
Iran tak mencari perang dengan Israel, atau dengan negara mana pun, termasuk Amerika Serikat. Tapi jangan salah sangka—diam bukan berarti tunduk. Membela diri bukan soal keberanian kosong. Ini soal kehormatan bangsa. Soal kedaulatan. Siapa pun akan mengerti itu.
Begitulah Akhiat menjelaskan kepada kami sore tadi, saat kami duduk bersama di beranda, ditemani kopi pahit dan angin lembah yang tenang. Muktar menyelutuk, “Kalau begitu, bagaimana dengan serangan Iran ke wilayah Israel bulan April 2024?” Retorikanya tajam. Aku tahu, Muktar memang tak pernah nyaman dengan Syiah. Tapi kami—aku dan Akhiat—sudah lama meninggalkan urusan sektarian. Kami pedagang. Yang kami pahami hanyalah rantai pasok dan logika untung-rugi. Tapi kami juga tahu, kehormatan tak bisa ditukar dengan komoditas.
“Israel mulai lebih dulu,” jawab Akhiat. “Mereka serang konsulat Iran di Damaskus. Bukan pos militer, tapi kantor diplomatik. Tujuh anggota IRGC gugur. Termasuk dua jenderal. Serangan balasan Iran itu terukur, langsung ke target militer. Itu bukan aksi nekat. Itu pesan: kami mampu membalas dan tak akan gentar.”
Akhiat menarik napas, lalu melanjutkan, “Dan Israel ulang lagi. 13–15 Juni 2025, mereka serang lebih dulu. Iran tak punya pilihan. Maka jadilah perang.”
“Israel pasti menang,” kata Muktar, sinis. “Mereka kuasai udara. Iran tak punya peluang.”
“Betul. Tapi lihat realitasnya,” jawab Akhiat tenang. “Jarak antara Israel dan Iran lebih dari 1.500 kilometer. Iran harus lewati udara tiga negara. Belum lagi laut—di sana ada dua carrier strike groups: USS Ford dan Nimitz, plus destroyer yang bersiaga. Israel didukung Yordania, Irak, Suriah, dan tentu saja, AS. Ya, mereka unggul. Tapi unggul karena ramai-ramai. Keroyokan.”
Muktar mencibir, “Iran tembakkan lebih dari 400 rudal balistik, tapi cuma 20 yang sampai ke kota.”
“Dan itu bukan angka yang sepele,” sahut Akhiat cepat. “Setiap rudal Iran harus melewati lapisan pertahanan udara: dari Aegis BMD di kapal induk, lalu Patriot dan THAAD di Yordania dan Qatar. Lalu radar HMS Diamond milik Inggris, hingga ke Iron Dome Israel. Tapi tetap ada yang lolos. Itu bukan hanya kemenangan teknis. Itu tamparan strategis. Dunia Arab kini tahu: sistem pertahanan udara miliaran dolar tak sepenuhnya tangguh. Jika Iran bisa menembus, bagaimana nanti jika Rusia atau Tiongkok menyerang langsung?”
Aku ikut menimpali, “Bahkan dari sisi biaya, ini tidak seimbang. Rudal Iran seharga puluhan ribu dolar bisa menembus sistem pertahanan senilai miliaran dolar. Ini seperti AI open source mengalahkan sistem proprietary. Seperti angkot mengalahkan Mercy dalam medan perang yang tak terduga.”
Muktar menatapku. “Ale, kamu gimana pendapatnya?”
“Sebagai pedagang maklon, saya tahu satu hal: buat rudal itu murah. Sistem elektroniknya yang mahal. Tapi itu bisa disuplai dari pasar bebas. Komponen terurai tersedia. Tinggal rakit. Iran jagonya desain. Banyak pengusaha dari India, Tiongkok, Jepang, Korea maklon sistem alutsista pakai pabrik Iran. Untungnya luar biasa. Dulu tahun 2013, saya sendiri maklon untuk sistem navigasi pesawat tempur. Legal? Tentu tidak. Tapi itu dunia nyata.”
“Lalu kenapa AS mahal?” tanya Akhiat.
“Korupsi,” jawabku singkat. “Yang mahal itu bukan produksinya, tapi lobinya. Satu rudal buatan AS harganya setara 200 rudal Iran. Karena dipenuhi broker, rente, dan pengaruh politik. Iran, dalam sunyi, justru jadi simbol efisiensi melawan kemapanan yang korup.”
Akhiat tertawa kecil, “Iran ternyata jadi cermin. Bukan hanya melawan Israel, tapi membuka borok industri senjata global.”
Muktar masih penasaran, “Saya baca berita, katanya Iran dapat teknologi dari pedagang Hong Kong, Emily Liu. Sekarang buronan FBI. Kok bisa?”
Aku mengangguk. “Iya, dia maklon drone dan perangkat elektronik di Iran. Supply chain-nya dari AS dan Eropa. Tapi dia enggak tahu pabrik tempat dia maklon ternyata milik IRGC. Dari situ Iran kembangkan teknologi UAV dan sistem radar. Bahkan sampai membuat IoT untuk retas CCTV Israel. Akurasi rudalnya meningkat pesat.”
“Gila…” gumam Akhiat. “Berarti, Iran tak hanya jago meniru. Tapi mampu menciptakan. Padahal bikin integrated chip itu bukan hal sederhana.”
Aku tersenyum. “Teknologi itu soal akal, bukan sekadar modal.”
“Lalu kenapa AS begitu bela Israel mati-matian? Emang karena ideologi?” tanya Akhiat lagi.
Aku gelengkan kepala. “Bukan ideologi. Tapi ekonomi. Oligarki. Raksasa-raksasa seperti Intel, Microsoft, Google, Amazon, Qualcomm, semuanya punya pusat riset di Israel. Karena pendirinya Yahudi. Kalau mereka keluar dari AS, habis AS. AS besar bukan karena sumber daya alamnya, tapi karena otak-otak Israel.”
“Masih belum cukup?” aku melanjutkan. “Bank of New York Mellon, yang mengelola $52 triliun, dikuasai Yahudi. Bahkan cadangan devisa dunia numpang di sana. Jadi, siapa sebenarnya yang kuasai dunia?”
Mereka terdiam.
“Jadi, kenapa Iran tetap berani?” tanya Muktar lirih.
Aku menatap mereka. “Karena dunia butuh keseimbangan. Dan kadang, keberanian satu bangsa bisa mengguncang sistem yang rapuh. Si vis pacem, para bellum—jika ingin perdamaian, bersiaplah untuk perang. Iran, dan kita semua, butuh damai. Tapi damai yang bermartabat. Dan itu harus diperjuangkan.”
Kami bertiga terdiam. Tapi mata mereka tak lagi menyoal benar-salah. Hanya satu hal yang tersisa: kesadaran bahwa harga perdamaian—selalu mahal. Tapi diam, bukan jawabannya.

Tinggalkan komentar