Jalan Langit dan Tanah yang Setia.

Hong Kong. Sore menjelang malam.
Cahaya jingga terakhir memantul di kaca-kaca Harbour Horizon, menggoreskan siluet keemasan di dinding apartemen tinggi. Di dalam, aroma kopi robusta yang pekat bercampur dengan ketegangan makroekonomi yang tak terlihat. Di meja, berkas kebijakan ekspor dari Kazakhstan masih terbuka. B mengangkat cangkirnya, menyesap pelan. Ironis—kopi yang ia minum adalah robusta Vietnam, yang dulu dianggap inferior, kini menyumbang hampir 40% pasar global dan menjadi fondasi pasokan dunia.

Di hadapannya, Lin berdiri. Gaun merah membalut tubuh rampingnya seperti potongan sketsa arsitektur yang belum diselesaikan. Tatapannya tak meminta izin—ia membawa angin dari tempat lain.

“Pertanian?” tanya B, alisnya terangkat setengah tak percaya.

“Pertanian regeneratif,” jawab Lin pelan namun mantap. “Kopi. Di Vietnam. Aku ingin bikin SPV. Menghubungkan petani kecil ke pasar global, bangun sistem tokenisasi panen, dan buffer untuk carbon credit.”

B meletakkan cangkirnya. Pandangannya beralih ke layar Bloomberg yang terus bergerak di belakangnya—angka, yield, suku bunga, inflasi. Dunia hedge fund tak pernah menanam apa pun. Tapi Lin kini berbicara tentang tanah seperti ia sedang membicarakan masa depan peradaban.

“SPV untuk kopi?”

“SPV off-balance sheet,” Lin menjawab tanpa gentar. “Dengan revenue lock dari buyer Eropa. Green bond. Dan Korea Selatan sebagai anchor investor.”

B diam sejenak. Di benaknya, Lin sedang mengurai visi nya yang dia canangkan 3 tahun lalu ketika dia bersiap pensiun —10% dari akumulasi profit hedge fund disalurkan ke proyek kemanusiaan dan lingkungan. Visi itu dia sampaikan kepada semua team shadow hedge fund.

“Coba satu proyek,” katanya akhirnya. “Kalau berhasil, kamu dapat otoritas penuh. Bahkan buat yayasan sendiri.”

Dan begitu, ladang pertama Lin pun dimulai.


Dak Lak, Vietnam Tengah.Langit di sini seperti kain abu yang dilipat pelan oleh angin dataran tinggi. Kabut tipis menari di sela barisan pohon kopi yang daunnya mengerut oleh embun malam terakhir. Di tanah merah basah, Lin berdiri. Sepatu kulitnya tenggelam setengah, dan gaun linen putihnya melambai lembut diterpa angin.

Ia tidak datang membawa proposal. Ia datang mencari akar. Di sinilah ia bertemu Thien—lulusan Universitas Pertanian Hanoi, yang menolak menjadi pejabat dan kembali ke ladang keluarganya.

“Ibu kota membuat kopi kehilangan rasa,” kata Thien sambil menatap lereng, “Kopi bukan sekadar komoditas. Ia adalah sejarah. Ia adalah cinta tanah. Dan tanah tidak butuh subsidi. Ia butuh kesetiaan.”

Di bawah pohon peneduh, mereka menanam bukan hanya kopi, tapi vanili, trembesi, dan kacang tanah—dalam pola agroforestri yang memperbaiki struktur tanah dan menjaga keanekaragaman. Lin mencatat, mengukur, memetakan. Ia mendirikan koperasi digital, menyusun term sheet SPV, dan menegosiasikan buyer Eropa yang kini mencari kopi bersertifikat ESG dengan floor price yang adil.

Vietnam bukan saja sukses karena luas lahannya. Tapi karena kesungguhan negara membangun sistem: Pemerintah membangun lebih dari 600 pusat riset varietas kopi, fokus pada ketahanan iklim dan kualitas rasa. Mereka membentuk Bank Tanah untuk mendukung kepemilikan petani. Infrastruktur irigasi, pelatihan teknis, hingga digitalisasi supply chain dijalankan serempak. Koperasi difasilitasi untuk ekspor langsung ke buyer internasional.

Hasilnya? Vietnam mengekspor lebih dari 1,8 juta ton kopi per tahun, mayoritas robusta, menjadikannya eksportir robusta terbesar dunia, mengalahkan Brasil dalam volume.

Hari-hari Lin dan Thien mengalir pelan seperti embun yang menguap. Malam datang membawa teh jahe dan cerita gagal panen. Tak ada janji cinta, hanya keheningan yang saling memahami. Dan malam itu, hujan mengetuk atap bambu dengan pelan. Dunia seperti menahan napas.


Dua tahun kemudian, Lin kembali ke Hong Kong. Ia duduk di depan B. “Vietnam kini pegang 40% pasar robusta dunia,” katanya tenang. “Bukan karena tanah mereka lebih subur. Tapi karena mereka membangun infrastruktur riset, irigasi, koperasi ekspor, dan ekosistem pasar yang adil.”

B membaca laporan kinerja Lin. Tapi bukan angka yang ia lihat. Ia melihat pada Lin. Pada ladang, pada peluh, pada strategi yang tak bisa ditemukan di grafik.

“Kamu dapat otoritas penuh,” kata B. “Buat yayasanmu. Bentuk timmu.”

Lin tersenyum dan memeluk B. “ Aku ingin mulai di Ethiopia. Kakao. Dan air bersih untuk Sahel. Tanaman cabai untuk Rwanda.” Ia tidak menyebut nama Thien. Tapi B tahu. Setiap team shadow dimanapun beroperasi pasti mata dan telinga B ada. Ya. Beberapa cinta tidak tumbuh untuk dipetik. Hanya untuk dikenang. Dan menjadi tanah bagi impian berikutnya. Lin sudah lolos pelatihan keras dari B. Harus focus kepada misi, lupakan emosi personal. “ Kalau kamu berniat meramaikan dunia, kamu harus siap kesepian. Kalau kamu mau memakmurkan dunia, kamu harus siap kehilangan waktu dan harta.


Beberapa bulan kemudian, Terra Foundation lahir. Lin memimpinnya seperti seorang konduktor sunyi: Membangun sistem pertanian regeneratif dari Bolivia hingga Laos. Menanam kembali ekosistem pangan tradisional. Menyusun SPV-SPV kecil seperti benih di bawah tanah, siap tumbuh di ladang sunyi manapun.

Ia tidak lagi hanya bicara kopi. Ia bicara tentang tanah yang menyembuhkan sistem ekonomi yang rusak. Tentang pertanian yang bukan hanya produktif, tapi berkeadilan. Tentang petani yang bukan penerima belas kasih, tapi pelaku utama regenerasi dunia.

Lalu, pada suatu pagi yang biasa, ia menerima email dari Thien. Tanah ini masih menyimpan jejak kakimu. Dan kopi yang kamu tanam akan tetap tumbuh, meski kamu telah memilih jalan langit.

Lin membaca kata-kata itu lama. Ia tak menangis. Ia menutup laptop, membuka peta digital dunia, dan menandai satu lembah di Afrika. Ia berdiri. Karena yang ia tanam bukan hanya kopi. Tapi harapan. Dan cinta yang lebih luas dari seorang pria. Dari B dia belajar. Cinta kepada bumi. Kepada masa depan yang tak bernama. Cinta yang tak tercatat di neraca keuangan. Tapi bisa menyelamatkan dunia.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca