
2 tahun Lalu.
Pintu lounge Edelweiss Table menutup pelan, menyisakan keheningan berat yang menggantung—tekanan diplomasi dan bisnis menumpuk, lebih pekat dari lampu kuning keemasan dan kayu tua di sekeliling. Aku, Lin, dan George masuk setelah tiga lapis screening—sensasi dingin keamanan langsung memburu di bawah sinyal diam internal. Ruangan kecil itu bukan milik WEF, melainkan markas rahasia sebuah family office raksasa. Tak satu pun lencana atau kamera terlihat—semua profesional, semua tersembunyi, semua punya tujuan gelap.
Di seberang meja, kursi-kursi menganga diisi sosok-sosok penuh pengaruh. Mantan gubernur bank sentral Eropa meneguk kopinya, kepala sovereign fund Asia menatap layar ponsel, pejabat Israel menatap dokumen berhamburan, dan CEO Finance Group menyandarkan badannya, siap meluncurkan kata-kata yang bakal menggoncang meja.
Di tengahnya, tertumpuk dokumen “Leviathan EastMed Expansion” Rencana jalur pipa bawah laut dari Israel ke Yunani, melintasi ZEE Lebanon dan Siprus. Jalur yang mampu menghidupkan konflik lama. Israel memberi lampu hijau pada 18 Juni 2023 untuk eksplorasi gas lepas pantai Gaza—dengan negosiasi yang melibatkan Mesir dan Otoritas Palestina.
Lin menggeser tablet ke tengah meja. Peta digital muncul, memperbesar kawasan Teluk Persia dan Eastern Mediterranean. Jalur pipa gas, kabel bawah laut, rute tanker, semua tampak seperti nadi dunia. Peta Mediterania tersebar di atas meja kaca, terpantul cahaya lampu gantung yang temaram: Haifa, Karish, Tamar, juga Gaza Marine yang samar di perairan lepas pantai Gaza. Garis-garis itu bukan sekadar batas wilayah. Itu garis api. Gaza Marine—cadangannya sekitar 32 BCM—bukan hanya angka di peta, tapi potensi yang bisa mengubah wajah ekonomi Palestina.
“Proyek ini tidak akan pernah lolos kalau kita jujur menyebutnya LNG,” ujar pria dari Financial Group, suaranya tenang namun mengandung ledakan tersembunyi. “Terlalu politis, terlalu panas. Tapi jika kita kemas ulang sebagai bagian dari Energy Transition Fund untuk Eropa, semua akan tepuk tangan.”
Aku menyela, nada suaraku sengaja dibuat netral, meski jantungku berdetak cepat. “Tapi laporan intelijen PBB menyebut kawasan itu rawan sengketa. Lebanon sudah mengajukan klaim hukum. Dan jangan lupa, ada bayangan Iran—proxy war bukan sekadar potensi.”
Pria itu tak berkedip. “Sudah di-cover oleh insurance company triple-A. Risiko sudah dihitung dan dinilai. Lebanon tak punya napas fiskal lagi untuk melawan.” Ia mencondongkan tubuh, suaranya berubah rendah dan tajam. “Dan utangnya… siapa yang menggenggam?”
Tatapannya menembusku. Aku mengangguk pelan. Aku tahu jawabannya. Kita.!
George membuka folder, lalu berkata ringan seolah ia menjelaskan cuaca, bukan skema keuangan yang mengubah geopolitik. “Ada dua struktur. Satu untuk jalur bersih—clean track, kita daftarkan ke ESG registry di Luxembourg. Satu lagi—shadow track, lewat Guernsey dan anak entitas di Mauritius. Transparan di permukaan. Gelap di kedalaman.”
CEO Financial Group mencondongkan badan. “Apa underlying-nya?”
George tak ragu. “sovereign gurantee dari Palestina. Dijamin lewat aid disbursement dari Bank Dunia. Kita bungkus menjadi structured note. Karena ini conflict region, yield-nya otomatis naik. Investor dari Teluk justru menyukainya. Agresif.”
CEO Sovereign Fund Teluk berbicara, “Kalau yield proyek Leviathan bisa dinaikkan ke 8,5% dengan multilayer guarantee, kita bisa commit soal funding. Tapi kami butuh exit strategy dalam 3 tahun. IPO? Or structured buyback?”
George menjawab cepat. “Kita arahkan ke sukuk ESG. Saya sudah bicara dengan elite Indonesia. Ada potensi dukungan melalui sovereign partnership untuk window refinancing. Clean enough for greenwashing, complex enough to survive scrutiny.”
Pertemuan usai tanpa basa basi. Pergi tanpa salam. Seakan tidak saling membutuhkan. Memang saling menekan dan mengendalikan. Itulah dunia hedge fund.
***
Kami duduk santai di lounge kafe, di teras smoking room. Lin, yang sejak tadi sunyi, akhirnya angkat bicara. Suaranya lembut namun tajam menusuk seperti paku di atas marmer. “Kamu menjadikan wilayah pendudukan sebagai jaminan finansial?” sorot matanya menahan amarah kala menatap George.Dunia hedge fund penuh kehati hatian. Setiap langkah bisa saja salah satu angota team tidak tahu apa apa. Aku harus pastikan begitu.
George tetap tenang. Wajahnya tak berubah, tubuhnya tak bergeming. Akhirnya George berbicara, nada suaranya datar “Aku hanya menjadikannya sebagai pintu masuk. Dunia ini tak bergerak karena belas kasihan—ia bergerak dengan leverage. Dan dana itu datang dari investor Teluk. Kita cuma membuka saluran.”
Ia mengangkat sebatang rokok dan menyalakannya dengan tenang. “Di zaman sekarang,” lanjut George, “negara tak lagi ditaklukkan lewat kapal perang, Lin. Tapi lewat laporan laba-rugi, lewat perjanjian repo line, Global bond 144A. Pakai IMF, World Bank, hedge fund… untuk melemahkan kedaulatan. Peluru dan rudal hanya kembang permainan. Sejatinya adalah lembaran Excel dan Bloomberg screen.”
George menarik napas panjang, menghembuskan asap rokok yang melingkar lembut, lalu pecah di udara temaram lounge. Suaranya patah, menghancurkan keheningan. “Dulu orang perang untuk merebut emas—sekarang, untuk menguasai arus kas. Dahulu kekuatan militer, sekarang cukup sebuah klik. Sistem keuangan adalah candu. Sekali negara ketergantungan, ia langsung tunduk.”
Matanya menatap jauh, seolah melihat peta dunia yang dibentangkan di kepalanya. “Lihat saja Turki, Filipina, Indonesia, Meksiko, Brasil… Elit mereka dinegosiasikan. Tanahnya, sumber daya alam mereka, ditransaksikan dalam kesepakatan teknokratik.”
George menoleh pelan ke arah Lin, bibirnya menyungging senyum dingin. “Negara seperti Indonesia adalah ladang emas. Bukan karena cadangan devisanya, tapi karena nikel, bauksit, batu bara. Dan yang lebih penting—karena elitnya bisa dibeli atau ditukar.”
Lin menahan napas, suaranya bergetar “Kamu bilang ‘dinegosiasikan’?”
George mencondongkan tubuh, matanya menyipit, kata-katanya menusuk tajam. “Kalau tidak bisa dibeli, ya ditukar: jabatan, utang, ‘nasihat teknokratis’ dari AMG kelas dunia. Jadi IMF datang membawa laporan positif… sebelum krisis tiba. World Bank memuji transparansi… sebelum korupsi meledak.”
Pandangannya mengarah ke keluasan malam, nada suaranya berubah sinis “Sekarang? Perbedaan antara investasi dan infiltrasi tidak ada. Di Papua, tambang emas lebih bernilai daripada nyawa penduduk. Di Kalimantan, Sulawesi, hutan ditebang bukan untuk rakyat—tapi untuk hedge fund di London atau Zurich yang butuh profit diatas 12% per tahun.”
Aku meneguk kopi dingin, lalu Lin berkata pelan “Dan ketika harga komoditas utama global anjlok, semua itu dianggap risiko pasar. Tapi tidak pernah ada bailout untuk rakyat yang kehilangan tanah, alamnya tercemar.”
George mengerutkan bibir. Senyum sinisnya mulai merekah “Justru karena itu Indonesia begitu penting. Bukan sebagai pemain… tapi sebagai papan catur. Dan kamu tahu siapa yang paling cepat menyadari itu sekarang? Tiongkok.”
Lin mengangguk, nadanya datar namun penuh arti “Aku dengar mereka sudah masuk lewat smelter, pelabuhan, hingga bank digital. Bukan tentara—tapi invoice.”
George mengiyakan dengan suara berat “Betul. Saat Barat sibuk debat ESG dan net-zero, Beijing diam-diam mengamankan rare earth, logam kritis dan listrik murah dari PLTU batu bara Indonesia. Itu bukan kolonialisme. itu just a business . Mereka mainnya tenang, sabar… dan mematikan.”
Aku bersandar ke belakang. Wajah Lin kembali murung. “Lalu menurutmu, George… di mana posisi kita?” lin mengerutkan kening.
George menatapku, senyum tipis mekar “Tergantung. Dimana posisi sebagai pemenang, disitulah kita.
George dulunya analis fiskal di US treasury. Tapi setelah kecewa dengan politik dalam negeri dan tekanan oligarki, dia “keluar sistem” dan pindah ke Hong Kong. Di sana, dia belajar structured asset engineering dari firma hedge fund, yang aku kelola. Perlahan, ia naik menjadi financial architect yang menangani proyek-proyek tinggi risiko, tinggi imbal hasil—dari pembangunan pelabuhan Sri Lanka, rel cepat Ethiopia.
Lin menatap aneh kepadaku. “Dan George ?” tanyanya. “ Kamu create dia jadi iblis “ Aku angkat bahu.
George menyeringai. “ Kita semua anjing. Setan. Itu lebih baik mengakuii daripada para pemimpin populis yang jadi predator orang bodoh dan miskin. Mangsa kita orang kaya dan pintar. Seharusnya memang begitu dunia tarung.
***
Kini…
Kami duduk di balkon Çırağan Palace, memandangi selat Bosphorus yang tenang. Kapal-kapal di kejauhan seperti serpihan bintang jatuh ke laut. Tapi tidak ada yang tenang di kepala kami. Di luar, Bosphorus tetap damai. Tapi kami tahu, air itu menyimpan arus bawah yang mematikan. Seperti dunia yang kami hadapi—tenang di permukaan, penuh perhitungan dan pengkhianatan di bawahnya.
“ Proyek Leviathan tertunda karena situasi Gaza yang memanas, terutama aksi Hamas yang berafiliasi dengan Iran. Ketakutan terbesar: jika Gaza bergolak lagi, Hamas bisa mendapat aliran dana baru dari eksploitasi gas.“ Kata Lin.
George menyesap kopi, matanya tak lepas dari langit malam di atas Bosphorus. “Kalau gas ini dieksploitasi tanpa kontrol upstream, lalu dialirkan lewat pipa bawah laut langsung ke Mesir… maka Israel kehilangan leverage.”
Lin menimpali. “Bukan hanya leverage, tapi posisi mereka sebagai gatekeeper energi di kawasan. Itu yang mereka jaga mati-matian.”
George melanjutkan, dingin, seperti membaca strategi dari papan catur. “Ini bukan soal agama. Ini kontrol jalur energi. Lihat Iran: jalur darat dari Asia Tengah. Lihat Israel: pelabuhan Haifa, Mediterania Timur. Mereka bersaing dalam infrastruktur strategis.”
Aku mengangguk pelan. “Belt and Road?”
“Dan lebih dari itu,” Lin menambahkan. “Iran adalah koridor darat Tiongkok ke Teluk. Israel? Terminal barat lewat Haifa. Ironis—mereka terikat dalam logistik global yang sama, tapi sponsor politiknya saling meniadakan.”
George tertawa pendek. “Dan Amerika? Kekasih lama yang cemburu. Siapa pun yang terlalu dekat ke Tiongkok… dibajak, diganggu, dijatuhkan.”
Aku menatap laut. Sebuah kapal LNG melintas, tubuhnya terpantul cahaya jingga. Di benakku, bayang-bayang perang berganti dengan grafik yield dan CDS.
“ Terimakasih. “ Kataku menatap sejurus kepada George dan Lin. “ Lobi kalian lewat Qatar, Rusia dan Israel berhasil membujuk Trump memaksa terjadinya gencatan senjata. Tapi caranya lewat serangan situs nuklir Iran dan pangkalan AS di Qatar terlalu dramatis. Tapi okay juga sebagai tontonan. “ Sambungku dengan tersenyum tipis. “ Good Job.!”
Akhirnya gencatan senjata Iran–Israel bukan karena niat damai,” gumam Lin. “Tapi karena surat utang proyek Leviathan. Investor Teluk mulai gelisah. Perang itu membuat rating anjlok, yield melonjak. Uang yang membuat senjata diam. Bukan moralitas.”
George tersenyum kemenangan. “ Disaat mereka takut, arus modal melarikan diri ke safe haven—T‑Bill kita jadi rebutan. Meskipun hanya sehari, perpindahan itu membalik kerugian bertahun‑tahun menjadi keuntungan berlipat. Dan bersamaan itu, kita membeli kembali obligasi Leviathan dengan diskon. Saat gencatan senjata diumumkan, investor menyerbu lagi obligasi Leviathan. Profit berlipat.”
Lin berdiri. Angin laut meniup rambutnya ke belakang. “ Publik menyangka ini tentang perdamaian. Faktanya, ini soal momentum ekonomi. Dan kita tahu, di balik headline ‘gencatan senjata’, ada pergeseran modal besar, yang kita manfaatkan. “
Lin mematung dengan tatapan kosong. “ Semua itu terjadi di atas puing. Product hedge fund kita tumbuh karena mereka menutup luka. Kita producer chaos, kemudian arbitrer keuntungan.”
“ Ya karena itu high yield..! Serga George.
Aku tatap Lin dan George. “ Mereka sedang menyusun ulang peta. Iran mengamankan koridor Teheran–Damaskus–Beirut. Israel mencoba memulihkan pengaruhnya di Amman, Riyadh, dan Abu Dhabi. Ini jeda antara dua babak. Jadi pastikan kalian siap! Bersiap untuk putaran berikutnya. You got it! “ Kataku. George dan Lin bersikap sempurna dan mengangguk tegas.
“Dan Rusia?” tanya Lin, seperti mengukur denyut global yang harus dia ketahui kekuatannya.
“Main di dua kaki,” jawab George. “Dukung Iran, jaga Suriah, dan tetap jalin komunikasi dengan Israel. Dunia ini bukan soal kepercayaan. Hanya kewaspadaan.”
“Kalau Hezbollah serang Haifa? Atau Israel bom kilang di Bandar Abbas?” tanya Lin.
“Maka domino jatuh,” kata George. “Tapi pelan. Bukan perang dunia. Controlled chaos.” George mengencangkan mantelnya. “Kalau hancur total, semua kehilangan panggung. Orang kaya tak siap mati. Hanya orang miskin yang siap mati”
Lin menyipitkan mata. “Kadang kupikir, Israel dan Iran itu dua naga yang pura-pura buta arah. Padahal saling membaca napas.”
George menyeringai. “Mereka memang rabun. Tapi pura-pura tidak. Ini bukan soal visi jauh. Ini soal insting survival.”
Aku menyandarkan punggung. “Mereka bersaing memegang obor kawasan. Tapi tahu, api itu harus tetap menyala. Jangan sampai membakar semuanya.”
Lin menyilangkan kaki. “Dan kita?
George menoleh. “Apa kamu menyesal?”
Lin terdiam. Lalu pelan menjawab, “Tidak. Tapi kadang aku berharap dunia bekerja tanpa logika kekuasaan. Tapi dunia dibangun bukan atas keadilan. Hanya atas keseimbangan ketakutan.”
Aku tertawa lirih. “Simfoni. Disonansi yang dijaga agar tak jadi kekacauan total.”
Lin mengangkat gelasnya. “Kekacauan yang dikurasi. Dan kita tahu, kapan musik dipelankan. Kapan dipercepat.”
Kami terdiam. Di luar, air tetap tenang. Tapi di dalam, peta dunia terus bergerak. Bukan karena angin, tapi karena negosiasi dan kompromi tanpa jeda.
“Besok sore aku kembali ke Jakarta,” kataku sambil menatap Lin “Private jet Yuan kamu pakai ke Zurich. Aku pulang pakai pesawat komersial. George harus ke New York dengan private jetnya. Jaga diri kalian. “ Kataku kembali ke kamar hotel. Long week end yang melelahkan.

Tinggalkan komentar