
Aku berdiri di taman kecil dekat Bahnhofstrasse, tidak jauh dari hotel tempatku menginap. Salju tipis berjatuhan, seperti roh-roh putih yang turun dari langit Eropa, mendarat pelan di bahuku, lalu menghilang. Stasiun utama Zurich berdiri megah di kejauhan, membisu di balik kepulan napas dan waktu. Ini bukan tempat biasa untuk bertemu orang seperti Don. Tapi justru itu alasan dia memilihnya—ruang terbuka, tanpa mikrofon tersembunyi, tanpa catatan formal.
Don sudah menungguku. Ia mengenakan mantel panjang abu-abu yang kontras dengan kulitnya yang pucat, nyaris transparan dalam cahaya lampu jalan. Ia tak menoleh saat aku mendekat. Mungkin dia sudah tahu arah kakiku sejak tadi. Atau mungkin, karena seluruh hidupnya sudah menjadi algoritma prediksi.
“Kita bicara di sini,” katanya tanpa menyapa. Aku hanya mengangguk. Diantara pemain hedge fund terkesan tidak punya selera humor. Yang ada sikap dalam awas yang terkendali.
Don, legenda hedge fund dari era deregulasional awal 2000-an. Matanya tajam, wajahnya lebih tua dari usia kami yang seumuran—kerutan itu bukan karena usia, tapi dari menguliti terlalu banyak laporan keuangan palsu.
“Lima persen supply tambang dunia terkoneksi ke afiliasi Yuan,” katanya membuka. “Sepuluh tahun terakhir—disiplin, stabil, dan tidak agresif. Tidak menaklukkan pasar, namun mengikatnya.”
Ia berbicara bukan untuk menginformasikan. Itu kode bahwa dia bicara berbasis data. Menilai berdasarkan data itu. Don tidak pernah bicara hal kecil. Kalimatnya seperti dokumen pendek yang menyimpan puluhan lampiran tersembunyi.
“Klien kami BUMN di Amerika Latin dapat mandat divestasi 51 persen konsesi tambang milik TNC. Total USD 14 miliar. Butuh off taker dalam bentuk financial instrument.. Kamu bisa sediakan?”
Aku tersenyum. “Kami bukan solution provider.”
Ia menatapku dalam. “Bagaimana kalau kamu ambil alih pembiayaan sekaligus off-taker?”
“Tidak mungkin,” jawabku tenang. “Kami terikat standar ekosistem dan compliance. Langsung terlibat itu suicide.”
Don menghela napas pendek. “Jadi kamu maunya apa?”
Aku menatap lurus ke matanya. “Saya bisa bertindak sebagai standby buyer—via global bond 144A.”
Ekspresinya mengencang. Ia menyipit, menguji. “ Kamu suruh client saya issued Global Bond. “
“Unsecured?”
Aku mengangguk.
Ia menggertakkan gigi, lalu merinci seperti ahli bedah membedah pasien hidup-hidup. “Artinya, underlying bond adalah supply agreement dari kamu. Tidak bisa di-buyback. Tidak ada collateral. Ini utang ijon. Off taker Market jadi jaminan. Yuan dapat sumber daya mineral tambang. BUMN penerbit jadi alat. Negara jadi protector.”
Ia sinis. Tapi aku tak terganggu. “Kalau tidak ada lagi, saya pamit.”
Aku mengulurkan tangan. Don menolak menjabat, menatapku dalam. “B, saya dapat apa dari ini?”
Aku diam sesaat. Lalu menjawab perlahan, “Kamu punya uang?”
“USD 20 miliar dalam bentuk Credit Linked Note. CDS-nya berupa cash offshore.”
Aku duduk kembali, santai. “Gunakan itu sebagai basis issuance 144A. Saya suplai likuiditas. Kamu Ambil bunganya.”
Wajah Don menegang, lalu retak jadi senyum. Kami mencapai titik temu.
Sebelumnya team shadow ku sudah investigasi Don. Bukan karena aku tak percaya. Tapi karena aku harus tahu batas-batasnya. Dana Don berasal dari elit Timur Tengah dan Asia Tengah, Amerika latin, hasil transaksi gelap minyak, emas, dan senjata. Uang tersebut masuk melalui kasino legal, yayasan pendidikan, dan institusi keagamaan. Setiap trust selalu memiliki satu layer “filantropi” agar terhindar dari audit langsung.
Dan yang paling penting: tidak ada dana yang langsung masuk ke proyek. Semuanya melalui obligasi. Itulah kenapa tidak pernah ada jejak korupsi langsung. Yang ada hanyalah keputusan investasi yang “tidak hati-hati.”
***
Saat Don menyerahkan CDS senilai USD 20 miliar kepadaku, dia tidak banyak bertanya lagi. Tapi aku sudah tahu dari laporan shadow team—CDS itu berasal dari uang elite kekuasaan yang disamarkan melalui empat lapis trust. Aku tahu ini permainan penuh bayangan. Tapi legal. Sepanjang dokumen rapi, selama cash mengalir, semua akan terlihat seperti keuangan inovatif. Dan dunia memang tak pernah peduli asal uang. Asal ia bergerak.
Dia tahu dimana aku berdiri dalam system yang ada. Sistem yang terlalu sibuk bicara moral, tapi diam saat bank besar membantu para diktator menyembunyikan kekayaan mereka. Sistem kami? Kami tidak pura-pura. Kami tahu uang itu kotor. Tapi kami pastikan ia membiayai proyek nyata, membayar tenaga kerja, menyuplai listrik, dan kadang—bahkan menyelamatkan negara dari krisis.
Sebenarnya antar kami sudah saling kenal sebelumnya. Dua tahun lalu aku bertemu dengannya di Geneva. Saat itu, ia mengatakan dengan santai sambil menyesap espresso “You don’t need to run a country, B. You just need to own its debt. And make sure no one understands the terms.” Ia menunjuk layar: spreadsheet dari sovereign bond Papua Nugini, Chad, dan Honduras—semua berlabel ESG, semua disubsidi oleh dana trust yang berasal dari rekening off-shore tak bernama.
“Kau tahu, B?” katanya waktu itu. “Orang-orang menyebut ini shadow finance. Padahal ini real finance. Justru sistem mereka-lah yang bayangan.”
Yang dimiliki Don bukan kas, tapi akses terhadap ketakutan sistem formal. Itu yang membuatnya untouchable. Negara tidak bisa menyerangnya tanpa membuka aib sendiri. Dan sekarang, lewat skema yang kami buat bersama, Don bukan lagi pemasok dana. Ia menjadi asuransi terhadap hukum. Jika ada ancaman hukum, trust dibekukan, proyek dihentikan, dan investor lokal bangkrut. Semua karena satu keputusan: tidak mematuhi permainan kami.
***
Bayangan malam Zurich masih menggantung ketika aku membuka laptop di kamar hotel. Udara dingin, tapi tidak sedingin data yang baru saja masuk ke dashboard Tim Tom—platform internal kami yang merekam lalu lintas keuangan bayangan.
Tim di Panama dan London mengirim potongan pertama dari struktur CDS yang disebutnya: “legal tapi beracun.” Dana sebesar USD 20 miliar yang diklaim sebagai Credit Linked Note ternyata telah melalui skema layering yang sempurna: Trust utama di Belize, anak trust di Nevis, special purpose vehicle di Luxembourg, dan akhirnya rekening pasar uang di Jersey.
Dana itu berasal dari apa yang oleh industri disebut sebagai cleaned dirty money—uang gelap yang telah dicuci lewat warisan, yayasan filantropi, dan obligasi negara frontier yang default.
Aku memandang layar. Mataku lelah. Tapi pikiranku justru tajam. Di sinilah semua dimulai: anatomy of a scam yang dirancang seperti seni rupa.
Beberapa tahun lalu, struktur seperti ini hanya digunakan untuk menghindari pajak. Kini, ini digunakan untuk membeli negara. Dana dari CDS milik Don bukan sekadar uang. Ia adalah akses terhadap sovereign asset—konsesi tambang, infrastruktur pelabuhan, bahkan hak siar satelit. Skema ini membuat uang berputar tanpa identitas. Aku ingat pertemuan dengan Louise, partner legal kami di London. Dia menyebutnya sebagai “shadow sovereign structure.”
“B, uang itu tidak ingin dikenali. Tugas kita bukan menyembunyikannya, tapi menyusunnya menjadi legal tanpa terlihat disengaja,” katanya saat kami menyusun trust tahun lalu di Canary Wharf.
Dengan menggunakan Rule 144A, obligasi yang diterbitkan oleh negara atau BUMN menjadi jembatan. Tidak perlu listing di bursa, tidak perlu prospektus publik, cukup pembeli institusional dan rating internal dari house bank. Dalam satu malam, uang gelap menjadi obligasi yang bisa diperdagangkan—dan dapat bunga.
Karena sistem ini memberi untung bagi semua. Negara berkembang dapat membiayai akuisisi strategis tanpa mengganggu neraca. Investor bayangan dapat memarkir dana haram dengan imbal hasil legal. Clearing house Eropa dapat menutup eksposur utang Afrika dengan swap terhadap proyek tambang Amerika Latin.
Dan kami? Kami ada di tengah—mengatur ritme, menyesuaikan aliran, seperti dirigen orkestra yang tidak pernah tampil di panggung. Bahkan LSM-LSM lingkungan kini mulai ikut menikmati—karena kami menambahkan klausul ESG compliance dalam struktur bond. Sebuah dusta dalam dokumen, namun menyenangkan semua.
Saat BUMN di Latin America menerbitkan global bond, struktur trust kami sudah menyiapkan kas CDS dari Don. Dana masuk sebagai collateral, lalu diputar ke dalam kas negara melalui bentuk prepaid off-take. Seolah negara dapat pembayaran di muka dari pembeli tambang. Padahal yang masuk adalah bunga dari bond mereka sendiri. Sementara itu, operator tambang adalah afiliasi dari Yuan. Yuan menetapkan harga, mengatur kontraktor, dan mengirim laporan ESG tahunan ke kementerian—dokumen rapi yang disusun oleh konsultan Swiss.
Aku menutup laptop dan memejamkan mata.
Malam itu aku tahu: Kami tidak lagi bekerja dalam sistem.Kami adalah sistem itu.
***
Aku terbangun jam 4 pagi di Zurich. Bukan karena jet lag, tapi karena bunyi notifikasi dari Redline, sistem komunikasi paling rahasia dari tim shadow kami. Pesan itu singkat, hanya satu halaman PDF, dikirim dari Bogotá. Subject-nya: Phase Drift.
Aku membuka file itu dengan protokol tiga lapis autentikasi.
Isi pesannya dingin, tanpa prosa:
Laporan singkat unit Bogotá, São Paulo, dan Panama City.
Struktur Trust telah menerima transfer dari rekening di BVI (British Virgin Islands) ke Nevis Trust sebanyak USD 480 juta. Dana obligasi telah digunakan untuk membeli high-yield bond dari entitas yang terafiliasi dengan Yuan sendiri. Cross-leverage terjadi melalui entitas konsultan di Uruguay yang mencatatkan kepemilikan silang. Penggunaan dana menyimpang dari rencana aksi korporasi yang disetujui di term sheet. Risiko sistemik meningkat secara non-linear.
Kesimpulan: Sedang dibangun “lingkaran semu likuiditas” di Amerika Latin dengan leverage tak terpantau. Proyek tidak collapse—tetapi menjadi “zombie exposure.” TTD, Unit Shadow — Zona Selatan
Aku membaca ulang dua kali. Kata paling penting di situ bukan leverage atau trust. Tapi satu: “zombie exposure”.
Aku tahu gejala ini. Ini bukan kesalahan. Ini disengaja. Model zombie diciptakan untuk memberi ilusi bahwa proyek berjalan, sementara dana terus bergulir dalam siklus tertutup: obligasi diterbitkan, hasilnya dipakai membeli obligasi lain, yang lalu digunakan untuk membiayai laporan fiktif dari konsultan, lalu masuk ke trust yang sama, dan kembali ke pasar melalui bunga kupon yang tidak pernah benar-benar cair. Circle of Debt. Dan yang paling berbahaya dari semua: tak ada siapa pun yang merasa bersalah.
***
Aku berdiri di balkon hotel. Zurich masih gelap, salju masih jatuh. Tapi dunia sedang bergerak menuju titik fragil. Negara-negara di Latin America sedang disusupi dari dalam—bukan oleh agen asing, tapi oleh struktur financial tanpa wajah. Aku tahu, ini bukan lagi soal CDS atau global bond. Ini soal kepercayaan.
Jika satu investor besar mendengar kabar ini dan menarik diri, spread akan melebar. Lalu rating akan turun. Dan dalam waktu semalam, seluruh proyek akan berubah dari asset menjadi liability.
Aku membuka koneksi aman ke unit clearance Brussels. Aku tidak bicara dengan otoritas publik. Tapi dengan kepala clearing house, orang yang dulu pernah kuselamatkan dari krisis obligasi Afrika. Dia menjawab telepon dengan suara khasnya, parau dan tegas: “To the point, B. Kami tahu 144A kamu jadi jalur kampanye politik. ECB sudah kirim sinyal. OECD minta penjelasan.”
Aku tidak tergesa. “Itu hanya noise. Yang penting: off-take agreement dari Yuan masih aktif. Kalau mereka cabut, tambang itu akan default secara serentak.”
Ia terdiam. Aku lanjut. “Yang saya butuh hanya satu hal: ring-fencing. Jangan biarkan dana dari trust mengalir ke luar sistem. Bekukan aliran sekunder. Sisakan cukup margin untuk arus kas utama.”
Ia mendengus. “Kamu sedang bermain api.”
Aku menjawab pelan. “Saya bukan bermain. Saya merancang ulang peta kekuasaan. Jika kamu biarkan arus kas ini hidup, krisis bisa kita kontrol. Jika kamu biarkan panik menguasai pasar, ini berubah jadi perang.”
Aku menutup panggilan dan membuka folder khusus bernama “Counterflow.” Itu adalah rencana cadangan. Rencana membalik alur uang. Membangun ulang kepercayaan. Lewat trust baru. Lewat skema lama—yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang sudah hidup cukup lama di kegelapan.
***
Aku duduk sendirian di lounge kosong Zurich Airport, menunggu penerbangan malam ke London. Di luar, langit beku seperti beton. Di dalam, pikiranku mendidih oleh sebuah pertanyaan yang tak bisa kujawab dengan pasti: Berapa lama sistem ini bisa bertahan sebelum semua orang pura-pura tidak tahu lagi?
Sistem yang kumaksud bukan sekadar trust offshore atau CDS. Tapi seluruh tatanan pasar finansial bayangan yang telah menyusup ke dalam tubuh negara-negara berkembang, dan kini mulai menggigit balik mereka yang dulu menciptakannya.
Aku kembali menghubungi kontakku di Brussels. Bukan melalui jalur diplomatik atau regulator publik, tapi melalui sistem gelap bernama “Clearing Line Alpha”—jaringan informal di antara lembaga clearing house dan custodian private yang menjaga rahasia lebih dalam daripada IMF.
Pihak yang menjawab adalah pria tua bernama H, kepala clearing house Eropa Tengah—mantan bankir senior yang dulu pernah kulepaskan dari kasus sovereign default di Chad dengan trik swap maturity bullet tanpa persetujuan parlemen.
Suara H terdengar berat dan to the point:
“B, kami dapat tekanan dari ECB dan Financial Stability Board. Mereka tahu uang dari Nevis Trust masuk ke entitas shadow di Montevideo dan ditarik sebagai collateral obligasi green energy. Kami terjebak dalam sistem yang kamu bangun.”
Aku menjawab santai. “Jangan gunakan kata ‘terjebak’. Kamu menikmatinya selama tiga tahun terakhir. Kalian lepas eksposur dari Afrika dan Balkan lewat struktur kami. Sekarang kalian panik karena Washington melihat ke dalam.”
“Karena kamu bukan bank, bukan sovereign. Tapi kamu membuat trust seperti negara. Sistem 144A bukan instrument pasar—itu alat kuasa.”
Aku menatap layar laptop. Di dashboard internal, yield dari bond BUMN klien kami di Amerika Selatan mulai naik. Tipis. Tapi cukup memberi sinyal bahwa pasar mencium sesuatu.
“Aku bisa bekukan semua posisi trust milikmu, B. Kamu tahu itu.” Katanya. Walau terkesan mengancam. Namun aku tidak terganggu.
Aku diam. Lalu berkata pelan, dingin, dan terukur “Kalau kamu lakukan itu, aku buka semua data pemilik ultimate beneficiary dari trust yang kamu kelola selama tiga tahun terakhir. Termasuk aset-aset Eropa Timur yang kamu ‘bantu bersihkan’ dari pengaruh Rusia. Dunia akan tahu siapa sebenarnya yang menciptakan skema ini.”
H terdiam. Lalu akhirnya berkata, lirih:
“Apa yang kamu inginkan?”
Aku menjawab. “Aku butuh kamu bantu kami buat ring-fencing likuiditas. Dana CDS dari Don tetap digunakan, tapi aku akan pindahkan trust utama dari Nevis ke Cayman. Aku akan munculkan first-loss position dari investor Eropa Timur yang kamu kenal—diberi kupon tinggi, dengan syarat ESG governance covenant.”
“Kamu butuh mereka untuk menutupi risiko legal?”
“Aku butuh mereka sebagai bumper moral. Dunia hanya percaya pada green label, bukan realitas.”.
Aku menutup telepon dan segera menyiapkan dokumen trust baru. Dalam 72 jam, kami akan menyusun ulang arsitektur pembiayaan. Trust utama di Cayman, dikelola oleh konsultan ramah-ESG. Dana offshore tetap dari CDS milik Don, namun kini dijamin oleh “Green Mining Protocol.”Lembaga kredit Swiss akan mengeluarkan ESG rating. Investor Timur masuk sebagai penjamin first-loss, membuat seluruh struktur terlihat seimbang.
Seluruh struktur ini adalah hasil dari satu hal: kekosongan pengawasan global yang disengaja. Negara-negara besar menciptakan ruang abu-abu itu untuk memainkan kekuasaan mereka, tapi kini kami—orang-orang kecil dari pinggiran—memakainya untuk membangun kekuasaan sendiri.
Semuanya legal. Semuanya terdokumentasi. Tak ada yang kotor—selama tak ada yang bertanya dari mana asal uangnya.
Dan narasi kami kuat: “Divestasi tambang berhasil tanpa APBN, tanpa utang negara. Lingkungan dijaga. Investor percaya. Rakyat mendukung.”
Padahal, semua itu adalah sistem ijon finansial jangka panjang. Tapi ketika semua mendapat bagiannya, siapa yang peduli?
Di saat itulah aku menyadari—kami tidak lagi hidup di bawah hukum. Kami hidup di bawah ilusi hukum yang diciptakan oleh sistem yang lebih besar dari negara.
Dan aku hanya… memperbaikinya agar lebih jujur.
***
Geneva tidak pernah benar-benar netral. Kota itu seperti ruang tunggu sejarah—tempat konflik disamarkan sebagai dialog, dan ancaman dibungkus dalam bahasa “kolaborasi multilateral.” Aku tiba di hotel kecil dekat Rue du Rhône saat senja menyentuh danau Léman. Tidak ada sambutan resmi. Tidak ada pengawalan.
Tapi aku tahu: mereka sudah menungguku. Empat orang dari Washington, bukan diplomat, bukan pula pejabat—melainkan operator sistem. Orang-orang yang berbicara atas nama “pasar”, tapi punya lisensi untuk menghancurkan sebuah negara dalam waktu dua minggu melalui downgrade, embargo, atau opini publik. Mereka duduk di ruang makan tertutup, tanpa lencana, hanya selembar kontrak dalam map linen, dan pandangan tajam yang tak memberi ruang untuk pura-pura.
Wanita berusia sekitar 60 tahun, berambut perak dan jas abu-abu tua, membuka pertemuan dengan suara tenang “B, kami ingin bicara langsung. Tidak ada kamera. Tidak ada transkrip. Tapi kamu harus tahu: kami tahu semua.”
Aku tersenyum, meneguk espresso. “So…?”
“Kamu membangun struktur shadow sovereign. Menggunakan trust, CDS, dan global bond 144A untuk mengalihkan kontrol fiskal negara-negara Global South dari IMF dan World Bank ke jaringan privat. Yuan hanyalah proxy. Kami tahu kamu otaknya.”
Aku tak menjawab. Karena ia benar.
“Yang kamu lakukan bukan sekadar pembiayaan. Ini sabotase. Negara bisa default, tapi jaringanmu tetap untung. Kamu menciptakan ketergantungan tanpa sovereign control. Ini bukan pembangunan. Ini perbudakan modern berbasis kupon dan off-take.”
Aku tertawa kecil.
“Justru itu pasar, Madame. Kalian yang menciptakannya. Kalian membiarkan zona abu-abu legal itu hidup selama dekade. Dan saat kami mengisinya—kalian menuduh kami subversif?”
Mereka tak suka jawabanku. Tapi mereka tak bisa menyanggahnya.
Mereka menunjukkan diagram alur: bagaimana struktur trust-ku kini mencakup lebih dari 11 negara di Amerika Latin, Asia Tenggara, dan Afrika Timur. Semua menggunakan 144A. Semua dibiayai dari dana non-publik. Semua menyuplai hasil tambang atau energi ke Yuan Holding, atau mitra Tiongkok lainnya.
“Kami tahu semua bank yang kamu pakai. Kami tahu clearing house di Brussels mulai goyah. Kami tahu kamu sudah buka trust baru di Cayman dengan first-loss investor dari Ukraina.”
Lalu pria berjas gelap dari CIA—yang sebelumnya diam—berbicara perlahan “Jika kamu teruskan ini, kami akan tuntut investor kamu lewat Undang-Undang Magnitsky. Kami akan buka audit semua entitas trust-mu. Dan kami akan paksa negara-negara klien kamu kembali ke IMF.
Aku menyandarkan punggung, menjawab dingin. “Silakan. Tapi kalian harus siapkan satu hal, krisis kepercayaan.” Kataku tersenyum. “Kalau Yuan mundur dari proyek tambang, supply chain mineral strategis di 4 benua runtuh. Negara yang semula punya aset akan berubah jadi beban fiskal. Obligasi akan default. Investor akan panik. Dan uang akan mengalir ke dolar. Kalian senang? Tapi dunia akan tahu, Washington-lah yang memicu kekacauan.”
“Dan satu lagi,” kataku sambil menatap tajam, “jangan paksa kami buka siapa yang duduk di trust advisory board kami. Beberapa dari mereka masih duduk di DC sebagai commitment holder the Fed “
Hening. Sangat lama. Aku tidak pernah takut soal beginian. Ini lebih baik daripada aku menghindar. Mendiang Papa ku menasehati. Jangan hindari masalah. Karena ia pasti akan memakanmu.Tetapi kunyah masalah itu dan telan semua. Resiko terbesar di dunia ini hanyalah kematian. Semua orang pasti mati.
Pertemuan itu berakhir tanpa saling sapa. Tak ada kesepakatan. Tapi aku tahu, mereka sadar. Kami bukan lagi pemain kecil yang bisa ditertawakan. Sistem yang kami bangun memang tidak sempurna. Tapi sistem lama mereka lebih busuk. Dan kali ini, kami-lah yang memegang pasar.
***
Pagi itu, langit Pulau Komodo tampak seperti kanvas tua yang nyaris pudar. Lautan terbentang tenang. Di resort kecil tersembunyi, aku duduk bersama Wenny CEO Yuan Holding dan Sanya, CEO Subholding energi and mineral tambang. “ Sudah lima tahun kamu pensiun. Apa engga kangen kembali lagi? Tanya Wenny. Aku senyum sambil menatap laut.
“ Kamu bertarung sendiri. Menjauhkan kami dari segala resiko. Setelah badai berlalu, tugas kami nakhodai kapal besar ini ke dermaga harapan. From nothing to be something ” Lanjut Wenny.
Wenny memperlihatkan jejak data digital 12 tahun lalu. Berita soal divestasi tambang yang kami support “ Pemerintah bangga—BUMN kuasai mayoritas saham, tanpa pakai APBN atau jaminkan neraca. Ini disebut ‘skema keuangan inovatif.’”
“Jadi kita amankan sumber daya strategis tanpa menanggung risiko lingkungan atau keuangan—tanggung jawab lingkungan di pemerintah, risiko keuangan di hedge fund Don. Kita hanya atur global bond cashback lewat konsorsium bank.” Kata Sanya.
Lihat B, sekarang. Wajah Sanya seperti menahan jatuhnya air mata. “ Tidak pernah membayangkan kalau dia yang membangun kerajaan untuk kita. Kini hidupnya jauh dari keramaian dan tetap humble. Bahkan terlalu humble. “ Kata Sanya. Mereka berdua memeluk saya. Mereka tahu arti mencintai dan setia.
Dan saya hanyalah ayam kampung yang berusaha jadi ayam merak. Namun tetap ayam kampung yang tidak pernah punya kemewahan menjadi Mahasiswa. Ya dunia seharusnya dikelola oleh orang orang yang punya kompetensi, seperti Wenny yang Phd Economy dari Tianjin dan Sanya, Phd dari Harvard. Setidaknya dari mereka peradaban bergerak ke depan dengan harapan lebih baik…

Tinggalkan komentar