
Di sebuah unit apartemen yang tersembunyi dari hiruk-pikuk Sudirman, B menyebut tempat itu “safehouse”. Hanya ada satu staf sebagai house manager dan satu OB. Tak ada Wi-Fi. Sinyal ponsel pun mati begitu masuk ke ruang itu—seolah dunia luar sengaja dimatikan agar nurani bisa didengar lebih jernih. Di sanalah B bekerja. Sendiri. Menerima tamu. Menyusun strategi. Atau sekadar menenangkan napas dari bising ambisi yang menggantung di langit Jakarta.
Dewi datang ke safehouse dengan langkah mantap, mengenakan blus hitam dan celana linen abu. Mata tajamnya tak banyak bicara, tapi tangannya membawa dua grafik cetak: yield curve SBN dan posisi net sell asing di pasar surat utang dalam tiga bulan terakhir.
“ Pagi, B “ sapanya. “Mana anak muda yang mau wawancara? tanyanya. B memang minta Dewi mendampinginya bertemu dengan Mahasiswa yang sedang TA, skripsi tentang ekonomi.
B menatap jam. Pukul 08.07. ” Sebentar lagi datang. “ Pasar uang baru saja bernafas, tapi sistemnya sudah mencium tekanan. ” Duduk, Wi. Hari ini kau bawa kabar buruk lagi?” Dewi duduk tanpa menjawab. Ia buka grafik.
“ Yield tenor 10 tahun tembus 7,3%. Rupiah semalam sempat 16.350. Tapi yang lebih parah, net outflow investor asing sudah tembus Rp 58 triliun year-to-date. Dan The Fed… masih keras kepala.”
B menatap layar, membuka data Bloomberg. Grafiknya seperti luka yang tak kunjung sembuh: dolar menguat, rupiah melemah, tekanan obligasi naik, dan ekspektasi pasar makin kejam terhadap BI.
“ Pasar tidak sabar,” ujar B pelan. “Tapi BI tak bisa sembarang bergerak.”
Dewi mengangguk. “Pasar ingin BI turunkan bunga. Tapi sekalinya BI goyah, capital flight bisa jadi lebih brutal dari 2013. Taper tantrum ulang jilid dua.”
Diam. B mengambil satu lembar grafik. Ia tatap lama, seperti menatap cermin penuh keraguan. “ Kita ingin pertumbuhan, tapi pertumbuhan butuh likuiditas. Likuiditas butuh kepercayaan. Kepercayaan butuh kestabilan. Tapi kestabilan sekarang bukan cuma soal inflasi… tapi geopolitik, fiskal, bahkan psikologi publik.”
Dewi menyandarkan punggung. Ia menatap langit-langit ruang itu “ Dulu,” katanya lirih, “Bank Sentral hanya menjaga inflasi. Sekarang dia juga jadi bodyguard fiskal. Tapi publik masih berharap dia jadi penyelamat segalanya.”
Dewi lalu bertanya, kali ini lebih joke “ Kalau Anda jadi Gubernur BI, apa yang akan Anda lakukan sekarang?”
B tidak langsung menjawab. Ia berdiri, berjalan pelan ke sisi jendela. Di bawah sana, mobil-mobil mewah keluar masuk kantor sekuritas, sementara pedagang kaki lima baru saja buka lapak. Dua dunia yang tak pernah benar-benar bicara, tapi dihubungkan oleh satu hal: nilai tukar
“ Kalau aku jadi Gubernur?” B mengulang, setengah mengejek dirinya sendiri. “Mungkin aku akan tidur lebih nyenyak karena aku sudah kehilangan rasa takut.”
Dewi tertawa kecil, lalu melanjutkan serius. “Tapi rakyat tidak bisa menunggu. Kredit macet naik. UMKM megap-megap. Dan pemerintah… makin boros.”
“ Ya,” jawab B, kembali duduk. “Dan kita sedang hadapi tahun fiskal yang rumit. Defisit bisa tembus 3,5%. Artinya butuh penerbitan SBN besar-besaran. Tapi pasar tak bisa serap semua. Kalau BI disuruh masuk beli di pasar primer… itu artinya goodbye independensi.”
Dewi menatapnya lama. “ Jadi… BI akan diam?”
“ Bukan diam,” kata B. “Tapi menari di ruang yang makin sempit. Setiap langkah harus presisi. Satu gerakan salah, rupiah jatuh, inflasi melonjak, dan kita kehilangan kepercayaan dunia.”
Diam lagi.
Akhirnya, Dewi bangkit, membereskan grafik. Tapi sebelum ia melangkah, ia menatap B dan bertanya satu hal yang lebih filosofis daripada teknikal. “ Apakah Anda percaya… bahwa BI masih punya kendali atas takdir ekonomi kita?”
B tak langsung menjawab. Ia menatap grafik yield seperti menatap langit malam tanpa bintang. “ Bukan soal punya kendali,” jawabnya pelan. “Tapi soal menjaga irama. Kadang BI bukan sopir. Tapi penjaga kemudi agar kapal tak karam ketika nahkoda sedang mabuk fiskal dan penumpang tertidur dalam ilusi subsidi.”
Dewi tertunduk. Di dunia trading yang bergerak milidetik, tak banyak ruang untuk kontemplasi. Tapi hari itu, di ruang yang kedap suara dan sinyal, waktu seolah melambat. Dan dalam keheningan itulah, mereka tahu: gerak yang tertahan bukan berarti kalah. Tapi kadang, itu satu-satunya cara untuk tetap berdiri.
Sebuah notifikasi muncul di layar monitor kecil yang terhubung ke kamera pintu masuk. Seorang pria muda berdiri ragu di depan lift. Jas almamater kuningnya tampak kebesaran, menyisakan kesan polos yang belum tersentuh dunia keras. Pak Han, sahabat lamanya, memang sempat menelepon semalam—meminta agar cucunya diterima untuk mewawancarai B sebagai narasumber tugas akhir.
B menekan tombol interkom. Suaranya pelan tapi jernih, “Kamu dari Pak Han?”
“Ya, Pak. Saya Bimo,” jawabnya.
B memberikan akses. Pintu lift terbuka dan membawa ke lantai aparment. Saat pintu lift terbuka, B berdiri di ambang, menyambutnya dengan tangan terbuka.
“Saya cucunya Pak Han.”
“Wah, hebat,” ujar B sambil menepuk pelan bahu Bimo. “Itu artinya kamu tidak hanya diutus untuk mewawancaraiku. Tapi kakekmu berharap aku jadi mentormu. Dia mentorku dulu. Jenderal pejuang yang mengajarkan satu hal penting: mencintai negeri ini bukan dengan slogan, tapi dengan keberanian membela kepentingan nasional, bahkan saat itu menyakitkan buat diri sendiri.”
Bimo menunduk hormat. Di matanya, ada kekaguman dan gugup yang bercampur jadi satu.
Setelah mereka duduk di ruang rapat, B menunjuk seorang perempuan yang sejak tadi duduk tenang di ujung meja. Wajahnya oriental, dengan blus hitam sederhana dan syal abu-abu melingkar di leher. Tatapannya tajam namun tak kehilangan kelembutan.
“Ini Dewi,” ujar B. “Dulu juga mahasiswa seperti kamu. Kini dia salah satu trader obligasi. Ia mulai dari nol, dari meja analis. Sekarang dia memimpin PE Firm”
Bimo mengangguk. Ia mengenal nama Dewi dari risetnya — mantan analis unggulan dari bank investasi top-tier, kini CEO perusahaan investasi regional.
Bimo membuka laptop dan menyodorkan grafik biru muda. Suaranya bergetar tipis saat bertanya, “Mengapa APBN kita selalu defisit ?
Dewi berdiri dari tempat duduknya dan menulis di whiteboard. “ Itu wajar dalam system ekonomi makro. Tujuannya menjaga keseimbangan. Misal, jika sektor swasta menabung lebih banyak daripada berinvestasi (S–I > 0), maka terjadi surplus tabungan. Nah, untuk menjaga agar total pengeluaran tetap seimbang dengan pendapatan nasional, harus ada sektor lain yang membelanjakan kelebihan tersebut, yaitu pemerintah melalui defisit atau ekspor bersih. (S – I) + (T – G) + (X – M) = 0
Contoh, sektor swasta menabung Rp100 (S–I = +100). Neraca eksternal netral (X–M = 0). Maka pemerintah harus defisit Rp100 (G–T = +100)…
Artinya? Swasta menyimpan Rp 100 lebih daripada yang diinvestasikan → saldo positif di sektor swasta. Tidak ada dampak dari luar negeri (eksternal netral). Jadi untuk menjaga total agar tetap nol, pemerintah harus membelanjakan Rp 100 lebih dari yang dipungut pajak → defisit sebesar itu. Ini bukan sekadar strategi fiskal, melainkan keharusan logis akuntansi: agar pengeluaran atau permintaan agregat tidak anjlok dan perekonomian tetap seimbang. Namun agar tidak menimbulkan moral hazard, UU membatasi defisit itu.
Contoh Indonesia, tidak boleh defisit lebih 3% dari PDB. Batas defisit memastikan pemerintah tidak menciptakan tekanan jangka panjang pada sistem keuangan. Apalagi tabungan itu berasal dari 1% swasta yang menguasai lebih 50% kekayaan nasional. Itu kan paradox!
Bimo mengangguk. Ia mengerti, pelajaran IS-LM dan SNA kini menjadi hidup di depan matanya.
“ Pemerintah bilang utang kita aman, 39% dari PDB. Benarkah aman ? Tanyanya.
Dewi menoleh. Tangannya membuka notepad, dan menulis sesuatu sejenak. “Ya, secara resmi memang 39%,” katanya pelan. “Tapi itu hanya satu sisi cermin. Di baliknya, struktur utang kita jauh lebih kompleks dan rapuh.”
Ia melanjutkan, suaranya kini tenang namun padat. Utang APBN hingga akhir April 2025 mencapai Rp 9.105 triliun. Angka ini mencakup Surat Berharga Negara dan pinjaman bilateral dan multilateral. Ada lagi utang BUMN mencapai sekitar Rp 5.271 triliun, di mana 84,9% atau sekitar Rp 4.478 triliun merupakan pinjaman utama atau komersial. Terus Utang LN swasta tercatat sekitar US$ 194,8 miliar per April 2025.
Ditambah kewajiban korporasi domestik dan utang bank dalam negeri, nilai totalnya diasumsikan berada di kisaran Rp 2.000 triliun. Kalau digabungkan semua, total liabilitas mikro bisa mencapai lebih Rp 15000 triliun. Itu sudah 76% dari PDB.” Kata Dewi.
Bimo mengerutkan alis.
“Dan itu belum termasuk utang pensiun,” tambah Dewi. “Meski tidak masuk APBN secara eksplisit, beban ini tetap dibayar negara. Februari–Maret 2025, kewajiban akrual dana pensiun eksternal mencapai Rp 2.433 triliun. Tambahkan liabilitas pensiun lainnya, total bisa mencapai Rp 3.556 triliun.”
“Kenapa utang swasta dan BUMN juga dihitung sebagai beban negara?” tanya Bimo. Dia menyebut regulasi soal pemisahaan asset dan liabilitas negara dan swasta/BUMN
“Secara hukum, memang ada pemisahan,” jawab Dewi. “Tapi dalam praktik, negara akan tetap menanggung risiko sistemiknya. Mereka kan bagian dari ekosistem ekonomi nasional. Itu harus menjadi keseimbangan terus menerus.
“ Apa itu resiko sistemik ?
Dewi menatap Bimo sesaat. Lalu ia berdiri dan melangkah ke papan tulis. Suaranya tenang, matanya jernih.
“Risiko sistemik itu seperti kabel listrik utama di kota. Kalau satu gardu rusak, lampu satu kota bisa padam. Bukan karena semua rusak, tapi karena sistemnya saling tersambung.”
Ia menggambar tiga lingkaran besar di papan putih. Di dalamnya tertulis: Pemerintah, BUMN & Swasta, Perbankan & Pasar Modal.
“Kalau satu bagian gagal bayar,” lanjut Dewi, “misalnya Danantara bangkrut, maka efeknya bisa menjalar. Bank yang memberi pinjaman bisa kolaps. Investor panik karena surat utang default, nilai tukar bergejolak. Negara dipaksa turun tangan. Itulah risiko sistemik. Dampaknya tidak bisa dibatasi hanya di satu titik.”
Bimo mengangguk pelan.“Jadi… meski bukan utang pemerintah langsung, tetap bisa jadi beban negara?”
“Ya. Karena negara akan dipaksa menyelamatkan ekosistemnya sendiri. Kalau engga, negara bangkrut atau fail”
B, yang sejak tadi diam, menyelipkan komentar pendek. “Karena itu, utang tak bisa dibaca dari angka semata. Tapi dari potensi guncangan yang bisa ditimbulkannya.”
Bimo menunduk sejenak dan menatap Dewi kembali . “Lalu… solusinya apa, Kak?”
Dewi tersenyum. Kali ini ia kembali ke kursinya dan membuka laptopnya. “Solusinya bukan menghindari utang. Tapi mengelolanya dengan akal, dan nurani.”
Ia mengetik beberapa poin dan memproyeksikannya ke layar besar.
Solusi ada lima .
Pertama menjaga kesehatan fiskal. Transparansi Total. Semua jenis utang, termasuk utang BUMN, dana pensiun, dan proyek di luar APBN. Harus diumumkan ke publik. Data fiskal bukan alat propaganda, tapi kompas kebijakan.
Kedua. Disiplin utang hanya untuk yang Produktif. Utang harus diarahkan untuk investasi jangka Panjang, missal pendidikan, energi bersih, pertanian modern, infrastruktur dasar. Bukan untuk subsidi konsumtif atau pencitraan politik.
Ketiga. Pengawasan independen. Bentuk lembaga pengawas fiskal seperti Congressional Budget Office di AS, agar pemerintah tak bisa sembunyikan liabilitas.
Keempat. Kebijakan kontra-siklus. Saat ekonomi melemah, pemerintah boleh defisit untuk memberi stimulus. Tapi saat ekonomi tumbuh, pemerintah harus hemat dan bayar utang. Bukan nambah utang.
Kelima. Membangun Kepercayaan Pasar. Edukasi rakyat memahami soal utang negara dengan benar. Sehingga mereka ikut berperan mengawasi hutang negara. Jangan bergantung pada investor asing untuk menutup utang jatuh tempo. Fokus bangun basis investor dalam negeri, dengan bunga wajar dan tenor Panjang.
B lalu menambahkan dengan nada reflektif “Negara yang kuat bukan negara tanpa utang. Tapi negara yang tahu kenapa dia berutang, untuk siapa, dan bagaimana membayarnya tanpa mengorbankan masa depan.”
Bimo mencatat cepat. Lalu ia bertanya pelan, hampir seperti suara batinnya sendiri. “Apakah rasio utang sebesar itu bahaya ?
Dewi menatapnya dengan serius. “Belum tentu bahaya. Tapi kita sudah memasuki wilayah rawan. Kalau arah kebijakan tidak dikoreksi, utang bisa berubah jadi bom waktu fiskal.”
“ Sekarang Bunga utang tembus Rp 500 triliun. Apakah masih aman ? Tanya Bimo
“ Relatif aman pada jangka pendek, tapi jelas tidak sehat untuk jangka panjang. “ jawab Dewi.“ Karena kita bayar bunga lebih banyak daripada total belanja kesehatan dan riset. Ini bukan masa depan yang baik. “
Dewi kembali ke whiteboard” Nah Jika tren bunga utang terus naik, misalnya karena utang makin besar akibat defisit dan rendahnya tax ratio dan suku bunga global tidak turun, maka belanja negara untuk pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik akan terdesak. Defisit makin lebar → utang makin naik → bunga makin tinggi → lingkaran setan fiskal. Indonesia bisa masuk status fiscal trap: utangnya tidak kolaps, tapi kedaulatan fiscal sudah tidak ada. “
“ Bunga utang tembus Rp 500 triliun belum mematikan hari ini. Tapi ibarat tubuh, itu adalah tekanan darah tinggi. Tidak terasa hari ini, tapi bisa stroke fiskal kalau tak diturunkan.” Kata B tersenyum
B menutup pembicaraan dengan kalimat pendek, nyaris seperti mantra: “Karena di balik setiap angka, ada anak bangsa yang akan menanggung akibatnya.
“Di negeri ini, krisis bukan datang tiba-tiba. Ia dibiarkan tumbuh oleh diam, dan dipelihara oleh mereka yang lebih takut kehilangan kekuasaan daripada kehilangan kepercayaan rakyat.” Dewi menambahkan.
Hening.
Dua jam berlalu. Wawancara selesai. Mereka turun ke restoran Jepang di lantai bawah. Makan siang itu sunyi, tapi hangat. Tak lagi bicara grafik atau rasio. Mereka bicara tentang cinta yang tak sempat menjadi, tentang idealisme yang patah, dan tentang harapan kecil yang masih hidup.
Dewi menatap Bimo lembut. “Teruslah belajar. Negara ini perlu lebih banyak anak muda yang bisa membaca neraca… dan juga membaca nurani.”
B menambahkan sambil tersenyum, “Nanti kirim skripsimu ke Dewi. Dan… kalau mau, maganglah di Yuan Capital Zurich ”
Bimo terdiam dengan wajah cerah. Sepertinya terkejut dengan tawaran B.
Lalu menyalami B dan mencium punggung tangannya. “Mau, Pak. Saya mau belajar.”
Dewi tersenyum melihat wajah lugu Bimo yang belum tahu: dunia keuangan global itu bukan hitam atau putih. Ia abu-abu, dan kadang berdarah. Tapi Bimo sudah melangkah. Dan ia melangkah dengan mata yang berkaca, dada yang penuh, dan keyakinan yang tumbuh dari sesuatu yang lebih dari sekadar angka. Ia membawa suara. Ia membawa harapan. Dan mungkin… sebuah perubahan.
.

Tinggalkan komentar