
Sore itu, langit Jakarta mendung menggantung. Di Burgundy cafe , kami duduk santai di sofa , ditemani kopi panas dan cahaya senja yang menari di kaca jendela. Lilian, David, Ricky, dan aku. Obrolan mengalir antar sahabat.
Lilian, mengenakan blazer krem dengan riasan minimalis, memutar cangkirnya perlahan. “Aku nggak ngerti… kenapa semakin lama, ekonomi global makin tidak pasti,” katanya lirih. “Setelah puluhan tahun orang kerja keras, kenapa semua malah berujung ke pertumbuhan rendah? Ke mana uang itu semua pergi? Ke mana pasar yang dulu bergairah?”
Ia pebisnis tangguh di Singapura, mengurusi rantai pasok lintas negara. Tapi sore itu, suaranya mengandung keraguan yang jujur.
Aku menatapnya sekilas, lalu menjawab tenang, “Sebenarnya nggak sulit dipahami. Dulu orang bilang, tempalah besi selagi panas. Inovasi teknologi melahirkan inovasi pemasaran. Itu menciptakan peluang investasi dari hulu ke hilir. Ingat jaringan fiber optic tahun 90-an? Dotcom boom? Lalu sektor migas dan petrokimia. Terakhir, ratusan miliar dolar masuk ke AI, biotech, energi terbarukan…”
Aku jeda. Menyeruput kopi.
“Tapi semua itu seperti membangun istana pasir di pinggir laut.”
“Maksudnya?” tanya Lilian.
“Dibiayai utang, Lil. Dari segala arah. Pemerintah dengan government bond. Bank sentral lewat pelonggaran moneter. Pasar modal lewat repo, short selling, dan corporate bond. Semua menambah likuiditas, menciptakan ilusi kemakmuran.”
Aku menarik napas. “Tapi kapasitas ekonomi tumbuh melebihi daya serap pasar. Akhirnya terkoreksi sendiri. Ini yang sedang kita rasakan. Wajar. Konsekuensi dari rakus yang difilosofikan jadi virtue.”
Lilian tersenyum menatap David. “Sekarang tahu kan kenapa aku tadi semangat ikut kongko?” katanya menggoda. “Aku cuma pengen ketemu Ale. Udah lama banget nggak ngobrol.”
“Bilang aja kangen,” celetuk David.
Aku hanya tersenyum.
Ricky mencondongkan tubuh. “Eh, kalian baca berita nggak? Danantara jadi suntik Garuda USD 405 juta. Ini bagian dari paket USD 1 miliar skema shareholder loan. Katanya buat naikin ekuitas Garuda yang sekarang udah negatif.”
Ricky memang kontraktor proyek APBN, dan tahu banyak soal dana-dana gelap terang di balik BUMN.
David mengernyit. “Tapi tahun 2022 kan Garuda udah restruktur utang US$6,2 miliar lewat PKPU. Bunga hampir 0. Masa sekarang lapor rugi lagi?”
“Wajar aja,” sela Ricky. “Tujuannya buat hindarin delisting. Biar bisa akses pembiayaan lagi.”
“Tapi itu udah pernah dipakai. Kenapa diulang lagi? Jangan-jangan ini emang polanya: gagal → bailout → gagal lagi.” Lilian mengerutkan dahi. “Ini bukan restruktur, tapi perampokan uang negara.”
“Lho, itu kan bukan PMN,” Ricky membela.
“Memangnya Danantara itu punya Wowok pribadi?” Lilian membalas tajam. “Danantara itu pakai PNBP, bukan duit pribadi. Yang bilang bukan APBN itu cuma akal-akalan. Rakyat bisa dibodohi, tapi aku ogah.”
Ricky gelagapan. “Ini kan soal nasionalisme. Garuda itu National Flag carrier. Simbol bangsa…”
“Emang BUMN mana yang bukan simbol bangsa?” balas Lilian cepat. “Kalau pakai dalih nasionalisme terus, semua BUMN bisa aja ngaku rugi dan minta disuntik dana. Itu moral hazard.”
“Dan herannya, harga tiket Garuda tetap paling mahal,” David menggeleng.
Aku angkat suara lagi, tenang. “Negatif ekuitas itu artinya kerugian menahun, aset susut. Sumbernya cuma satu: salah kelola. Dan solusi jangka pendeknya selalu: utang lagi. Ya makanya utang makin gede, dan akhirnya… minta suntikan lagi.”
David mendecak. “Direksinya bisanya cuma nagih duit. Kalau aku yang punya, udah aku pecat semua. Jual aja aset. Ngapain dipertahankan kalau tiap tahun merugi? Itu bukan bisnis, itu onani.”
Aku tertawa kecil. “Solusinya bukan utang, tapi ganti model bisnis. Ubah total.”
Ricky menatapku, penasaran. “Business model kayak gimana?”
“Garuda selama ini main di dua segmen: premium dan low-cost. Tapi nyatanya nggak pernah untung. Ya ubah fokusnya. Tetap airline, tapi dengan strategi baru.”
Aku menjeda sejenak. “Lihat Korean Air. Dulu rugi. Tapi setelah fokus ke cargo, mereka untung. Sekarang 80% laba mereka dari pengiriman barang. Qatar Airways juga. Cargo adalah inti, penumpang cuma pelengkap. Mereka bahkan investasi besar-besaran di digitalisasi logistik.”
Ricky manggut-manggut. “Tapi gimana dengan pengadaan pesawat? Modal dari mana?”
“Nggak perlu suntik modal,” jawabku cepat. “Gunakan skema power-by-the-hour. Bukan beli, bukan leasing biasa. Bayar hanya saat pesawat terbang. Cash flow aman. Kalau trayeknya untung tiga tahun berturut-turut, baru beli pakai revenue bond.”
“Lion Air dulu juga begitu, kan?” tanya Ricky.
Aku angguk. “Iya. Mulai dari PBH, baru akuisisi aset. Itu cara cerdas. Bukan utang, tapi membangun dari arus kas.”
Ricky duduk lebih tegak. “Wah, model cargo udara itu bisa jadi solusi total. Simbol nasional tetap ada, dan untung juga.”
Lilian ikut angkat bicara. “Masalahnya bukan bisnisnya. Tapi manajemennya. Banyak yang tak kompeten, tanpa visi. BUMN kita cerminan dari itu semua.”
David menyeringai miris. “Dan itu… cerminan pemerintahnya.”
Lilian menyela, tajam. “Dan yang lebih salah lagi? Rakyat yang milih. Pada bego semua.”
Ricky hanya bisa tersenyum masam.
“Sekarang pemerintah malah nyuruh rakyat kerja di luar negeri. Nggak sanggup lagi sediakan lapangan kerja. Padahal dulu janji kemerdekaan itu soal keadilan sosial,” kata David pelan.
Aku memandang jam tanganku. Sudah pukul enam. Cahaya senja hampir padam.
“Maaf, aku pamit dulu. Mau Maghrib,” kataku berdiri, meninggalkan meja, percakapan, dan senja Jakarta yang terus menyimpan paradoksnya sendiri.

Tinggalkan komentar