
Di pagi hari Singapore. Saya ke restoran untuk breakfast. Saat saya datang Yuni sudah ada. Dia melambaikan tangan. “Alin mana? Tanya saya.
“ Dia tadi katanya lagi masih sibuk online dengan CEO pabrik nya di Bangladesh. “ Kata Yuni.
“ Kalau begitu kita sarapan pagi di Kamar nya aja. Kamu call room service hotel. Saya pesan omelet dan kopi.” Kata saya segera berdiri dan melangkah ke arah lift hotel.
Ketika pintu kamar terbuka, Alin masih pakai kimono. “ Saya sedang mandi. Silahkan masuk. “ Kata Alin. Saya langsung ke meja kerja. Proposal bisnis untuk ekspansi pabrik garment di Ho Chin Minh tergeletak di meja. Saya duduk di kursi dan baca proposal itu dengan seksama. Khususnya alasan ekspansi dan total investasi.
Saat sedang baca, Alin keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kimono. Saya cuek aja. Tapi saat dia buka kimono mata saya melirik lewat cermin depan saya. Keliatan Yuni melotot ke Alin sambil tunjuk saya. Sepertinya Yuni tegur Alin yang seenaknya bugil sementara saya ada di kamar. Saya duduk membelakangi mereka. Pura pura engga lihat. Terus aja baca.
Tak berapa lama. Alin sudah berpakaian lengkap duduk di sofa bersama Yuni. “ Ada apa ? kenapa mau ketemu saya.” Tanya saya langsung.
“ Uda, Seru Yuni. “pabrik Alin di Ho Chin Minh kan mau ekspansi lagi. Yuni usulkan ekpansi ke Indonesia aja. Ini kan hanya pabrik garment. Engga rumit amat. “ kata Yuni. CFO Yuan Holding. Saya tahu, kebijakan berkaitan dengan mitra Yuan, tetap saya harus putuskan. Alin itu mitra Yuan walau sahamnya hanya 20%.
“ Tanya sama Alin. Mau engga dia.” Kata saya melirik alin.
“ Investasi di Indonesia, Nightmare. “ kata Alin.
“ Maksudnya ? tanya saya.
“ Banyak cerita buruk dari teman yang tadinya punya pabrik di Indonesia dan pindah ke Ho Chin Minh. Kalau boleh usul, saya tetap pilih Ho Chin Minh” kata Alin. “ Walau tarif resiprokal Vietnam masuk ke AS 45%, tetapi kan itu dari harga ekspor. Tidak dari harga jual ke konsumen akhir. Beda harga retail 30 kali dari harga ekspor. Jadi engga ngaruh walau tarif 45%. Sambung Alin.
“ Itu kan alasan subjectif. “ Kata Yuni cemberut. Walau Yuni berkarir di Hong Kong. Namun cintanya kepada Indonesia tidak pernah pudar. Wajar kalau dia berharap Yuan investasi di Indonesia. Itu akan menampung angkatan kerja yang kini banyak yang nggangur, bahkan yang kerja kena PHK.
“ Alasan objectif ya soal produktifitas. Vietnam jauh lebih tinggi dari Indonesia.” Kata Alin.
“ Saya ada usul. Bangun pabrik garmen di Indonesia. Tetapi pekerjaan potong kita gunakan robot. Begitu juga pekerjaan pasang kancing dan retsleting, gunakan robot. Sistem ini akan menutupi kekurangan pekerja Indonesia yang rendah produktifitas dan low grade. Sisanya gunakan manual. Buruh Indonesia jago soal tailor made. “ kata saya. “ Silahkan pelajari usul saya ini.” Kata saya memandang mereka berdua. Mereka berdua mengangguk.
“ Ada lagi ? tanya saya.
Mereka menggeleng. Meeting usai. Saya lanjut ketemu dengan Richard yang nginap di hotel lain.
***
Alin mitra dan juga sahabat saya di China datang ke Jakarta. Dia mengelola 8 pabrik Garment tersebar di China, Ho Chin Minh dan Bangladesh. Produknya khusus underwear wanita. Dia temui saya di café saat bersama dengan Kumar dan Wawan. Saya kenalkan Alin kepada Kumar dan Wawan. Alin memberikan kartu namanya. “ Wah keren ini bisnis. “ Kata Wawan saat baca kartu nama seraya lirik Alin.” Global production untuk underwear dan lingerie bermerek kelas dunia.” Sambung Wawan.
“ Mengapa milih produksi pakaian dalam wanita? ” tanya Wawan kepada Alin dalam Bahasa inggris. Saya tahu, Wawan tadinya punya pabrik Garment tetapi akhirnya tahun lalu tutup. Alasanya udah engga feasible. Dia banting setir jadi pedagang importir. Lebih untung jadi importir garmen daripada punya pabrik. Apalagi produk china lebih murah dan kualitas bagus.
“ Itu karena market. “ Jawab Alin dengan tersenyum. “ Kita focus kepada produk yang menjadi kebutuhan primer tanpa terpengaruh dengan empat musim. Kebutuhannya bukan hanya sekedar pakaian dalam tetapi juga untuk pakaian fungsional seperti seamless, olah raga, usai melahirkan. Margin tinggi dan tentu kebutuhan terus meningkat. “ sambung Alin dalam Bahasa inggris.
“ Yang hebatnya bisa dapatkan mitra branded international untuk produk yang promosinya lebih berbasis emosi dan gaya hidup. Ya pastilah margin nya tinggi banget. “ Kata Kumar nyeletuk. Walau awyer namun dia Singaporean yang memang melek market.
Wawan termenung. Memang industry TPT Indonesia dari tadinya era Soeharto maju dan kemudian bergerak mundur di era reformasi. Pada waktu bersamaan Industri TPT China semakin maju dan semakin kompit terhadap produk TPT Indonesia. Sementara industry TPT Indonesia mengalami deindustrialisasi. Sejak tahun 2019 lebih 100 pabrik tutup. Yang ada bertahan dengan produksi dibawah kapasitas.
“Kini DPR sedang bersiap membahas RUU Tekstil dan Sandang. Merevisi UU Tekstil yang dianggap udah usang. Padahal dua tahun lalu saya usulkan kepada pemerintah. Tapi tidak didengar.” Kata Wawan.
“ Apa usulan anda” Tanya saya.
“ Pemerintah harus merevitalisasi industry hulu seperti kapas dan polyester, spinning, weaving/knitting, dyeing. Kalau industry hulu katakanlah kita kuasai 70% saja, kita sudah bisa kompit dan indusri hilir pasti akan berkembang. Pemerintah harus proteksi pasar domestic agar bisa bersaing dengan produk impor. “ Kata Wawan. Terdengar mudah semudah bicara.
“ Proteksi pasar domestic dari China, itu tidak mudah. Karena ketergantungan ekonomi Indonesia dari China dari tahun ke tahun terus meningkat. Terutama utang Indonesia ke china terus membesar. Salah salah bisa kena banned pula batubara dan CPO masuk China. “ Kata Kumar. Walau dia Singaporean tetapi dia bisa Bahasa Indonesia dengan baik.
“ Kita engga mungkin bangun industry hulu. Karena kita tidak punya cukup produk downstream chemical untuk bahan baku poliester, nilon, rayon. Kalaupun bangun industry hulu tidak akan efisien karena ketergantungan supply chain dari luar negeri dan cost listrik mahal. Tuh lihat contoh banyak industri hulu yang bangkrut. Jadi abaikan bangun industry hulu. Lebih baik impor saja. “ Kata saya tersenyum.
“ Jadi apa yang layak dikembangkan? Tanya wawan mengerutkan kening.
“ Ya RMG atau Ready-Made Garments yang mass production seperti kaus, kemeja, gaun, celana, jaket dan pakaian dalam. Tapi jangan masuk ke pasar premium. Kita tidak mungkin bersaing dengan China untuk market kelas middle dan up. Disamping harga china yang murah, kualitas juga bagus. “ Kata saya hembuskan asap rokok.
“ So, wawan mengerutkan kening.
“ Ya kita masuk market ke kelas menengah dan bawah. Yang china udah tidak lagi produksi. Seperti pakaian seragam TNI, POLRI, ASN, Sekolah, Buruh pabrik dan lain lain. Pemerintah buat aturan agar itu captive market bagi pabrik RMG dalam negeri. Kalaupun pemerintah proteksi tidak akan kena case non tarif barrier. Focus kesana saja. Itu sustain kok ” Kata saya seraya seruput kopi. “ Kalau mass production, kan pasti ongkos jadi murah. Nah kita bisa juga masuk pasar ekspor negara Amerika latin, Afrika. “ Sambung saya.
“Kalaupun ada yang mau bangun pabrik sebagai global production khusus international branded, selagi untuk tujuan ekspor 100%, ya beri insentif dan subsidi tarif bea impor bahan baku agar margin feasible. “ Lanjut saya.
“ Apa mungkin kebijakan itu layak “ Tanya Wawan.
“ Bangladesh udah terapkan dan sukses menjadi negara produsen dan pengekepor RMG nomor dua dunia. Itu karena sebagian besar bahan baku mereka impor. Memang ada produksi hulu TPT, tetapi itu asing semua dan tujuan ekspor. Bangladesh peringkat 6 dunia soal produk hulu TPT. TPT menjadi penyumbang utama lapangan kerja nasional“ kata saya seruput kopi. “ Intinya lakukan segala sesuatunya sebagaimana business as usual. Ambisi boleh tinggi tapi tetap rasional..” Tambah saya.
“ Fight on the terrain you control. “ Kumar nyeletuk” There is no wrong business. What is wrong is lack of management and a bad business mindset “ Sambung Kumar kepada Wawan.
“Don’t force yourself to compete in sectors dominated by other countries, such as China in the upstream synthetic fiber industry. But focus on domestic strengths, then maximize that potential..” Alin menambahkan wise word Kumar dengan tersenyum dan saya mengangguk.
Wawan menatap Alin “ Why does not build a RMG factory in Indonesia? tanya Wawan. Alin senyum aja.
“ Even simple factories become complicated when built in Indonesia. “ Kata Kumar tertawa. “ This often stems not from technical barriers, but from systemic, bureaucratic, and structural issues that slow or obstruct industrial development. “ Sambungnya. Saya tersenyum masam.
Memang problem utama Indonesia, pemerintah tidak punya visi industrialisasi. Visinya hanya sediakan IUP, konsesi. Kemudian suruh asing buat smelter dan ekspor. Dari proses itu uang rente masuk ke elite. Apa itu ide smart ? Juga engga. Buktinya utang yang terus bertambah dan DSR semakin mencekik. PHK terus terjadi. Daya beli menurun. Terpaksa lagi lagi pemerintah harus luncurkan bansos bagi buruh yang upahnya dibawah 3,5 juta perbulan. Pembangunan yang mengarah kepada komunitas pengemis. Memang bad future!
“ Ale, seru Wawan. “ Ini partner anda terlalu cantik untuk jadi pengusaha kelas dunia. Cocoknya jadi artis film. “ Kata Wawan. Saya senyum aja. Untung Alin tidak mengerti Bahasa Indonesia. Kalau engga GeEr. Dia jumblo di usianya udah 50 tahun.

Tinggalkan komentar