
Rudi undang relasinya dari AS makan malam di Restoran China di Hotel Kawasan Sudirman. Dia minta saya temanin. Afin dan Dewi ikut dampingi saya. “ Kenalkan, teman saya Ale “ Kata Rudi kepada relasinya. “ Daniel “ Kata relasinya kenalkan diri. Saya mengangguk saat dia menyerahkan kartu namanya. Jabatanya Invesment banker.
Rudi menoleh ke Dewi dan Afin “ Oh ya. Yang itu namanya Dewi. Dan satu lagi Afin. Dua duanya orang Awi. “ Kata saya kenalkan kepada Rudi. Dewi dan Afin menyerahkan kartu nama kepada Rudi dan Daniel. “ Oh Awi punya investment banking. Terafiliasi lagi dengan family office. Keren. ” Kata Rudi melirik saya sambil baca kartu nama Dewi. Saya senyum aja. Rudi teman lama saya. Namun jarang ketemu sejak dia bergabung dengan group konglomerat tanah air.
Pelayan datang. Rudi pesan menu untuk kami.
“ Kalau dengar Menteri Keuangan Indonesia bicara menyikapi situasi konflik Iran-Isreal, ekonomi kedepan sangat mengkawatirkan. “ Kata Rudi berusaha ajak bicara santai. “ Keterlibatan militer AS akan memicu lonjakan harga minyak, bisa menembus $100/barel jika Iran menutup Selat Hormuz. Akibatnya biaya logistik meroket, suku bunga harus dijaga tinggi untuk menjaga inflasi tidak liar, dan pertumbuhan ekonomi bisa terganggu. “ lanjut Rudi.
“ Awalnya memang sempat panik pasar. Mendorong harga minyak naik 7–11%. Tapi sekarang turun level ke sekitar $73–77/barel, jauh dari kisaran krisis sebelumnya“ kata Dewi dengan tersenyum. “ Pelaku pasar optimis bahwa konflik mungkin terbatas. Tidak akan berkepanjangan.” Lanjut Dewi.
“ Oh I see. “ Rudi mengangguk berusaha mengerti.
“ Itu bisa dilihat, sikap Citicorp dan asset manager besar lainnya yang terus membeli saham teknologi dan sektor non-energi, mengimbangi tekanan saham energi. Di pasar uang investor menghindari obligasi jangka panjang bukan karena konflik Iran-Israel tapi karena defisit fiskal dan yield yang tidak menarik. Minat terhadap aset safe haven seperti emas, Treasury, atau dolar masih ada, tapi tidak memicu arus besar-besaran “ Analisis Dewi.
“ Presiden Trump menunda kemungkinan intervensi militer AS untuk 2 minggu ke depan, memberi waktu bagi diplomasi Eropa. Dan lagi AS kini punya shale gas. Engga sepenuhnya lagi tergantung pada minyak Timur Tengah.” Kata Daniel tersenyum kepada Dewi. “ Mungkin bagi Indonesia yang net importir minyak, bisa jadi serius kalau terjadi gejolak harga minyak. Tambah besar defisit APBN.“ lanjutnya menatap Rudi.
” Tanpa perang iran -Israel, ekonomi Indonesia udah drop. Itu sudah diramalkan oleh IMF. Apalagi dengan jatuhnya harga komoditas batubara dan nikel di pasar dunia. Kekawatiran menteri keuangan itu hanya sekedar excuse aja. ” Kata Dewi menimpali.
“ Apa mungkin akhirnya AS ikut campur ” tanya Rudi.
“ Kemungkinan ya. Tapi kecil kemungkinannya “ Jawab Daniel.
Saya senyum aja.
“ Pendapat Ale gimana ? tanya Rudi menatap saya sejurus. “ Saya kawatir denga sikap Trumps. “ Lanjutya.
“ Sebagian besar orang masih percaya bahwa AS itu negara adidaya. Padahal zaman sudah berganti. “ Kata saya berusaha memaklumi kekawatiran Rudi.
“ Oh ya..? Rudi mengerutkan kening. Saya melirik kepada Dewi untuk jelaskan maksud saya.
Dewi mengangguk.
Era bipolar setelah perang dunia kedua. Kata Dewi. Terjadi perang dingin dua kekuatan besar, AS dan USSR. Itu berakhir tahun 1991. AS sebagai pemenang. Setelah itu masuk era unipolar. Dominasi AS melahirkan resistensi, terutama setelah invasi Irak, intervensi NATO, dan sanksi sepihak. Negara lain mulai mengembangkan poros kekuatan sendiri untuk menyeimbangkan Barat. Contoh, BRICS, SCO, Eurasian Economic Union dan OPEC.
Lambat laun. Banyak negara menjadi kekuatan regional karena mengontrol sumber daya penting. Seperti Rusia, Iran, Arab Saud punya migas. China, Kongo, Indonesia, punya mineral kritis. India, Korea Utara, Pakistan, Israel, punya juga senjata nuklir. China menggunakan diplomasi ekonomi. Rusia bermain geopolitik militer. Turki dan Iran memanfaatkan posisi regional untuk memainkan berbagai blok tanpa tunduk mutlak ke Barat.
AS tidak menyadari fenomena itu. Masih asik saja dengan kekuatan unipolar nya. Bahkan terlalu asik memanfaatkan USD sebagai ruling currency untuk mengontrol dunia. Akhirnya terjadilah krisis Wallstreet tahun 2008. AS terpaksa cetak uang lewat QE. Reputasi AS semakin terpuruk. Ini kedua kalinya AS loss commitment sejak tahun 1971, apa yang dikenal dengan Nixon Shoct. Gold standar currency dilanggar. Kini uang Fiat juga dilanggar. Boong terus. Sejak itu, negara lain tidak lagi ragu berseberangan dengan AS. Tahun 2010, dunia masuk ke era Multipolar.
China, India, Brasil, dan negara-negara berkembang mulai menggeser posisi Barat. Namun bukan itu saja. Modernisasi militer berlangsung cepat di China, India, Iran. Juga terjadi aliansi regional dan proxy war antara Rusia dan Iran. Investasi lintas benua China dalam proyek Belt & Road Initiative mengubah jalur logistic statusquo. Diplomasi minyak oleh negara Arab yang bergabung dalam BRICS. Secara diam diam terjadi silent partnership antara negara Arab dan Israel, yang berusaha menarik keluar Israel dari AS.
Lokasi Geostrategis yang juga menentukan seperti, Turki, Iran, Indonesia, dan Mesir mengontrol jalur laut strategis, Selat Hormuz, Bosporus, Malaka. Menjadi pusat persimpangan Eurasia atau Indo-Pasifik. Lokasi ini memberi leverage dalam negosiasi politik global, akses energi, logistik militer, perdagangan internasional.
Ya. Multipolaritas terbentuk bukan hanya karena alasan ekonomi, tetapi lebih luas. Karena faktor geostrategis, yaitu perpaduan antara lokasi strategis, kekuatan militer, akses sumber daya, dan kebijakan luar negeri aktif. Ekonomi adalah fondasi, tapi geostrategi adalah penggeraknya. Eksistensi Israel dan pangkalan perang AS di Timur Tengah itu adalah residu dari unipolar, yang kini terkesan jadul dan terbelakang. Trump tentu sangat paham ini dan tahu diri bahwa mereka tidak lagi adidaya. Money is the real king. Dewi mengakhiri.
“ Oh I see. “ Kata Rudi seraya mengangguk. “ Semua akhirnya bukan lagi idiologi tetapi just a business.” Rudi tersenyum.
“ Ya. Trump dikenal businessman dan anti-perang terbuka. Ia menarik pasukan dari Irak, Suriah, dan Afghanistan saat menjabat. Artinya Trump pasti cerdas menyikapi situasi ini. Lihat aja dalam perang dagang dengan China, pada akhirnya Trumps memilih berdamai. Karena problem AS adalah ekonomi domestik. Tingkat inflasi dan pengangguran. Keterlibatan AS justru akan berdampak negative terhadap ekonomi AS. Terutama Index USD akan semakin melemah, Reputasi USD dipertaruhkan. Bisa jatuh Trump. Jadi kecil kemungkinan Trump akan perintahkan militer AS terlibat dalam konflik. “ Kata Daniel.
Makanan terhidang. Kami mulai makan.
“ Dan lagi Iran tidak akan bisa lama berperang. Stok rudal nya menipis “ Kata Daniel kemudian dengan nada satire.
“ Terlalu underestimate anda. “ Kata Dewi tersenyum. “ Iran telah menyiapkan kemungkinan perang dengan Israel selama puluhan tahun. Jumlah stok rudal tidak diketahui pasti, tetapi kemampuan produksinya membuat Iran mampu mengisi ulang dengan cepat jika perang berkepanjangan. “ Sambung Dewi.
“ Ah,..” Daniel kibaskan tangan. “ Strategi perang Iran hanyalah deterens regional dan respons cepat asimetris. Bukan perang total. “ Lanjut Daniel.
“ Ya sama saja dengan Israel. Engga akan bisa perang lama” Response Dewi cepat. ” Lebih 1/5 anggaran belanja Israel habis untuk bayar bunga utang. Rasio utang terhadap PDB udah 70%. Sebentar lagi lewat 100%. Sementara per hari biaya iron dome lebih dari USD 250 juta. Belum lagi ongkos F35 terbang dan rudal udara ke darat. Udah engga eligible dapatkan utang baru. Perang itu mempercepat kebankrutan ekonomi Israel. Rakyat Iran udah terbiasa sulit, Karena udah lebih 10 tahun kena embargo ekonomi. Tapi rakyat Israel? Apa mampu menderita ? think about it.” Sambung Dewi.
Saya perhatikan. Deniel membaca kembali kartu nama Dewi. Jadi dia paham yang dia hadapi itu investment banker juga. Sama denga dia. Saya harus hentikan diskusi ini. Karena keliatan Deniel engga nyaman dengan cara Dewi berpihak kepada Iran. Engga enak dengan Rudi.
“ Bagi Israel dan Iran, perang itu hanya sebagai alat leverage politik domestic. Maklum kedua negara itu berpolitik dengan identitas. Dan dapat suara dari pemilu karena itu. Dalam konteks multipolar, perang ini akan berujung di meja perundingan dan perdamaian. China, Rusia, Qatar, Turki, dan Indonesia sangat berpotensi menjadi juru damai. Eksistensi Israel dan Iran harus ditempatkan pada kerangka Geostrategis.
Ini konsekuensi dari adanya Multipolar. Tidak ada lagi negara yang merasa paling benar dan kuat. Semua harus talk about a business dan akal sehat. Damai itu indah. Makanya penyelesaian masalah Palestina akan semakin penting sebagai cara membuang residu unipolar. Sebagai symbol dari tekad perdamaian secara menyeluruh di kawasan” Kata saya mengakhiri diskusi. Topik yang kadang membuat suasana tidak nyaman. Daniel acungkan jempol. Semua cerah dan menikmati makan malam.
Usai makan, Saya dan Rudi pindah table. Kami bicarakan bisnis. Hanya bicara sebentar. Saya panggil Dewi dan Rudi panggil Daniel. Rudi jelaskan siapa Dewi dan minta agar Daniel bicarakan dengan Dewi rencana bisnisnya. Mereka janjian akan ketemu di kantor membahasnya secara detail. Kami kembali ke table.

Tinggalkan komentar