Oligarki ?

“ Kenapa pengusaha tidak merasa risih hidup mewah sebagai oligarki. “ Tanya Rahmat. Dia guru sekolah SMU dan pensiun sebagai kepala sekolah. Saya senyum aja. Andi disebelah saya juga senyum. Tidak ingin menjawab. Sebagai guru Rahmat berhak kawatir dengan keadaan politik negeri ini. Kami bersahabat sejak usia kanak di Kampung di Sumatera. Hanya bedanya Rahmat tidak merantau. Sedang saya dan Andi merantau jauh.

Apa yang kau maksud dengan Oligarki? Tanya Andi. Ah Andi mengapa pula ditanya soal pengetahuan umum. Apa dia engga tahu dihadapannya guru sekolah, yang mungkin banyak muridnya sudah jadi S3. “ Oligarkhi itu asal kata dari Bahasa Yunani kuno. “ Nah kan benar. Keluarlah ceramah Rahmat seperti guru depan murid di kelas. “ Terdiri dari  oligos yang berarti “sedikit atau “beberapa”. Dan arkhē yang berarti “pemerintahan” Oligarki berarti “kekuasaan para elite Sambung Rahmat.

“ Jadi tidak bisa oligarki hanya mengarah telunjuk ke Pengusaha. “ Kata Andi cepat. Karena dia juga pengusaha. Punya kebun sawit. Rahmat mengangguk.

“ Tapi oligarki tanpa pengusaha, ya tak ada artinya. Karena oligarki terkait dengan sumber daya nasional. Tentu tidak semua pengusaha menjadi bagian dari oligarki. Hanya segelintir saja.  Oligarki itu terdiri dari presiden, kepala daerah, pimpinan partai, aparat penegak hukum, hakim. militer, anggota parlemen, menteri, kepala lembaga, pengusaha termasuk cerdik pandai, ulama yang menjual diri dan martabatnya demi uang. “ Kata Rahmat.

Gimana pendapat kau, Ale ? tanya Rahmat. “ Dari kecil si Ale, memang tak seperti kau Andi. Kau pandai selalu menyela. Ale, tahu kapan bicara dan diam. “ Lanjut Rahmat mencibir kepada Andi.

“ China dan Rusia itu negara besar yang juga menerapkan oligarki.” jawab saya. Rahmat menyimak. “ Hanya saja baik di China maupun Rusia, kepemimpinan nasionalnya kuat sekali. Sehingga oligarki sangat efektif melawan hegemoni modal asing yang menjajah. Oligarki pengusaha dipakai untuk kepentingan nasional. Oligarkhi menjadi mesin penggerak system trickle down effect untuk orang banyak. “ Lanjut saya.

“ Yang menarik dari China dan Rusia, oligarkhi itu tetap bersandar kepada system hukum yang kuat dan transfaransi. Asing dan orang banyak tahu soal keberpihakan elit  China kepada BUMN dan kader partai yang juga pengusaha. Liu Chuanzhi, Yang Yuanqing, Mary Ma adalah contoh. Tahun 2005, mereka mengakuisisi IBM. Kita semua tahu, IBM adalah lambang kebanggaan AS dalam inovasi tekhnologi computer. Sekian dekade menguasai pasar PC. Kemudian China menggantinya dengan merek Lenovo. Tamatlah keunggulan AS dibibang komputer.

Pihak luar tentu protes dan tuduh China membantu pengusahanya lewat  ekonomi terpimpin , state capitalism, dan yang tentu tidak demokratis. China tidak peduli. Lewat UU dan aturan, China memang menyediakan cluster ekonomi, yang terdiri dari BUMN, UKM, Korporat  dan Asing.  Tetapi karena aturan jelas dan ada kepastian hukum, pada akhirnya asing happy saja. Rakyat kecil juga happy.  

Rusia juga menerapkan oligarkhi. Walau Rusia menganut demokrasi langsung namun Putin selama kekuasaannya mampu membangun oligarkhi yang kokoh dan bekerja melaksanakan agendanya. Rakyat Rusia happy saja. Karena mereka tahu pengusaha oligarki memang ditugaskan bersaing dengan asing dibidang financial, trading, Industri dan tekhnologi. Kita tahu, RUSAL salah satu dari Top pamain dunia yang menguasai tekhnologi metalurgi paling baik. Mengakuisi aset pertambangan dan pabrik smelter di Swedia, Irlandia, Italia, Ukraina, dan Swiss.

Korporat itu dilarang oleh Putin masuk ke wilayah UKM, swasta dan BUMN. Peran mereka sangat strategis. Perhatikan. Walau Rusia menerapkan system mata uang floating exchange rate, namun intervensi kurs di pasar sangat menentukan. Karena sumber daya keuangan luar negeri yang dikuasai pengusaha oligarki Rusia sangat besar. Bandingkan dengan kita. Malah utang luar negeri diperbesar oleh konglo. Sehingga neraca PII kita negatif.

Nah berbeda dengan keadaan di Venezuela. Oligarkhi terbentuk sebagai kompromi politik akibat kepemimpnan yang lemah dan lebih mengandalkan politik populis yang boros. Para elite tidak qualified mengelola sumber daya. Mereka lack access international dan lack knowledge terhadap financial, tekhnologi dan industry. Makanya jangan kaget saat mereka bersatu melawan hegemoni asing dan sukses kick out nya.  Mereka malah terpuruk. Mata uang jatuh. Pabrik tidak efisien dan merugi yang akhirnya bangkrut. Barang consumer goods tidak tersedia di pasar. Jadilah negara gagal.

Lain lagi dengan Meksiko. Oligarkhi terbangun dan kuat berkat bisnis underground. Narkoba. Para elite tidak focus kepada transformasi ekonomi yang berjangka Panjang. Mereka sibuk berhutang aja untuk mempertahankan APBN ekspansif. Pada waktu bersamaan mereka sibuk melindungi kartel narkoba. Melapangkan operasi Money laundry. Politisi dapat uang membiayai kampanyenya dari uang kartel itu. Kebayangkan, bagaimana qualitas elite nya. Ya mental bandit. “ kata saya.

“ Apakah China, Rusia, Meksiko dan Venezuela juga korupsi elite nya ? Tanya Rahmat

“ Tentulah korup. Mereka kan manusia, bukan malaikat. Kalau engga ngapain mereka membangun oligarki. Namun baik China maupun Rusia, korupsi engga bebas banget. Tetap terkendali. Kalau keterlaluan kena tebas juga. Di China di hukum mati. Di Rusia dihilangkan. Tetapi di Venezuela, korupsi itu bagian dari kompromi politik. TST aja. Makin keatas makin besar korupnya, makin kebawah rendah juga korupsi. Rakyatnya juga korup lewat Bansos dan populisme. Di meksiko, para politisi memang hidup dan berkembang dari uang criminal “ kata saya.

Mereka berdua terdiam. Seakan berusaha mengerti apa yang saya katakan. Ah tak penting mereka paham atau tidak. Ini hanya gurauan seperti dulu kami di kampung. Walau kami paham dunia luar, namun kami tetap focus kepada diri kami sendiri. “ Sebenarnya…”Andi bersuara.

” Kalau Jokowi diberi kesempatan memimpin tiga periode, dia juga mampu membangun oligarki yang kokoh seperti Putin. Karena pada periode kedua kekuasaan nya dia sudah well organized menyatukan kurang lebih 50 Konglo. Mempersatukan elite partai dalam koalisi kokoh. Menguasai aparat hukum. Namun dia tidak dapat dukungan dari PDIP, dan karena itu hubungan jadi retak. “ kata Andi. Rahmat menyimak. Saya senyum aja. Andi sedang berteori dan memang dia pendukung Jokowi sejak periode pertama.

“ Nah pilihannya mendukung Prabowo tentu dengan alasan melanjutkan platform kekuatan oligarki dalam sistem kekuasaan. ” Andi menyimpulkan.

” Sayangnya oligarki dari kalangan pengusaha hanya jago kampung. Bisanya makan dari harta pusaka tinggi. Coba apa ada konglo yang 50 itu berkelas dunia? Atau setidaknya seperti LG atau Samsung atau BYD? Kan engga ada. Semua mereka kaya, tak jauh dari batubara, nikel, sawit, property. Elite politiknya hanya jago belanja dari APBN. Itupun dari utang. Lagi lagi kelemahannya karena lack access international dan lack financial resources di luar APBN. Ya, engga qualified sebagai kekuatan politik dan ekonomi melawan hegemoni asing, apalagi mensejahterakan rakyat luas.” Kata saya.

“ Artinya Jokowi membangun istana pasir. Dan Prabowo berusaha readjustment dengan mengubah formasi oligarki, yang tentu me-removed mereka yang tidak qualified, begitu? Kata rahmat kepada Andi. Seakan menyimpulkan apa yang dikatakan Andi Panjang lebar.

“ Ya. Tapi itu juga engga mudah.” Kata saya. “ Karena kalangan pengusaha punya uang tunai dan juga elit punya uang tunai sebagai akibat pelonggaran anggaran era Jokowi. Me-removed mereka artinya berhadapan dengan uang tunai. Selagi mayoritas rakyat miskin dan bodoh, system demokrasi tetap memberi hak kepada orang yang punya uang cash sebagai pemenang.“ Kata saya tersenyum.

“ Salah salah bisa Prabowo yang di-removed.” Kata Rahmat tertawa.

“ Ya, benar kau Ale. “ Kata Andi “ Era sekarang yang berkuasa uang. Tuh lihat kekuatan pengusaha oligarki bisa membuat IHSG  jatuh ke level terendah dan naik lagi setelah Prabowo undang mereka ketemu face to face. Banyak kasus besar atau skandal korupsi tidak tuntas diselesaikan secara hukum. Itu bukti bahwa elit oligarki sudah mengakar dan mereka masih loyal kepada Jokowi “ sambungnya.

Setelah bincang bincang di café di kawasan SCBD. Kami pergi ke restoran Padang yang ada di kawasan Benhil. Ingat kata orang tua dulu di kampung “ Karatau madang di hulu, babuah babungo balun, ka rantau bujang dahulu di rumah paguno balun” Kata Andi. Pria minang dilarang memakan harta pusaka rumah gadang. Bahkan disuruh menambah harta itu. Makanya pergi merantau adalah keniscayaan guna mencari uang dan ilmu. Memang Pendidikan karakter yang transformative.

.


Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Eksplorasi konten lain dari Berpikir dan bertindak

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca