
Xiau Lin datang dari Shanghai, sementara Mia baru tiba dari New York. Mereka bertemu denganku di Jakarta. Di apartemen yang sekaligus difungsikan sebagai kantor yang dipenuhi terminal komputer dan layar pemantau pasar. Ini adalah kali pertama Mia bertemu langsung dengan Xiau Lin. Sebelumnya, mereka hanya saling mengenal nama. Meski berada dalam grup yang sama, mereka belum pernah bekerja dalam satu tim. Kini, untuk pertama kalinya, mereka akan berkolaborasi dalam satu unit kerja untuk penugasan khusus selama tiga tahun ke depan.
“Yang mengkhawatirkan adalah level DXY saat ini menyentuh kisaran 97–98. Itu terendah sejak Maret 2022. Aku khawatir posisi aset bank sentral negara-negara yang menyimpan cadangan devisa dalam dolar terus menyusut,” ujar Mia sambil memandang layar. “Data analis aku memang menunjukkan ketidakpastian terhadap USD. Apalagi dengan dorongan dedolarisasi yang dipicu oleh kebangkitan BRICS. Itu memberi tekanan signifikan terhadap dolar. Belum lagi konflik regional yang terus bergelombang—Gaza–Israel–Iran, Ukraina–Rusia, Taiwan–Laut China Selatan. Semua itu mempercepat pergeseran ke arah dunia multipolar yang makin kompleks,” lanjutnya.
Aku menatap tajam ke layar Bloomberg. “Kalau kamu sudah tahu dunia sedang berubah, kenapa takut? Justru sekarang waktunya ambil posisi. Kamu tahu The Fed akan stagnan. Kamu tahu negara-negara akan menjauh dari dolar. Maka pegang emas, yuan, dan komoditas digital. Kamu boleh takut, Mia. Tapi kamu juga bisa lebih cepat dari semua orang,” kataku dengan nada sarkastik.
Mia menarik napas. “Lalu… pada akhirnya, siapa yang akan menang?”
“Yang tidak ragu saat dunia ragu,” jawab Lin datar.
Suasana ruang kerja remang. Monitor Bloomberg dan Reuters menampilkan grafik DXY, indeks BRICS, dan harga emas yang menanjak pelan tapi pasti. Dari balik jendela kaca tinggi, lampu-lampu kota memantul seperti bintang-bintang mati.
Mia duduk bersandar di kursi, tubuhnya lunglai, matanya sayu menatap layar yang terus berganti angka. “Kadang aku bertanya-tanya…” suaranya nyaris tenggelam dalam dengung perangkat, “…jika dunia benar-benar menjadi multipolar, apa hedge fund seperti kita masih relevan? Jika USD tak lagi jadi jangkar, apa algoritma kita masih bermakna?”
Lin tidak menjawab. Ia hanya membuka satu per satu overlay: DXY, harga Treasury, kurva yield yang terbalik. Semua tampak seperti denyut jantung dunia yang tak menentu.
“Kita akan tetap bermain,” ucap Lin akhirnya, pelan, nyaris seperti mantra. “Mata uang bisa berubah, kekuatan bisa bergeser. Tapi pasar… pasar tidak pernah tidur. Kau tahu kenapa?”
Mia memandang Lin, matanya ragu namun ingin tahu. “Karena… keserakahan?” gumamnya.
Lin menggeleng perlahan.
“Karena ketakutan,” jawabnya datar. “Saat negara tak lagi percaya satu sama lain, saat bank sentral kehilangan kompas, saat rakyat menggenggam emas digital dan stablecoin lebih erat daripada mata uang resmi… hedge fund adalah satu-satunya entitas yang masih bergerak cepat. Di saat semua lamban.”
Aku menyimak dari sudut ruangan, tersenyum tipis. Panggung ini bukan lagi tentang uang, melainkan tentang ketahanan.
Mia menunduk, jemarinya menyapu layar yang menampilkan grafik cadangan devisa Asia Tenggara yang terus terkikis. “Bank sentral kalah langkah. Mereka harus menjaga stabilitas. Kita? Kita tak punya beban moral,” bisiknya lirih, nyaris seperti pengakuan dosa.
Lin menoleh. Wajahnya masih tenang, tapi sorot matanya mengandung kelelahan. Bukan fisik. Tapi kelelahan jiwa. “Kita bukan penyebab kekacauan ini, Mia. Kita hanya membaca apa yang tak bisa dihentikan. Dolar memang jatuh. Tapi dunia tak akan beralih ke Yuan tanpa syarat. Ia akan terus ditarik oleh kutub-kutub—dan selama itu berlangsung, pasar butuh penyeimbang. Dan itu… adalah kita.”
Hening mengambang di antara ketiganya, seperti vakum di tengah turbulensi dunia. Aku tetap diam di kursiku, menatap keduanya bagai penonton dalam drama takdir.
Mia berdiri perlahan, memandangi grafik emas yang meroket. “Jadi… kita akan long emas, short USD, dan lindungi posisi di sektor energi bersih?”
Lin menyunggingkan senyum tipis, penuh keyakinan yang tak tergoyahkan. “Leverage tujuh kali. Dan model baru berbasis sentimen fraktal BRICS. Aku sudah uji dengan data noise dari Twitter dan Baidu Trends.”
Mia mengangguk, tapi matanya tak sepenuhnya tenang. Ia memalingkan wajah ke jendela, tempat cahaya pagi yang muram menyapu langit Jakarta. “Kadang aku takut… bahwa kita bukan hanya penyeimbang. Tapi cermin. Dunia melihat dirinya sendiri lewat kita.”
Lin tak menjawab. Ia melangkah perlahan ke meja eksekusi. Suara klik tombol nyaris seperti pelatuk pistol. Batch trade dijalankan.
“Kalau begitu,” bisiknya, “tunjukkan ke dunia… bayangannya sendiri.”
Mia masih berdiri. Tatapannya menyapu grafik DXY. “Jadi kita yakin ini hanya fase sementara? USD akan kembali naik?”
Lin mengangguk pelan. “Jika dunia multipolar gagal menjaga sistem pembayaran mereka, semua akan kembali ke dolar. Seperti gravitasi. Modal selalu mencari tempat paling likuid dan paling aman. Dan itu… masih Wall Street.”
“Tapi sekarang berbeda,” bantah Mia. “BRICS bukan sekadar wacana. Mereka bangun sistem clearing emas, instrumen baru, keluar dari IMF.”
Lin menyandarkan tubuh di meja, membelakangiku. Ia tampak seperti patung perunggu dalam gelap yang elegan. “Benar. Tapi BRICS adalah aliansi kepentingan, bukan kesatuan nilai. Saat krisis datang, mereka akan menyelamatkan diri masing-masing. Pasar tahu itu.”
“Jadi kau long USD di saat semua short?” tanya Mia tajam.
“Aku tidak ikut kerumunan,” jawab Lin, tersenyum kecil. “Aku ikut sejarah. Dan sejarah suka berulang. Terutama ketika orang lupa bahwa ia pernah terjadi.”
Aku melangkah mendekat ke Mia. “Baca survei JPMorgan terakhir. USD masih dominan karena perbedaan suku bunga dan pertumbuhan. Capital Economics bahkan prediksi rebound jika The Fed tidak buru-buru pangkas suku bunga.”
“Tapi saat ini USD sudah drop 9–10% sejak awal tahun,” sanggah Mia. “Diversifikasi cadangan, defisit fiskal, tarif, semuanya picu krisis kepercayaan jangka panjang. Goldman Sachs bahkan sebut ini potensi ‘confidence crisis’.”
Lin menggeleng pelan. “Kau terlalu lugu sebagai analis,” katanya lirih.
Aku hanya tersenyum melihat Mia tercenung.
“Pasar tidak bergerak karena laporan. Tapi karena keyakinan. Dan keyakinan tidak dibentuk oleh angka, tapi oleh siapa yang menyuarakannya… dan kapan,” lanjut Lin.
Mia menarik napas, masih tegang. “Jadi kamu bilang, sentimen lebih penting dari kenyataan?”
“Bukan begitu,” jawab Lin. “Sentimen adalah kenyataan… di pasar. Bahkan kebohongan bisa menggerakkan triliunan, jika cukup banyak orang percaya.”
Aku tertawa kecil. “Kalau semua orang takut, siapa yang berani long duluan? Itu yang menang.”
Mia menghela napas. “Dan kalau salah? Jika ini dekade penurunan permanen USD?”
“Kalau takut salah, jangan jadi hedge fund,” jawab Lin tenang. “Jadilah ekonom. Mereka bisa salah seumur hidup, dan tetap diundang ke Davos.”
“My sis…” lanjut Lin, nadanya berubah tenang. “Ketidakpastian dari Trump itu hanya panggung. Jangan jadikan itu patokan. Lihat The Fed, lihat US Treasury. Mereka tidak terpengaruh. Sistemnya solid.”
“AS satu-satunya negara dengan transparansi tinggi dalam moneter dan fiskal. Negara lain penuh manipulasi. 90% uang dunia dikontrol 1% populasi. Dan mereka tahu elite negara lain penuh korupsi dan kebodohan.”
Mia menatap ke luar. Awan menggantung di atas Thamrin. Seperti keraguan yang belum tumpah. “Jadi… dedolarisasi hanya ilusi?”
“Dedolarisasi itu seperti diet global,” jawab Lin cepat. “Semua bilang ingin, tapi tetap makan karbo. Saat krisis datang? Semua tetap cari US Treasury.”
Aku nyalakan cerutu, mengangguk. “China punya yuan, tapi tidak bebas konversi. Rusia punya emas, tapi sistemnya dibatasi. Euro? Tergantung 27 negara. AS? Satu kongres, satu Treasury, satu Fed.”
Mia menarik napas panjang. “Tapi moral, Lin? Bukankah kita menopang sistem yang hanya menguntungkan elit?”
“Moral?” Lin menyipitkan mata. “Pasar tidak digerakkan moral. Tapi insentif. Dan tak ada insentif lebih besar dari survival.”
Mia terdiam, menatapku sejurus. Ruangan mendadak hening, hanya deru terminal komputer yang terdengar.
“So…” kataku mengisi keheningan.
Mia mengangguk mantap. “Ok,” suaranya tegas. “Saya akan laksanakan strategi ini tanpa ragu. Saat USD melemah, kita akan lakukan carry trade & arbitrase: membeli mata uang dengan yield tinggi. Jika USD tiba-tiba menguat dan memicu reversal, kita akan segera tutup posisi—baik itu posisi long USD ataupun yang short USD. Demikian pula untuk strategi currency overlay, serta pendekatan macro & event‑driven.”
Lin mengangkat jempol. “Great!” serunya penuh semangat.
“Duh…” gumam Mia, suaranya nyaris seperti bisikan yang tercekat. “Betapa banyak orang yang dirugikan… hanya karena segelintir orang seperti kita.” Tatapannya kosong, menembus layar yang tak lagi ia lihat—seolah menyaksikan dunia yang tak adil dari balik statistik.
Lin menatapnya, lalu menjawab dengan nada tegas dan dingin, “Kita ini hedge fund player, Mia. Bukan biksu. Bukan pendeta. Dan jelas bukan penjudi.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Dunia keuangan global tidak bergerak karena keadilan. Ia digerakkan oleh kekuatan besar, arus modal, dan asimetri informasi. Yang bijak bukanlah mereka yang mencoba mengubah sistem. Tapi mereka yang memahami sistem—dan bermain cerdas di dalamnya.”
Mia masih diam, hatinya bergejolak. Tapi Lin tak memberi ruang untuk keraguan.
“Kita bertarung dengan leverage, dengan model kuantitatif dan strategi makro yang tajam. Kita berdiri di atas siklus USD, kontrak short selling, currency futures, model auto-reject, dan prediksi presisi terhadap arah The Fed dan ekonomi global.”
Nadanya kini seperti pengkhotbah dalam gereja data. “Saat dolar melemah, kita ambil posisi di mata uang yang yield-nya tinggi. Saat dolar menguat, kita tutup posisi. Kunci profit. Simple. Efisien. Tanpa emosi.”
“Kan jahat, Sis…” bisik Mia, dengan wajah miris dan mata yang berkabut nurani. Kalimatnya pendek, tapi berat—penuh beban eksistensial.
MIa melanjutkan, pelan tapi menusuk, “Kita selalu make money… dalam kondisi apa pun. Saat orang lain panik, kita tenang. Tanpa sadar, kita ikut jadi bagian dari lingkaran penyebab ketidakadilan dunia. Bahkan… mungkin bagian dari konspirasi yang memicu krisis dan perang.”
Aku hanya tersenyum, getir. Karena aku tahu itu benar.
Saat inflasi naik? Kami geser portofolio ke komoditas, perbesar inventory. Saat krisis? Short pasar. Saat perang pecah? Jual opsi spekulatif di minyak, persenjataan, atau debt market. Bahkan dalam tragedi, pasar tetap memberi peluang—dan kami tahu cara memanfaatkannya.
“Jahat itu soal persepsi,” ujar Lin datar namun penuh arti. “Dunia ini tidak bergerak karena idealisme. Tapi karena strategi. Data. Dan keberanian mengambil risiko.”
Ia menatap Mia, dalam dan tenang. “Kita bukan penonton moral dunia. Kita adalah aktor. Bersenjata algoritma, model, dan insting makro. Di tengah kekacauan dan ketimpangan, justru kita menghasilkan profit… karena kita memahami cara dunia benar-benar bekerja.”
Mia akhirnya tertunduk. Ia tidak menjawab. Tapi di balik diamnya, ada pergolakan—antara hati dan logika. Lin berdiri perlahan dari duduknya, anggun tapi tegas. Dan ruangan kembali sunyi, seolah menyisakan gema dari kebenaran yang tak ingin diakui siapa pun.
“Mia…” seru Lin, suaranya tegas namun penuh empati. “Dengar aku.”
Mia mendongak pelan, matanya bertemu dengan Lin yang berdiri di belakang kursi tempat aku duduk. Ada keheningan yang mengikat ruang—sebelum Lin mulai berbicara.
“Sebelum aku bertemu B,” katanya, nadanya kini berat dan jujur, “aku pernah menjalin hubungan selama setahun dengan seorang pria kaya dari Hong Kong. Awalnya… dia memanjakanku. Segala kemewahan dia berikan. Aku pikir itu cinta. Aku pikir itu nyata.”
Ia menarik napas dalam, lalu melanjutkan dengan sorot mata yang tak lagi goyah.
“Tapi tiga bulan kemudian, semuanya berubah. Dia memperlakukanku seperti pelayan. Dia bawa perempuan lain ke apartemen kami. Ia usir aku dari kamar tidur agar bisa tidur dengan wanita itu… dan menyuruhku tidur bersama ART di ruang belakang.”
Mia tercengang, wajahnya kaku. Tapi Lin tetap melanjutkan, tenang dan tegar.
“Waktu itu aku marah. Aku kutuk dia. Aku kutuk dunia. Aku merasa dunia ini kejam dan tidak adil.”
Matanya kini menatap jauh, seolah melihat pantulan masa lalu yang dingin.
“Tapi pada akhirnya, aku sadar. Dia tidak sepenuhnya salah. Yang salah adalah aku—karena lemah, karena bodoh, karena berharap pada sesuatu yang terlalu indah untuk jadi nyata. Dan justru karena luka itu… aku berubah. Aku tidak lagi menuntut dunia menjadi adil. Aku belajar menjadi kuat.”
Lin menoleh ke arahku, tersenyum sekilas.
“Dan karena luka itu pula, aku bertemu B. Aku tidak merasa hina saat B mendidikku dengan keras—sangat keras. Sampai keningku menyentuh lantai. Tak ada yang lebih rendah dari aku waktu itu. Tapi justru di titik terendah itulah aku mulai membangun diriku yang sekarang.”
LIn menatap Mia dalam-dalam.
“Ingat ini, Mia. Apa pun yang terjadi dalam hidup kita, pada akhirnya itu hanya antara kita dan Tuhan. Tuhan menilai manusia dari niatnya. Dan jika niatmu baik, itu cukup. Jangan cari pengakuan dari dunia. Dunia tidak peduli. Tapi Tuhan melihat.”
Mia tak mampu menahan air mata. Ia menatapku, bibirnya bergetar. Ia diam. Terdiam dalam haru dan kenangan. Aku tahu, ia sedang mengingat masa lalu—15 tahun lalu, ketika aku menemuinya di jalanan, dan memberinya kesempatan: beasiswa ke Harvard, pelatihan kelas dunia, jalan hidup baru.
Lin kembali berkata, lembut namun tegas, “Kalau kau tak nyaman, kau tak harus terus di sisi B. Tapi ketahuilah, dunia tak akan berubah hanya karena kau mundur. Setidaknya, di sini kau bisa mengerti bagaimana kekuatan bekerja. Dan suatu hari, mungkin… kau bisa gunakan pengetahuan itu untuk sesuatu yang lebih besar.”
Mia menarik napas panjang. Lalu berkata lirih, “Kalau begitu… aku harus bertahan. Bukan karena aku setuju. Tapi karena aku belum siap kalah.”
MIa menatapku. “Terima kasih, B. Terima kasih sudah sabar dengan sikapku. Dan… maafkan aku,” katanya dengan suara yang nyaris patah.
“Okay.” Suaraku memecah keheningan. Lin dan Mia langsung menoleh. “Kalian berdua, sini.” Aku menunjuk sofa besar di sudut ruangan. Itu isyarat: briefing dimulai.
“Aku dapat bocoran penting,” kataku sambil memandang layar terminal yang menampilkan grafik mata uang global. “Elite pasar uang dunia tengah menggerakkan bank sentral G7 dan Asia untuk secara halus melepas USD dan memperkuat mata uang lokal mereka.”
Aku menatap Mia. “Kau bisa lihat sendiri datanya. Beberapa bank sentral—India, Malaysia, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, dan China—sudah mulai mengurangi intervensi untuk menahan penguatan mata uang mereka. Mereka bahkan mulai melepas cadangan dolar secara perlahan, membiarkan penguatan kurs lokal secara tertib dan terukur.”
Mia menelan ludah, suaranya tercekat. “Apa motifnya?”
“Menjaga status USD sebagai cadangan devisa global… sambil menurunkan nilainya secara terukur,” jawabku. Aku tersenyum, tipis namun penuh makna. “Dan percayalah, tanpa restu dari ‘Team Number One’, tak satu pun dari mereka akan berani melakukannya. Mereka hanya aktor. Naskahnya ditulis jauh sebelumnya.”
Mia terdiam, matanya menatapku dalam-dalam. Lin bergeming, namun jelas menyimak.
“Pernah dengar soal Plaza Accord dan Louvre Accord?” tanyaku, suaraku sengaja kuturunkan seperti dosen yang sedang menguji murid terpilih.
Mereka mengangguk pelan.
“Plaza Accord tahun 1985 adalah contoh nyata bahwa intervensi terkoordinasi bisa sukses menurunkan nilai USD secara drastis. Tapi dua tahun setelahnya, Louvre Accord 1987 mengembalikan stabilitas. Artinya? Intervensi semacam itu hanya efektif sementara. Jika tak dijaga dengan koordinasi jangka panjang, USD akan kembali menguat. Karena pasar… selalu mencari gravitasi terkuat.”
Aku menarik napas, lalu menatap mereka bergantian.
“Jadi pahami konteks besar ini. Senin depan, kalian berangkat ke Boston. Di sana, kalian akan mulai tugas sebagai bagian dari mekanisme yang lebih besar. Bukan hanya sekadar trading… tapi memainkan peran dalam arsitektur baru sistem moneter global.”
“Siap,” jawab mereka serempak. Aku mengibaskan tangan, mempersilakan mereka kembali ke terminal.
Aku tersenyum dan berdiri, menatap keduanya. Lalu memeluk mereka satu per satu. “Besok, Senin, kalian mulai di Boston. Jaga diri baik-baik. Jaga integritas. Jaga kesehatan. Paham?”
Mereka mengangguk.
Aku berbalik dan berjalan perlahan ke arah pintu. Di luar, malam menjemput. Jakarta tetap gemuruh seperti biasa—seolah semua baik-baik saja. Tapi aku tahu, di balik keramaian itu, dunia sedang disulam ulang oleh kekuatan tak terlihat.
Dan aku tersenyum… menatap dunia dengan ikhlas dan tawakal. Dunia ini fana. Semua hanya senda gurau belaka.

Tinggalkan komentar