Penambangan , itu neocolonialism

Saya ke kantor Abeng. Di sana sudah ada Aming dan Akok. Nunggu makan malam. Kami diskusi santai sore hari. Di luar hujan deras. Ya bahas issue yang trending seputar kekayaan SDA Papua.

 “ Waktu Pak Harto masih berkuasa. Pak Harto dengan tegas minta kepada Freeport agar bangun smelter di Indonesia. Engga lagi ekspor mentah. Tahun 1997, didirikan PT. Smelting, yang akan bangun smelter di Gresik. Konsorsium terdiri Mitsubishi Materials  dan Freeport Indonesia. Tapi tidak beroperasi dengan mulus. Bahkan tidak ada ekspansi produksi. Masih jauh dibawah 600.000 ton katoda. “ Kata Abeng. Kami sangat menghormati Abeng. Dia sangat yakin bahwa industrialisasi mineral tambang jembatan emas Indonesia menuju negara makmur. Makanya dia concern sekali soal downstream mineral tambang.

“ Sepertinya Freeport engga serius mengolah tembaga dalam negeri. ” Kata Akok. ” Dari awal Freeport itu merasa punya hak terhadap Papua. Ngeyel terus …” Lanjut Akok.

” Era Megawati malah operasi Freeport dihentikan karena Freeport ngeyel soal divestasi. Tapi era SBY Freeport kembali beroperasi dengan syarat tanda tangani MOU soal divestasi ” Kata Aming “ Nah era Jokowi mulai pemerintah tekan Freeport dengan UU Minerba. Namun juga tidak mudah.  Makanya pemerintah lewat divestasi kuasai saham 51 % Freeport Indonesia. Atas dasar itu pemerintah bisa menentukan kebijakan produksi, termasuk bangun smelter.  “ sambung Aming

“ Ya. Kata Abeng. “ Tahun  2020 rencana bangun smelter baru dilaksanakan. Freeport bangun sendiri di Gresik tanpa melibatkan PT. Smelting. Jadi selanjutnya yang dikejar target produksi oleh pemerintah bukan lagi PT. Smelting tapi Freeport. “ Lanjut Abeng.

Saya menyimak saja.

“ Tapi karena alasan COVID proyek smelter tertunda pembangunannya. Freeport molor lagi dan terus aja ekspor konsentrat. Pas didesak lagi. Tahun 2021 Proyek groundbreaking oleh Jokowi. Selama bangun, Freeport happy ekspor konsentrat. “ Kata Aming tersenyum.

“ Pas hampir selesai smelter dibangun, oktober 2024 kebakaran. Terpaksa terunda lagi hilirisasi tembaga. Tapi Freeport berdalih mereka sudah kuasai PT Smelting dan kick out Mitsubishi. Padahal produksi PT Smelting kan hanya seupil dibandingkan produksi kosentrat  tembaga Freeport. “ Kata Akok ketawa.

“Hebatnya, selama masa penyelesaian proyek smelter yang baru, Freeport boleh ekspor. Engga bisa dilarang. “Kata Akok “ Tahu,  Mengapa ?  tanyanya.

“ Freeport kan udah punya PT. Smelting. Walau mini kan udah memenuhi syarat UU Minerba. Lucunya excuse itu dilakukan 4 bulan sebelum proyek smelter yang baru kebakaran. Nah, direncanankan september tahun ini, proyek smelter baru itu akan beroperasi. Mengingat track record Freeport selama ini. Tinggal tunggu drama berikutnya aja. Apa lagi alasan Frereport menunda. “ Lanjut Akok menggambarkan kehebatan Freeport bermain main dengan UU Minerba.

“ Secara bisnis memang mengolah tembaga dalam negeri tidak feasible. Karena biaya energi listrik sangat mahal. Dan Indonesia tergolong mahal tarif listrik. Kecuali pakai PLTA. “ Kata Aming. “ Tetapi kenapa Freeport selalu menghindar bangun smelting di Papua. Padahal sumber energi PLTA besar disana “Aming bingung sendiri.

“Freeport punya smelting di Spanyol,  Atlantic Copper. 80% konsentrat tembaga di kapalkan ke Spanyol dan 20% ke Jepang. ” Kata saya.

”  Yang jadi misteri adalah mengapa sekian lama Freeport menguasai KK dan IUP di Papua dengan kapasitas tembaga nomor 1 dunia dan emas nomor dua di dunia, total asset nya hanya USD 50 an miliar? Artinya memang ada yang disembunyikan dari operasinya. Makanya menghindar terus melakukan smelting di indonesia” Kata Akok.

“Pantes denda 20% dari nilai ekspor konsentrate tembaga akibat keterlambatan membangun smelter di dalam negeri ditanggapi santai aja oleh Freeport. Padahal  nilai dendanya sekitar USD 500 juta. “ Kata Abeng.

“ Apalagi sekarang Presiden AS, Donald Trump berteman baik dengan Carl Icahn, salah satu pemegang saham Freeport Mc Moran. Dengan adanya Tarif resiprokal Trumps, dan pemerintah kita mau berunding. Bukan tidak mungkin membolehkan Freeport ekspor konsentrat. Engga perlu lagi lewat smelting. “ Kata saya.

“ Wah hebat banget Freeport “ Kata Aming.

“ Ah biasa saja. Freeport McMoRan kan hanya proxy. Pengendalinya investor global “ kata saya santai sambil isap rokok.

“ Gimana ceritanya bisa begitu? Siapa pengendali sebenarnya dari Freeport ? Tanya Aming penasaran. Abeng senyum aja.

“  Awalnya skema investasi Freeport lewat Participant interest dengan Rio Tinto. Jadi yang punya konsesi FreeportMcMoran, yang kerja Rio Tinto. Nah investor Rio Tinto itu adalah Vanguard Group, dan State Street.  Kemudian setelah divestasi saham, Rio Tinto keluar dari Freeport digantikan oleh Inalum. Namun Inalum juga terikat dengan global bond unsecured dari 144A(s), dimana investor nya adalah BlackRock, Vanguard Group, dan State Street. “ kata saya. Abeng keliatan terkejut. “ Artinya, walau Inalum kuasai 51% saham PT. Freeport Indonesia, namun pengendali tidak berubah, yaitu investor global itu “ lanjut saya

“ Jadi Inalum dan  Freeport McMoran bukan ultimate beneficiary owner ? Akok melotot. Saya senyum aja. “ pantas Inalum mudah banget dapat duit hampir USD 4 miliar untuk bayar divestasi Freeport. Pinjam tanpa collateral lagi. Ternyata hanya jadi proxy doang “ sambung Akok berguman sendiri.

“ Terus itu tambang nikel yang ada di Raja Ampat Papua Barat,  kan Antam JV dengan BHP Group gimana ? Siapa pengendalinya? Tanya Aming ikutan penasaran.

“ Pengendali dari BHP Group adalah BlackRock, Vanguard, dan State Street. Investor associate Norges Bank Investment Management dan AustralianSuper, CIC” kata saya. Mereka bengong dan terdiam.

Kami terpengkur. Bukan hanya rakyat Papua merasa terjajah. Tetapi juga rakyat Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku. Yang miris itu, terjajah oleh kebijakan pemerintah yang rakyat mayoritas milihnya. Kutukan SDA membuat orang baik baik jadi korban. Terpaksa merelakan anak gadisnya, istrinya, jadi jongos di negeri orang. Merelakan anak bujangnya, suaminya hijrah ke negeri orang. Sementara di dalam negeri , para elite berpesta setiap hari dengan harta melimpah. Mengkriminalkan siapa saja yang berani kritik pemerintah.

“ Gila ya. Muter itu aja. Mereka gunakan BUMN sebagai proxy untuk menjarah SDA. Risiko lingkungan kita tanggung. Mereka seperti orang suci, bahkan jadi donasi pegiat lingkungan.  Hipokrit kelas dewa “ kata Abeng kemudian seraya geleng geleng kepala dengan wajah miris

“ Apa yang diburu oleh investor global itu. Toh harga nikel dan tembaga volatile. Secara bisnis engga ada smelter nikel dan tembaga yang untung besar ? Tanya Akok ikut geleng geleng kepala.

“ Material ikutan dari nikel dan tembaga itu sangat bernilai. Mineral itu biasanya terperangkap dalam biji nikil dan konsentrat tembaga. Material ikutan ini bisa berupa logam mulia, logam tanah jarang, uranium, yang diperoleh dari hasil proses pemurnian. Tentu pemurniannnya sangat canggih. Nah kalau diolah dalam negeri kan ketahuan produk ikutan dan itu kena pajak. Indonesia bisa tambah tajir. Makanya lebih baik ekspor konsentrat “ Kata saya.

“ Itu juga alasan adanya illegal ekspor ore nikel jutaan ton ke China.” Kata Abeng. “ Cuan gede dibalik ore ternyata.” Aming menimpali.

Hujan reda kami pergi makan malam di restoran Hokian. Dalam kendaraan saya termenung. Operasi penambangan di Indonesia adalah kelanjutan dari kolonialisme. Ya neocolonialism yang dilegitimasi oleh UU PMA dan dikelola dengan skema investasi dibawah jargon economic growth dan globalization. Faktanya walau begitu besar sumber daya alam dikuras dan rusaknya ekologi namun sampai sekarang utang yang terus bertambah dan jatuhnya upah real, bertambahnya angka kemiskinan menurut versi World Bank.

Penyebabnya? kita krisis kepemipinan seperti kata Tan Malaka, “ barang siapa yang menghendaki kemerdekaan buat umum, maka ia harus sedia dan ikhlas untuk menderita kehilangan kemerdekaan diri-(nya) sendiri” Artinya, kalau ingin memakmurkan orang banyak harus mau miskin materi secara pribadi dan kalau ingin membebaskan orang banyak, harus mau kehilangan kebebasan pribadi. Ya pemimpin itu melayani dan berkorban sepanjang usia.

Bung Karno pernah mengatakan, perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri. Ya tidak ada penjajahan lebih buruk daripada hawa nafsu ingin berkuasa dan rakus.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

2 tanggapan untuk “Penambangan , itu neocolonialism”

  1. keenbanana8ff39f4639 Avatar
    keenbanana8ff39f4639

    nelangsa.. dengan banyaknya tambang ternyata blm bisa memakmurkan warganya minimal warga disekitar tambang.

    Suka

  2. enchantingwitchd90ec3f6d4 Avatar
    enchantingwitchd90ec3f6d4

    Selama negara kita tidak menguasai tehnologi, akibat pemerintah kita tidak memiliki concern atas research & development maka SDA kita pasti tetap dikuasai oleh asing.

    Suka

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca