
Selama dua hari Aling sibuk mengurus kedatangan Piory dan Sanya di Jakarta. Maklum baik Piory maupun Sanya adalah petinggi dari MNC Holding di Hong Kong dan Aling kepala perwakilan Holding di Indonesia. Setelah tamunya kembali. Saya ajak ngopi santai di sore hari. Kebetulan Akhiat ikut “ Ale, harga nikel jatuh ke USD 15000 /Ton bulan ini. Semakin suram ekonomi kita. Apalagi harga batubara juga jatuh ketitik terendah dalam 4 tahun. Padahal dua komoditas itu andalan kita dapatkan devisa. “ kata Aling.
Saya senyum aja.
“ Apakah mungkin harga nikel bisa seperti tahun 2022 mencapai USD 48,000 per ton? Tanya Akhiat.
“ Engga mungkin dalam waktu dekat. Setelah tahun 2028 mungkin akan naik. Itupun dengan syarat produksi nikel Indonesai dikurangi sampai 80%. “ Kata saya.
“ Artinya akan banyak smelter yang bangkrut. Akan banyak NPL Bank dari bisnis ini.” Kata Akhiat tersenyum. Sebenarnya dia mau ketawa. Tapi engga enak depan Aling. Ngebayangin teman temannya yang main tambang memang sedang pusing mikirin bayar utang bank akibat produksi smelter turun.
“ Yang jadi tanda tanya besar saya. “ Aling mengerutkan kening. “ mengapa bisnis nikel di Indonesia cepat sekali tumbuh dan cepat redup? Susah saya pahami. Padahal harga market nikel kan diatur LME. “ Tanya Aling.
“ Kamu harus pahami 3 hal “ Kata saya seraya seruput kopi” Pertama. Nikel itu termasuk mineral kritis. Sangat strategis mendukung kebutuhan industry high tech. Kalau deposit tambang habis, ya tidak bisa diperbarui. Makanya, ada pabrik yang mengolah daur ulang nikel yang udah terpakai. Dan lagi menambangnya sangat mahal. Dari 1 ton batu yang dikeruk dari bumi, hanya maximum 2% nikel. Jadi sangat exploitative dan tentu sangat massive kerusakan lingkungannya. Alasan ini juga mendorong permintaan tinggi.
Kedua. Yang menggerakkan harga itu trader dan Aggregator. Karena nikel itu mineral kritis. Maka mendorong para trader lakukan spekulasi di market. Selagi demand tinggi, mereka beli terus. Ya harga nikel naik terus. Apalagi trader itu kan punya logistik sendiri dan likuiditas untuk mendukung skema SCF Smelter. Trader itu kan marketnya adalah Aggregator. Para Aggregator khususnya dari China memang by design ngumpulin stock. Mereka dapat pembiayaan dari bank yang bunganya murah. Nah kalau Gudang Aggregator sudah mulai agak penuh. Ya harga mulai turun. Business as usual. Kan engga mungkin trader simpan sendiri stock. Itu costly.
Ketiga. Pihak Aggregator itu punya industry pengolahan sendiri. Mereka impor Nickel Pig Iron dan Ferronickel dari Indonesia. Pig Iron itu kan besi mentah dengan kadar nikel 4-13%. Ferronickel, kandung nikelnya sekitar 10–40%. NPI dan Ferronickel itu dilebur di fasiltas electric arc furnace bersama scrap stainless dan ferrochrome. Hasilnya jadi stainless steel high quality. Nah 60% ekspor produk hilir nikel ke Cina berupa Pig Iron dan Ferronickel
Pihak Aggregator juga impor stainless steel dari Indonesia. Oleh mereka Stainless steel itu diolah jadi komoditas berupa Pipe & tubing stainless steel, sheet & plate, bar, rod, Wire & mesh. Komoditas itu termasuk downstream level 4 atau disebut dengan komponen industry. Yang dibutuhkan oleh hampir semua industry seperti Migas, Alat berat dan mesin, otomotif, makanan, medis, kitchen, tableware, bangunan.” Kata saya.
“ Oh I see” Aling tertegun.
“ Harga nikel turun, stok china melimpah. Itu akan bertahan lebih 10 tahun. Apalagi mereka bisa daur ulang. Sementara pabrik di China yang produksi untuk end user, harganya naik terus. Nilai tambahnya berlipat. Memang smart mereka. Yang bego kita” Kata akhiat dengan menahan ketawa.
“ Hanya saja, pejabat tidak cukup smart.” Kata saya.
“ Kenapa ? Aling mengerutkan kening.
“ Kalau mereka smart. IUP hanya diberikan lewat tender investor. Bukan privilege. Jadi otomatis, broker dan trader tersingkir dengan sendirinya. Nah kalau investor, kan pemerintah bisa tentukan design industrialisasi. Misal, untuk nikel harus level Komponen Industri. Itu Downstream level 4. Artinya produknya untuk suppy chain komponen industry. Kemudian harus ada kewajiban membawa teknnologi dan transfer technologi. Untuk bujuk mereka, ya beri insentif tax holiday, itu baru smart.Kalau downstream level 2 atau 3, dapat tax holiday, itu dungu namanya“ Kata saya.
“ Kalau hanya izin downstream level 4 untuk hilirisasi nikel, pastinya engga banyak smelter, tentu engga perlu luas banget tambang nikel. Engga berdampak luas terhadap lingkungan. Tapi nilai tambah nya bisa 100 kali lebih dan Angkatan kerja bisa banyak sekali terserap. “ Kata Akhiat seruput kopinya dan hembuskan asap rokok..
“ Apa pemerintah tidak tahu bahwa selama 10 tahun belakangan ini program hilirisasi justru menguntungkan China? Tanya Aling.
“ Pemerintah tahu “ Kata saya mengangguk” apalagi banyak ahli udah ingatkan kepada pemerintah. Tetapi ya gimana… ” saya tidak bisa lanjutkan. Hanya senyum aja.
“ Terus terang aja Ale. “ Akhiat nyela. “ Bilang aja semua karena uang. Kan lobi trader itu pakai uang. Mana ada pejabat yang engga bisa dibeli dengan uang. Apalagi untuk pertahankan jabatan kan perlu uang. Mana ada pemilu tanpa ongkos. “ Kata akhiat.
“ Artinya produksi smelting yang digembor gemborkan pemerintah sebagai program hilirisasi yang bernilai tambah tinggi, ternyata bullshit. “ Aling keliatan kesal. ” Dan apes nya lagi, selama ini yang bermain di tambang nikel dan smelting bukan industriawan. Hanya pedagang.” Aling dengan nada kecewa. “ Siapa trader itu? Tanya Aling.
“Glencore International AG, yang bermitra dengan TBS Energi. Mereka offtaker terbesar di Indonesia. Tsingshan Holding Group, bermitra dengan Bintangdelapan Group, CNGR Advanced Material bermitra dengan Antam, Eramet bermitra dengan Tsingshan. GEM Co. Ltd bermitra dengan Harita Group. “ Kata saya.
“ Itu lokal hanya sleeping partnets. Ya bisnisnya hanya elus telor dapatkan IUP. Selanjutnya JV dengan asing atau lewat off-take, atau equity counter trade. Asing smart. Mereka menghindari IUP langsung karena faktor politik. “ Kata Akhiat. “ Ya, itu komprador namanya” Kata Aling ketus. Akhiat senyum aja
“ Apakah mereka juga terlibat dalam memasok material baterai? Tanya Aling.
“ Oh engga.” Saya kibaskan tangan” Kalau untuk baterai, itu di offtake langsung oleh afialiasi pabrik baterai di China atau Korea. Misal China impor Mixed Hydroxide Precipitate dari Indonesia. Itu di China diolah menggunakan mesin hydrometallurgical untuk proses pemurnian. Hasilnya Nikel sulfat, yang kemudian diolah dengan campuran linked product menghasilkan Katoda. Itu bahan baku untuk produksi Baterai lithium-ion dan power bank. Sebagian besar proyek HPAL di Indonesia masih menjual MHP mentah ke China. “ kata saya.
“ Oh jadi Pabrik HPAL di Pulau Obi Maluku utara itu hanya produksi MHP doang. Kenapa kita engga buat sendiri nikel sulfat ? Tanya aling.
“ Proses kimianya rumit. Kita engga punya tekhnologi untuk itu. ” Kata saya.
Aling tertegun. Saya dan akhiat hanya senyum sambil udut rokok. Kami bertiga tadinya waktu muda pernah satu team Sales pada perusahaan Jepang. Itu 40 tahun lalu.
“ Mengapa pemilik tekhnologi EV tidak mau bangun pabrik ekosistem battery di Indonesia “ tanya Aling masih dengan raut kesal.
“ Kan philosofi EV itu green energy. Kapasitas green energi kita rendah banget. Apa jadinya kalau buat baterai pakai energi PLTU batubara yang sangat polutan. Kan paradox. Juga perlu rantai pasok yang efisien. Ada 6 bahan baku baterai, yaitu Lithium, Kobalt, Mangan, Grafit, Elektrolit, Separator. Dari enam itu hanya kobalt dan mangan kita punya. Yang lain masih impor. Engga efisien, apalagi index logistik kita buruk. Kita engga cukup punya SDM berkompetensi tinggi. Lingkungan social tidak mendukung. Masih ada pungutan, rente dan premanisme.” Kata saya seraya seruput kopi.
Disamping itu pemilik teknologi EV enggan berbagi teknologi manufaktur inti atau formulasi kimia baterai ke negara lain. Maklum itu kan buah riset yang mahal. Mereka lebih memilih ekspor bahan jadi atau separuh jadi, lalu tetap mengendalikan proses manufaktur akhir di negara mereka atau negara mitra utama seperti Vietnam, India, atau Meksiko. “ lanjut saya.
“ Gila ya. “ Akhiat menatap aneh ke saya. “ Segitu detilnya Ale paham soal industry down stream. “ Sambungnya melirik Aling.
“ Kemarin boss gua dari Hong Kong datang. Lue tahu engga, Akhiat.” Kata Aling.” Salah satu daftar tamu boss gua, ya Ale. Diundang makan malam secara personal lagi. “ Sambung Aling. “ Kebetulan saya penasehat spiritual mereka. “ Kata saya tersenyum. Jam 7 kami bubar.
Kita pernah berjaya sebagai produsen dan eksportir Minyak mentah. Tapi downstream Petrokimia dari nafta tidak berkembang. Berlalunya waktu kita jadi net importir BBM dan petrokimia. Hutan ditebang untuk ekspor kayu olahan. Habis begitu saja tanpa value added. Kemudian, hutan yang tersisa dan gundul itu ditanami kebun sawit. Sampai kini kita belum mandiri dalam hal Industri oleo pangan dan oleo chemical. Lebih 60% ekspor dalam bentuk CPO dan sisanya RBD palm oil, PFAD. Begitu juga nikel, baru pada level 3 downstream. Tapi 7 tahun lagi deposit nikel sudah habis. Jadilah raja nikel yang dungu.

Tinggalkan komentar