kian gelap. “Shadow finance itu macam-macam. Seperti private lending antar entitas, securitization, atau intra-company loan lintas yurisdiksi untuk tax arbitrage. Danantara, walau milik negara, bisa bertindak seperti sovereign vehicle swasta. Otoritas tanpa transparansi.”

Awi menyipitkan mata. “Manis di permukaan, tapi bisa racun dalam.”

“Tergantung penyedapnya,” aku menyeringai pahit. “Tanpa jaminan aset, yang dijual hanya reputasi. Dan karena uang mudah, reputasi bisa ambruk lebih cepat dari nilai tukar.”

“Kalau reputasi negara melorot, bagaimana?” tanya Lina, pelan.

“Biaya pinjaman akan naik. Tanpa agunan, kreditor hanya pegang janji tak tertulis bahwa negara tak akan membiarkan default. Itu yang disebut implied guarantee. Tapi jika gagal bayar, meski tak tercatat dalam APBN, negara bisa dituntut. Di situlah risiko reputasi berubah jadi risiko fiskal, defisit membengkak, belanja sosial dipotong, dan rakyat menanggung akibatnya lewat kenaikan pajak.”

Lina menunduk, suaranya nyaris tenggelam. “Tapi ini tak pernah dibahas di DPR. Tak ada pengawasan publik.”

“Danantara itu entitas hibrida,” jawabku. “Ia negara, tapi bukan BUMN biasa. Tak masuk postur APBN, tapi punya implikasi fiskal. Tak ada audit menyeluruh. Tak ada transparansi menyeluruh. Shadow government.”

Awi menatapku tajam. “Jadi ini utang siluman? Tak terlihat, tapi menyandera masa depan?”

“Betul,” jawabku mantap. “Off-balance-sheet liability. Secara hukum tak diakui sebagai beban negara. Tapi substansinya, menjerat.”

Awi menambahkan, “Dan para pemberi pinjaman tahu itu. Makanya mereka tetap berani kasih pinjaman tanpa agunan.”

Lina menatap kosong ke dinding. “Apa risikonya dari skema seperti ini?”

“Moral hazard,” jawabku. “Danantara bisa pakai dana itu untuk general corporate purposes—tanpa batasan proyek atau aset. Ini membuka ruang penyalahgunaan. Uangnya berpindah dari satu spreadsheet ke spreadsheet lain, tak menciptakan nilai nyata. Tak membangun pabrik. Tak mendukung inovasi. Hanya perputaran kekuasaan dalam angka.”

Awi tertawa pahit. “Seperti ayah yang ambil uang dari pinjol untuk main judi online. Diingatkan istri, marah. Tabok istri. Rumah tangga bubar. Anak jadi korban”

Lina mengangguk pelan, seolah baru sadar kedalaman masalahnya. “Jadi Danantara bukan instrumen investasi… tapi kendaraan kekuasaan.”

Aku menatap kopiku yang sudah tinggal separuh. Di luar, hujan mulai turun, titik-titiknya menari di kaca seperti grafik defisit yang tak kunjung turun.

“Ini keberanian membangun masa depan? Atau tanda kepanikan? Pemerintah mengejar pertumbuhan 8%, tapi ruang fiskal sempit. Bisa juga ini keserakahan baru yang dibungkus jargon pembangunan,” gumam Lina.

Aku hanya diam. Awi tertawa kecil. “Enggak usah dipikirin. Makin dipikir, makin miris.”

Lina menoleh, “SMI bilang, jangan sampai Danantara menimbulkan crowding out effect. Maksudnya apa, Ale?”

“Crowding out terjadi kalau negara terlalu agresif mengambil pinjaman. Ia menyerap likuiditas dari pasar, menaikkan suku bunga, dan membuat sektor swasta sulit mengakses pembiayaan. Makanya UU mengatur pagu utang 60% PDB dan defisit maksimal 3%. Tapi Danantara? Dia di luar pagar. Tak ada limit. Tak ada kontrol. Hanya pengurus Danantara dan Tuhan yang tahu berapa sebenarnya utang yang mereka tarik.”

Lina menghela napas. “Seharusnya mereka jadi katalis pertumbuhan, bukan menggusur sistem yang sudah ada.”

Aku mengangguk. Awi tersenyum, menatap Lina.

“Enak ya punya bos seperti Ale. Sabar, nggak pernah menggurui. Tapi kalau ada masalah pelik, selalu bisa dijelaskan dengan bahasa sederhana,” kata Lina.

“Cuma setahun ini, baru hari ini Ale ke kantor,” tambahnya, tersipu.

Awi tertawa keras. “Kangen ya?

Lina tersenyum, dan berdiri untuk permisi pergi ke ruangannya. Karena ada tamunya. Saat dia melangkah membelakangi aku, dan “ Gila ya bokongnya. Cantik begitu, udah 10 tahun lebih menjanda. Aneh “ kata Awi geleng geleng kepala. Saya lempar kertas tissue ke Awi.

Di luar, hujan belum reda. Dan aku tahu, yang turun bukan sekadar air. Tapi beban utang, mengalir diam-diam dari spreadsheet kekuasaan ke punggung rakyat.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca